"Jika aku terlahir dari anak keluarga bangsawan yang mempunyai perusahaan dan mobil mewah, mungkin mereka tak akan memperlakukanku seperti ini, tch.. Apa harga diri mereka hanya sebatas aktiva."
"OBSESSION"
..
Lavenderviolletta
Disclamer
Naruto
By: Mashashi Kishimoto
..
Romance/Hurt/comfr
Sasuke.U x Hinata.H
..
WARNING
.
OOC, Miss Typo
..
Happy Reading
Sasuke mengayuh sepedahnya semakin kencang, sesekali ia melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, lima menit lagi ia harus segera tiba di restoran tempatnya bekerja, jam 3 sore tepat ia melakukan scan jari, Nafasnya naik turun, ia memasuki loker utama untuk mengambil seragam, seseorang menepuk pundaknya sebelum ia sempat mengganti pakaiannya.
"Kau datang tepat waktu." Ujar Asuma
"Hm, ada sedikit masalah tadi."
"Bagaimana hari pertamamu bersekolah disana? Menyenangkan bukan?"
Sasuke terkekeh, "Sangat menyenangkan." Balasnya datar
"Hahaha.." Asuma tertawa seraya menepuk-nepuk pundak Sasuke, "Aku membayangkan kau mendapatkan diskriminasi disana, orang-orang itu memang seperti itu, tapi jangan kau hiraukan mereka."
Sasuke mendecih, ternyata Asuma mengetahui bagaimana kehidupan di KISHS "Itu bukan hal sulit."
Asuma kembali tertawa, "Aku tau kau akan bisa menghadapinya."
Sasuke hanya tersenyum kecut, "Pakai ini." Asuma memberikan Sasuke seragam baru
"Kau bekerja sebagai bartender malam ini."
...
Kediaman Hyuuga
Hinata mulai kehabisan akal dengan pria betato Ai di dahi yang kini bersamanya, entah kenapa Gaara sangat sulit untuk di suruhnya pulang, berharap Gaara sudah tak ada di hadapannya ketika ia bangun, namun sayang, Gaara kini malah terlihat asik bermain game ketika Hinata tertidur, Hinata mengubah poisi menjadi duduk, Gaara yang menyadari Hinata bangun menghentikan aktifitas bermainnya.
"Sudah bangun?"
Hinata mengangguk seraya menyenderkan punggungnya pada belakang sofa
"Kau belum pulang?"
"Aku masih ingin berlama-lama disini."
Hinata bangun dan beranjak meninggalkan Gaara yang kembali sibuk bermain video game di ruang tv, Hinata membuka lemari es dan mengambil dua minuman kaleng untuknya dan Gaara.
"Arigatou." Ujar Gaara seraya menangkap cola dingin itu dengan satu tangannya, Hinata berjalan menuju kolam belakang, ia sudah tertidur selama tiga jam, kedua kakinya ia masukan kedalam kolam renang itu dengan kedua matanya yang menatap langit. "Kami-sama." Lirihnya.
Teringat akan seorang pemuda asing yang baru dikenalnya tadi pagi, Hinata tersenyum seraya menatap langit, "Setelah sekian lama, akhirnya aku mempunyai teman." Kembali ia berbicara pada dirinya sendiri, namun ia kembali terdiam.. Pria itu mengacuhkannya, bahkan mengatakan risih ketika Hinata berjalan disampingnya, logikanya mulai berpikir, dan membuatnya semakin lebih gigih untuk ingin dekat dengan Sasuke, yah.. Hanya orang itu, Sasuke adalah orang pertama yang tak memujinya, yang tak melihatnya dari status, sifat Sasuke yang seperti itu membuat Hinata tau bahwa Sasuke seorang yang jujur.. Bukan seorang pesandiwara.
"Kau akan sakit jika berlama-lama di luar." Gaara memakaikan blezer seragamnya pada Hinata seraya ikut mendudukan dirinya disamping Hinata.
"Gaara-kun."
"Hm?"
"Kenapa kau mencintaiku?"
Gaara terkekeh dan meneguk sodanya kembali.
"Banyak hal yang membuatku terobsesi untuk memilikimu."
"Apa?"
"Kau berbeda, dari pertama aku mengenalmu 7 tahun yang lalu, kau ingat?"
Hinata terdiam, dan mulai mengingat kembali kejadian tujuh tahun yang lalu ketika pertama kali ia bertemu dengan Gaara.
"Kau lemah, cengeng, dan sangat gampang untuk disakiti."
Hinata tertawa kecil. "Yah, dan kau selalu melindungiku saat itu."
"Untuk itu aku selalu ingin melindungimu, menjadi orang yang ditakuti satu sekolah itu karena aku ingin tak ada yang berani mengusikmu lagi, Hinata."
"Selain itu?"
"Kau cantik, pria mana yang tidak terpikat padamu." Gaara membelai pipi Hinata lembut, "Kau juga baik,sopan, berasal dari keluarga terpandang, terhormat, kau bagikan seorang putri untukku."
"Kau berlebihan." Hinata terkekeh, "Arigatou Gaara-kun."
Gaara tersenyum seraya memeluk Hinata, "Itu sudah menjadi tugasku untuk selalu melindungimu, untuk itu-"
"Untuk itu?" Hinata melepaskan pelukan Gaara, menatap kedua zambrudnya
"Hiduplah bersamaku." Gaara mengambil dagu Hinata, bermaksud untuk menyatukan bibir mereka.. "Sepertinya Neji-nii sudah pulang." Hinata mendorong Gaara dan berlari meninggalkan kolam renang. Kesal dengan sikap Hinata yang menolaknya Gaara melempar kaleng soda kosong itu kasar, ia mengusap rambutnya, ingin rasanya ia memukul dan menghajar orang untuk melampiaskan rasa kesalnya.
..
Pagi hari menyelimuti suasana Konoha International Senior High School, langkah kaki wanita bersurai indigo itu tampak sengaja ia pelankan, sesekali ia melirik jam tangannya dan masih 30 menit lagi menjelang bel berbunyi.
Hinata membuka pintu kelas, dan tersenyum saat dilihatnya kini seorang pemuda raven tengah duduk dengan menenggelamkan kepalanya diatas meja, ia seperti tertidur.. "Ohayo." Hinata membuat Sasuke mengangkat wajahnya malas.
"Kau datang lebih awal juga Uchiha-san."
"Entah aku yang terlambat datang atau hari ini sekolah di liburkan." Balasnya malas
Hinata terkikik, "Uchiha-san, kelas musik memang dimulai jam delapan, kita memang datang terlalu pagi."
"Aku tak mengetahuinya."
Hinata terlihat bingung saat melihat Sasuke berpindah tempat duduk, setaunya Sasuke kemarin duduk tepat dibelakangnya, tapi kenapa sekarang Sasuke duduk di kursi barisan ke tiga?
"Uchiha-san, bukankah kau seharusnya duduk dibelakangku?"
"Aku tak menyukai duduk di area sana."
"Eh? Kenapa?" Hinata terlihat bingung
"Barisan terakhir biasanya hanya diisi oleh orang-orang pemalas yang suka tidur ."
"Hm?" Hinata mulai berpikir, dan tertawa kecil ketika teringat Chouji selalu tidurr di dalam kelas yang memang menjadi salah satu penghuni barisan itu.
"Hei, lalu bagaimana dengan barisan ke empat? Area tempat duduk ku?"
"Tch.. Area tempatmu duduk hanya untuk area orang yang suka memainkan ponsel, tablet, laptop, dan barang elektronik lainnya."
"Eh?" Hinata tercekat, namun yang dikatakan Sasuke ada benarnya juga, ia sering kali memainkan ponselnya,Shino yang tak pernah lepas dari programernya sehinga membawa laptop setiap hari, begitupun dengan Kiba, Ino dan juga Shion.
"Baiklah, mulai hari ini aku pindah tempat duduk."
"Barisan paling depan biasanya diisi oleh orang-orang yang merasa dirinya pintar."
Hinata menoleh, Ia berdiri kemudian mendudukan dirinya di kursi yang ada di sebelah Sasuke
"Bagaiamana dengan area yang kau pilih, Uchiha-san?" Hinata sedikit memberi penekanan pada kata-kata Uchiha, kesal dengan komentar Sasuke mengenai tempat duduk yang selalu salah
"Disini hanya untuk area orang-orang yang malas menjawab pertanyaan Sensei." Hinata terdiam, hening beberapa detik.. Kemudian wanita bersurai indigo itu tertawa
"Yah. Memang disini tempat untuk orang-orang yang pintar dan cerdas namun malas untuk menjawab pertanyaan Sensei, bukankah begitu Uchiha-san?"
Sasuke terkekeh, "Apa aku mempunyai rival?"
"Tentu saja, selama ini belum ada yang bisa melangkahi nilai Shikamaru-Kun, dan di kursi yang duduki sekarang adalah tempatnya duduk, apa kau telah meminta izin terlebih dulu padanya sebelum kau duduk disitu Uchiha-san?" Hinata berkata mengejek
"Aku tak peduli, kursi ini milik KISHS bukan miliknya."
Hinata terkekeh, "Jika Shikamaru menyuruhmu pergi?"
"Coba saja." Sasuke berkata seolah menantang
Hinata kembali terkekeh, ia mengeluarkan violinnya dan kembali menatap Sasuke,
"Uchiha-san, apa kau tak membawa alat musik?"
"Aku tidak tau hari ini belajar musik."
"Bagaimana mungkin kau tak mempunyai jadwal? Bukankah Tsunade-"
"Aku tak melihat jadwal, dan aku pergi dari restoran tempatku bekerja."
"Eh? Kau tak pulang ke rumahmu?"
Sasuke menggeleng, "Aku pulang pagi tadi, dan langsung menuju sekolah."
Hinata terdiam, Apa pria ini tak mendapatkan tidur pikirnya.
"Berapa lama?"
"Hm?"
"Berapa lama untuk kelas musik?"
"Hari ini, tidak ada pelajaran lain."
Sasuke beridiri, diikuti Hinata
"Kau mau kemana?"
"Pulang, aku tak membawa alat musik.. Lalu apa yang akan ku lakukan disini."
Sasuke berjalan meninggalkan kelas, "Tunggu Uchiha-san."
Sasuke menoleh, "Aku ikut." Ujar Hinata
Sasuke mendecih, tak mejawab perkataan Hinata Sasuke pergi begitu saja.
"Uchiha-san !" Hinata berlari mengejar Sasuke.
Sasuke tak menghiraukan itu, ia terus berlari menuju tempatnya memarkirkan sepedah,
"Uchiha-san," Nafas Hinata memburu, "Ku mohon." Rajuknya.
Sasuke menatap Hinata datar, tanpa memberikan jawaban apapun
"Aku berjanji aku tak akan menyusahkanmu."
"..." Masih tak ada jawaban dari Sasuke, Sasuke menaiki sepedahnya dan pergi meninggalkan KISHS
"Uchiha-san !" Hinata berteriak, ia menghentikan langkahnya.. Tak mampu lagi mengejar Sasuke yang berlari dengan sepedahnya, Sasuke mengendari sepedahnya dengan cepat.
"Kau berisik. Naiklah."
Hinata terkejut ketika Sasuke memutar balik dan berada di belakangnya, dengan senang wanita bersurai indigo itu menaiki sepedah Sasuke. Kedua tangannya memegang pundak Sasuke, yah Sepedah Sasuke tak mempunyai kursi belakang untuk ditumpangi, membuat pewaris utama Hyuuga ini harus berdiri untuk itu. Semoga saja tidak ada teman dari Hiashi atau siapapun yang mengenalnya melihatnya saat ini, bukan malu karena ia menaiki sepedah, tetapi.. Ia takut terjadi sesuatu pada Sasuke, hanya itu.
...
Sasuke menghentikan sepedahnya di tepi danau dan menduduki rumput hijau yang berada disana,, Hinata berdiri di samping Sasuke, tak ada yang berbicara.. Keduanya terdiam, hanya suara angin dan percikan air akibat lemparan batu kecil yang Sasuke lakukan pada danau itu.
"Seorang putri sepertimu pasti tak bisa duduk di atas rumput liar seperti ini."
"Eh?" Hinata terdiam, jujur.. Dia memang segan untuk duduk disana, rumputnya terlalu tinggi untuknya duduk, jika rumput yang ia injak itu adalah rumput hijau yang bersih dan terawat seperti rumput dimana Hiashi dan Neji biasa bermain golf, ia mungkin tak akan segan, bukannya takut kotor, tapi Hinata takut jika ada ulat atau serangga yang masuk ke dalam rok nya
Sasuke terkekeh, "Kau menyesal? Tch.. Kau yang memaksaku untuk ikut." Sasuke kembali melempar danau itu
Dengan segenap keberanian Hinata akhirnya mampu menghilangkan rasa takutnya dan mendudukan dirinya disamping Sasuke
"Kau salah. Ini memang untuk pertama kali aku duduk di atas rumput liar dengan seorang pemuda dingin sepertimu."
Sasuke mendecih, "Katakan. Apa alasanmu."
"Hm?" Hinata melirik, seolah tak mengerti dengan apa yang Sasuke katakan padanya
"Aku tau kau tak bodoh, semua orang menjauhiku disana."
Hinata terkekeh, "Bukannya ingin berpikiran negatif, tapi ternyata setiap orang punya topengnya masing-masing mereka berganti-ganti peran sesukanya sementara aku belum cukup cerdas untuk mengerti wajah dan kenampakan aslinya. Aku hanya melihat segala hal yang mereka tunjukkan padaku tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatinya."
"..."
"Sangat sulit menemukan orang yang tulus disana, jika aku tak menyandang nama Hyuuga di belakang namaku, mungkin mereka tak akan sebaik itu."
"..."
"Dan kau.. Aku melihat ketulusan itu ada padamu."
"Tch." Sasuke mendecih
Hinata tertawa kecil, "Memang sedikit aneh, tapi aku melihat kau menampakan sifat aslimu, kau tak memandang orang dari status, kau tak bertopeng."
"..."
"Dan kau, orang pertama yang mengatakan risih dan bodoh padaku, kau tau aku sangat terkejut, tapi sikapmu membuatku ingin terus lebih mengenalmu, dan akhirnya aku mempunyai teman."
"Tsk.. Aku tak mengatakan bahwa aku ingin berteman denganmu."
"Kita pasti akan berteman. Aku tau kau itu sebenarnya orang yang baik, bukan begitu kan? Sasuke-kun?."
Sasuke menoleh ketika Hinata menyebut namanya
"Tidak apa kan? Jika aku memanggilmu Sasuke? Dengan begitu kita terlihat lebih akrab." Hinata tersenyum
Sasuke memalingkan wajahnya seraya berdecih
"Aahhh .. Ternyata seperti ini rasanya bolos sekolah. Menyenangkan sekali." Hinata merengtangkan kedua tangannya
"..."
"Hei Sasuke-kun, aku belum pernah mendengar kau menyebut namaku."
"Tidak penting."
"Kenapa begitu?Kau tak menghargai persahabatan kita." Hinata mengembungkan pipinya kesal
"Aku tak percaya dengan persahabatan."
"Eh? Tapi-"
"Berhenti bicara, aku butuh waktu untuk tidur, jangan bersuara lagi atau aku akan meninggalkanmu sendiri disini."
Hinata terdiam, ia hanya memperhatikan Sasuke yang kini tengah menenggelamkan kepalanya diatas lutunya yang ditekuk, "Kasian sekali." Hinata berseru dalam hati, ponselnya bergetar.. Gaara mencarinya ini karena dia tak berada di sekolah saat ini, Hinata menghela nafas malas dan memasukan kembali ponselnya ke dalam tas, ia terdiam menatap danau.. Menemani Sasuke yang tengah terlelap dalam tidurnya.
..
Waktu menunjukan pukul 11 siang, sudah 3 jam keduanya berada ditepi danau.. Sampai Hinata tak menyadari bahwa dirinya juga ikut tertidur dan terbangun karena sinar matahari yang semakin panas, ia melihat Sasuke yang masih tertidur, jika Sasuke tertidur seperti ini dia bisa sakit, pikirnya, Hinata melihat ke arah sekitar dan tersenyum ketika ia menemukan sesuatu.
..
Dengan mengeluarkan uang sejumlah 2500yen, Hinata berhasil menyewa sebuah payung besar pemilik kedai minuman yang berjualan tak jauh dari tempatnya duduk bersama Sasuke, Hinata juga menyuruh pemilik kedai itu untuk menancapkan payung besar itu di atas rumput liar itu sehingga Sasuke tak lagi tersorot sinar matahari.
..
Pukul dua siang, Hinata mulai bosan namun Sasuke masih juga tertidur.. Lima menit kemudian Sasuke terbangun, ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menyipitkan matanya saat dilihatnya diatasnya kini bukan langit biru melainkan payung besar yang menutupi dirinya dan juga Hinata.
"Akhirnya kau bangun juga."
Sasuke memijat keningnya yang sedikit pusing
"Minumlah." Hinata memberinya sekaleng minuman dingin, dan Sasuke tak menolaknya. Ia mengambil minuman itu dan meneguknya cepat, membasahi kerongkongannya yang kering
"Kau membuatku menunggu selama 5 jam." Hinata menggerutu
Sasuke mencerna perkataan Hinata, 5jam?
"Jam berapa sekarang?"
"Jam dua lewat lima belas menit-"
"Celaka." Sasuke beridiri,
"Hei, kau mau kemana?"
"Kau pulang sendiri, aku harus bekerja sekarang."
"Tapi-"
"Kau bisa menaiki bus atau taxi setelah kau berjalan dua puluh langkah ke arah barat."
Sasuke dengan cepat melajukan sepedahnya meninggalkan Hinata sendiri disana, Hinata mematung.. Rasa kesal membelenggunya, bagaimana mungkin ia bisa berjalan sendiri ke arah barat? Dimana arah barat itu saja dia tidak tau, seorang pedagang kedai yang melihat itu mendekati Hinata,
"Aduhh aduhh.. Dasar anak muda jaman sekarang, tidak bertanggung jawab sekali meninggalkan wanita secantik dan sebaik nona disini sendiri, apa kalian bertengkar?"
Hinata terdiam, "Dimana aku bisa berjalan ke arah barat?"
"Kau hanya perlu menyebrang dan kemudian berjalan ke arah kanan, memangnya kau mau kemana?"
"Kediaman Hyuuga."
"Eh! Kediaman Hyuuga? Ahh.. Jangan-jangan kau-"
"Arigatou Ojisaan.." Hinata tersenyum seraya pergi meninggalkan pemilik kedai yang masih belum selesai bicara.
..
Kilau lampu yang berkerlap kerlip dan berwarna-warni serta musik yang mengalun kencang seolah menjadi teman untuk pria bartander yang kini tengah sibuk mengantar pesanan minuman para tamu penghuni bartander, seorang wanita berambut merah mudah, memiliki mata emerlard indah , dan salah satu siswi dari KISHS menjadi salah satu penghuni bartander ini, Sakura Haruno. Terlihat mabuk berat, ia mengenakan pakaian serba minim dengan memakai sepatu berhak 7cm berjalan sempoyongan seolah tak mempunyai keseimbangan tubuh.
"Hati-hati Nona."
Sakura terbelalak kaget saat ia menyadari tubuhnya ada yang menahan saat akan terjatuh, suara maskulin itu tak lain adalah suara pria. Sakura berbalik, emerlard dan onyx itu bertemu. Meskipun dalam keadaan setengah sadar namun Sakura dapat melihat jelas raut wajah pria tampan yang berada dihadapannya. Dia terpesona pada pandangan pertama. Yah.. Terpesona dengan seorang Uchiha Sasuke yang merupakan seorang murid termiskin di sekolahnya.
"Kau tampan sekali. Hik.." Sakura berkata dikala keadaan mabuknya, ia mencoba untuk membelai pipi Sasuke, namun Sasuke dengan cepat menepisnya.
"Anda terlalu banyak minum." Sasuke mendudukan Sakura di sofa
"Ma - mau kemana? Jangan tinggalkan aku."
Sakura memegang erat tangan Sasuke, tak mau melepasnya
Sasuke tak tau harus berbuat apa, seandainya ini bukan tempatnya bekerja mungkin ia sudah melepaskan tangannya kasar.
"Ada masalah?" Asuma mendekat.
"Hn, kau lihat wanita ini tak mau melepaskan tanganku."
Asuma terkekeh, "Hei, kau mendapatkan wanita cantik dan kaya. Kenapa kau tak manfaatkan saja."
Sasuke hanya menatap Asuma datar.
"Hei, siapa kau?" Sakura mulai merancau lagi,
"Aku managernya disini, bisakah kau melepaskan tangan karyawanku ini Nona? Dia harus bekerja karena masih banyak tamu yang memesan minuman malam ini."
"Tidak ! Berapa? Bisakah aku menyewanya semalam saja? Aku mabuk berat. Aku tak bisa membawa mobilku. Jika aku mati apa kau mau tanggung jawab HAH !?"
Asuma terdiam, "Sasuke, kau antar Nona ini pulang, setelah itu kau kembali lagi."
Dengan berat hati akhirnya Sasuke mengantar Sakura pulang, Sasuke membopong Sakura hingga memasuki mobil selama di dalam mobil Sakura menggurau tak jelas, namun Sasuke mengenal nama orang yang Sakura sebutkan. Yah, Sakura berulang kali menyebut nama Naruto. "Tch., inikah prilaku seorang siswi KISHS yang terhormat dan kaya raya." Ujar Sasuke dalam hatinya
..
"Hei Siapa namamu?"
"Uchiha Sasuke."
"Sasuke huh?"
"..."
"Hahahaa..." Sakura tertawa tak jelas, "Ne Arigatou Sasuke."
Tanpa membalas Sasuke pergi meninggalkan Sakura yang masih berdiri di teras rumahnya. Sakura memperhatikan punggung Sasuke yang berjalan semakin menjauh, "Aku akan datang lagi Sasuke."
...
Konoha International Senior High School
Brak !
"Kau keterlaluan !" Hinata menggebrak meja Sasuke kasar. Hal ini membuat seisi kelas hening, memperhatikan keduanya.
"Kau memang dingin, tapi apa perasaanmu juga sudah beku eh? Kau meninggalkan seorang wanita yang tak tau jalan pulang, seorang wanita yang menunggu dan menemanimu tidur hingga kau terbangun lalu kau pergi meninggalkannya begitu saja, dimana tanggung jawabmu !"
Tanpa Hinata sadari perkataannya membuat semua orang berpikir negatif, Yah tentu saja, Hinata mengatakan menemani tidurr, pergi begitu saja, tanggung jawab? Semua orang beranggapan Hinata telah melakukan sesuatu hal yang buruk dengan Sasuke.
"Kau yang mengatakan tak akan menyusahkanku. Apa kau lupa?"
"Eh?"
"Dan kau yang memaksa untuk ikut bersamaku."
"Tapi kau berjanji tak akan meninggalkan aku sendiri disana."
"Aku tak berjanji. Aku hanya mengatakan jika kau terus berisik aku akan meninggalkanmu."
"Tapi aku diam kan? Aku mengikuti semua yang kau katakan tapi kau-"
"Ckckckckk... Kau ingin menjadi kaya dengan instan Uchiha? Mendekati Hyuuga Hinata dan kemudian menidurinya." Ino memotong pembicaraan Hinata.
"Mengerikan sekali Ino.. Ohh.. Hime, jika Gaara tau, apa kau akan menjamin keselamatan selingkuhanmu ini hm?" Shion ikut mengeluarkan suara
"Ohh.. Aku tak menyangkan wanita terhormat dan anggun seperti Hyuuga Hinata saja bisa ikut menjadi sampah jika dia bersama sampah." Ino berkata sinis
"Cukup ! Tarik kembali semua yang kau katakan Yamanaka." Hinata mendekati Ino, kedua lavendernya menatap Shappire itu tajam
"Begitulah faktanya.. Kenapa? Kau malu Hime?"
"Itulah kenapa Gaara tak pernah sedikitpun menyukaimu. Kau bersikap seolah wanita terpandang, tapi sifatmu membuat kau terlihat murahan Yamanaka."
"Kau-"
"Aku bisa mengeluarkanmu dari KISHS kapanpun aku mau."
"Tch, jika Hiashi-sama tau kau tidur dengan pria itu, kau bisa apa?" Ino mengancam.
Hinata terkekeh, "Katakanlah apa yang ingin kau katakan."
Hinata pergi meninggalkan kelas begitu saja, ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, entah kenapa pikirannya kacau.. Mengingat perkataan Ino jika Gaara tau bahwa ia pergi bersama Sasuke, apa Sasuke akan baik-baik saja.
Ckiiiitttttt...
Hinata berhenti mendadak. Sasuke? Pikirnya, yah.. Dia bahkan melupakan nasib Sasuke, ia kembali menekan pedal gas dan memutar arah menuju KISHS lagi, perkataannya mungkin berdampak buruk bagi Sasuke. Setelah ini Gaara pasti akan menghajar Sasuke habis-habisan, dan Sasuke akan membenci Hinata. Tak apa jika Sasuke membencinya, tapi saat ini Hinata hanya memikirkan keselamatan pria itu. Yah semoga belum terlambat.
..
TBC
Thanks for read&review
Arigatougozaimass Minaa \(^▿^)/
See you Chapter~3
