With Arms Wide Open
Naruto © Masashi Kishimoto
Fic by EJC
Pair: One-sided KibaNaruko; SasukeNaruko
Warning: Chapter ini mengandung sedikit unsur Gore. Sedikit kok. And, Angsty in the air.
Sepasang mata yang selama ini terus kuhindari dan kusingkirkan jauh-jauh dari benak. Kini menyambutku dengan tatapan penuh akan antusias. Tatapan yang biasa diberikannya kepadaku dulu.
"Hei, Kiba. Main, 'yuk!"
Ia terlilit gaun malam dengan ikatan yang masih terlilit kencang di pinggang, dan rambutnya yang kembali dikuncir seperti biasa. Dengan usianya yang sudah menginjak 21, model rambut seperti itu memberikan kesan imut namun elegan pada rupanya yang begitu mempesona.
Tiga garis cakaran – tanda lahirnya pada kedua pipi masih bisa terus membuatku tersenyum walau pahit. Wajahnya menyala dalam gelap, bibirnya memberikan pesona anggun dan mewah.
Seperti inilah perbedaan kami. Seorang hokage dan ninja biasa. Tapi, ya. Itu mungkin bukan masalah lagi sekarang. Sudah bukan masalah lagi bagiku. Aku sudah tidak akan pernah meraih gelar itu lagi. Tidak hanya kehilangan rivalitas, aku juga akan segera kehilangannya.
Aku berusaha tersenyum selebar mungkin, meski mataku terasa sedikit berair. Baru kali ini aku berterima kasih pada Kami-sama karena dibuat membelakangi bulan. Begitu kontras dengan wajahnya yang penuh akan kecemerlangan bulan, dan briliannya cahaya mistik itu bersinar. "Apa yang kau lakukan," Ya, aku tersenyum. "Nanti adalah hari yang besar olehmu, Naru."
Aku menyadari ia yang terkejut. Mungkin dia mengira akan menerima omelan atau penolakan dariku, tapi aku tidak tahu. Dia kelihatan senang selagi dibuat bingung oleh sikapku. Dia menghela napas panjang, dan nampak jauh lebih lega dan lepas. Kepitan tangannya didepan paha sedikit melonggar.
"Aku menunggumu, bodoh. Kau tidak dengar, ya?"
Ia tersenyum. Oh, aku ingin memeluknya sekarang juga. Wajahnya telah bersih dari make-up yang berlebihan dan aku suka. Aku sangat suka. Tidak seperti wajah tadi pagi yang terlalu tebal membuatnya seperti badut kota dan menjadi bahan pujaan orang.
Aku… Aku tidak ingin ada orang lain yang memujanya selain diriku.
Benar, aku ingin menculiknya dan membawanya jauh-jauh dari desa ini. Aku ingin memilikinya. Aku menginginkannya sekarang juga dan untuk selamanya.
"Untuk apa pula kau menungguku? Aku bahkan tidak menunggumu sama sekali."
Jelek sekali gayamu berdusta, Kiba—pikirku didalam hati. Setiap hari kau selalu menunggu Naru; tiap pagi kau berharap bersua dengannya; tiap malam sebelum tidur kau berdoa untuk bertemu kembali dengannya didalam mimpi.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu.
Apa itu salah—mengunjungi sahabat dan semacamnya?"
"Tapi tidak dihari ketika kau akan menikah."
Ia menghela napasnya dan mengambilkan sesuatu dari balik pohon. "Ini,"
Ia lalu melemparkan padaku satu stik kayu. Tak ada yang khusus dari potongan kayu murahan ini. Walau bentuknya terasah dengan baik dan mulus, aku tidak mengerti. Untuk apa ini? Namun aku merasa pernah melihatnya entah disuatu tempat. "Aku tahu. Kau pasti lupa. Tapi aku selalu ingat.
Ini adalah pedang legendaris hokage pertama dan kedua—punyaku milik shodaime dan milikmu adalah pedang khusus milik nidaime."
Oh, benar. Untuk sepersekian detik aku dipaksa kembali untuk memutar ingatan yang sedikitnya terkunci cukup jauh di dalam brankas memoriku. Aku mencoba untuk tersenyum hanya karena gadis ini adalah 'dia'. "Aku hanya tidak mengerti untuk apa kau membawa-bawa ini."
"Aku akan menikah. Barusan kau mengatakannya, 'kan?"
Tentu saja. Sebentar lagi. Sebentar lagi—hanya dalam hitungan jam pada jari. "Begitu rupanya…
Kau ingin bermain denganku untuk terakhir kalinya? Baiklah, kau dapat yang kau inginkan." Aku tersenyum panjang, berpura-pura tak terjadi masalah dan pergulatan sedikitpun di dalam hatinku.
"Sini maju, shodaime!"
Semburatku naik ke permukaan, ketika melihat Naruko yang mencibir kearahku. "Bukan, bodoh. Dasar Kiba bodoh. Aku hanya ingin mengingat masa-masa itu lagi." Ia menarik lenganku untuk duduk disebelahnya. Kini wajah kami berdua telah mengarah ke arah bulan yang bersinar cerah di atas sana.
Tak ada raut yang disembunyikan. Bulan menelanjangiku. "Sudah lama sekali, ya?"
Tentu saja. Suaramu yang terdengar begitu jelas di telingaku juga terasa begitu kuno dan lama. Seperti sudah puluhan tahun aku tidak duduk berdua saja denganmu. Baik itu sedang bermain, atau sedang kelelahan karena bermain.
…Saat itu memang menyenangkan, dan sepertinya tidak hanya bagi diriku saja. Kau juga berpikir sama denganku, bukan begitu?
"…Kau menjadi seseorang yang sangat hebat, Naru." Aku merunduk dan memperhatikan pedang (batang kayu) milik nidaime hokage. Teringat saat pertama kali aku membelah (baca: menggetok) kepalanya ketika berusia tujuh tahun seusai sekolah di taman. Dia tidak mau kalah sama sekali. Aku harus pulang dengan bonyok-bonyok yang jauh lebih banyak dari yang ia dapat. Aku memelintir tongkat ini ke kiri dan ke kanan, menunggu jawaban darinya.
"…Menjadi hokage yang terhebat adalah mimpiku. Jika 'kak Naruto tidak bisa—tentu saja sudah menjadi kewajibanku untuk memenuhi impiannya juga."
"Kau selalu seperti itu. Selalu bisa berpikir positif. Sekarangpun kau sudah membuktikannya kepada seluruh penduduk desa yang tidak pernah menyadarinya sedikitpun sedari awal. Orang-orang bodoh yang hanya tahu senang dan damai saja. Orang-orang tak punya otak yang bisanya hanya menyalahkan tanpa mencari tahu alasan mereka menyalahkan sesuatu."
Dia menyadari diriku yang tiba-tiba terpanasi. Aku juga yakin Naru paham bahwa aku tidak hanya membicarakan dirinya saja saat ini; tapi diriku juga. Klan Inuzuka selalu dipandang sebelah mata. Bahkan tak sedikit yang memeprlakukan kami seperti 'anjing'. Walau memang benar kami bertarung dengan meniru gaya para anjing pemburu di pegunungan—nama klan kami—tapi kami tidak pernah menganggap diri kami adalah hewan. Tapi hewan adalah sahabat kami. Apa mereka tidak bisa melihat keharmonisan dualisme antara kelembutan dan kejamnya alam dari kami? Kami adalah klan yang paling ramah—kami tidak berharga diri tinggi seperti Uchiha ataupun bermartabat tinggi seperti Hyuuga. Kami berbaur. Tidak dengan manusia, tapi juga dengan hewan dan alam.
Aku selalu larut didalam benakku ketika kebencianku terhadap takdir terangkat ke permukaan…
Namun yang selalu lebih mengejutkanku adalah bahwa aku bahkan tidak pernah menyadari, sejak kapan gadis serba panasan ini berubah menjadi seorang wanita yang sempurna dimataku.
Dia begitu sempurna. Dia begitu sempurna. Oh, maha sempurna ya Kami-sama. Mengapa engkau mempertemukanku dengannya sedari awal. Jika tidak… Jika tidak aku tidak akan pernah merasakan penderitaan ini…
"Kau keberatan jika aku menumpukan kepalaku di pundakmu, Kiba?"
Aku tidak membalasnya; aku tak tahu harus mengatakan apa. Ia mendekatkan tubuhnya padaku. Kini sudah tak ada lagi jarak diantara kami. Naru menyentuhkan pipi kanannya pada punda kiriku. "Kau selalu mengerti aku; kau juga selalu membelaku.
Ingat ketika warga dari blok timur 24 memojokkanku? Saat itu, Kiba adalah satu-satunya yang datang menyelamatkanku selagi menggigiti kepala mereka semua—dan menyerang balik mereka dengan pedang nidaime hokage."
"…Aku ingat saat itu kau juga hendak menangis."
"Itu karena aku masih seorang gadis yang tak punya kekuatan." Ia mengomel sambil memukul dadaku dan sedikit menggembungkan kedua pipinya. "Saat itu…"
Ia terdiam; mengambil napas.
"Saat itu kau… Begitu keren, Kiba.
Karena saat itu aku sedang suka-sukanya membaca dongeng tentang pangeran yang menyelamatkan sang puteri… Aku…"
"Aku… Tidak tahu harus bilang apa. Tapi saat itu aku hanya berpikir untuk meyakinkanmu kalau aku akan selalu ada untukmu.
Untuk membela sahabatku. Ya, aku selalu ada untukmu."
Pandanganku kosong. Menatap langit tanpa tujuan yang pasti. Mungkin aku berusaha mencari jawaban dari bintang, tapi itu hanya ada didalam karya sastra. Aku tidak punya alasan melirik langitl aku hanya tidak berani menatapnya saat ini. Hanya membayangkan ketika tibanya saat dimana tanganku tak bisa memegang pergelangannya lagi, dan juga tidak bisa melihat senyumannya secara empat mata lagi… Itu membuatku takut. Itu membuatku hancur.
Aku harus ikhlas, bukan? Demi kebahagiaan sahabat, begitu 'kan?
"Lalu, kenapa kau menjauhiku? Tadi…
Kau tak ingin melihat ke arahku saat aku melambai kepada kalian. Kau bahkan meninggalkan parade begitu saja."
Aku sudah menduganya. Aku yakin dia pasti akan menyinggung-nyinggung ini. Tapi aku yakin. Aku hanya yakin bahwa kau mengerti alasanku, Naru.
Aku. Tahu. Kau. Mengerti.
Aku mencintaimu, Naru.
Karena itu… Aku hanya tidak ingin tersakiti lebih jauh lagi. Aku takut. Aku khawatir jika pilihanmu yang selain diriku adalah sebuah kesalahan besar.
Masa lalu kita tahu bahwa seharusnya aku yang berdiri disebelahmu saat itu. Meski tidak diiringi dengan parade yang menghabiskan jutaan ryo. Dan hari ini, aku akan mengecup bibirmu dengan seluruh kasih sayang yang kumiliki.
Dan kita akan memiliki keluarga. Dua orang anak. Lalu kau akan meneruskan tugasmu sebagai hokage, dan aku juga akan melanjutkan kewajibanku sebagai seorang ANBU. Saat malam, kita akan bertemu dan menghabiskannya berdua.
Aku hanya, aku hanya tidak sanggup melihatmu pergi bersama orang lain.
"Aku kembalikan padamu. Apa kau tak pernah melihatku dari sudut yang lain?" Ia memerhatikanku dengan pandangan yang tak mau lepas. Matanya tergenang tipis oleh air mata. Atau itu hanya pantulan dari bulan—aku tak tahu? Atau malah karena mataku sendiri yang sudah hampir menangis?
"Sampai kapan kau akan melihatku merasa nyaman berada di dekatmu dengan hanya berdiri di zona amanmu sebagai seorang teman. Aku…
Aku mencintaimu, Naru."
Sebuah pernyataan cinta yang seharusnya keluar bertahun-tahun yang lalu.
"Kau terlambat, Kiba." Aku tahu. Demi Kami-sama, aku tahu itu, Naruko. Hingga rasanya muak dan mau muntah. "Kau memilik kesempatanmu, tapi… Kau…
Kau hanya terlambat.
Kau 'lah yang membiarkan pernikahanku diatur oleh senat dan sesepuh. Aku harus menikahi Sasuke karena ia adalah satu-satunya penerus Uchiha, dan karena kami adalah keturunan jauh terakhir dari Rikudo Sennin. Kami adalah simbol persaudaran yang akhirnya Senju dan Uchiha miliki.
Aku menunggumu, Kiba. Aku terus menunggu dan berharap kau akan muncul dan mengutarakan semuanya kepadaku. Tapi kau tidak kunjung datang. Aku malah sempat sangsi; apakah perasaanku terhadapmu itu hanya sepihak saja?
Kau… Kau Kiba. Kau membiarkanku terlepas begitu saja."
Bahkan air mata yang diteteskannya sebening permata. Mata air yang dikeluarkannya nampak seperti pelepas dahaga buatku. Aku ingin memeluknya; membuatnya aman di dalam tubuh hangat Inuzuka. Maafkan aku karena sudah membuatmu…
Aku terhenti. Ada sesuatu yang menghalangi jalur udara keluar dari dalam mulutku.
"Aku tidak akan memaafkanmu,"
Hanya itu yang dikatakannya dari jarak nol. Bibirnya yang lembut masih menempel di bibir kerasku yang terbiasa berteriak. Bukan berarti Naruko tidak pernah berteriak-teriak, tapi, mungkin karena inilah aku menyukainya. Segalanya yang ia miliki.
Aku memeluknya dengan kuat. Pedang kebanggaan milik shodaime dan nidaime kami terjatuh ke atas tanah berumput. Jauh di atas bukit belakang Konoha, akhirnya aku bisa memeluk tubuh mungil yang kuat ini untuk sekali lagi. Aku tidak ingin melepasnya. Aku berharap waktu terhenti dan membiarkan kami terus seperti ini selamanya.
"…Aku juga mencintaimu, Kiba!
Karena itu, aku tidak akan pernah memaafkanmu! Aku akan membiarkanmu mati; membiarkanmu dibawa ke neraka karena membiarkanku lepas begitu saja. Kuharap Daimaou (1) membakarmu bersih menjadi abu."
Dia melepas segalanya, yang dapat kulihat, seisi hatinya. Ia menumpahkan semuanya melalui air mata di atas pundakku. Wajahnya yang tenggelam disini tidak ingin disiniar oleh bulan sedikitpun. Seolah ia ingin bersembunyi dari seniar yang jahat ini. Sinar yang serba menyibak segalanya ini. Tsukuyomi yang tak pernah segan mempermalukan siapapun yang berada dibawahnya.
"Aku tidak bisa menunjukkan wajah kecewaku pada penduduk, Kiba. Aku adalah pemimpin mereka. Walau aku tidak bisa berharap banyak pada Sasuke, tapi dia adalah pria yang layak menjadi suamiku—kata para sesepuh. Aku… Aku kehilangan kata-kataku.
Apakah kau bisa mengerti? Apa saat ini juga kau masih bisa mengerti diriku seperti dulu?"
Aku membenarkan posisi tubuhku dan meraih pohon untuk membiarkan punggungku menyender disana. Aku mengelus kepala Naru, terdiam sembari mendengarkan tiap isakkan rengekkannya.
"Kau tidak memiliki jawabannya, bukan?" Tanyanya ketika tangisannya sudah sedikit mereda.
"Ya. Aku tidak bisa mengerti, Naruko."
Hanya sesaat, aku merasakan tubuhnya yang menegang. Dia pasti tidak menyangka dengan apa yang keluar dari mulutku barusan. Tapi… "Bagaimana aku bisa mengerti, sementara semua yang kau sampaikan itu adalah kesalahanku.
Aku sudah membuatmu menderita, ya. Maafkan aku." Aku mengelus belakang kepalanya, merasakan napasnya naik turun di sisi leherku.
Kami terdiam untuk waktu yang cukup lama.
Hingga aku sadari, aku merasakan sebuah gigitan pada leherku. Namun aku tak bergeming sedikitpun. Aku hanya merasakan adanya daya keras yang ber-massa merobek melphigian—lapisan terakhir epidermis-ku. Gigitan yang tak bertenaga itu akhirnya sampai di dagingku dan membuatku sedikit terpincut akan rasa nyeri yang anehnya cukup menggelitik.
Terdiam dan seperti vampir, ia mengecap dan merasakan apapun yang ia dapatkan disana.
Perbatasan antara leher dan bahu atasku kini mengaliri darah merah yang segar dan kental.
Dengan taringnya yang hampir setajam milikku, bukan sebuah kejutan lagi jika ia bisa menciptakan luka koyak hanya dengan gigitan lemah.
Ia mengangkat wajahnya, menatap sepasang mataku dengan permata samudra miliknya. Bibir mungilnya kini telah bersimbah darah segar dari bahuku. Ia tersenyum. Ia tersenyum sinis. Sepasang matanya yang kali ini membelakangi bulan nampak bersinar tanpa adanya efek pantul dari cahaya. Seperti seekor hyena yang kerasukan dan memendam sesuatu yang ingin dikatakan—ia akan menikmati mangsanya hingga helai kulit terakhir.
"…Jadi kau ingin mengirimku lebih cepat kepada daimaou?" Dengan gaya humor-ku yang sarkas, aku bertanya. Namun aku tersenyum padanya.
Tapi senyumannya mereda persis ketika aku memberikan lekukan pada pipiku kepadanya. Yang ada saat ini hanya sisa-sisanya saja.
Ia menjilat sisi bibirnya, merasakan darahku dan mengulumnya dengan lidah. Aku hanya dapat melihatnya yang saat ini tengah merasakan jus berkualitas dari koki dunia dengan begitu lezatnya. "Aku sudah menandaimu, Kiba."
"…Sekarang kau akan memburuku. Seperti itu?" Tetap memberinya sebuah senyuman, aku membalas.
"Aku akan mencarimu di neraka nanti." Ucapnya. Seperti itu adalah hal yang wajar dikatakan seseorang. 'Aku akan menemuimu di taman nanti,' atau 'aku akan menjemputmu pukul tujuh, ya.' Tapi nadanya begitu serius. Dia sepertinya akan benar-benar mencariku di neraka nanti.
Ini membuatku ingin mengunjungi neraka. Serius. Bagaimanapun caranya aku mati nanti.
"Bagus. Kalau begitu silahkan tusuk leherku dengan pedang shodaime-mu.
Saat ini juga."
Tak perlu diragukan lagi. Dia memegang salah satu dari satu-satunya 'alat' yang dapat kami jumpai di sekitar sini. Seonggok mainan anak-anak yang bisa memberikan luka fatal jika digunakan dengan tidak benar.
Akhirnya ia tersenyum dingin, mengacungkan batang kayu itu ke leherku. Ia memelukku dengan mesra. Kedua pahanya terbuka lebar di atas selangkanganku. Ia kembali menciumku dengan mesra, memain-mainkan lidahnya dengan gemulai.
"Ini akan sangat perih." Ucapnya, menjilati sisa-sisa terakhir dari darahku yang berada di bibirnya dan beberapa yang menempel di bibirku. "…Kau tidak akan mati dengan cepat, Kiba."
|Bersambung|
AN: One chapter to go. Maaf ga jadi dua chapter, ya.
(1) Lol. Daimaou disini adalah raja neraka. Saking gemesnya, Naru nyumpah ampe bawa2 bos neraka men! (becanda bukan nih?)
Untuk chapter terakhir, saya ingin bertanya kepada readers sendiri. Ending seperti apa yang anda inginkan? Saya pribadi sudah memikirkan satu ending yang memungkinkan timbulnya sequel. Dan, untuk catatan saja, saya gak akan mengakhiri fic ini dengan gaya: 'akhirnya Kiba dan Naru hidup bahagia sampai akhir masa.' Tidak. It's just a big NO—
Pilihannya cuma dua:
Mengikuti ending saya (akan ada sequel), atau biarkan ini berakhir tragis ala Shakespeares. If you know what I mean.
EJC
