Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya, menemukan dirinya sedang terduduk dengan bersender di pintu kamar. Wajahnya kusut. Rambutnya yang tergerai ia biarkan begitu saja. Bajunya telah basah akibat air matanya yang kedua. Ia terdiam di sana, mencoba mengingat kejadian tadi malam. Ia masih ingat betul dengan kalimat terakhir yang diucapkannya pada ayah yang dicintainya itu. Keputusan itu tak akan dilakukannya. Tidak akan pernah.
Mentari pagi sudah cukup tinggi. Gadis indigo itu kemudian bangkit secara perlahan menuju jendela kamarnya yang masih tertutupi oleh tirai. Entah kenapa seluruh tubuhnya terasa remuk dan tak bertenaga, hampir saja ia terjatuh ketika berjalan. Mungkin anemia, pikirnya . Ia pun menggeser tirai jendela kamarnya yang kelewat besar. Sebentar ia merasakan silau di matanya, kemudia berganti dengan sebuah pemandangn pagi yang menenangkan jiwa. Ia pun tersenyum tipis. Rindu rasanya merasakan aktivitas seperti ini. Biasanya ia akan langsung berangkat ke sekolah. Ya, sekolah. Oh ya, bagus. Sepertinya ia melupakan hal itu karena masalah kemarin. Tak lama terdengar ketukan pintu pada kamar gadis itu dari luar.
Disclaimer : Naruto tuh punya siapa sih ? #plak
Naruto by Masashi Kishimoto
Is She Normal by Himeureka
Genre : Romance, Humor, Drama
Rated : T
Warning : OOC, Gajeness, Abalness, Typo bertebaran wereper dsb.
"Hinata.." Suara yang dikenalnya itu terdengar jelas di telinganya. Hinata tak menjawab. Tanpa memanggil lagi si pemilik suara yang merupakan kakaknya itu masuk ke kamarnya. Rambut hitam panjangnya seperti biasa ia gerai. Kini pemuda itu telah berpakaian seragam. Hinata hanya menoleh pelan, ketika suara langkah kaki kakaknya itu mendekat.
"Apa kamu mau makan ?" Hinata hanya menggeleng perlahan. Neji pun menghela napas sebentar kemudian berkata lagi. "Sebaiknya kamu mandi dan ganti baju. Nii-san udah ngirim surat ijin kamu hari ini ke sekolah. Setelah itu cepat ke bawah. Papi sudah menunggu."
"Haruskah, nii ?" tanya Hinata dengan suara lirih. Pertanyaan paling aneh yang pernah ditanyakan adiknya, pikir Neji sweatdrop. Neji pun mengangguk cepat. Sementara sang adik dengan wajah pasrah berjalan menuju kamar mandinya.
-o0o-
Hinata kini berada di ruang keluarga. Setelah melakukan ritual mandi dan ganti baju, ia pun sarapan dengan rasa terpaksa. Perutnya tak bisa menahan diri lagi memang. Seperti yang dikatakan Neji-nii, hari ini ia 'meliburkan diri'. Ia pun memakai pakaian yang cukup formal karena Neji-nii yang memintanya begitu. Entah apalagi kejutan yang akan diberikan kedua laki-laki yang merupakan keluarganya itu. Tak lama sang ayah datang dengan wajah serius, mengambil kursi untuknya dan duduk tepat di depan Hinata yang dibatasi oleh meja tamu saja. Hinata kembali was-was. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya. Sementara sang ayah berdehem sebentar.
"Hinata ?"
"I-Iya pi?"
"Maafin Papi tadi malam...Papi gak bermaksud-"
"Iya, ngerti kok pi. Aku minta maaf juga sama Papi karena aku langsung marah-marah."
"Syukurlah. Jadi, kamu ngerti kan sekarang ?"
"Hah ? Ngerti apa pi ?" Hinata kebingungan. Ia malah balik nanya ke Papi tercintanya. Sedangkan Hiashi hanya bisa menghela napas berat mendengar pertanyaan dari anak gadisnya ini.
"Maksud Papi, kamu mau nerima kan ?"
"Ya nggaklah, pi. Aku kira Papi bakalan ngalah sama keputusan Papi." Hinata mengerucutkan bibirnya, sedangkan sang ayah hanya bisa garuk-garuk kepala. Punya anak kok ya keras kelapa-eh, kepala, batinnya sedih.
"Kenapa kamu gak mau ngerti sih, nak ? Ini demi kebaikan kamu sayang..." Hinata kembali pasang tampang semelas mungkin. Ditambah dengan puppy eyes no jutsu nya yang mulai berlinang air mata. Hiashi hampir saja merasa tak tega dan membatalkan keputusan itu, namun ia kembali teringat akan janjinya pada snag istri tentang Hinata.
"Pokoknya kamu harus nurut. Papi gak akan narik keputusan Papi kali ini. Sekarang kembali ke kamar kamu dan pikirkan baik-baik. Ingat, ini demi kebaikan kamu." Hiashi pun meninggalkan Hinata menuju ke kamarnya. Sedangkan Hinata masih terdiam sendiri di sana, tak menyangka bahwa usahanya kali ini gagal dengan mudahnya. Ia mengutuk ayahnya yang dengan seenaknya mengatakan demi kebaikannya. Dengan alasan seperti itu jelas saja Hinata tak terima. Selama ini ia memiliki kebahagiannya sendiri. Kembali, air mata itu menitik kembali. Padahal rasanya ia tak akan sanggup lagi untuk menangis. Wajahnya menunduk seketika, diselingi dengan sebuah senyuman tipis. Bibirnya sedikir gemetar, ia sadari itu. Sungguh ia ingin lari dari keputusan bodoh ini. Ia tak mau ada yang merenggut kebahagiannya lagi.
Neji, yang melihat wajah Hinata tertunduk kemudian meletakkan kepala adiknya itu ke depan dadanya. Ia pun mengelus rambut sang adik dengan kasih sayang. Hinata yang diam saja, hanya bisa terisak dalam dekapan sang kakak.
Ia tahu sang adik sangat menderita kali ini. Namun, keputusan sang ayah kali ini memang yang terbaik. Seorang gadis atau siapapun pasti akan merasa shock saat mendengar dirinya telah dijodohkan dengan orang lain tanpa persetujuan darinya. Khususnya gadis rumit seperti Hinata. Ia mengetahui hal yang dirasakan Hinata selama ini. Hinata memang bukan tipikal gadis umumnya yang tentu akan merasa senang dengan perasaan khususnya pada seseorang. Seperti yang pernah dirasakannya saat berada di kelas dua SMP. Saat itu, Hinata menyukai salah seorang teman dekat Neji yang waktu itu berada di kelas X KHS, Naruto Namikaze. Setelah ia mengenalkan Naruto pada Hinata, mereka menjadi dekat. Neji pun akhirnya tahu adiknya ini mulai menyukai Naruto.
Namun di saat bersamaan Naruto memberitahu Neji bahwa ia menyukai Shion, gadis cantik yang saat itu berada di kelas yang sama dengan mereka. Awalnya Neji mengira bahwa adiknya ini hanya cukup menyukainya saja, karena itu ia merasa tenang saja. Namun ternyata itu salah. Hinata menjadi lebih menyukai Naruto. Neji ingin menutupi kenyataan bahwa cinta Hinata tak akan terbalas. Namun, akhirnya Hinata mengetahuinya secara langsung dari mulut Naruto. Dan sejak saat itu Hinata menutup rapat-rapat perasaan tersebut. Ia tak ingin lagi berhadapan dengan laki-laki selain keluarganya.
Hinata yang Neji tahu, tidak suka mengalah, namun tak ingin menyakiti orang yang dikasihinya. Dan saat ia mengetahui bahwa ia kalah, ia akan terluka banyak. Dia membuat dirinya lebih terluka agar bisa melupakan perasaannya. Hinata benar-benar membuat dirinya menderita.
"Hina-chan, kamu dengar kakak kan ?" Hinata mengangguk pelan dengan menyembunyikan wajahnya. Ia tak ingin terlihat jelek di depan kakaknya.
"Papi bilang, ini bukan kemauannya." Hinata tetap diam. Neji meneruskan kembali. "Ini janjinya pada Mami..." mendengar Mami-nya disebut, Hinata segera mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Neji.
"Sebelum Mami meninggal, ia sempat khawatir sama kamu yang waktu itu sering sakit-sakitan." Neji berujar sembari mengambil tempat untuk duduk di samping Hinata. "Mami menginginkan agar ada yang menjagamu selain nii-san dan Papi." Hinata terdiam berpikir sebentar. Saat ia berusia 5 tahun, ia memang sering sakit, dan akhirnya diketahui bahwa ia mengidap penyakit asma ringan, bawaan dari sang Ibu. Tapi kenapa hanya dia yang harus dijodohkan? Kenapa Hanabi tidak?
"Kenapa harus aku? Kenapa Hanabi nggak?"
"Waktu itu Mami gak kepikiran. Yang paling ia khawatirkan itu kamu. Dia gak mau kamu kesusahan nantinya."
"Tapi kenapa keluarga Uchiha? Kenapa gak Namikaze aja?" Neji sweatdrop mendengar pertanyaan terakhir yang baru saja keluar dari mulut Hinata. Rasanya adiknya itu berharap kembali, atau...bercanda ?
"Mikoto Uchiha, Istri dari kepala keluarga Uchiha itu merupakan sahabat lama Mami. Saat itu, Mikoto sedang mengidap penyakit jantung dan meminta Mami untuk menjodohkan anak bungsunya dengan kamu. Namun takdir berkata lain. Nyawa Mikoto selamat, berkebalikan dengan Mami." Jelas Neji masih terus menatap wajah adiknya yang lusuh.
"Jadi sekarang kamu mau mengerti kan ?" Hinata memalingkan wajahnya, resah, bimbang, galau menghantuinya.
"Entahlah nii. Nii tahu kan, aku tak ingin sekalipun melakukan hubungan khusus seperti ini. Aku udah gak punya perasaan apa-apa lagi sama laki-laki. Aku cuma ingin sama kalian aja." Balas Hinata dengan air mata yang telah mengering. Neji membingkai wajah adiknya itu dan memaksa Hinata untuk melihatnya.
"Ini keinginan Mami. Apa kamu gak bisa berpikir lagi ? Nii juga inginnya kamu hidup seperti yang kamu mau. Tapi kalo keadaannya begini, nii juga gak bisa apa-apa." Jelas Neji dengan nada lirih di bagian akhir kalimat. Air mata Hinata kembali mengalir. Ia tak tahu, bingung dengan hidupnya yang rasanya menjadi serba salah. Ibunya...ia tak tega jika ini keinginan ibunya...Tapi, apa ia benar-benar harus melakukannya? Apa ini akan baik ? Sungguh ia tak mengerti.
"Pikirkan sekali lagi. Ini demi Mami...Nii yakin, keputusan ini yang terbaik buat kamu..." Neji melepaskan tangannya. Ia bangkit berdiri, pergi meninggalkan gadis indigo yang tengah sedang berpikir.
Sementara, Hinata termenung di sana tak bergerak dari posisinya. Ia hanya menyenderkan kepalanya pada sofa. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya dengan frustasi. Haruskah ia melakukannya ?
-o0o-
Hari ini hari kedua Hinata meliburkan diri. Padahal ia sudah berniat untuk sekolah hari ini. Namun sang kakak memaksanya untuk tetap di rumah. Lebih baik menenangkan diri dulu, kata Neji saat Hinata meminta izin untuk kembali sekolah.
Watak Hyuuga yang kelihatannya sama keras kepalanya itu akhirnya menghasilkan suatu keputusan yang membuat Hinata cemberut seharian. Diam di rumah dan tak diperbolehkan pergi kemanapun, begitulah perintah sang kakak pada gadis indigo itu. Bosan ? tentu saja. Seorang Hinata yang pendiam sekalipun tetap akan merasa bosan jika hanya bisa mengurung diri dalam rumah yang cukup besar itu.
Segera ia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja belajarnya. Jari-jari lentiknya mengutak-ngatik ponselnya dengan cepat. Saat ia membuka inboxnya terlihat dua SMS yang dikirim oleh orang yang sama. Tidak lain dan tidak bukan berasal dari sahabatnya, Haruno Sakura
To : Hyuuga Hinata
Sender : Haruno Sakura
Lo sakit Hin ? Kenapa gak bilang ? Kan bisa gue sembuhin pake rumus-rumus gue.
Sent : Today 07.15 AM
What the...?
Hinata menaikkan satu alisnya. Ia sweatdrop sejenak setelah membaca kalimat terakhir dalam pesan Sakura. Emangnya gue kamus matematika apa ya ? gumamnya pelan. Ingin rasanya Hinata menyemburkan kata-kata sadisnya tentang matematika pada gadis Haruno itu. Sayang, ini hanya pesan singkat, sang pengirim pesan tidak disini a.k.a di sekolah.
Ia mendesah pelan setelah membaca pesan konyol seperti ini. Wajar saja jika maniak matematika itu berkata demikian. Namun, satu hal yang disukainya. Pesan seperti ini membuatnya moodnya kembali baik. Ia tahu jika Sakura mengkhawatirkannya. Lengkungan tipis itu pun mengembang di wajah cantiknya.
Kemudian, ia pun membuka satu inbox lagi yang tersisa. Kali ini ia mendapatkan kejutan. Sahabatnya dan juga Sakura, Ten ten, mengiriminya pesan.
To : Haruno Sakura
Sender : Ten ten
Kata Sakura, lo sakit ? Tumben ? Perlu gue suntik hari ini ?
Sent : Today 07.50 AM
Lagi-lagi Hinata cuma bisa sweatdrop. Mentang-mentang anak PMR, seenak jidat mau nyuntik gue ! rutuknya kesal. Ia mendesah lebih keras kali ini. Si gadis bercepol dua ini sepertinya tak kalah suram dengan gadis pink Haruno itu. Ia semakin heran kepada kedua sahabatnya itu. Sebenarnya mereka itu abnormal atau mereka cuma lagi galau mendadak ? batinnya heran.
Tapi gadis indigo hanya bisa tersenyum sekali lagi. Pesan-pesan singkat itu membuatnya melebarkan lengkungan itu. Kehadiran mereka dalam hidup Hinata merupakan penenang. Jika tak ada mereka dan keluarganya, ia sama sekali tak punya nyali untuk hidup. Terlebih setelah kejadian dua tahun lalu, yang membuatnya membenci laki-laki-selain keluarganya-hingga sekarang.
Sahabat dan keluarga...
Mereka...satu-satunya yang membuatnya memiliki semangat hidup. Merekalah kekuatan bagi Hinata. Ia tak pernah mau mengecewakan mereka. Ia ingin melihat mereka bahagia.
Namun, apakah hanya dengan cara ini saja ia bisa membahagiakan mereka ? Apakah dengan menerima perjodohan ini, semuanya akan bahagia ?
Jika memang benar...
Hinata menatap matahari yang semakin tinggi. Sudah jam 10.00 rupanya. Ia pun bergegas keluar dari kamarnya menuju kamar Ayahnya. Namun, ia mendapati kamar itu kosong. Hinata yakin sang Ayah telah pergi ke kantor sejak tadi.
Ponselnya masih digenggamnya erat. Ia kemudian menatap kembali pada ponsel di tangannya. Satu-satunya cara ialah menghubungi sang Ayah.
Kali ini gadis indigo itu yakin dengan keputusannya.
Tak lama suara dari seberang menjawab.
"Ya Hinata. Ada apa ?"
-o0o-
"Jadi, kamu mau ?" Tanya Hiashi dengan ragu-ragu.
Gadis indigo itu hanya mengangguk pelan. Sementara dua laki-laki, yang tidak lain adalah ayah dan kakaknya sendiri, tengah memandang bingung pada Hinata. Mereka tengah berbicara enam mata di ruang tengah. Beruntung Hanabi belum pulang karena ekskul. Jika tidak, pembicaraan ini tidak akan mungkin berjalan semestinya.
Awalnya mereka mengira setelah perseturuan antara Hinata dan sang Ayah akan membuatnya lebih kesal. Mereka sempat berpikir tentang Hinata yang nekat kabur dari rumah hanya karena tak mau menerima perjodohan ini. Hiashi menyesal telah berpikiran buruk terhadap anaknya sendiri. Padahal ia tahu bahwa Hinata adalah gadis yang baik. Sebenarnya ia pun tak rela untuk melepaskan Hinata untunk orang lain. Namun, apa boleh buat kan ?
Kedua pria di depan Hinata itu pun menghela napas lega. Sebuah senyum tipis bertengger di bibir Hiashi.
"Bagus kalau begitu. Keluarga Uchiha pasti akan senang. Mami-mu di 'sana' juga akan bahagia tentunya." Ujar Hiashi dengan wajah cerah. Hinata lagi-lagi hanya bisa mengangguk. Melihat ayahnya tersenyum seperti itu membuat dirinya pun lega. Anak pasti akan bahagia jika orangtuanya bahagia, bukan ?
"Neji, tolong kau tangani Hinata nanti setelah aku menemui Keluarga Uchiha, mengerti ?" Neji mengangguk tanda mengerti. Sementara Hinata terdiam. Bingung mau bicara apalagi. Mengatakan yang tadi saja sudah susah, gimana mau nanya-nanya soal keluarga Uchiha dan err, perjodohannya ini?
"Ah baiklah, Papi harus kembali ke kantor. Baik-baik di rumah, Hina-chan !" Hiashi mengerlingkan matanya nakal pada Hinata. Sementara yang melihat-Neji dan Hinata- sweatdrop berjamaah. Sepertinya Hiashi orang yang paling berbahagia di sini.
Sepeninggal ayah mereka, Neji kembali memasang wajah dinginnya pertanda ia sedang serius. Hinata yang melihat perubahan mimik wajah kakaknya, menjadi semakin tegang. Jarang sekali kakak laki-lakinya ini terlihat serius di rumah.
"Kakak bangga sama kamu. Kamu mengerti dimana kamu haru menempatkan diri di sini," Ucap Neji dengan nada lembut. "Kakak tahu situasi hatimu. Kamu pasti belom siap. Tapi dengan keberanian kamu memutuskan, itu berarti kamu memiliki niat untuk mencoba sesuatu yang baru." Ujarnya sembari melayangkan senyum di bibirnya. Sementara Hinata masih tetap diam dan melihat takut-takut pada Neji. Entah kenapa, berbicara serius dengan kakaknya ini seperti akan divonis sebagai tersangka pembunuhan di pengadilan. Well, agak berlebihan memang. Tapi itulah yang kini tengah dirasakan oleh si gadis indigo.
Baru beberapa menit kemudian, wajah serius sang kakak berubah menjadi lebih santai. Hinata mengernyitkan dahinya heran dengan tingkah kakaknya yang suka berubah ini. Galau, pikir Hinata. Atau justru dia yang begitu ?
"Tadi kamu denger sendiri kan, Papi mau apa ?" Hinata semakin bingung. Ia hanya menggeleng lemah. Sedangkan Neji dibuat sweatdrop karenanya. "Papi akan menemui keluarga Uchiha, berarti akan ada acara pertemuan antara kau dan calon tunanganmu," jelas Neji yang malah membuat Hinata semakin kebingungan. "Yang jelas, besok kamu siap-siap aja setelah pulang sekolah. Nii-san akan kasih tahu kamu lagi setelah dapat kabar dari Papi." Ujar Neji lagi dengan tenang. Walaupun ia masih dapat melihat mimik wajah Hinata yang menampakkan kebingungan, ia tak akan mengucapkannya dua kali pada gadis itu. Mungkin mager (?)
"Baiklah. Nii mau pergi dulu. Kau tunggu saja di rumah. Hanabi sedang berada di rumah temannya, jadi mungkin dia agak telat," katanya pada Hinata yang kini kembali mengerucutkan bibirnya tanda sebal. Dua hari disuruh menunggu sungguh membuatnya bosan. "Jangan gitu, Nii gak lama kok. Kamu rindu ngeliat kakakmu yang ganteng ini ya?" What the hell...? "tenang aja, Nii janji gak akan lama..." ujarnya sebelum melenggang pergi keluar. Ia mengusap rambut indigo itu dengan pelan, hingga akhirnya Hinata kembali merengut. Kesal karena lagi-lagi sang kakak bertindak semaunya dan entah kenapa kenarsisan Neji malah membuatnya tambal sebal.
"Dasar narsis..." gumam Hinata lemas setelah kepergian sang kakak.
-o0o-
Hari ini Hinata mulai masuk sekolah kembali setelah dua hari meliburkan diri untuk tujuan yang tidak jelas. Wajahnya kembali cerah seperti biasa. Sesekali ia mengembangkan senyum manisnya pada beberapa orang. Mungkin ia rindu sekolah. Berada di sekolah jauh lebih baik daripada harus menunggu di rumah yang sunyi senyap itu. Walaupun beberapa maid masih setia menemaninya.
Entah sejak kapan ayahnya itu menyewa maid, padahal Hinata menolak sama sekali. Tapi, memang dasarnya semua Hyuuga keras kepala, akhirnya Hinata mau tak mau menerima juga.
Sebelumnya ia telah memberitahu Tenten dan Sakura bahwa ia akan masuk hari ini. Dan mereka pun menyambut dengan pertanyaan dan sindiran konyol saat melihat Hinata datang dengan wajah ceria. Alhasil wajah si gadis indigo kembali kusut dan bibirnya mengerucut.
Sepanjang hari ini tidak terlalu buruk untuknya. Ia hanya kesulitan dalam pelajaran kimia dan fisika kali ini. Ia cukup banyak ketinggalan materi. Salahnya sendiri sih, tak mau meminjam catatan pada Sakura kemarin. Lagipula ia memang malas mengerjakan soal IPA. Karena ia lebih suka dengan IPS.
Kini, ia tengah menyalin dari catatan Sakura, karena ternyata Guru Kimia mereka, Yamato-sensei, memberikan banyak tugas untuk akhir minggu. Entah sudah berapa kali helaan nafas yang terdengar dari mulut si gadis indigo. Sementara Sakura dan Tenten membuat presentasi Animalia untuk tugas biologi minggu depan.
"Oi, udah belom presentasinya ? Gue disuruh pulang cepet..." ujar Hinata sembari memasukkan bukunya ke dalam tas setelah, err menyalin dari buku Sakura. Kedua sahabatnya itu pun serempak menoleh dan mengangguk. Tenten kelihatannya memang sudah gak niat di sekolah. Hal itu bisa dibuktikan dengan kecepatannya menutup laptop dan memasukkannya ke dalam tas kecilnya. Para penontonnya langsung sweatdrop berjamaah.
"Ngapain ngeliatin gue ? Gue ganteng ? Emang kok." Dasar boyish girl. Sarap. Edan. Gantengan juga gue. Begitulah komentar-komentar dalam pikiran Hinata dan Sakura yang bagian akhirnya sebenarnya sama saja dengan pernyataan Tenten.
"Ayo, pulang..." ucapan Tenten pun dibalas dengan anggukan serempak dari Hinata dan Sakura.
-o0o-
"Eh, kalo muka gue besok kusut, please jangan protes ya ?" ujar Hinata pada kedua sahabatnya yang kini menoleh disertai dengan tatapan heran ala masing-masing. Mereka tengah berada dalam bus umum yang agak kosong dari penumpang.
Hinata pun kemudian menoleh takut-takut pada Sakura dan Tenten. Merasa terpojok dengan tatapan apa-maksudmu itu, Hinata makin kebingungaan.
"Err, bruthers ?" tanya Hinata pelan.
"Maksud lu apaan sih bilang kusut segala?" Tanya Tenten to the point.
"Kayak mau kiamat aja lu, bru..." sahut Sakura asal.
Hinata makin ciut mendengar pendapat kedua sahabatnya. Bingung mau mengatakan apa karena dia sendiri sedang tak ingin memberitahukan masalahnya.
"Udah cerita aja kenapa sih, gak usah ragu-ragu begitu. Gue tahu ada yang lo sembunyiin kan?" Ujar Sakura mulai melembut. Hinata salah tingkah karena ketahuan menyembunyikan masalahnya.
Pertama, Hinata menghela napas berat. Kemudian ia mulai menatap serius pada Tenten dan Sakura secara bergantian. Yang ditatap hanya bisa meneguk ludahnya sendiri dengan perasaan dag dig dug. Hinata masih diam dan mulai berkeringat dingin. 'Ngomong gak ya ? Aduh...' Pikir Hinata was-was. Semakin diperhatikan Hinata semakin takut dan bingung. Sementara dua temannya itu mulai curiga ketika melihat keringat yang mengalir dari atas kepala Hinata. 'Pasti ada yang disembunyikan !' seru mereka dalam hati secara bersamaan. Seprtinya kali ini Hinata harus mengalah melihat kedua gadis di depannya seperti anjing kelaparan dan Hinata sebagai mangsa yang terpojokkan. Raut wajahnya pun berubah pasrah. Lagi-lagi hembusan napas berat terdengar dari bibirnya.
"Oke, oke. Tapi bisa kan gak melototin gue gitu ?" Tenten dan Sakura pun menurut dan kembali tenang sedia kala (?). Hinata pun memejamkan matanya sebentar. Kemudian bibirnya kembali terbuka untuk menceritakan sesuatu yang pasti akan membuat kedua sahabatnya terkejut.
"Jadi begini, gue..."
-o0o-
Entah mengapa matahari senja kali ini tertutupi oleh awan mendung. Sama seperti perasaan gadis Hyuuga yang kini tengah berjalan lunglai menuju kediamannya yang sudah terlihat. Ia merasa bimbang dengan keputusannya setelah mendapat reaksi dari kedua sahabatnya. Tentu saja mereka mendukung keputusan Hinata itu, namun entah kenapa setelah mendengar ucapan Tenten ia jadi merasa tak tenang.
Flashback On
"Hah ? Lo dijodohin ? Demi apa ?" teriak Tenten dan Sakura bersamaan. Hinata hanya bisa menunduk sembari mengangguk pelan.
"Terus lo terima ?" tanya Tenten yang sudah kembali tenang. Lagi-lagi Hinata mengangguk. Mendapat jawaban seperti itu membuat Tenten hanya bisa menghembuskan napas panjang. Sementara itu Sakura cuma bisa garuk-garuk kepala, bingung.
"Kenapa lo terima ? Bukannya lo gak suka dipaksa begitu ?" tanya Tenten dengan satu alis yang terangkat, heran. Hinata melirik Tenten sebentar. Ia tahu, jika diam ia akan semakin dipaksa untuk menjawab.
"Sebenarnya gue juga gak mau. Tapi kata Neji-nii ini wasiat dari Mami...Jadi ya gue terpaksa setuju..." ujar Hinata hati-hati. Hinata melirik sebentar pada kedua temannya yang sepertinya tak setuju setelah mendengar ceritanya ini. Tapi jika begini, rasanya ia menjadi merasa bersalah karena sudah mengambil kesimpulan bahwa mereka akan setuju dengan keputusannya.
"Apa lo bener-bener mau dijodohin dengan orang yang gak lo suka ?" tanya Sakura dengan nada lembut. Hinata tak menjawab. Dia merasa gusar.
"Kalo lo merasa keputusan itu terpaksa, kenapa gak ditolak ? Orang tua bukan alasan di sini. Gue tahu Mami lo sayang banget sama lo, tapi apa bener lo bahagia dengan keputusan begini ?" ujar Tenten dengan sedikit lembut. Kali ini Hinata merasa terpojokkan. Terlihat ia memegang kursi bus yang ditumpanginya dengan erat. "Kalo lo nerima, statuslo akan berubah menjadi tunangan orang lain yang sebenarnya lo gak suka. Apa itu hidup yang lo mau?" lanjut Tenten dengan penekanan di kalimat terakhir. Hinata kembali menunduk tanpa berani menatap wajah kedua sahabatnya ini.
"Kita gak marah dengan masalah yang baru lo bilang sekarang. Kita cuma mau lo bahagia." Ujar Sakura tenang. Ia mengelus rambut indigo Hinata pelan. "Kita akan dukung kalo itu benar-benar kemauan lo." Lanjutnya sembari menyunggingkan senyum manisnya pada Hinata.
Flashback Off
Hinata menghembuskan napas lagi untuk kesekian kalinya. Indigonya yang menutupi separuh wajahnya dan lavendernya yang terus tertuju ke bawah jalan membuatnya bertabrakan dengan seseorang. Hinata pun refleks terjatuh.
"Heh! Kalo punya mata tuh liat ke depan dong !" protes Hinata marah pada seorang pemuda yang masih berdiri di depannya tanpa membantu Hinata berdiri. Pemuda yang rambutnya mencuat ke atas itu hanya menaikkan satu alisnya, seolah mengejek Hinata.
"Sebenernya siapa yang gak punya mata di sini, hah ?" balas pemuda itu sembari tersenyum sinis.
"Heh, maksudlo ap-!
"Hina-chan~! Kamu sudah pulang ternyata. Dan...tunggu dulu, Sasuke, kenapa kamu di sini, nak ? Apa kamu pulang bersama Hina-chan ? Oh~ baguslah !" suara yang memotong ucapan Hinata itu tidak lain dan tidak bukan adalah Hiashi, sang ayah abnormal (?)
"Papi-"
"Sasuke, kenapa kau terlambat ? Ibu sudah bilang kan supaya gak terlambat, kasihan paman Hiashi menunggumu..." Seorang wanita berjalan mendekati mereka dengan wajah khawatir. Ia sempat menggeleng-gelengkan kepalanya pada laki-laki di depan Hinata.
"Tenang saja, Mikoto. Sasuke baru saja pulang bersama Hina-chan. Ah~ aku jadi senang melihatnya..." ucap Hiashi dengan asal menyimpulkan. Wajahnya bak Kakuzu yang mendapatkan hidayah dari sang Jashin.
"Oh ya ? Benarkah ? Syukurlah, aku tak tahu kalian saling mengenal. Ya ampun, Sasuke. Kenapa tak cerita pada Ibu ?"tanya wanita itu dengan wajah tenang.
"Papi-!"
"Ada ribut-ribut apa ini ? Hei, Hiashi, ini di depan rumahmu, tahu ? Apa kau tak malu, hah ?" Berikutnya seorang pria dengan pakaian formal berjalan mendekati wanita itu dan Hiashi. Ia menggaruk-garuk kepalanya setengah kesal.
"Aku tak peduli Fugaku, yang penting aku sedang senang !"Hiashi kini mulai menari gaje.
"Fugaku, ternyata Sasuke dan Hinata saling kenal. Aku jadi merasa lega sekarang..." Ganti wanita itu menangis terharu dengan lebay. Sesekali ia mengusapnya dengan sapu tangan.
"Papi !" teriak Hinata kesal. Lihat saja mukanya yang semerah tomat.
"Ah ya, ada apa Hina-chan ? Oh iya, kenapa kamu gak cerita sama Papi soal hubungan kamu sama Sasuke sih ? Papi kan jadi kaget~!"Wajah cerah Hiashi belum pudar sedikitpun, walaupun Hinata telah menyiapkan diri untuk meledak-ledak (?).
"Apaan sih, pi ! Aku gak ngerti omongan Papi daritadi ! Terus ini cowok sebenernya siapa ? Terus paman dan bibi ini siapa sih ? Saskey, eh Sasguy, eh tahulah! Dia itu siapa ? Aku gak kenal pi, GAK KENAL !" teriak Hinata marah hingga membuat suasana hening seketika. Hanya terdengar suara 'krik' di antara mereka. Wajah-wajah orang tua di depan Hinata membisu. Atau lebih tepatnya membeku. Sedangkan pemuda di depannya masih bersikap sok cool #dichidori# dengan wajah stoic. Hinata terengah-engah di sela-sela suasana menyuramkan itu. Tentu saja ia marah, karena sang ayah selalu memotong ucapannya dan tak memberikan kesempatan untuk bertanya.
Baru semenit kemudian suasana normal kembali. Wanita yang disebut Mikoto oleh ayahnya itu tengah menyeka keringatnya dengan sapu tangan di tangannya, sedangkan pria di sampingnya, Fugaku, berdeham untuk kembali menjaga wibawanya (?). Sang ayah a.k.a Hiashi Hyuuga mengerucutkan bibirnya takut sembari memainkan kedua telunjuknya takut.
"Anoo...emangnya Hina-chan gak kenal sama Sasuke ?"
"Nggak."
"Terus kenapa bisa pulang bareng ?"
"Siapa yang pulang bareng ? Papi aja asal nyimpulin begitu !" jawab Hinata senewen. Ia menyilangkan kedua tangannya sembari mengalihkan pandanganya. 'Biasanya aja udah abnormal! Sekarang malah tambah parah !' keluh Hinata kesal. Bibirnya sang ayah bergetar, tangisnya hampir saja meledak di depan Hinata jika saja Neji tidak datang tepat pada waktunya.
"Ada apa sih, pi? Kok ribut-ribut di depan gerbang?" tanya Neji mendekati mereka dari dalam rumah. Segera saja Hiashi dengan OOC nya berlari menghambur ke pelukan Neji. Orang-orang yang melihat langsung dari TKP hanya bisa sweatdrop berjamaah. Neji yang dipeluk pun menjadi heran dan segera mengelus-ngelus punggung ayahnya yang sedang menangis tersedu-sedu (?)
"Paman, bibi, sebenernya ada apa ? Kok papi pake acara nangis ?" tanya Neji pada Mikoto dan Fugaku. Hinata masih tetap tak peduli dengan keadaan ayahnya. Sedang Sasuke masih tetap diam dan memeperhatikan detail-detail kejadian yang menurutnya lebay sangat seperti sinetron-sinetron di telepisi.
"Itu...Tadi Hiashi salah kira Hinata mengenal Sasuke dan mereka pulang bersama...Jadi, Hinata sedikit marah tadi, dan Hiashi menjadi seperti yang kamu lihat..." jelas Mikoto hati-hati. Ia tak ingin membuat Hinata tersinggung hingga memperpanjanglebarkan masalah kecil ini.
"Oh begitu. Hinata, coba ke sini sebentar. Nii mau bicara sama kamu sebentar." Ujar Neji setelah melepaskan paksa pelukan sang ayah yang cukup kuat. Dan kali ini Fugaku mendapat kesialan tersendiri, karena menjadi sasaran pelukan Hiashi selanjutnya.
-o0o-
"Hina-chan jeyek, tadi kamu apain sih papi sampe sebegitunya ?" tanya Neji dengan nada agak mengejek. Hinata sendiri hanya bisa duduk sembari menopang dagunya dengan kedua tangannya disertai wajah merengut. Mereka tengah duduk di gazebo milik keluarga Hyuuga di halam belakang. Di depannya Neji masih mengaduk mint tea yang baru di sediakan maid nya tadi.
"Aku dikira jalang bareng sama cowok pantat ayam itu. Ogah amat sama orang sok cool begitu. Lagian aku juga gak kenal siapa itu orang jelek." Neji berhenti mengaduk minumannya setelah mendengar penjelasan Hinata yang masih senewen. Pantat ayam ? Sok cool ? Jelek ? Ya ampun, segitu gak sukanya kah sang adik terhadap calon tunangannya sendiri ? Ya, kali ini Neji bermaksud untuk memberitahu Hinata bahwa cowok yang ia gak suka itu adalah calon tunangannya sendiri. Tapi melihat perubahan sifatnya sekarang, hal itu malah membuat Neji mengurungkan niatnya.
"Err, kamu mau tahu siapa dia ? Hm ?"
"Nggak ah, males banget. Tapi kenapa papi kayaknya kenal banget sama cowok itu ?"
"Itu sama aja dek. Tandanya kamu 'mau tahu'." Neji menggeleng-gelengkan kepalanya kesal. Sementara Hinata hanya bisa diam dan tak membalas, karena tak tahu mau membalas apa.
"Tadi Nii mau ngomong sama aku, emang mau ngomong apa ?" Hinata mencoba kembali ke topik awal. Sebenarnya dia penasaran apa yang ingin dikatakan oleh sang kakak, hanya saja melihat sikon yang tidak menentu membuatnya linglung hingga lupa bertanya.
"Oh itu," Inner Neji mulai kebingungan. 'Bilang gak ya ? Aduh...' keluhnya dalam hati. Namun, sepertinya ia harus mengatakannya pada sang adik karena Hinata sedang bersiap untuk mendeath-glarenya. "Pasangan orangtua yang tadi itu dari keluarga Uchiha, namanya Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto, ya kamu tahu kan, calon tunanganmu itu dari keluarga Uchiha," Hinata mengangguk, ujung-ujungnya pasti masalah TUNANGAN. "Nah, cowok yang kamu bilang, ehem, pantat ayam itu namanya Uchiha Sasuke. Dia itu...calon..."
"Tunanganmu." Sebuah suara berat terdengar tepat di belakang Hinata melanjutkan penjelasan Neji. Neji pun meneguk ludah sendiri. 'Haduh...'
"Oh...Tunangan..."
Eh, sebentar, ada yang tidak beres di sini. Otak Hinata kah yang lemot ? Atau ia hanya salah dengar ?
"Tunangan, benar ?"
"Hm. Tunangan."
WHAATTTTT THE FUUUUUUU******KKKK!
(SENSOR WOY SENSOR !)
"APA LO BILANG TADI ? TUNANGAN ? ELO TUNANGAN GUE ? ARGHHHH!"
Eits, Author keseringan pake caplok. Sorry, guys.
"Arghhhhhh! Gue gak terima !" teriak Hinata histeris dengan OOC-nya. Ia pun berlari ke dalam rumah dengan berlinang air mata. Rasanya ia masih tak terima dengan pernyataan cowok berambut 'pantat ayam' itu. Sungguh ia merasa kesal dan sial hari ini. Entah kenapa ia merasakan kesialan dalam beberapa minggu terakhir. Oh Kami-sama...
Sementara itu, Neji hanya bisa menepuk dahinya. Kesal dengan si 'pantat ayam' yang kini duduk di sampingnya.
"Haduh, Sas, lo tuh bilang-bilang kek kalo mau ke sini. Adek gue sampe jejeritan begitu..." ujar Neji frustasi. Pemuda yang tidak lain dan tidak bukan adalah Uchiha Sasuke itu pun tersenyum sinis.
"Gak perlu ditutupin. Nanti dia juga ngerti." Sasuke berucap dengan tenang sembari menyesap secangkir teh yang dibawanya tadi.
"Ini jadi menarik..." seringai sang bungsu Uchiha pun mengembang, bersamaan dengan angin yang berhembus menemani mereka.
"Terserah kau saja...Uchiha..."
.
.
.
TBC
[1] (chapter 1) Bruther artinya saudara laki-laki #maap author malas dan lupa
Author's nyepik :
Ehm, ehm...tes tes 123...4567- ! #dibakar massa
Wahhhhhh gak nyangka saya dapet review yang lumayan banyak buat newbie kayak saya ini~! Arigatou sangat !
Padahal saya tadinya gak pede sama sekali sama fic abal saya ini. Tapi kata Auriellie-senpai publish aja daripada gak sama sekali ?
Dan maaaaaaf sangat untuk para reader yang telah menunggu ke-hiatusan saya ini. #sujud-sujud. Ini semua gara-gara semua guru gak ikhlas kalo sekolah libur !
Dan saya pun terjebak antara tugas dan kesenangan saya ini~ ditambah lagi kompi tercinta saya yang maha ngeselin, rusak dan tak bernyawa (?)
Oke saya jadi curcol tadi
Balasan review:
Uchihyuu nagisa : Nah alasannya baru muncul di chapie ini. Wah Neji baik ya ? Padahal kukira dia gaje sangat dan OOC sangat. Sasuke muncul di akhir chapie ini. makasih banyak review nya
RikurohiYuki03 : Arigatou nee~ nah saya baru update ini. Silahkan dinikmati
Shaniechan : makasih. Silahkan. Monggo. #plak
Ruinechan: etdah. Ini bruther gue pake acara protes segala. Udah takdir lu kali begitu. Makasih dah, udah ngereview.
Auriellie Evans : Ya owoh. Gak ikhlas amat ama pair gue ? Elo muncul di sini ya bruther~ jadi gak usah protes ! oya, thanks review nya. Semoga lo suka yang menurut lu 'beda' itu.
Hyuuchiha prinka : ahaha. Abis saya bosen Hinata kalem mulu. Kan gak asik #plak. Maap saya baru update, hiks. Makasih udah ngereview !
aam tempe : Wahhhh! Ada kebakaran yak ? tolong! tolong ! #dilempar genteng
Hehehe. Saya jadi malu. Makashi aam udah ngereview. Ini baru dilanjutin.
Uwooo !
Sekali lagi saya minta : Review Review Review !
Arigatou
