"Aku tidak menyukaimu."
Zilong mengerut. Ia tahu; sentimen yang sama telah ia miliki semenjak pertama kali mereka bertemu—semenjak pertama kali melihat Alucard yang sangat karib dalam naungan si pemburu. "Aku juga tidak menyukaimu." Ia menggeram—ada perasaan yang kuat, ingin menarik pria itu keluar dan berduel sampai titik darah penghabisan.
Pria itu berdehem keras. Ia menyalakan rokoknya dan mengisap, lalu dihempaskan ke sembarang arah. "Aku bukan sainganmu." Katanya, saat menyadari tubuh Zilong tegang—bahasa tubuhnya siap untuk menerjang. Insting primitifnya terasa lebih dominan, apalagi dengan menghilangnya Miya, omega yang seharusnya mampu meredam naluri persaingan di antara dua alpha. "Aku tidak akan mengklaimnya. Kau yang kutakutkan akan melakukan itu."
Mendengar itu, Zilong menghela napas dengan kasar. Napasnya sejak kapan ia tahan—ia berhenti mendengar pada kalimat pertama.
"Jangan macam-macam padanya." Adalah peringatan yang diberikan pemburu itu. "Kalau kau macam-macam, aku akan langsung membunuhmu."
Setelah mengatakan itu, ia tak menunggu balasan dan pergi meninggalkan Zilong sendirian, dengan pikirannya.
Beberapa hari kemudian, mereka pergi dari Eruditio untuk melakukan pekerjaan yang ditawarkan oleh para ilmuwan di sana. Menjelajahi kontinen yang sebelumnya tak pernah dipijaki, tempat dimana klan Shura yang legendaris berdiam.
Zilong memiliki firasat buruk—tapi ia tidak menyuarakannya.
.
immaculate deception
mobile legends: bang bang (c) moonton.
.
2: alone together
warning: hint lancelot/gusion, martis/alu.
note: aturan ini berhenti di sini. tapi karena ada berita adeknya zilong bakal rilis, jadi saya merasa BUTUH untuk menulis bocah itu. dan saya jadi ga yakin kapan bakal kelar ini, saya mulai sreg nulis omegaverse soalnya.
note2: daerah di sini benar-benar ada di canon-nya? referensi dari event bane's treasure.
.
Zilong mendorongnya—ia tak sempat menoleh untuk melihat apa yang menerjangnya. Ada sebilah pisau yang membelah udara nyaris menyentuh tubuhnya. Saat Zilong melihat dirinya tidak apa-apa, ia berbalik, tombaknya kuat dalam genggamannya seraya kakinya melangkah mengampiri ruang bayangan di antara dua pohon yang tak mampu diraih cahaya bulan.
Ia mengibaskan debu yang tertinggal di mantelnya, lalu mengikuti Zilong pelan-pelan.
Ada deru napas seseorang, patah-patah, lemah. Orang dalam bayangan itu terisak—Alucard mengendus udara, mendapati aroma pikat darah—ia terluka, parah, sepertinya. Zilong juga sepertinya menyadari ini, karena tubuhnya membeku di tempat. Untuk beberapa lamanya ia melirik ke Alucard, seolah mengisyaratkannya untuk maju dan melihat situasinya.
Alucard menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya setengah merendahkan—namun pria itu tak menganggap candaannya. Ia bergumam, "Kau membosankan." Sambil melangkah mendekat.
Ia melihat seorang laki-laki, tertunduk lesu bersandar pada pohon. Ada luka tebas panjang di tubuhnya. Wajahnya pucat pasi—berapa lama ia di sini, dalam situasi demikian? Kelopak matanya yang dipejamkan terbuka pelan-pelan. Mata mereka bertemu, pria itu menghela napas.
"Akhir… nya," Gumamnya. Suaranya pelan—ia tak ingin didengar. Tangannya ia letakkan pada perutnya—mungkin ia menekan-nekan pada awalnya, namun berhenti berusaha saat tubuhnya menjadi kelewat lemas karena darah yang terus-menerus mengalir dari lukanya—atau karena ia merasa itu adalah upaya sia-sia?
Ia mengampiri pria itu.
Namun terhenti sejenak saat ia mencium feromon familiar yang menggantung di udara, bersanding bersama dengan aroma dedaunan dan tanah. Alucard berbalik untuk melihat Zilong membuang muka—ia tahu, ia tahu apa yang terjadi di sini, pada orang itu; itulah sebabnya ia tak mendekat.
Mendekat berarti masalah.
Samar-samar ada yang menusuk indera penciumannya. Seperti seorang alpha—tapi tak ada alpha di sini selain Zilong—ia terpisah dari Roger, Miya dan Nana beberapa saat lalu, saat—
"Hei… bantu…."
Alucard tersadar dari lamunannya. Ia bertelut di samping pria itu dan mengamati lukanya—tapi matanya tak bisa berhenti melihat luka gigit di lehernya yang terekspos, di permukaan kulit tipis yang dekat dengan nadinya.
Ia meraung kesakitan, namun tetap menorehkan senyum pada Alucard. "Syukurlah kau… yang menemu… kanku—"
"Sesuatu mendekat." Potong Zilong.
Seketika pria itu terbelalak. Ada rasa takut yang luar biasa dari pancaran matanya. Alucard ingin bertanya, namun niatnya ia urungkan. Untuk sekarang, ia harus membantu pria itu dan mencarikannya tempat yang aman. Ia membantunya berdiri dan menuntunnya mendekati Zilong—temannya mendengus tak senang, sedangkan pria lainnya meronta, tak ingin dekat-dekat dengan alpha lain selain miliknya—Alucard tahu persis perasaan itu; ia menggumamkan maaf, karena ia tak memiliki banyak opsi.
Zilong mengangkat tangannya. "Tenang. Aku tak menginginkanmu."
Matanya melirik Alucard.
Alucard mengangguk kecil dan mereka berjalan lurus, Zilong memimpin langkah mereka.
Mereka berjalan menuju perangkap.
.
.
Mereka bertiga dituntun dan diletakkan bersama-sama dengan tahanan yang lain—Roger dan Nana, sedangkan Miya berdiri memunggungi mereka semua, matanya menatap lurus pria di atas takhta itu, tajam, tangannya yang dibelenggu bergerak gelisah ingin meraih busurnya yang tergeletak tak jauh dari kakinya.
Tak jauh dari sana, ada tubuh beberapa orang yang Alucard kenali sebagai ilmuwan yang ikut bersama mereka, tergeletak kaku tak bernyawa. Masih baru.
Miya tak menoleh ke belakangnya, alisnya menukik turun saat mencium darah dan feromon omega yang sekarat dan membutuhkan pelampiasan atas nafsunya yang sudah memuncak—lebih dari itu, ada samar-samar sakit dan kehilangan—seorang alpha, dirampas darinya. Miya mengangkat kepalanya saat mengidentifikasi stress yang diproduksi omega asing itu; membawanya kemari mengulang lagi apa yang telah ia lalui.
"Kau… benar-benar biadab." Ucapnya, akhirnya. Banyak hinaan yang ingin ia katakan, namun semuanya tak mampu menggambarkan seberapa bajingan orang ini. "Ia tidak seharusnya disini. Apa yang kau lakukan pada—"
Orang itu tertawa mendengar ocehan Miya. "Aku tidak menyukai perempuan yang banyak omong dan tak tahu kodratnya—bawa ia pergi."
"Kau tidak bisa—!"
Namun para penjaga itu cepat, mereka menyeret Miya pergi keluar dari takhta, meskipun wanita elf itu menendang dan mengayunkan tangannya. Nana—yang semula hanya terisak menahan tangisnya—meneriaki Miya dan tangisnya semakin deras. Roger menyentuh puncak kepalanya untuk menenangkannya, di sampingnya, Zilong mendecih. Pandangannya tertuju pada busur milik Miya, lalu ia mengedarkan visualnya, hendak mencari celah untuk mengeluarkan mereka semua dari situasi ini.
Alucard menoleh ke sampingnya. Pria itu menunduk, berusaha mengatur napasnya—walau ia kewalahan. Ia menyentuh punggung tangan pria itu, memberikan usapan ringan untuk menenangkannya. "Kita akan baik-baik saja—semua akan baik-baik saja."
"Kau… hah… tidak tahu… itu…."
"Tidak, aku tahu, karena—"
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, seseorang menjambak rambutnya dan memaksanya berdiri. Alucard merasakan jantungnya berdebar saat bertemu pandang dengan sosok yang paling berkuasa di dalam ruangan itu. "Dan… apa yang kau bicarakan dengannya?"
Ia balas menatap tajam, tak ingin terintimidasi olehnya. "Sesuatu yang jauh lebih menarik darimu."
Ia menerima tamparan keras di pipinya—panas, rasanya. Pria itu tak setengah-setengah; ia memukul dengan sekuat tenaga. Alucard mulai ketakutan membayangkan apa yang bisa dilakukan olehnya seandainya ia bicara seperti tadi lagi.
Tapi ia mengingat Miya dan pikir, mungkin… bila orang ini dibuat jengkel setengah mati… mungkin ia akan dibawa ke tempat yang sama dengan Miya.
"Kau juga, ya?" ia terkekeh—seperti baru saja menerima tantangan. "Hah, padahal aku mulai menyukai omega seperti kalian—apakah kalian semua selalu serampangan dan memiliki sifat pembangkang?" orang itu mendongakkan kepala Alucard—bola matanya yang keunguan seolah menatap tembus sampai ke hatinya. Ia tersenyum sinis. "Siapa namamu?"
Tidak ada salahnya menjawab, kan?
Ia membiarkan matanya memandang ke belakang sepersekian detik, melihat Roger yang jari-jarinya berkutat gelisah, berusaha membebaskan tangannya dari belenggu itu. Mulutnya bergerak, bisik-bisik pada Zilong di sampingnya yang menunduk, entah seperti apa emosi yang ada di wajanya. Nana merangkak mendekati omega asing itu, berusaha menenangkannya.
Matanya kembali pada pria itu. "Bukankah seharusnya kau yang memperkenalkan dirimu terlebih dahulu, alpha?" ujarnya sinis—namun ia menyadari kesalahannya saat melihat mata pria itu terpaku intensif padanya, berkilat dengan keinginan yang sangat Alucard kenali—keinginan primal untuk memiliki.
Napasnya tercekat, wajahnya terasa terbakar saat mata pria itu tak lepas dari dirinya. Ia pelan-pelan mengangkat kakinya untuk mundur setengah langkah, namun pinggangnya ditahan, dan ia ditarik mendekati tubuh lawannya. "Rasanya kita belum selesai bicara, manis."
"Lepas."
Pintanya—atau, bukan dia. Itu bukan suaranya. Alucard memalingkan pandangannya untuk melihat beberapa anak buah pria tersebut telah memasang ancang-ancang menyerang, dengan mata tombak yang diarahkan pada Zilong. Tangan kawannya terkepal di pangkuannya, menahan sesuatu.
Hati kecilnya tahu pria itu akan melawan.
.
.
"…kau apakan mereka?"
Tanyanya pada Martis—pria itu, raja dari kaum Shura yang ditakutkan oleh banyak kalangan. Kaum pengembara dalam pengasingan, menakutkan, mematikan. Alucard pikir mereka hanyalah isapan jempol—seperti bangsa yang dapat menelan cahaya yang historinya tertulis di museum yang pernah ia kunjungi bersama dengan gadis itu.
Ia dipersilakan duduk di atas sofa merah beludru yang—sangat nyaman, kalau boleh terkejut. Alucard pikir mereka tidak memiliki kelas; barbar. Mungkin tidur di atas batu di dalam gua, memakan kelelawar dan berburu beruang.
Heh.
Seorang wanita paruh baya memasuki ruangan dan meletakkan secangkir minuman di hadapannya—ia tak akan meminumnya, pasti racun. Tapi aromanya yang hangat membuat tubuhnya mendekat untuk melihat apa minuman yang ditawarkan. Hanya teh—warnanya hijau bening, mengingatkannya pada minuman yang sering diberikan padanya sehabis heat kala ia berada di Nost Gal.
"Minumlah."
Martis mengampirinya dan mengusap pipinya lembut—ia menggeram kecil, tak senang. Tangannya ia angkat, masih terikat dan tak bisa leluasa bergerak. "Kalau kau tidak tahu, ini bukan tradisi manusia untuk menyambut tamu."
Tangannya segera dilepaskan, pria itu cukup hati-hati—besinya ia angkat perlahan tanpa sedikitpun mengenai kulitnya. Ada berkas kemerahan yang melingkari tangannya meskipun ia tidak begitu lama dibelenggu. Pria itu mengusapnya lembut.
"Terima kasih."
Kata Alucard, dengan penekanan di tiap silabel.
Seraya ia melayangkan tinju pada leher pria itu dan menendang perutnya.
Zilong dilemparkan ke ruang tahanan yang lembab, tetapi ia dapat menghela napas lega saat melihat Miya menangkapnya, kondisinya tak jauh lebih buruk dari terakhir dilihat.
"Mana Alu…?" adalah yang pertama keluar dari mulut wanita itu—ia tahu prioritasnya. "K… kau diapakan oleh mereka?" merujuk pada tubuhnya yang terluka parah dengan beberapa luka tebas yang menghiasi kulitnya. Miya mendekati wajahnya, Zilong memejamkan matanya. Ada luka lebam dan memar, hidungnya mengalirkan darah segar.
Roger menyusul, bersama dengan omega itu dan Nana yang menjerit keras-keras saat ia dijebloskan. Sikutnya lecet saat ia bergesekan dengan bebatuan. Tangisnya makin menjadi, namun karena suatu hal yang lain—karena saat ini ia bersama Miya, ia merasa sedikit lebih baik—tapi tetap saja sakit.
"Kau tidak apa-apa kan, Miya?" gumam Roger, ia berdiri dan mendatangi Nana untuk menyumpal mulutnya. Anak itu terisak, tak lagi merengek—namun ia kembali menjerit saat Roger melepaskan. Kedutan muncul di wajahnya. "Kita harus pergi dari sini."
"Tidak… kita harus menangani lukanya… Nana pasti bisa… kan?" Volumenya kecil; matanya berkaca miris. Deru napas pria itu semakin melemah tiap detiknya. "Jangan… berisik. Kita harus bisa mengatasi ini—sebelum… sebelum orang itu tahu—aku tidak ingin membangunkannya dan memberitahunya kalau—"
Alucard mendesis, sakit kala punggungnya mengantam dinding, tangannya ditahan dalam cengkeraman kuat yang pastinya akan menyisakan bekas. Wajah mereka terpaut beberapa senti, ia membuang pandangannya saat melihat amarah pada mata sang raja. Dalam hati ia tersenyum—mungkin dengan ini ia dapat disatukan dengan yang lainnya dan mereka dapat menyusun siasat untuk kabur.
Oh, dan ia akan meminta Roger untuk tidak menerima tawaran pekerjaan yang aneh-aneh meskipun nilainya cukup lumayan—sangat besar sampai-sampai nominal itu terhitung absurd, dan nominal itu pula yang membawakannya ke situasi absurd ini, dengan raja dari kaum Shura yang mendekatkan wajahnya ke nadi lehernya, berusaha merasakan feromonnya, lebih kuat dibanding yang sudah ia kecap samar melalui peluhnya.
Tubuhnya membatu—ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa mendapatkan perlakuan seperti ini, saat pria itu menarik napas dalam-dalam, ia berhenti bernapas—rasanya seperti melalui sesuatu yang tak ingin ia ingat dari masa lalunya, di ruang sempit yang gelap, darahnya diisap untuk memuaskan mereka yang—
"Tenanglah sedikit, omega."
Ia tidak bisa merasa tenang, sesak, ia tidak mau—matanya mulai terasa panas, meleleh, mulutnya bergerak dengan sendirinya—ia menjerit, lantang, berharap sampai ke mereka—ke Miya, Roger, ah, Zilong—
Zilong membuka matanya—feromon omega dalam heat-nya beraduk dengan milik seorang alpha yang tak pernah ia endus sebelumnya. Roger dan Miya di sampingnya, Nana dipangku oleh Miya yang memeluk tubuh kecilnya, entah untuk menenangkan Nana atau dirinya sendiri. Elf cilik itu nampak kelelahan, matanya terpejam dan ia mendengkur lemas.
Ia berusaha mengeluarkan imej dua orang sedang—ah, makanya mereka berdua dekat-dekat dengannya, berusaha melingkupi satu sama lain dengan feromon yang sudah familiar, mencari distraksi atas ketidaknyamanan mereka. Roger sesekali membuang muka, ia menahan pergelangan tangan kanannya dengan tangannya yang lain. Miya memejamkan matanya, berpura-pura merasa nyaman, meskipun hidungnya sesekali mendengus terganggu.
Wanita elf itu mengusap puncak kepala Nana. "Nana menyembuhkanmu—tapi mungkin kau akan merasa sedikit kesakitan… ia belum terbiasa dengan sihirnya, jadi prosesnya agak kikuk."
Tubuhnya terasa ringan, tak lagi kesakitan—sedikit, pada bagian dada, ia bisa mengatasi itu. Miya tersenyum ke arahnya, walau wajahnya masih menyiratkan kekhawatiran yang sangat untuk kawannya yang lain, yang terpisah dari mereka.
"Kalian mendengarnya…?" ada sesuatu yang tidak beres—ia tidak menyukai perasaan ini. Seperti sebuah peluang yang ia sia-siakan—lebih buruk, sesuatu sedang terjadi dan ia merasakan ketidakmampuannya untuk melawan—apapun itu ia tidak menyukai ini, mengusiknya tiada henti. Miya bergerak mendekatinya. "Kita harus keluar dari sini—kita harus… membantunya."
Roger mengangguk mendengar itu, tapi Miya menautkan alisnya. "Kita tak memiliki apapun saat ini. Jangan gegabah, Zilong."
"Kita akan kehilangan Alucard kalau kita hanya diam disini tanpa melakukan perlawanan, elf."
Hal itu tak segera dibalas olehnya. Miya menunduk, ia menorehkan senyum tipis pada bibirnya—ada perasaan lega dalam dirinya.
Wajanya dibenamkan pada leher Martis saat disadari napasnya tak karuan dan ia menangis—panik. Martis berusaha menenangkannya dengan memanfaatkan feromon dominan alpha-nya. Tapi Alucard tak dapat sepenuhnya tenang. Napasnya masih memburu dan pupilnya mengecil, pikirannya hanyalah gambaran abstrak dan ia tak bisa merasa tidak takut pada apa yang tak ia ketahui. Di tengah kesadarannya yang simpang-siur—kembali saat ia tak panik karena terlalu diracuni oleh feromon alpha yang menenangkannya, pergi saat ia sadar yang membuatnya nyaman adalah alpha ini—ia bertanya di antara isakan, "Apa… maumu…?"
"Bukankah sudah jelas?" ia tertawa—Alucard membenci suaranya. Ia membenci ini—ia seharusnya melawan tapi tangannya lemas; dirinya serasa tak berdaya dan kepalanya berputar-putar, mabuk karena penciumannya ditenggelamkan oleh feromon alpha. "Aku menginginkanmu. Kupikir aku lebih menyukai elf itu sebagai pengantinku; berani, kuat—tapi saat mendengarmu memanggilku demikian, aku… hah—aku ingin kau melakukannya lagi dan lagi."
Ia tahu kemungkinan yang akan terjadi setelah ini—itulah sebabnya ia di bawa kemari. Alucard tak melihatnya pertama kali, namun saat ia membuka matanya ia melihat sebuah ranjang besar di sisi ruangan, dan ia berpikir kalau orang ini akan melakukan apa yang paling tak ingin dilakukan padanya—ia tidak ingin memikirkan itu.
Suara ibunya terngiang—ia tidak boleh diperlakukan seperti ini. Ia bukan properti milik siapapun, diperlakukan seenaknya dan—
"Aku tidak ingin melakukan ini, sayang." Katanya, seolah kalimat itu memberikan validasi atas apa yang telah ia perbuat. "Tapi kalau kau keras kepala seperti ini, aku terpaksa harus bermain kasar."
Ada banyak umpatan yang ingin ia lontarkan dari mulutnya—oh, ini tidak cukup kasar?—tapi ia terlalu takut pada konsekuensinya. Belum melanjutkan apa yang ada di pikirannya, ia disadarkan saat tubuhnya diangkat, lalu dihempaskan ke ranjang.
Pria itu tertawa melihat ekspresi Alucard. "Aku tidak akan memerkosamu, kalau itu yang kau takutkan. Kami memiliki tradisi sendiri untuk momen seperti ini; kami bukan monster." Ia merangkak, tubuh Alucard ia kekang dengan kedua tangannya. Alucard memundurkan tubuhnya sampai punggungnya bertemu dengan kepala ranjang—benar-benar terdesak, ia akan mati disini—ah, suara ibunya terngiang di kepalanya saat Martis mendekatinya, seringainya lebar memperlihatkan deretan gigi-giginya yang siap untuk menggigit.
"Aku hanya akan… ah, menandaimu—tidak ingin ada orang lain yang menginginkanmu."
Ia meringis ngeri saat Martis mengatakan demikian, lalu mempertemukan bibir mereka.
"Tuan, bolehkah Nana ke kamar kecil?"
Tak jauh di belakangnya, Miya memanjatkan doa dan litani puji-pujian untuk Dewa-nya, berharap sampai dan ia dipinjamkan kekuatan untuk menghadapi ini semua, hingga ia mendapatkan kembali busur pusakanya. Ia harap masih ada; tergeletak tak jauh dari takhta sang raja yang akan ia bunuh seandainya ia melakukan macam-macam pada temannya, sesama omega—solidaritas, Miya sudi membunuh seluruh kaum Shura untuk membantu Alucard, meskipun ia tahu ia tak sepadan dengan mereka.
Zilong pun sepertinya demikian. Roger mengguncang bahunya—ada sesuatu yang mengusiknya, sedari tadi wajahnya mengerut tak karuan. Deru napasnya kasar seperti ia menahan amarahnya—Miya tahu kenapa.
Nana dipukul dengan batang tombak oleh orang yang menjaga sel. Ia menangis sejadi-jadinya, lalu merengek pada Miya.
Mereka tak bisa mendapatkan celah—padahal kunci berada pada sipir itu. Sangat dekat, terlalu sulit. Nana ingin menggunakan sihirnya untuk mentransformasi sipir itu—tapi ia tidak berani karena takut pada kemungkinan ia akan dipindahkan ke suatu tempat yang lain, jauh dari Miya dan yang lainnya.
Tak ada jalan, Zilong harus bertanya pada dua orang lainnya—mereka pasti bisa melakukan sesuatu, kalau tidak… apakah ia akan hidup dengan perasaan tak enak ini seumur hidupnya? Pelan-pelan ia mengampiri mereka—berusaha nampak kecil, tak ingin dianggap menginvasi teritori milik alpha lainnya yang saat ini bersandar pada dinding, kepala omega-nya pada pangkuannya.
"Kita harus keluar dari sini." Mulainya. Pria itu menggeram tak senang, tapi ia menahan diri. Karena apa yang Zilong katakan benar. Ia sudah muak ditahan seperti ini layaknya binatang liar. "Ada masukan?"
Pria itu nampak berpikir. Akhirnya ia membuka mulut. Katanya, perlahan, "Ya… ada, sebenarnya…."
.
.
Ia berusaha mengingat Roger—tapi tak pernah ia mendapat perlakuan sekasar ini. Ia membayangkan Zilong—apakah pria itu akan memperlakukanya sekasar ini? Ia berusaha menggantikan imej Martis dengan sosok yang familiar, untuk meringankan beban mentalnya.
Pakaiannya dilepas dengan paksa, hingga bagian atas tubuhnya terekspos, dibaringkan datar di atas ranjang. Tangannya di tahan di atas kepalanya, Martis—yang kini memposisikan diri di atas tubuh Alucard—meraih dagunya dan memiringkan kepalanya untuk melihat, tidak ada bekas gigitan pada lehernya yang seharusnya ada seandainya omega telah dimiliki oleh orang lain.
"Aku yang pertama, eh?" ia menyeringai, tak sabar ingin membenamkan taringnya pada omega di bawahnya.
"Kau… akan menjadi yang terakhir… juga… heh." Katanya, pada sang raja—seringainya semakin lebar; akhirnya omega ini melihat apa yang ingin ia perlihatkan. Tapi ia berhenti saat Alucard melanjutkan, katanya. "Aku akan mem… bunuh diriku sendiri seandainya kau—ah—"
Ia ditampar—lalu wajahnya dipaksa untuk bertemu dengan bola mata indigo milik Martis—ia menutup matanya kuat-kuat, mendesis tertahan. "Kau juga tidak bisa memahami situasimu, ya? Ahh—tidak apa, aku penyabar." Katanya. "Aku akan mengajarimu untuk mengerti situasimu; kau, seorang omega, bersama seorang alpha yang menginginkanmu sebagai pengant—"
Sebilah tombak dihunuskan pada tubuhnya sebelum ia sempat selesai berbicara. Alucard membuka matanya dan melihat Zilong di belakang tubuh kokoh sang raja, mengertakkan giginya, tangannya gemetaran memegang gagang tombaknya—tubuh orang ini terlalu keras, seperti yang ia duga dari seorang Shura, apalagi rajanya. Pria itu tidak dapat melancarkan serangan balik, Zilong menendangnya hingga ia terguling jatuh, lalu membantunya untuk berdiri dan memosisikan Alucard di belakang tubuhnya.
Sementara itu Martis mengerang kesakitan—ia menolak untuk mati. Gigih untuk terus hidup. Dengan cepat ia berdiri dengan kedua kakinya lagi, seolah tidak ada luka besar menganga di perutnya sehabis dihunuskan tombak.
Mata Zilong masih terpaku pria itu dengan sorot mata ingin membunuh—sesuatu yang hatinya sangat, sangat banggakan. Tapi ia tahu tidak bisa membiarkan Zilong melakukan apa yang ada di pikirannya—ia tidak akan bisa. Ia akan membunuh dirinya sendiri; pria Shura itu terlalu kuat.
"Zilong… ayo kita pergi dari sini." ajaknya, pelan, setengah memohon. Apapun untuk membuat pria itu sadar kalau instingnya telah membajak pemikiran rasionalnya. Zilong bergeming—Alucard mulai khawatir, dilihatnya tangan pria itu mengepal kuat-kuat, bola matanya menyempit—dan Alucard kali ini sadar kalau ini adalah sesuatu yang tidak bisa ia urungkan; Zilong benar-benar, sangat ingin, membunuh Shura itu.
Ia menyentuh punggung tangan pria itu dengan lembut, lalu bibirnya ia dekatkan pada telinga Zilong—ia harus melakukan sesuatu. "Zilong, ayo pergi." Ia mengucapkan dengan nada persuasif yang tak biasa ia lakukan; ia tidak pernah dekat dengan akar omega-nya, namun sepertinya ia masih memiliki sentuhan itu. Pria itu berhenti bernapas untuk beberapa saat. Ia menoleh ke Alucard. "Aku… aku baik-baik saja."
Sementara itu Martis terkekeh melihat determinasi Alucard. "Kau tidak akan kemana-mana, omega." Ujarnya, dan melangkah semakin dekat. "Kau milikku."
Zilong menggeram tak senang. "Ia bukan milikmu."
Tidak lama kemudian sang raja berhenti melangkah saat menyadari kehadiran orang lain di mulut pintu—Miya ada di sana, dengan busur yang terangkat tinggi, matanya tidak main-main akan memanah Martis. Ia tertawa. "Kau menyebut dirimu seorang alpha? Kau bahkan tak bisa menghadapiku seorang diri untuk melindunginya." Ia menyentuh luka di tubuhnya; masih mengalirkan darah segar, dan nampak tidak akan berhenti dalam waktu dekat. "Pengecut."
Alucard tak sempat menghentikan Zilong yang bergerak tanpa ada indikasi ia akan melakukannya; menerjang pria lainnya dengan kepalan tangan yang kuat—Alucard meringis sedikit, mendengar bunyi seperti tulang yang retak.
Saat itulah ia merasa kaku.
Ia tidak tahu, tapi saat itu wajahnya berbinar, hingga Miya meneriakinya pun, ia tak bisa menahan hatinya yang terasa sangat gembira saat itu, saat melihat Zilong dan Shura itu bertarung melawan satu sama lain—dengan tangan kosong, hingga mereka babak belur, berusaha memperebutkan dominasi atas seorang omega, dirinya—instingnya merasa sangat, sangat puas—
Ah.
Ia harus menghentikan ini, sepertinya.
Tapi ia tidak ingin—kepingan kecil dalam dirinya ingin melihat Zilong keluar sebagai pemenang.
.
.
"Tidurlah denganku."
Alucard tersedak di tengah lamunannya—demikian pula Roger dan Miya, sedangkan Nana menatap polos ke arah Alucard lalu memekik, 'Nana juga mau tidur dengan Alucard!'
Belum genap satu minggu sejak insiden itu, mereka telah kembali ke Eruditio—bersama dengan dua orang lainnya, yang mengatakan mereka berasal dari negeri di sebelah barat danau Moniyan, dan hendak bertolak untuk pulang; hanya mereka berdua.
Alucard membelalakkan matanya ke arah Zilong, ia mengusap bibirnya yang mengalirkan saliva karena beberapa milisekon kehilangan kendali saking terkejutnya. "A—maaf…?"
Roger memelototi pria itu, tidak senang dengan ajakan yang ia utarakan seperti mengatakan 'Aku habis makan es krim tadi siang'. Elf itu menyilangkan tangannya di depan dada, menatap Zilong tajam, ingin penjelasan atas perkataannya.
Padahal Alucard pikir Zilong adalah orang yang berbeda dari yang lainnya. Masih memerah padam karena malu, wajahnya ia telungkupkan pada telapak tangannya. Ia tidak salah dengar. Memalukan, tidak sopan. Tapi entah kenapa… sesuatu di dalam dirinya beriak riuh, girang—hati kecilnya tidak keberatan menyambut tawaran itu dengan tangan terbuka.
Tidak, tidak boleh.
Ia tidak boleh karena—
Kenapa?
"Bukan tidur seperti itu—berhenti menatapku dengan tatapan itu." Zilong mendecih, ia balas menatap risih pada tiap orang disekitarnya. "Tidur—seperti tidur biasa. Dengan pakaian. Tanpa aneh-aneh."
"Dan… apa motifmu mengajak Alucard…?" Roger bertanya, matanya dipicingkan pada pria lainnya. Miya mulai dapat merasakan tensi yang kuat beradu di antara mereka berdua—oh, tidak. Miya tahu betul insting protektif Roger sedang beraksi untuk melindungi salah satu orang-nya, auranya berusaha untuk mengintimidasi Zilong untuk menarik kembali kata-katanya, namun pria lainnya tak gentar.
"Aku hanya ingin." Balasnya singkat, tanpa memperjelas. Roger membuka mulutnya lagi untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya, tapi Zilong tak lagi menatapnya, dan beralih pada Alucard yang membuang pandangannya, gugup menatap sorot mata intensif pria lainnya. "Ayo, Alucard."
"Ti-tidak—uhm, sebentar." Alis pria itu terangkat sebelah—seperti baru saja mendengar penolakan pada suatu hal besar yang ia tawarkan. Alucard tetap tak memertemukan matanya dengan milik Zilong. "Kau… kepalamu terbentur sesuatu atau…? Aku… maaf—ini tidak seperti Zilong yang kukenal."
Ia tidak menyadari seberapa kikuk suara dan gelagatnya—Miya menutup mulutnya dengan telapak tangannya, helaan napasnya terdengar. Selucu itukah suaranya? Mungkin saat ini wajahnya merah padam, makanya Nana tertawa. Pria itu mendengus. "Itu artinya kau tidak benar-benar mengenaliku."
.
.
Roger dengan sangat tidak senang menatap punggung kedua pria itu saat mereka memasuki ruangan yang disewa oleh Zilong untuk menginap satu-dua malam. Heran dia, darimana Zilong bisa memiliki uang sebanyak itu? Ia bahkan diberikan kamar sendiri, berpisah dengan Nana dan Miya yang mengambil kamar tepat di sebelahnya agar ia tidak kesepian.
Ia tidak senang, tapi apa boleh buat—yang bersangkutan setuju, walau sepertinya setengah hati. Ia bukan ayahnya, jadi ia tidak punya hak untuk mengatur hidup anak itu.
Oh, ya, omong-omong soal ayahnya, sudahkah ia menemukan petunjuk mengenai ayahnya selama perjalanan ini? Roger ingat betul anak itu mengatakan padanya kalau ia ingin mengetahui tentang ayahnya—tidak ada yang mengetahui nasib ayahnya dari tempatnya berasal—hidupkah, atau matikah? Tahukah ia kalau ibunya menderita selama ia menghilang? Tahukah ia kalau istrinya telah mati?—ia mengambil inisiatif sendiri untuk menampar ayah sialannya yang meninggalkan dia dan ibunya, kebingungan dan kesepian.
Mungkin ia akan menanyakannya nanti, kalau Zilong tak terus-menerus menempel pada Alucard kemanapun anak itu pergi.
.
.
Ia meletakkan pedangnya di atas kursi, dekat dengan pintu masuk.
Ruangan itu cukup nyaman. Ada jendela yang menghadap jalanan, Alucard bisa melihat orang-orang berlalu-lalang di bawah, tidak takut pada kegelapan malam, mata mereka berkutat pada ponsel canggih yang ia tak ketahui bagaimana mekanismenya—ia tidak mengerti mengapa layarnya sangat lebar dan tak memiliki tombol-tombol angka seperti ponsel yang ia miliki dulu di Nost Gal.
(Kata kunci dulu; Alucard tidak bisa menggunakannya, meski sudah diajari ratusan kali.)
Di belakangnya, Zilong menutup pintu rapat-rapat.
Ini… ini pertama kalinya—ia merasa gugup, tapi juga… senang. Tidur bersama orang lain, di luar siklus heat-nya. Terakhir ia bersama Miya, yang juga seorang omega seperti dirinya. Itu juga karena ia membantu elf tersebut. Saat ini ia tidak sedang membutuhkan alpha untuk mengurusinya, dan ia akan tidur bersama Zilong. Ia bergidik penuh antisipasi membayangkan dirinya bersama pria itu—ia tidak tahu apa yang memicu perasaan senang ini.
"Kau melamun."
Alucard mengangkat kepalanya, melihat Zilong sudah berdiri di hadapannya. Tangan kanannya menyentuh pundak Alucard, mengguncangnya lembut. Setelah Alucard disadarkan dari lamunannya, ia dituntun naik ke atas ranjang—ia terhenti sebentar, tangannya ia tarik dari Zilong.
"Gugup?" tanyanya, saat melihat Alucard memucat—entah apa yang ia pikirkan. "Aku tidak akan meenyentuhmu kalau kau tidak mau—kau hanya perlu berbaring di sampingku."
"Bukan—aku… ini bukan pertama kalinya. Hanya saja… ah—kenapa kau… ingin…?"
Ia tidak menyelesaikan ucapan itu—ini ide buruk. Zilong terdiam, matanya terpaku pada Alucard, dan turun ke jari-jarinya yang gelisah. Ia tidak menyukai suasana canggung seperti ini, sesuatu yang Zilong apresiasi dengan senyuman.
"Aku hanya ingin meyakinkan diriku kau aman, bersamaku." Ucapnya.
Sebenarnya karena ia tak menyukai Alucard dengan feromon Shura itu—masih tertinggal pada kulitnya, pada pakaiannya. Pekat, tajam—mengusiknya tiada henti. Ia sudah menahan diri untuk tidak melakukannya, tapi pada akhirnya, nalurinya tersinggung dengan itu semua, dan ia perlu mengambil tindakan untuk menyudahi perasaan yang seolah mencabik harga dirinya.
Kilat matanya ragu-ragu, ia enggan berpaling dari Zilong saat tubuhnya pelan-pelan diposisikan untuk duduk di sisi ranjang, bersama dengan Zilong. Alucard menelan saliva yang terkumpul di mulutnya. Zilong tersenyum miring, Alucard mengangguk.
Mereka tidak mengucapkan apapun lagi saat mulai merangkak naik ke atas kasur, mencari posisi nyaman untuk melalui malam.
Akhirnya, posisi nyaman itu ditemukan dengan Alucard memeluk Zilong, hidung alpha itu mengendus nadi leher Alucard, sesekali mengusapnya mesra—ia tidak melawan, tangannya membelai lembut surai panjang pria itu, mendorongnya untuk terus melakukan itu.
Ia tidak menyukai ini—rasanya terlalu intim; rasanya seperti ia mencuri sesuatu yang bukan haknya.
Tapi ia tidak mampu menolak; ia ingin terus-menerus bersama Zilong di sini, seperti ini.
Nyaman.
.
.
Ia merasa seperti tenggelam.
Kepalanya terasa ringan, sesuatu menariknya jauh ke dalam—
"Alucard."
Ia menggumamkan sesuatu, punggung tangannya mengusap sisi bibirnya saat matanya belum terbuka sepenuhnya. Tangannya yang lain ingin menopang tubuhnya untuk berdiri, namun ia tidak bisa bergerak. Zilong masih mendekapnya erat, ada senyum tipis terukir pada bibirnya.
Alucard mendorong Zilong sedikit menjauh darinya. "Pagi."
Hal itu dibalas dengan pria lainnya yang menyingkirkan rambut yang mengalangi wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinganya. Lalu irisnya ditatap lurus, dengan kemilau yang seolah menyaksikan sesuatu yang tak hingga. Alucard menyukai itu—ia merasa sangat spesial. Kupu-kupu beterbangan di dadanya, ia tertawa kecil. Membuat pipi lawannya sedikit memerah.
"Ayo, bangun." Ajaknya. Walau setengah hati—ia tidak ingin meninggalkan tempat tidurnya. Ia tidak ingin meninggalkan kehangatan ini. Ia tidak ingin meninggalkan ini semua, dan menanggalkan apa yang telah Zilong pinjam padanya—hangat, dengan sentuhan yang terasa seperti rumah, menenangkannya, menyenangkannya—rasanya seperti ibunya, dengan feromon alpha sebagai tambahannya. Ayahnya?
Apapun itu, ia merasa lengkap—ia merasa terpenuhi.
"Aku malas." Kata Zilong.
"Tidak seperti dirimu yang biasa." Alucard memainkan helaian rambut Zilong di antara kedua jarinya. "Kau biasanya bangun lebih dulu."
Pria itu mengangguk, mengiyakan tapi tidak bergerak untuk melakukan apa yang biasa ia lakukan di pagi hari—membangunkan yang lainnya. Ah, mungkin mereka juga sudah bangun. Rasanya tadi ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya, tapi ia tidak peduli karena terlalu fokus pada Zilong, dan dirinya yang masih melingkarkan tangan pada tubuh satu sama lain.
"Kemana setelah ini?"
"Kau ingin pergi?" ia bertanya, menyembunyikan kekecewaannya. "Aku berencana untuk mengikuti Roger dulu sebelum pergi ke… ah. Moniyan. Kau tahu kan, soal Ruby?"
Zilong mengangguk. Moniyan… berarti mereka dapat bertemu lagi dengan kedua pasangan muda itu.
"Aku ikut denganmu, kemanapun yang kau inginkan. Ingat kan?"
Ia tidak dapat menahan senyum lebarnya—Zilong mengecup keningnya, penuh afeksi. Alucard tidak terbiasa dengan gestur itu—ia terkekeh, tak tahu harus bereaksi seperti apa.
.
.
Miya tidak bisa berhenti menatap leher Alucard—ia menyadarinya, makanya saat Zilong dan Roger berdebat tentang tujuan mereka selanjutnya, ia memutuskan untuk mengetahui apa yang wanita elf itu pikirkan.
"Hmm, ah! Tidak." Balasnya. Di belakang mereka, Nana mulai melompat, menggunakan sihirnya untuk menciptakan jamur besar yang bekerja seperti trampolin, lalu memanjat ke bahu Roger—ia mendesis ke Zilong saat Zilong bilang mereka bisa mencari di Nost Gal; mungkin Ruby ke sana—dan lagi, mungkin tidak ada salahnya mencari ke sana, tapi itu terlalu jauh. Mereka bisa mampir ke pulau Carp—hanya satu pelabuhan dari tempat mereka sekarang.
"Aku hanya… penasaran."
Kakinya melangkah mendekat, ia menjinjit sedikit, agar tingginya sedikit di atas bahu Alucard, yang menyondongkan tubuhnya sedikit ke belakang. Wanita itu menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti kekecewaan. "Ia tidak menggigitmu?"
Alucard terdiam—wajahnya hampa menatap Miya, masih meyakinkan dirinya kalau ia salah dengar, dan Miya hanya salah ucap. Beberapa detik kemudian ia merasakan wajahnya memanas, sadar kalau Miya benar-benar bermaksud mengatakan apa yang ingin dikatakan, dan Alucard tidak salah dengar.
"Ti-tidak? Apa yang membuatmu berpikir aku akan—dengannya?" ia berbisik, histeris. Miya memiringkan kepalanya, wajahnya semakin bingung. Ia tidak ingin terlibat dalam percakapan seperti ini—ia masih terlalu muda untuk memikirkan itu, demi apapun! Seorang alpha hanya akan menghambat masa mudanya—tapi mungkin… Zilong….
Ia menggeleng. Kuat-kuat. Tidak, jangan berpikir itu—Zilong terlalu baik untuk dirinya. Mah, maksudnya Zilong tidak mungkin mau dengannya—
Tapi bukankah itu artinya kau mau, dengannya? Hatinya berbisik. Ia menyentuh kedua pipinya.
Hentikan, hentikan, hentikan… pikiran seperti ini sangat tidak sen—
"Alucard, pelan-pelan. Tarik napas." Ucap Roger dengan nada khas yang digunakan untuk membuat kakinya sedikit gemetar, gatal untuk menyanjungkan seorang alpha yang ia hormati. Ia melakukannya, satu, dua, satu, dua; lalu menggumamkan terima kasih pada Roger, saat debaran jantungnya sudah mereda.
Zilong memukul Miya, kecil. "Berhenti mengganggunya."
"Aku tidak mengganggunya, Zilong." Elf itu menjulurkan lidahnya, Nana pun mengikuti tak lama. "Jadi kalian sudah memutuskan ingin kemana sehabis ini? Aku dan Alucard sudah memikirkan, tapi kalian mungkin memiliki tujuan yang lebih bagus."
"Kita… mungkin… akan pergi ke Carp."
.
.
Tidak ada yang menarik di Carp, atau tiga kota-pulau lainnya yang mereka kunjungi.
Tidak ada Ruby, tidak ada iblis yang bisa ia interogasi. Mungkin sisi baik dari petualangan mereka adalah Miya dan Nana yang terus mengantisipasi apa yang akan mereka lihat saat tiba di kota dan negeri baru.
Seperti saat ini. Alucard menggumamkan sesal karena ia terpisah dari Miya, Roger, dan Zilong saat ketiganya sibuk mengejar Nana yang berlarian kesana-kemari, takjub melihat kota besar Alaghat dengan segala kemajuan teknologi dan eksterior bangunan di dalamnya. Ia seharusnya tidak lengah, tahu begini ia tinggal di satu titik dan menunggu mereka kembali dengan Nana yang diseret paksa untuk tidak berbuat ulah.
Ia berlari naik ke dataran yang tinggi, hendak melihat pemandangan kota dari atas, mencari temannya.
Sampai di sana, ia terhenti untuk menyaksikan bulan yang—entah mengapa—nampak sangat lebih besar. Di sana, seorang anak perempuan berdiri dengan kepala yang mendongak ke atas, seperti mendekat untuk mendapatkan ciuman dari bulan. Anak itu berbalik—lalu terdiam beberapa saat hingga akhirnya ia berlari ke arah Alucard.
Bulan seolah menarik diri seketika saat anak itu tak lagi berdiri di sana. Anak itu terkekeh, senyumnya lebar, membuat Alucard berjongkok turun, hendak menyamakan tingginya dengan gadis itu. Ia sangat menggemaskan. Alucard ingin mencubit pipinya.
Tanpa diduga-duga, gadis itu memeluk Alucard—ia sontak kaget, apalagi saat ia membenamkan hidungnya, mengendus kuat-kuat. Ia mendorong gadis itu mundur pelan-pelan dengan meremas lengannya, wajahnya keheranan. "Di mana orang tuamu?"
"Anda…." Anak itu mulai, menatap Alucard dengan iris yang berkilat penuh harapan. "Anda mengenal saudara laki-lakiku."
Pernyataan, bukan pertanyaan.
"Saya… saya bisa menciumnya—pada anda." Ia mengangkat kepalanya lagi, lalu memukul pipi Alucard dengan kedua tangannya, memaksa mata mereka untuk bertemu—Alucard tersenyum miring, ditatap secara intensif oleh anak perempuan yang jauh lebih muda darinya. "Dimana dia?"
"Kh-kau bilang saudara laki-lakimu—tapi aku tidak tahu siapa—"
"Zilong!" tangannya dilempar ke langit, ia menghela napas berat seperti sedang dalam tekanan yang sangat besar. "Anda pacarnya, kan?!" katanya—eh, apa? Bukan…. "Tidak mungkin baunya sangat menempel padamu kalau kalian tidak—"
"Wow, oke, cukup disitu, nak." Ia dan Zilong akan berbicara tentang beragam hal, nanti mala—saat mereka bertemu. Alucard harus mulai menjaga jaraknya. Feromon alpha itu terlalu melekat padanya, bahkan anak kecil ini tahu—sampai disangka telah jadian, pula.
"Saya—aargh!—" ia menunduk dongkol, sepertinya formalitas yang diajari padanya tidak memiliki efek pelampiasan yang cukup untuk menjeritkan frustasinya. "Aku menciumnya bahkan jauh sebelum aku melihatmu!"
Cukup, sangat kuat. Ah—itukah sebabnya banyak orang yang menatapnya dan Zilong dengan tatapan aneh seperti itu? Alucard ingat betul seorang wanita mengampirinya dan memberikannya sebuah bingkisan kecil, dan mengatakan kalian adalah pasangan yang serasi.
A-awalnya… ia pikir itu ditujukan pada dirinya dan Miya yang memang berada dalam jangkauan satu sama lain kala itu?
"A… aku dan Zilong belum… tidak berniat untuk—dengar, kami hanya teman, mengerti?"
Rengutan anak itu sirna, lalu wajahnya menjadi netral dan ia menatap Alucard dengan ekspresi ketidakpercayaan. Ia menyilangkan tangannya di dadanya, menyeringai lebar. "Hoo, teman…?" senyumnya usil, seperti ia mengetahui sesuatu yang tidak Alucard ketahui—dan itu benar-benar membuat Alucard berkedut kesal; anak kecil ini arogan sekali.
Kalau benar anak ini saudara perempuan Zilong—mengapa sifat mereka sangat berbanding terbalik? Zilong itu baik hati, tegas, disiplin, tidak banyak bicara—ah, banyak sekali yang ia sukai dari Zilong, ia tidak bisa menyebutkannya satu-persatu. Sedangkan anak ini sudah berisik, menyebalkan pula.
"Kau mau cari masalah, ya?" Alucard bertanya. Di titik ini ia tidak peduli kalau lawannya adalah bocah ingusan ini. Ia tak segan.
"Ah, maaf, tuan—sepertinya disini anda yang cari masalah—anda tahu, kalau seorang omega sudah diklaim oleh alpha, maka rasanya akan sangat tidak elite kalau ia berjalan sendirian tanpa pengawasan alpha yang bersangkutan, apalagi kalau alpha itu belum benar-benar mengklaim-mu dalam jiwa dan raga, seperti—seperti kau!"
Anak itu menunjuknya dengan telunjuk, benar-benar tidak beretika, dan Alucard pikir ia berasal dari keluarga menengah atas. "Kau mau menarik perhatian alpha lain atau apa, sih?! Atau kau tidak menyukai Zilong—tidak mungkin kau tidak menyukai saudara laki-lakiku yang gagah berani itu—aku akan mengirimmu dan menjebakmu di bulan seandainya kau—"
"Ia… ia belum mengklaim-ku, oke?! Berhenti bicara yang aneh-aneh, bocah."
Bibirnya manyun, namun seketika berubah menjadi senyum lebar, matanya memiliki kilatan itu—sangat berharap. "Belum… eh?"
Alucard membuang muka, wajahnya merona sedikit. Sepertinya ia harus mulai berhati-hati dalam memilih kata-katanya. Tapi sepertinya apapun yang ia ucapkan tak akan mempan untuk anak ini yang persepsinya sudah mantap berkisar pada orang ini pacar Zilong, tidak peduli berapa kali ia menyanggah itu.
.
.
[to be continued.]
note: sebenernya ada bagian di mana mereka menjelajah dan ketemu sama karina yang jadi semacam vigilante buat nyari selena—tapi saya buntu ide pada bagian itu (backstory-nya karina ditulis ulang dan aku tidak bisa tidak bersimpati pada karina). mungkin kalo ada ide, bagian itu bakal saya tulis ulang. dan maaf roger jadi jarang dapet part di sini.
bagian yang sama martis itu sebenernya terjadi di waktu yang bersamaan, beda perspektif dan aaaa aku rasa ini cukup menarik buat dimensyen—kalo bagian pertama alucard tidur sama roger bawa pedangnya, kalo sama zilong dia nggak—that's cute, rightttt (pls tell me its cute i need validation)
saya tahu canon-nya alaghat sudah runtuh (mungkin? diriku lupa spesifiknya)—but just pretend ok gue kehabisan ide latar soalnya.
dansaya ngedit judul chapter (ini ketiga kalinya). makasih buat yang nyaranin judul yang bagus, saya emang bener-bener labil dalam menentukan judul chapter soalnya.
ik its super sloppy kalo ada kesempatan nanti diperbaiki ok
—17 April 2018, 4:01 PM, Bogor.
