"Sasuke!"

Tidak dijawab.

"Sasuke! Tunggu!"

Tidak dihiraukan.

"Tomato Ricotta Galette! Kau ingat cafe baru itu? Aku memiliki beberapa kupon untukmu!"

Langkah kakinya terhenti, Sasuke menoleh untuk menatap wajah Naruto yang tersenyum lebar ke arahnya saat melompat dari arah tangga.

"Kau jangan memperlakukanku seperti ini," ujar si pirang merangkul pundak si pucat dengan leluasa. Tahu jika keadannya belum tentu aman, sepuluh lembar kupon pada tangannya dijadikan tameng. "Lihat, aku tidak akan pernah berbohong padamu."

Sasuke berdecak tidak peduli, meskipun kupon yang semula milik Naruto kini berada dalam genggaman erat tangannya.

"Kau tidak bertanya bagaimana aku mendapatkan kupon-kupon ini?" bisik si pirang tersenyum tipis, mendekatkan bibirnya pada telinga si pucat. Namun belum sempat mendaratkan kecupan, wajahnya sudah lebih dulu di dorong kasar menjauh.

"Aku tidak peduli," sahut Sasuke singkat. Kakinya sengaja melangkah lebih cepat meninggalkan Naruto di belakang, meskipun telinganya masih bisa menangkap lanjutan kalimat yang diucap si pirang dengan seringai tipis.

'Aku mengancam anak-anak dari sekolah lain untuk mengantre di hari pertama pembukaan cafe. Jangan khawatir aku tidak melukai mereka.'

.

Hidangan pertama, kedua, dan ketiga, terus berdatangan, meja tempat mereka duduk kini didominasi warna merah. Naruto merasa ia mulai muak dengan aroma asam tomat yang menyengat, tetapi tidak dengan Sasuke yang terlihat menyantap seru tanpa membuang waktu.

"Aku tahu kau pasti menyukainya," ujar si pirang tersenyum puas, "ini habiskan juga."

Sasuke melirik ke arah Naruto selama beberapa detik, sebelum kembali melahap hidangan miliknya yang belum tersentuh di atas meja.

"Huh? Apa kau khawatir karena aku tidak ikut makan sepertimu?" ada jeda sesaat, "Sasuke berhenti bersikap manis, atau aku tidak bisa menahan di—"

"Diam, dan jangan banyak bicara," potong Sasuke sedikit mendesis, mendorong kasar potongan tomat ke dalam mulut si pirang. "Atau garpu ini akan menembus kerongkonganmu."

"Kuharap kau tidak melakukannya," bisik Naruto, menatap lekat sambil mengigit tomat di mulutnya, "karena tanpa mulut ini aku tidak bisa membuatmu mendesah nantinya."

Garpu yang bengkok pada tangan Sasuke bisa disimpulkan pertanda bahaya, dan si pirang tahu jika ini saat yang tepat untuk menahan diri.

"Katakan sekali lagi, dan bisa kupastikan tidak lagi ada lidah pada mulutmu."

"H-hey, ayolah. Lihat, makanan kesukaanmu menjadi dingin," ucap Naruto terbata, menggaruk belakang kepala. "Lagipula," ada jeda sesaat, "kau membutuhkan energi yang banyak untuk menghabisi mereka minggu ini, bukan? Seharusnya kau tahu siapa musuhmu, Sasuke. Mereka pecundang yang terbiasa menggunakan cara apa pun hanya untuk menang, kau tidak boleh lengah."

Sasuke menatap bingung, garpu pada tangannya diletakkan di atas meja saat ia bersandar pada punggung kursi. "Siapa ..., yang memberitahumu hal ini?"

"Sasuke," panggil si pirang lembut, "aku mungkin tidak lagi sama seperti dulu, tetapi hal itu tidak membuatku buta dengan keadaan sekitar," jelasnya, "jadi jangan memberiku 'aku akan pergi kencan dengan Sakura' karena itu tidak akan berhasil."

Jika dibandingkan dengan kebohongannya yang terungkap, Sasuke merasa lebih tidak nyaman saat Naruto tersenyum. Dibalik senyum tipis yang terlihat biasa, Sasuke tahu Naruto selalu membayangi gerak-geriknya, dan ini tidak mudah karena mereka tidak lagi sama seperti dulu.

.

Continued