Home
.
Gintama milik Hideaki Sorachi-sensei
Warning's: OOC, Typo's, dll
.
Hijikata menyarungkan pedangnya setelah menyingkirkan beberapa anak buah dari pemimpin penjualan perdagangan gelap senjata lewat darat. Ia menghirup udara di atas kapal yang di penuhi dengan asap rokok miliknya. Bau laut yang khas memenuhi paru-parunya. Sougo sialan. Sekarang ia terpaksa untuk melakukan tugas bawahannya karena sampai sekarang ia belum juga terbangun. Terkadang Hijikata sedikit ragu apakah Sougo berpura-pura tidur agar bisa melewati tugasnya selama berhari hari. Tetapi bagaimanapun ia berusaha untuk membangunkan bawahannya, ia tidak akan terbangun.
Curang...
Kalau seperti ini, ia sama saja dengan Mitsuba yang selalu tertidur. Ia juga ingin pergi dari sini dan tertidur dalam waktu yang lama. Ia tidak sudi untuk berperang sendirian di sini dan bermandikan darah. Kenapa harus ia yang selalu mengalah?. Sesekali ia ingin curang dan bergantung pada seseorang, seperti Kondou-san. Hijikata lalu menghela nafasnya.
" Mau bagaimana lagi, anak seperti itu tidak bisa diandalkan..."
Hijikata mengayunkan pedangnya dan membersihkan besi itu dari darah. Sedikit tergesa-gesa, sang Fukuchou menyusuri jalannya yang tidak terlihat. Dari sudut matanya ia bisa melihat Kondou-san sedang memimpin pergerakan Shinsengumi ke laut lepas. Ia harus segera ikut.
.
.
.
" Aneue! Hentikan, ku mohon!"
Sougo menahan serangan Mitsuba. Ia bisa merasakan serangan ini dengan sangat jelas. Lemah, tetapi sangat jelas mempunyai niat untuk menghancurkannya. Ia tidak bisa menyerang Mitsuba. Ia tidak ingin melihat wajah Mitsuba yang kesakitan. Tetapi ini tidak akan pernah selesai.
" Lawan aku! Hilangkan ingatanku di dalam kepalamu!"
Sougo menggeleng. Air matanya jatuh, mengalir bersamaan darahnya yang tinggal sedikit untuk membuatnya tetap bertahan hidup. Ia lalu melangkah mundur perlahan. Apa yang ia akan pilih?. Akankah ia harus melupakan Shinsengumi dan terpaksa menyerah?. Sougo tersenyum kecil. Ini bukan dirinya lagi. Dirinya yang dulu akan mengutamakan jiwanya di atas segalanya. Yappari, hanya aneue yang bisa membuatku seperti ini.
Ia tidak akan bisa mengerti apa maksud dari kakaknya dengan menyerang adiknya sendiri, seperti saat ia tidak melawan ketika kakaknya melawan dirinya seperti ini. Sekali pun, ia tidak pernah bertentangan dengan keinginan kakaknya walaupun itu adalah keegoisan kakaknya yang paling sulit ia penuhi. Kata-kata kakaknya yang penuh dengan bahasa halus kepadanya dan suara lembut membuat Sougo tidak tega untuk melawan kakaknya. Sougo sedikit gemetaran menahan kesedihan yang berlarut dalam dirinya dan menyisakan rasa pahit di lidah. Mungkin ia benar-benar harus mati, seperti keinginan kakaknya yang ini.
TRAANG!
Mitsuba menjadi semakin kuat, seiring dengan ingatan Sougo yang berputar kepada ingatan nya bersama kakaknya. Bukan belaian lembut yang ia terima saat ini. Tetapi pukulan dengan pedang tanpa henti, refleksi dari dirinya yang berusaha menghilangkan rasa sedih dari kehilangan Mitsuba. Refleksi. Sougo melebarkan matanya. Aah. Sougo melebarkan matanya. Mimpi ini hanya sebuah cermin besar yang menggambarkan frustasi selama bertahun-tahun yang ia simpan.
Frustasi yang memiliki kekuatan yang cukup untuk membangun mimpi dan menyadarkannya agar lepas dari masa lalu.
" AAAAAAH!"
JRAAAASH!
Sougo menebas sosok di depannya. Mitsuba, kakaknya lenyap. Tersenyum dengan rasa sakit, Sougo melihat bangunan di sekelilingnya runtuh. Ia kembali sendirian. Tetapi tidak apa, ini keputusan yang ia ambil. Ia tidak akan menoleh lagi ke belakang, karena itu akan lebih membahagiakan kakaknya ketika Mitsuba tahu Sougo sudah tidak ragu lagi mengambil langkah ke depan.
.
.
.
Kondou beserta anggota Shinsengumi yang lain menapakkan kaki mereka di lantai kayu markas. Hijikata berjalan mendahului Kondou, meninggalkan Kondou yang sedikit bingung. Suara kaki yang sedikit berlari itu memenuhi lorong, membawa Hijikata ke kamar Sougo. Fukuchou itu mengintip dari pintu kamar Sougo yang sedikit terbuka. Punggung anak itu masih terbaring di atas futon, terdiam tanpa ada niatan untuk bergerak. Hari ini pun ia masih belum terbangun. Dengan sedikit berat hati, Hijikata pergi tanpa mengatakan apapun.
" Ada urusan apa, Hijikata-san?" tanya Sougo. Langkah kaki Hijikata terhenti. Ia sangat bingung, seluruh emosi dalam hatinya bercampur aduk dan ia tidak bisa membalas perkataan Sougo. Entah harus senang atau marah. Ia menggertakkan giginya.
" K-"
" Aku senang kau sudah pulang," Hijikata terdiam. Kupingnya terasa tidak berfungsi untuk sementara. Sougo tidak mungkin mengatakan hal itu. ia tidak akan percaya dan ingin tertawa sambil mengecek tanggal puntuk memastikan hari ini adalah tanggal 1 April. Tidak mungkin.
" Sougo... Kau..."
Sougo membalikkan tubuhnya. Ia tersenyum. Pipi Hijikata menghangat, ia merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sambutan hangat dari Sougo saat ia pulang.
" Okaeri."
.
END
.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA FANFIC INI, MINNA-SAMAA!
Aku agak bingung untuk meneruskan fanfic ini, dan begini lah akhirnya.
Tolong tinggalkan Review, Kritikan dan Sarannya, minna!
