"Nana-ya, mau tidur sampai kapan heum?" Haeryung menyibak selimut tebal yang membungkus tubuh putranya. Ia tersenyum lalu mengusak lembut surai hitamnya.
"Nana, ayo bangun sayang" wanita itu mengecup pelan pipi Jaemin.
"Eung~" Jaemin menggeliat pelan lalu tertidur lagi. Haeryung hanya menggelengkan kepalanya lalu terkekeh pelan.
"Aku bangunkan saat sarapan sudah siap saja"
Wanita itu keluar dari kamar Jaemin lalu kembali ke dapur untuk melanjutkan acara memasaknya. Kedua anaknya yang lain sudah bangun lebih awal dan sekarang sedang membantu membersihkan taman belakang bersama dengan suaminya.
"Ya! Lee Jeno! Menyapulah dengan benar!"
"Kau ini daritadi marah-marah saja! Kenapa tidak kau saja yang menyapu!"
Haeryung tertawa mendengar percakapan mereka. Tawanya terhenti saat ia merasa seseorang memeluk pinggangnya dengan erat.
"Eomma~"
"Nana sudah bangun?" Haeryung berbalik lalu menangkup pipi anaknya. Mata Jaemin belum sepenuhnya terbuka. Jelas sekali bahwa ia baru saja move on dari kasurnya itu.
"Ayo bantu eomma memasak sarapan. Lebih cepat selesai lebih baik" Jaemin hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Sekitar 20 menit kemudan, mereka semua selesai dengan pekerjaan mereka. Donghae, Mark, Jeno dan Jaemin sudah siap di meja makan sementara Haeryung masih menyiapkan makanan mereka. Donghae tersenyum kecil melihat interaksi kedua anaknya. Matanya lalu melirik Jaemin. Berbeda dengan dua anaknya yang lain, Jaemin hanya diam.
"Waktunya makan! Makan yang banyak ya?"
"Selamat makan semuanya!" Donghae tersenyum lebar lalu memulai acara sarapannya.
Seperti biasa, acara sarapan saat weekend tidak pernah terasa sepi. Kedua pemuda Lee itu tidak pernah berhenti membuat keributan. Mulai dari hal kecil seperti sarang semut hingga hal besar seperti pekerjaan idaman mereka.
"Suatu saat nanti aku pasti menjadi rapper dan composer yang terkenal!"
"Jangan mimpi! Melakukan rapp saja kau tidak bisa!"
"Lee Jeno! Kau meremehkanku?"
"Aku tidak meremehkanmu. Aku hanya berbicara fak– yak hyung! Lepaskan tanganmu! Aku tidak bisa bernafas bodoh!"
"Yang sopan pada hyungmu, Lee" Mark mengencangkan pitingannya dileher Jeno.
"Aku selesai"
Semuanya menoleh ke sumber suara. Siapa lagi kalau bukan Jaemin? Jaemin membawa piringnya ke bak cucian piring lalu membersihkannya. Sesaat, Donghae tersenyum. Ia berpikir betapa hebatnya Na Haeryung bisa membesarkan Jaemin menjadi pemuda yang sangat mandiri seperti ini. Tidak seperti kedua puteranya yang terkesan manja.
Namun senyumnya mendadak luntur saat melihat wajah murung istrinya.
"Ada apa denganmu?"
"Maaf atas sikap Jaemin.. aku malu sekali" Haeryung menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti" Donghae tersenyum tipis.
Hari sudah siang sementara Jaemin masih betah duduk di balkon kamarnya. Bulan telah memasuki muism semi dan udara cukup dingin namun tidak membuat pemuda itu beranjak dari posisinya. Pemuda itu tetap duduk di ayunan sambil membaca novel kesukaannya, I Will Always Love You. Novel yang bercerita tentang perjuangan seorang ayah untuk menyembuhkan leukemia yang diderita anaknya.
Ia sudah sampai pada bab terakhir, dimana sang ayah hampir mati karena mengidap penyakit kanker hati dan si anak yang akhirnya tinggal bersama ibu dan ayah tirinya karena sebuah perjanjian yang ayah dan ibunya buat.
Air matanya menetes. Ingatan tentang ayahnya beberapa tahun lalu kembali menghantuinya.
Ayahnya rela berkorban demi dirinya. Ayahnya rela menyerahkan kehidupannya demi dirinya. Ayahnya rela mati demi dirinya.
Sudah cukup.
Jaemin menghapus air matanya dengan kasar lalu menutup bukunya. Udara mulai dingin dan ia harus masuk sekarang juga jika tidak ingin sakit. Ia mengunci pintu balkonnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Air matanya keluar lagi.
Sejujurnya, ia sendiri bingung. Apa yang terjadi padanya? Kenapa ia sangat membenci keluarga barunya? Tuan Lee sangat baik. Begitupun dengan kedua anaknya –yang sekarang menjadi hyungnya. Mereka tidak pernah mengganggunya. Mereka tidak pernah melakukan hal buruk padanya.
Tapi kenapa?
Tuan Lee juga terlihat sangat menyayangi ibunya. Bukankah seharusnya ia merasa senang? Ada seseorang yang bisa menyayangi ibunya persis seperti mendiang ayahnya. Ibunya terlihat bahagia. Ibunya tidak pernah menangis seperti beberapa tahun lalu saat ayahnya meninggal.
Seharusnya ia senang kan?
"Jaem?" Jaemin buru-buru menghapus air matanya saat mendengar suara Jeno yang memanggilnya.
"Kau kenapa?" Jeno melangkahkan kakinya mendekati Jaemin dan duduk di pinggiran kasur.
"Aku tidak apa-apa" jawabnya singkat. Jaemin buru-buru berdiri namun Jeno menahannya.
"Jaem, katakan apa salah kami padamu hingga kau sangat membenci kami"
"Aku tidak membenci kalian"
"Eomma seringkali menangis melihat sikapmu yang seperti ini"
Jaemin mematung di tempat.
"Jaem, kau boleh membenci kami. Tapi setidaknya bersikap baiklah pada kami saat berada di depan eomma. Jujur saja, aku sudah menganggap eomma seperti ibu kandungku sendiri. Dan kau tau? hatiku sakit saat melihat eomma menangis karenamu" Jeno melangkah keluar dari kamar Jaemin.
"Dan jangan lupa menghapus air matamu. Karena jujur saja, itu sangat memuakkan"
Sejak percakapan diantara Jeno dan Jaemin beberapa hari yang lalu, keluarga mereka berubah drastis. Jaemin mulai sering berbicara dan tersenyum pada keluarga barunya. Ia tidak lagi bersikap dingin kepada keluarga barunya. Ia juga mulai ikut bercanda bersama Mark dan Jeno.
Tapi tentu saja.
Semua itu hanya sandiwara.
Sandiwara yang ia buat agar ibunya tidak menghawatirkan sikapnya lagi. Beruntung sekolah mereka berbeda jadi Jaemin tidak perlu repot-repot untuk bersandiwara juga di sekolah.
Jaemin turun dari bus dan berlari menuju sekolahnya. Sesampainya di kelas, ia langsung menundukkan dirinya di bangku paling belakang. Bukan tanpa alasan Jaemin memilih untuk duduk di belakang. Jaemin benci diganggu. Oleh karena itu ia memilih bangku di paling pojok dan paling belakang pula.
"Nana-ya!" Jaemin mendongak lalu menemukan Haechan telah duduk di hadapannya.
"Ada apa?"
"Sudah mengerjakan pr matematika belum?" tanpa diminta, Jaemin langsung mengeluarkan buku tugasnya lalu memberikannya pada Haechan.
"Nana yang terbaik! Aku mencintaimu!"
"Menjijikkan. Besok-besok kau harus lebih rajin lagi"
Haechan hanya mencibir lalu fokus menyalin pr matematika milik Jaemin. Jaemin tersenyum tipis. Ia lalu meletakkan kepalanya di meja. Ia memperhatikan pemuda di sebelahnya dengan seksama. Ya, temannya itu tidak pernah berubah. Haechan tetaplah menjadi Haechan yang ceria dan menyenangkan. Yah walaupun sedikit bar-bar. Haechan juga memiliki teman yang bisa dibilang banyak. Dan yah.. Jaemin akui. Ia iri pada Haechan.
"Haechan-ah"
"Apa?"
"Apa yang membuatku seperti ini?"
"Maksudmu?"
"Mereka tidak jahat. Mereka bahkan selalu bersikap baik" Haechan meletakkan pulpennya lalu menaruh seluruh atensinya pada Jaemin. Ia mengerti kemara arah pembicaraan Jaemin sekarang.
"Kenapa aku tidak bisa dengan mudah menerima mereka?"
Haechan tersenyum lalu menepuk bahu sahabatnya itu.
"Jaem, tidak ada yang salah denganmu. Kau hanya butuh lebih banyak waktu"
"Waktu?"
"Hm. Hanya waktu yang bisa membantumu menerima mereka semua"
"Kau yakin?"
"Jaem, percayalah. Aku juga dulu sangat susah menerima Miyoung eomma. Aku bahkan lebih parah darimu Jaem. Tapi kemudian aku sadar, Miyoung eomma adalah sumber kebahagiaan ayahku yang baru dan sebisa mungkin aku harus menerimanya"
'hmm.. waktu ya?'
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC '-'
Hai~~ gak nyangka aku ada yang follow dan fav fict abal abal ini :')) makasih banget buat kalian yang udah follow fav dan review ^^ maafin aku telat banget updatenya:( guru aku ngasih tugas asdfghjkl banget dan minggu depan aku ujian nasional ;-; maaf kalo updatean kali ini mengecewakan ;-;
Dan… tolong tinggalkan jejak lagi. Jejak kalian penyemangatku buat ngelanjutin ff abal ini/? Hehehe '-'
Ohiya.. AKU GAK NYANGKA ADAIceu Doger DAN Nishabacon627 DI KOLOM REVIEW ;-; AKU FANS KALIAN KAKAK KAKAK ;-;
MAMAAA YUMI DINOTICE BIAS ;-; /slap
~Balasan Review~
fangirlmodalkuotawifi'v udah dilanjut nihhh hehehe... hayooo markmin atau nomin ya? aku sendiri bingung ;-; markmin sama nomin sama sama greget ;-;
seolhanna97 aaa terimakasihhh ^^ sudah dilanjut yaa.. maaf mengecewakan :(
exohye yaa begitulah hehehe gimana ya nanti? btw makasih yaaa dan maaf kalau updatean kali ini mengecewakan :(
