Chanyeol selalu yakin jika Jongin menyukainya. Hanya saja ia masih membutuhkan waktu untuk mengerti semua yang Chanyeol lakukan untuknya.
"Aku minta maaf, hyung" Namja manis itu berkata pelan. Seperti bisikan yang terbawa angin.
Suasana atap apartment semakin dingin. Angin di atas gedung seperti ini tak bagus untuk kesehatan mereka.
"Aku akan menunggumu" Timpalnya. Ia mengukung tubuh ramping Jongin diantara tubuh jangkungnya dengan dinding.
Ia memiringkan kepalanya, menatap Jongin penuh arti. Bisakah ia dapatkan ciuman itu? Nyatanya tidak! Jongin memiringkan kepalanya ke arah lain. Seolah menghindari bibir Chanyeol dari bibirnya.
"Maaf" ucapnya. Ia mendorong pelan dada Chanyeol dan berjalan begitu saja. Ia tak bisa seperti ini. Sama sekali tak berniat untuk memberikan sebuah harapan palsu bagi namja tampan itu.
...
( At Caffe)
"Kau mudah sekali untuk ditebak" Kyungsoo berkata perlahan. Ia tersenyum tipis, senyum yang selalu ia berikan untuk pasien-pasien kecilnya.
Chanyeol yang duduk berhadapan dengannya tersenyum. Seoul memasuki musim gugur, dimana cuaca akan terasa dingin sekalipun di siang hari seperti ini.
"Itu karena kaulah yang menilainya" sahutnya. "Kau selalu dengan mudah membaca orang lain seperti buku"
Kyungsoo terdiam. Dia tak tahu darimana ia dapatkan kemampuan itu. Mungkin karena ia orang yang pendiam, dan selalu membaca suasana hati orang lain.
"Tapi cinta sama sekali tak bisa dipaksa, Yeol" Kyungsoo berkata. Ia menggenggam erat kedua tangannya. Ada sesuatu yang membuatnya hendak berkata. Namun tak bisa, maka akan lebih baik ia simpan saja sendiri karena tak ada untungnya ia berbagi.
"Apa kau pernah jatuh cinta? Kau terlalu mencintai duniamu sendiri. Kau bisa membaca pikiran orang lain semudah yang kau inginkan, tapi kau tak bisa mengerti apa itu cinta" Chanyeol menyahut panjang. "Jadi diam saja!"
Kyungsoo tertawa sinis.
Inilah dirinya jika hanya ada ia dan Chanyeol. Tanpa Jongin maupun Haowen. Semua tawa dan senyum seolah dirinya yang lain.
"Kau tak tahu siapa aku seperti aku tahu dirimu. Maka tak pantas kau berkata seperti itu"
.
.
.
Yesung suka kehadiran Haowen di rumah mereka.
Anak itu sama sekali tidak rewel. Dia juga termasuk anak yang pintar dan dewasa. Jaejoong sengaja membawa Haowen mengunjungi keluarga Oh, mengingat bagaimana Yesung melihat cucunya.
Well, Ziyu tinggal di Beijing. Jadi tidak bisa terlalu sering cucu semata wayangnya itu berkunjung.
"Jaejoong noona dimana?" Kyuhyun baru saja turun. Ia mengernyit saat tak melihat kehadiran Jaejoong bersama istrinya.
"Dia akan kencan dengan Yunho" dengan tawa di wajahnya yang cantik.
"Ya ampun" Kyuhyun bergumam pelan.
...
Haowen suka menggambar. Maka dari itu ia selalu terlihat menggoreskan krayonnya di atas buku gambar yang dibelikan mommy-nya saat di Paris.
"Kau siapa?"
Suara husky yang menyapanya membuat bocah 5 tahun itu menoleh. Ia menautkan kedua alisnya saat melihat sosok dewasa bertubuh jangkung menatap datar ke arahnya.
'sangat tidak sopan' pikirnya. Ia jadi malas menanggapi namja itu. Ia lebih fokus menggambar momo, kucing kesayangan mama Kyung di Paris.
"Hey, bocah!"
Haowen menoleh lagi. Mommy tak pernah mengajarinya bicara dengan wajah menyebalkan seperti itu.
"Apa tuan berbicara padaku?" Tanya Haowen, acuh.
Sehun keheranan saat melihat anak kecil berwajah datar seperti itu. Anak siapa ini? batinnya bertanya-tanya.
Haowen tak suka melihat namja itu. Bahkan ia lebih memilih menunggu mom di tempat kerjanya sampai mommynya selesai melatih para talenta.
"Apa ada orang lain selain kau di sini?"
"Aku tidak tahu. Tapi kata mommy saat kita bertanya, kita harus sopan"
Sehun hanya diam. Menarik sekali anak ini. Membuatnya diam-diam tersenyum.
"Apa kau Haowen?"
"Tuan mengenalku?"
Jadi ini anak yang kata orangtuanya mirip dengannya? Dia tampan! Bukan maksud Narsis. Tapi Sehun yakin jika dewasa nanti, kelak Haowen akan menjadi namja tampan yang digandrungi para yeoja.
"Aku Sehun"
Haowen menatap namja dewasa itu. Namanya Sehun, dan saat matanya tak sengaja menatap mata Sehun. Ia seperti merasa rindu pada sosok ayah yang selama ini selalu ia pertanyakan keberadaannya.
"Apa kau sendiri?" Sehun menggelung kemejanya dan duduk di samping Haowen.
"Nenek Yesungie sedang keluar sebentar"
"Dimana ayahku?"
"Kakek Kyu sedang di ruangannya. Tadi kakek sempat menemaniku di sini. Tapi tadi ponselnya berbunyi"
Sehun mengangguk paham. Inilah anak Kim Jongin. Namja yang selalu ia tunggu-tunggu kehadirannya. Mungkin terlalu terlambat baginya untuk menyadari. Dan saat melihat Haowen, Sehun yakin, pasti Jongin telah menemukan laki-laki yang jauh lebih baik dibandingkan dirinya.
"Well, Haowen" ada jeda di kalimatnya.
Haowen menoleh.
"Dimana mommymu?"
"Bekerja" jawabnya. Haowen masih fokus dengan gambarnya.
"Daddymu?"
Haowen terdiam. Tubuhnya menegang hebat saat mendengar Sehun menyebut kata sakral yang selalu sukses membuatnya sedih.
"Hao-"
"Bisakah Tuan tidak menyebut nama itu?" Suaranya terdengar lirih. Matanya yang sempit pun juga siap untuk menangis.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan-"
"Haowen"
Bocah cilik itu mendongak. Itu ibunya bersama nenek Yesung. Jongin membulatkan kedua matanya saat melihat Sehun dan Haowen duduk di sofa yang sama.
"Mommy" Haowen segera merapihkan peralatannya ke dalam tas bergambar mobil miliknya.
"Oh, Jongin...Kau masih ingat Sehun kan?"
Jongin mengangguk pelan. Mana mungkin ia melupakan namja yang telah membuat hatinya seperti gelas pecah?
"Kau ngobrol dulu lah bersama Sehun. Jaejoong akan kembali pukul 7 nanti"
...
* Taman Belakang Keluarga Oh*
"Kau nampak baik-baik saja" Sehun membuka suara.
Jongin mengangguk pelan. Inginnya ia segera pulang ke rumah saja kalau begini caranya.
Tapi ia yakin, Sehun tak akan membiarkan dirinya hidup tentram setelah ini. Apalagi saat ia melihat Haowen. Tersirat kecurigaan di mata elang itu.
"Tapi aku tidak" Dokter 32 tahun itu berkata.
Rasanya tak tahu harus berbuat apa. Kecuali mendengar curahan hati Sehun mengenai hidupnya yang hancur sejak 6 tahun yang lalu. Ia kehilangan separuh jiwanya yang membuat dirinya enggan untuk membuka hati.
Jongin sudah dengar kepergian Baekhyun yang amat tragis. Namun hatinya berkata, jika Sehun benar-benar kehilangan Baekhyun tanpa mau bertanya lebih banyak lagi.
"Semua yang ada sudah benar-benar hilang" kata Sehun.
"Biarkan masa lalu menjadi masa lalu" Jongin menyahut.
Sehun mengulas senyum di wajah tampannya. "Aku akan mencoba"
Jongin balas tersenyum.
"Bagaimana dengan mu?"
"Aku punya Haowen. Jika aku terjebak di masa lalu aku tidak akan bisa membesarkan Haowen seorang diri"
"Itu pasti berat untukmu" kata Sehun. "Dia pasti namja yang brengsek"
Jongin terkekeh pelan.
"Jangan menghinanya seperti itu! Biar bagaimana pun aku pernah mencintainya"
.
.
.
.
"Daddy Yeol?"
Chanyeol menoleh.
"Apa setiap anak terlahir itu punya ayah?"
Namja jangkung itu nampak berpikir. Dia sedang dititipkan mommynya di ruangan Chanyeol. Harusnya ia berlibur, tapi mengingat persaingan di dunia entertainment semakin ketat, ia musti disibukan dengan persiapan debut anggota boyband baru dari agency-nya.
"Itu pasti, Haowen"
Haowen mengangguk paham. Dia tak akan bertanya mengapa ia tak punya ayah. atau dimana ayahnya. Dia sudah besar, bukan seperti Daniel-pasien cilik mama Kyung di Paris.
"Apa kau lapar?"
"Tidak" menggelengkan kepalanya pelan.
"Memang sudah makan?"
Chanyeol menatap sanksi namja cilik itu.
"Mama Kyung membawakan bekal. Daddy Yeol mau?"
Kyungsoo...
Sejak pertemuannya dengan Kyungsoo beberapa hari yang lalu di sebuah Caffe. Chanyeol jadi jarang sekali melihat namja bertubuh mungil itu.
Apalagi terakhir kali bertemu, mereka berakhir sama sekali tak bisa dikatakan baik-baik saja.
Haowen menatap takjub kotak bekalnya. Itu spirng roll. Dan Haowen maupun Jongin sangat suka spring roll buatan mama Kyung.
"Spring roll" Chanyeol membeo.
Haowen mengangguk pelan.
"Mau?"
Chanyeol sangat suka spring roll. Dan hanya Kyungsoo dan keluarga Park sajalah yang tahu.
Ia ambil satu buah spring roll dan menggigit ujungnya. Setelah ia renungkan, kata-katanya kemarin terlalu berlebihan dan mungkin Kyungsoo sakit hati mendengarnya. Mungkin besok ia akan menemui Kyungsoo atau nanti malam saja jika urusannya selesai lebih cepat.
.
.
.
End For This Chapter
.
.
.
A/n :
A : Apa Jongin masih cinta Sehun?
Me: Masih kok..Cuma ada kesalah pahaman aja.
A: Chansoo alert?
Me: Mau disatuin? boleh..gak juga boleh.
A: Haowen udah tau belum Sehun bapaknya?
Me: Cuma perasaan dan praduga alami aja.
A: Chankai alert?
Me: Cuma jadi konflik aja sih.
A:Taeoh kapan muncul?
me: Masih lama*lol
A: update cepat?
Me: Khusus FF ini kayaknya gabisa..agak susah nentuin alurnya
A: Alurnya gaje?
Me: Biarin..Yg penting karya sendiri:P
A: Joy, kependekan ceritanya..
Me: Nulisnya di Doc to Go, Di Bb lagi. Gak banget kan? Maklum belum ada okane buat beli yg baru hahaha..
A: Joy galau aja biar bisa update cepat
Me: Bisa kok haha..aku emang galau selama di Bandung. Aku tinggal sama omaku di Lembang selama mamiku nemenin step daddy-ku pelatihan Air force haha. Jadi aku galau karena di sini gak ada Wifi dan gak ada motor buat cuss ke indomaret beli pulsa, hiksT.T*curcol dikit*lolz
A: Cute Barista sama One day with you kapan di update?
Me: CB sama ODWY itu mau aku hiatusin dulu. gak dpt feel haha
A: Banyakin FF keren lagi ya?
Me: Bisa diatur. Asal direview yaaa*plaked* bercandaaa..Seenggaknya meskipun gak review ninggalin jejak deh yaa. seperti fav atau follow. kalo jadi Siders mah ya...udah males ngasih taunya. aku bukan org yg suka memohon-mohon sama org seperti itu. selama kamu suka ya silahkan dibaca^^
