a BTS fic

Choose Me

.

.

I'm alright, even if I can't have you.

.

.

Cast : BTS's Member

Pair : KookV ; HopeV ; JiminV ; Slight MinYoon ; Slight NamJin

Rate : T maybe will change into M for safe

.

.


Pt.2 Look Here

.

.

Kali pertama Jimin melihatnya, dia sedang memunguti gelas-gelas karton bekas minum kopi yang ditinggalkan seenaknya diatas meja didepan minimarket Circle K. Poni cokelat keemasannya bergerak lucu karena tertiup angin dingin Seoul sore itu. Wajahnya manis tapi juga sedikit garang, tubuhnya lebih kurus dari Jimin, namun mampu mengalahkan tinggi badannya.. Jimin tidak berhasil membaca name tag yang tersemat di dadanya. Karena jarak sepeluh meter antara dia dan laki-laki itu tak memperbolehkannya mengamati lebih jelas.

Sebenarnya Jimin heran, kenapa dia malah menghabiskan waktu bengong disini dan tak memilih menunngu didalam gedung tempat bekerja produser musik kesayangannya. Ada sesuatu yang menahannya untuk tinggal didalam mobil yaitu menghabiskan gulir waktu memperhatikan laki-laki penjaga mini market tak henti-henti.

Jimin memutuskan untuk mendekat. Keluar dari mobil Mercedes-Benz putih sebelum dia mengaktifkan pengaman mobil kesayangannya itu. Jari tangan pendek-pendeknya masuk ke saku untuk menyimpan kunci mobil. Menengok ke kanan dan ke kiri untuk mengecek apakah ada kendaraan yang lewat untuk kemudian sedikit berlari menyebrangi jalan menuju ke minimarket Circle K. Tubuh 'laki-laki minimarket' itu hilang dibalik pintu yang bertuliskan logo dan selamat datang besar-besar.

Jimin celingukan, surai hitamnya ia sigar dengan tangan kanan. Menengok ke lorong-lorong bagian snack untuk mengetahui nihilnya keberadaan laki-laki tadi. Hanya terlihat satu laki-laki lain ber name tag Minjae sedang berjongkok menata display beberapa rasa Pocky. Bukan, bukan dia.. batinnya. Jimin akhirnya merasa bodoh juga, untuk apa dia sebegitu penasarannya dengan 'laki-laki minimarket' yang tadi dilihatnya. Memang kalau sudah ketemu, Jimin mau apa? Berkenalan? Menyapa? Menculik? Apa?-

Jimin tak sadar daritadi dia melamun dan membatin didekat meja kasir, tangannya meraba-raba beberapa merk produk yang di display di dekat meja kasir. Wajahnya kentara betul sedang melamun dan sudah pasti terlihat bodoh –tapi hell dia tetap tampan. Dan hal itu memancing kebingungan orang yang barusan masuk ke counter kasir.

"...-beli sesuatu?"

"A-Ah, ne?" Jimin agak tersentak mendengar ada orang menegurnya dari lamunan. Suara yang menyapanya itu agak terdengar agak lucu tapi ada sedikit tone suara dalam. Jimin tak mendengar lengkap kalimatnya tadi, jadi dia mengarahkan pandangannya ke sumber suara untuk menanggapi dan menyiratkan tanya karena dia belum sadar betul ketika suara itu menyapa. Dan balasannya malah Jimin sendiri yang tambah kaget.

"Maaf, sedang mencari atau ingin membeli sesuatu?" Ulang sumber suara tadi.

Jimin kaget nyaris mengumpat, Itu 'laki-laki minimarket' yang dilihatnya tadi, dan ternyata lebih manis dari dekat, rambutnya terlihat lebih halus, Oh jangan lupa bibirnya yang pink, pipinya yang tirus dan rahang tajam miliknya, kesan manis itu bisa bercampur dengan definisi indah karena pahatam wajah dihadapannya ini lebih dari sebuah karya seni milik Tuhan. Apa Jimin berlebihan?

Jimin menemukan nametag yang tersemat di dada seragam kerja yang agak kedodoran, namanya 'Kim Taehyung'. Jimin merapal nama itu pelan-pelan dalam batinnya. Tangannya tak sadar mengambil salah satu produk dekat meja konter, daripada dicap aneh karena berdiri disini terus sambil melamun, akhirnya Jimin memutuskan asal untuk membeli sesuatu. Menyodorkannya ke depan tangan Taehyung yang terlipat sopan diatas meja kasir. Jimin gelagapan sambil meraih dompetnya.

"A-Aku ambil ini."

"Uh.. hanya ini?" Jawab laki-laki yang Jimin ketahui memiliki nama Taehyung. Taehyung mengangkat alisnya saat bergantian melihat belanjaan Jimin dan wajah Jimin sendiri.

"Astaga!" Jimin kemudian baru menyadari barang apa yang tadi dia klaim sebagai belanjaanya. Kondom dengan isi 4 lembar per pack. Jimin mencelos, ingin menenggelamkan diri ke sungai Han rasanya.

"..." Taehyung kalem, dia sudah biasa melayani pembeli bertingkah aneh, dan orang didepannya ini salah satunya. Orang itu yang memberikan belanjaannya dan malah orang itu juga yang kaget sendiri. Itu akal-akalan sok gengsi saat membeli kondom atau bagaimana? pikirnya. Tangannya terulur untuk mengetik sesuatu di komputer kasir sambil sebelah tangan lainnya mengangkat kotak kondom itu untuk melihat kode purchase nya dalam data minimarket untuk mengetahui berapa harga barang nista di tangannya.

"Aku tidak akan menggunakan itu, kok. Bukan aku.. eee aku tadi bingung..." Jimin berucap lagi, sudah terlihat bodoh dia makin terdengar konyol.

"Mau kau pakai atau tidak itu bukan urusanku." Jawab Taehyung sambil menahan tawa mengejek, wajahnya malah terlihat mengolok-olok menyebalkan.

"Harusnya aku mencari Colla, iya Colla.."

"Colla ada di dalam lemari pendingin di sebelah sana." Taehyung tertawa kali ini, dia akui wajah orang dihadapannya ini konyol sekali, terlihat luar biasa nervous. Padahal iya, Jimin memang sedang nervous.

"Aku ingin satu Colla dan satu Fanta rasa jeruk."

"Kau menyuruhku untuk mengambilkannya?"

"Kukira kau bekerja disini?"

"Aa.. Oke, ada lagi? Pelumas atau apa misalnya? Plester luka?"

"Astaga, aku tidak akan menggunakan itu." Jimin merasa laki-laki Kim ini benar-benar easygoing, walau sedikit usil. Tapi dia suka karena bisa mengobrol dengannya.

Taehyung kembali membawa pesanan Jimin, menghitungnya lalu membungkusnya dengan kantong plastik. Menarik struk yang keluar dari mesin pencetak, lalu memberikannya dengan beberapa lembar uang kembalian dari Jimin. Didepannya, Jimin memasang muka sok ganteng sambil menyigar lagi surai hitamnya, gesture siap menggoda. Park Jimin merasa itu gaya andalannya.

"Kau yakin sudah membungkus dan menghitung semua?"

"Maaf, tapi bisa kau cek sindiri."

"Uhmm.." Jimin membuka main-main kantong plastiknya, beralih dengan wajah dibuat-buat kecewa lalu menatap Taehyung dengan senyum terpoles di wajahnya. "Ada yang kurang masuk kesini, aku minta semuanya."

"Aku tidak mengerti."

"Aku minta semuanya dibungkus dan dihitung. Kau, kau belum masuk dalam belanjaanku."

Jimin menekankan jari telunjuknya ke lengan Taehyung berani. Taehyung membatin dan mengira-ngira tidakkah Jimin barusan merayunya dengan cara paling receh sedunia. Taehyung tergelak tawa, poninya bergerak mengikuti badannya yang bergetar karena tawa.

"Kau merayuku? Astaga, aku dibungkus? Lucu sekali." Taehyung mengusapkan jari ke bawah hidung mancungnya yang sedikit memanas karena memperhatikan senyum Jimin lama-lama.

"Aku sungguh-sungguh, Ayo ikut aku."

"Ikut dan lalu apa? Nanti kau berubah pikiran dari pernyataanmu yang tak mau menggunakan kondom itu." Kata-kata frontal Taehyung mentriger panas tubuh Jimin untuk naik, anak ini berani sekali pikirnya.

"Astaga, aku tidak begitu." Tidak langsung begitu diawal, batin Jimin.

"Lalu, apa? Kau serius mau membungkusku?"

"Iyap."

"Kalau kau serius sebenarnya aku, sih tidak bisa dibungkus, tapi aku bisa ikut dihitung dalam belanjaanmu."

"Maaf, manis?"

"Kau sungguh-sungguh ingin tau hargaku tidak?"

"Aku agak ragu dengan arah pembicaraan kita."

"Kim Taehyung, bisa dicari di gedung House of Cards, Tanya hargaku disana tapi sayangnya tidak untuk dibungkus dan dibawa pulang kerumah."

"Kita bisa bertemu lagi disana?" Jimin menyigar lagi surai gelapnya, memajukan sedikit tubuhnya mendekati Taehyung diseberang meja kasir. Dia benar-benar terlihat berminat.

"Iya cari saja aku. Namamu? Biar aku tahu siapa tamuku" Taehyung tersenyum penuh.

"Park Jimin, dan pasti akan aku cari."

"Tentu, kau saja akhirnya masuk kesini setelah lima belas menit memperhatikanku beres-beres didepan."

"Ap- Oke, oke jam berapa?" Jimin ternyata ketahuan.

"Kita buka jam delapan malam sih, aku harap kau suka teh."

"Teh apapun dicampur Colla tau Fanta pun aku suka asal ada kau."

"Serius kau akan meminumnya?" Taehyung tertawa lagi.

"Semuanya terasa manis kalau sambil melihatmu."

"Uhmm.. kita lihat saja nanti malam, Jimin?"

"Oke, Taehyung."

Jimin keluar dari minimarket itu sambil mengantongi memo kecil ke dalam saku celananya, bersenandung kecil dan berhenti saat diketahui laki-laki lain yang seharusnya dia tunggu malah balik menunggunya berdiri didekat mobil putih Jimin.

"Kau ini darimana." Suaranya sedikit kesal dan lelah mengantuk menjadi satu.

"Maaf Yoongi-hyung, tadi aku bosan jadi aku mencari minuman di minimarket itu." Jimin mengira-ngira berapa lama Yoongi menunggunya, dia menengok sekilas memastikan seberapa bening kaca minimarket itu untuk mengekspos kegiatannya didalam sana tadi.

"Yasudah, ayo."

"Aku temani makan ya? Hyung, kau harus makan."

"Aku lelah, Jim. Nanti saja makannya."

"Eeh, aku yang akan menyuapimu, jarang-jarang kita bisa berduaan begini." Jimin merapatkan tubuhnya merangkul Yoongi sambil menuntunnya masuk mobilnya.

"Aku bukan anak-anak. Dan kau tak ada meeting?"

"Tidak ada meeting, dan aku akan tetap memaksamu makan, setelah itu kau boleh pakai kamarku untuk tidur." Jimin memasangkan seat belt ke tubuh Yoongi, menyingkirkan sedikit poni abu nya yang menutupi mata. Wajahnya mengantuk, tapi Jimin tidak suka kalau Yoongi ketinggalan jam makan.

"Terserah, ayo cepat kita jalan." Yang lebih tua menyahut sambil memejamkan mata.

Sepulangnya dari kantor untuk mengecek dan menandatangani beberapa berkas penting perusahaannya, Jimin dengan mobil putihnya melaju sendiri tanpa supir membelah keramaian Gangnam. Jam delapan lewat Jimin baru menemukan gedung House Of Cards bermodal memo kecil dari Taehyung. Dia masuk tanpa curiga sedikitpun, masuk dan langsung minta ditemukan dengan Kim Taehyung. Karena Jimin datang lebih awal dia dengan mudah bertemu si manis Kim yang sekarang terlihat sedikit berubah karena penampilannya.

"Maaf, apakah benar kau yang menjual Colla dan Fanta padaku tadi siang?"

"Kau masih memiliki kedua matamu dengan kondisi baik."

"Kau... terlihat sedikit berbeda." Jimin memperhatikan balutan apa itu... entah kimono tapi lebih santai untuk dipakai seorang pria, jimin tidak tahu namanya apa. Pakaian itu dari satin kualitas tinggi, berkilauan dan halus bila tersentuh. Wajah Taehyung lebih mempesona karena sedikit pulasan make up natural diwajahnya, Jimin terkesan, warna merah itu benar-benar cocok untuk Taehyung, disandingkan dengan hiasan bunga sakura yang tersemat jarang-jarang di helai halus rambut cokelat keemasannya, muka Taehyung seperti bangun tidur, redup tapi memicu api tubuh Jimin menyentak dari dalam.

"Kau kesini hanya mau berdiri disini? Ayo."

Jimin menurut saat ditarik Taehyung ke sebuah ruangan santai yang tak cukup luas, hanya ada meja kayu, beberapa guci berisi bunga hias, lukisan dan bantal duduk disana. Tataminya terlihat mengkilat, ruangannya wangi aroma teh menghangatkan dan cahaya redup ruangan benar-benar menenangkan, disana ada satu selimut besar tebal terlipat entah untuk apa.

Setelah makan beberapa hidangan rekomendasi Taehyung dan sudah dibereskan dari ruangan itu, Jimin yang sudah kenyang memilih memperhatikan Taehyung meracik tehnya, Dia duduk manis disisi meja, diatas bantal duduk yang nyaman, punggungnya yang terbalut kemeja hitam dengan kerah putih itu bersandar di belakang dinding dengan wallpaper jingga bercorak dibalik tubuhnya. Taehyung berkata soal beberapa khasiat teh yang dibuatnya, dan saat Taehyung berkicau Jimin tak benar-benar mendengarkan karena dia sibuk mengamati Taehyung yang berubah sangat indah sekarang.

"Cantik.."

"Jangan panggil aku begitu."

"Tapi kau memang terlihat begitu."

"Bagaimana kalau kau panggil aku Taehyung, biasa saja?"

"Tae manis? Tae cantik? Tae- ow! Tae galak!" Jimin memberengut saat Taehyung memukul kepalanya. Dia mengusap kepalanya hati-hati kemudian menyigarnya lagi dengan gesture dan senyum miring panas mendebarkan.

"Aku suka melihat kau meracik teh herbal sih, tapi kau juga menarik saat menggenggam botol colla saat itu-Ah maksudku saat kau menatanya di etalase itu."

"Apanya menggenggam?"

"Maksudku saat kau disini dan disana itu benar-benar berbeda. Tapi ya sama-sama menarik"

"Omong-omong, Jimin, kau katanya mau memasukanku dalam bon belanjaanmu?"

"Uh.. ya? Tapi kau kan tak bisa dibungkus di kantong plastik, sia-sia nanti uangku."

Taehyung beringsut, membawa gelas lebar berisi teh buatannya secara langsung, dengan tiba tiba duduk di pangkuan Jimin dan menyuruh laki-laki itu meminumnya.

"Minum."

"Memangnya ini enak?, aku tak terbiasa minum teh sih." Jimin bergerak sedikit, mencoba menyamankan sandarannya, dia kaget kenapa Taehyung tiba-tiba bersikap seperti ini. Sebisa mungkin dia menjaga tangannya untuk tak memeluk pinggang Taehyung.

"Baru tadi siang kau bilang mau minum teh campur colla, tapi sekarang kau malah mau menolaknya. Ini enak, buatanku."

"Teh herbal ini akan membantumu merilekskan tubuhmu. Dari caramu berpakaian, kau sepertinya bukan seorang pengangguran tak jelas, pasti Jimin punya pekerjaan yang penting dan melelahkan. Makanya minum." Tambah Taehyung, semakin menekankan tubuhnya masuk ke pelukan Jimin.

"Bagaimana aku bisa percaya itu tak ada campuran aneh-anehnya."

"Astaga, ini baik-baik saja, lihat..."

Taehyung meminum sendiri teh buatannya dari gelas lebar itu didepan mata Jimin, Jimin bisa melihat jakunnya naik turun untuk embantu cairan teh itu mengalir ke kerongkongan Taehyung. Jimin tiba-tiba haus sambil menatap bibir itu yang basah karena teh. Taehyung sekali lagi menyodorkan gelas itu menyentuh bibir Jimin dan Jimin meminumnya.

Suhu hangat teh menyebar luas ke tubuh Jimin, rasanya seperti campuran chamomile dan beberapa rempah lainnya, tapi teh ini sama sekali tidak aneh malah justru sangat menghangatkan dan membuat rileks. Gelas itu meninggalkan bibir Jimin yang selesai mengecap, ada sensasi sejuk dan sedikit asam khas teh yang tertinggal di lidahnya. Melihat ekspresi Jimin yang seperti kaget dan puas akan rasa teh buatannya, Taehyung senang. Dia mengusap bibir Jimin yang sedikit basah, sedikit beringsut lagi dan membuat tubuhnya sedikit bergesekan dengan Jimin.

"Merasa hangat sekarang?"

Apabila Taehyung begini berani, makan Jimin akan lepas kendali. Direbutnya gelas teh dari Taehyung, diminumnya tandas isinya, agak kasar meletakkan gelas itu kembali ke atas meja, untuk kemudian mendorong Taehyung terbaring dibawahnya.

"Kau masukkan apa dalam teh-ku? Aku bisa gila"

Jimin mencuri ciuman di bibir Taehyung, sebentar dan mendebarkan, bibirnya bergerak menyusuri rahang kemudian ke leher Taehyung, Taehyung tertawa seperti kegelian tapi badannya ikut memanas. Saat Jimin menarik ikatan sabuk yang mempertahankan balutan satin merah dipinggang Taehyung lepas, Taehyung langsung merespon dengan ikut membuka kancing kemeja Jimin dan menarik selimut tebal yang terlipat didekat mereka untuk memerangkap tubuh keduanya yang mulai menghangat dan memanas.

"Aku bisa, kalau kau mau." Taehyung berujar, sorot matanya mulai menggelap.

"Aniya," Jimin tersenyum, merubah sorot matanya yang tadi menggelap juga menjadi menyipit dan tenggelam seperti bulan sabit. Menyigar rambut hitamnya lagi dengan tangan, lalu bergerak mengusap wajahnya yang panas. Tangan lainnya menopang tubuhnya diatas Taehyung. Lalu tangan satunya bergerak lagi mengusap tangan Taehyung yang belum selesai melepas kancing kemejanya habis.

Yang Jimin ingat kala itu, hiasan bunga sakura yang tersemat jarang-jarang di rambut coklat keemasan Taehyung beberapa lepas dan jatuh berguguran di tatami karena mereka terlalu banyak bergerak. Dia tidak sampai mengeluarkan kondom yang dibawanya disaku celana. Menghabiskan satu teko kecil teh racikan Taehyung ditemani dengan biskuit dan kudapan lainnya.

Menghabiskan malam bergelung dibawah selimut tebal, tiduran tanpa alas diatas tatami dengan dia dan Taehyung yang mengoceh soal berbagai macam hal. Yang dia ingat setelah itu, dia membayar lebih pada totalan bill nya di House Of Cards karena Seokjin-pemilik tempat itu menemukan dua bekas kemerahan di leher Taehyung. Dan Jimin tahu, kalau Taehyung benar-benar tak bisa dibungkus dan dibawa pulang.

Jimin pulang nyaris jam 2 dini hari saat ponselnya berdengung tanda ada mail masuk. Ada dua, yang satu berisi pesan untuk mengingatkan Jimin ada jadwal meeting besok siang oleh sekertaris usilnya, dan satu lagi mail dari Min Yoongi, menanyakan dia ada dimana saat Yoongi bangun dan tak menemukan siapapun di apartementnya.

.

.

.

.

Taehyung menunduk setelah bersitatap dengan Jungkook, jantungnya berdebar-debar. Karena dalam satu ruangan itu ada dua orang yang dia kenal Hoseok-hyung nya dan Jimin. Sudah seminggu lebih jimin tidak menampakan batang hidungnya setelah kejadian malam itu. Sebenarnya Taehyung harusnya cuek saja mengetahui kalau Jimin sama seperti tamu lain pada umumnya yang kalau sudah lalu lupakan. Taehyung tak pernah membawa perasaannya saat melakukan semua ini, namun menemukan Jimin menatapnya dengan pandangan seperti itu, Taehyung benar-benar tidak tahan untuk keluar ruangan. Ada Hoseok disini, dan dia gelisah karena Hoseok mengelus tangannya terus sedari tadi dibawah meja.

Taehyung disana untuk menyiapkan macam teh sesuai pesanan Hoseok. Menuangkan ke satu persatu gelas didepan para tamunya dengan sopan dengan mengangkat ujung lengan hakama hitamnya. Setelah itu Taehyung akan diam disisi terdekat Hoseok. Dan Jimin disana kalem-kalem saja sambil memakan Hodu Gwaja. Sementara Jungkook disana juga masih penasaran soal Taehyung.

Malam makin larut, obrolan mereka tentang bisnis sudah final sekitar tiga puluh menit yang lalu. Minuman di atas meja sudah berganti menjadi soju kualitas tinggi. Taehyung meminumnya juga tapi dengan kadar lebih sedikit, dia harus tetap sadar karena dia disini untuk menemani mereka berbincang dan menyiapkan minum dan kudapan.

Hoseok yang belum terlalu mabuk pamit undur diri terlebih dahulu karena dia ada sesuatu yang harus disiapkan untuk besok melakukan penerbangan di Bangkok, dia juga butuh istirahat. Bersalaman dengan Jimin dan Jungkook kemudian keluar dengan Taehyung mengekorinya sambil membereskan gelas Hoseok tadi.

"Hey, lihat kemari. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama denganmu." Ujar Hoseok.

"Hyung masih bisa kesini lain kali." Jawab Taehyung menatap Hoseok lekat.

"Aku dengar kau jarang keluar kalau malam disini?"

"Iya aku memang sedikit menguranginya"

"Tapi kau datang saat aku minta."

"Tentu saja, hyung. Aku sudah lama tak melihatmu. Yah jadi aku ingin."

"Kalau aku tak datang bersama tamu aku pasti sudah bersenang-senang denganmu."

Hoseok maju untuk menangkap pinggang Taehyung, Taehyung nyengir kota mendengar perkataan dan maksud Hoseok padanya. Hanya sekilas karena kemudian Taehyung memasang wajah dengan senyum miring untuk Hoseok.

"Kan kubilang kau bisa mampir lagi lain kali."

"Sampai ketemu lagi, kalau begitu" Hoseok maju untuk mencium sudut bibir Taehyung. "Kau boleh temani atau tidak dua orang lainnya di dalam, aku pergi."

.

.

.

.

"Jim, kau jangan mabuk, kau menyetir."

"Iya aku tau, kau juga Direktur Jeon."

"Aku setuju soal makanan disini enak, dan teh nya juga."

"Kook-ah kau memang harus percaya padaku."

"Kau mau mencoba fasilitas lain?"

"Maksudmu?"

"Yah yang seperti om-om didepan lakukan, kalau mau sih pesan dulu."

"Aku ini sangat selektif, Jim."

"Aku juga tidak tahu seleramu bagaimana, Kook"

"Omong-omong, aku mengharapkan prospek yang bagus berbisnis denganmu dan Hoseok-ssi."

"Begitupula denganku."

"Semoga kau tak mengacaukannya."

"Katakan itu pada Pimpinan Yang Baru Resmi Satu Hari, Kook. Kau jangan mengacau."

"Call"

Dua mantan kakak dan adik kelas ini meminum sedikit-sedikit soju diatas meja, mereka malas pulang dan suasana tempat ini begitu menenangkan, wanginya, cahaya redupnya, hangat suasanya. Jadi mereka betah berlama-lama disini. Jungkook pamit pergi ke kamar mandi untuk urusan pribadi. Dan saat itu Jimin terlihat sedang tiduran di lantai tatami, membuat kusut bagian belakang kemeja hitam lengan pendeknya sambil membalas beberapa mail di smart phone nya saat ini.

Jungkook sedikit mabuk berjalan cepat ke arah kamar mandi dengan sedikit buram. Saat kembali setelah mencuci mukanya, dia menemukan laki-laki dengan hakama hitam yang tadi dikenalnya duduk dipinggir kolam batu dekat ruangan yang tadi mereka pesan. Laki-laki itu tampak dari samping, garis rahangnya tajam dan mengesankan, bibirnya pink penuh yang terlihat berulang kali dijilat pemiliknya. Rambut cokelat susu itu agak berantakan namun bulu angsa yang menghiasi rambut berantakan itu malah makin memberikan ilusi kalau dia seperti malaikat yang baru jatuh dari langit. Mata tajamnya agak berkilat ditimpa sinar bulan, menatap kearah pintu ruangan mereka. Seperti ingin masuk tapi ragu-ragu. Jungkook mengeratkan blazer hitamnya, membenahkan kancing ketiga yang terbuka dari kemeja armaninya, walau leher Jungkook masih terekspos jelas karena dua kancing teratas kemeja abu-abu itu masih terbuka.

"Sepertinya ketimbang diluar, didalam lebih hangat, eh?." Sapa Jungkook. Laki-laki itu balas menatapnya pongah, dari ujung kepala Jungkook hingga kakinya. Dan dia baru ingat kalau orang didepannya ini rekan kerja Hoseok di ruang itu tadi.

"Iya, silahkan masuk kedalam kalau begitu."

"Kau juga harusnya juga masuk, tadi kau kan yang menemani kami."

"Kalian hanya tinggal berdua didalam sana?"

"Jadi tiga kalau kau masuk."

"Setelah ini.."

"Boleh aku tau siapa nama laki-laki cantik dihadapanku ini?." Kalimat itu lolos dari bibir Jungkook tanpa ia sadar betul. Iris arangnya mematri mata cokelat kemerahan lawan bicaranya. Penuh minat dan dengan senyum mengundang. Jungkook ikut duduk dekat sekali disinya.

"Uh? Kim.. Kim Taehyung. Kau?" Taehyung menarik kakinya naik untuk bersila. Laki-laki ini tampan kalau boleh Taehyung akui. Apakah mungkin dia tertarik padaku juga?.

"Kim Tae, bagus sekali."

"Terima kasih, kau belum jawab milikmu."

"Jeon Jungkook, boleh kapan kali kupanggil Tae? Taehyung?"

"Terserah, asal bukan manis atau apa itu yang gombal-gombal, itu membuatku agak geli." Taehyung bergidik dan memicingkan mata.

"Sebenarnya kau disini bekerja?"

"Tentu saja kau pikir untuk apa aku repot-repot sedari tadi."

"Tapi aku penasaran apa pekerjaanmu? Kenapa kau hanya duduk-duduk saja tadi."

"Aku yang membuatkan kalian teh kalau kau lupa."

"Hanya itu saja? Karena tempat ini agak aneh untukku."

"Intinya aku melayani disini."

"Apapun?"

"Apapun." Batin Taehyung agak terasa nyeri mengatakan itu. Orang yang dikenal bernama Jungkook pasti akan mulai menilainya berbeda.

"Seperti yang manis-manis didepan itu? Yang sama om-om?"

"Kau berminat? aku tidak manis lagipula, aku bisa bersikap panas dan nakal kalau om-om sepertimu meminta."

"Wow, ternyata kesana arah pembicaraan kita."

"Kau berminat om-Jungkook?"

"Yah sial, aku ini belum om, dan sepertinya umur kita tidak beda jauh."

"Kau berapa?" Taehyung bertanya, mulai agak santai dengan keberadaan laki-laki Jeon.

"Aku dua puluh lima, kau?"

"Aku Peterpan tak pernah beranjak tua dari umur. forever twenty one"

"Bohong sekali, Tae ini."

"Kau sepertinya harus menambahkan, hyung dibalik namaku bocah."

"Aku tak menyangka, dua puluh enam- atau tujuh?"

"Belakang tujuh."

"Tae-hyung, namamu terdengar sama saja kalau aku panggil dengan embel-embel hyung."

"Asal kau mengucapkannya dengan niat menghormati yang lebih tua."

"Aku suka teh buatanmu." Jungkook menyahut. "Lebih enak daripada mabuk karena soju."

"Kau orang kesekian yang bilang begitu, terima kasih omong-omong. Tapi biasanya aku akan benar-benar bekerja kalau orang yang kutemani mabuk karena soju atau alkohol, sih"

"Kau benar-benar begitu?"

"Iya, kau mau mencoba mabuk denganku?" Taehyung menarik Jungkook keluar dari taman menjauhi kolam batu. Menepuk sedikit debu di hakama hitamnya. Lalu berjalan dengan sandal beludru halus menapaki lorong kayu dan melewati ruangan mereka tadi. Jungkook agak menahannya, untuk menengok sekilas ke pintu ruangan itu yang sedang terbuka. Terlihat Jimin masih tiduran dan sedang bertelepon dengan seseorang lewat smart phone nya sambil sebelah tangan menyigar rambut tebalnya.

"Sebentar saja, hanya demonstrasi."

"Mau apa?"

"Aku suka memberikan demonstrasi untuk promosi."

"..." Jungkook menurut, diam mengikuti Taehyung yang berjalan didepannya, kedua tangannya masuk ke saku celana, mengamati tubuh Taehyung yang tinggi namun masih lebih kurus dari miliknya.

Taehyung berhenti tiba-tiba diujung lorong, dan Jungkook sengaja menabrakkan bagian depan tubuhnya ke punggung Taehyung saat laki-laki itu berhenti. Taehyung membalik Tubuhnya, wajah mereka sangat dekat, sebelah tangan naik ke bahu Jungkook untuk mendorong laki-laki itu dan sebelah tangan lain membuka pintu geser kamar diujung lorong itu.

Mata bereka berdua beradu dan terpatri tak lepas. Jungkook mengeluarkan kedua tangannya yang tadi tersimpan di saku celana hitam licinnya saat Taehyung menggerakkan tangan dari bahu ke dada bidang Jungkook. Kedua tangan Jungkook masih terulur jatuh menghadap tanah, walau mengantisipasi apa yang akan Taehyung ia sadar ujung kakinya sudah menabrak ranjang dengan bed cover putih bersih dan tebal.

Jungkook terlambat menyadari kalau karpet yang tergelar di ruang kamar itu berwarna merah tua dan begitu halus, terlambat menyadari kalau ternyata ruang kamar ini sangat menguarkan wangi mint menenangkan, terlambat menyadari kalau semua hiasan dan lukisan dalam ruang kamar ini begitu indah.

Tangan Taehyung keduanya naik bertenger di dada bidangnya, yang satu memainkan kancing kemeja Jungkook yang satu lagi seperti berusaha menarik blazernya.

"Lepas sendiri, bisa tidak."

"Aku akan senang melucuti semuanya kalau misalnya ini buka sekedar demonstrasi."

Taehyung menarik lepas ke belakang blazer Jungkook, aksinya membuatnya harus merapatkan diri ke tubuh direktur muda Jeon. Beberapa surai cokelat susu keemasan dan bulu angsa halus mengenai pipi Jungkook karena mereka terlalu dekat. Taehyung masih sadar kalau blazer Jungkook pasti berharga sangat mahal, terasa dari balik telapak tangannya yang menyentuk fabriknya. Jadi Taehyung meletakkan hati-hati blazer hitam itu disisi ranjang daripada membuangnya asal.

Tangan lebar Taehyung naik lagi ke dada Jungkook membagi hangatnya untuk menyentuh leher terekspos Jungkook seperti akan mencekik. Alih-alih mencekik, Taehyung mendorong Jungkook pelan untuk jatuh memantul diatas ranjang. Taehyung bergerak mengikuti lalu duduk diantara kaki Jungkook yang terbuka.

Jungkook menopang tubuh dengan sikunya, tersenyum nyaris tertawa dengan muka yang seksi menurut Taehyung. Kemeja Armani abu sialan itu mencetak jelas seperti apa pahatan tubuh bidang Jungkook. Laki-laki itu pasti cukup kuat untuk membantingnya dan membuatnya tak berdaya diatas ranjang. Memikirkan itu Taehyung ragu bilamana dia tak bisa berhenti.

Taehyung memulai tujuan awalnya, tubuhnya bergerak agak menggesek paha Jungkook, tangannya mengelusi perut dan leher Jungkook. Matanya cokelat berkilau merah lagi sepengetahuan mata Jungkook. Wajah mereka dekat sekali, dan Taehyung menjilat bibirnya sendiri tepat beberapa senti didepan bibir Jungkook, mengerling menyebalkan ke iris arang Jungkook untuk kemudian meniupkan nafas hangatnya dari mulut Taehyung ke bibir Jungkook. Nafas itu menerpa wajahnya, Jungkook mengenali aroma soju dan manisnya lemon menguar dari sana. Suhu ruangan tetap namun suhu badan Jungkook terangkat naik. Jungkook tersenyum miring kali ini merasakan jari-jari lebar Taehyung menyentuh pahanya.

"Kau boleh juga, Tae-hyung." Jungkook mati-matian menahan geraman karena Taehyung menatapnya dalam sambil jari sialnya itu masih menggerayangi pahanya.

"Baru segini."

Taehyung menjatuhkan sebelah kepalanya ke bahu Jungkook, masuk ke ceruk leher Jungkook yang menguarkan aroma maskulin untuk menggesekkan hidung mancungnya seperti kucing. Rambut dan hiasan bulu angsa itu bergerak mengenai pipi Jungkook yang harusnya terasa geli. Namun rasa geli itu terlupakan karena jari Taehyung sudah mulai naik membuka kunci sabuk dicelana Jungkook.

Jungkook tertawa serak dengan suara begitu rendah. Sikunya sudah mulai kebas. Dan saat setelah Taehyung selesai membuka sabuk dan memberikan usapan sekilas pada resleting celana Jungkook, Taehyung menghentikan semua gerakannya. Menekan tubuh Jungkook agar berbaring sempurna dengan Taehyung ada diatasnya. Nafas Taehyung ia hembuskan pelan-pelan menabrak leher Jungkook, Rambut Taehyung dibahu Jungkook semakin berantakan sekarang.

"Sudah demonstrasinya, nadimu berdetak kencang, aku bisa merasakan dengan hidungku."

"Nyaris sekali. Ini benar-benar teaser Tae."

"-Hyung. Dan untuk selanjutnya kau bisa bicarakan ini dengan Seokjin-hyung ku kalau kau berminat."

"Uhm, bagaimana ya." Jungkook mengatur nafasnya agar tak terdengar berat. Dia beringsut bangun saat Taehyung menyingkir dari tubuhnya.

"Terserah kau." Taehyung membalikkan tubuh, membenarkan rambutnya agar sedikit rapi di cermin besar yang berdiri berseberangan dengan ranjang. Dia dapat melihat Jungkook dibelangkangnya sedang memasang sabuk kembali.

Jungkook akui dia terkesan dan nyaris kehilangan kendali karena hormon kelelaki-lakiannya mengamuk minta dibebaskan. Tapi dia masih cukup gengsi karena Taehyung saja tiba-tiba berhenti dan seolah tak terlalu menginginkan melakukannya sekarang. Dia meraih blazer hitamnya dan menyampirkan di lengan tangannya. Ikut berdiri didepan cermin besar bersama Taehyung untuk merapikan dan mengancingkan kemejanya dengan benar walau kemeja itu sudah agak terlihat kusut. Mengasak surai hitam arangnya agar kembali terlihat natural, lalu tangannya terulur mengambil satu bulu angsa yang tersemat di telinga Taehyung.

"Lihat sini, kalau aku berminat aku harus tahu ke nomor mana aku harus menghubungimu."

Taehyung terkekeh antara geli dan sinis dengan mata tajam membalas tembakan tatapan Jungkook yang sedang usil memainkan bulu angsa itu di pipinya. Taehyung mengambil seenaknya smart phone Jungkook yang tadi dia sempat raba di paha kiri Jungkook. Mengetikkan satu kontak baru dan Jungkook tersenyum puas melihatnya.

.

.

.

.

Jungkook kembali ke ruangan dimana dia dan Jimin berada tadi, saat dia masuk dia lihat Jimin barusan selesai dengan teleponnya. Jimin posisinya sudah berubah agak berguling ke sudut ruangan dengan botol soju yang sudah habis disisinya.

"Kenapa senyum-senyum."

"Kau juga senyum-senyum, Jungkook."

"Kenapa beberapa kancing kemejamu terbuka mengerikan begitu, kau habis phone sex?"

"Kau dan mulut kurang ajarmu."

"Kelihatan seperti itu. Kau juga senyum-senyum sambil telepon"

"Aku agak kepanasan disini Kook-ah, soju ini enak. Kau kemana saja? Diare? Buang air besar? Ikut main om-om? Lama sekali."

"Aku barusan sedikit berkeliling, dan tempat ini menarik juga." Balas Jungkook asal.

"Yasudah, ayo pulang, aku butuh tidur, dan mataku akan semakin buram kalau aku disini dan minum terus juga. besok aku masih harus jadi Direktur dan mengemudi dengan selamat."

"Ayo pulang."

Jimin kemudian bangkit dan membenahkan kemeja hitam lengan pendeknya. Rambut tebalnya mencuat namum dia tetap terlihat tampan. Jungkook mendahuluinya, keluar ruangan. Jimin yang masih berkaca narsis membenarkan surai hitamnya dipantulan guci itu ditinggalkan begitu saja, sudah dibuat menunggu sekarang dia main tinggal-tinggal, batin Jimin.

Saat keluar ruangan tadi Jimin sudah agak rapi tidak terlalu seperti orang bangun tidur dengan rambut kemana-mana. Kemeja sudah dikancingkan juga. Bau parfum vanilla maskulin dari tubuhnya masih tersisa bersanding dengan aroma teh dan soju. Dia keluar ruangan untuk menabrak orang yang lebih kurus darinya. Jimin nyaris jantungan. Orang itu sangat dikenalnya. Kim Taehyung yang tadi mati-matian dia tahan untuk tak menyapanya saat masih ada Hoseok dan Jungkook.

"Sudah mau pulang?"

"Eh, hai.. seperti kelihatannya."

"Kita belum sempat mengobrol."

"Ini kita mengobrol." Balas Jimin dengan senyum sipit bodohnya, dia senang memiliki kesempatan bicara dengan Taehyung.

"Kau ini."

"Bagaimana ya, aku sebenarnya masih ingin disini. Tapi aku harus pulang."

"Karena besok bekerja?"

"Tentu saja."

"Kau kan bisa tidur disini."

"Kau temani?"

"Ayo saja, bilang Seokjin-hyung dulu."

"Hahaha, Taehyung."

"Jimin."

"Taehyung."

"Apa, Jimin bodoh?"

"Taehyung-ku?"

"Enak saja."

"Hahaha, aku harus pulang, aku khawatir tidak bisa tepat waktu besok."

"Aku tau kau akan kemari lagi, untuk kedua atau ketiga atau seterusnya."

"Tunggu saja, aku kangen."

"Untuk?"

"Kau buatkan teh, kau ajak mengobrol, kangen melihatmu."

"Ini kau melihatku." Taehyung terkekeh membalas jimin dengan gurauan.

"Sampai ketemu lagi, Taehyung."

"Hati-hati dijalan, Jimin." Taehyung tidak sampai mengantar Jimin kedepan pintu keluar, hal terakhir yang Jimin lakukan adalah mengambil satu bulu angsa hiasan di kepala Taehyung untuk disimpan dirinya. Memuji teh buatan Taehyung dan penampilannya malam ini. Dia suka, kata Jimin.

Jungkook sudah menyandarkan tubuhnya setelah bunyi debum pintu mobil yang ia tutup disisinya. Menyalakan mobil dan melirik gedung House Of Cards sambil bergantian mengusap layar smart phone nya. Senyum samar ia pasang. Dia mulai melajukan mobilnya pulang saat dia melihat Jimin keluar dari gedung itu sambil melambai bodoh ke dirinya. Meneriakkan terima kasih dan hati-hati dijalan. Keduanya pulang dengan tersenyum malam ini.

.

.

.

Dari : Hoseok-hyung

Pesan :

Missing you already, sleep tight my angel.

.

.

Dari : Taehyung

Pesan :

Hati-hati dijalan, hyung. Mampirlah lagi kalau sempat.

.

.

.

TBC


.

*pukul tangan*

Gue gatau lagi ini apaan AHAHAHAHA. Tae gebetannya banyak cogan Bangtan semua huhu *nangis* aku gatau cerita ini sesuai atau tidak dengan ekspektasi atau harapan kalian. Terima kasih sudah membaca. Dan sekali lagi ini Bot!Tae dan seterusnya begitu, kalo gasuka main pair KookV dan Slight pair yang lain tolong hengkang aja timbang sakit hati dan otp ship kalian bocor (?) gue ini suka banget bolak-balik pair kek nya sesuai mood kadang suka KookV kadang Vkook ya doyan MinYoon oke Yoonmin juga disikat klo mbaca fic *curhat*.

Kepanjangan (lagi) LOL 4,8K words man, Haaft cant help it.

Guys let me know bagian apa yang salah dan kurang srek buat kalian di review box ya, Hit me on Review box - Review are love - Aku bakal senang kalau kalian ninggalin feedback karena tulisan ini masih jauh dari sempurna *goleran di dadanya Namjoon pas MV Blood, Sweat & Tears*

Dan sorry banget kalo ada typos. Huhuhu

.

.

.

Selamat dan sukses buat kambeknya Bangtan Boys, ARMY-jjang! BTS-jjang. Kalian ruaaaaaar biasaaah, nembus cart lagu tertinggi di Melon, Naver, being currently the only K-pop group who reached 7 M youtube viewers on MV that release less than 24 hours. So proud! Kalian juga kalo bisa keep streaming ya biar mimpi indah berdarah-keringat-dan air mata bareng anak Bangtan :')

.

.

[ Sapa aku disini Tweet : sugarunning95]