Dare To Face The Future
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story : Rohma Amai
Warning : AU, Ooc, Typo
Cerita ini dibuat hanya untuk hiburan semata. Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun. Apabila ada kesamaan kejadian itu hanya kebetulan semata.
Untuk Teteh Vhi.
Naruto U, Shikamaru N, Kiba I, Hanabi H, Hiashi H, Sasuke U, Ino Y, Sakura H, Neji H, Hizashi H
.
.
.
"Neji adalah seorang Hyuuga yang jenius. Saya yakin ia akan memimpin kerja sama kita dengan baik."
"Saya tidak bisa menerima pemimpin yang belum berpengalaman. Bukankah ia masih terlalu muda untuk memimpin proyek besar seperti ini?"
"Walaupun ia masih muda, Neji memiliki jam terbang yang cukup banyak."
"Apa saja yang sudah ia raih dalam setahun ini?"
"Saya juga tidak setuju jika dia yang memimpin proyek ini."
"Maaf bapak-bapak sekalian, saya akan membuktikan kepada anda semua bahwa saya layak memimpin proyek ini. Jadi, tolong percayakan semuanya pada saya."
"Hey, nak. Ini adalah proyek besar. Saya tidak ingin menghabiskan waktu dan uang saya jika kau hanya bisa berbicara tanpa bukti."
"Oleh sebab itu, tolong percayakan semuanya pada saya, saya akan melakukan yang terbaik."
"Hiashi, kami membatalkan proyek kerja sama ini dan kami telah menemukan proyek baru yang lebih terpercaya."
"Mengapa kalian membatalkan proyek yang sudah kita rencanakan sejak lama?"
"Ini semua tak lepas dari gagalnya kau sebagai Pimpinan Kepolisian, Hiashi. Kami tak ingin masuk ke dalam lubang yang sama dan memilih bekerja sama dengan pemimpin klan lain."
"Kalian adalah tim suksesku, kekalahanku tak lepas dari kerja kalian."
"Bapak-bapak sekalian, ini urusan bisnis, bukan politik."
"Nak, inilah dunia yang sebenarnya. Politik tak dapat dilepaskan dari hidup kita, para pejabat. Kau memang belum berpengalaman."
"Klan Nara yang akan melakukan kerja sama dengan kami."
"Shikamaru Nara, anak dari Shikaku Nara yang akan memimpin proyek kami."
"Usia Shikamaru lebih muda dari saya, mengapa anda semua lebih memilih Shikamaru?"
"Publik semua tahu bahwa Shikamaru adalah pemuda jenius di seantero negeri, bahkan melebihi dirimu, Neji. Prestasi yang ia dapat juga sudah terbukti, bukan janji-janji semata."
"Saya akan buktikan bahwa saya adalah Hyuuga jenius dan anda semua dapat melihat hasil kerja saya dengan mata kepala anda sendiri."
.
.
.
Shikamaru menatap rendah Neji yang ada di hadapannya. Sementara Neji tetap menampakkan raut wibawanya.
"Kita tak ada urusan yang penting, jadi biarkan aku pergi," Shikamaru membuka suara.
"Sebentar, Nara. Aku hanya ingin menanyakan satu pertanyaan padamu," Neji berucap.
"Satu, setengah atau tidak sama sekali, aku tak punya waktu." Shikamaru hendak beranjak tetapi segera dicegah oleh Neji.
Di pojok hall tempat mereka berbincang kini, Neji mengeluarkan suara beratnya, "ini tentang bisnis dan kau terlibat."
"Hal merepotkan apa lagi?" imbuh Shikamaru.
"Proyek apa yang akan kau pimpin dengan para pejabat dan apa yang kau janjikan dalam proyek ini sehingga mereka mau bekerja sama denganmu?" ujar Neji dalam satu tarikan napas.
Shikamaru menyunggingkan senyum mengejek lalu berujar, "aku hanya berkata pada mereka bahwa proyek ini sangat menguntungkan bagi pihak manapun dan aku sebagai pemimpin akan melakukan yang terbaik. Mereka percaya padaku."
Neji melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku sudah merencanakan proyekku sejak dua tahun yang lalu termasuk menjalin kerja sama dengan para pejabat. Usiamu lebih muda dariku, tetapi mereka memilih dirimu. Aku juga yakin pengalamanku lebih banyak darimu," ucap Neji panjang.
"Mereka tak lagi percaya padamu. Bukan... pada Pamanmu-Hiashi Hyuuga. Mungkin lebih besar, pada klan Hyuuga."
Shikamaru menyeringai melihat Neji melebarkan matanya.
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu, kalau begitu sampai jumpa." Shikamaru mengayunkan kakinya menjauhi Neji yang kini menaruh tangan kanannya di dagu lancipnya sambil bergumam, "ini gawat."
db
Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam. Saat kak Neji kembali, ia memerintahkan aku dan Ayah untuk pulang. Walau bingung dengan keputusan kak Neji, aku lega dapat pergi dari tempat itu.
Aku berpamitan dengan Utakata karena ia harus tetap di sana karena urusan bisnis klannya.
"Hati-hati dan sampai jumpa di sekolah," ucapnya sebelum aku pergi. Ia benar-benar hangat.
Saat tiba di rumah, aku mempertanyakan apa yang sudah terjadi selama aku tak ada pada kak Neji. Tetapi ia menyuruhku tidur dan melupakan kejadian malam ini. Aku memang ingin melupakan kejadian dengan Naruto, tetapi sikap Ayah dan kak Neji yang tiba-tiba berubah-menutupi sesuatu dariku-membuatku khawatir. Khawatir sesuatu yang dikhawatirkan benar-benar terjadi.
db
Aku tak sengaja bertemu Utakata saat berjalan ke kantin bersama Kiba. Ia mengajakku makan di atap sekolah. Kiba setuju-setuju saja saat kutanya apakah ia tak masalah kutinggal makan sendiri.
"Aku akan makan di kelas Shino," ucap Kiba dengan bersemangat.
Sambil menyelam minum air. Itu yang akan dilakukan Kiba, makan siang di kelas Shino sambil melirik-lirik Tamaki-perempuan incarannya.
"Temanmu itu lucu," ujar Utakata saat kami sampai di atap sekolah.
"Kiba memang seperti itu orangnya," imbuhku.
Kami duduk berdampingan di sisi sebelah kanan atap lalu mulai memakan makanan yang kami bawa dari kantin.
"Senpai, bagaimana kau bisa mendapatkan kunci pintu atap?" aku memulai percakapan kembali.
"Aku punya semua kunci ruangan di sekolah ini," jawabnya.
"Senpai, ternyata kau merangkap sebagai penjaga sekolah." Aku mencoba mengeluarkan lawakan. Tetapi saat aku menoleh, Utakata sama sekali tak tertawa, malah mengerutkan dahinya. Wajahku memerah, tentu saja aku malu sekali.
"Go-gomen, Utakata-senpai."
"Wajahmu lucu." Kini Utakata malah terkekeh karena melihat wajahku yang sungguh memalukan.
Aku merengut mendengarnya, ia lalu mendaratkan telapak tangannya di atas kepalaku. "Kau benar-benar lucu jika sedang malu," ucapnya seraya mengacak-acak rambutku.
"Senpai... ini tidak lucu." Ia tambah terkekeh geli melihatku yang sebal.
"Baiklah." Akhirnya ia menghentikan aksi jahilnya lalu melanjutkan makan.
Hening melanda saat kami menghabiskan makan masing-masing dan belum ada yang membuka suara hingga hampir lima menit.
Utakata merubah posisi duduknya menjadi menghadap kepadaku. "Hinata." Ia membuka suara.
"Apa kau merasa ada sesuatu yang ganjil pada Neji atau Ayahmu?"
Aku menelengkan kepala, mencoba memahami ucapan laki-laki di hadapanku ini.
"Aku rasa mereka menyembunyikan sesuatu," jawabku.
"Kau sudah bertanya pada mereka?" lanjutnya.
"Sudah, tetapi mereka tak memberitahuku. Aku bingung dengan mereka."
Hening kembali beberapa saat, hingga aku membuka suara. "Apa senpai tahu sesuatu?"
"Sebenarnya aku tak ingin berbuat lancang dengan mencampuri urusan keluargamu. Tetapi, sepertinya kau harus tahu ini..." ia berhenti sejenak. "Kemarin malam, aku melihat para rekan bisnis Ayahmu berbincang-bincang dengan Shikaku-san. Tentu saja bukan perbincangan biasa. Saat aku mencoba bertanya pada Shikamaru, ia menjawab bahwa mereka adalah rekan bisnis klan Nara. Jadi kupikir ada masalah yang membuat Neji memintamu dan Ayahmu untuk pulang cepat kemarin malam."
"Jadi apa maksudnya itu?" Aku masih belum mengerti.
"Bisnis klan Hyuuga sedang terancam karena kehilangan partner dalam proyek besar yang sedang dibangun klanmu."
Aku tercekat mendengar penjelasan Utakata.
"Ini pasti rencana Shikamaru," ucapku.
"Rencana? Apa maksudnya?" Utakata nampak mengangkat sebelah alisnya.
"Shikamaru pernah mengancamku, tetapi belum jelas ancamannya seperti apa."
Utakata merubah lagi posisi duduknya menjadi lebih dekat denganku. "Coba ceritakan, apa yang telah Shikamaru katakan padamu." Utakata nampak penasaran.
"Saat pra pemilihan Pimpinan Kepolisian, ia mengatakan kepadaku bahwa tidak ada yang pernah menang melawan klan Nara. Ia mengancamku jika Ayah kalah maka hidupku akan menderita, mungkin ini permulaannya." Aku mendesah khawatir ketika memikirkan hal buruk dalam hidupku berjalan mendekatiku.
"Jangan khawatir..." Utakata meraih tanganku lalu menggenggamnya, "kita cari tahu apakah tindakan Shikamaru ini bermaksud mengusik hidupmu. Jika benar, kita harus mencari bukti yang konkrit agar mereka bisa kita laporkan ke pihak berwajib." Diakhir kalimatnya Utakata tersenyum menenangkanku, membuat dadaku berkembang-kembang.
Tiba-tiba suara bel sekolah berdering nyaring, memaksa kami beranjak dari atap.
"Besok kita makan siang di atap lagi yah, Hinata," ujar Utakata sebelum ia beranjak ke kelasnya.
"Baiklah, senpai," aku menyetujuinya dengan senang hati, karena ia mengucapkannya dengan sepenuh hati.
db
Sepanjang jalan pulang dari sekolah, Kiba terus mengoceh tentang aksi modusnya yang sukses.
"Beruntung tadi kau makan dengan Utakata, aku jadi benar-benar bisa mendekatinya. Kau tahu, ia sangat manis," ucap Kiba berkembang-kembang.
"Ini baru namanya simbiosis mutualisme," ucapku dengan kikikan.
"Ah, Hinata. Apa kau benar-benar menyukainya?" Kiba mencoba menggodaku.
Aku membalasnya dengan senyum dan rona di wajah.
"Lalu... bagaimana dengan si anak Hokage itu?" Aku lupa, Kiba belum mengetahui kejadian kemarin.
Seraya mengalihkan pandangan ke arah lain aku menjawab, "ah, masalah itu, aku tak pernah menyukainya, Kiba."
"Hah?" Kiba mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di belakang kepalanya.
"Aku serius, Kiba. Memangnya kau dengar gosip dari mana kalau aku menyukai Naruto," ucapku berdusta.
"Bukan gosip..." Kiba menggantung ucapannya membuatku menoleh ke arahnya untuk melihat ekspresinya. Ia melirikku lewat ekor matanya. "Tapi dari pancaran matamu saat melihat Naruto," lanjutnya.
Aku tertegun, ternyata Kiba memperhatikanku.
Kiba terkekeh lalu melanjutkan, "kau terkejut. Berarti aku benar."
Kau benar, Kiba. Aku pernah menyukainya, tetapi kini tak lagi.
db
Aku keheranan saat melihat Ayah sudah berada di rumah saat petang belum tiba. Ia tengah duduk di ruang tengah dan nampak memikirkan sesuatu.
"Ayah, aku pulang," panggilku mencoba mengalihkan fokusnya.
"Ah, Hinata. Kau sudah pulang," imbuhnya setelah sadar dari lamunan.
Aku duduk di sampingnya lalu mencoba mengajaknya berbincang. "Tumben sekali sudah pulang, Ayah."
"Iya, pekerjaan di kantor sudah selesai. Jadi Ayah memilih makan malam di rumah," jawabnya dengan air muka yang memaksakan bahwa-ia baik-baik-saja.
"Sekarang belum saatnya makan malam. Kalau begitu, aku siapkan air hangat untuk mandi." Aku beranjak menuju kamarku untuk mengganti baju sebelum menyiapkan air untuk Ayah.
"Ayah, airnya sudah siap," ucapku seraya menghampiri Ayah di ruang tengah.
"Di mana Hanabi?" tanya Ayah saat berjalan menuju kamar mandi.
"Dia ada les bahasa," jawabku. Ayah tak menjawab lagi lalu aku putuskan untuk pergi ke kamar kak Neji. Belum sampai aku pada tujuan, aku bertemu kak Neji di beranda rumah.
"Kak Neji sudah pulang?" ucapku berbasa-basi. Ia menjawab dengan gumaman.
"Aku ingin bertanya." Aku mengikutinya berjalan karena ia tak ingin berhenti untuk sekedar mendengar ucapanku.
"Apa yang sudah terjadi kemarin malam?" tanyaku, dan kak Neji hanya diam tak ingin menjawab.
"Apa ini berhubungan dengan bisnis keluarga Hyuuga?" lanjutku
"Kau tak berhak tahu." Akhirnya ia membuka suara walau tak sesuai harapanku.
"Aku anak sulung dari pemimpin klan Hyuuga, jadi aku berhak tahu. Walau aku tak berpengalaman dalam bisnis seperti Kak Neji, tapi suatu hari nanti aku juga akan mengemban bisnis keluarga ini. Tolong beri tahu aku, jika aku tahu akar permasalahannya, aku pasti bisa membantu." Akhirnya kak Neji berhenti berjalan setelah mendengar kalimat terpanjang yang pernah aku ucapkan kepadanya.
"Kau tahu sesuatu?" ucapnya.
"Sepertinya aku tahu..."
"Kau teman sekelas Shikamaru kan? Apa ia merencanakan sesuatu?"
"Sepertinya perginya para rekan bisnis Ayah adalah rencananya." Kak Neji melebarkan kedua matanya.
"Jadi seolah-olah ini semua adalah kesalahan Paman. Tapi ternyata ia telah..." Kak Neji menatapku lekat, lalu kubalas tatapannya dengan anggukan.
"Tapi kita harus mencari bukti yang kuat, jangan gegabah," lanjut Kakak sepupuku itu.
"Aku akan mencari tahu."
db
Aku dan Utakata sudah sepakat untuk pulang bersama hari ini. Kutunggu ia di lorong dekat pintu keluar gedung sekolah. Ia datang lima menit setelah aku berada di sana. Kami pun berjalan pulang bersama.
"Hari ini Nara dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan Ayahku. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk di sini," jelas senpai berambut coklat itu kepadaku.
"Lalu apa rencanmu, senpai?" tanyaku.
"Aku menghadiri pertemuan itu. Jadi akan kuselidiki rencana bisnis mereka..." Utakata menghentikan langkahnya dan aku mengikutinya.
"Aku akan membantumu, tenang saja," ucapnya dengan sorot mata teduh.
Aku tersenyum menanggapinya. Lalu kami kembali melangkah.
Bunyi kendaraan berlalu lalang, suara langkah kaki, serta hembusan angin musim semi mengisi kesunyian yang hinggap karena tak ada lagi perbincangan. Lantas kuputuskan untuk bertanya, "Utakata-senpai, kau sangat baik kepadaku, kenapa kau mau membantuku?"
Ia melirikku sekilas, memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana, lantas menjawab, "itu... tak ada alasan yang jelas. Aku hanya merasa harus membantumu." Ia mengeluarkan tangannya dari dalam saku.
"Begitu." Aku mendesah kecewa, entah apa yang membuatku seperti itu. "Terima kasih banyak," lanjutku.
Ia tak menjawab, malah berhenti mendadak, membuatku yang sedari tadi menunduk menabrak bahu tegapnya.
"Kenapa berhenti mendadak, senpai?"
"Yo, Hinata."
Suara seseorang yang kukenal menjawab alasan Utakata berhenti mendadak. Setelah menegakkan kepalaku, kulihat Naruto dengan luka lebam di wajahnya berdiri dengan angkuh.
"Kau tambah dekat dengannya yah, Hinata Hyuuga."
"Apa maumu, Naruto?" Utakata menanggapi.
"Tenang Utakata, kuakui kekalahanku atas dirimu dalam mendapatkan Hinata. Tetapi, aku berhasil menjatuhkan keluarganya."
"'Kami' maksudmu." Seseorang datang dari belakang Naruto dan menanggapi ucapannya. "Kami berhasil menjatuhkan keluarga Hyuuga," lanjut orang itu yang ternyata laki-laki berambut nanas.
"Ternyata benar, proyek barumu itu dibuat untuk menjatuhkan bisnis keluarga Hyuuga," ujar Utakata.
Shikamaru tertawa, "ternyata kau tak sebodoh yang kukira. Tapi, itu salah satunya."
"Salah satunya?" aku menanggapi.
"Hyuuga telah mencoba melampaui eksistensi Uchiha. Jadi, kami melakukan serentet rencana agar itu tidak terjadi," jeda sejenak, sebelum akhirnya Shikamaru melanjutkan.
"Pemilihan Pimpinan Kepolisian, kekalahan Hiashi Hyuuga, gagalnya proyek Hyuuga, semua itu hanya omong kosong. Dengan taktik yang keluar dari otakku, semuanya berjalan lancar."
"Kau... sialan!" Aku terkejut karena Utakata berteriak, marah.
"Memangnya kalian dibayar berapa oleh Uchiha?! Mau-maunya kalian melakukan hal busuk ini!" Utakata benar-benar murka.
Naruto tertawa, Shikamaru menyeringai, sementara aku menahan tangis mendengar semua ini.
"Kenapa kau sebegitu marahnya Utakata? Ini tidak ada hubungannya denganmu," imbuh Shikamaru.
"Aku tidak akan diam melihat hal busuk ini," ucap Utakata dengan sorot mata tajam.
"Lalu jika kau sudah tahu asal-musabab semua ini, apa yang akan kau lakukan, melapor? Ini semua rencana Pemimpin Kepolisian Uchiha, mereka akan tertawa mendengar aduanmu," itu Naruto yang berujar.
Aku sudah tak tahan mendengar semua kebusukan ini. Kuraih tangan Utakata, lalu berucap lirih, "sudahlah, Utakata-senpai. Semuanya sudah jelas, lebih baik kita pulang." Kutarik Utakata menjauhi mereka. Menjauhi sumber bencana hidupku.
Kini aku ingin menangis, berteriak, melepaskan semua beban yang sebetulnya sulit untuk dilepaskan hanya dengan menangis dan berteriak. Tetapi hanya itu yang ingin kulakukan, karena aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku lemah.
Kurasakan tanganku menghangat karena genggaman Utakata. Ia menguatkanku tanpa berbicara. Kubalas dengan genggaman erat. Ia membalasnya lagi dengan lebih erat. Kubalas lagi lebih erat. Terus saja seperti itu, semakin erat.
Aku tertawa karena tingkah aneh senpaiku ini. Kalau seperti ini, aku urungkan niatku untuk menangis. Aku merasa beruntung karena menemukan orang seperti Utakata.
.
.
.
"Bukankah itu terlalu berlebihan," seseorang dengan rambut pantat ayam berucap.
"Kau saja yang berpura-pura baik dihadapan perempuan itu, Sasuke," imbuh temannya yang berambut durian.
"Yang pasti rencana merepotkan kita berhasil," orang berambut nanas menanggapi.
"Eksistensi Uchiha sudah kembali."
.
.
Next to chapter 3
