A/N: Thx buat teman-teman yang udah review...^^

Gomene, lupa kasih tahu kalau disini Ciel umurnya 20 tahun, Sebastian umurnya 26 tahun.*telat*

Disclamer: Kuroshitsuji belongs to Yana Toboso

Warning: AU, OOC, OC, Gore, Lime/Lemon, Cerita yang gampang ditebak*plak*

Don't like Don't read!

Happy reading...


Black Romance


Polisi telah datang ke TKP, mereka menemukan mayat Christine dengan kondisi yang mengenaskan. Ia ditemukan tanpa lengan dan perut yang telah robek. Sungguh kondisi yang tidak patut dilihat.

"Mungkin ini perbuatan orang yang sama." gumam sang kepala polisi, Mister Arnold.

"Apakah pembunuh itu yang diberitakan di telivisi?" tanya Angela.

"Sepertinya. Lagipula hanya dialah yang bisa membunuh para gadis dengan cara sesadis ini. Ini korban yang ke 19."

Angela hanya terdiam mendengar penjelasan kepala polisi itu, ia yakin mereka bisa menemukan pelakunya atau setidaknya mencegah agar tidak terjadi lagi.

"Kalau ada ada-apa, anda bisa hubungi kami. Permisi." pamit kepala polisi itu beserta anak buahnya. Mayat Christine telah dibawa untuk diotopsi lebih lanjut. Sebastian dan Ciel yang melihat dari jauh juga terdiam.

"Kasihan sekali Christine." gumam Ciel.

"Kau mengenalnya?" tanya Sebastian.

"Aku baru bertemu dengannya kemarin, ia terlihat ceria. Tapi ternyata ia juga diincar oleh pembunuh itu."

Sebastian langsung saja memeluk Ciel untuk menenangkannya. Lagipula yang sudah terjadi tidak akan bisa kembali. Christine telah meninggal dan Ciel tidak bisa berbuat apa-apa.

"Sudahlah, Ciel. Seseorang yang sudah pergi tidak akan bisa kembali." ujar Sebastian.

"Aku tahu," gumam Ciel. "Tapi rasanya..." Ciel tidak meneruskan ucapannya. Melihat korban pembunuhan langsung memang rasanya mengerikan. Sebastian tetap memeluk Ciel, seolah tidak ingin melepasnya.

"Pasti pelakunya akan tertangkap."

"Iya."


Malam hari telah tiba, suasana terasa sedikit menyedihkan. Meski Ciel tidak mengenal baik Christine tapi melihat kematian yang menyedihkan itu rasanya sakit.

"Hah..." Ciel hanya menghembuskan nafasnya. Ia segera berjalan menuju balkon villa dan menatap bulan malam ini. Tapi ada yang sedikit aneh dengan bulan malam ini, bulan purnama dengan warna sedikit kemerahan.

"Tampaknya kau murung malam ini?" tanya Sebastian yang sudah berada di samping Ciel.

Ciel menoleh ke arah Sebastian, senyum tipis terlihat di wajah manisnya itu. Tapi ia kembali menorehkan pandangannya pada langit.

"Tidak juga." jawab Ciel pelan.

"Jarang sekali melihatmu dengan wajah melankolis begitu. Manis sekali." goda Sebastian.

Wajah Ciel langsung saja memerah, ia tidak memperhatikan wajah Sebastian. Sebastian hanya menyeringai kecil, ia langsung saja mengankat tubuh Ciel dalam gendongannya. Ciel terkejut dibuatnya.

"Eh? Apa-apaan kau?" tanya Ciel.

"Daripada lesu begitu, lebih baik kau menemaniku 'bermain', Ciel." jawab Sebastian sambil tetap menggendong Ciel ala bridal style. Ciel tidak menjawab, wajahnya sudah sangat merah. Ia tahu maksud Sebastian, sangat tahu malah.

Sebastian membawanya ke kamar mereka, langsung ditaruhnya tubuh Ciel disana. Sebastian menatap Ciel dengan wajah yang menggoda, ia langsung menaiki ranjang dan mendekati Ciel. Ciel perlahan-lahan mundur ke belakang hingga ia menabrak dinding kamar.

Sebastian tersenyum saja melihat tingkah Ciel yang menurutnya manis itu. Ia langsung memegang bahu Ciel dan menatap ke arah mata Ciel. Lagi-lagi merah bertemu biru. Ia langsung mencium bibir Ciel dengan lembut dan menatap ke arahnya.

"Tenang saja. Aku akan lembut malam ini." bisik Sebastian.

Wajah Ciel langsung memerah, ia mengalihkan wajahnya dari Sebastian. Tapi Sebastian langsung menyentuh dagu Ciel dan mengecup bibir merah Ciel lagi. Ciuman yang panas kali ini. Ciel hanya menuruti saja.

.

.

.

Atmosfir terasa panas malam ini, Sebastian menjilat bibir bawah Ciel meminta izin untuk menjelajah lebih lanjut. Ciel membuka sedikit mulutnya dan lidah Sebastian langsung masuk. Memeriksa rongga mulut Ciel dan mengajak lidah Ciel untuk beradu dengannya. Seiring dengan adu lidah itu, saliva sedikit berceceran di mulut Ciel. Dominasi Sebastian kuat hari ini.

"Nngh..." desah Ciel.

Kesadaran Sebastian hampir hilang karena mendengar desahan Ciel, ia langsung saja membuka kancing baju Ciel dan begitu selesai ia melempar baju Ciel ke sembarangan arah. Ciel sedikit kaget dengan apa yang Sebastian lakukan. Langsung saja ia menghentikan ciuman mereka dan menatap ke arah Sebastian.

"Sebastian... apa yang kau lakukan?" tanya Ciel heran.

"Lho? Aku ingin bermain denganmu. Bisa kan?" tanya Sebastian balik.

Wajah Ciel memerah, ia menatap wajah Sebastian dengan seksama. Sebastian terlihat serius, entah karena dorongan apa Ciel segera mengangguk. Melihat hal itu Sebastian tersenyum, ia langsung memeluk Ciel dan kembali meneruskan kegiatannya.

"Nnghh... Sebas... Aaahh~" desahan Ciel menggema di kamar itu. Saat ini Sebastian sedang asyik dengan aktivitasnya. Ia menjilat puting ciel, memilin dan memutarnya. Ciel hanya bisa mendesah saja.

Tidak lupa Sebastian memberikan kissmark sebagai bukti Ciel adalah miliknya seutuhnya. Sebastian masih terus memberikan kissmark dan tangannya terus memainkan puting milik Ciel. Desahan demi desahan dari mulut Ciel tidak berhenti untuk keluar.

Tangan Sebastian tidak berhenti bergerak, lama kelamaan tangannya turun ke bawah. Ia langsung saja meremas 'barang' Ciel. Ciel sedikit terkejut dan desahannya malah makin keras.

"Aaahh... Apa yang?" tanya Ciel sambil mendesah.

"Kita akan masuk ke inti permainan ini, Ciel." jawab Sebastian.

Sebastian langsung membuka celana panjang Ciel hingga tubuh Ciel polos di hadapannya. Ia memandang Ciel sambil tersenyum, tidak hanya luar dalam pun manis. Sebastian juga membuka baju dan celana yang ia pakai agar sama polosnya dengan Ciel. Wajah Ciel memerah melihat Sebastian seperti itu.

"Kenapa Ciel?" tanya atau lebih tepatnya Sebastian sedang menggoda Ciel sekarang. Ia memainkan kejantanannya di dekat lubang Ciel.

"Ah... Sebaiknya mulai saja." ujar Ciel.

"Baiklah." Sebastian tersenyum dan ia langsung mengulum kejantanan milik Ciel. Maju mundur, maju mundur, iramanya terkesan lembut. Ciel hanya bisa mendesah saja, ia mengcengkram sprei ranjangnya.

"Aaahhh~" desah Ciel. Sebastian menikmatinya, bagai mendengar irama musik yang indah. Tidak lama ia merasakan ada sesuatu yang akan keluar dan benar Ciel telah klimaks. Sebastian langsung saja menengguk cairan itu dan tersenyum manis ke arah Ciel.

"Kamu memang manis luar dan dalam, Ciel." gumam Sebastian sambil menjilat sisa cairan klimaks Ciel yang ada di sudut bibirnya.

Wajah Ciel memerah, ia mengalihkan pandangannya dari Sebastian. Ia mulai merasa capek, tapi entah kenapa ia masih menginginkan yang lebih dari ini. Sebastian tahu Ciel pasti akan suka, ia langsung saja memeluk Ciel erat.

"Sebastian?" gumam Ciel heran.

"Malam ini adalah malam untukmu, Ciel. Nikmati." ujar Sebastian.

Ciel sedikit bingung dengan ucapan Sebastian, tapi ia hanya mengangguk pelan saja. Sebastian tersenyum dan ia hanya menjilati ketiga jarinya perlahan. Mata merahnya menatap Ciel.

"Awalnya akan terasa sakit, tapi nanti kau akan menyukainya." ujar Sebastian.

Ciel belum sempat menanyakan hal itu pada Sebastian tapi Sebastian sudah memasukkan jari pertamanya ke lubang Ciel. Rasanya sakit sekali, air mata perlahan keluar dari mata Ciel.

"Sebas... tian... sakit..." ujar Ciel sambil berusaha menahan sakitnya.

"Tenang. Aku akan berusaha agar kau tidak merasakannya." seiring ucapannya Sebastian memasukkan jari keduanya dan Ciel menjerit makin keras. Sebastian langsung saja meraih bibir Ciel dan kembali membagi kehangatan disana. Ciel menuruti ciuman Sebastian, ia merasa tenang.

Jari ketiga dimasukkan dan Sebastian membuat gerakan zig-zag di lubang Ciel. Setelah dirasanya cukup, ia mengeluarkan ketiga jarinya itu. Ia melepaskan ciumannya sejenak, Ciel heran melihatnya.

"Kenapa?" tanya Ciel.

"Bersiaplah, Ciel. Aku akan datang." ujar Sebastian. Ciel hanya mengangguk saja dan langsung inti permainan dimulai. Sebastian memasukkan kejantanannya ke lubang Ciel, lagi-lagi rasa sakit itu membuat Ciel gila. Sebastian berusaha mencari sweet spot milik Ciel.

"Aahh~" desah Ciel.

Bingo! Sebastian berhasil menemukannya. Ia menghujani sweet spot itu berkali-kali dan desahan Ciel makin terdengar keras. Ia memaju mundurkan pinggulnya sesuai irama yang pas untuk Ciel.

"Aaahhh~ Sebas... lebih... nnnghh... dalam..." desah Ciel.

Seperti yang Ciel inginkan, Sebastian menghujani titik itu berkali-kali. Ciel tampak sangat menikmati sentuhan Sebastian. Sebastian juga senang melihat Ciel seperti sekarang, rasanya jarang sekali melihat pacarnya akan memohon seperti ini.

"Sebastian... aku..." gumam Ciel.

"Aku juga." ujar Sebastian.

Dan Ciel klimaks untuk yang kedua kalinya, Sebastian juga sama. Ciel langsung ambruk di dada Sebastian. Sebastian hanya tersenyum, ia mengecup pelan kening Ciel.

"Tidurlah Ciel. Aku akan berada di sampingmu, sekarang dan selamanya." ujar Sebastian.

"Kau janji?" tanya Ciel.

"Iya."

Ciel langsung tidur di ranjangnya, ia membelakangi Sebastian. Sebastian menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut. Rasanya baru saja Ciel berbicara sekarang sudah tidak terdengar suaranya. Ia sudah masuk ke alam mimpi rupanya.

'Tapi ada yang harus kulakukan, Ciel.' batin Sebastian.

Ketika Sebastian yakin Ciel sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya, perlahan ia membuka selimut yang ia pakai. Ia langsung memakai baju yang ia pakai tadi. Ia bangkit dari ranjang dan mencium kening Ciel pelan. Lalu ia perlahan meninggalkan Ciel sendiri di kamar itu.


"Kau datang kemari, heh?" tanya Angela pada sosok seseorang yang sudah berada di hadapannya.

"Aku ingin memastikan sesuatu padamu, Angela." ujar sosok itu.

"Langsung saja, Sebastian."

Ternyata sosok yang sedang berbicara dengan Angela adalah Sebastian. Ia maju beberapa langkah mendekati Angela, sekarang ia berada di depan villa milik Angela. Hanya hembusan angin malam yang menemani mereka berdua. Angela memandang Sebastian dengan tatapan meremehkan.

"Kau tahu apa yang akan kau lakukan, bukan?" tanya Sebastian.

"Iya aku tahu," jawab Angela. "Lagipula untuk kau, Sebastian Michaelis. Seorang pria yang kelihatannya baik-baik tapi ternyata berhati busuk dan seorang..." Angela menggantungkan ucapannya itu. Ia menyeringai ke arah Sebastian. "Pembunuh berdarah dingin, bukan begitu?"

Sebastian terdiam, tidak ada yang bisa ia sembunyikan. Ia tahu Angela sudah mengetahuinya karena Angela memberi sinyal seolah ia mengetahui sesuatu.

"Aku tidak menyangka kau akan berbuat sampai sejauh itu. Membunuh Christine. Gadis yang bahkan belum kau temui." ujar Angela.

"Aku pernah bertemu dengannya. Dan ia gadis yang menyedihkan, sama seperti gadis-gadis itu." ujar Sebastian enteng.

"Kau anggap apa para gadis itu? Boneka yang bisa kau mainkan seenaknya? Kau bunuh mereka tanpa belas kasihan?"

"Bukan urusanmu, Angela," Sebastian memandang tajam ke arah Angela. Batas kesabarannya hampir habis, ia muak mendengar cecaran Angela.

"Lalu? Apa maumu sekarang?"

Sebastian tidak menjawab, ia berjalan perlahan mendekati Angela dan langsung saja ia mengeluarkan pisau lipat yang ia taruh di saku celananya. Angela terkejut dan berusaha menghindar, Sebastian menangkap lengan Angela dan langsung menusuknya.

"Ah!" geram Angela. Darah mulai mengalir dari lengannya.

"Kau sama saja seperti mereka, hanya gadis lemah yang sok suci." ujar Sebastian. Ia menusuk lengan Angela lebih dalam, bahkan suara patahan tulangnya terdengar.

"AAH!" Angela tidak bisa berbuat apa-apa, tangannya terasa kaku. Sebastian hanya menyeringai. Ia memberikan tusukan di perut Angela, cukup membuat gadis itu memuntahkan darah dari mulutnya.

"Hehe... Menyedihkan."

Sebastian bermain dengan sosok Angela yang sudah lemah. Darah terus mengalir dari perut Angela. Sebastian langsung memberikan tusukan yang lebih dalam pada perut Angela dan Angela langsung terjatuh.

Sebastian memandang pisau di tangannya yang sudah berlumuran darah, well ini baru sedikit. Ia melirik tajam ke arah Angela.

"Kau dan gadis-gadis itu, kalian hanya bersikap baik di depan tapi nyatanya kalian busuk." ujar Sebastian.

"Siapa... uhuk... yang lebih busuk... uhuk dariku... selain kamu?" tanya Angela sambil terbatuk-batuk.

"Kalau sama-sama busuk lebih baik diam saja. Selamat tinggal, Angela."

Sebastian langsung menikam jantung Angela. Mata Angela terbelalak lebar, ia tidak menyangka hidupnya akan berakhir di sini, di tangan sebastian.

"AAAHHH!" teriak Angela dan suaranya tidak akan terdengar lagi, karena ia sudah tewas. Sebastian menatap datar pemandangan itu, ia hanya menyeringai saja.

"Huhu... Makanya jangan pernah merasa paling baik kalau dirimu sendiri sama busuknya." ujar Sebastian. Setelah yakin Angela tewas, Sebastian langsung mengeluarkan pisaunya dari jantung Angela.

Tapi ia tidak kehilangan akal, ia menusukkan pisaunya di beberapa bagian tubuh Angela. Dari atas sampai bawah ia tusuk dengan sadis. Lehernya ditusuk dalam hingga mengenai kerongkongannya, jantungnya ditikam berkali-kali, bahkan ia mengoyak-ngoyak isi perut Angela.

Hanya bau anyir darah yang menemani malam disana, tapi Sebastian tidak merasa ngeri atau jijik. Ini adalah hal yang biasa baginya.

.

.

.

Ciel mendengar suara jeritan, perlahan ia membuka kelopak matanya. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam dua pagi.

"Suara apa tadi?" gumam Ciel.

Ia menoleh ke samping dan sosok Sebastian tidak ada disana. Ciel heran kemana Sebastian pergi. Ia berusaha bangkit, tapi rasa sakit di pinggang sampai ke bawah karena kegiatan mereka tadi membuatnya berjalan dengan langkah pelan.

"Sebastian..."

Ciel langsung memakai baju dan ia perlahan keluar dari kamar. Ia ingin mencari sosok Sebastian. Di dapur, ruang tamu, kamar mandi, dan semua ruangan yang ada tapi sosok Sebastian tidak ada disana.

"Apakah ia keluar?"

Ciel perlahan berjalan keluar villa, entah kemana asalkan ia bisa menemukan Sebastian. Pikirannya langsung tertuju pada Angela, mungkin Sebastian kesana. Ia melangkah perlahan menuju villa milik Angela.


Sesampainya di depan villa Angela nuansanya terasa mencekam, Ciel mengedarkan pandangannya ke sekeliling villa. Tidak ada siapa-siapa disana. Tiba-tiba Ciel merasa ada bau yang aneh.

'Bau ini? Darah?' batin Ciel.

Ciel perlahan berjalan mendekat ke villa Angela dan betapa terkejutnya ia melihat kondisi Angela yang sudah tewas bersimbah darah disana. Ciel sangat terkejut melihatnya.

"Nona Angela..." gumam Ciel pelan.

Ia bingung kenapa Angela tewas. Apakah ada hubungannya dengan kematian Christine? Ciel tidak bisa melakukan apa-apa, ia mundur perlahan dari mayat Angela. Rasa sakit menggrogoti dirinya, kenapa harus gadis-gadis ini yang tewas?

Samar-samar Ciel melihat sosok seseorang yang sedang berdiri jauh di hadapannya. Terlihat kilatan pisau yang ia pegang. Ciel bertambah yakin pembunuh itu berada dekat di hadapannya. Ciel perlahan berjalan mundur, ia ingin lari.

Tidak terpikirkan lagi dimana Sebastian. Ia ingin lari, setidaknya memberitahukan hal ini pada polisi itu. Tapi karena kegiatannya dengan Sebastian tadi membuatnya tidak bisa berlari cepat, ia kesal sendiri.

'JLEB'

Ciel merasa sakit di bagian pinggangnya, ia memegangnya dan melihat ada darah disana. Langsung saja ia terjatuh. Ia ingin lari tapi langkah kakinya serasa kaku. Tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang.

"Kenapa kau lari dariku, Ciel?" tanya orang itu.

Ciel tahu suara ini, Sebastian. Ia perlahan menoleh ke belakang dan ia mendapati sosok Sebastian yang sedang tersenyum ke arahnya. Tapi Ciel merasa ada yang lain, senyum itu bukan senyum yang biasa Sebastian perlihatkan pada Ciel. Senyum itu... bagaikan seperti serigala yang berhasil mendapat mangsanya.

"Sebas... tian..." ujar Ciel lirih.

"Iya, ini aku." ujar Sebastian.

"Kau..." Ciel tidak meneruskan ucapannya. Ia tidak ingin berpikiran buruk mengenai Sebastian. Bagaimana pun juga ia mencintai pria yang ada di hadapannya ini. "Kau tahu... nona Angela..."

"Aku tahu..."

"Siapa yang?"

Sebastian menyeringai ke arah Ciel, dikeluarkannya pisau yang tadi ia pakai untuk melukai Ciel. Ciel berdegik ngeri melihatnya, ini seperti bukan Sebastian saja. Sebastian memainkan pisau itu di wajah Ciel.

"Itu aku, kau tahu?" ujar Sebastian.

TBC

A/N: Bagus, terus aja continued.

Haha...

Bener-bener melenceng dari rencana... Kapan tamatnya? Author sendiri bingung*plak*

Bercanda, chap depan udah complete kok...^^

Buat teman-teman yang reviewnya login udah aku kasih balasan di PM, yang gak login dibalas disini...

Noir Cil: Sudah update. Semoga suka...^^

Misaki: Haha... Memang sengaja. Awalnya mau oneshoot, tapi aku rasa nanti alurnya cepet. Jadi ya multichap deh. Hehe...

Li: Baca dua kali? Hehe... Memangnya agak membingungkan ya? Semoga gak bingung lagi. Ini sudah update...^^

Makasih buat yang udah baca... See you next chap...