Hallo,..

Sebenarnya aku agak ragu untuk melanjutkan Fic ini, aku emang Author baru dan ini Fic Dramione pertamaku. Maaf kalo banyak typo, eyd yang berantakan dan Fic yang sangat –buruk dan garing, tapi berhubung Kalian menyemangatiku, jadi aku coba update ini fic. Danke. Oh ya Karena aku mendapat hukuman jadi aku update 2 chapter sekaligus :D hehe.

DISCLAIMER : It's none of my character, it's all belongs to Mrs. J.K Rowling. Stories are mine. I take no business in this fic. Kalau dari dulu Harry Potter buatanku sudah dari dulu kupasangkan Hermione dengan Draco.

WARNING : Banyak typo, eyd berantakan, tidak –sangat malah- menarik. But I hope you'll like it.


Hermione berjalan sambil membawa barang-barangnya dengan ogah-ogahan menuju Great Hall. Ia gusar dan jengkel karena sekarang ia harus satu asrama dengan musuh bebuyutannya , Draco Malfoy. Setelah beberapa menit berjalan akhirnya ia sampai di depan Great Hall seperti yang di janjikan nya dengan Draco.

'ha ternyata aku lebih dulu dari si ferret brengsek itu' kata Hermione dalam pikirannya. Satu menit telah berlalu. Ia masih menunggunya dan tak lama kemudian laki-laki ber rambut pirang platina dengan tas di punggungnya menghampiri Hermione sambil menyeringai. Ingin rasanya ia menghapus seringaiannya dari wajahnya yang mempesona itu. Hermione menyilangkan lengannya di dadanya dan menatapnya dengan kesal.

"Kau sudah terlambat 1 menit 35 detik, Ferret."

"Maafkan aku my lovely missus, Zabini mengintrogasiku dulu jadi ya agak sedikit terlambat. Jangan marah dear."

Wajah Hermione memerah seperti kepiting rebus sambil bergidik mendengar kata-kata Draco yang –kelewat – Manis. Selama ini Draco belum pernah berkata selembut itu padanya, bahkan selama 6 tahun ia hanya menghinanya seperti tidak punya harga diri. Terngiang kata-kata itu lagi "Mudblood", ya sangat sulit dilupakan bagaimana perasaan Hermione setiap saat harus mendengarnya dan menahan perasaan sakit di hatinya. Mengingat kenangan buruknya Hermione memberikan wajah yang jutek dan judes tanpa senyum sedikitpun kepada Draco.

"Sudah jangan banyak basa-basi, cepat katakan di mana asrama kita? Aku sudah tidak sabar ingin istirahat, aku lelah."

"Ahh, aku tidak akan kemanapun atau ke asrama kita sebelum kau tersenyum padaku dan tidak marah padaku."

Hermione mengangkat sebelah Alisnya dan menatap pria didepannya dengan wajah bingung. "Mengapa kau sangat ingin aku berbaik hati padamu? Kau menyukai aku eh?"

Kini giliran Draco yang mengeluarkan rona merah, semerah Apel. Wajahnya memanas dan perasaan gugup melanda dirinya.

'sialan, mengapa aku merasa seperti ini. Granger kau harus membayar perbuatan mu ini padaku. Aduuhh, aku harus menjawab apa ini. Sial… sial ! ok sabar Draco, kembali pada dirimu yang dingin.'

"Malfoy?" Hermione melambaikan tangannya di wajah Draco sambil menatapnya bingung.

"E-eh. Apa? Aku menyukaimu Granger? Jangan buat aku tertawa," jawab Draco dengan nada yang datar dan sedikit mencemooh.

"Aku tidak sedang membuat mu tertawa Malfoy, berikan petanya padaku."

"Tidak mau."

"Mengapa begitu? Aku benar-benar lelah dan jengah oleh semua argumentasi bodoh ini, ayolah atau aku akan menggunakan cara lain."

"Cara lain? Seperti apa? Kutukan?" Tanya Draco menantang sambil menyeringai.

Hermione tampak berpikir. Apa yang harus ia lakukan? Jika saling melempar kutukan Dumbledore malah akan menghukum mereka berdua. Ok, mungkin ini sedikit gila tapi harus ia lakukan. Hermione menatap Draco sambil menyeringai. Ia berjalan mendekati Draco sambil berlengak-lengok mencoba seseksi mungkin di mata Draco. Hermione menjilat bibir bawahnya dan semakin mendekat pada Draco. Draco yang melihatnya sejenak kaget dan membeku melihat Hermione bertingkah seperti itu. Badannya menegang dan memang Hermione ini seksi tapi baju seragam nya menyembunyikan keseksiannya. Ia menelan ludahnya dengan kasar dan masih terpaku melihat Hermione semakin dekat. Ia menggelengkan kepalanya dan mulai tersadar – kembali lagi kebumi. Draco pun menyeringai dan tetap diam di posisinya menunggu apa yang akan dilakukan Hermione.

"Kau memang keras kepala, Malfoy. Kau harus memberikannya atau kau menanggung akibatnya."

"Kau pikir kau tidak keras kepala, Granger? Sangat percaya diri sekali kau bisa mendapatkan petanya dari tanganku, tidak semudah itu."

Hermione yang kini didepannya dengan jarak sangat dekat, menatap mata kelabunya yang mulai menggelap dan menatap balik mata Hazel Hermione. Hermione menarik dasi Draco dan berjinjit mencoba mensejajarkan kepalanya dengan Draco. Draco kembali menegang dan tidak percaya Hermione akan melakukannya sejauh ini. Apa dia akan menciumnya? Untuk apa? Hermione membenci dirinya dan sekarang apa yang ia lakukan pada dirinya? Jantung Draco berdegup 2 kali lebih cepat dari biasanya. Ular di perutnya melilit-lilit. Hermione mendekatkan bibirnya di dekat telinga Draco dan membisikan sesuatu dengan nada menggoda.

"Benarkah tidak semudah itu, love?"

Hormon Draco sebagai laki-laki mulai naik, apalagi digelitiki suara menggoda milik Hermione tepat di telinganya. Seolah tak sadarkan diri, Draco masih diam tidak merespon apapun. Sementara Hermione lengannya yang bebas mencari peta yang di berikan Dumbledore tadi. Ia meraba saku belakang celana Draco dan Ia menemukannya, tapi sialnya peta itu sulit di keluarkan dan seseorang memergoki mereka berdua sedang dalam posisi yang mesra menurut orang.

"Ahem.. Hermione, Malfoy."

Tubuh Hermione membeku mendengar suara itu dan menolehkan kepalanya. Ia melihat Padma dan Parvati di depannya yang sambil cengar-cengir melihat dirinya bersama Draco dalam keadaan seperti itu. Ia segera melepaskan lengannya dari dasi Draco dan menjauhkan tubuhnya dari Draco.

"Err, Hi Padma.. Hi Parvati… sedang apa kalian disini?" Tanya Hermione gugup.

"Sedang apa kami? Oh, tadinya aku mau ke dapur Hogwarts untuk mengambil sesuatu, tepatnya mencuri pudding yang sempat tumpah oleh Dean, tapi kalian ada disana menghalangi jalan, jadi ya kami disini menonton kalian," jawab Padma.

"A-apa? Menonton? Hei, kau tidak baik menonton orang! tak bisakah kalian meminta house-elf saja mengambilkan pudding itu? Potong 5 poin dari Gryffindor karena telah menonton orang sembarangan dan berniat mencuri pudding!" ucap Draco ketus.

"Malfoy! Apa-apaan kau ini seenaknya saja memotong poin Gryffindor! Kita ini baru menjabat, kau dengar? ba-ru-men-jabat dan kau sudah semena-mena saja memotong poin kami!"

"Salahkan mereka karena menginterupsi kesenangan kita, bukan begitu dear?"

Hermione mengangkat alisnya sebelah dan mengepalkan tangannya. Oh merlin, tak bisakan Draco berhenti menggoda dan berargumentasi dengan nya? Sungguh ia hari ini lelah sekali.

"Dear? Sejak kapan kau memanggil Hermione dengan panggilan semanis itu? biasanya kau memanggil dia berang-berang, semak belukar atau.. Mud – "

"Hentikan, jangan bicarakan kata itu lagi. Setahu ku sudah kata itu tidak berlaku lagi dan tidak bagus untuk dibicarakan. Siapa pun orang yang mengatakan kata itu lagi akan ku hukum dia sampai jera. Jadi kau masih mau mengatakan 'M word' itu Patil ?" Potong Draco dengan nada yang agak sedikit naik setengah oktav.

Padma dan Parvati memincingkan matanya dan tersenyum sendiri melihat kelakukan kedua Ketua Murid baru mereka.

"Hmm… Baiklah Mr. Draco, Miss. Granger. Maafkan kami telah mengganggu waktu kalian. Kami akan kembali saja ke ruang rekreasi kalau begitu. Sampai jumpa Mione! Hayo padma kita tak boleh mengganggu mereka," kata Parvati sambil menarik lengan saudara kembarnya itu.

Hermione langsung memberi tatapan membunuh pada kedua saudara kembar itu lalu ia menatap Draco dengan tatapan amarah.

"Hah, sudah kubilang, tidak akan mudah mengambilnya dari tanganku dear, jadi kau harus benar-benar menurut padaku. Sudahlah aku juga mulai lelah, ayo kita ke asrama," Kata Draco sambil menarik tangan Hermione dan berjalan seenaknya tanpa izin Hermione. Hermione yang lelah untuk berargumen hanya pasrah saja apa yang akan dilakukan Draco kepadanya.

Mereka berjalan berdampingan tanpa pembicaraan seperti biasa. Menyusuri beberapa koridor dan lorong serta menaiki beberapa anak tangga karena nyatanya asrama Ketua Murid berada di tempat paling tinggi di Hogwarts. Setelah 15 menit berjalan akhirnya mereka ada di depan sebuah Lukisan besar dengan gambar seorang wanita sedang mengacungkan tongkat sihir dan memegang dadanya dan rambutnya tertebak angin. Di sebelah kanan lukisan itu ada bendera berlambang kan Gryffindor dan di sebelah kirinya bendera berlambang kan Slytherin. Wanita yang berada di dalam lukisan itu menurunkan tongkatnya dan melihat keduanya.

"Kalian Ketua Murid yang baru itu?"

"Ya, benar," jawab Draco dan Hermione bersamaan.

"Oh Dewi Aphrodite, mereka sangat cocok sekali dan ku pikir kalian adalah Ketua Murid yang paling tampan dan cantik dalam sejarah Hogwarts."

Draco hanya mendengus dan Hermione memutar bola matanya dengan bosan.

"Baiklah, katakan kata sandinya."

"Ka-kata sandi?" Tanya Draco.

"Ya, masa kalian berdua tidak tahu?" Tanya wanita itu dengan alis yang terangkat.

"Ku pikir, kami lupa meminta daftar kata sandi nya pada Profesor Dumbledore."

"Ah baiklah, kalau begitu aku saja yang akan menggantinya. Kata sandi barunya adalah Ich Liebe mon Amour"

"Tunggu, sepertinya aku agak familiar dengan bahasa itu tapi apa ya artinya," kata Hermione sambil memegang dagu nya. Ia masih memikirkan arti dari kata sandi itu.

"Kau mau masuk tidak?" tanya Draco dengan nada ketus dan bosan.

"Ah baiklah. Ich liebe mon amour."

Wanita itu tersenyum dan membukakan jalan untuk keduanya. Mereka memasuki asrama pribadi –Ketua murid – mereka. Ada 2 buah sofa di dekat perapian bergaya Victorian. Lalu ada beberapa rak buku, tanaman hias dan terlihat tangga yang langsung menunjukkan ke arah kamar Ketua Murid. Ada dua kamar untuk masing-masing ketua murid, satu kamar mandi dan pantry, serta dapur yang cukup untuk di diami dua orang. Asrama mereka tentu lebih luas dan nyaman dibandingkan asrama yang biasa mereka singgahi. Hanya saja ada satu yang Hermione sesal kan.

"Goddamit, mengapa kamar mandi hanya ada satu?"

"Sejak kapan kau mulai belajar mengumpat seperti itu?" Tanya draco dengan alis yang terangkat.

"Sejak kau selalu ada di hadapan muka ku. Aku lelah, aku mau tidur."

Hermione sambil membawa tas nya menaiki tangga itu dan langsung memasuki kamar yang sebelah kanan –yang sudah di beri tulisan kamar milik ketua Murid Putri. Draco juga karena merasa lelah ia berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya di sebelah kiri. Kamar Hermione bercat merah maroon dengan tirai berwarna keemasan. Ada lemari yang cukup besar, rak buku, meja rias dan meja belajar. Ia merebahkan tubuhnya di kasur yang cukup besar untuk satu orang. Ia bernapas lega karena akhirnya ia mendapatkan sedikit ketenangan di kamarnya sekarang.

Sementara Draco di kamarnya yang baru hanya sibuk memasukkan barang bawaannya ke dalam lemari yang bercat krem. Kamar Draco berwarna Abu metalik dengan tirai warna hijau emerald. Kasurnya pun menggunakan seprai hijau zamrud. Selain ada lemari, di kamarnya terdapat meja rias, laci kecil, meja belajar dan beberapa tempat untuk menyimpan kebutuhannya. Di sana terdapat rak buku juga namun Draco yang tidak begitu kutu buku seperti Hermione ia mengabaikannya. Draco yang merasa tubuhnya lengket oleh keringat memutuskan untuk mandi, tapi sepertinya ia harus mengurung kan niatnya. Ketika ia berjalan keluar kamar, Hermione juga keluar kamar dan tujuan mereka sama yaitu kamar mandi. Mereka saling melirik, lalu menatap pintu kamar mandi. Seperti ada pembagian sembako (?) mereka berlari, lalu saling berebut kenop pintu kamar mandi.

"Sebaiknya kau mengalah pada perempuan, ferret pirang!"

"Bukan saatnya untuk bergentleman ria kali ini, aku benar-benar butuh kamar mandi jadi menyingkirlah, berang-berang."

"Aku lebih membutuhkan dari dirimu! Jadi kau lah yang menyingkir!"

"Tidak bisa, aku yang duluan ke sini dan aku yang pertama menyentuh pintu jadi sebaiknya kau pergi sana, setelah aku selesai kau bisa menggunakannya."

"Apa? Tidak bisa! Di mana-mana perempuan duluan, Malfoy!" bentak Hermione.

Draco melepas kenop pintu namun tubuhnya menghalangi pintu. Ia menghela napas dengan kasar lalu menatap Hermione.

"Ok, kalau kau bersikeras duluan. Kepalamu sepertinya melebih kerasnya batu rumah Hagrid."

"Wa-what the hell!? hey, kau juga! terlebih kau memuakkan dengan kepala pirang mu itu! kau tahu, rambutmu itu seperti janggung yang siap ku makan kapan saja."

"Jadi … kau mau memakan ku, eh? Kalau begitu ayo lakukan sekarang saja! Bukankah akan menyenangkan saling berbagi bathtub dan aku akan dengan senang hati menggosok punggungmu dengan sabun, sayang?" kata Draco sambil menyeringai di hadapan Hermione.

"A- apa-apaan itu! dasar kau! Musang pirang! Bastard!" gerutu Hermione sambil pergi menandakan ia kalah, terlebih wajahnya memanas dan merah seperti tomat mendengar pernyataan Draco tadi.

Draco yang melihat Hermione pergi langsung masuk kedalam kamar mandi lalu tertawa mengingat ekspresi kikuk Hermione. Hermione yang mendengar tawa Draco dari dalam hanya menggerutu tak jelas. Ia duduk di sofa yang berada dekat perapian. Sebelum duduk ia membawa buku yang berjudul Hogwarts Journey and History. Ia duduk di sofa, lalu membuka buku tersebut. Kakinya di silangkan dan bukunya di tengadahkan di hadapannya. Tatapannya sangat serius membaca tulisan kecil yang terdapat dibuku tersebut sampai-sampai ia tak sadar Draco sudah selesai mandi.

"Aku sudah selesai, sekarang terserah padamu untuk menggunakan kamar mandinya atau tidak," ujar Draco.

Hermione mengalihkan pandangannya. Ia membeku melihat Draco yang berjalan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Dada yang bidangnya terekspos – berterimakasih lah pada latihan Quidditch yang membuat badannya sangat atletis dan seksi – serta rambutnya yang setengah kering. Tubuhnya belum begitu kering sehingga sesekali air mengalir di sekitar dada dan punggungnya. Hermione memalingkan wajahnya ke hadapan buku yang ia pegang menyembunyikan wajahnya yang memerah – lagi – seperti kulit apel.

"Terpesona melihat tubuhku, Granger?" kata Draco sambil menyeringai seperti biasanya.

"Dalam mimpi mu, Malfoy! Pergi sana, sangat merusak pemandangan saja. Mataku sakit melihatmu seperti itu!" Jawabnya dengan ketus.

"Jadi, kau mau yang lebih? yang menyegarkan mata, seperti… membuka handuk ini, my dear?"

"A-apa? Tidak! itu lebih buruk! argh, kau menyebalkan sekali! Ferret sialan!" teriak Hermione seraya berdiri dan menaruh bukunya. Ia pergi mengambil handuknya dan masuk kedalam kamar mandi sambil menutup pintunya dengan keras. Draco tertawa sekali lagi melihat kekonyolan Hermione.

-Draco's pov-

Aku melangkahkan kaki ku menuju kamar. Setelah dikamar aku langsung memakai kemeja putih, memakai dasi Slytherin ku dan disertai rompi abu dengan bordiran lambang Slytherin di sebelah kiri atas dan celana hitam panjang. Setelah selesai aku hanya merebahkan diriku kedalam kenyamanan kasur dan menyilangkan tanganku di belakang kepala sambil menatap langit-langit kamar. Aku tenggelam kedalam pikiranku. Mengapa aku sangat senang sekali menggodanya ? Aku senang sekali melihatnya merona karena malu mendengarkan ucapanku yang terdengar tabu untuknya. Aku senang melihat ia marah seperti itu, semakin terlihat cantik dan seksi sekali. Aku akui dia cerdas sekali, dia cantik melebihi Greengrass, Parkinson atau perempuan manapun yang ada di asrama ini. Sesekali aku berpikir, apakah dia masih membenciku? Aku sudah menyakitinya, hampir setengah hidupnya aku menghina ia habis-habisan. Apa ia akan memaafkan perbuatan ku dulu? Bahkan aku masih teringat hari dimana ia menonjokku di muka ku. Keras, kuat dan menyakitkan. Sekarang aku merasa sedikit terbebas dan lega karena si hidung pesek dan kepala licin seperti ularnya sudah mati di tangan Potter. Aku tahu Ayah dan Ibu sekarang sudah bertaubat. Mereka sudah melupakan doktrinya tentang status darah dan hal-hal yang diluar logika ku. Aku terkadang ragu dengan perasaanku padanya karena tak mungkin ia akan mencintaiku seperti aku mencintainya. Mungkin ia lebih memilih Weaselbee dari pada diriku yang hanya seorang musang pirang busuk di matanya. Ya, aku memang pantas di sebut seperti itu olehnya. Terlalu banyak aku menyakiti hatinya. Apa yang harus aku lakukan? Well, menurut pribahasa para muggle 'sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan untukku'. Hey! Sejak kapan aku tahu pribahasa bodoh itu? aku pun tak tahu apa itu janur kuning! Ah sudahlah, aku tak peduli yang jelas aku harus cepat mengambil tindakan sebelum orang lain merebutnya. Akan kupikirkan rencana untuk mendapatkan dirinya, seluruh yang dia miliki adalah miliku. Tak ada yang bisa menghalangiku kali ini, siapapun itu.

-Normal pov-

Draco tersenyum sendiri , sementara Hermione yang sudah selesai mandi dan berpakaian lengkap ala Gryffindor hendak keluar dari asramanya. Ia ingin curhat kepada Giny tentang seharian ini yang terjadi padanya, tapi ketika ia berjalan menyusuri ruangan ketua murid ia tak melihat batang hidung Draco. 'apakah ia pergi? Tak ada suaranya dan tak ada ocehannya terderdengar kali ini' suara inner Hermione berkata dipikirannya. Apa pedulinya? Sudahlah lebih baik aku menemui Giny sekarang.

Hermione berjalan melangkah menyusuri koridor-koridor Hogwarts. Ia ingin bertemu Giny dan menceritakan semua yang ia lewati hari ini. Setelah beberapa menit jalan akhirnya ia sampai di asrama Gryffindor. Ia melihat Giny sedang asyik berciuman dengan Harry. Dalam hatinya ia ingin curhat tetapi ia juga tak mau menginterupsi kegiatan kedua sahabatnya, tapi mau bagaimana lagi? Pada siapa lagi ia harus cerita?

"Ahem, love birds," kata Hermione yang tengah berdiri di lawang pintu sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Giny dan Harry yang menyadari keberadaan Hermione langsung menghentikan kegiatannya dan melepas ciuman mereka secara paksa.

"Hehe, Hi 'Mione… ada apa?" Tanya Giny sambil tersenyum canggung.

"Maaf aku mengganggu kalian, tapi rasanya aku sangat merindukan tempat ini."

"Tapi kau kan baru sehari meninggalkan asrama ini dan kau sudah rindu?" Tanya harry dengan nada yang menaruh rasa curiga.

"Apa aku tidak boleh merindukan tempat dimana aku bersama sahabat ku berkumpul?"

"Tentu boleh Mione, hanya saja kau agak sedikit aneh. Apa ada hubungannya dengan Malfoy?" Tanya Giny to the point.

"Sebenarnya jika aku ingin menjawab jujur, iya ini ada hubungannya dengan si ferret menyebalkan itu," ucap Hermione sambil cemberut.

"Apa yang ia lakukan padamu kali ini?"

"Well, ia mulai terus menggodaku, mengaturku seolah dia ini benar-benar suamiku, bahkan aku harus berebut kamar mandi dengannya dan…" Hermione ragu untuk membicarakannya.

"Dan… apa?" Tanya Harry makin penasaran.

"Dan… dan… ah sudahlah aku tak mau membicarakan hal memalukan itu!" jawab Hermione frustasi.

"Hmmm…. Aku pikir tahun ini akan sangat seru, buka begitu sayang?" Tanya Giny sambil menggelayut manja pada Harry.

"Ya, aku tak sabar apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin sejarah baru akan terukir di Hogwarts tahun ini. Bukan hanya sejarah heroic kita, tapi sesuatu yang lain juga," ucap Harry santai.

"Apa maksudmu dengan kata-kata itu Harry?" Tanya Hermione dengan nada curiga.

"Sepertinya otak cerdasmu butuh waktu untuk mengerti hal ini, tapi tak apa. Biarkan waktu menjawab semua keanehan dan kegilaan dunia. Kehidupan ini selalu penuh kejutan yang tak kau sangka Mione," ujar Harry dengan nada bijak.

"Oh sekarang kau mulai sangat bijaksana, Harry. Ngomong-ngomong Ron dimana? Aku tidak melihat dia, terakhir aku melihat dia di koridor sedang bercengkrama dengan Lavender."

"Aku juga tak tahu, ia menghilang tanpa alasan," Jawab Giny.

Hermione terdiam merenung. Mengapa Ron menjadi seperti ini? Apa Ron sekarang sudah tidak mau menjalani hubungan ini lagi? Ia bahkan melihat Ron seperti sangat senang dengan Lavender. Wajah Hermione menjadi murung mengingat hubungannya dengan Ron bergantung seperti ini.

"Mione? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Harry dengan nada cemas.

Hermione tak menjawab, ia masih terdiam.

"Mione?" Tanya Giny yang mulai khawatir.

Hermione tersadar dari lamunanya dan tersenyum lemah. "Ya, aku baik-baik saja. Aku akan kembali ke asrama ketua murid sebentar, lalu ke perpustakaan jika kalian ingin mencariku."

"Baiklah, tapi kau yakin kau baik-baik saja?"

"Trust me guys. Bye," papar Hermione sambil pergi dari asrama Gryffindor. Ia berjalan dengan lemah dan terus melamun. Ia berjalan menuju asrama ketua murid, setelah sampai ia mengatakan kata sandi dan langsung masuk, disambut dengan Draco yang duduk di sofa sambil meneguk Green Tea dan Daily prophet di tangannya.

"Dari mana saja kau, Granger?"

"Bukan urusanmu, Malfoy!" Jawab Mione ketus. Hermione kini duduk di samping sofa Draco dan merebahkan dirinya mencoba menenangkan pikirannya yang kusut. Draco mengalihkan pandangannya dari koran yang di pegannya menjadi ke arah Hermione. Seolah tau Hermione sedang kesal ia menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya.

"Kau kenapa? Kau baik-baik saja?"

"Apa pedulimu, Malfoy? Aku sedang tak ada mood untuk berargumen dengan mu."

"Begitu ya, ya sudah. Lagi pula aku hanya mencoba berbaik hati padamu karena kita ber-partner sebagai ketua murid sekarang, tapi terserah padamu. Sekarang sudah waktunya makan malam, kau mau ke Great Hall?"

"Kau duluan saja," jawab Hermione sambil menutup matanya dan memegang keningnya yang penat.

"Ok, take care sweatheart," kata Draco sambil berdiri menaruh koran di meja dan mencium pipi Hermione tanpa izin. Draco pergi meninggalkan Hermione yang terperangah atas perlakuannya. Sedikit terbesit rasa bangga dalam hati Draco karena ia telah menemukan sesuatu yang menurutnya patut ia perjuangkan.

Hermione hanya terdiam sambil memegang pipi yang barusan Draco kecup. 'Apa yang terjadi pada ferret pirang itu? Mengapa ia sekarang berubah menjadi lembut seperti ini? Oh, Hermione kuasai hatimu. Ok, lebih baik aku ke aula saja untuk makan malam, aku juga sudah mulai lapar.' Hermione menggelengkan kepalanya lalu berjalan keluar dari asrama menuju aula. Seketika ia sampai di Aula ia melihat Ron disana sedang asyik mengobrol dengan Giny, Harry dan … Lavender? Apa yang sedang Ron perbuat? Seketika Hermione memberi tatapan tajam pada Lavender dan hatinya mulai merasakan amarah yang meledak-ledak.

TO BE CONTINUE

Bagaimana ? Well, RnR I beg you, please :D dan ya sesuai janjiku, aku memenuhi hukumanku dengan update dua chapter sekaligus, kelanjutanya ada di next chap. Once again, thanks dan maaf banyak kekurangan di Fic Dramione pertamaku ini.