Saya memutuskan untuk membuat Sekual It's You, semoga Sekuel ini tidak mengecewakan.

Selamat membaca...


#

Dua bulan telah berlalu setelah kejadian itu, selama dua bulan itu Itachi belum bisa mengungkapkan kata maaf pada Deidara.

Dua bulan, waktu sama seperti awal keretakan hubungan mereka. Kini terulang lagi dan entah akan sampai kapan, mengingat kini jadwal Itachi sangatlah padat. Begitu banyak urusan yang menyangkut perusahaan, hingga tidak memungkinkan untuk brtemu Deidara. Selain itu, Deidara juga dengan jelas menghindari Itachi. Jadi, bagaimana mereka bisa meluruskan masalah?

Hanya waktu yang akan menjernihkan masalah mereka, tinggal bagaimana mereka merangkai waktu untuk memanfaatkan situasi hingga masalah yang dialami terselesaikan.


It's You

(Sekuel)

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

It's you : Hyefye

.

Itachi U.-Deidara


"Haaaa… selesai juga. Akhirnyaaa~ aku bisa bebas dari tugas-tugas ini~~~"

Jarum jam menunjukkan pukul 06:00 PM, menunjukkan bahwa jam pulang sudah lewat. Diruangan itu hanya tinggal beberapa karyawan yang tersisa, mungkin sebagian dari mereka ada yang Lembur. Mungkin.. karena Deidara tidak perduli, yang ia perdulikan adalah pekerjaan selesai, cepat pulang dan istirahat.

Sesaat sebelum melangkahkan kakinya keluar ruangan, ia memperhatikan rekan-rekan kerjanya yang masih berkutat di depan layar computer, begitu serius raut mereka dalam mengerjakan tugas-tugas mereka. Deidara tahu, keseriusan akan pekerjaan itu karena mereka ingin membahagiakan keluarga mereka, menunjukkan bahwa mereka bisa sukses walau hanya menjadi Karyawan. Begitupula dengan dirinya, Deidara akan mengerjakan tugasnya dengan sungguh-sungguh demi dirinya dan adiknya.

Ia tidak habis pikir, kejadian itu terulang lagi. Kejadian dimana Deidara menghindari Itachi, selama dua bulan… tidakkah ini seperti lelucon?

Oke, untuk masalah waktu ia tidak masalah, hanya saja… bagaimana mungkin ia bisa menghindari Itachi? Sedangkan mereka masih dalam satu gedung yang sama.

Ah, Deidara sepertinya lupa kalau Itachi itu sibuk-sangat sibuk- dengan statusnya kini..

Ck ck ck, sepertinya terlalu sibuk menghindar hingga ia lupa dengan siapa ia berurusan.

Langkah riang mengiringi kepergian Deidara dari gedung itu, hari ini ia berencana akan mengajak Naruto-adiknya- untuk makan malam di luar, sudah lama ia tidak mengajak adiknya untuk makan bersama di luar. Terakhir kali yang diingat Deidara adalah lima tahun lalu, niatnya pergi ke rumah sakit malah berbelok arah pergi ke restoran yang sangat mewah. Itu disebabkan oleh insiden yang hampir meghilangkan nyawa orang, Deidara menolong seorang pria paruh baya yang hampir tertabrak turk ketika menyebrang.

Pria itu menawarkan sesuatu untuk tanda terima kasihnya, namun Deidara menolak. Tapi penolakan itu sia-sia, karena ulah adiknya! Tanpa permisi, perut Naruto malah berbunyi. Yah… masih dimaklumi bila bunyinya itu kecil, tapi ini sangat keras… terlampau keras malah. Pada akhirnya pria tersebut menawari mereka makan bersama, karena memang tujuan pria tersebut menyebrang adalah menuju restoran mewah di sebrang jalan tersebut. Akhirnya mereka malah makan bersama pria tak dikenal… dan melupakan tujuan mereka yang sebenarnya.

Tidak terasa, ia telah sampai didepan rumah. Dia mengambil kunci duplikat dari tasnya, kunci duplikat? Bukankah Naruto berada di rumah? Setiap kali berangkat kerja, Deidara selalu mengunci pintu rumah meskipun Naruto ada di rumah. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada adik satu-satunya itu, tak apa kan berjaga-jaga? Lagipula, persediaan bahan makanan dan cemilan tersedia jadi Naruto tidak akan mati kelaparan.

"Naruto.."

Ruangan itu memang sepi, tapi entah kenapa ini terlalu sepi. Biasanya jam-jam segini Naruto menonton Tv, berulang-ulang Deidara memanggil Naruto namun tak ada sahutan.

Rasa cemas melanda dirinya, dengan segera ia berlari ke kamar Naruto, berharap tidak terjadi apapun pada adiknya itu.

Dengan tak sabaran ia membuka pintu kamar itu hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras.

"Na.. Naruto…"

Begitu terkejut Deidara ketika melihat Naruto tersungkur di sudut kamar, dekat kamar mandi. Dengan segera dia menghampiri Naruto dan meraih tubuh Naruto yang lemah.

"Naru.. bangun! Hei, Naruto! Ini tidak lucu. Cepat buka matamu.." dengan panic Deidara mengguncang tubuh Naruto dan menampar-nampar pipinya. Tak ada reaksi, Naruto tetap tak menimbulkan tanda-tanda terbangun. Deidara meraih tangan Naruto dan memeriksa denyut nadinya. 'Ada! Dia masih hidup, terimakasih Tuhan..'

Dalam rungan putih itu, dengan cemas Deidara mengunggu Naruto siuman. Setelah mendengar penjelasan dari Dokter yang memeriksanya, memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi tetap saja Deidara merasa ketakutan, tidak ada yang tahu kan kapan ajal akan menjemput?

Sedari awal ia membawa Naruto ke rumah sakit, tak sedetikpun ia melepaskan genggaman tangannya pada tangan Naruto. Tak bisa ia bayangkan jika Naruto pergi meninggalkannya, ia akan merasa sangat kesepian.

Sudah satu jam berlalu, belum ada tanda-tanda Naruto siuman. Rasa lelah melanda dirinya hingga tanpa sadar ia terlelap di samping adiknya. Dan tiga puluh menit berikutnya Naruto tersadar..

"Uuuhhh… Dimana ini?" tanya Naruto pada dirinya sendiri. Keterasingan yang ia rasakan begitu membuka mata, rungan yang berbeda yang ia lihat karena yang ia ingat ia berada di kamarnya.

Ketika ia akan mengangkat tangan kanannya, ia merasa ada yang mengenggam tangannya. Dengan segera ia alihkan pandangannya pada tangannya, di sana ia melihat kakaknya tengah tertidur.

Untuk sesaat Naruto terdiam, kemudian ia sunggingkan senyuman.

"Rumah Sakit ya…" gumamnya, Naruto tahu apabila melihat Deidara duduk tertidur sambil mengenggam tangannya, itu berarti ia berada di rumah sakit.

"Aku.. merepotkan lagi. Maaf ya, Aniki…"


"Yakin kau baik-baik saja? Kau tidak mau dirawat?" tanya Deidara ketika mereka memasuki rumah mereka. Naruto yang mengikuti di belakang merasa jengah dengan pertnayaan yang dilontarkan kakaknya sejak mereka keluar dari Rumah sakit. kalau mau Naruto menghitung, mungkin sudah 15 kali pertanyaan itu terlotar.

"Aniki! Berhenti bartanya hal yang sama, aku kan sudah bilang aku baik-baik saja. Lagipula…"

Langkah Deidar terhenti karena tiba-tiba Naruto berhenti berbicara dan menatap Naruto. Sedangkan Naruto menundukkan kepalannya, ia tidak berani melanjutkan kata-katanya… ' Lagipula, kalau aku dirawat Kakak pasti akan kerja lebih keras lagi..'

"Lagipula… kalau aku dirawat, siapa yang akan menjaga rumah? Mau rumah kita satu-satunya ini di bobol maling?" jawab Naruto ngasal pada akhirnya.

"Ah, iya ya.. kalau dipikir-pikir aku untung juga ya, tidak perlu mambayar security untuk menjaga rumah hahahhaha…"

Mendengar Deidara berkata begitu, rasanya Naruto sangat menyesali ucapannya.


Entah apa yang akan dikatakan para Karyawannya jika melihat atasan mereka datang Lebih pagi hari ini. Gedung ini masih sepi, hanya ada beberapa OB dan Security yang mulai sibuk mengerjakan tugas mereka. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, sepertinya mereka tidak sadar bahwa atasan mereka telah datang. Biasannya, mereka akan memberi Hormat pada Itachi, tapi berhubung mereka tidak sadar mereka cuek-cuek saja karena mereka mengira itu karyawan lain. sedangkan Itachi? Dia bukan tipe orang yang Gila hormat, jadi dia tidak mempermasalahkan hal itu. Lagipula dia juga tahu para Karyawan itu tengah sibuk bersih-bersih, kalau ia mempermasalahkan hal itu pekerjaan mereka pasti akan terganggu.

Selain itu… pikirannya masih dipenuhi oleh Deidara.

Seandainya ia seorang Maniak, ia pasti akan mengutus orang untuk menculik Deidara dan akan mengurungnya di Rumahnya.

Ah, sebenarnya itu memang rencananya kalu sampai minggu depan ia tak kunjung bertemu Deidara. Dia Benar-Benar akan melakukannya!

Apa itu berarti Itachi mulai menjadi seorang Maniak?

Yah.. mungkin~

Terlalu sibuk dengan pikirannya, ia sampai tidak sadar ruangan kerjanya telah didepan matanya, bahkan hampir saja ia bertabrakan dengan pintu ruangan itu kalau saja ia tidak segera sadar dari pikira-pikiran Galaunya.

Dengan lemas ia membuka pintu kaca tersebut, satu langkah ia memasuki ruangan itu ia langsung di hadapkan dengan tumpukan-tumpukan dokumen yang harus ia tandatangani.

Terkadang ia berpikir untuk berhenti dari pekerjaannya, namun ia urungkan niatnya itu. Mau diberi apa nanti Keluargannya kalau ia tidak bekerja? –dalam kasus ini, yang ia pikirkan pertama kali adalah berkeluarga bersama Deidara! Sungguh sebuah pemikiran Autis- selain itu, ayahnya pasti akan murka. Ahhh… hidupmu begitu sulit tuan Muda~

Begitu lemas ia melihat tumpukan kertas di mejanya. Ingin untuk hari ini saja ia terbebas dari tugas… tunggu! Terbebas dari tugas? Bukankah… semua tumpukan dokumen-dokumen itu telah ia selesaikan?

Jadi.. hari ini…


Pagi ini suasana begitu tenang. Sangat tenang, teramat tenang… amat teramat tenang. Apa ada kata lain untuk menggambarkan bahwa suasana dalam ruangan itu 'tenang'?

Damai? Oh.. itu salah.

Karena keadaan sesungguhnya adalah… Tegang!

Pagi tadi, ketika Itachi bermaksud kabur dari pekerjaannya, yang terpaksa ia batalkan.

Alasan?

Sang Tuan Besar yang Agung… Fugaku Uchiha, dengan santainya menyuruh sang Tuan Muda menanti kedatangan sang Ayah di kantornya.

Dan hal itu menggagalkan rencananya pagi itu.

Ok, apabila artian menunggu itu yang berarti 'sebentar', maka dengan senang hati Itachi akan menunggu. Tapi, inikah yang namanya menunggu? Sampai detik ini, dimana jarum jam nenunjukkan pukul 03.00 sore, sang Ayah tercinta masih belum terlihat batang hidungnya! Dan itu membuatnya kesal!

Ayolah, setidaknya Fugaku memberi penjelasan yang pasti jam berapa ia akan ke kantornya, bukannya begini!

Dan Itachi sudah diambang batas kesabarannya, dengan langkah kasar ia berjalan kearah pintu keluar dan dengan kasar ia membuka pintu itu sampai….

Terdengar suara seseorang mengaduh. Dan seketika wajah Itachi pucat pasi….

"Maaf… aku tidak tahu kalau Ayah…" setelah sekian lama suasana tegang itu, akhirnya Itachilah yang membuka pembicaraan.

Tatapan Fugaku yang tadinya tajam, kini melunak. Ia hembuskan nafas lelah, "Sudahlah… Ayah juga yang salah, tidak mengetuk pintu terlebih dahulu."

"Maaf." Ucap Itachi untuk kesekian kalinya. "Tapi, Ayah ada perlu apa sampai datang ke kantor?" tanya Itachi heran.

"Aku mencari seseorang, ah tidak, dua orang pemuda di kota ini." Jawab Fugaku.

Itachi mengernyikan keningnya, 'mencari dua rang pemuda? Unutk apa?' tanyanya terheran-heran.. "Pemuda?".

"Ya, mereka kedua anak Minato dan Kushina."

"Paman Minato dan bibi Kushina? Bukankah mereka tidak memiliki anak?" tanya Itachi keheranan. Setahunya, kedua pasangan yang bersetatus sebagai sahabat dari kedua orang tuannya itu tidak memiliki keturunan. Setiap mereka berkunjung ke kediaman Uchiha, baik Itachi maupun Sasuke tak pernah mendengar mereka memiliki anak. Selalu berdua, tidak ada orang lain.

Fugaku bisa memaklumi apabila Itachi tidak mengetahuinya, karena memang kedua sahabatnya itu tidak pernah sekalipun membawa kedua buah hatinya apabila berkunjung ke rumahnya. Karena saat itu kedua anaknya berada diluar kota, mereka dirawat oleh Kakek dan Nenek mereka. Walau ada keinginan untuk bertemu dengan putra Minato dan Kushina, mereka tidak bisa mempertemukannya dengan Fugaku dan Mikoto karena suatu alasan.

Dan Fugaku serata Mikoto menghargai itu.

"Mereka memiliki dua orang Putra, usia mereka seumuran dengan mu dan Sasuke." Ucapnnya. Saat mengatakan itu ada senyum terselip di bibirnya. Fugaku ingat betul bagaimana hebohnya Minato saat mengetahui Istrinya tengah mengandung. "Ah, anak sulungnya lebih muda dua tahun darimu." Koreksinya.

"Begitukah?" entah mengapa ia merasa takjub mendengar cerita Ayahnya. "Lalu, apa Ayah sudah mngetahui dimana mereka sekarang?" tanyanya. Tidak tahu kenapa ia merasakan antusiasme untuk mengetahui dimana kedua Putra dari orang yang telah ia anggap keluarganya. Itachi sangat dekat dengan Minato dan Kushina, ia merasa kagum dengan kepintaran Minato dan ketelitian Kushina dalam bekerja. Mereka berdua adalah panutan bagi Itachi, tentu setelah ayahnya.

Mendengar petanyaan itu terlontar, raut wajah Fugaku berubah. "Belum, Ayah sudah mencari orang dengan marga Namikaze. Namun tidak ditemukan, karena itu aku beraksud meminta bantuanmu." Jawabnya memberitahukan maksud dari kunjungannya itu.

"Aku akan membantu Ayah."


Malam itu, entah kenapa jalanan terasa sepi. Padahal, hari-hari menjelang akhir minggu biasannya ramai di penuhi oleh pasangan muda-mudi. Tapi malam itu berbeda, jalanan yang sepi itu menjadi suatu keberuntungan bagi seseorang.

Satu jam berlalu sejak Itachi ke luar rumah. Ia menyusuri jalanan kota hanya untuk menenangkan pikiran setelah tadi sore, ia memulai pencahariannya. Namun apa yang ia cari tak kunjung ia temukan, merasa penat dengan apa yang ia kerjakan, akhirnya ia memutuskan pergi ke luar.

Merasa lelah menyusuri jalanan kota, ia memutuskan untuk beristirahat di sebuah café yang tepat berada di sampingnya.

Sungguh risih rasanya apabila disaat membutuhkan sebuah ketenangan, tapi ketenangan itu tidak dapat kau dapatkan.

Bagaimana tidak?

Ketika Itachi memasuki café itu, berbagai pasang mata menatapnya. Dari ia masuk sampai ia duduk di samping jendela yang menunjukkan pemandangan kota di malam hari, ia masih merasakan pandangna itu.

Apa ada yang salah dengannya?

Tentu saja! Café yang ia kunjunggi adalah café yang terbilang sederhana, café kelas menengah. Tidak sesuai dengan penampilan Itachi yang sungguh berbeda dengan pengunjung lainnya. Setelan jas mahal dan aura bangsawan yang keluar dari dirinya tentu menjadikannya tatapan public, Itachi mencoba tidak menghiraukan pandangan itu dan mulai memesan kopi.

Pikirannya melayang ke beberapa tahun lalu, kala ia masih SMA. Ketika ia masih bisa melihat senyum hangat orang yang ia sayangi, tawanya yang renyah, dan segala hal yang orang itu lakukan.

Ia tersenyum pahit menginggat kejadian itu, kejadian yang membuatnya kehilangan orang itu.

Mungkin, apabila tadi sore Ayahnya tidak mengunjungginya, sekarang ia tidak akan duduk sendiri seperti ini. Duduk sendiri dengan pikiran autisnya, kegalauan yang melanda dirinya yang bahkan mampu membuatnya berjalan kaki selama hampir satu jam lebih. Sungguh ia belum pernah seperti ini sebelumnya.

Saat ini ia berharap dapat mendengar suaranya, suara yang ia rindukan…

"Aku bilang, Kau harus!"

Ya, dia merindukan suara itu..

"Jangan membatahku!"

Suara yang penuh paksaan… nada suara seperti itu yang ia rindukan.

"Cepat habiskan makananmu!"

Ia juga merindukan itu, suara memeritah itu…

Sepertinya pikiran autisnya mulai berbahaya, karena suara itu terdengar nyata. Telinganya dengan jelas mendengar suara itu, seperti orang itu ada di dekatnya.

Ya, di dekatnya… Deidara ada didekatnya.

Mata Itachi seketika terbelalak..

Dengan reflex yang sangat cepat ia tolehkan kepalannya ke arah sumber suara, dan dapat ia lihat dengan jelas Deidara berada tidak jauh dari tempatnya.


"Ayolah~ badanmu itu bertambah kurus. Karena itu aku mnegajakmu makan di luar, aku tidak mau kau makan ramen terus."

Kekesalan Deidara sepertinya sudah pada batasnya.

Sejak tadi, ia terus memaksa Naruto untuk memakan makanan yang ia pesankan. Namun Naruto tidak memakannya, karena ia ingin memesan ramen. Tapi berhubung di café ini tidak ada ramen, beginilah jadinya..

"Aku bilang kan ingin ramen! Kenapa malah memesan makanan tidak jelas ini." Seru Naruto kesal sambil menunjuk-nunjuk makanan itu.

Deidara hanya menghela napas pasrah, ia sudah tidak tahu harus berbuat apa agar Naruto mau memakan makanan itu. "Baiklah, aku akan membelikanmu ramen. Tapi kau habiskan makanan itu terlebih dahulu, oke!" kata Deidara pasrah.

Mendengar itu, wajah Naruto menjadi sumringah. Dengan segera ia memakan makanan itu. Dan senyumpun senantiasa menghiasi wajah Deidara.

Mereka berdua memakan makanannya dengan tenang, sesekali gelak tawa keluar dari bibir mereka sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa kini ada seseorang yang tengah berdiri di samping meja mereka. Menatap salah satu diantara mereka dengan tatapan tajam.

Naruto menghentikan ocehannya kala ia tak sengaja melihat ke sampingnya, ia mengerutkan keningnya heran ketika ia melihat sesosok pria yangmenatapnya dengan tajam. Entah kenapa Naruto merinding melihat kilat tajam dari bola mata hitam itu.

Deidara yang binggung dengan perubahan tingkah adiknya, ia memalingkan wajahnya kearah yang dituju Naruto. Dan mata biru itu terbelalak sempurna…

Kesal, itulah yang dirasakan Itachi saat ini. Ia begitu kesal melihat Deidara yang terlihat senang.

Bukan karena ia benci karena Deidara begitu bahagia, tapi ia kesal karena kini Deidara tengah duduk bersebrangan dengan entah-siapa-itu menikmati makan malam dengan penuh suka cita. Ia benci melihat hal itu karena bukan Dirinya yang kini duduk berbincang dengan Deidara.

Karena itu, tanpa sadar ia melangkahkan kakinya mendekat ke tempat dimana Deidara berada, dan menatap benci pada seseorang yang kini tengah bersenda gurau dengannya.

Ia tahu, tanpa melihat Deidara pun ia dapat mengetahui raut terkejut Deidara. Setelah puas memberikan tatapan tajam pada orang yang memiliki ciri fisik yang hampir sama dengan Deidara, ia alihkan pandangannya pada Deidara dan menarik paksa Deidara keluar café. Meninggalkan Naruto yang tercenggang…


Cemburu itu, sepertinya memang dapat membutakan orang.. terbukti dengan apa yang terjadi pada Itachi saat ini.

Karena rasa Cemburu –yang belum ia sadari- itu, ia tidak dapat menyadari kemiripan antara Naruto dan Deidara. Orang yang sedang berada di emosi yang normal, pasti dapat menebak bahwa mereka saudara, sayangnya tuan muda yang satu ini emosinya sedang jauh dari kata normal. Hingga kejadian menyeret Deidara dari café pun terjadi.

Dan disinilah mereka sekarang, di sebuah gang yang cukup sepi dekat café tadi. Dengan Deidara yang terhimpit diantara tembok dan Itachi, kedua tangannya dicengkram dengan kuat tidak memberikan celah bagi Deidara untuk bergerak. Tubuhnya terkunci.

"Apa yang kau lakukan!" Teriak Deidara dengan penuh amarah. Matanya berkilat tajam menatap Itachi, ia mencoba menberontak namun sia-sia.

Itachi tak menghiraukan ucapan Deidara, kekesalan masih melingkupi dirinya.

Kedua pasang mata itu saling menatap tajam cukup lama.

"Siapa dia?" tanya Itachi tajam.

"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus seraya memalingkan wajahnya.

"Jawab aku!" paksa Itachi. Kini tangan kanannya mencengkram rahang Deidara, memaksanya untuk melihat Itachi.

Mendapat perlakuan seperti itu, Deidara hanya mampu meringgis. Dia tidak mampu melawan hingga mau tidak mau ia bertatapan dengan mata Itachi.

"Apa maumu, brengsek!" tantang Deidara memberanikan diri. Dalam situasi seperti ini, ia tidak memperdulikan siapa orang berda didepannya.

"Kau tanya apa mauku?" sinis Itachi, "Jawab pertanyaanku!"

Bibir Deidara menyeringai, "Untuk apa? Siapa pun dia, tidak ada hubungannya denganmu kan?"

Itachi tertegun untuk sesaat, itu benar. Itachi tidak ada hubungannya dengan dirinya, siapapun pemuda itu bukanlah urusannya. Tapi, egonya tidak mau menerima itu karena ia tidak ingin ada orang lain yang memeliki posisi yang sama dengan dirinya di kehidupan Deidarai, apalagi melebihinya. Hanya dia yang boleh memiliki posisi istimewa di hati pemuda itu. Egois, eh?

Itachi tak kunjung membalas perkataan Deidara dan itu membuatnya jengah. Ia mendengus, "Lepas," Deidara mulai memberontak lagi. "Aku tidak ada urusan denganmu, jadi cepat lepaskan aku!" serunya yang mulai kesal.

Itachi terdiam sesaat mencerna ucapan Deidara, dia salah.. "Tapi aku ada—" itu adalah kata-kata terakhir yang terdengar dari Itachi, karena selanjutnya ia meraup bibir Deidara dan menciumnya dengan paksa.

Sesaat Deidara hanya mampu membelalakkan matanya, tapi detik selanjutnya ia semakin memberontak walau itu percuma.

Itachi terus melumat bibir itu tanpa menghiraukan pembrontakan Deidara, ia tidak perduli apakah itu dapat melukainya atau tidak. Ia hanya ingin meluapkan persaan yang selama ini menghantuinya. Itachi sudah lepas kendali, ia tidak perduli Daidara menerimanya atau tidak.

Lelah membrontak, akhirnya Deidara menerima setiap sentuhan itu. Tidak dapat ia sangkal, ia merasa inilah yang ia inginkan, inilah keegoisan yang ia simpan rapat dan kini lepas sudah keegoisannya. Ia mulai membalas ciuman yang diberikan Itachi, ciuman yang tadinya berkesan brutal kini berubah melembut.

Entah kenapa Deidara ingin berbesar kepala dengan beranggapan bahwa Itachi melakukan itu karena memiliki perasaan yang sama dengannya, beranggapan bahwa ciuman yang diberikan padanya dipenuhi oleh perasaan. Itu dapat ia rasakan kerena sentuhan yang diberikan kepadanya semakin dalam dan kini tanpa paksaan.

Entah sejak kapan mereka melakukan hal itu bukan karena keiinginan dari sebelah pihak, tapi kini kedua belah pihak melakukan itu karena keinginan masing-masing. Meluapkan segala perasaan yang menyesakkan hati mereka. Tangan Itachi pun kini sudah berpindah tempat, melingkarkan tangannya pada pinggan Deidara untuk mempertipis jarak diantara mereka dan semakin memperdalam sentuhannya.

Cukup lama mereka berciuman dan kini dengan enggan Itachi menghentikan sentuhannya karena kekurangan pasokan oksigen.

Deidara menundukkan wajahnya setelah Itachi melepaskan Ciumannya dan segera menghirup oksigen. Ia tidak mampu manatap Itachi, begitu kesadarannya kembali.

Ia merasa malu karena dengan mudahnya ia luluh oleh sentuhan Itachi dan membalasnya dengan begitu intens. Rasa takut tiba-tiba muncul ketika Itachi melepas ciumannya, Ia takut kejadian ini hanyalah kejadian yang tidak berarti bagi Itachi. Ia takut, setelah kejadian ini ia akan dipandang rendah oleh Itachi.. ia takut.. kalu anggapan bahwa Itachi memiliki perasaan yang sama denganya ternyata Salah. Apabila itu terjadi, maka Hancurlah dirinya..


Itachi tersenyum simpul, awalnya ia berpikir Deidara akan membrontak lebih keras dan bahkan memukulnya. Namun ternyata ia salah, ketika ia memperlumbut sentuhannya Deidara justru membalasnya. Bolehkah ia berharap Deidara memaafkannya dan hubungan mereka akan kembali seperti semula atau bahkan lebih?

Senyum itu belum hilang dari wajahnya, bahkan sekarang tersenyum geli karena melihat wajah Deidara yang memerah. Mungkin, ini saat yang tepat baginya untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Ia tidak ingin lebih lama memendam perasaannya, karena ia yakin Deidara masih memeliki perasaan itu terhadapnya.

Dan iItachi membulatkan tekadnya…

"Dengarkan aku," Pinta Itachi dengan suara pelan, tangan kanan itu menyentuh dagu Deidara dengan lembut dan mengangkatnya untuk menatap bola mata hitamnya.

Pemilik mata biru jernih itu menurut dan kini menatapnya, diusapnya pipi Deidara yang masih bersemu merah itu dengan lembut.

"Aku.."

Tak sempat Itachi mengatakan apa yang ingin ia sampaikan, ia merasa tubuhnya tertarik kebelakang dan ia merasakan rasa nyeri dan panas pada pipi kirinya.

Tubuhnya dihempaskan ke jalan beraspal, tak sempat menulolak karena kejadian itu begitu cepat dan tiba-tiba. Darah mengalir dari sudut bibirnya yang robek karena sebuah pukulan yang ia dapatkan entah dari siapa.

Matanya berkilat tajam dan menatap sesosok tubuh yang kini berdiri dihadapannya, bahkan kini tangan sosok itu mencengkram kerah kemejanya.

"APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA, BERENGSEK?" teriak suara itu penuh amarah dan menghantam pipi Itachi dengan satu pukulan lagi.

Sudut bibir Itachi kembali mengalirkan darah, ia mengusap darah itu dengan kasar dan segera bangkit membalas memukul sosok itu.

Ia marah, momen yang seharusnya ia gunakan untuk memperbaiki hunbungan antara dirinya dan Deidara rusak oleh seseorang yang tiba-tiba menghantamnya, bahkan ia tidak mengetahui mengapa sosok itu menghantamnya padahal ia tidak mengenal sosok itu.

Seorang pemuda yang ia yakini jauh lebih muda dari dirinya, Itachi tidak begitu jelas wajah pemuda itu akrena pencahayaan di tempat itu minim.

"Apa masalahmu, Bocah!" hardik Itachi berang.

"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya pemuda itu menunjuk Deidara yang kini menampilkan ekspresi kaget.

Itachi mendelik, ia menatap Deidara yang tidak bergeming sedikitpun. "Apapun yang kulakukan padanya bukan urusanmu!" ucapnya kembali menatap tajam sosok itu.

"Tentu saja itu urusanku!" jawaban yang meyakinkan, Itachi terpaku.. urusanya? Itachi kembali teringat Deidara tidaklah sendiri datang ke café itu, tapi dengan seseorang. Ya, seseorang dan kini ia yakin bahwa pemuda dihadapanya adalah seseorang itu.

Sebersit kesimpulan ia dapatkan, kesimpulan berdasarkan pemikiran sesaat hanya dengan satu kalimat yang diucapkan oleh pemuda didepannya, juga insiden ciuman tadi dimana Deidara membalas ciumannya tanpa ragu memperkuat kesimpulannya. Sebuah kesalan besar baginya menyimpulkan artian dari kalimat itu dan balasan ciuman itu, kesimpulan yang sangatlah tidak benar.

"Aku tidak menyangka kau seorang Gigolo, eh Deidara?" simpul Itachi mengalihkan pandangannya pada Deidara dan meninggalkan kedua pemuda itu. Dan seketika ia melihat luka yang mendalam di matanya. Tubuh Deidara bergetar, apa yang dipikirnya menjadi kenyataan.

Tatapan merendahkan itu…


Lagi, kejadian itu terulang lagi..

Kenapa harus seperti ini? Itulah pertanyaan yang muncul sejak tadi, sejak dirinya meninggalkan Deidara dengan pemuda yang tidak dikenalnya.

Tidak seharunya ia mengatakan hal itu, karena ia tahu Deidara bukanlah orang seperti itu.

Setelah sukses membuat kamar yang rapi itu menjadi berantakan -untuk melampiaskan kekesalannya-, Itanci mencoba mendinginkan pikiranya dan kembali mengulang kejadian tadi.

Ia merasa marah pada dirinya ketika pemuda itu menjawab dengan lantang bahwa pemuda itu memiliki urusan dengan Deidara dengan artian pemuda itu memiliki hubungan dengan Deidara. Ia merasa terpukul karena ia tidak bisa mengatakan itu pada Deidara saat ia mengatakan bahwa tidak ada hubungan dengan dirinya

Kini, apa yang harus ia lakukan? Tidak mungkin ia kembali ke café itu, karena ia yakin Deidara sudah pergi dari tempat itu bersama adiknya…

Adik?

"SIAL!" Itachi merutuki dirinya sendiri kenapa ia bisa lupa kalau Deidara memiliki adik? Dan lagi, harusnya ia bisa melihat betapa miripnya mereka ketika ia melihat Deidara dan pemuda itu di café.

Rasa bersalah kembali melingkupi dirinya, ia begitu bodoh hanya karena terbawa emosi ia mengambil kesimpulan yang salah..

Ia meremas rambutnya dengan kedua tangannya dan menumpukan sikunya pada paha. "Maafkan aku.." bisiknya pada kesunyian.


Naruto terdiam mendengarkan penjelasan kakanya.

Bukan salahnya kan jika ia memukul Itachi? Naruto tidak mengetahui kalau lelaki itu atasan Deidara. Apalagi mereka berada di gang yang sepi dengan posisi yang mencurigakan saat Naruto berhasil menemuka kemana Deidara dideret seseorang yang ternyata atasan kakaknya.

"Maaf, " sesal Naruto setelah mendengar penjelasan Deidara. "Aku kan tidak tahu. Lagipula, kenapa juga atasanmu itu menyeretmu keluar? Itu mencurigakan, terlebih posisi kalian itu. Aku kan jadi berpikir kalau Aniki akan diperkosa." Lanjutnya.

Deidara berusaha menahan untuk tidak melemparkan bantal yang berada disampingnya ke wajh Naruto. Diperkosa? Heh, yang benar saja!

Itu tidak akan terjadi! Yah walau sebenarnya Bibirnya kini sudah tidak suci lagi, tapi apa itu berarti bibirnya telah diperkosa?

Rasanya Deidara bisa gila memikirkan hal tidak senonoh itu.

"Jangan sembarangan menyimpulkan, bodoh!" kesal Deidara.

"Tapi, aku tidak terima Aniki disebut Gigolo olehnya. Atasan macam apa itu?" seru Naruto tambah kesal. Jujur saja, jika Itachi tidak segera pergi maka dapat dipastikan Itachi akan masuk rumah sakit karena dihajar Naruto. Yah, tapi setidaknya Naruto berhasil memukulnya dua kali.

Perkataan Naruto kembali membuka lukanya, kenapa Itachi bisa mengatakan hal itu dengan mudahnya? Apa alasanya hingga ia disebut Gigolo? Pelacur?

Lalu tatapan merendahkan itu...

Tanpa sadar ia meremas dadanya, sakit.. rasanya sakit dituding oleh orang yang disayangi. Padahal.. ia berharap Itachi akan mengatakan sewsuatu yang menenangkannya tadi.

Ya.. tadi. Kalau saja Naruto tidak datang menghantam Itachi, apa sebenarnya yang akan diungkapkan Itachi? Tentu bukan kalimat yang menyakitkan bukan? Masihkah ia boleh berharap bahwa Itachi akan meminta maaf padanya?

"Aku sangat lelah, aku ingin istirahat." Pamit Naruto dan menuju kamarnya tanpa menunggu balasan Deidara, namun sebelum sampai kamar ia menongok kearah Deidara dan tersenyum, " Aniki juga, istirahatlah dan jangan pikirkan masalah tadi." Pintanya, karena Naruto tahu kakaknya pasti memikirkan kejadian tadi. Ia tahu, yang paling kesal dan sakit adalah kakaknya.

Deidara mengangguk dan ia pun segera pergi ke kamarnya.


"Ada yang menganggu pikiranmu, Itachi?" tanya Fugaku yang menatap putra sulungnya dengan khawatir, walau tidak terlihat di raut wajahnya.

Itachi mengalihkan padanganya pada Ayahnya. "..Tidak.." jawabnya.

Fugaku menghela napas. Ia memang seorang Ayah yang tidak begitu bisa menunjukkan perhatian terhadap anaknya, namun bukan berarti ia tidak perduli.

"Yakin?" tanyanya sangsi.

Itachi mengangguk yakin., walau sebenarnya yang ditanyakan Ayahnya itu benar. Pikirannya dipenuhi oeh sosok Deidara, manabisa ia menceritak apa yang terjadi pada ayahnya. Tidak terima kasih.

"Kalau kau punya masalah, ceritakan pada kami, Itachi." Suara lembut khas seorang Ibu member saran.

Itachi menghela napas, mungkin untuk yang satu ini ia memang harus mengatakannya, "Mengenai Putra paman Minato, sepertinya aku memiliki dugaan pada salah satu karyawa di perushaanku." Jelasnya yang membuat Fugaku dan Mikoto menatap Itachi terkejut.

"Benarkah?" terselip nada gembira dari pertanyaan Ibunya. Itachi mengangguk menjawab keraguan Ibunya.

Ia tidaklah bohong akan hal ini, walaupun bukti belumtekumpul tapi Itachi yakin Deidara adalah putra dari Minato dan Kushina. Ya, Deidara... ia bisa melihat kemiripan Deidara dengan Minato. Rambut pirang dan mata birunya sama dengan Minato.

"Apa kau sudah menyelidikinya?" tanya Fugaku, karena ia kurnag yakin dengan apa yang dikatakan Itachi.

"Belum, tapi aku yakin akan hal itu karena dia memiliki ciri fisik yang sama." Jelas Itachi.

"sebaiknya diselidiki dulu, jagan sampai salah orang." Saran Fugaku.

Itachi hanya mengangguk dan melanjutkan membaca surat kabar di hari minggu yang cerah ini.


Tidak ada sebuah firasat yag ia rasakan. Tidak ada tanda-tanda yang akan menunjukkan hal buruk terjadi, semua berjalan sebagaimana mestinya.

Semua mengalir seperti biasanya, tapi kenapa?

Hal buruk menimpanya disaat ia tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali dia, kenapa hal itu datang kala ia sedang dilanda masalah? Apa salahnya hingga ia harus menerima kenyataan yang menyakitkan ini?

Dia tidak pernah meminta apapun pada Tuhan kecuali ia ingin hidupnya tenang, tapi kenapa ketenangan itu belum juga datang?

Hujan telah berhenti sejak beberapa jam yang lalu, rumah mungil yang biasanya sepi kini ramai dikunjungi. Bukan karena adanya perayaan atau apapun, karena sebuah perayaan tidaklah membuat para tamunya mengeluarkan air mata, tidak membuat para pengunjung memakai pakaian serba hitam bahkan payung yang mereka gunakan pun berwarna hitam. Jika dirumah sederhana itu mengdakan sebuah perayaan, tidak akan ada seseorang yang menangis histeris karena kehilangan seseorang yang dicintainya.

Gadis berambut hitam panjang itu menangis histeris didepan sebuah altar pemakaman. Menyebut nama seorang pemuda yang kini telah tertidur dalam keabadian, pemuda yang menjadi kekasihnya selama satu tahun ini.

Gadis itu masih menangis, dua orang teman perempuannya memeluknya dan ikut menangis..

Tidak hanya gadis itu yang menangis, dari sudut pintu seorang lelaki muda ikut menangis walau kini air matanya terlah kering. Entah sudah berapa lama ia menangis. Lelaki itu menghampiri gadis tadi, dipeuknya gadis itu setelah teman-temannya melepas pelukan pada gadis itu.

"Naruto tidak akan senang kalau kau menangis, Hinata." Ucap lelaki itu menenangkn. "Tersenyumlah.. biarkan Naruto pergi, jangan membuatnya pergi dengan hati yang berat karena kau tidak merelakannya." Lanjutnya.

Gadis itu menatap lelaki yang memiliki wajah yang mirip dengan Naruto, "Aku sangat mencintainya." Lirih gadis itu.

"Aku tahu," Lelaki itu melepas pelukannya dan mengambil sesuatu di kantung celananya dan menyerahkannya pada Hinata. "Naruto menitipkan ini padaku untuk menyerahkannya padamu." Jelasnya seraya memberikan sebuah surat pada Hinata dan diterimanya dengan tangan bergetar.

"Dei-nii.. ini.."

"Dia ingin kau bahagia, Hinata." Ucap Deidara dengan sebuah senyum tulus.


Rumah itu kini sudah sepi meninggalkan beberapa orang disana, yaitu Deidara, Hiata, Seorang gadis berambut pink dan seorang ramaja lelaki, mereka tengah sibuk dengan pikiran masing-masing.

Seorang pemuda berambut hitam terlihat tengah memeluk gadis berambut pink, mencoba menenangkan sang kekasih akan kepergian sahabat mereka.

Deidara sendiri hanya memandang keluar jendela, sengkan Hinata yang sudah mulai tenang memainkan sebuah kalung yang ia dapat dari surat yang diberikan Deidara, kalung dari Naruto.

"Dei-nii," panggil gadis berambut pink itu, "Kami pilang dulu." Pamit gadis itu seraya bangkit daru duduknya bersamaan dengan kekasihnya.

Deidara tersenyum, "Ya, hati-hati Sakura, Sasuke."

Sebelum keluar, Sakura dan Sasuke menghampiri Hinata yang. Sakura memeluk Hinata sesaat, sedang Sasuke menepuk bahu gadis itu.

"Semua akan baik-baik saja, Hinata." Kata Sakura samba mengusap punggung Hinata, mencoba member kekuatan pada gadis itu. Hinata hanya mengangguk dipelukan Sakura.

"Ya.. Naruto juga bilang begitu." Akhinya, sebuah senyum manis terukir di wajah cantiknya.

Sasuke menghampiri Deidara yang masih duduk termenung, "Kalau ada apa-apa, panggil saja kami. Kami akan membuntumu, Dei-nii."

"Terima kasih, Sasuke. Sebaiknya kalian segera pulang. Jangan membuat orang tua kalian khawatir." Sarannya

Sasuke mengangguk, ia hampiri Sakura yang berdiri beriringan dengan Hinata.

Mereka melangkah menuju pintu keluar, namun ketika Sasuke hendak membuka pintu, pintu itu telah dibuka oleh seseorang..


Tiga hari ini Itachi mencoba mendekati Deidara, namun sayang selama tiga hari itu ia tidak menemukan Deidara dikantornya. Tidak ada kabar dari baik dari karyawa lain.

Dia sudah bertanya pada Konan, namun sama sepertinya Konan pun tidak mengetahui keberadaan Deidara.

Sampai siang tadi ia mendapat kabar yang mengejutkan dari Konan, dengan segera ia meninggalkan kantornya dan menyeret Konan untuk pergi bersamanya menemui Deidara.

Itachi yakin, saat ini pasti Deidara sedang dilanda kesedihan..

Adiknya, Keluarga satu-satunya telah meninggalkannya seorang diri.

Itachi tiba dirumah itu, sesaat sebelum acara pemakaman berlangsung, tidak seperti Konan yang langsung menghampiri Deidara. Ia memilih untuk diam di salah satu sudut rumah itu dan mengamati situasi dirumah itu, sampai acara pemekaman pun ia tidak menghampiri Deidara. Ia bermaksud menghampirinya ketika keadaan mulai sepi, ia bahkan menyuruh Konan untuk tidak memberitahukan kedatangnya dan menyuruh Konan kembali ke kantor terlebih dahulu.

Keadaan di rumah mungil itu mulai sepi, ia bermaksud untuk menemui Deidara. Selain untuk meluruskan segala masalah, ia juga ingin menemani pemuda itu yang ia yakini sedang bersedih.

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia membuka pintu rumah itu. Betapa terkejutnya saat melihat sosok di balik pintu itu bukanlah sosok Deidara, melainkan adiknya..


"Aniki?" tanya Sasuke memastikan bahwa orang yang berada di depannya adalah kakaknya, Uchiha Itachi.

Itachi terdiam sesaat, "Sedang apa disini, Sasuke?" heran Itachi melihat adiknya.

Sasuke menghela napas, sejak kapan kakaknya jadi bodoh begini? Tentu saja ia datang melayat. Malas menjawa pertanyaan tidak penting itu, Sasuke balik bertanya. "Aniki sendiri? Setahuku kau tidak memiliki kenalan di daerah ini."

Ck, adiknya ini sungguh menyebalkan, apa susahnya ia menjawab pertanyaanya? Bukannya malah melemparkan pertanyaan. "Salah sau karyawanku tinggal disini." Jelasnya, "jawabanmu?" tuntutnya.

Sasuke terdiam sesaat, pertanyaannya kembali menginggatkan dirinya akan sahabat terdekatnya, sahabat yang telah ia anggap saudara sendiri. "Sahabatku…"

Tidak perlu dilanjutkan, karena ia yakin kakaknya mengerti apa yang akan dikatakan oleh Sasuke.

Itachi mengangguk mengerti.

Dunia ini sempit, eh?

Kenyataan adiknya bersahabat dengan adik Deidara tidakkah itu menunjukkan bahwa dunia ini sempit.

"Ada apa?" tanya Deidara pada ketiganya yang masih berdiri di depan pintu.

Sadari tadi, Deidara melihat Sasuke yang tiba-tiba terhenti langkahnya. Merasa penasaran, ia menghampiri Sasuke, Sakura dan Hinata untuk mengetahui penyebab terhentinya mereka di depan pintu. Sakura hanya menunjuk kearah luar, begitupula Hinata. Sedangkan Sasuke menggeser sedikit tubuhnya agar Deidara bisa melihat Itachi.

Awalnya Deidara tidak begitu mengenali sosok yang berada di depannya karena adanya sinar matahari dari luar, tapi begitu matanya membiasakan diri dengan cahaya matahari, matanya terbelalak sempurna…

"Itachi…"


Bagi yang sudah mereview It's You, saya ucapkan terima kasih... maaf, apabila review-nya belum sempat saya balas.

Saya harap Sekuel ini cukup memuaskan bagi kalian, karena jujur entah kenapa saya merasa sekuel ini 'agak garing' (atau 'emang garing'?).

masih perlu dilanjutkan kah?

berikan Review jika memang harus dilanjutkan^^ (dan doa-kan semoga saya bisa cepat update :p)

-Terima Kasih-

Hyefye