Welcome to Just Us! Kumpulan cerita onsehot dari Sasuke dan Hinata. Setiap chapter punya cerita sendiri, tidak saling berkaitan dengan chapter lain.

All the characters here are Masashi Kishimoto's, but the plot is mine. Terinspirasi dari beberapa kisah namun tidak plagiat. Jika ada kesamaan plot, sungguh bukan hal yang disengaja. Karena ini AU, sudah pasti OOC.

No bashing, just for fun. If you don't like this story just go back and don't read. I've warned you. Happy reading, everyone :)

.

Aroma kopi memenuhi udara pagi di sebuah kubikel tempat seorang wanita bekerja. Di sekitarnya masih banyak kubikel-kubikel lain, berisi para pria yang mengenakan dasi dan wanita yang mengenakan rok mini. Kopinya lupa ia beri gula, sehingga wajahnya mengkerut menahan rasa pahit di lidahnya. Setidaknya kisah hidupnya imbang pahitnya dengan rasa kopi ini.

Suara ketikan keyboard, hentakan sepatu yang berlalu lalang, mesin fotokopi yang bekerja keras, bagaikan musik alami di ruangan kerja ini. Semua orang sibuk, fokus pada tugas mereka masing-masing. Awal pekan merupakan hari tersibuk di kantor setelah libur selama dua hari di akhir pekan.

Yang tampak adalah orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya, tapi ada juga yang sibuk dengan pikirannya. Salah satunya adalah, Hyuuga Hinata. Wanita itu mendesah pelan, mengangkat cangkir kopinya lalu bergegas kembali ke dapur kantor untuk mengambil beberapa balok gula batu.

Ia berjalan cepat, berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Jangan sampai ia lembur di awal pekan. Hinata membuka pintu dapur, melihat sekejap, kemudian berbalik menuju kubikelnya kembali. Langkahnya jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Kelihatan sekali ia menghindari siapapun yang ia lihat di dapur tadi.

"Hinata..." panggil seseorang.

Tapi Hinata tidak berbalik, ia semakin mempercepat langkahnya. Begitu tiba di kubikel ia meletakkan dengan keras cangkir kopinya ke atas meja, membuat kopinya terpercik dan mengotori selembar kertas. Hinata mengumpat pelan, mengecek kertas itu dengan cepat lalu menggumam lega karena itu bukan kertas yang penting. Hanya sebuah kertas buram.

Hinata kembali bekerja dan membiarkan kopi pahitnya dingin begitu saja. Setengah jam berikutnya ia mengumpulkan beberapa kertas lalu bangkit dan menuju mesin fotokopi. Sedang kosong, kesempatannya untuk menggunakan mesin berisik itu. Hinata memasukkan kertas-kertas, mengetikkan tombol-tombol, lalu menunggu beberapa kertas dengan isi yang sama bermunculan dari sisi kiri mesin. Ia melakukannya berkali-kali sambil mendengus tak sabar.

Pikirannya berkelana saat menunggu seratus lembar kopian keluar dari mesin. Memorinya mengambil sebuah ingatan dan menampilkan rekamannya dalam otaknya. Memori itu sangat jelas karena baru terjadi kemarin pagi. Pagi minggu yang harusnya istimewa namun berakhir penuh kepahitan.

Hinata ingat sekali pagi itu ia mengunjungi apartemen kekasihnya. Ia selalu melakukan itu di akhir pekan, membantu membersihkan apartemen kekasihnya. Ia sudah melakukan itu selama bertahun-tahun, tapi yang terjadi kemarin sungguh di luar dugaan. Saat Hinata membuka pintu kamar kekasihnya, di sana, di atas ranjang, kekasihnya sedang bersama wanita lain. Hinata bahkan kenal baik siapa wanita itu, teman sekantornya. Bukankah itu luar biasa?

Hinata tahu wanita itu memang terkenal suka tidur dengan banyak pria, tapi siapa sangka kekasih Hinata justru ikut memperpanjang daftar itu. Hinata kesal setengah mati memikirkannya.

"Hinata..."

Hinata hampir saja menjatuhkan semua lembar kopian yang kini berada di kedua tangannya. Hinata kaget bukan main, tapi ia mencoba bersikap tenang kembali.

"Kau terus menghindariku hari ini," kata orang itu.

Hinata ingin pergi, namun saat melewati orang tersebut dia melanjutkan kata-katanya.

"Aku tahu kau marah karena aku tidur dengan pacarmu, tapi itu hanya sebuah insiden. Kami terlalu mabuk kemarin," jelasnya.

"Sstttt! Orang lain bisa dengar yang kau katakan," kata Hinata mencoba mendiamkan.

"Kau malu? Kenapa harus malu?"

Hinata benar-benar tidak percaya. Bagaimana mungkin wanita ini bisa sesantai ini setelah tidur dengan kekasih orang lain?

"Shion, aku mohon. Aku tidak ingin membahas ini, oke? Setidaknya jangan sekarang."

Hinata berbalik pergi, dan kali ini Shion tidak menahannya.

.

"Kau dimana?" tanya Hinata sedikit tak percaya. Ia sedang menelepon seorang teman, yang sebenarnya dilakukan Hinata dengan sedikit terpaksa. Ia butuh teman untuk bicara, namun ia sendiri tidak punya banyak teman yang bisa dipercaya. Sedangkan temannya yang satu ini, nasibnya juga tak lebih baik dari Hinata.

"Di kursus musik. Aku ingin belajar main biola. Sepertinya seru! Ada yang bilang sebagai penghilang stres juga," jawab temannya.

"Oh, begitu."

"Memangnya ada apa, Hinata?"

"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu," jawab Hinata.

"Oh, ya sudah, datang saja kemari sepulang bekerja. Kau tidak keberatan menungguku sampai selesai, kan?"

"Tentu saja tidak, Sakura. Baiklah sepuluh menit lagi aku berangkat kesana."

Sambungan diputus. Hinata memikirkan kembali apakah akan membahas mengenai perselingkuhan kekasihnya dengan teman sekantornya kepada Sakura. Karena Sakura juga baru saja bercerai dengan suaminya sebab perselingkuhan. Seperti kata orang, pria yang punya banyak uang cenderung tak puas jika hanya punya satu pasangan.

Hinata merenungkan soal ini selama di perjalanan ke kursus musik yang diberitahukan oleh Sakura. Menurutnya Sakura pasti mencari hiburan agar bisa segera bangkit dari patah hatinya.

Hinata turun di halte terdekat dari tempat kursus, selanjutnya ia akan berjalan kaki. Senja mulai menghiasi langit, awan-awan berarakan pelan dan burung-burung berterbangan ingin pulang ke sarangnya. Orang-orang juga tampak berjalan terburu-buru. Mungkin ingin tiba di rumah sebelum jam makan malam.

Hinata melihat kembali pesan dari Sakura di ponselnya yang berisikan alamat kursus musik, kemudian membandingkannya dengan pamflet di depan kursus, sama. Ia menyimpan ponselnya ke dalam tas lalu berjalan masuk ke dalam. Sakura sudah memberitahu Hinata untuk menunggu sampai dia selesai pada pukul enam sore. Masih lima belas menit lagi.

Hinata berjalan pelan, mengamati mading, ruang-ruang kelas yang mengajarkan alat musik berbeda-beda dan anak-anak yang belarian keluar setelah selesai belajar. Ia sedang mencari ruangan yang mengajarkan alat musik biola saat telinganya menangkap suara piano. Ia tidak begitu paham soal musik, namun alunan piano yang ini begitu enak didengar. Hinata penasaran, lalu berjalan mencari asal suara piano tersebut.

Ia bahkan melewatkan ruangan belajar alat musik biola demi melihat langsung siapa yang memainkan nada piano seindah ini, semerdu ini, sesyahdu ini. Tanpa sadar Hinata memejamkan mata, mencoba meresapi setiap irama yang masuk dari telinga ke dalam hatinya. Ini musik yang luar biasa, pikirnya.

Akhirnya Hinata menemukan ruangan itu, ruang belajar alat musik piano. Hanya ada satu piano di ruangan itu, dan hanya ada seseorang di sana, yang memainkan piano. Hinata tak berani masuk, ia hanya berdiri di depan pintu, mengamati si pemain piano. Hinata memperhatikan jari-jari orang itu ketika menekan tuts, begitu luwes dan lincah, seakan ia memang dilahirkan untuk menjadi pemain piano.

Hinata seakan tersihir. Musik ini indah, namun sekaligus membuat sedih. Sepertinya ini alunan patah hati. Entah karena Hinata sedang merasakan itu atau memang maksud dari musik yang dimainkan ini memang seperti itu.

Tiba-tiba musik berhenti, Hinata masih berada dalam lamunannya. Ia tidak sadar ketika pemuda yang memainkan piano barusan berjalan keluar melewatinya. Dan ketika Hinata sadar, dia kelihatan seperti orang bodoh. Sedang apa dia berdiri di depan ruangan yang kosong?

"Hinata!"

Hinata berpaling dan menemukan temannya Sakura sedang menghampirinya.

"Maaf membuatmu menunggu lama, sapanya."

"Oh, tidak. Aku juga baru sampai."

"Sedang apa kau di sini? Ruangan kelasku kan di situ." Sakura menunjuk dua ruangan sebelum ruang belajar piano.

"Sepertinya aku kelewatan."

Hinata tidak cerita tentang pemuda yang memainkan piano kepada Sakura. Karena tujuan ia kemari adalah untuk membahas mengenai kekasihnya.

"Apa kau bilang?" teriak Sakura.

"Sstttt! Jangan keras-keras!" perintah Hinata sambil melirik ke kanan dan ke kiri.

Dari kursus musik mereka berjalan mencari tempat makan malam terdekat. Memang tidak banyak pilihan, tapi kafe pinggir jalan yang mereka pilih menyajikan makanan yang cukup lezat.

"Kiba memang sudah gila!" maki Sakura tak sabar. "Lima tahun kalian pacaran buat apa? Bukannya menikah, dia malah tidur dengan wanita lain."

Hinata mendesah, percuma saja menyuruh Sakura untuk memelankan suaranya. Tapi setidaknya ia jauh lebih lega setelah bercerita kepada Sakura.

"Pria memang tidak pernah puas. Kau begitu setia selama ini, padahal kau cantik dan bisa mendapatkan yang lebih darinya. Tapi lihat apa yang dilakukan pemuda itu. Dia mengkhianatimu! Oh, aku bisa gila memikirkannya."

Sakura menenggak sake dalam sekali tegukan. Dia belum pernah minum sake sebelumnya. Hari perceraiannya adalah hari pertama ia berkenalan dengan minuman keras itu.

"Sudah cukup minumnya, kau bisa mabuk." Hinata memperingatkan.

"Kau lihat Hinata? Ternyata hubungan selama itu juga tidak bisa menjamin kesetiaan seseorang. Aku muak sekali mendengarnya. Tapi kita harus tetap sabar. Jangan sampai membuat kesalahan yang sama dengan mereka."

Hinata mengangguk-ngangguk, setuju dengan perkataan Sakura.

"Lalu apa yang akan kau lakukan pada Kiba?" tanya Sakura serius.

"Aku tidak tahu, masih belum tahu," jawab Hinata sambil memandangi sake di depannya. Merasa sangat tergoda untuk menikmatinya seperti Sakura.

"Aku minta cerai pada mantan suamiku, jika kau lupa, Hinata. Kau tak perlu mempertahankan laki-laki seperti itu. Atau kau masih mencintainya?"

"Lima tahun, Sakura, lima tahun! Menurutmu semudah itu aku bisa melupakannya?"

Sakura mengangkat bahu, dia hanya mencoba memberi saran. Tapi memang Hinata lah yang membuat keputusan.

"Kau harus memikirkan ini sematang mungkin jika kau masih ingin melanjutkan hubungan ini, Hinata."

.

Hinata menon-aktifkan ponselnya, bosan melihat nama Kiba terus muncul di sana. Sudah seminggu lebih ia mendiamkan pemuda itu. Benar-benar tidak ingin mendengar penjelasan apapun. Pagi ini Shion bahkan menghampirinya, meminta tolong padanya untuk berbaikan dengan Kiba. Darimana dia tahu kalau Hinata masih marah pada Kiba? Akhirnya Hinata mengambil kesimpulan bahwa mereka masih sering menjalin komunikasi, membuat Hinata semakin geram.

Entah kenapa dia masih ingin sendiri, benar-benar memikirkan masalah ini. Sakura memutuskan untuk bercerai dengan suaminya ketika ia tahu suaminya berselingkuh. Ia bahkan mengambil keputusan itu hanya dalam waktu tiga hari dan sama sekali tidak menyesal dengan keputusannya itu. Ia akan bekerja sebagai perawat di pagi hari, menyenangkan diri dengan membantu orang lain, dan akan mengikuti kursus biola di sore hari, menghibur hatinya yang sakit. Sakura tahu cara mengobati luka di hatinya.

Hinata bersenandung pelan, mengikuti irama piano yang dimainkan di bar tempat ia menghabiskan waktu sendiri malam ini. Masa bodoh dengan menabung. Ia sudah hidup hemat bertahun-tahun, mengumpulkan uang untuk bisa menikah dengan kekasihnya. Sekarang Hinata sudah tidak peduli lagi. Harapannya seakan-akan hancur begitu saja.

Hinata melihat ke arah dimana piano dimainkan karena ia suka dengan lagu yang ia dengar. Dulu ibu Hinata suka menjadikan lagu itu sebagai nina bobo. Hinata tidak menyangka akan mendengar lagu itu di sini. Ia jauh lebih tidak menyangka saat melihat siapa yang memainkan piano tersebut.

Hinata ingat pemuda itu, pemuda di kursus musik! Tidak salah lagi itu pasti dia. Hinata menjerit senang di dalam hati, ia sangat suka permainan piano pemuda ini. Hinata bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pemuda itu. Ia sampai ke sisi piano tepat saat musik selesai dimainkan. Beberapa orang bertepuk tangan, pemuda itu mengangguk sopan dan tersenyum sebagai respon. Ia kemudian melihat Hinata.

"Ya, Nona. Ada yang bisa kubantu?" tanyanya.

"Mm..." Hinata bingung bagaimana harus menyampaikan maksudnya, namun pemuda itu tetap menunggu.

"Aku akan memberikan tip seribu Yen jika kau memainkan lagu yang kemarin," pinta Hinata.

Pemuda itu mengernyit heran. "Lagu yang mana?"

Hinata jadi ikut bingung. "Kau tidak ingat aku?"

Sasuke tampak berpikir, tapi setelah itu menggeleng. Ia baru saja akan menekan tuts piano lagi saat kalimat Hinata selanjutnya menghentikannya.

"Yang di kursus musik. Aku yang berdiri di depan pintu melihatmu bermain piano."

Pemuda itu kembali menatapnya, tapi Hinata sadar pemuda itu tidak ingat padanya dan dia memang tipikal orang yang mudah dilupakan. Hinata menyerah lalu berbalik, berniat kembali ke mejanya.

"Tunggu!"

Hinata berhenti, kemudian berbalik dan melihat pemuda itu menunjuk wadah kaca transparan di atas pianonya. Hinata tersenyum, paham apa maksudnya. Ia kembali mendekati piano, merogoh saku roknya untuk mengambil selembar seribu Yen lalu memasukkannya ke dalam wadah kaca. Pemuda itu mulai memainkan lagu permintaan Hinata, membuat perjalanan Hinata kembali ke mejanya dipenuhi dengan kegirangan tertahan.

Ia benar-benar menikmati alunan musik itu, sama seperti saat ia mendengarnya pertama kali di kursus musik. Ia belum pernah mendengar lagu ini sebelumnya, sepertinya pemuda itu sendiri yang menciptakannya. Begitu lagu berakhir, semakin banyak orang yang bertepuk tangan untuknya, tak terkecuali Hinata. Dia yang paling bersemangat.

Hinata kembali dalam renungannya. Ia tidak mau berlama-lama dalam kesedihan, tapi hatinya memang begitu sakit. Apa yang harus dia lakukan?

"Kau sendiri saja?"

Hinata mendongak dan menatap kaget pada seseorang yang sedang berdiri di depan mejanya. Itu pemuda yang memainkan piano!

"Ya, aku sendirian," jawab Hinata dengan tatapan bingung.

"Boleh aku duduk di sini?" tanya orang itu lagi.

"Tentu," jawab Hinata tanpa ragu.

Pemuda itu menarik kursi dan duduk. Ia meletakkan minumannya di atas meja.

"Aku belum pernah melihatmu di sini," kata pemuda itu memulai pembicaraan. Ia melihat minuman yang diminum Hinata, sangat tidak cocok untuk usianya. Dan kalau dilihat-lihat wanita di depannya ini setidaknya berusia di atas dua puluh lima tahun, namun minumannya membuatnya seperti berusia tiga belas tahun.

"Iya, baru malam ini," jawab Hinata kikuk.

Sebelah alis pemuda itu terangkat.

"Jadi apa yang membawamu kemari? Patah hati?" tanyanya dengan jitu.

Hinata hanya tersenyum getir.

"Maaf, aku tidak sopan. Aku Uchiha Sasuke," kata pemuda itu mengenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.

"Hyuuga Hinata," balas Hinata lalu menjabat tangannya.

"Aku juga pertama sekali kemari saat patah hati," kata Sasuke seakan bisa menebak isi kepala Hinata. "Percayalah kau bukan satu-satunya."

"Kapan itu?"

"Tiga tahun yang lalu. Setahun berikutnya aku mengisi hiburan dengan bermain piano di sini."

"Aku suka permainan pianomu, sejak mendengarnya di tempat kursus."

"Benarkah? Tidak biasanya ada wanita yang berkata begitu. Kau pasti mengerti musik."

Hinata menggeleng. "Tidak juga. Aku tak tahu kenapa bisa begitu suka mendengarmu bermain piano. Kau semacam menjual jiwamu untuk bisa bermain sebagus itu."

Sasuke tampak terpukau dengan ucapan Hinata. "Maksudmu aku bermain dengan jiwaku?"

"Seluruh jiwamu," Hinata mengoreksi. Ia sendiri tak paham kenapa bisa berbicara seperti itu.

"Aku sempat ikut audisi ke sebuah orkestra."

"Benarkah? Lalu apa yang terjadi?"

"Banyak hal yang terjadi. Tapi aku hanya berakhir menjadi pecundang yang mengajar kursus piano dan pemain musik di bar."

Hinata tampak tak setuju, tapi siapa dirinya untuk memberi komentar. Bahkan belum ada satu jam ia mengenal pria ini.

"Entahlah, tapi menurutku kau adalah pemain piano terbaik yang pernah aku tahu."

.

Keesokan malamnya Hinata kembali mengunjungi bar itu, namun ia kecewa karena Sasuke tidak memainkan piano di sana. Yang ada hanya seorang pemuda yang memainkan gitar akustik, di tempat yang seharusnya menjadi milik Sasuke. Hinata mendesah pelan, kemudian mencari meja yang kosong dan mulai memesan minuman. Malam ini ia sendirian lagi.

Hinata sempat mengira Sasuke hanya bermain piano semalam saja di bar tersebut. Namun dua malam berikutnya Sasuke kembali duduk di tempatnya biasa, memainkan piano. Hinata senang bukan main. Ia bahkan melambaikan tangan saat Sasuke melihat ke arahnya. Sasuke balas tersenyum karena jari-jarinya sibuk menekan tuts.

Sebenarnya Hinata bisa saja menjumpai pemuda itu di kursus musik. Tapi kalau Sasuke bertanya sedang apa ia di sana, ia tidak akan bisa menjawabnya. Ia juga tak paham kenapa dia jadi senang saat bertemu pemuda itu. Sebenarnya senang ketika melihat pemuda itu bermain piano.

"Kau kemari setiap malam?" tanya Sasuke ketika duduk bersama Hinata.

Hinata mengangguk malu-malu.

"Sepertinya patah hatinya cukup parah, ya."

Hinata hanya diam tidak mengomentari.

"Aku juga dulu begitu. Baru setahun belakangan hanya kesini saat jadwal mengisi hiburan saja."

"Oh, ya? Kapan saja?" Hinata ingin meengumpat dirinya sendiri karena bertanya begitu gamblang.

"Selasa dan Jumat malam. Sisanya aku mengajar kursus kelas malam," jawab Sasuke tanpa merasa terganggu.

Mereka kemudian mengobrol tentang banyak hal. Yang disukai Sasuke dari Hinata adalah wanita itu sangat mengagumi permainan pianonya, yang mana jarang diakui selain dari murid kursusnya. Awalnya Sasuke sempat merasa Hinata hanya mencoba mencari perhatiannya, tapi wanita itu benar-benar senang, dia tulus menyukai alunan musik yang Sasuke mainkan. Tanpa ia sadari, ia mulai senang bertemu dengan wanita itu.

Andai saja Sasuke tidak mengajar kelas malam mungkin sekarang ia bisa ke bar dan menemani Hinata di sana. Itupun jika Hinata memang kesana. Meskipun begitu Sasuke tetap bersemangat saat jadwal mengisi hiburan di bar tiba. Ia sudah menyiapkan beberapa lagu yang bagus dan juga malam ini ia akan memainkan musik yang pernah diminta Hinata. Sasuke yakin Hinata akan suka jika Sasuke membawakannya.

Tapi Sasuke tak menemukan Hinata di meja manapun. Hinata tidak datang malam ini. Padahal Sasuke sudah memberitahukan jadwalnya di sini, tapi sepertinya Hinata lupa. Atau mungkin Hinata sudah baikan dan tidak akan pergi ke bar lagi. Sasuke bermain dengan lesu, meski alunan musiknya tetap bagus.

Sementara itu, Hinata sedang sibuk menghadapi tumpukan kertas dan bisingnya mesin fotokopi. Besok ada presentasi penting, dan yang bertanggung jawab menyiapkan berkas harus izin pulang lebih awal karena istrinya melahirkan. Hinata mengajukan diri untuk menggantikannya dan di sinilah ia sekarang. Di kantornya yang sunyi karena semua pegawai sudah pulang.

Ia melirik jam tangannya, pukul sembilan malam. Hinata berusaha menyelesaikan ini semua sebelum jam sepuluh malam. Ia harus segera pulang dan beristirahat karena besok akan menjadi hari yang sama melelahkannya.

.

"Kukira kau sudah sembuh."

Hinata mendongak dan menemukan Sasuke sudah duduk di hadapannya.

"Kukira kau malam ini mengajar kursus." Bukannya menjawab Hinata malah balik bertanya.

"Cuma satu murid yang hadir. Aku bisa pulang lebih awal," jawab Sasuke.

"Aku lembur semalam," kata Hinata tanpa ditanya. Tapi ia yakin maksud pertanyaan Sasuke sebelumnya karena Hinata tidak datang semalam.

"Pantas saja," Sasuke menimpali.

Hinata tersenyum karena perkataannya tepat.

"Kalau aku boleh tahu, kau patah hati kenapa?"

Pertanyaan ini sudah beberapa hari menggelitik Hinata, tapi ia tidak cukup berani menanyakannya.

"Aku dulu punya kekasih, kami menjalin hubungan saat kuliah. Awalnya semua baik-baik saja, sampai ketika kami telah wisuda, ia mengatakan kepadaku bahwa ayahnya ingin ia menikah dengan seseorang yang punya pekerjaan baik."

"Pekerjaan baik?" tanya Hinata bingung. "Maksudnya yang seperti apa?"

"Dokter, mungkin. Atau pengacara, manajer kantoran, dan lainnya. Aku sempat menuruti keinginannya dengan bekerja menjadi karyawan kantoran, padahal saat itu aku sedang senang-senangnya bermain piano. Dan pada akhirnya aku memang lebih sering menghabiskan waktu untuk bermain piano daripada bekerja. Mengetahui itu, ayahnya menyuruh kami untuk putus. Ia kemudian dinikahkan dengan seorang dokter hewan."

Hinata merasa kasihan pada Sasuke. Ia bisa melihat kesedihan, kekecewaan, penyesalan tampil di mata pemuda itu.

"Aku pernah mencoba ikut audisi orkestra seperti yang kuceritakan padamu. Aku ingin membuktikan pada ayahnya bahwa musisi juga adalah pekerjaan yang baik dan menjanjikan. Tapi ia tidak sabar menunggu sampai audisi terakhir. Dua hari sebelum audisi terakhirku, ia sudah menikah dengan orang lain."

Sasuke kini menatap Hinata dalam-dalam.

"Kau sendiri, kenapa bisa patah hati?"

"Aku tidak patah hati, aku masih belum memutuskan hubungan dengan kekasihku."

"Lalu, ada masalah apa?"

Hinata menghembuskan napas dengan keras sebelum melanjutkan.

"Ia tidur dengan teman sekantorku," kata Hinata dengan susah payah.

Sasuke memandangnya tak percaya.

"Yang benar saja?"

"Begitulah," jawab Hinata seadanya. "Aku masih belum tahu harus melakukan apa."

Jeda cukup lama di antara mereka berdua.

"Aku mau pulang," kata Hinata tiba-tiba.

"Biar aku antar," respon Sasuke cepat menahan Hinata.

Awalnya Hinata ragu. Tapi mungkin lebih baik ada yang menemani di perjalanannya pulang. Lagi pula Sasuke pria yang baik. Tidak ada salahnya menuruti keinginan pemuda itu.

"Sepertinya keadaanmu tidak baik. Biar aku yang antar," jelas Sasuke ketika Hinata tidak memberikan respon.

Sasuke menyuruh Hinata berjalan lebih dulu di depannya ketika wanita itu mengangguk sebagai jawaban. Namun setelah malam ini, semuanya akan menjadi berbeda dari sebelumnya.

.

Hinata menghabiskan waktu lebih lama di dekat mesin fotokopi. Hanya sedikit berkas yang perlu diperbanyak, tapi Hinata enggan beranjak lebih cepat. Ia mendesah berkali-kali, terkadang juga meringis tertahan. Ia juga menggigiti ujung-ujung jarinya, merasa panik.

Ia kembali teringat ke beberapa malam sebelumnya saat ia diantar pulang oleh Sasuke. Kesalahan terbesar Hinata adalah mempersilakan pemuda itu masuk ke apartemennya. Setelah itu Hinata menyuruh pemuda itu duduk di sofa satu-satunya miliknya lalu menawarkannya minuman. Kejadian selanjutnya membuat Hinata merinding.

Ia mengumpat dirinya berulang kali. Oh bukan, itu bukan kesalahan Sasuke. Hinata juga menginginkannya. Baiklah, ia sepertinya sudah mulai gila. Ia sama sekali tidak mabuk malam itu, artinya mereka melakukannya secara sadar.

"Bodoh, bodoh, bodoh!" teriak Hinata pelan ke dirinya sendiri.

Sudah lewat beberapa hari, namun Hinata masih belum bisa membuang jauh-jauh kejadian di malam itu. Bulu kuduknya kembali meremang. Di satu sisi ia suka dengan sentuhan Sasuke di setiap inci tubuhnya, tapi di sisi lain Hinata merasa sudah sama buruknya dengan kekasihnya.

Ia jadi ingat dengan Kiba. Sudah dua minggu tapi ia belum meladeni komunikasi dalam bentuk apapun dari pemuda itu. Dan sekarang Hinata seakan membalas dendam padanya, padahal tidak ada maksud seperti itu. Jujur saja ia jadi lebih sering memikirkan Sasuke sejak malam itu. Ia sepertinya sudah lupa bahwa masih memiliki seorang kekasih. Setidaknya Hinata memang belum memutuskan apa-apa tentang hubungan mereka.

Hinata mengambil semua berkas yang sudah difotokopi dan akan kembali ke kubikelnya. Namun Hinata kaget bukan main saat melihat Shion berdiri di ambang pintu ruang fotokopi.

"Oh, kau mengagetkanku," kata Hinata.

"Kau masih marah padaku, Hinata?" tanya Shion, wajahnya terlihat menyesal.

"Tidak, Shion. Kurasa aku sudah mulai melupakan masalah itu," jawab Hinata. "Kurasa..."

"Aku benar-benar minta maaf. Selama ini kita memang tidak akrab, tapi aku tahu yang kuperbuat sangat salah. Kumohon maafkan aku," pinta Shion. Ia sungguh tulus saat mengatakannya.

Namun Hinata tidak mengindahkan permintaan maaf Shion. Ia justru tergelitik untuk menanyakan sesuatu.

"Shion, aku ingin bertanya sesuatu," kata Hinata.

"Apa itu?"

"Mm... Bagaimana aku harus mengatakannya." Hinata tampak berpikir ulang apakah perlu ia mengonfirmasi hal ini. "Apakah setelah tidur dengan Kiba, kau merasakan sesuatu padanya? Maksudku, apakah kau menyukainya?" tanya Hinata pada akhirnya.

Shion tampak bingung dan bergerak tak nyaman.

"Aku kan sudah minta maaf, Hinata," katanya gelisah, merasa dipojokkan.

Hinata paham dengan respon Shion.

"Oh tidak, aku tidak bermaksud apapun. Aku hanya penasaran. Aku serius menanyakan soal itu," jelas Hinata.

"Tidak, sama sekali tidak ada rasa apapun. Itu hanya untuk bersenang-senang. Aku sama sekali tidak merasakan apapun kepada Kiba setelah itu," jawab Shion hati-hati.

"Begitu, ya." Hinata menggumam pelan. Ia kemudian tersenyum kepada Shion. "Baiklah, aku harus segera kembali bekerja. Sampai jumpa."

Hinata meninggalkan Shion yang masih kelihatan bingung dengan kejadian barusan. Hinata sama sekali tidak terlihat marah, ia malah bersikap biasa saja. Sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit hati seperti sebelum-sebelumnya.

Hari itu, Hinata sukses mengacaukan pekerjaannya karena terus-menerus memikirkan Sasuke dan malam panas yang mereka lalui bersama.

.

Dua minggu sudah Sasuke tak bertemu lagi dengan Hinata. Ia duduk di dekat pianonya dan memandangi meja yang biasa ditempati Hinata saat berkunjung ke bar. Sudah lama wanita itu tak duduk di sana. Apakah ia sudah berbaikan dengan pacarnya? Sasuke menggeleng pelan, kemudian mulai memainkan pianonya. Ia memainkan lagu kesukaan Hinata.

Ia mulai tak sabar, agak menyesal juga tidak meminta nomor ponsel gadis itu. Setelah jam bekerjanya di bar selesai, Sasuke memutuskan untuk pergi ke apartemen Hinata. Ia akan menemui gadis itu di sana. Tapi saat Sasuke mengetuk pintunya berkali-kali, tidak ada yang menjawab dari dalam. Apa mungkin Hinata menghindarinya? Sasuke mencoba menepis pemikiran itu. Mungkin Hinata sedang sibuk dengan pekerjaannya. Bukankah memang pernah terjadi seperti itu sebelumnya.

Sasuke mendengar suara ketukan heels ke lantai di dekatnya. Itu Hinata, sedang berjalan sambil menunduk. Ia tidak menyadari ada Sasuke sedang berdiri di dekat pintu apartemennya. Saat ia mengangkat kepalanya, ia hampir saja berjalan mundur saat melihat Sasuke. Ekspresinya seperti sedang melihat hantu, membuat Sasuke bingung.

"Hinata," sapanya.

Wajah Hinata berubah pucat. "Sedang apa kau di sini?"

"Menemuimu. Kau sudah lama tak muncul di bar," jawab Sasuke.

"Kau seharusnya tidak kemari," kata Hinata, terlihat ketakutan.

"Ada apa denganmu?" tanya Sasuke bingung.

Hinata menggeleng kuat-kuat sambil memeluk tasnya.

"Kita tidak seharusnya melakukan itu," katanya pelan.

"Itulah sebabnya aku kemari. Aku harus memastikan kau baik-baik saja setelah malam itu," jelas Sasuke.

Hinata tidak tahu harus bagaimana. Mereka hanya diam dan saling menatap. Namun akhirnya Hinata memecah keheningan.

"Aku sudah sama buruknya dengan kekasihku, Sasuke," kata Hinata, mulai menangis.

Sasuke hanya diam, mencoba memahami apa yang dirasakan Hinata. Ia sendiri juga sudah tidur dengan kekasih orang lain. Sasuke memejamkan mata, bersiap akan kemungkinan apapun yang akan terjadi setelah ini. Ya ampun, dia memang tidak memikirkan soal ini sebelumnya. Karena yang terjadi malam itu begitu... natural.

Ia mendengar Hinata mendekati pintu dan mencoba membukanya dengan kunci-kunci yang dipegangnya. Hinata tampak gugup, terlihat dari tangannya yang bergetar dan ia selalu salah memasukkan kuncinya. Ia mencoba kunci ketiga namun kunci itu menabrak pegangan pintu dan jatuh ke lantai.

Hinata menutupi wajah dengan tangan yang sebelumnya memegang kunci kemudian terisak. Sasuke mendekat dan mengambil kunci yang terjatuh itu, lalu membantu Hinata mencari kunci yang benar untuk membuka pintunya.

Hinata bisa merasakan kehangatan tubuh Sasuke di punggungnya saat pemuda itu mencoba membuka pintu untuknya. Perlu beberapa kali mencoba karena Sasuke memang tidak tahu mana kunci yang benar, dan selama itu Hinata hanya diam.

Saat suara ceklek terdengar, Sasuke semakin merapatkan dirinya pada Hinata lalu berbisik di telinga gadis itu.

"Aku tidak seperti kekasihmu, Hinata." Ia kemudian membuka pintu dan sedikit mendorongnya agar Hinata bisa masuk. "Aku hanya tidur dengan wanita yang kusukai." Ia kemudian mundur beberapa langkah.

Dengan cepat Hinata masuk ke dalam dan membanting pintu lalu menguncinya dari dalam. Sasuke kemudian beranjak pergi. Hinata bisa mendengar Sasuke mulai menjauh, kemudian ia terduduk di dekat pintu. Ia kembali terisak. Perempuan macam apa dia ini. Dulu Hinata selalu melihat jijik pada Shion yang suka tidur dengan beberapa laki-laki. Sekarang, ia jijik melihat dirinya sendiri. Tangisannya makin keras, dan ia tidak tahu harus melakukan apa.

.

"Akhirnya kau mau bertemu lagi denganku."

Hinata menyesap minumannya dan menikmati rasa anggur terbaik yang dipesan Kiba untuk mereka berdua malam ini. Setelah sebulan lebih Hinata memutuskan untuk menghubungi Kiba, yang mana disambut dengan girang oleh pemuda itu. Mereka akhirnya berbaikan, pikirnya. Ia kemudian mengajak Hinata makan malam di restoran mewah ini lalu memesan anggur paling enak yang disediakan di sini.

"Sepertinya ini malam yang istimewa," kata Hinata datar. Berbanding terbalik dengan ekspresi Kiba yang begitu cerah.

"Tentu saja. Aku sudah mendapatkan maaf dari kekasihku. Setelah ini kita akan kembali seperti dulu kan, Hinata?" tanya Kiba sambil menggenggam satu tangan Hinata. "Aku sangat mencintaimu," lanjutnya.

Ada ketakutan dalam dirinya bahwa Hinata akan membahas kesalahannya. Tapi sejak tadi Hinata tidak ada sedikitpun menyinggung soal itu, bahkan menyebutkan nama Shion juga tidak.

"Kiba, aku ingin bertanya sesuatu," kata Hinata sambil meletakkan gelas anggurnya di atas meja.

"Apa itu?" Tampak kekhawatiran di raut wajah Kiba.

"Apa kau menyukai Shion setelah kejadian itu?" tanya Hinata.

Kiba menelan ludah. Akhirnya mereka sampai juga pada pembahasan ini.

"Aku hanya mencintaimu, Hinata. Sungguh! Tidak ada apapun antara aku dan Shion. Itu sesuatu yang tidak disengaja, kami mabuk!" jelas Kiba panik.

Hinata menarik tangannya dari genggaman Kiba lalu menjelaskan.

"Aku menanyakan hal yang sama pada Shion, dan dia juga menjawab tak merasakan apapun padamu."

"Tentu saja, aku cuma cinta padamu." Kiba ke bali menegaskan.

"Kalian benar-benar monster," celetuk Hinata.

Kiba mengernyit bingung. "Apa?"

"Aku juga tidur dengan lelaki lain, dan setelah itu aku terus memikirkannya. Sejujurnya aku bahkan sudah lupa padamu."

Kiba melongo, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Hinata barusan.

"Kau bercanda kan, Hinata?"

Hinata menggeleng.

"Kau balas dendam?" tanya Kiba sedih.

Hinata kembali menggeleng. "Jika hanya untuk balas dendam, aku pasti tidak merasakan apa-apa kepada lelaki itu. Tapi, Kiba, maafkan aku. Sepertinya aku menyukai pemuda itu sekarang. Aku sudah lama memikirkan ingin putus denganmu setelah apa yang terjadi antara kau dan Shion. Tapi aku selalu merasa itu alasan yang tidak cukup kuat. Setelah aku melakukan hal yang sama, aku mulai bisa memaafkanmu. Aku justru tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Dan parahnya aku jatuh cinta pada pemuda itu. Maafkan aku, Kiba. Aku sudah mengambil keputusan."

Hinata kemudian bangkit lalu berlari keluar dari restoran. Ia bahkan tak berhenti saat Kiba terus-terusan memanggil namanya. Hinata berlari dengan senyum dan air mata di wajahnya. Ia tahu terlihat seperti orang bodoh saat ini, tapi ia memang tidak bisa menahan perasaannya.

Ia berlari tanpa lelah ke kursus musik tempat Sasuke mengajar. Semoga saja Sasuke belum pulang. Tapi saat Hinata tiba, kursus sudah tutup. Kelas malam ternyata sudah selesai dan Hinata telat sampai. Ia memang masih bisa menemui Sasuke besok, tapi dia tidak yakin akan punya keberanian sebesar ini lagi di seko hari.

Keputusan mengakhiri hubungan dengan Kiba adalah yang paling tepat. Iya tidak bisa menjalin hubungan dengan seorang pria sedangkan ia sudah mencintai pria lain. Biarlah Hinata sendiri saja daripada harus membohongi diri sendiri. Ia akan memendam saja perasaan ini rapat-rapat. Setidaknya hatinya sudah yakin mencintai siapa.

"Hinata..."

Hinata segera berbalik dan melihat Sasuke berdiri tak jauh darinya. Ia ternyata belum pulang, ia masih ada di sini!

"Kau datang tepat waktu," kata Sasuke seperti bisa menebak pertanyaan dalam kepala Hinata.

Hinata tersenyum lebar meski air mata masih mengalir deras di pipinya. Ia berlari menghampiri Sasuke lalu memeluk pemuda itu. Sasuke menangkap tubuh Hinata dan mengangkatnya hingga kaki gadis itu menggantung di udara. Ia bisa mendengar tawa dan tangis Hinata bercampur menjadi satu.

Ia sempat tidak mempercayai wanita begitu lama setelah patah hati ditinggal kekasihnya hanya karena statusnya. Tapi setelah malam ini Sasuke percaya, masih ada wanita lain yang siap menerima dia apa adanya. Dan ia yakin wanita itu adalah yang berada di pelukannya saat ini.

Hinata juga tak perlu meyakinkan dirinya untuk kembali percaya kepada kekasihnya. Ia hanya perlu meyakini kepada siapa rasa percayanya akan ia berikan sekarang. Dan ia yakin, pemuda yang sedang memeluknya erat saat ini akan menjaga kepercayaan itu untuknya.

.

THE END

.

Thanks for reading :)