Inside Out
HoMin ( Jung Yunho X Shim Changmin )
Drama/Romance
Warning: Typo's
Disclaimer : Cerita adalah milik saya. Cast beserta embel-embel nya adalah milik Tuhan dan mereka sendiri.
Chapter 2
"Soft.. Like a soap"
.
.
oOOo
"Dimanah telur burung itu ?"
"Telur burung ?"
Minho dan Taemin duduk berhimpitan, bersamaan mengulangi perkataan Changmin yang baru saja datang dan duduk memasang wajah satan.
"Kyuhyun!" Jelas Changmin apa yang dimaksudnya.
Bukan rahasia atau sesuatu yang mengagetkan lagi bagi teman-teman Changmin yang mengetahui bagaimana kedekatan antara Changmin dan si putih Kyuhyun. Dia dan manusia tampan yang hampir sama tinggi dengannya itu sudah seperti tidak bisa dipisahkan.
Changmin akan mencari Kyuhyun saat orang yang dipanggilnya 'telur burung' itu tidak menampakkan wajahnya, pun dengan Kyuhyun yang juga akan mencari Changmin begitu sahabat yang mendapat predikat 'satan' darinya ini tidak nampak diujung hidungnya.
Kyuhyun dan Changmin sudah seperti dua sikembar yang kemana-kemana akan selalu berangkulan, memiliki sifat yang hampir sama anarkis dengan ego setinggi langit, walau demikian diantara mereka berdua Kyuhyun lah yang lebih sering bisa gampang mengikis sifatnya yang sadis.
"Dia bersama teman dari boss mu itu.."
"Siapa ?" Changmin masih bertanya, walau sebenarnya suara Minho sudah jelas-jelas memasuki telinganya dengan jelas.
"Boss paruh waktu mu itu memiliki teman laki-laki yang berperawakan tinggi, badannya terlihat keras sekali bagai beton, kau ingat ?"
Penjelasan aneh dari teman dekat Minho yang bernama Taemin ini membuat mata Changmin mengambang, kembali menerawang pada hari pertama dia bertemu dengan bakal bossnya, yang sekarang benar-telah menjadi bossnya.
"Dasar botty ganjen!"
Berhasil mengingat, namun mulutnya yang benar-benar terlahir dengan karunia so anarchy itu malah mengutuk Kyuhyun si sahabat yang mengilang dengan pria restoran. Menyebutnya pria restoran karena Changmin hanya bisa mengingat bagian dimana saat pria itu duduk direstoran dengan Yunho di hari pertama dia melihatnya..
"Jadi. Kau semalam kemana ? kau membuat kami kering apa kau sadar ?"
"Bilang pasti hadir, tapi kau hanya membuat kami berdiri hingga pagi. Kami bukan security bar mini miliknya Ahjushi berkumis tipis di sampingnya minimarket itu mengerti? Hello nya Shinee, Changminnie.. "
Changmin berdehem pelan, membenarkan cara duduknya. Belum dijawab apa yang dilontarkan Minho, manusian tampan-cantik yang duduk berseberangan dengannya bernama Taemin ini sudah menimpalinya dengan pertanyaan lain. Panjang dan terdengar menggelikan sambil mengibas-ngiaskankan tangannya diudara.
"Aku makan malam dirumah orang itu, mianh tidak bisa mengabari malam kemarin terlalu…"
"Wait!" Minho membuat Changmin menelan kembali separuh kata yang belum selesai dikatakannya.
"Whaaattt?" Dan teriakan panjang si tampan-cantik Taemin menyusul, mendukung suara Minho sebelumnya.
Changmin melengos memutar mata. "Side ponytail guys!" Seru Changmin bosan. Dua sahabatnya sungguh terlalu drama.
"Apa ada lilin menyala ditengah meja makan kalian ? apa kalian saling suap-suapan ? Apa kalian saling berpegangan tangan ?"
"Wow.. wow, wow… Slow down donkey !" Putus Changmin, mulut si tampan-manis Taemin menerocos panjang, melempari Changmin dengan banyak pertanyaan tidak masuk akal. "Kami hanya makan, apa kau pikir aku sedang mengencaninya . Hello-nya Adele Taeminnie..!" Changmin balas mengibas-kibaskan tangannya didepan wajah mengerucut Taemin yang dipanggilnya donkey.
"Mungkin saja mengingat kau memang sedikit jalang!"
Changmin menggeram, tangannya sudah mengambang diudara, lurus siap melayang membidik kepala Minho yang baru saja mengatakannya jalang, namun bisa dihindari sempurna olah Minho yang lebih cekatan.
"Satan!" Changmin mengumpat menunjuk wajah Minho yang menjulurkan lidah. "Lagi pula kami tidak hanya makan berdua, ada wanita cantik disana. Yang sayang sekali masakannya seperti makanan sampah"
Changmin memicingkan bibirnya, mulai bercerita mengajak Minho dan Taemin kembali pada dirinya dikemarin hari saat dia harus rela berhadapan dengan polisi lalu lintas yang mendekati kendaraannya yang sudah sangat mengganggu arus jalan karena mengentikan mobilnya sembarangan. Berkelakuan aneh, berteriak frustasi memukul kemudi karena ransel dan bahan kuliahnya tertinggal dirumah orang. Saat dimana tangannya mulai membelah isi ponsel, yang ada Changmin malah meraung, sedikit terlihat sudah akan gila karena dia sama sekali tidak menyimpan nomor telephone bos-paruh waktunya itu disana.
Dan saat tubuh tingginya memasuki ruang ajar, Changmin harus kembali merelakan gendang telingannya mendengung, diisi pidato panjang dari dosen bahasa karena tidak mengumpulkan tugas mata kuliah pada waktunya. Ranselnya tertinggal didalam rumah bos-paruh waktunya sementara tugas dari dosen bahasanya tertidur rapi didalamnya.
Belum selesai disana , si malang Changmin yang kemudian memutuskan untuk membolos pada semua mata kuliah pada hari itu memilih kembali pada alamat sang boss-paruh waktunya. Bertamu dan hanya berniat untuk mengambil ranselnya yang tertinggal. Namun sial benar Changmin hari itu, lagi, dia harus kembali berdiri didepan pintu rumah Yunho selama hampir setengah jam sebelum Jung Yunho boss-orang yang ditungguinya datang, datang dengan menggandeng sebuah tangan cantik berjalan beriringan.
Pagi melelahkan, berakhir dengan malam yang menyebalkan. Niat awal hanya mengambil ransel yang tertinggal namun si wanita yang dibawa Yunho itu memaksanya untuk makan malam bersama. Spaghetti carbonara yang sebenarnya adalah makanan kesukaannya terasa menjadi terlalu asin didalam mulutnya. -Penilaian Changmin-wanita itu tidak bisa memasak ditambah lagi adegan so drama korea yang sedang tayang live didepan matanya membuat makanan berwarna kuning kemerahan yang dimakannya terasa semakin memualkan.
Wanita yang dia tidak bisa ingat siapa namanya itu duduk disamping Yunho, mengeluarkan suara cempreng-bak genderang kaleng milik banci pasar malam yang pernah menggodanya-dan bertingkah manja berulang kali memaksa Yunho makan dari suapannya.
"Itu sebabnya aku tidak menyukai wanita!" Changmin menutup ceritanya.
"Jadi kau menyukai Yunho ?"
"Oh Taemin.. Aku juga tidak mengatakan itu. Kumohon telingamu…"
Changmin menjewer telinganya sendiri, memberi contoh pada Taemin yang lucu namun menjengkelkan.
"Ayolah Changmin.. lagi pula kecil kemungkinan kalau kau tidak akan mulai menyukainya, dia tampan dan sangat menarik, Apa kau tidak menyadarinya?"
"Minho oh Minho.. Kenapa aku merasa seperti dipermainkan disini ? kalian membuat aku bercerita dan sekarang kalian tertawa membuat bualan tentang ku ? setidaknya bersedihlah untuk ceritaku!" Changmin menarik paksa ice cream vanilla yang dimainkan oleh tangan Taemin, melahapnya satu sendok penuh, sebelum berakhir dengan wajah mengernyit lucu karena cairan dingin itu mulai membekukan isi mulutnya.
"Aku akan sedih kalau ceritamu seperti sebuah drama korea, kau diperkosa misalnya aku akan menyediakan banyak tisu untukmu. Ceritamu ini biasa-biasa saja, tidak akan dapat piala penghargaan dengan title hari buruk yang pernah ada!" Tangan Taemin terangkat keudara, mulutnya menganga sambil menutup mata.
"Minho-ah.. kurasa kau harus membawa pacarmu ini ke dokter bedah. Buka kepalanya!"
Riuh suara tawa, Minho yang sebenarnya paling kaku untuk tertawa-pun kini melepas suaranya. Menggema tiga lengkingan merdu disudut ruangan café karena suara mereka yang belum juga terdengar akan mereda.
"Tapi benar juga, bukankah aku sekarang memang sedang diperkosa. Aku dipaksa oleh ayahku bersetubuh dengan dunia yang kejam, persetubuhan lama yang belum juga menuju klimaks .."
Changmin berpuisi, puisi aneh yang meluncur begitu saja dari dalam mulutnya yang lagi-lagi hanya mengundang tawa diantara mereka bertiga-Berempat sekarang- Kyuhyun datang tiba-tiba memainkan kamera hitam ditangannya, duduk berseberangan dengan Changmin yang belum selesai tertawa. Tidak ada penyambutan untuknya, hanya Taemin yang menyentuh punggungnya sekilas mempersilahkan sesepuh dari Kyu-line ini untuk duduk disamping nya.
"Kau bersetubuh melalui apa ?" Si tampan-cantik Taemin mulai ikut menggila.
"Lubang belakang, kau pikir apa? Aku tidak mempunyai vagina!"
Lagi-lagi hanya tawa, Kyuhyun yang tidak tahu apa-apa ikut saja membuka mulutnya mendengar Changmin mengatakan bagian intim pada seorang wanita dengan lantang tanpa blur sensor suara.
"Kau disini ?"
Wajah Kyuhyun basah, dia menutup matanya rapat-rapat lalu mengelap kasar wajahnya dengan punggung tangan. Ice cream yang sudah mencair didalam mulut Changmin kembali terpental keluar, menyemprot bagai guyuran air hujan dadakan dan membasahi seluruh wajah Kyuhyun yang duduk persis didepan Changmin yang mengulum ice cream.
"ew gross! " Taemin bergidik, sedikit menjauh dari tubuh Kyuhyun yang penuh cairan putih dari ice cream.
Sentuhan dari tangan seseorang yang melekat tiba-tiba pada bahu kanannya membuat Changmin terlonjak sesaat dan memuncratkan kembali ice cream yang sudah meleleh didalam mulutnya dan tepat mengenai wajah Kyuhyun yang berada didepannya.
"Yo Changmin!" Gigi Kyuhyun bergemeletakan. "You satan!"
.
.
oOOOo
"Bell pintu rumah Yunho kembali terdengar berdering, Changmin dengan sigap mulai menghampiri pintu yang masih tertutup rapi lalu perlahan membukannya.
Wajah seseorang yang Changmin yakini pernah dia jumpai sebelumnya tersenyum manis di depan bibir pintu, mengulurkan tangannya dan memberikan sebuah kunci mobil pada Shim Changmin yang masih meneleng bingung.
"Tolong berikan pada Yunho.." Suruh orang itu pada Changmin yang masih belum mempersilahkannya untuk masuk.
"Aku, Siwon sahabatnya. Aku tidak bisa berlama-lama berikan saja ini padanya.!" Suruh orang itu lagi. Changmin hanya mengangguk paham, tanpa membuat suara dia kembali menutup rapat pintu rumah saat orang yang memperkenalkan dirinya dengan nama Siwon itu sudah berjalan menjauh dari pintu.
"Ada yang datang ?" Tanya Yunho yang berjalan mendekat dari arah belakang dengan dua botol minuman dingin ditangannya.
"Iya.. Ini kunci mobilmu ?"
"Ahhh… Siwonnie!"
Tanpa Changmin menjelaskan, Yunho sudah bisa menebak dengan pasti siapa yang sudah datang dan mengembalikan kunci mobil padanya.
"Kenapa dia tidak masuk ?"
Pertanyaan Yunho selanjutnya hanya dijawab Changmin dengan gedikkan bahunya samar, tangannya kesusahan membuka tutup botol minuman yang disodorkan Yunho padanya.
"Lemah sekali!" Yunho kembali merebut botol minuman yang sedang berperang dengan tangan Changmin, dengan sekali putar dia langsung dapat membukanya dengan sempurna, tanpa bersusah payah atau menumpahkan sedikit saja dari isinya.
Changmin melirik tajam sambil mencibir. "Mobilmu tidak rusak bukan ?"
"Tidak!" Jawab Yunho singkat tanpa berusaha menutupi kebohongannya.
"Kau bohong?"
"Iya!"
"Cihh!" Changmin mendecih dan mendesis samar, minuman ditangannya hanya diteguknya sekali sebelum dia kembali bergerak, berniat menyelesaikan pekerjaanya hari ini.
"Aku hanya ingin merasakan bantalan mobilmu.."
Bibir Changmin mengerucut, matanya berputar-putar malas. Mengingat memang dia seperti sedang dipermainkan, bukan hanya oleh teman-temannya melainkan Yunho juga, sang boss-paruh waktunya.
Satu jam kebelakang saat tawa lantang masih memenuhi mulutnya, lalu saat tiba-tiba sebuah tangan besar dan hangat menyentuh pundaknya-yang tidak lain adalah tangan Yunho-, dan lalu wajah Khyuhyun yang penuh dengan ice cream yang meleleh dari dalam mulutnya, dan kemudian Khyuyun yang menyeramkan dengan noda ice cream memenuhi wajahnya sudah seperti sedang kesetanan dia berdiri siap melayangkan pukulan tangan, lalu selanjutnya dia harus berakhir dengan berada satu mobil bersama Yunho yang mengatakan mobilnya sedang bermasalah, dan berjalan pulang menuju rumah yang sudah pasti bukanlah rumah Changmin sendiri. Namun lima menit lalu yang belum lebih dari satu jam dia berada didalam rumah Yunho, sahabat dari bossnya itu datang dengan kunci mobil ditangannya. Mobil sang boss tidak bermasalah.
"Ahh! Euhh…. Ahhh,.. Ahh! Euhh!" Changmin memegangi perutnya, wajah beserta telinganya memerah.
"Ya! Tuan.. hey! Halo kau dengar aku ?"
Suara Changmin yang sedang duduk meninggi diatas tangga untuk memperbaiki bola lampu jelas-jelas bisa masuk dengan jelas kedalam telinga Yunho yang sedang duduk dengan sebuah buku ditangannya didepan televisi yang sedang menyala.
"Heyy.. permisi.. ayolahhh aku butuh bantuan disini!" Changmin mulai terdengar sedikit mengerang, masih memegangi perutnya yang terasa berantakan.
"Kita sudah berkenalan bukan?" Sahut Yunho tiba-tiba, namun menyimpang jauh dari apa yang Changmin harapkan. "Aku mempunyai nama!"
'Side ponytail dude' Changmin memutar matanya, namun ini hanya kepalanya yang sedang berbicara. "Ayolah, aku tidak mungkin memanggilmu hanya dengan sebuah nama, kau jauh lebih tua dariku.."
"Kalau begitu anggap aku sebagai kakak laki-lakimu saja!" Jawab Yunho masih belum mau beranjak dari duduknya untuk mendekati Changmin sedang butuh bantuan.
"Baiklah-baiklah! Tapi bantu aku dulu dengan tangga reot ini, aku perlu ke toilet, urgent !"
Yunho tersenyum miring, suara Changmin terdengar begitu menggemasakan. Dia mulai bergerak meninggalkan bukunya diatas sofa mendekati Changmin dan memegang tubuh tangga yang tidak berukuran besar itu agar tidak bergerak liar saat Changmin bergerak menuruninya.
Perlahan Changmin mulai merosot turun bergerak bergantian antara kaki kanan dan kirinya. Tertinggal satu anak tangga Changmin menelantarkannya. Dia melompat begitu saja dan membalik tubuhnya,bersiap lari menuju toilet.
"Apa ?"
Sakit perutnya hilang tiba-tiba. Dia membeku diantara dua lengan Yunho yang masih memegangi tubuh tangga aluminium yang kini dibelakanginya.
"Panggil aku siapa ?" Tease one. Yunho membuat pertanyaan dengan suara dalam.
"Ayolah aku butuh toilet!"
"Panggil aku siapa ?" Tease two. Suara Yunho lagi dengan pertanyaan yang sama. Menatap Changmin yang berada diantara dua legannya.
"Hh..hy.." Changmin kembali pada penyakit lamanya, mendadak gagap.
"Siapa?" Tease three. Changmin membuang wajahnya kesebelah kiri bahunya begitu Yunho bergerak perlahan membawa wajahnya mendekat.
Jakun imut dileher Changmin bergerak naik-turun berkali-kali. Changmin membasahi bibirnya yang tiba-tiba mengering, sudah seperti retak bagai tanah tanpa air. Tingkah dan tatapan mata Yunho membuatnya berkeringat dan sakit diperutnya tiba-tiba lenyap.
"Hyung!" Suara terpaksa yang kemudian bisa membuatnya lega.
"Sempurna!" Sahut Yunho tanpa Changmin mengerti apa maksudnya.
Yunho melangkah mundur, memberi jalan untuk Changmin berlari menuju toilet. Yunho tersenyum miring, seriangaian manis memperhatikan gerak lucu Changmin memegangi perutnya lenyap dibalik pintu toilet.
.
"Lama sekali!" Tanya Yunho yang sudah berdiri didepan pintu toilet saat Changmin baru kembali menunjukkan wujudnya setelah lima belas menit lamanya bersemedi.
"Kau.. Kau mau apa ?" Gugup Changmin membenarkan kaos dan celananya.
"Masuk!"
"Tidak boleh!"
"Kenapa ? kau takut disana masih bau ? Aku malah takut kau tidak mencuci lubang belakangmu.."
Kedua pipi Changmin menggembung sempurna, mulai memerah wajahnya. Sekali hentakan tangan, Yunho sudah bisa membuat Changmin menyingkir dari tegah pintu toilet dan melewatinya begitu saja.
Changmin menggigit lidah, menahan amarahnya. Kalau saja laki-laki ini bukan orang yang membayarnya mungkin Changmin sudah akan mengutuk dan memukul genderang perang begitu mendengar Yunho membuat lelucon sampah tentang dirinya dengan muka datar bagai tembok rumahnya yang warnanya sudah mulai memudar. 'Fucking shitty people' Teriak kepala Changmin masih dengan menggigit lidahnya.
"Ah Changmin-ah ? bisa kau bantu aku menyalakan computerku disana ?" Teriak Yunho dari dalam kamar mandi.
Changmin tidak memberikan jawaban, dia langsung saja mengerjakan apa yang diperintah majikannya itu dengan segera tanpa perlu banyak kata.
"Bagaimana menyalakan.." benda jelek- Pikiran Changmin " .. ini tidak mau menyala" Kepala dan mata Changmin bergerak memutar, menilik computer abad pertengahan milik Yunho yang belum juga mau menyala, berkedip pun tidak.
"Ahh mungkin ada sesuatu yang belum terpasang disana.. aku baru ingat dia kehabisan battery dua jam yang lalu " Teriak Yunho lagi masih dari dalam kamar mandi berkecipak riuh dengan air.
Changmin mendengus,melirik singkat pada pintu kamar mandi yang terbuka lebar . Satu cable yang menjuntai dari meja mulai diraih tangannya, namun dia belum juga bisa menemukan lubang untuk me-charge ulang computer yang sekarang sedang dalam keadaan sekarat ini. Matanya menilik bagian depan juga samping benda yang lumayan tebal itu, mencari sebuah lubang yang pas bentuknya dengan benda berujung silinder ditangannya, namun mata Changmin kesulitan untuk menemukan apa yang dicarinya.
"Dimana lubang untuk me-recharge benda ini ?" Teriak Changmin lantang yang berpikir Yunho masih berada didalam kamar mandi.
"Belakang.. Dia tidak mempunyai lubang dibagian depan!"
'Hollishit!' Lagi-lagi hanya masih didalam kepalanya dia mengumpat. Sekuat tenaga dia berteriak, namun Yunho menjawabnya dengan suara rendah dan dalam didekat telinganya, merangkul tubuhnya yang sedang menunduk berkonsentrasi mencari lubang buaya pada computer yang menurutnya jelek untuk seleranya. Kalau milik Changmin sendiri, dia sudah pasti akan merombak total tubuh computer putih polos ini dengan men-tatto penuh seluruh bagian tubuhnya dengan manusia berbentuk lego. Seperti apa yang selalu dia sukai. Atau malah dia akan dengan senang hati untuk membuangnya mengingat model dari computer milik Yunho ini so last years sekali menurutnya.
"Seriously, apa kau mendengar apa yang aku dan flocks-ku bicarakan siang tadi ? Kenapa kau suka sekali menyebut lubang hari ini?"
"Ah itu menurumu saja.."
Changmin berdiri perlahan, berdehem pelan mengatur nafasnya yang masih urak-urakkan. Rangkulan Yunho yang tidak lebih hanya seperti rangkulan pada tubuh seorang teman ternyata membuat Changmin menjadi berdebar-debar dan tidak nyaman. Sementara Yunho masih tetap terlihat seperti biasa, wajahnya datar bibirnya bergerak tipis membuat lengkungan lalu duduk perlahan menghempaskan bagian belakangnya pada kursi didepan layar computer yang sekarang sudah terlihat kembali bisa menyala.
"Gomawo.."
.
Lepas dari Jung Yunho sang bos-paruh waktu yang sedikit aneh, terhitung dari hari pertama Changmin sudah berkerja dengannya selama empat hari lamanya, setiap hari dia berturut-turut datang namun pada jam yang berbeda-beda menyesuaikan dengan tiap jam sekolahnya.
"Baju baru ?" Tanya Yunho memperhatikan apa yang sedang Changmin kenakan. Melipat kedua tangannya didepan dada dan bersandar miring pada bibir pintu yang menganga, menyambut Changmin yang baru saja menekan bell pintu rumahnya.
"Iya.. apa kau sudah merasa menjadi pahlawan sekarang?"
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk Changmin menjadi dekat dengan Yunho. Changmin mulai terlihat menunjukkan sifat aslinya, si anarcy yang mempunyai sebutan satan dari sahabatnya. Namun masih teka-teki untuk Changmin yang kesulitan membaca Yunho yang kadang selalu saja bersikap aneh padanya.
Orang bernama Jung Yunho itu bahkan memberi code pintu rumahnya pada Changmin yang baru saja dia kenal empat hari yang lalu dengan alasan agar si pembantu-Shim Changmin-lebih mudah membersihkan rumahnya karena Yunho tidak selalu berada didalam rumah dan bisa membukakan pintu rumah untuknya.
"Iya aku membelinya dari upah yang kau berikan, apa kau mau juga? Pasar loak memberi potongan harga!"
Changmin menyingkirkan Yunho yang menghalangi jalannya. Dia melenggang masuk kedalam kediaman Yunho sudah seperti rumahnya sendiri saja, ranselnya kembali dia lempar ke atas rak sepatu seperti biasa, dan selanjutya dia akan langsung membereskan sisa pekerjaan yang kemarin hari belum selesai dikerjakannya.
Tidak memberi reaksi atau wajah marah, Yunho malah tertawa melihat tingkah Changmin yang sekarang lebih suka berbuat dan berkata seenak dia mau padanya.
"Ahh.. benda ini lembut sekali. So soft .. like a soap!"
"What ? Soft like a soap? What a stupid joke! Lembut itu seperti kapas, bantal, atau kulit bayi misalnya, bukan seperti.."
"Tidak perlu bersusah payah berkomentar tuan, aku tidak sedang berbicara denganmu! Terimakasih.."
Alih-alih marah, ataupun mengeluarkan suara lebih mendengar celetuk Changmin yang menyela suaranya, Yunho malah terkekeh geli memperhatikan Shim Changmin yang sedang meremas tubuh boneka rusa yang dia temukan didalam tumpukan kardus lama.
"Jadi kau belum bisa menemukannya juga ?"
"Belum, sekecil apa benda itu ? warnanya ?"
Changmin masih berjongkok mengaduk-aduk isi kardus bekas dari barang-barang yang pernah dibeli Yunho. Ada kardus besar untuk wadah sebuah televisi, monitor computer sampai kardus mesin cuci masih berada didalam rumahnya.
"Kau tahu, hyung…" Setelah sedikit pemaksaan yang diterimanya dari Yunho di kemarin hari, akhirnya Shim Changmin sang satan mau juga memanggil Yunho dengan sebuah panggilan untuk kakak laki-laki dan tidak lagi menggunakan bahasa formal dengannya. ".. kau sangat benar-benar sungguh berantakan sekali!"
"Kau terlalu menggunakan banyak kata, bawel!"
"Mwo ?"
"Bukan apa-apa! begini, bukankah aku menyimpan box-box itu dengan sangat rapi didalam sana."
"Ini kamar tamu , bagaimana jika.."
"Aku tidak mempunyai tamu, kalaupun ada dia akan tidur berdua denganku.."
Changmin melupakan apa yang sudah akan dilontarkan bibir merah mudanya. Yunho yang menyela suaranya membuatnya bungkam begitu saja. Tangannya yang disibukkan tumpukan kardus berhenti bergerak seketika saat Yunho mengatakan setiap tamunya hanya akan langsung tidur dengannya.
Bukan urusannya, dari awal Changmin sudah menerapkan Jung Yunho dan ke-anehannya bukan termasuk dalam list kerjanya, dia menulisnya dan mengingatnya dengan sangat jelas dibelakang tempurung kepala. Namun terhitung hari ini, lima hari sudah Changmin bergulat dan selalu bersama dengan bossnya yang sangat mempesona itu membuat note didalam kepalanya mulai akan samar dan memudar.
"Kenapa berhenti ?" Yunho mengomentari Changmin yang tiba-tiba diam dengan mata mengambang.
Saat Yunho menyebut 'Dia' dalam kalimatnya, pikiran Shim Changmin otomatis tertuju pada namja cantik yang pertama kali dilihatnya saat dia memasuki rumah ini. Saat itu hanya celana dalam yang dikenakannya. Tidak ada lagi selain itu. Pasti 'Dia' yang dimaksud Yunho adalah orang itu. Atau mungkin saja wanita cantik itu. Wanita yang juga dilihatnya pada hari pertama, namun pada malam hari ketika Changmin harus terpaksa kembali untuk mengambil ranselnya yang tertinggal, yang selanjutnya dia mengalami pemaksaan untuk makan malam dengannya. 'Dia tidur dengan mereka berdua?' Kepala Changmin bertanya, tanpa siapapun yang akan mendengar dan lalu menjawabnya.
"Kalau lelah istirahat saja, duduk disini bersamaku"
Tubuh Changmin terangkat paksa, Yunho menarik tangannya membuatnya berdiri lalu kembali mendudukannya pada sebuah kursi didepan computernya.
Memang Changmin tidak memperhatikan, dia terlalu sibuk dengan pikiran dan terkaan konyolnya tentang tamu-tamu Yunho hingga dia tidak menyadari Yunho sudah lama melepas pandangan dalamnya pada Changmin yang duduk berjongkok didepan tumpukan kardus lama. Dia mengulum senyum manis memperhatikan wajah Changmin yang seolah sedang bernostalgia, melamun dan entah berkelana kemana.
"Lupakan saja flashdisk itu, kalau memang hilang ya sudah, warnanya merah kau tadi bertanya bukan.."
Yunho menarik kursi lain yang berada tidak jauh dari samping tubuhnya, mendudukkan dirinya pada kursi berwarna biru tua yang memiliki empat roda.
"Duduk, dan istirahat saja dulu disini."
Yunho menepuk paha Changmin yang terbalut jeans blue navy dengan lubang dibagian lututnya. Changmin hanya diam, dia mengangguk samar. Awkward. Namun dia tetap mengeluarkan senyumnya berpura-pura memperhatikan Yunho dan pekerjaannya yang berada didalam layar computer.
"Kau membosankan, bisa kau bekerja dikantormu saja.."
Bukan si satan-anarcy Shim Changmin kalau dia akan betah berdiam lama. Changmin mulai kembali pada dirinya yang mulai mengesalkan. Mengganggu Yunho yang berkutat dengan pekerjaannya lalu mengambil alih macbook Yunho dan mulai menjajahnya dengan leluasa.
Now playing : The Chainsmokers-Don't let me down.
"Aku suka video dan lagu ini, tapi aku tidak mengerti, did they 'block' them 'cus they needed a ride and the guys said no ? oh help!" Komentar Changmin pada sebuah video music yang sedang berputar dilayar macbook Yunho, berakhir dengan bibir mengerucut.
"Odl girlfriend, being a bit demaning.."
Changmin menggembungkan kedua pipinya, kali ini berusaha menahan tawa. "Wae so serious boss, I'm just trying to make a lil joke here.." Changmin terkekek pada reaksi Yunho yang sekarang terlihat sedang memutar matanya, dan menyesap kopi yang tadi dibuatkan Changmin untuknya dengan tegukan cepat. Orang yang lebih tua darinya itu terlalu menganggap apa yang dikatakan Changmin dengan serius.
"Jangan dimatikan, tolong putar ulang!" Cegah Changmin mengentikan gerakan jemari telunjuk Yunho yang sudah akan menekan tombol 'space' agar video music itu berhenti berputar.
Disela anggukaan kepalanya yang masih mendengarkan The Chainsmokers, mata dan tangan Changmin mulai beralih pada sebuah foto yang tergeletak disamping gelas kopi milik Yunho.
"Great photographer but terrible choice of model tho.." Cibir Changmin menilai satu foto yang berada ditangannya.
Setelah mengetahui biografi dari sang boss-paruh waktunya yang ternyata adalah seorang fotografer, Changmin mulai dengan gampang beranggapan dan menilai semua foto yang berada dirumah majikannya ini adalah hasil dari tangkapan kameranya sendiri. Kali ini dia dengan gamblang mengeluarkan apa yang ada didalam pikirannya saat matanya menilik pada sosok manusia yang tercetak bersih didalam sebuah foto yang lebarnya hampir bisa menutupi telapak tangannya.
"Kau akan mati kalau orang ini mendengar apa yang baru saja kau katakan!" Timpal Yunho seraya menarik kembali satu foto yang sedang dipegang Changmin. "He's cute.." Lanjutnya lagi dan berhasil membuat Changmin memicingkan bibirnya. "He's so sexy.." Sambung Yunho lagi, kali ini Changmin langsung melengos begitu mendengarnya. "Look at his pink lips.."
'He's what? I don't give a fucking damn shit!' Cibir Changmin dalam kepala.
"What ?" Changmin mendengus dan sempat membuang muka, namun hitungan detik dia kembali melempar wajahnya pada Yunho yang sedang tersenyum memandangi sebuah foto ditangannya. "He is not even that cute, and his lips.. ahh c'on, it's not sexy at all!" Tangan Changmin kasar manarik foto yang dipegang Yunho dan membuangnya sembarangan ke atas meja begitu saja.
Sosok manusia yang berada didalam foto itu, benar-benar tidak ada yang salah dengannya. Hanya wajah yang sedang mengedipkan sebelah matanya dan mengerucutkan bibirnya itu tanpa bisa dijelaskan sudah seperti begitu menggangu buat Changmin. Orang dalam foto itu adalah orang yang menamainya bocah lima tahunan, orang itu adalah teman dari Jung Yunho boss-paruh waktunya yang saat itu menampakkan dirinya hanya dengan balutan celana dalam.
"Memangnya bibir sexi itu yang seperti apa ?"
Tanya Yunho tiba-tiba yang sepertinya hanya sedang mengada-ada membuat Changmin terkesiap setelah merasa begitu jengah mengingat manusia celana dalam itu. Ya, teman Yunho itu sudah memiliki sebuatan manis dari si anarcy Shim Changmin.
"Sexy itu yang.. yang dimana saat kamu melihatnya , kau akan selalu ingin menciumnya!"
"Seperti bibirmu ?" Wajah Yunho mendekat, membuat jarak semakin merapat. "..Karena aku selau ingin menciummu!"
Darah Changmin sudah mulai akan mendidih,berdesir hebat seraya menahan nafasnya kuat-kuat. Yunho Menjamah wajahnya, membuat gerakan lembut menggunakan ujung jempol manisnya memijat pelan pipi putih Changmin, mengukir garis lurus dari sudut telinga Changmin menggunakan ujung jari tengahnya dan bergerak lambat berakhir di sudut bibir. Changmin membeku ditempatnya, terpukau dengan gerakan yang Yunho buat pada wajahnya.
"Soft.. like a soap"
.
.
.
To Be Continued...
.
.
.
oOOOo
And Yes!.. saat mengetik saya suka lupa dengan jarak dan baris, suka lupa juga dengan berapa banyak dan panjangnya kalimat yang sudah saya buat. Jadi maaf sekali ya, kalau ini terlalu panjang untuk sebuah cerita bersambung.. ehe^^
Sampai disini apa ada yang bisa menebak akan seperti apa cerita selanjutnya engga ?.. Well jangan ditebak deh ya, nanti surprise-nya musnah. ahah XD . Tolong jangan jadi spoiler paradox ya heheh *damai
Tapi aku serius tentang 'Bibir Sexy' . Menurutku, Bibir sexy itu bukan bibirnya Angelina Jolie beserta suami, bukan juga milik Julia Roberts, juga bukan miliknya Yoona, Aishwarya Rai,or Taylor Swift, but bibir sexy itu adalah bibir yang dimana saat kamu melihatnya, maka kau akan selalu ingin menciumnya. Jadi bagaimana dengan kalian ? sudah menemukan si bibir sexy itu ? yaa.. ofc selain bibir HoMin tercinta. XD
Ada yang setuju dengan pendapatku tentang Bibir sex-y ? Comment me! Jangan lupa juga untuk menanggapi cerita diatas ini. Ya.. aku butuh sedikit penyemangat atau mungkin aku akan berpura-pura malas saja untuk melanjutkan. XD
Well.. Sankyuuuu so freakin' muchhhh untuk kalian semua yang mau membuang waktunya untukku. *i'm in tears now. XD *HugYou
*BowCloseToToe
See ya next Chapter^^
InoCassio
