Chapter Two

He Who Doesn't Say


Soma tidaklah secuek yang biasa orang-orang pikirkan tentangnya. Ya, Soma adalah tipe yang tidak memedulikan apapun di sekitarnya saat ia sedang fokus dalam tujuannya—dalam hal ini adalah menduduki kursi pertama dan melampaui kemampuan ayahnya yang melegenda. Memang, dirinya termasuk lemot dan tidak peduli terhadap hal-hal yang biasanya menarik perhatian laki-laki di sekitarnya.

Jika sebagian besar teman-temannya begadang demi menonton pertandingan bola, maka dirinya lebih memilih untuk mencoba resep baru di dapur. Jika majalah porno adalah sesuatu yang pasti dimiliki setiap laki-laki di kamar, kau tidak akan pernah menemukannya di kamar Soma. Pemuda dengan luka di alisnya itu cenderung lebih menyukai sesuatu yang simple, kamarnya tidak lebih dari sekedar tempat tidur, lemari baju dan meja belajar. Barang yang hanya benar-benar ia butuhkan.

Dan jika saat ini kebanyakan teman-temannya mulai berkencan satu sama lain untuk menikmati sisa waktu mereka di sekolah, lain halnya dengan Soma yang berpikir ia tidak membutuhkan pasangan saat ini. Disukai oleh seseorang memang membahagiakan, tapi bukan itu fokusnya sekarang.

Soma hanya ingin menjadi yang terbaik di Totsuki, itu saja. Mendapatkan pacar adalah nomor kesekian dalam daftarnya.

Namun secuek-cueknya Soma terhadap urusan yang terkait perempuan, Soma tidaklah terlalu cuek untuk tidak menyadari rumor yang beredar tentang hubungannya dengan Nakiri Erina, gadis yang merupakan tantangan terbesarnya untuk mendapatkan kursi pertama di Elite 10. Mereka memang sering melakukan pertandingan memasak, tapi tak pernah sekali pun mereka melakukan Shokugeki resmi. Dan hasilnya pun keduanya imbang.

Soma tidak tahu dari mana rumor ini berasal, tapi mendengar penjelasan Takumi, itu wajar karena akhir-akhir ini dirinya dan Nakiri sering terlihat bersama. Soma tidak terlalu mempermasalahkannya, lagipula dengan statusnya sebagai 'pacar Nakiri Erina' membuat sebagian besar perempuan—dalam hal ini adik-adik kelasnya—tidak bisa lagi menempel padanya.

Dan Soma pun tahu kalau Erina tidak pernah sadar tentang rumor yang mengelilingi mereka, karena gadis itu selalu bersikap normal.

Kecuali hari ini.

Tatapan dari kebanyakan murid Totsuki yang tertuju pada dirinya dan Erina saat keduanya berjalan menuju kelas adalah hal yang biasa. Bisik-bisik tentang kedua murid terbaik di sekolah menjalin hubungan romantis sudah jarang terdengar sejak bulan lalu—pendengaran Soma cukup tajam saat mendengar gosip tentang dirinya.

Biasanya Soma akan pura-pura tidak tahu dengan pandangan penasaran yang ditujukan ke arah mereka berdua dan hanya terfokus bicara pada gadis di sampingnya. Tapi yang berbeda kali ini adalah Erina yang sama sekali tidak menanggapi ucapannya, sesekali hanya bergumam seolah pikiran gadis pirang itu sedang berada di tempat lain.

Selain kalah dalam Shokugeki, hal kedua yang tidak disukai Soma adalah jika ia merasa diabaikan.

"Hari ini kau sangat aneh. Ada masalah?" Soma bertanya khawatir.

"Hmm…" Erina bergumam, masih tidak menatap Soma.

Jawaban itu lagi. Soma menghentikan langkahnya, dan sesuai dugaannya, Erina masih terus berjalan dan tidak menyadari Soma yang tidak lagi berada sampingnya.

Menghela napasnya, Soma kembali melangkahkan kakinya dan berjalan di belakang Erina. Tapi saat ia melihat kalau gadis itu melewati kelas mereka, Soma tahu ada yang tidak beres dan ia menepuk bahu Erina agak keras untuk menyadarkannya.

Tubuh gadis itu tersentak dan akhirnya berbalik, ini adalah pertama kali mata keduanya bertemu sejak pagi tadi. Menatap mata ungu di depannya, Soma bertanya dengan ekspresi serius. "Kau sedang memikirkan sesuatu bukan?"

Rona kemerahan muncul di pipi Erina, orang-orang yang menuju kelas mulai memperhatikan keduanya, mungkin mengharapkan adegan romantis atau apa, melihat posisi Soma yang memegang bahu Erina dengan tatapan serius sementara Erina yang nampak gugup akan sesuatu.

Soma tidak memedulikan sekitarnya dan kembali bertanya. "Ini sama sekali bukan sepertimu. Jika ini berkaitan dengan ayahmu lagi—"

"Tidak, bukan tentang dia" Erina menyela, dengan pelan gadis itu menurunkan pegangan Soma pada bahunya, seolah baru sadar bahwa mereka menarik perhatian. "Hanya kelelahan, kurasa."

Soma masih tidak yakin dengan jawaban yang ia terima tapi tidak memaksa Erina lebih jauh. "Baik, tapi beritahu aku jika kau butuh bantuan."

Erina mengangguk.

Tapi nyatanya, bahkan setelah percakapan mereka pagi tadi, Erina masih menghindarinya dan sama sekali tidak melihatnya. Di kelas Erina akan duduk di kursi paling jauh darinya dan saat pergantian jam Erina akan buru-buru keluar tanpa menoleh ke belakang.

Soma benar-benar kesal sekarang. Apa mungkin gadis itu marah padanya?

Soma mengigit roti yang dibelinya dengan perasaan jengkel. Sekarang adalah waktu istirahat makan siang, Soma bergabung bersama Takumi serta Megumi di atap sekolah untuk makan siang bersama. Masa bodoh jika ia menganggu waktu berduaan mereka, Soma hanya membutuhkan seseorang yang akan mendengarkannya.

Megumi dengan sabar mendengarkan cerita Soma tentang sikap aneh Erina pagi tadi. Soma berpikir kalau gadis itu pasti mengetahui sesuatu karena saat Soma bercerita, Megumi tidak melihat langsung ke arahnya.

"Apa ini ada hubungannya ketika Alice mengajak para gadis menginap semalam?" Tanya Soma curiga.

"Hmmm…" Megumi berkata ragu. "Mungkin kau harus bertanya langsung padanya, Soma-kun."

"Bagaimana aku bertanya kalau dia terus menghindar?"

Takumi mendengus. "Kalian tinggal dalam satu asrama, baka! Tidak mungkin dia bisa lari terus."

Meskipun kesal karena dibilang baka, tapi perkataan Takumi ada benarnya. Erina tidak mungkin bisa terus menghindar, ada kelas, pertemuan Elite 10, juga fakta kalau kamar mereka terletak berdekatan. Bahkan jika Soma mau, dirinya bisa duduk di depan kamar Erina sampai gadis itu mau bicara.

Soma tidak akan melakukannya, tentu saja.

Malam itu adalah giliran Soma untuk memasak makan malam di asrama Polar Star. Dia benar-benar lupa dengan tugasnya dan ia sama sekali belum belanja. Dia hanya mencampurkan semua bahan yang tersisa di dapur dan kursi kedua di Elite 10 itu masih bisa membuat masakan yang mengagumkan.

Heh, tentu saja. Jangan pernah meragukan kemampuannya menciptakan sesuatu.

Hal yang membuat Soma kecewa adalah bahkan ketika mereka makan dan piring sudah dibersihkan, Erina masih tidak muncul juga di asrama. Dia mulai khawatir, dia menelepon Hisako untuk menanyakan keberadaan Erina. Hisako memberitahunya kalau untuk sementara Erina akan tinggal di mansion Nakiri dan tidak ada yang perlu dicemaskan.

.

.

.

Oh.

.

.

.

Ck, mana bisa Soma diam saja.

Ada sesuatu yang tidak beres pada Erina, Soma tahu hal itu. Mata yang tidak fokus, pikiran yang entah kemana, dan yang terpenting adalah, Erina yang seolah menghindari kontak dengan Soma. Ini mengingatkannya dengan kemunculan Azami saat tahun pertama mereka, dan Soma tahu bagaimana trauma dan ketakutan yang dirasakan Erina saat itu.

Soma mengambil jaket dan kunci motornya—juga beberapa hal lain—dan memutuskan untuk melihat keadaan Erina langsung. Dia tidak bisa menunggu sampai besok, jika dibiarkan dirinya tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.

Soma sudah meminta Alice untuk memberitahu pihak keamanan untuk membukakan gerbang kediaman Nakiri untuknya. Tapi bukannya masuk ke dalam mansion, Soma malah berjalan memutar ke halaman belakang, dia mendongkakkan kepalanya ke atas, berhadapan langsung dengan balkon kamar Erina di lantai dua.

Jika Soma masuk ke mansion dengan cara biasa, para pelayan di sana pasti akan memanggilkan Erina dan hampir bisa dipastikan gadis itu akan menolak untuk menemuinya. Soma punya dugaan apapun yang membuat Erina kepikiran ada hubungannya dengan dirinya. Meskipun dia tidak ingat pernah melakukan sesuatu yang membuatnya dijauhi.

Lalu sekarang bagaimana?

Soma bisa saja melempar batu atau benda apapun ke jendela Erina—dan beresiko memecahkan kaca atau lebih parahnya terkena gadis Nakiri itu sendiri. Atau mungkin ia bisa berteriak dan memanggilnya... ide bagus kalau ia ingin menarik perhatian Senzaemon dan membangunkan seluruh penghuni rumah. Apa ada cara lain yang cukup tenang?

Sudut matanya melirik pohon besar di samping balkon kamar tidur, memang agak jauh dari pagar tapi kalau ia cukup beruntung, Soma bisa melompat dan mendarat dengan selamat. Daun-daunnya sudah hampir rontok karena sudah memasuki musim dingin, Soma hanya berharap dahannya cukup kuat untuk menopang beratnya.

Dengan gesit Soma berusaha naik, mencari pijakan untuk kakinya juga pegangan yang cukup kuat untuk menarik tubuhnya ke atas. Soma sudah sering melakukan hal ini sejak kecil jadi seharusnya ia tidak punya masalah. Ia hanya perlu tenang, tidak perlu terburu-buru. Cari dahan yang kuat, pegangan yang erat, tarik tubuhnya dan terus seperti itu berulang-ulang.

Soma sudah hampir sampai di dahan teratas yang letaknya paling dekat dari pagar balkon, tapi sayangnya dahan yang Soma naiki tidak cukup kuat untuk menahannya, bunyi sesuatu yang patah terdengar. Wajahnya memucat.

Krak

"W-w-whoaaaaa!"

BRUUUUUUKKK!

Soma mendarat dengan pantatnya duluan yang jatuh ke tanah, ia mengumpat dalam hati seraya mengelus bagian belakangnya yang sakit. Sial. Untunglah tidak ada siapapun yang melihatnya jatuh tadi, itu benar-benar memalukan. Mungkin Soma harusnya bersyukur tidak terluka, setidaknya ia merasa tulangnya tidak patah atau apapun. Tapi... sial, sial, sial, pantatnya benar-benar sakit. Soma pikir dirinya tidak bisa berdiri sekarang.

Dia mencoba bangun, tapi tak lama kemudian ia kembali duduk di tanah. Setelah dipikir-pikir lagi, Soma melakukan semua ini hanya karena seorang gadis yang mengabaikannya seharian, Soma bisa membayangkan ayahnya akan tertawa saat mengetahui apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Mungkin yang orang-orang katakan selama ini tentang dirinya benar, Soma memang sudah gila.

"Yukihira-kun,"

Soma menoleh ke sumber suara, di atas balkon berdiri orang yang ingin ditemuinya, Nakiri Erina, lengkap dengan baju tidurnya dan sedang menatap ke arahnya dengan ekspresi heran.

"Hai," Soma melambaikan tangannya, nyengir. Mendadak lupa dengan sakit di pantatnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Gadis itu terlihat tidak marah, respon yang cukup positif. Setidaknya Soma tidak akan langsung ditendang keluar.

Bukannya menjawab, Soma merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan sebungkus plastik berisi potato crisp yang semalam dirinya buat, ia mengangkatnya agar Erina bisa melihatnya. "Kau lapar?"

Soma melihat mata Erina melebar, mungkin terkejut dengan jawaban yang tidak sesuai dugaannya. Awalnya Erina tidak mengatakan apapun sebelum akhirnya ekspresi gadis berambut pirang itu berubah, digantikan perlahan dengan ekspresi geli. "Bodoh,"

Entah kenapa, Soma bepikir sebutan itu tidak terlalu buruk jika Erina yang mengatakannya.

Erina mengajak Soma masuk ke dalam mansion dengan cara yang normal, ia menyambut Soma di depan pintu dan mengajaknya masuk ke dalam. Erina mengatakan jika ada yang bertanya beritahu saja kalau mereka berdua akan membahas urusan Elite 10 di kamarnya. Soma tidak tahu ini hanya perasaannya saja atau bukan, tapi ia merasa melihat Alice sedang memata-matai mereka sejak Soma menginjakkan kakinya di kediaman Nakiri.

Erina menyiapkan teh untuk keduanya dan Soma sudah menemukan dirinya duduk di kursi yang ada di balkon, posisi mereka sekarang berhadapan. Soma mengeluarkan bungkusan yang dibawanya dan mengeluarkan crisp yang dibuatnya di atas piring.

Soma menunggu Erina untuk memakannya sebelum kemudian bertanya. "Bagaimana? Enak kan?"

Erina diam sebentar, nampak berpikir. "Lumayan. Sama seperti masakanmu yang biasa, kurasa."

Soma tak bisa menahan diri untuk tidak cemberut. Mungkin sudah ratusan kali dirinya menawarkan berbagai makanan yang dibuatnya ke Erina, dan tidak pernah sekalipun gadis itu mengatakan satu kata yang ingin didengarnya. Memang, kadang Soma berpikir kalau Erina menyukai masakannya dan gadis itu hanya bersikap Tsundere. Tapi tidak memuaskan rasanya jika Soma tidak mendengar kata tersebut langsung.

Keheningan mengelilingi mereka cukup lama, suara angin malam yang berdesir hanya satu-satunya suara yang Soma dengar. Erina sesekali meminum teh dari cangkirnya, sementara Soma menopangkan dagunya sambil memperhatikan ekspresi gadis di depannya. Soma memutuskan untuk bicara duluan.

"Kau menghindariku hari ini." Itu bukan pertanyaan.

Erina sepertinya sudah menduga kalau Soma akan mengatakannya. Erina menatap mata Soma, kedua mata mereka bertemu untuk beberapa sesaat sebelum Erina kembali memalingkan wajahnya. Apa hanya perasaan Soma saja atau pipi Erina memang memerah? "Maaf... aku hanya ingin... memikirkan sesuatu."

"Kau memikirkanku? Wow, aku tak tahu harus bereaksi seperti apa." Soma menggodanya, ia tak bisa menahan diri. Rasanya menyenangkan melihat perubahan ekspresi gadis di depannya setiap kali Soma berhasil membuatnya kesal.

"B-Bukan begitu," Erina membantah jengkel sementara Soma tertawa. "Dan siapa bilang ini berhubungan denganmu?"

"Hmmm... Mungkin karena aku satu-satunya orang yang kau hindari. Alice, Arato dan Tadakoro bilang kalau kau bersikap biasa saja pada mereka." Jawab Soma santai. "Apa jangan-jangan kau bersikap seperti ini pada semua laki-laki?"

"Memangnya siapa lagi laki-laki yang dekat denganku selain kau?"

"Benar juga." Soma meletakkan satu tangannya di bawah dagu, seolah sedang berpikir. "Jadi aku adalah satu-satunya pria bagimu, eh, Nakiri?"

Bersamaan dengan kalimat Soma, Erina yang meminum tehnya tiba-tiba saja tersedak dan terbatuk, wajahnya benar-benar merah bahkan hampir menyaingi rambut Soma. Soma memberikan Erina tisu untuk menyeka mulutnya. Saat Erina sudah mulai tenang, pewaris Nakiri itu melotot ke arah Soma yang hanya balas memandang dengan polos. "Bisakah kau berhenti dengan kalimat yang harusnya ditujukan untuk pacarmu sendiri?"

"Eeeh? Hubungan kita memang seperti ini bukan? Aku memberimu makan, kau tidak menyukainya, aku lalu menggodamu dan kau malah semakin kesal. Sebagai selingan kita bertanding dan sesekali membahas urusan Elite 10." Soma mengangkat bahu ringan.

"Memberi makan? Kau bicara seperti aku ini kucingmu saja." Erina memutar kedua bola matanya bosan. Dia lalu menghela napasnya. "Tapi tolong jangan mengatakan hal yang bisa membuat orang lain salah paham."

"Salah paham apa?"

Erina mengigit bibir bawahnya ragu, "Kau tahu... rumor yang menyebar di sekolah." Erina menelan ludahnya gugup. "...mereka menganggap kalau hubungan kita lebih dari teman."

Soma melipat kedua tangannya di depan dada, ia menyenderkan punggungnya ke belakang kursi sambil menatap Erina. "Oh, itu. Mereka mengira kita pacaran kan? Aku sudah tahu."

"K-Kau mengetahuinya?" Soma mengangguk. "Kenapa kau tidak memberitahuku?"

"Apa ini yang membuatmu menghindariku seharian ini?" tanya Soma bingung. "Memangnya kenapa kalau mereka mengira begitu? Seperti bukan kau saja untuk peduli pada anggapan orang-orang."

"Kau memang benar." Ucap Erina pelan. "Mungkin aku hanya bingung dengan perasaanku sendiri." Erina diam. "Yukihira-kun, kita teman, bukan?"

"Hah?" Soma memiringkan kepalanya bingung, tidak mengerti maksud Erina. "Kau mulai membuatku takut, Nakiri."

"Jawab saja."

Soma berpikir dirinya tidak akan pernah mengerti perempuan. Meskipun begitu ia tetap menjawab. "Tentu saja kita berteman. Apa yang ingin kau katakan?"

Erina memandang Soma cukup lama, seperti sedang memeriksa sesuatu. Tidak seperti sebelumnya, kali ini tidak ada keraguan sedikitpun di wajah Erina. Soma balas memandangnya, mata Erina bertemu dengan matanya sendiri. Soma tidak pernah memperhatikan ini sebelumnya, tapi ia baru sadar kalau gadis itu memiliki warna mata yang jarang dimiliki orang.

Mata amethyst.

"Yukihira Soma-kun," Erina memanggilnya dengan perlahan. "Musim panas lalu, kau memberitahuku... tentang rahasia bagaimana untuk menjadi chef yang baik."

Soma masih tidak tahu arah pembicaraan mereka, tapi ia tetap mengangguk.

Erina mengambil napas dalam-dalam, ia menutup matanya sebelum kemudian membukanya kembali. "Apa kau sudah menemukannya?"

Soma mengerutkan kening bingung. Sepertinya Erina ingin memastikan sesuatu dari pertanyaan yang diajukannya, meskipun Soma benar-benar tidak mengerti kenapa. Pandangan gadis itu tertuju lurus ke arahnya, dan Soma bisa melihatnya. Rasa penasaran, tidak kesabaran, keingin tahuan, dan juga... apa itu kecemasan? Mengapa gadis di depannya nampak cemas?

Mata ungu milik Erina membuat Soma sulit untuk mengeluarkan suaranya, seakan memaksanya untuk tidak berbohong. Untuk pertama kalinya, saat mereka bertatapan, Soma lah yang kali ini memalingkan wajahnya terlebih dulu. Tidak melihat Erina dia menjawab. "Tidak, aku belum menemukannya."

Erina diam sebelum menarik tubuhnya kembali ke posisi semula. Soma baru sadar kalau posisi Erina tadi agak condong ke arahnya, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter di antara keduanya.

"Kenapa kau bertanya?"

Erina menggeleng. "Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menjawab, sekarang aku sudah lebih yakin dengan semuanya."

Soma mengangkat alis heran. "Aku tidak mengerti kau, Nakiri."

"Sudah kubilang kalau aku baik-baik saja."

Erina bisa sangat keras kepala dan Soma tidak ingin bertengkar untuk saat ini. Jadi untuk sekarang Soma akan membiarkannya. "Baiklah, tapi berjanjilah kau tidak akan menghindariku lagi."

"Janji,"

Untuk pertama kalinya dalam hari ini, Erina tersenyum padanya.

Dan bagi Soma itu sudah cukup.


Setelah beberapa menit mereka mengobrol, Soma memutuskan untuk kembali ke Polar Star. Malam sudah lumayan larut dan dirinya tidak ingin menjadi penyebab mereka kesiangan besok pagi. Meskipun Soma sudah merasa lebih lega karena Erina berjanji untuk tidak lagi kabur darinya, ada perasaan janggal dalam hatinya yang masih membuatnya bertanya-tanya.

Bahkan ketika Soma sudah sampai di kamarnya, masuk kamar mandi dan ketika tubuhnya sudah jatuh di atas kasur, pertanyaan yang diajukan Nakiri Erina masih tidak bisa lepas dari kepalanya. Kenapa Erina menanyakannya? Apa ada hubungannya dengan hari ini? Kenapa Erina terlihat cemas?

Dan kenapa dirinya merasa sangat gelisah?

Soma memejamkan matanya tapi tidak ada jawaban yang muncul. Ia membuka matanya lagi, kali ini menatap langit-langit kamarnya.

.

.

.

.

.

"Musim panas lalu, kau memberitahuku... tentang rahasia bagaimana untuk menjadi chef yang baik."

.

.

.

.

.

Perut Soma terasa digelitik. Sial.

.

.

.

.

.

"Dengar Soma, rahasia untuk menjadi chef yang baik adalah... bertemu dengan seorang wanita yang membuatmu ingin memberikan semua makanan yang kau masak untuknya..."

.

.

.

.

.

Oh, Soma benar-benar tidak menyukai perasaan ini. Perasaan yang membuat tubuhnya bergetar sampai-sampai ia tidak bisa fokus dengan apapun, bahkan masakannya sendiri. Dia benar-benar tidak ingin memedulikannya, tapi berkat percakapannya dengan Erina tadi kalimat tersebut terus menghantui pikirannya.

Soma pikir dirinya sudah melupakan perasaaan aneh ini, tapi kenapa malah muncul sekarang?

Soma bersungut-sungut dalam hati.

.

.

.

.

.

Apa kau sudah menemukannya?

.

.

.

.

.

Diam.

.

.

.

.

.

"Tidak, aku belum menemukannya."

.

.

.

.

.

Benarkah?

.

.

.

.

.

Tidak, Soma tahu bahwa dirinya sudah menemukan wanita yang dimaksud hampir tiga tahun lalu.

.

.

.

.

Awww...

.

.

.

Dan Yukihira Soma tidak akan pernah mengatakannya.

Tidak sebelum Nakiri Erina menyadari perasaannya sendiri.


TBC