Disclaimer : Masashi Kishimoto-sama
Tittle : My Little Naru
MainCast : NaruSaku
Author : San Yumaru
.
.
.
Happy Reading
.
.
Cerita sebelumnya
"Permisi Nee-san, aku ingin pu-"
"Ingin lari kemana lagi kamu bocah nakal!" Tiba tiba seorang wanita menghampiri Sakura dan Naruto. "Pulang! Dasar- eh Sakura?" Tanya gadis itu tiba tiba.
Sakurapun langsung melirik, "Ino?" Jawabnya
Dahi gadis berambut pirang itu langsung mengerut "Kenapa kau ada disini?"
"Aku akan kembali tingal disini"
"Benarkah? Aku sangat senang mendengar itu, tapi aku punya urusan lain saat ini" Mata itu kembali tertuju pada bocah pirang yang masih berada digenggaman Sakura. "Aku lelah mengejarmu, sebaiknya kita pulang. Ayo, Naruto-nii"
"Tu-tunggu! Bocah ini, Naruto?"
.
.
Sakura Prov
Suasana menjadi sangat hening.. Mendengar perkataan Ino tadi sungguh membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Ini seperti mustahil, tapi telingaku masih sehat dan pendengaranku masih baik. Aku sangat tidak habis fikir.
"Etto.. Kau barusan bilang apa, Sakura" Tanya Ino, wajahnya terlihat sangat bingung sekali. Kenapa dia memasang wajah seperti itu, seharusnya aku yang memasang wajah kebingungan.
Tenggorokanku terasa beku, sangat sulit sekali menjawab pertanyaan Ino. Dadaku berdesir, deru nafasku terasa lebih cepat dari biasanya. "Kau bilang anak ini, Naruto-nii? Kau serius?" Beberapa kali aku meneguk ludah. Arah pandanganku terus saja menatap dua orang yang ada di hadapanku ini.
"Kau gila ya, kau pasti mengigau hahaha" Tawa Ino, lalu tangannya segera menuntun 'Naruto' kecil mendekat kearahnya. "Sudah lama kau meninggalkan kota ini, pasti otakmu sudah gila terbawa gilanya hidup di Tokyo. Mana mungkin ini Naruto-nii, kau ini ada ada saja" Lanjutnya sambil terus tertawa. Sedangkan otakku masih berfikir keras, aku belum tuli, sialan.
"Lalu kenapa tadi kamu memanggilnya Naruto-nii?" Tanyaku balik, membuat tawanya itu terhenti .
Untuk sesaat Ino menatap 'Naruto' kecil, lalu pandangannya kembali kearahku. "Kau salah dengar, aku bilang Naruko bukan Naruto. Tadi aku ingin bilang, aku lelah mengejarmu sebaiknya kita pulang Naruko, Nee-san sudah siapkan makan malam. Itu yang ingin aku ucapkan. Mungkin Tokyo terlalu bising, makannya kau jadi tuli"
"Kau, Naruko?" Tanyaku, dan anak kecil itupun mengangguk. "Apakah dia anak Narut-"
"Dia adikku" Sontak Ino langsung memotong pertanyaanku. "Kau benar benar sudah gila, mana mungkin Naruto-nii sudah punya anak sebesar ini" Lanjutnya.
"Adikmu ya.. Benar benar mirip dengan Naruto-nii. Lalu Naruto-nii dimana?"
"Kau merindukannya ya~"
Blush! Wajahku langsung memerah. Sial, kenapa Ino mengejeku seperti itu sih. Tapi memangnya kalau memang aku rindu kenapa? Itu juga bukan urusannya.
Ino mendekat padaku, "Benarkan kau merindukannya hmm?" Ejeknya lagi sambil menggoyang goyangkan bahuku. Siall, ingin sekali aku cakar wajahnya itu. Baru bertemu lagi tapi dia sudah menyebalkan seperti ini, dasar pig.
"Ino-nee, aku mau pulang.. Lututku sakit" Rengkek anak yang bernama Naruko itu.
"Iya iya" Jawab Ino cepat. "Neee, Sakura, aku akan mengunjungimu malam nanti. Aku ingin cerita dan menanyakan banyak hal. Untuk sore ini aku pulang dulu ya, anak nakal ini harus diurus hehe" Lanjutnya.
"Ahh, baiklah" Aku kembali memalingkan pandanganku ke arah Naruko. Benar juga, tidak mungkin dia itu Naruto, mungkin aku sudah sinting. Tapi memang sangat mirip sih, tak salah juga kalau aku mengira anak itu adalah Naruto-nii.
"Jaaaa, Sakura-chan!" Tangan Ino melambai, sedangkan Naruko hanya memandangiku dengan wajah merengut. Mungkin dia dendam padaku karena telah membuat kakinya terluka. Tapi dia lucu juga, berapa ya umurnya? 7 atau 8 tahun? Serasa melihat Naruto mini hihi.
Kruyukkkkk~
Sialan..
End Sakura Prov
"Kau, bodoh"
Gumaman itu terdengar begitu dingin dan menusuk, siapapun yang tau alasannya akan merasakan kalau perkataan itu punya makna yang cukup dalam. Seorang bocah berambut pirang jingkrak hanya terdiam di atas tempat tidurnya, sambil terus melempar pandangannya keluar jendela. Mata birunya terlihat kosong, menatap langit yang semula berwarna jingga mulai berubah menjadi gelapnya malam. Sejak Ino mengobati lukanya tadi, dia tiba tiba jadi dingin.
Ino meremas rok yang ia kenakan. Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan dia, entah kenapa Aniki-nya ini tiba tiba pergi keluar rumah. Tidak biasanya dia begitu, jadi Ino fikir kalau Aniki-nya ini punya masalah.
"Gomennesai, Naruto-nii" Ucapnya, namun tidak ada respon dari sang pemilik nama. "Kau menghawatirkanmu, gomenne" Ucapnya lagi penuh dengan penyesalan.
Naruto memandang wajah Ino yang terlihat lesu, dunia seperti tidak adil untuknya. Sangat amat tidak adil.
"Seharusnya kau tidak perlu berbohong, bilang saja kalau benar itu aku. Aku memang tidak tumbuh sepertimu dan yang lainnya. Aku yang terlihat seperti bocah ini, taka pa jika semua orang tau, aku tidak malu sama sekali" Naruto sangat tidak suka jika Ino mulai berbohong tentang dirinya yang memang tidak normal ini, kalau memang kondisinya seperti ini kenapa harus disembunyikan.
Ino terus menatap wajah Aniki mungilnya ini, dia tau Naruto tidak tumbuh seperti yang lain dan dia tidak ingin Naruto malu tapi pemikirannya ini berbanding tebalik dengan Naruto yang santai-santai saja bila orang mengetahui kondisinya ini. Umurnya sudah menginjak 21, tapi tubuhnya seperti anak 8 tahun. Pertumbuhan Naturo terhenti saat berumur 7 tahun, dan dia tidak pernah berubah sejengkalpun sejak saat itu.
Tuk!
Lemparang kacang pistasio baru saja mampir mengenai kepala Ino. Siapa lagi yang melakukannya, pasti Naruto-nii.
"Sudahlah tidak perlu merasa bersalah lagi. Aku tidak sedih, aku malah senang aku tidak pernah tumbuh dewasa. Bukankah kita harus mensyukuri apapun yang terjadi"
Kata kata itu berhasil membuat Ino menelan ludah. "Kenapa Naruto-nii merasa senang?" Tanya Ino, bisa terlihat beberapa kerutan di dahinya kini menumpuk.
Naruto mengalihkan pandanganya kembali keluar jendela, helaan nafas terdengar beberapa kali. "Karena aku masih bisa melakukan apa yang orang dewasa tidak mungkin lakukan lagi," Ia kembali menghela nafasnya, kemudian melanjutkan perkataannya tadi. "Dan aku, aku masih bisa….. Modus dengan Onee-chan, Onee-chan cantik dengan pura pura hilang hahahah!"
Tawanya begitu menggelegar, membuat siku segi empat langsung terpatri di dahi Ino. "Dasar baka Aniki!" Tukasnya, lalu menyerang Naruto yang berada di atas tempat tidunya. Beberapa kali dia hantamkan bantal ke tubuh mungil Naruto itu, sedangkan Naruto terus berusaha menghindar dari amukan Ino.
"Bukan salahku, aku ini masih imut! Tidak bertambah tua seperti dirimu! Lihat wajahmu sudah semakin keriput saja. Kau terlihat lebih tua dari umurmu hahahah!" Ejek Naruto lagi, lalu ia langsung berlari mendekati pintu untuk segera kabur.
"Dasar nenek sihir tua, wleee!"
"Dasar mahluk pendek sialan! Pergi kau jauh jauh! Aku tidak akan mengkhawatirkanmu la-" Perkataan Ino langsung saja tercekat, melihat Naruto yang merunduk dan dengan wajah yang terlihat sedih. "Kata kataku kasar ya, Naruto-nii? Gomen, aku tidak sengaja" Lanjutnya. Hatinya selalu terenyuh ketika melihat Naruto memasang wajah yang sedemikian sedihnya.
Naruto mengepal tangannya kuat, pandangannya masih tertuju pada ubin. "Kau tau, Ino. Perkataanmu tadi itu, sungguh benar benar sangat.. MEMPERLIHATKAN KALAU BENAR KAU ITU NENEK SIHIR TUA HAHAHA! MIRIP VALAK TAU"
'Sialan bocah tengik ini, selalu mengandalkan wajahnya yang imut imut untuk terus membodohiku. Mati, kau akan mati ditanganku dasar cebol'
"Hyyyaaaaaaaaaa! Serangkan hyper booster!"
"Tolongg ada ada valak, tolongg!"
Jadilah mereka kini berlari lari mengitari kamar, mereka berdua memang sering bertingkah seperti ini. Selalu saja bercanda dan bermain. Ino serasa memililiki adik sekaligus kakak. Benar saja, Naruto memang tidak berubah sedikitpun, dia masih sama seperti sebelas tahun lalu. Kulitnya pun seperti kulit anak-anak, tidak bertambah tua. Dia masih mudah terkena flu, tubuhnya akan memar jika terbentur sedikit saja. Walaupun Naruto sudah memasuki tahap kedewasaan, namun ia tetap menikmati nasibnya sebagai anak kecil. Tak perduli jika dia putus sekolah, Naruto hanya lulus SMA itupun berkat home schooling. Ka-chan dan Tou-san-nya tidak mau menyekolahkan Naruto di sekolah umum, bukan karena mereka malu tapi karena tidak ada yang percaya bahwa anak sulung mereka ini lebih tua dari kelihatannya.
Kadang Ino sedih melihat kondisi Naruto saat ini, Ino merasa kasihan pada Aniki-nya karena tidak bisa merasakan pria seumurannya itu. Sehari hari Naruto hanya membantu kedai milik keluarganya, dia jarang sekali keluar dari rumah. Bagaimana mencari obatnya, agar Naruto bisa tumbuh layaknya orang normal.
"Oyasumi, Naru-kun, Ino-chan" Suara dari celah pintu itu segera menghentikan 'aktivitas' Ino, dan Naruto. Padahal ini lagi seru-serunya, Naruto baru saja akan melancarkan serangan hydro dynamic.
Seorang wanita berparas cantik muncul dari pintu itu, yang entah kenapa membuat pipi chuby Naruto menggembung sebal.
"Hari ini kau selamat valak! Akan aku urus kau nanti" Tukas Naruto sambil melipat tangannya di atas dada. "Oka-chan, kita makan malam apa hari ini?"
Wanita itu mendekat mendekati ranjang Naruto, lalu mengangkat tubuh Naruto untuk duduk dipangkuannya. "Ahh, aku memiliki bayi abadi. Nah, bayi abadiku Naru, kita akan makan gulai rebung dan ebifurai. Ka-chan tidak masak banyak karena Tou-san akan pulang telat malam ini" Jawabnya pada Naruto.
"Ano, Ka-chan, kau tau Sakura sudah kembali kesini lagi" Ino membuka pembicaraan ketika suasana mulai hening.
"Benarkah? Cepat bawa dia kesini, Ka-chan penasaran seperti apa parasnya ketika sudah dewasa" Balas Kushina yang terlihat penasaran. Pandangannya kembali pada Naruto, "Kau sudah bertemu denganya Naru?"
Ino segera menyela, "Bukan hanya bertemu tapi Naru-chan menabraknya hahaha. Ka-chan tau, padahal dulu Naru lebih tinggi dari Sakura tapi sekarang Naru Cuma setinggi kakinya saja" Senangnya Ino bisa membalas ejekan sekaligus membuat wajah Naruto memerah. Kapan lagi ada pukulan keras untuk Aniki kecilnya itu.
"Ka-chan, aku mengantuk. Mataku sudah sagat berat" Gumam Naruto sambil mengusap kelopak matanya dengan punggung tangan.
Kushina berdiri dari duduknya, menggendong Naruto lalu meletakannya di atas ranjang. "Kalau begitu kau harus istirahat, jaga kondisimu ya Naru" Lalu Kushina mengecup dahi Naruto yang setengah memejamkan matanya.
Mata Kushina memandang wajah damai putra sulungnya itu, kadang ia sangat sedih melihat Naruto yang tetap tegar dengan kondisi anehnya ini. Naruto tidak pernah mengeluh sedikitpun, dia tidak pernah menunjukan sikap kalau dia benci kondisinya, tapi disitulah yang membuat Kushina bertanya-tanya, apa anaknya itu baik-baik saja? Pertumbuhannya tidak normal, kondisi kesehatannya pun berubah ubah. Kushina sangat terharu dengan ketegaran anaknya ini.
"Dia unik" Tak sadar gumaman itu keluar dari bibir Kushina, air matanya mulai membendung mengingat kondisi kesehatan Naruto makin tidak menentu.
Ino merangkul tubuh Ka-chan-nya itu dengan hangat, "Naru-nii akan baik-baik sana, Ka-chan. Naruto-nii adalah pria kuat, Ka-chan tidak perlu mengkhawatirkannya" Ucap Ino, berharap perkataannya itu bisa menangkan Kushina.
"Sebaiknya kau makan malam, Ino" Ujar Kushina, hatinya sudah merasa lebih tenang sekarang.
"Ahh, aku ingin mengunjungi Sakura dulu Ka-chan, aku sudah ada janji dengan Hinata. Mungkin aku bisa membawa makanan itu kerumah Sakura, kalau dibiarkan siapa yang akan memakannya" Jawab Ino.
"Baiklah kalau begitu. Jangan pulang terlalu terlalu larut ya" Kushina menatap wajah anaknya, lelu kemudian tersenyum simpul. "Dan bilang pada Sakura untuk berkunjung kesini" Lanjutnyayang segera dijawab dengan anggukan dari Ino.
================= My Little Naru ==================
Tingg..
Suara bel terdengar beradu. Seorang gadis tehenti di tengah pintu masuk sebuah kedai ramen, matanya menyapu keadaan sekitar sebelum akhirnya masuk kedalam.
"Selamat datang di kedai Ichiraku! Mau pesan apa?" Suara khas para pelayan ketika ada pelanggan yang masuk. Kedai ramen Ichiraku memang terkenal sebagai kedai yang sangat nyaman.
Gadis yang baru saja masuk itu segera tersenyum, "Ano, aku ingin bertemu dengan Ino" Ujarnya.
"Ohh Ino-chan, dia sedang halaman belakang mungkin nanti bisa dipanggikan" Jawab sang koki, yang tak lain adalah Ichiraku-jisan. "Wajahmu terlihat sangat familiar, tapi siapa ya aku lupa. Apakah kau pernah berkunjung kemari?" Tanya Ichiraku.
"Aku Sakura, aku sering main disini sewaktu kecil"
Ichiraku terlihat sedang mengingat ngingat memorinya yang sudah tumpul itu. "Ahh, ya, kamu itu anak yang diselamatkan dari hujan oleh Naru" Ingatnya, membuat rona wajah Sakura memerah. Entah kenapa jika dia ingat kejadian itu Sakura selalu merasa malu.
"Iya Ji-san. Ohya Naruto-nii sekarang ada dimana?" Tanya Sakura dengan matanya yag berbinar. Siapa tahu saja Naruto ada disini.
"Itu," Kepala Ichiraku mendengut kea rah seorang bocah yang sedang mengangkat beberapa mangkuk ramen. "Sudah aku katakana berjuta juta kali untuk tidak membantu tapi Naru tidak pernah mendengar, dasar anak itu" Gumamnya sambil terus mengaduk kaldu yang sedang ia masak.
Sakura merasa telinganya tuli lagi, apakah dia selalu salah dengar ketika orang menyebutkan kalimat yang mirip dengan nama Naruto? Tapi kali ini Sakura akan membuktikan kalau dia itu tidak tuli, pendengarannya masih sehat, hanya hatinya saja yang sakit hehe.
Sakura mulai mendekati Naruto yang masih sibuk naik ke meja untuk mengambil beberapa mangkuk, badannya yang pendek tidak mungkin menggapainya dari bawah. Ada rasa ragu untuk menyapa bocah itu, bulu kuduknya saja sampai merinding.
"Naruto?" Panggilnya pelan, tangannya ingin menggapai bocah itu namun Sakura mengurungkannya.
"Neee, iya sebentar lagi. Selesai ini aku akan meminum obatku" Jawab Naruto tanpa menoleh, membuat Sakura menggigit bibir bawahnya.
Sakura menarik nafas dalam, "N-naruto-nii" Panggilnya lagi, namun sang pemilik nama hanya memberikan jawaban yang sama. Sakura sedikit gemas, sebentar saja menoleh apa susahnya? Akhirnya tanpa ragu Sakura menepuk pundak Naruto, membuat badan Naruto berbalik karenanya.
"Nee aku bilang kan se-" Mata Naruto membulat melihat siapa yang ada dihadapannya. "H-h-haruno-san" Ringisnya.
"Kau Naruto-nii? Kau bukan Naruko?" Tanya Sakura yang mulai gemas.
Wajah kikuk segera saja menyambangi wajah Naruto. "Begitulah, aku memang Naruto. Maaf kemarin aku berbohong, sekali lagi maaf ya" Jawab Naruto sambil menggaruk tengkuknya.
Sakura tertegun, ini seperti tidak nyata. Apa dia sedang bermimpi? Apa ini hanya halusinasi? Ini mengerikan, benar benar mengerikan, dia pasti sudah gila. Sangat amat gila karena mengira anak ini adalah Naruto.
"Kau kaget ya?" Pertanyaan Naruto segera membuyarkan lamunannya. "Haha, sudah tidak perlu kaget aku tidak akan mengigi- waaaaa!"
Grep!
"Hati-hati!" Seru Sakura yang langsung menagkap tubuh Naruto. Mejanya tidak seimbang, mungkin mur nya kendur hingga membuat tubuh Naruto hampir terjatuh.
Tubuh Naruto terasa hangat, benar benar seperti memeluk anak kecil.. Bahkan aroma tubuh yang pernah ia cium ketika kecil masih sama. Hatinya berdesir, terasa sedikit ngilu saat mendekap tubuh mungil Naruto. Tapi sekarang seolah rasa rindunya terbayar sudah, ini yang ia mau, memeluk tubuh Naruto walau dengan tubuh yang seperti ini. Walaupun ini gurauan, tapi setidaknya orang yang ia peluk adalah orang yang mirip dengan Naruto. Sejak dulu, ia ingin sekali melakukan ini.
Naruto meneguk ludah berat, "Arigatou, Haruno-san. Untung saja hehe"
Gadis ini, semua gadis telah tumbuh dewasa, dan semua gadis yang sudah dewasa itu sungguh menyenangkan. Kenapa Naruto sangat menikmati perannya sebagai anak-anak, itu karena gadis gadis tidak akan segan untuk menggendong dan meletakan Naruto ke dekat..ahh sudahlah. Intinya Naruto sangat nyaman dengan sesuatu yang lembut ini.
"Ah,i-iya sama sama" Sakura segera saja menurunkan Naruto, memandang wajah bocah itu membuat wajah Sakura memerah. Lalu pertanyaan awal kembali mencuat di otak Sakura. "Apa kau benar Naruto-nii?"
"Benar, aku Naruto" Jawab Naruto cepat.
Dada Sakura terasa berdenyut, "Kenapa bisa? Maksudku, kenapa bisa tubuhmu masih kecil seperti ini? Kamu tidak bohong kan? Ini tidak masuk akal" Semua pertanyaan itu begitu saja keluar dari bibir Sakura, menurutnya ini sangat tidak masuk akal.
Kepala Naruto mendongak ke langit-langit, tangannya terlipat kebelakang. "Aku, terkena penyakit langka dimana sel tubuhku tidak bisa berkembang dan tidak bertambah tua sehingga aku tidak bisa tumbuh seperti orang normal lainnya. Sel dalam tubuhku setiap hari mengalami pembaharuan yang tidak meregenerasi bertambah tua ataupun muda, intinya sel jaringan dalam tubuhku ini masih sel anak-anak. Itu sebabnya aku seperti ini. Seperti kutukan bukan?" Jelas Naruto singkat. Naruto memandang wajah Sakura yang kini sudah jauh lebih tinggi darinya. Sakura sudah menjadi gadis remaja, bukan anak kecil seperti yang dulu dia kenal.
"A-aku tidak percaya, sungguh tidak percaya" Ini merupakan hal aneh yang membuat Sakura benar benar terkejut. Sepengetahuannya orang hanya menjadi kerdil, tapi untuk kasus Naruto dia tidak hanya bertubuh kerdil namun wajahnya tidak menua sedikitpun.
"Anggap saja ini seperti dongeng, biar Haruno-san bisa percaya" Senyum simpul tergambar di wajah Naruto. "Aku tau pasti aneh, tapi mau bagaimana lagi? Setidaknya, aku masih Naruto yang Haruno-san kenal waktu kecil. Lucu bukan jika orang yang kau kenal semasa kecilmu tidak berubah sama sekali?" Ujar Naruto berusaha mencairkan suasa, ia tau pasti Sakura tidak akan begitu saja mempercayai ucapannya.
Percaya tidak percaya tetap saja sangat janggal, ia tidak bisa percaya semuanya. Tidak mungkin, Sakura seperti tidak bisa mempercayai apa yang ada dihadapannya saat ini. Matanya kini mulai memanas, entah kenapa Sakura ingin menangis mendengar penjelasan Naruto tadi.
"Jika kau tidak percaya, maka anggap aku orang lain. Anggap aku Naruto yang tidak pernah kau kenal. Tak masalah jika kamu mengganti namaku untukmu, agar Haruno-san tidak merasa dibohongi. Mau berkenalan lagi?" Naruto menyodorkan tangannya kea rah Sakura, berharap Sakura tidak lagi bingung dan menganggap ini hal yang biasa.
Namun itu malah membuat mata emerald Sakura semakin memanas, ia menjauhkan diri dari Naruto beberapa langkah. Air matanya sudah menyeruak keluar, dan satu persatu menetes keluar. Memandang wajah Naruto hanya membuat dadanya semakin berdenyut.
"Kenapa Haruno-san menangis? Naru terlalu aneh ya?"
Itu..
Sakura berbalik, lalu meninggalkan Naruto yang masih terlihat bingung. Dia berjalan cepat meninggalkan kedai dengan air mata yang terus keluar. Kedengarannya hal sepele dia tidak perlu begini, tapi dia benar benar tidak tau kenapa perasaannya menjadi seperti ini. Sakura harap perilakunya ini tidak menyakiti Naruto, atau entah dia itu siapa. Yang sekarang Sakura butuhkan adalah mencari cara dan berfikir agar semua ini masuk akal.
TO BE CONTINUE
Wahh makin aneh ya-_- Gomen kalau buat kecewa hinks… Maafkan author tua ini huhu T^T. Untuk reviewnya terimakasih banyakkk yeayyy! Semoga tidak mengecewakan para reader semuaa T_T
Agak melenceng : Untuk FF yang berjudul Yakuza son, author sudah kembali setelah 4 tahum mempending cerita itu. Nanti author bakalan lanjutin ko, janji, janjiii
Jaaaaa! Sampat jumpa next chap yaaa semoga tidak membosankan!
