Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
MARRIED AS A FOLLY © Kim Geun Hyun
Inspirated By K-Drama, Secret Garden
Warning: AU, Typo(s), Misstypo(s), OOC
'...' talking via phone
.
.
.
행복한독서
Haengboghan Dogseo! ^^
Selamat membaca! ^^
.
.
.
Chapter 2: Stunt Women
Udara terasa semakin menusuk kulit kala gadis berambut merah muda ini membuka pintu apartemen kecilnya. Ia segera turun dari apartemen dan berjalan terburu-buru menuju suatu tempat. Tempat yang selama ini menjadi labuhan hatinya dikala ia sedang sedih maupun senang. Tempat yang dengan senang hati akan menerima kehadirannya meskipun di sana kebanyakan dihadiri oleh laki-laki.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh dengan jalan kaki, akhirnya gadis ini sampai di sekolah akting untuk pemeran pengganti di film-film action. Ia tersenyum melihat antrian yang begitu panjang di depan sekolah itu. Kebanyakan dan malah hampir semua yang mengantri adalah laki-laki, mungkin hanya ada dia satu-satunya perempuan di sana.
Cewek yang memakai jaket berwarna senada dengan rambutnya ini segera masuk ke dalam gedung sekolah. Sambutan hangat langsung ia terima dari teman-temannya yang sudah ada di dalam gedung. Atmosfir dingin yang ia rasakan kini telah berubah.
"Senpai, ada berapa orang yang mengikuti audisi hari ini?" tanyanya pada salah satu pria yang duduk di depan meja panjang. Wajah pria ini tampan dengan rambut peraknya.
"Ya lumayan, lebih banyak dibanding tahun lalu. Sepertinya kau akan sibuk tahun ini karena kau yang ditunjuk sebagai salah satu pelatih tetap mereka," sahutnya dengan senyum yang menampilkan gigi-giginya yang tajam.
"Benarkah Sui-senpai?" tanya gadis itu memekik gembira. Yang dipanggil Sui-senpai hanya mengangguk. "kalau begitu aku akan menemui direktur dulu!" serunya dan berlari menaiki tangga menuju kantor sang direktur.
Suigetsu hanya geleng-geleng kepala dan menyuruh kohai-nya yang lain untuk memersiapkan matras dan peralatan lainnya untuk peserta audisi.
.
.
.
Sasuke sedang duduk-duduk santai di kursi yang menghadap langsung ke kolam yang ada di halaman belakang mansion -nya. Ia memakai kacamata cokelat dan merentangkan kakinya di bangku santai yang seperti di pantai-pantai itu.
Sasuke memandang langit cerah di atas sana sambil membayangkan wajah Sakura. Ia menghembuskan napasnya pelan dan menoleh ke samping di mana ada satu lagi kursi santai di sana. Sasuke menautkan alisnya karena ada sosok Sakura di sana yang juga sedang memandang langit dengan menyenderkan tubuhnya di kursi sambil meluruskan kakinya.
Sasuke membuka kacamata cokelatnya dan memandang Sakura yang memakai baju cleaning service di kantornya. Ia melihat Sakura menoleh dan memandangnya dengan wajah polos. Sasuke kembali memandang lurus ke depan kemudian bangkit berdiri. Sakura pun ikut berdiri dan mengikuti Sasuke yang berjalan di halaman mansion-nya yang luas.
Sasuke berjalan dengan santai di atas rumput yang banyak sekali daun kering berguguran. Sakura berjalan di sampingnya. Sasuke memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, Sakura pun melakukan hal yang sama. Jika di lihat mereka berdua ini seperti sedang bercermin.
Sasuke menghentikan langkahnya, begitu juga Sakura. Sasuke menengok menatap Sakura yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa kau selalu membayang-bayangiku?" tanya Sasuke pada Sakura. Sakura hanya diam dengan terus menatap Sasuke dengan tatapan polosnya.
"Tidak mungkin aku menyukai gadis miskin sepertimu. Yah, walaupun kuakui kau cantik," kata Sasuke yang kini sudah berhadapan dengan Sakura. Sakura memiringkan kepalanya sedikit menambah kesan imut padanya.
"Aku akan memastikan jika perasaan ini hanya sesaat saja!" ucap Sasuke dan merogoh saku celana mengambil ponsel layar sentuhnya. "aku akan menghubungimu," lanjutnya dan perlahan saat Sasuke menekan tombol hijau di ponselnya, bayangan Sakura di sampingnya menghilang seperti ditiup angin.
Tut… Tut… Tut…
'Kau ada di mana? Aku ingin bertemu denganmu. Kau lupa siapa aku? Hey, masa kau lupa dengan pria tampan sepertiku? Ingatanmu pasti buruk sekali, tidak heran kau jadi cleaning service. Hey! Hey! Tu—'
Tuuuuuuutt…
Sasuke mendengus karena panggilannya diputus begitu saja oleh Sakura. Ia mencoba menelpon lagi tapi tidak diangkat bahkan ketika dia menelpon ketiga kalinya, ponsel Sakura dinon-aktifkan.
"Gadis itu benar-benar membuatku pusing!" gerutu Sasuke sambil memandang gemas pada ponselnya sendiri.
.
.
.
"Siapa, Sakura?" tanya seseorang berambut cokelat panjang yang sedang duduk di depan sebuah meja.
Sakura menolehkan kepalanya ke depan dan tersenyum paksa. "Orang salah sambung yang sangat menyebalkan," sahutnya yang sudah melepas baterai ponselnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang.
"Aa…"
Raut wajah Sakura berubah menjadi gembira lagi mengingat apa yang dikatakan Suigetsu beberapa saat yang lalu. "Direktur Neji, benar aku akan menjadi salah satu pelatih tetap?" tanyanya dengan antusias.
Neji mengangguk dan tersenyum tipis padanya. "Kurasa sudah saatnya kau membagi ilmumu itu," jawabnya.
Sakura tersenyum makin lebar mendengar jawaban Sang Direktur. "Tentu! Aku akan berusaha memberikan yang terbaik!" katanya dengan semangat.
Neji hanya tersenyum menanggapi ucapan Sakura yang sangat bersemangat. "Tapi, hal ini tidak mengganggu jadwal kerjamu di mall besar itu 'kan?"
Air muka Sakura berubah, dan disekelilingnya terasa aura yang tidak enak. "Aku sudah dipecat oleh direktur yang sombong itu."
Neji mengangkat alisnya lebih tinggi pertanda ia terkejut. Kemudian ekspresinya kembali datar lagi. "Kalau begitu kau bisa berkonsentrasi pada sekolah ini," katanya. Sakura kembali mengangguk antusias.
"Baiklah, aku ingin melihat audisi di bawah," kata Sakura sambil bangkit dari duduknya.
"Tunggu! Kita bersama-sama saja ke bawah karena aku juga jurinya bukan?" tanya Neji sambil bangkit dari duduknya.
Sakura terkekeh kecil. "Tentu saja! Ayo direktur!" ajak Sakura yang kemudian berjalan di samping Neji ke luar dari ruangannya.
.
.
.
Sasuke mengendarai mobil sport putih yang terbuka atapnya. Angin musim gugur menerbangkan helaian rambut raven-nya. Beberapa wanita maupun gadis-gadis yang melihatnya terpukau memandang wajah tampan Sang Direktur Department Store terbesar di Jepang.
Sasuke melihat keramaian di depan sebuah gedung besar, kemudian dia menepikan mobilnya untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana. Dari jauh ia dapat melihat Sakura yang sedang duduk di kursi yang ada di depan meja panjang sambil tertawa melihat peserta audisi yang menampilkan kebolehannya.
Mata Sasuke terpaku melihat Sakura yang tertawa, dan tanpa ia sadari kini ia sedang berjalan menuju pintu gedung tersebut.
"Hey, bung! Jika kau mau ikut audisi sebaiknya kau mengantri!" seru seorang pria yang berada di dekat pintu masuk. Sepertinya pria ini salah satu panitia audisi.
Sasuke menolehkan kepalanya dan memandang tidak suka kepada orang yang tadi bicara. "Audisi apa? Aku ini Direktur Utama Uchiha Department Store."
"Terserah kau ini apa! Tapi yang jelas jika kau ingin masuk kau harus mengantri!" sahut pria yang mempunyai rambut klimis ini pada Sasuke.
"Iya benar! Kau harus mengantri!" teriak salah satu peserta audisi.
"Benar! Atau perlu kuberi kau pelajaran agar mengantri, huh?" tanya seorang peserta audisi yang mempunyai tubuh yang kekar.
Melihat banyak sekali orang-orang yang meneriaki dan mengancamnya, Sasuke pun akhirnya memilih untuk mengantri di bagian paling belakang. Sasuke sebenarnya tidak takut berkelahi dengan pria-pria itu, tapi sayangnya ia sendiri dan peserta audisi yang mungkin akan menjadi lawannya ada lebih dari tiga puluh orang. Sasuke pun berpikir logis dan menyerah daripada mengorbankan wajah tampannya itu.
.
.
.
Sakura menatap tidak suka pada orang yang kini sedang berdiri di atas matras dengan mata onyx-nya yang terus menatap Sakura. Pria di depannya ini tidak melakukan apa-apa selain berdiri dengan memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.
Sakura mendengus karena tatapan pria aneh yang sangat enggan sekali Sakura lihat terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Semua panitia termasuk Neji yang berada di bagian meja panitia pun memandang Sasuke dan Sakura bergantian. Sebenarnya apa yang terjadi di antara keduanya yang mereka tidak ketahui?
"Hei, kenapa kau dari tadi hanya diam saja di sana? Kau bukannya ingin mengikuti audisi? Cepat tunjukkan keahlianmu pada kami!" kata Suigetsu yang akhirnya memecahkan kebingungan di antara mereka semua. Dia heran kenapa peserta terakhir audisi ini sangat aneh ya?
Sasuke menolehkan kepalanya dengan congkak ke arah Suigetsu. "Aku tidak mau mengikuti audisi, aku hanya ingin melihat senyum nona di depanku ini saja," sahut Sasuke membuat Sakura membulatkan matanya, begitu juga yang lain.
Teman-teman Sakura yang semuanya laki-laki ini saling berbisik satu sama lain. Bahkan Neji yang sejak tadi diam pun sedikit tersentak dan memandang Sakura meminta penjelasan. Sedangkan Sakura bingung harus menjawab apa dari tatapan Sang Direktur.
"Hahaha… kalau begitu kau harus menunjukkan keahlianmu dulu di sini karena kau sudah masuk dalam audisi ini secara tidak langsung!" seru Suigetsu. Sakura langsung menolehkan kepalanya dan memandang Suigetsu tidak percaya. Seniornya yang satu ini memang sangat jahil sekali.
Sasuke seperti berpikir sejenak sambil mendongakkan kepalanya. Kemudian dia memandang lurus ke depan, di mana ia dapat melihat Sakura yang sedang memandangnya dengan tajam.
Sasuke menolehkan kepalanya lagi ke kiri di mana Suigetsu duduk tepat di sebelah Sakura. "Keahlianku itu adalah menghasilkan uang dengan banyak," jawab Sasuke dengan penuh percaya diri dan gayanya yang angkuh membuat Sakura ingin sekali menonjok mukanya.
Suigetsu dan teman-temannya yang lain saling berhadapan satu sama lain sambil terkikik. Sementara Neji memerhatikan Sasuke dalam diam dan menilai sosok yang berdiri dengan gaya stoic-nya itu.
"Bagaimana? Apa aku diterima? Aku adalah Direktur Utama Uchiha Department Store," ujar Sasuke membuat Suigetsu dan teman-teman yang terkikik geli mendengar jawaban aneh Sasuke jadi terdiam. Sementara Neji makin menatapnya dari atas kepala hingga ujung kaki. Sakura mendengus sambil membuang mukanya karena muak melihat wajah congkak Sasuke.
"Benarkah?" tanya Suigetsu.
"Jika kau tidak percaya, tanyakan saja pada mantan pegawaiku yang cantik itu," kata Sasuke sambil menatap Sakura. Semua teman-teman Sakura berikut Neji segera menoleh ke Sakura. Sedangkan Sakura sudah kesal sekali, terlihat dari rahangnya yang mengeras.
Sasuke berjalan menuju meja panitia, tepatnya di depan Sakura duduk. Sasuke menundukkan badannya yang tingginya 184 sentimeter itu di depan wajah Sakura dengan tangan kanan yang menyangga di atas meja. Wajahnya hanya tersisa mungkin tiga puluh senti di depan wajah Sakura. Tentu saja, orang-orang yang berada di sekitarnya memandang mereka berdua dengan wajah terkejut bukan main.
Sakura memundurkan wajahnya ketika Sasuke semakin memajukan wajahnya hingga jarak mereka sangat dekat sekali, Sakura bahkan bisa merasakan napas Sasuke yang hangat. Suigetsu dkk menahan napas mereka melihat adegan ini, sementara Neji sudah menautkan alisnya namun ekspresinya tetap datar.
"Kalau kau tersenyum dan tertawa kau terlihat lebih cantik," kata Sasuke. Sakura yang mendengar itu tentu saja merona meskipun ia tidak menginginkan wajahnya merona karena ulah pria sombong di depannya ini.
"Menjauh dariku!" seru Sakura yang membuang mukanya ke arah lain, tidak mau menatap wajah Sasuke.
Sasuke dengan ekspresi datar perlahan menjauhkan wajahnya membuat teman-teman Sakura menghela napas lega. Mereka sudah khawatir jika Sasuke memajukan sedikit saja wajahnya lagi ke wajah Sakura, bisa-bisa Sasuke berakhir babak belur oleh Sakura.
"Apa alasanmu ikut audisi ini?" tanya Suigetsu lagi yang melihat Sasuke sudah berdiri tegak dengan tanpa ekspresinya itu.
Sasuke terdiam sebentar sambil memandang wajah Sakura di depannya. Jujur saja, Sakura sangat risih dengan keadaan ini. Apalagi direkturnya ada di antara mereka semua. Mau ditaruh mana mukanya ini saat tiba-tiba muncul orang aneh nan sombong yang berbuat seenaknya pada Sakura di depan banyak orang dengan kata-katanya yang err… seperti menggombal itu?
"Aku hanya ingin memastikan perasaanku pada Haruno Sakura hanyalah rasa suka sesaat saja, karena aku tidak mungkin jatuh cinta dengan gadis miskin seperti dia." Perkataan Sasuke sontak membuat Sakura mendongakkan kepalanya menatap tajam Sasuke. Astagaaaa… orang ini benar-benar sombong sekali.
Sakura mendengus mendengar perkataan Sasuke, sementara Sang Direktur menatap Sasuke dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jika kau mengikuti audisi ini hanya untuk memainkan perasaan Sakura, sebaiknya kau cepat pergi karena yang aku butuhkan adalah seseorang yang berniat menjadi seorang aktor yang hebat." Suara Neji mengalihkan semua yang ada di ruangan itu untuk memandangnya. Jika direktur mereka sudah angkat bicara, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Sasuke menatap Neji dengan tatapannya yang dingin seolah Neji itu adalah musuh abadinya. Masih dengan sikapnya yang cool, Sasuke menjawab perkataan Neji, "Aku tidak memainkan perasaannya. Lagipula aku bisa saja menjadi penanam saham di sekolah ini. Sepertinya direktur dari sekolah ini tidak mempunyai cukup banyak dana sehingga sekolah ini tidak bergitu terkenal," ucap Sasuke dengan ringan.
Suigetsu, Sakura dan yang lain segera menolehkan kepala ke arah Neji yang masih duduk dengan tenang. Mereka sepakat berpikir kalau Sasuke itu orang yang 'Gila!'.
Tak selang waktu lama, Neji sudah bangkit dari duduknya dan menatap Sasuke dengan datar. "Aku tidak membutuhkan uangmu di sekolah ini. Sebaiknya kau cepat pergi karena aku tidak menerimamu sebagai murid di sekolah ini!" kata Neji sambil pergi menuju tangga ke ruangannya.
Mata Sasuke terus mengekori Neji yang pergi dari hadapannya, kemudian dia kembali memandang orang-orang yang ada di depannya, mereka sudah mulai membubarkan diri. Sasuke melihat Suigetsu dan Sakura menghela napas berat. Sakura terlihat sedang memijit pelipisnya sedangkan Suigetsu berdiri dan menghampiri Sasuke.
Suigetsu menepuk bahu Sasuke dan menatapnya. "Yang tadi bicara padamu itu adalah direktur kami," katanya. Sasuke tidak terkejut sama sekali dengan perkataan Suigetsu, tampangnya masih datar. Suigetsu menghela napas sambil menunduk. "tapi jika kau benar-benar ingin membantu sekolah ini, aku sangat berterimakasih," sambungnya sambil meninggalkan Sasuke yang masih termangu di tempatnya berdiri.
Tak lama kemudian Sasuke menyadari kalau Sakura sudah tidak ada di tempat duduknya. Sasuke segera mengedarkan pandangannya dan melihat Sakura yang berjalan ke luar dari gedung sekolah. Sasuke segera mengikutinya.
Sakura memijit lehernya sambil melepas sebuah poster yang ditempel di jendela besar gedung sekolah. Saat hendak menghadap ke arah kanan, dia hampir menabrak seseorang yang sejak tadi berdiri di sampingnya namun ia tidak menyadari kehadiran orang tersebut.
Setelah mengetahui siapa yang menghalangi jalannya, Sakura mendengus kesal dan berusaha melewati orang itu, tapi orang itu malah menarik tangannya sehingga mau tak mau Sakura membalikkan badannya dan menatap sengit laki-laki menyebalkan di depannya ini.
"Apa maumu?" sungut Sakura.
Sasuke mendekatkan lagi wajahnya dengan wajah Sakura membuat Sakura menahan napasnya. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang terus memerhatikan mereka dari balik jendela di lantai dua.
"Kau memang cantik sekali," kata Sasuke yang terus menjelajahi setiap lekuk wajah Sakura. "kenapa kau jadi stunt women? Itu pekerjaan yang tidak baik untuk seorang gadis," sambungnya masih tetap menatap Sakura dengan tatapannya yang mampu membuat Sakura terperosok ke dalam onyx yang gelap itu.
"Bukan urusanmu!" sahut Sakura dan menghentakkan tangannya hingga terlepas dari cengkraman Sasuke dan menendang tulang kering kaki Sasuke membuat Sasuke mengaduh kesakitan. Sakura lantas meninggalkan Sasuke yang terus memandangnya dengan tatapan tajam mempesona.
Sementara itu Neji yang sejak tadi memerhatikan kedua insan itu dari ruangannya yang ada di lantai menatap datar keduanya, lalu ia kembali duduk di kursinya setelah melihat Sakura pergi meninggalkan Sasuke. Firasatnya mengatakan akan terjadi berbagai macam hal setelah ini.
.
.
.
Itachi sedang duduk-duduk di sebuah kafe sambil ditemani minuman berakohol di depan meja bundarnya. Ia menyenderkan dirinya di sofa yang lembut, sedangkan tangan kanannya direntangkan ke samping di atas sofa. Ia tak sendirian di sana karena ada seorang gadis yang menemaninya sambil menyenderkan kepala di dada Itachi.
Saat sedang asik-asiknya berduaan dengan wanita yang mempunyai rambut semerah darah ini, tiba-tiba datang seseorang yang langsung mendudukkan dirinya di depan Itachi membuat Itachi menaikkan sebelah alisnya.
"Siapa lagi gadis ini?" tanya orang yang menyilangkan kakinya di bawah meja sambil menyenderkan punggung di sofa.
Gadis berambut merah itu mendengar suara yang tidak asing lagi baginya segera menolehkan kepalanya dan melihat pria yang baru saja melepas kacamata cokelatnya. "Ah… Sasuke-kun," sapanya dengan senyum merekah. Sasuke hanya meliriknya sekilas.
Itachi mendengus mendengar pertanyaan pria di depannya, kemudian beralih ke gadis yang sedang memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Itachi. "Karin, aku ada urusan dengan otouto -ku. Bisakah kau tinggalkan kami berdua?" ucapnya. Karin mengangguk dan segera meninggalkan mereka berdua.
"Sampai kapan kau terus bermain-main dengan gadis-gadis seperti itu?" tanya Sasuke sambil melipat kedua tangannya di bawah dada.
Itachi memainkan gelas yang berisi bir di tangan kanannya kemudian meneguk seluruh isinya. "Hanya untuk bersenang-senang," jawabnya enteng.
Sasuke memutar kedua bola matanya. "Baka. Aku tahu kau hanya ingin menghindar dari kesalahan masa lalu," katanya. Itachi mendengus mendengar perkataan Sasuke.
"Sebenarnya ada apa kau ke mari?" tanya Itachi yang juga melipat kakinya di bawah meja.
"Aku hanya ingin bertanya, apa kau pernah jatuh cinta pada pandangan pertama?" tanya Sasuke.
"Tentu," jawab Itachi.
"Apa kau percaya dengan cinta pada pandangan pertama?" tanya Sasuke lagi.
Itachi mengangguk sambil menuangkan bir lagi di gelasnya yang kosong. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Sasuke terdiam sebentar sambil melihat ke arah panggung dan dia melihat seseorang sedang duduk di depan sebuah keyboard, lalu pandangannya beralih lagi ke Itachi. "Haruno Sakura. Aku akan memastikan padamu kalau cinta pada pandangan pertama itu tidak ada," ucapnya.
Itachi menaikkan sebelah alisnya mendengar Sang Adik yang tidak pernah menyebut nama seorang wanita kini sedang membicarakan seorang wanita. "Kau jatuh cinta padanya?" tanya Itachi.
Sasuke mengangkat kedua bahunya acuh. "Aku hanya akan memastikan itu hanya rasa suka sesaat. Tidak mungkin aku jatuh cinta dengan gadis miskin seperti dia."
Itachi tertawa mendengar jawaban Sasuke. "Cinta tidak memandang status ataupun kedudukan, Sasuke-chan."
Sasuke melotot mendengar namanya lagi-lagi diberi embel-embel '-chan'. "Jangan memanggilku begitu, baka oniisan!" serunya, lalu berdiri. "sabaiknya kau mengurangi kebiasaanmu main-main dengan wanita dan minum-minuman berakohol seperti ini. Ingat kau sudah tidak muda lagi dan kudengar job-mu semakin berkurang." Itachi hanya menghela napas mendengar nasihat dari Sang Adik.
Itachi tahu dan sadar betul kalau yang dilakukannya ini salah, tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk membuatnya tenang dan relaks.
"Jangan lupa lusa kau harus ke perusahaanku," lanjut Sasuke sambil memandang Itachi yang perlahan mendongakkan kepalanya karena terkejut.
"Untuk apa aku ke sana? Aku 'kan sudah bilang tempat yang cocok untukku itu di dunia musik," sahut Itachi.
Sasuke mengenakan kacamata cokelatnya lagi. "Ya untuk mempromosikan produk terbaru perusahaanku. Aku sudah bicara dengan manajermu, lagipula kesempatan ini bagus untuk menarik beberapa fans untukmu dan customer untukku,"
"Tapi aku tidak menandatangani kontraknya!" ujar Itachi sambil berdiri.
Sasuke menyeringai. "Manajermu sudah mewakilkan,"
"Aku tidak mau, bayaranmu pasti kecil sekali! Aku ini 'kan bintang yang terkenal!"
"Sebaiknya kau cari penyanyi baru karena sebentar lagi kurasa kau akan pensiun," ujar Sasuke sambil pergi meninggalkan Itachi yang gemas sekali.
Saat Sasuke pergi, Itachi mendengar seseorang bernyanyi. Suaranya sangat merdu sekali. Itachi lantas membalikkan badannya dan melihat pria muda yang mungkin seumuran dengan Sasuke sedang bernyanyi sambil memainkan keyboard. Rambutnya merah menyala dan wajahnya juga sangat mendukung untuk menjadi seorang artis.
Itachi seolah membeku memandang pria muda itu bernyanyi. Itachi segera merogoh ponselnya dan menelpon seseorang.
"Iruka, aku menemukan seorang penyanyi yang bisa menjadi rekan duetku."
.
.
.
Sasuke sedang duduk-duduk di kursi perpustakaan yang ada di mansion-nya. Alih-alih membaca buku, yang terbayang di pikirannya adalah Sakura, Sakura dan Sakura. Sasuke tak habis pikir kenapa hanya dalam pertemuan singkat perhatiannya dapat disita oleh gadis berambut merah muda itu?
Sasuke kembali berpikir, gadis itu bukanlah orang kaya sepertinya, tidak memiliki tubuh yang 'wow', tidak pintar kelihatannya, tidak feminin malah terkesan tomboy mengingat pekerjaannya sebagai stunt women, dan bukan tipe Sasuke sama sekali. Tapi kenapa dia bisa membuat Sasuke untuk terus memikirkannya. Apa Sasuke sudah mulai 'sakit'?
Sasuke mengangkat wajahnya dari buku yang sejak tadi hanya ia pandangi cover-nya. Ia melihat di atas meja sana, Sakura yang terbaring menyamping dengan pakaian seksi sedang memandangnya penuh gairah.
"Dia bahkan tidak seseksi ini," ujar Sasuke saat memerhatikan Sakura yang terbaring menyamping menatapnya dengan tatapan menggoda.
Sakura turun dari meja dan duduk di atas kursi, kini penampilannya sudah berubah. Sakura memakai pakaian kantoran dengan memegang sebuah map dan memakai kacamata baca.
"Dia juga tidak sepintar ini," gumam Sasuke. Sakura pun bangkit berdiri dan berjalan menuju Sasuke. Pakaiannya berubah menjadi lebih feminin dengan memakai baju terusan berwarna merah muda di atas lutut dan rambutnya dikuncir menyamping.
Sakura sedikit membungkukkan badannya dan menatap Sasuke dengan wajah sepolos mungkin sambil tangannya yang ia kepal dan ditaruh di samping kedua pipinya. Sangat imut!
"Dia juga tidak sefeminin dan seimut ini," gumam Sasuke lagi dan perlahan bayangan Sakura menghilang bersamaan dengan Sasuke yang mengacak rambutnya! "Ugh! Dia benar-benar membuatku bingung!"
.
.
.
Lelah karena terus terbayang-bayang dengan Sakura, Sasuke kini berada di sebuah gedung seni. Ia sedang memandangi sebuah lukisan berbentuk abstrak, cocok sekali dengan dirinya yang kini sedang mengalami hal abstrak yang ia tidak dapat mengerti, cinta.
Kedua tangannya di letakkan di belakang punggung seperti sikap tentara istirahat namun ia masih terlihat santai. Matanya terus menjelajahi setiap detil dari garis-garis kuas yang tidak jelas di lukisan abstrak tersebut, hanya ada warna hitam, biru, kuning dan merah.
Wajahnya tetap datar melihat lukisan tersebut, entahlah dia mengerti atau tidak, hanya dia yang tahu.
Seorang gadis berambut ungu yang memakai hiasan bunga di rambutnya berhenti melangkah saat dilihatnya seseorang yang ia kenal sedang berdiri memandangi sebuah lukisan. Gadis ini merapat di balik tembok lalu membuka isi tasnya dan menyemprotkan parfum di tubuhnya. Setelah menata kembali rambut dan pakaiannya, gadis ini melangkah menghampiri pria muda tersebut.
Tak. Tak. Tak…
Suara high heel menggema menghampiri sosok berambut pantat ayam tersebut dan berdiri tepat di sampingnya. "Tidak kusangka kau menerima ajakan kencan buta ini," katanya pada laki-laki yang berdiri di sampingnya.
Tanpa menoleh laki-laki ini menjawab, "Tidak juga, aku ke sini hanya ingin melihat lukisan," sahutnya. Yah, memang gadis di sampingnya ini sudah menghubungi sebelumnya untuk mengajak kencan, tapi Sasuke tidak mau memedulikannya, lebih tepatnya tidak ingin mengecewakan seseorang.
Gadis di sebelahnya mendengus. "Well, kalau begitu kenapa kita tidak kencan saja?" tawarnya sambil memandang pria di sampingnya.
Pria itu menoleh dan menatap warna mata yang sama dengannya. "Aku tidak mungkin menghianati kakakku." Lalu ia pergi meninggalkan gadis itu.
Gadis berambut ungu ini tidak juga menyerah begitu saja, ia mengikuti pria tampan yang berjalan itu di sampingnya. "Kau masih ingat rupanya? Sudahlah lupakan saja, Sasuke. Kau dan aku bisa memulai hubungan yang baru tanpa dia."
Sasuke memasukkan kedua tangannya di mantel cokelatnya dan menyeringai. "Wangi parfummu lembut," kata Sasuke. Gadis itu tersenyum senang. "tapi aku tidak akan pernah tertarik pada mantan Itachi." Wajah gadis itu berubah menjadi kesal saat Sasuke menyebut kembali nama Itachi.
"Selesaikanlah masalah kalian berdua, Konan." Tepat setelah menyelesaikan kalimat itu Sasuke ke luar dari gedung seni dan berjalan menuju tempat parkir mobilnya. Konan mematung di tempat.
"Uchiha memang cerdas," gumamnya.
.
.
.
TBC…
a/n: Annyeong haseyo! Balik lagi sama author yang sangat amat lama update fict yang satu ini. Demi sabit punyanya Hidan, author sempet kena WB untuk fict ini. Hadeuuuh… ada beberapa adegan-adegan favorit saya di Secret Garden yang saya masukin di sini. Err… Cwe song hamnida author update-nya lama banget. Author juga gak janji bakal update cepet di setiap fict multichip author soalnya masih ada *ngitung pake jari* empat fict yang masih tobeco.
Wow! Dua puluh Sembilan review untuk chapter awal! Its amazing for me! Thanks a bunch, chingudeul. Mudah-mudahan chapter ini tidak mengecewakan ya. *saya harap*. Oh iya ada misstypo kemaren, seharusnya yang senyum itu Sai eh salah ketik jadi Sasori. Maaf ya, udah diperbaikin kok. ^^
Kamsa hamnida Uchiharu 'nhiela Sasusaku, Rizuka Hanayuuki, Just Ana, vvvv, Keylan, Ma Simba, 4ntk4-ch4n, Hiroki Ichida, Nu-Hikari Uchiha, KristaL, selenavella, Sky pea-chan, Qren, Hikari Shinju, Valkyria Sapphire, Kurosaki Naruto-nichan, Midori Kumiko,NHL-chan, kujaku obana, Vytachi W.F, airandair, Chousamori Aozora, tsabita sung, Yue Heartphilia, Tiffany, Park Ra Ra. Terima kasih atas feedback kalian yang membuat author senyum-senyum sendiri. Terima kasih yang udah fave dll. Terima kasih juga buat silent readers. Sarang hamnida! ^^
Review again? Kamsa hamnida! ^O^
