.
Naruto pemuda tampan nan menyenangkan bertemu dengan wanita yang cantik, anggun, pendiam. Berbanding terbalik dengan kepribadiannya. Ia ingin memilikinya, tapi setelah mengetahui segudang rahasia kelam yang wanita itu miliki, akan kah Naruto bertahan?
.
.
.
"Lavender Flower"
.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
.
Story © Hyuugadevit-Cherry
.
pairing: Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga
.
AU, OOC, Plot rush, Gaje, Typo(s), badfic, lebay, mainstream, etc.
.
If You don't like don't ever try to read
.
Enjoy Okay' ^_^
.
.
.
Ketika Naruto melangkahkan kakinya dengan sedikit loncat-loncat, ia merasakan seseorang menarik ranselnya, membuat pemuda Uzumaki itu hampir terjatuh ke belakang.
"Oyyy..." Teriaknya karena kaget.
Ia berbalik dan mendapati pemuda tampan lengkap dengan wajah datarnya, helaian raven itu tetap seperti biasa dan tinggi nya hampir sama dengan Naruto. Di samping pemuda itu ada seorang gadis dengan helaian merah muda, bertubuh sedang dengan tinggi yang dapat dikatakan pendek namun wajahnya sangat lucu.
Siapa mereka? Tentu saja Sasuke Uchiha dan Sakura Akasuna; sepasang kekasih terfenomenal di UK ini sekaligus sahabat terbaiknya.
"Dobe, ada apa?"
"Sasuke-kun, sepertinya ia tengah bahagia. Lihatlah.. ia tersenyum menggelikan" ucap Sakura sambil terkikik geli.
"Aku melihat jelmaan Dewi Yunani Teme" ujar Naruto menggebu pada Sasuke. Kemudian ia melihat ke arah Sakura "Demi Tuhan, dia sangat cantik yang luar biasa, Sakura"
"Oh ya?" Tanya gadis dengan helaian merah muda itu.
"Cantik sekali, tapi ia sedikit... Sedikit apa ya? Murung mungkin"
"Lihatlah ia bahkan tidak yakin" kini Sasuke bersuara dengan suara baritonenya yang bernada mengejek.
"Ini benar adanya Teme..."
"Tapi, apa benar kau pernah melihat Dewi Yunani?" Tanya Sakura dengan wajah polosnya.
"Y-ya tidak juga sih, ini kan hanya perumpamaan Sakura Hehehe..." Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tapi jika bidadari aku pernah melihat" celetuk Sasuke sambil melangkah meninggalkan dua orang itu.
"Heh? Benarkah?" Tanya Naruto penasaran. Sakura lebih penasaran.
"Hn"
"Dimana? dimana?" Tanya Sakura yang langsung berdiri di hadapan kekasihnya dengan wajah penasarannya.
"Di hadapanku" jawab Sasuke sambil menyeringai.
"Kyaaa~" Sakura menjerit bahagia dan langsung menggandeng tangan kekasihnya itu. Sasuke sendiri langsung mengacak-acak rambut kekasihnya.
Sedang Naruto hanya menjadi penonton. "Kalian kembali mengabaikan ku... Lihat saja nanti kalau aku sudah punya pacar pasti kalian akan iri padaku"
Akhirnya mereka bertiga pun berjalan menuju kelas mereka.
.
.
.
Seperti kebiasaannya hari ini Naruto datang sedikit terlambat. Ia buru-buru menaiki tangga dengan kecepatan semaksimal mungkin. Padahal lantai yang ia tuju adalah lantai tiga. Lift yang hendak ia gunakan sedang dalam perbaikan.
"Sialan! Jika bukan karena mata kuliah si Prof. Orochimaru... Mana mau aku seperti ini" umpatnya sambil terengah.
Sesampainya di lantai tiga Naruto segera melesat ke arah ruangan C01; ruangan untuk mata kuliah metodologi penelitian. Mata kuliah wajib yang harus diambil setiap mahasiswa-mahasiswi.
Dapat pemuda Uzumaki lihat bahwa anggota di kelasnya belum lengkap semua dan kegiatan belajar mengajar pun belum dimulai. Sedikit banyak ia bersyukur karena ternyata ia tidak terlambat.
Karena bisa gawat jika ia telat masuk mata Kuliah yang satu ini. Prof. Orochimaru itu terkenal dengan istilah 'kau bertingkah, dosen bertindak' atau entah apa itu. Naruto terlalu lelah.
Dengan langkah santainya ia memasuki kelas. Mata biru lautnya menelusuri setiap bangku yang dikiranya cocok untuk di dudukinya. Pokoknya ia harus memilih tempat yang strategis.
Para gadis memulai acara berdandan mereka, bermaksud mencari perhatiannya. Dan Naruto hanya memberikan seulas senyum yang mampu membuat para gadis itu terus merona.
Dilangkahnya yang santai, ia melihat tempat yang sangat menarik minatnya.
Bukan. Bukan bangku sebenarnya yang menarik. Namun seseorang yang duduk di sebelah bangku kosong pojok itu yang menarik perhatiannya.
Pemuda Uzumaki itu melangkahkan kakinya menuju bangku dan duduk dengan tenang.
Awalnya sih memang tenang, tapi selanjutnya- Naruto memulai sesi wawancaranya.
"Hai, kita bertemu lagi" bisik Naruto pada si tetangga duduknya.
Wanita itu terjengit-
"K-kau!" Ucapnya terbata sekaligus kaget. "Me-menjauh, ja-jaga jarak!" Tambahnya.
"Oh Okey!" Naruto memundurkan kepalanya. Pemuda ini berkata sangat santai tak lupa cengiran khasnya.
"Jadi Hinata... Aku tidak tahu bahwa kita akan bertemu kembali, satu kelas pula" ujarnya dengan senyum yang lebar.
- ya, wanita itu adalah Hinata. Wanita yang Naruto tabrak tempo hari.
"Huh, aku tak menyangka kita sama-sama semester lima. Bahagia sekali!"
Entah kenapa mendengar celotehan pemuda di sampingnya ini membuat Hinata tersenyum tipis. Sungguh, selama ini tidak pernah ada yang mau dekat-dekat dengannya. Terutama orang-orang yang mengetahui siapa dia sebenarnya.
Tak lama prof. Orochimaru memasuki ruang C01 dan memulai acara perkuliahan. Semua mahasiswa-mahasiswi kali ini tidak dapat berkutik lagi. Tidak sedikitpun. Semuanya harus fokus dimata kuliah dosen yang satu ini.
Namun, sebelum benar-benar dimulai perkuliahan tersebut, Naruto berbisik-
"Pokoknya nanti setelah acara perkuliahan ini selesai, kau harus mau makan denganku!"
Hinata menghadapkan wajahnya pada Naruto, sedikit mengangguk dan itu membuat senyum Naruto bertambah lebar.
.
.
.
"Jadi sebenarnya kau berada di departemen yang sama denganku?" Tanya Naruto to the point.
Pasalnya ia sudah sangat penasaran dengan wanita bernama Hinata Hyuuga ini. Wajahnya yang anggun, cantik, menawan, pendiam, senyum yang tipis dan menghanyutkan, serta segala sesuatu yang ada pada wanita itu telah membuatnya penasaran.
"Seperti itulah" jawabnya singkat.
Namun ada yang beda kali ini. Ada senyum tipis yang terukir di wajahnya meski Naruto menangkap sekilas kedukaan dalam senyum tipis itu.
"Ahaha tak kusangka Tuhan begitu baik mempertemukan aku dengan wanita secantik kamu" kata Naruto sambil menyeruput minumannya "aku begitu beruntung"
"Beruntung?"
"Ya, beruntung"
"Mungkin saja tidak" balas Hinata kaku "karena- apa yang diharapkan kadang kala tidak sesuai dengan apa yang terjadi"
Hinata mengatakannya sambil melihat ke arah jendela. Iris lavender polos itu menerawang jauh. Entah apa yang wanita ini pikirkan. Berbagai hal terlintas dan itu terlihat jelas di iris biru Naruto.
Ada yang ia lewatkan. Daerah mata wanita itu terlihat lembab. Kesedihan ada di sana.
"Hey, kau begitu lagi... Selalu berpikir negatif" Naruto menggerakkan tangannya membentuk tanda kutip.
Perlahan, Wanita itu kini mengalihkan perhatiannya pada pemuda Uzumaki ini.
"Baiklah, aku tidak akan seperti itu lagi" Hinata tersenyum tipis dan ia mulai memakan makanan pesanannya. Naruto pun begitu, ia lekas memakan ramennya.
Ditengah acara makan, Naruto kembali membuka pembicaraan.
"Jadi- di mana kau tinggal?"
"Aku asli penduduk Konoha, hanya saja orang tua ku saat itu pindah ke Sunagakure. Dan mereka menetap di sana. Sedang aku di sini saja untuk sekolah"
"Begitu, bagaimana dengan umur? Kau pasti masih sangat muda bukan?"
"Kau salah" Hinata tersenyum lembut. Ia merasakan seluruh tubuhnya terasa rileks ketika bersama pemuda ini. Tidak seperti biasanya.
"Maksudmu?"
"Biar ku tebak, umur mu pasti 22 tahun"
"Ahh, kau benar" Naruto balas tersenyum ketika mata lavender itu menatapnya serta senyum itu yang kini selalu menghiasi wajah Hinata.
"Tapi kau salah jika menebak aku berumur sama atau bahkan lebih muda dari mu. Aku lebih tua dua tahun darimu Naruto-kun"
Sesuatu terasa menghangat. Hati Naruto menghangat ketika Hinata memanggilnya dengan sufix 'kun'. Tapi ia langsung menyampingkan perasaan itu terlebih dahulu.
"Jadi kau berumur 24 tahun?"
Hinata mengangguk mantap. Ia meminum just mangga yang ia pesan dan menatap lurus ke arah Naruto.
"Kenapa kau satu angkatan denganku? Maksudku apa alasan mu menunda sekolahmu?"
Seketika itu wajah Hinata yang terlihat rileks dan tenang berubah menjadi tegang. Wajahnya yang putih bersih bak porselen itu memucat.
Naruto rasa, ia telah salah berbicara. Mungkin saja wanita ini menundanya karena suatu alasan yang tak ingin ia bahas. Sesuatu yang membuatnya gugup sekaligus gelisah disaat yang bersamaan hingga harus menunda sekolahnya.
Belum Naruto meminta maaf, Hinata berdiri dan dengan buru-buru gadis itu pergi meninggalkan pemuda Uzumaki ini dalam keadaan merasa bersalah yang teramat dalam.
"Ya Tuhan, aku pasti salah berbicara" ucapnya sambil mengusap wajahnya kasar.
.
.
.
.
.
-TBC-
A/N:
Update chapter 2.., Misteri masih di sembunyikan dhe-chan wkwk XD Maaf untuk typo dan terimakasih untuk dukungan, R&R, etc.
See u next chapter minna-san ^_^
Special thanks ^_^
Diandra 510, Magendrik, Vi2NHL, Baenah231, Putera, Mintje, Anonim Guest
Mind to reviews?
