Judul : Re Fire

Summary : Bahkan setelah menyelamatkan Dunia, pada akhirnya dia hanya di khianati. Menerima kehidupan kedua, pada awalnya Naruto tidak lagi berminat. Namun semua selesai saat mengetahui Wanita yang dia cintai juga hidup di Dunia itu. Membuatnya menerima kehidupan itu hanya untuk bertemu kembali dengannya.

Genre : Romance, Adventure

Warnig : Typo, Jumlah Word yang sedikit, Update yang tidak tertentu, dan beberapa kesalahan kecil lainnya.

Keterangan : Mengingat ini adalah Fanfic yang tidak memiliki konsep yang pasti, jumlah word tidak akan di tentukan kadang 1k,2k atau lebih. Tergantung ide yang ada saat penulisan.

Penjelasan singkat : Dalam Fic ini Yasaka tidak memiliki anak, jadi bagi kalian yang mengharapkan si kecil tolong buang jauh pekiran itu. dan Yasaka itu adalah Kyuubi di Dunia Naruto, jika tidak suka silahkan tekan tombol back. Ok


Q/A

Fahzi Luchifer : Tidak saya juga tidak menyukai Sakura.

Rodvek97 : Sepertinya akan begitu, di dalam Fic ini Naruto merupakan bekas Ne. Aku berencana memang membuat dia mempunya gaya berbicara yang formal dan kaku. tapi itu akan berubah sesuai jalan cerita.

xxxbbbb : Maaf untuk itu, pada saat pembuatan chapter 1 aku terbawa suasana, cukup sadar untuk mengubahnya namun entah kenapa ngk tega aja.

the ereaser : Kalo ngk suka ngk usah baca, situ baca gratis dan aku ngk di bayar utk nulis.

Thanatos-kun : Aku ada rencana buat sikap Naruto sangat formal nantinya mengingat dia dari Ne di fic ini. dan soal chap 1 emng sengaja begitu... terbawa suasana aku #lol.

Riki Ryugasaki : Maaf ini bukan hasil translate... aku akhir2 ini suka membaca novel2 wuxia cina. namun bukan berarti aku menyalinnya... pada saat membuat chap1 aku tidak menyalin dari sana, pada saat pembuatan aku hanya membayangkan semua adengan novel yang aku baca.


Sekedar saja, jika kalian tidak suka tidak usah baca Fic yang ini. Saya tidak suka di hina-hina dan kalian juga tidak suka. Sudah saya katakan jika tidak suka tekan tombol back mu... meski ini sangat aneh saya akan tetap melanjutkannya.

dan jangan hina saya, kamu tidak berhak... ini cerita saya, suka-suka saya mau bagaimana selama itu tidak melanggar aturan main.


Chapter 2 : Membuka mata pada Dunia baru.

Dan Naruto membuka matanya menangkap lingkup putih tak berujung dalam matanya. Hanya ada putih, tidak berdasar dan tidak berbatas ….. bahkan dalam keheningan tidak ada apapun di sini, hanya kekosongan, di dalam putih yang bersih. Dan hanya ada dirinya di sana.

Naruto diam, menunggu dalam keheningan yang sama. Ia hanya menutup mata, mencoba kembali mengambil kembali serpihan yang tersisa dari wanita itu sebelum benar-benar menghilang pada akhirnya. Berharap wanita itu masih ada di sana, berharap mimpi yang sama masih tersimpan rapat di dalam ingatannya.

Hingga waktu berlalu terlalu lama tanpa ia sadari. Sehari, seminggu, bulan, dan tahun berlalu begitu saja …. Berlalu dan berlalunya waktu tanpa ia bisa mengingat dan menghitung lagi.

Hingga, hingga terlalu lama. Pada akhirnya angin hangat berhembus pelan melewati dirinya. Membuat Naruto membuka mata, menyadari bahwa ia tidak sendiri lagi.

"Senang bertemu dengan mu, Uzumaki Naruto."

Naruto tidak membalas, mata yang memperhatikan sosok itu. seorang pria tua yang terlihat bijak sesuai usianya, jangot putih panjang yang seperti akan menyentuh lantai. Dan kepala yang botak seperti para biksu dengan pakaian pendeta milik pria tua itu yang lengkap.

"Siapa Anda?"

Pria itu tertawa seraya mengelus jangot panjangnya. "Bisa di kata bahwa saya adalah pelayan dari Tuhan nak."

Pria itu menatap pemuda di depannya, berharap akan reaksi yang berbalas. Namun, lama menungu, reaksi itu bahkan tidak perhan datang.

"Lakukanlah, eksekusi saya sekarang."

Dia tidak mengambil lebih. Naruto tidak mengenal pria itu, namun pada akhirnya semua akan terjadi. Ia menutup mata, setidaknya berterimakasih untuk di beri waktu dalam mengingat mimpi-mimpinya.

"Eksekusi?" nada pria tua itu terdengar tidak mengerti.

Namun Naruto masih menatap diam tidak peduli, dalam kenangannya ia masih mencoba sedikit saja memutar kenangan yang ada. "Bukankan anda ada di sini untuk melenyapkan saya, maka lakukanlah itu."

Pria tua itu terlihat bodoh untuk waktu yang sebentar seblum kembali tertawa. "Ho ho ho… tidak Uzumaki-kun, saya disini bukan untuk memusnakan mu atau apapun. Namun, disini, saya ingin memberi mu kesempatan. Ah~, tidak walau secara garis besar Tuhan lah yang ingin memberikan kamu kesempatan itu."

Naruto menatap semua itu tidak menari. Ia tersenyum pahit pada diri sendiri. Kesempata, bahkan ia tidak memiliki apapun yang ingin ia kejar ….. semua telah selesai dengan berakhirnya hidupnya di Dunia Shinobi.

"Terimakasih, tipa tidak. Saya tidak butuh kesempatan itu, semua sudah cukup. Saya hanya terlalu lama untuk menjadi lelah dengan semua itu. Biarkan saya hanya ingin menghilang, saya tidak ingin kehidupan yang lain. Pada akhirnya, saya tidak pernah mengharapkan itu lagian….."

Pria tua itu menatap pemuda di depannya dalam diam.

"Saya hanya ingin bersamanya Kyuubi. Saat dia menghilang dari kenyataan, saya juga hanya ingin menghilang dalam cara yang sama."

Suara itu penuh kepedihan yang dalam, pandangan itu. mata yang memohon untuk di musnakan dari keberadaan.

"Saya mengerti kamu akan berkata demikian Uzumaki-kun." Pria tua itu tersenyum, dan mengambil sesuatu dari robekan ruang di sana.

Tapi pandangan Naruto bergetar, saat menyaksikan itu, melihat roh itu. tidak mengenali apa dan siapa itu, namun perasaan di dalam dadanya berteriak padanya, emosi miliknya yang menjadi tidak stabil saat menatap roh itu.

"Tuhan melakukan kejaibannya lagi, DIA mengabil semua kesadaran mahluk itu dan mengubahnya menjadi roh yang hidup." Pria tua itu berujar pelan. "Dan dia akan pergi ke dunia yang sama dengan mu?"

"Tidakkah Kamu menginginkan hal itu, Uzumaki-kun?"

Namun naruto masih bergetar menatap, roh yang rapuh itu. tangan yang terjulur seraya berusaha mengampai namun hanya sebuah ilusi saat tubuhnya sendiri tidak bisa bergerak selama ini.

"Bukankah penyesalan mu hanya ada pada dirinya Uzumki-kun." Peria tua itu mengelus jenggotnya. "Bukankah kamu bersumpah jika ada kehidupan selanjutnya, kamu akan berada di sisi dirinya?"

"Mengapa?" mengapa seperti ini, apa yang ingin dipermaikan lagi.

"Saya, tidak tau apapun. Saya hanya seorang pelayan Uzumaki-kun." Pria tua itu masih tersenyum dengan cara yang sama. Kembali merobek ruang, membiarkan roh itu pergi dalam arus lembut bersama degan jutaan roh lainnya.

Naruto. Ada keinginan untuk menghentikan hal itu, ada keinginan untuk bersama lebih lama. Namun kesadaran pada akhirnya membentaknya. Membuatnya menahan melakukan semua itu.

"Tidakkan Anda ingin pergi. Pergi menuju Dunia yang sama dengannya?"

Menatap Pria tua itu, menatap dalam pandangan yang berbeda.

Jika harus, saya harus pergi!

Tidak peduli apapun saya harus pergi!

"Akankah dirimu, merima kehidupan kedua ini? Kesempatan ini?"

"Saya ingin pergi ke sana, saya harus pergi ke sana!"

"Benar, Uzumaki-kun." Pria tua itu mengangguk. "Benar, seharusnya memang seperti itu."

Dan cahaya bersinar terang mengalahkan semuanya. Sebuah sinar putih yang bahkan jauh lebih putih di bandingkan latar dunia yang ada.

0o0o0

Dan Naruto membuka mata saat menyadari dirinya telah berada di Dunia yang berbeda. Sebuah ruangan yang besar dengan aroma kayu yang lembut, semua tangis orang-orang yang bahagia… tubuh mereka yang besar, mengapai dirinya dan mengendongnya lembut.


Naruto tiba-tiba terbangun. Tangan kanannya secara naluriah menampar permukaan, berniat melompat bahkan sebelum matanya secara utuh terbuka. Dalam ingatannya tiba-tiba terlintas bayangan nyala api yang membakar semuanya sekaligus … merah yang menutupi langit dan merobek angkasa, sebuah tempat berbahaya dimana hidup dan mati dipertaruhakan. Dia harus segera pergi dari sini.

Namun itu adalah pikiran pertama yang datang pada kepalanya setelah terbangun. Itu adalah pikirannya sebagai manta shinobi bagaimanapun juga, di tambah melihat bayangan api yang menutupi langit. Tidak sulit baginya untuk mengambil niat sejenak.

Menyadari semua telah berlalu, dia tau tubuhnya mulai mengambang naik menuju udara akibat tindakan spontan tadi. Namun tiba-tiba tubuhnya merasa lemah, dan tidak mampu melakukan gerakkan apapun.

Bukh. Dan dia kembali jatuh.

Namun apa yang menyebabkan Naruto menjadi shok berat adalah kenyataan tidak ada permukaan kasar yang di rasa. Ini adalah sebuah sensasi lembut, seperti mendarat di atas bulu-bulu angsa.

'Apa yang terjadi?'

Kembali kepalanya terasa sakit sebelum menyadari bahwa dia benar-benar tidak lagi di Dunia Shinobi, tidak lagi di tempat putih tak terbatas, tidak lagi berada di dalam tempat manapun dalam ingatannya.

Namun ini ada sebuah kamar.

Menyentuh permukaan tempat tidur itu. dia berhenti dan mulai mengamati sekeliling, dia menemukan berada dalam sebuah kamar megah dengan hiasan mewah yang mencolok. Sebuah kamar yang amat sangat besar dengan jendela besar di sisi kanannya dan pintu di sisi yang lain.

Ada tiga lukisan besar terpaku di dinding tepat di depannya dirinyan sendiri.

'Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya saya beringkarnasi kembali.?'

Naruto kembali menutup mata, mencoba merasakan kondisi tubuhnya sendiri ….. mencoba mengambil tiap helai cakra dan menyebarkannya ke lingkungan luar. Sebuah kemampuan sensorik sederhana. Namun alis Naruto berkedut saat dia menyadari bahwa tubuh ini bahkan tidak memiliki cakra sama sekali.

"Raiser-sama, Anda ….. Anda baik-baik saja?" suara takut-takut mengintip dari balik pintu. Tampaknya sangat ketakutan oleh perbuatannya. Melirik sekilas dia melihat seorang gadis yang gemetar di balik pintu, seperti ingin menangis kapan saja.

'Ini bukan mimipi, dan ini bukan ilusi setidaknya diriku memang telah beringkarnasi.'

Naruto menggerakkan tubuhnya, mencoba bangun dari tempat tidur. Namun tiba-tiba pupil matanya melebar sejenak, sebua ingatan asing masuk mendrobrak dalam kesadarannya. Kenangan dan informasi kemudian melonjak ke dalam pikirannya. Naruto merasa seolah-olah kepalanya menjadi robek terpisah.

Dia ada di dalam tubuh orang lain? Tidakkah dia melakukan reengkarnasi … tunggu dulu, sepertinya ada kesalahan yang terjadi di sini. Mungkinkah itu karena dia tidak melakukan prosedur dengan benar dan lansung di lempar ke dunia ini. Tapi yang pasti sekarang ia benar-benar berakhir di dalam tubuh orang lain.

"Saya mengambil alih kendali tubuh ini, benarkah itu?

Lalu jika benar, kemana roh pemilik sejati tubuh ini?"

Naruto menatap dingin untuk waktu yang lama, diam tanpa melakukan gerakkan apapun. Dia masih mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi saat ini.

Saat pintu itu terdengar terbuka, gadis dengan surai hijau muda perlahan masuk kedalam dengan takut-takut …. Mencoba mendekatinya. "Keparat!"

Naruto berteriak.

Gadis kecil itu juga ikut berteriak dan jatuh sebelum mulai menangis.

Dan kembali jeritan mendadak terdengar, namun jeritan kali ini terdengar begitu celaka. Dan itu adalah jeritan Naruto sendiri. Dia kembali menjerit karena suara jeritannya sangat mirip dengan seorang gadis.

'Mungkinkah Little brother telah menghilang? Tidaaaaaakkkkkkkk!'

Mengabaikan fakta bahwa sekarang ada seorang gadis tepat di depannya, Naruto mengibas selimut dan mulai memasukan tangannya ke tempat yang seharusnya.

Dan saat menemukan bahwa itu sang little brother masih ada, ia mendesah legah. 'Syukur, tuhan tidak benar-benar menganiaya saya.'

Dan seketika dia merasakan sakit di kepala.

"Eh!?" pemuda itu tersadar sejenak dan mulai memperhatikan gadis itu masih menangis di sana, melihat dengan dingin ….. kembali ingatan asing memasuki pikirannya. Mulut mulai terbuka, meski ragu dia memang harus mencoba. "Nel, apa yang terjadi pada An-mu?" Tersadar Naruto dengan cepat megubah gaya bicaranya.

"Uhh uhh…." Namun gadis itu tidak membalas, masih setia dengan tangisannya.

Naruto menghela nafas namun tidak mengambil tindakkan apa-apa untuk itu. kembali menutup mata, dia mencoba membaca setiap ingatan baru yang masuk ke dalam kepalanya.

Dia di sini adalah sebagai Raiser Phenex. Satu dari clan yang berdirih kokoh di tanah Underworld, selain itu ada banyak ingatan yang masuk seketika. Seperti Great War, Sacred Gear, Iblis, Malaikat, Malaikat jatuh dan lain-lain.

Ah ….. dan juga sebuah nama yang paling banyak di ingat oleh pemilik tubuh ini sebelumnya. Rias Gremory.

Namun sungguh tidak pernah dalam pemikiran terliarnya untuk berengkarnasi sebagai Iblis.


Menatap cermin raksasa di depannya. Naruto melihat wajah muda dan agak cantik di sana, wajah itu terlihat sedikit indah dengan bibir tipis, dan alis yang miring sempurna yang member perasaan tajam pada pandangan sekilas. Dan menatap bola mata itu, itu bahkan jauh lebih terang dan jernih di banding milik mantan tubuhnya dahulu. Meski mereka sama berwarna biru, itu tidak biru kusam mili Naruto, itu adalah mata biru yang indah.

"Apa yang harus di katakana, untuk penampilan tubuh ini sendiri harus di akui bahwa itu …. Ehh, tampan. Tapi bagaimanapun, mengapa saya merasa dia lebih condong ke arah sebuah kecantikan di banding terlihat maskulin."

Naruto mendesah, melihat penampilannya yang hampir seperti banci.

Kembali mengenang mantan tubuhnya terdahulu, meski memiliki warna rambut dan mata yang sama. Tapi itu jelas terlihat sangat berbeda, tatapannya dan segala yang ada pada dirinya dahulu member nuansa gelap bagi siapapun. Mata birunya dulu terkenal sebagai kedinginan yang menusuk musuhnya hingga ke jiwa.

Tapi melihat tubuhnya sekarang, bagaimana bisa itu mendarat mengantikan jiwa seorang banci?

"Raiser-sama, Raiser-sama…." Seperti saat pemikirannya masih melayang soal penampilannya, sebuah suara kecil keluar bersamaan dengan ujung baru miliknya yang di tarik pelan.

"uh.." Naruto mengalihkan dan menatap gadis itu, lama. Memejamkan mata, mencoba kembali mengingat nama gadis itu. "Nel…" meski terdengar ragu, dia mencoba mengucapkan senormal mungkin.

"Raiser-sama, untuk kesalahan ini tolong jangan menghukum lle." Gadis itu masih bergetar, seperti menahan takut. "Nel, Nel bersedia menerima hukuman itu sebagai gantinya."

Naruto masih menatap diam, dia melihat gadis itu sekilas sebelum pandangannya berpindah pada sosok lain yang berada tepat di balik pintu. Naruto merasakan tiba-tiba kepalanya kembali menjadi sakit.

"Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu di salahkan." Naruto bergetar sejenak sebelum mulai kembali naik ke tempat tidur. Dia menatap gadis itu sejenak, sebelum tersenyum tipis.

"Terimakasih Raiser-sama, terimakasih." Nel, Gadis itu terlihat membungkuk sebelum berlari bahagia meninggalkan kamarnya.

Di ujung sana, Naruto bisa melihat kembarannya menanti dengan harap.

Melihat tawa mereka, Naruto mulai mencoba menutup mata.

Apa yang sebearnya terjadi, ia akan memikirkannya nanti.


Pojok Author.

Bidak-bidak Iblis Raiser (Naruto)

Raiser Phenex (Naruto) = King

Xuelan = Banteng

Ravel Phenex = Mentri

Marion = Pion

Nel = Pion

IIe = Pion