Prolog : Gyaaaaaaaaaaaa Update-annya setahun kemudian Ahahaha XD Gomenne, Saya masih ngumpulin nyawa (?) lagi buat bangkit dan nulis Fanfict lagi. Hiks, saya masih akan belajar terus YOSH ! Masih butuh bantuannya minna XD

Wakatteru, oke lah.. ntaran aja ngomel nya XD

Enjoy... /


Sebenarnya suasana ini aneh sekali, tapi entah kenapa Sasuke merasa begitu nyaman berada didekat , memang tidak pernah terucap dengan jelas kata kata semacam "Aishiteru, Sasuke.." Tapi semua perhatian, sikap lembut Sai dan juga caranya memperlakukan Sasuke... Ya, semua itu sudah cukup jelas dimata Sasuke. Walau terkadang hampir tidak ada kata kata diantara mereka, tapi mereka saling mengerti. Mengerti dalam diam...

"Sasuke, daijoubu desu ka? Nan de?" tegur Sai yang heran mendapati pandangan Sasuke yang menerawang jauh.

"Eh? Hn, Daijoubu" Sasuke sedikit terkejut dengan teguran Sai. Cepat cepat Ia menunduk dan memaki lagi.

"Hm... buburnya tidak enak ya?" Alis Sai mengkerut heran.
Aneh, tadi Ia sudah mencicipi bubur buatannya dan rasanya baik baik saja.

"Nani o? Bubur buatanmu baik baik saja kok, demo..." Sasuke terdiam.

"Hm?" Sai menatap mata Sasuke mencoba mengerti.
Masih banyak yang belum Ia pahami didunia ini, termasuk ekspresi Sasuke barusan.

Suasana kembali hening, Sebuah daun yang terbawa angin masuk melalui jendela kamar Sai.
Kamar itu benar - benar hening.

Sasuke sebenarnya tidak betah dengan keadaan ini. Selain membuatnya menunggu sesuatu yang juga ia tidak mengerti, Ia juga tidak ingin ada rasa bosan... bukan, Sasuke tidak ingin Sai bosan berada didekatnya. Masalahnya, Ia pun tak mengerti bagaimana mengubah keheningan yang selalu tercipta diantara mereka. Sasuke hanya khawatir kalau kalau keheningan itu perlahan menciptakan jarak diantara mereka. Baginya, cukup berada didekat Sai sudah membuatnya merasa lebih baik. Tapi Ia tidak mengerti, tidak.. Sasuke tidak pernah mengerti bagaimana perasaan Sai terhadap keheningan ini. Hanya saja Sasuke memiliki rasa percaya dengan pasti bahwa ia memahami Sai... Entah bagaimana itu bisa terjadi.

Sementara Sasuke sibuk dengan pikirannya... Sai mencoba menebak nebak alasan apa dibalik sikap canggung Sasuke. Ia yakin sekali bahwa buburnya enak, bukankah Ia sudah bersungguh sungguh membuatnya? Lalu.. Uhm, apa kesungguhannya itu masih kurang cukup?
Sai mencicipi buburnya lagi.

Enak kok? Batinnya. Nah, sekarang Sai benar benar bingung.

Hening.

Bukankah Sasuke selalu begitu ? Kenapa harus memikirkannya?
Sai mengangguk setuju dengan pemikirannya sendiri.

Ahh.. Mungkin kah...
Sai membuka mulut untuk bicara memecah keheningan...

"Apa lidahmu terasa pahit, Sasuke?"

Eh? Sasuke heran, kenapa dia bertanya seperti itu? "K..Kenapa?" tanya Sasuke.
Sai tampak terkejut pertanyaannya dibalas pertanyaan lagi oleh Sasuke.

Sasuke mengulum senyumnya mendapati ekspresi Sai barusan. Terkadang ia ingin sekali tertawa lepas, menertawakan kelucuan situasi ini. Ditengah perasaan galaunya mengkhawatirkan perasaan Sai, Sai hampir selalu bersikap seperti ini. Aneh dan terkesan polos.

Kenapa bertanya tanya soal lidah? Haha... padahal Aku sedang gusar dengan situasi hening ini, kau malah...
"Uhm!" Sasuke berdehem mencoba mengalihkan pikirannya, takut kalau - kalau ia kelepasan tertawa dan merusak momen ini.

Sai tersenyum, Ia sudah menyusun kata - katanya menjadi kalimat yang tepat.
"Aku sudah membuat buburnya dengan sungguh sungguh, Sasuke. Ini pertama kalinya aku berbuat sejauh ini kepada orang lain dengan melibatkan perasaan juga dengan harapan kau cepat sembuh. Aku juga sudah mencicipinya, rasanya tidak buruk. Kalau kau merasa buburnya aneh, mungkin..."

Sasuke langsung sweatdrop, ternyata masih mempermasalahkan bubur ya? Kau ini...
"Ng... Mungkin?" Tanya Sasuke mengulum senyumnya dan menahan tawa. Masih soal bubur lagi?

"Mungkin... Mungkin karena lidahmu yang pahit. Biasanya orang sakit seperti itu" lanjut Sai.

"Uhm, benar juga" Sasuke mengangguk.
Masuk akal sih tapi bukan soal itu, Sai...

"Bagaimana caranya mengobati rasa pahit di lidah?" tanya Sai mendekat dan menatap lekat mata Sasuke.

"Eh? Shi..Shiranai yo.." Sasuke jelas saja gugup tiba tiba Sai sedekat ini. Tapi.. Aneh. Walaupun terkejut, Sasuke tidak refleks menghindar. Ia malah membalas tatapan lekat mata hitam Sai.

Entah kenapa Sasuke merasa darahnya berdesir berada sedekat ini dengan Sai.
Ahh, Mungkin saja karena degup jantungnya menjadi lebih cepat... dan kemudian mengalirkan instuisi instuisi yang membuat mata Sasuke meredup...

"Sai..." bisik Sasuke perlahan dari balik bibirnya...

Sai menatap mata Sasuke dan... ya, Sai memahami makna redup mata Sai.
Ketika cahaya mentari tertutupi awan awan yang berarak, suasana kamar itu menjadi teduh.
Seteduh perasaan Sasuke dan Sai...

Sai mengecup lembut bibir Sasuke...
Sasuke menutup matanya, merasakan sentuhan lembut bibir sai yang menekan bibirnya... perlahan, lidah Sai menyusup lembut kedalam mulut Sasuke.

"Ngh..." lenguh Sasuke.
Sai mendekap kedua sisi wajah Sasuke yang memerah dengan tangannya. Lidahnya disambut oleh lidah Sasuke. Sesaat, Sasuke ingin merasa lebih dan lebih dekat lagi dengan Sai...

Sai mengakhiri ciumannya dengan kecupan kecil dibibir bawah Sasuke.

Sasuke membuka matanya dan tersenyum...

"Aku rasa lidahmu sudah baikan" ujar Sai polos.

"Hn," Sasuke menahan tawanya dengan senyum.
"Aku setuju" Ujar Sasuke sambil mengalihkan pandangannya ke jendela...

ke langit yang sudah cerah kembali seperti perasaanya...

Ke awan yang sudah tertiup angin entah kemana, sama seperti galaunya yang lenyap begitu saja...


XD

Wkwkwkwk...

Gomenne Minna XD kalo Gaje hoho. Rada susah sih menyambung kemmbali Fict yang udah terbengkalai setahun yang lalu. Jadi banyak lupa jalan cerita *kicked* XD

Overall, masih butuh bantuannya ya Minnna XD

Ja ne...

Love, Darku.