Lui ingin menunggangi pesawat kertas karena sederhana.

Dahulu, Lui kecil berpikir apakah ia bisa membuat pesawat dari koran-koran yang diselotip menjadi satu, membawanya ke tanah lapang, mengajak teman-temannya membantu melipat. Ia akan membuat pesawat kertas raksasa. Lui akan duduk di atasnya, menanti angin sepoi. Kalau angin sepoi tidak kuasa, bolehlah badai datang padanya. Esok, Lui aka nada di suatu negara. Lalu ia akan membuat pesawat kertas lagi, berpindah negara lagi.

"Taito-kun akan ikut bersama Lui, 'kan?"

Taito selalu bilang, ia yang akan membawa Lui ke angkasa. Bukan pesawat kertas raksasa. Taito bilang ia akan membuat sayap buatan, memasangnya pada punggung Lui. Mereka akan pergi ke bukit pada malam hari sehingga tiada yang mengetahui. Mereka akan terbang mengitari kota, melihat bagaimana rumah dan gedung-gedung menjelma menjadi titik-titik kirana.

Lui tumbuh dewasa dan menerjemahkan kata-kata Taito di masa lalu dalam bentuk rasional, dan ia percaya.


Kau bilang, bukan awan yang akan memeluk

Dengan angin lelapku akan takluk

Pawana adalah senandung nan membuai

Mendekapku dari ngarai

Ikrarmu di atas bayu

Tiada retorika yang mendayu,

dan aku tahu.

Sahasra kata bukan caramu

Tanganmu adalah juang,

napasmu menjadi belerang.

Tapi suatu hari, pasti

Kita akan menjelma kunang-kunang.