– Chrysanthemum; Month –
30 April 2010
Suara keberangkatan kereta, riuhnya orang-orang di sekitar, pemberitahuan kedatangan kereta selanjutnya, dan terakhir, rindu. Perpaduan yang bagus untuk lelaki bertopi dan bermasker hitam itu. Ia menatap gerbong terakhir dari kereta yang membawanya ke stasiun bawah tanah ini, lalu menghela napas. Ia baru saja pulang.
Dua tahun berlalu. Ia tahu ia sudah lumayan lama meninggalkan kota kelahirannya ini. Hanya saja, ketika ia melangkah pergi meninggalkan stasiun bawah tanah dan mendapat sapaan sinar matahari yang cerah siang itu, rasanya aneh saja. Padahal rindu sudah melubuk di dalam hatinya.
Dua tahun berlalu, dan kota ini semakin ramai saja. Ia memandang sekitar dan melihat para pejalan kaki berlalu-lalang di depannya, melangkahkan kaki mereka lebar-lebar dan tempo cepat, seolah mereka sedang dikejar waktu. Ah, waktu memang tidak bisa dianggap remeh. Waktu mengubah segalanya.
Buktinya, kini, dia merasa asing dengan kota kelahirannya sendiri. Padahal dia pergi hanya dua tahun lamanya, dan itu bukan waktu yang mampu merevolusi kotanya hingga jadi seperti ini.
Siang itu, matahari tidak seterik biasanya. Jadi ia melepas topi hitamnya tanpa melepas masker. Kini ia berada di antara orang-orang yang hendak menyeberang. Matanya memperhatikan sekitar sembari menunggu lampu untuk pejalan kaki berwarna hijau. Kemudian matanya berhenti di satu titik. Toko bunga tepat di seberang jalan.
Sebenarnya, tidak ada yang spesial dari toko bunga itu. Ia bisa melihat bunga-bunga yang bervariasi warnanya di balik etalase lebar yang berstiker Chrysanthemum sebagai nama dari toko bunga tersebut. Ada pula beberapa kotak yang berisi berbagai macam bunga di teras toko itu.
Tidak ada yang spesial, bukan?
Hanya saja, ketika ia membaca nama toko bunga itu, Chrysanthemum, ia teringat seseorang. Ia ingat seorang perempuan berambut panjang berlari di depan kelasnya. Ia ingat seorang perempuan berambut panjang duduk memunggunginya di kantin. Ia ingat seorang perempuan berambut panjang tiba-tiba masuk ke kelasnya dengan kepala menunduk, berkata sesuatu pada guru yang sedang mengajar di kelasnya waktu itu—demi Tuhan! Ia bisa mendengar suaranya yang lembut!— lalu berlari keluar dari kelas sambil menutup hidung dan bibirnya dengan salah satu telapak tangannya. Ia hanya selalu melihat sosok perempuan itu sekilas, namun berkali-kali. Sosoknya seperti helaian mahkota bunga Chrysanthemum. Berlapis-lapis, dan indah di memori ingatannya.
Indah. Tentu. Ketika helaian rambut panjangnya yang selalu terurai terhempas angin, atau ketika helaian rambutnya bergerak-gerak karena langkah kakinya yang cepat, ia selalu merasa tenang meski ia tidak mampu melihat siapa pemilik rambut indah itu. Yang ia tahu, perempuan itu memiliki mata rusa yang khas, pun seseorang pernah memanggilnya kemudian perempuan berambut panjang nan indah itu menghilang di balik pintu tetangga kelasnya. Perempuan itu satu angkatan dengannya, dan itu tetangga kelas!
Ya Tuhan… kenapa ia tidak tahu kalau ia punya teman seperti itu?
Dorongan orang-orang di belakangnya seketika membuat lelaki itu terbangun dari lamunan. Ia mengerjap, memandang sekitar, dan orang-orang sudah mulai berjalan menyeberang. Refleks ia mengambil langkah cepat. Ia menerobos orang-orang, dan terus melangkah, sampai kemudian dering ponsel di sakunya membuatnya terkesiap. Sadar-sadar, dia sedang melangkahkan kaki mendekati toko bunga itu. Padahal, rumahnya berlawanan arah dengan toko yang membawanya kembali ke masa lalu ini.
"Hei, Oh Sehun!" seseorang berseru dari ponselnya. Sehun jadi harus menjauhkan ponsel dari telinganya. "Aku sudah menunggumu di stasiun tapi kenapa kau tidak keluar juga?"
"Loh, aku sudah keluar dari stasiun, Chanyeol." Sehun berkata kalem. "Kau sudah ada di stasiun?"
"Sudah setengah jam yang lalu!" Chanyeol terdengar kesal. Kemudian, Sehun mendengar lelaki itu mengomel panjang lebar. Sehun ikhlas telinganya panas setelah ini.
Malas, Sehun balik badan. Hendak dia menyusul Chanyeol supaya lelaki itu berhenti mengomel namun tiba-tiba ia melihat sosok itu. Sosok yang tadi muncul di pikirannya, membawanya ke masa lalu, dan… perempuan itu masih saja sama!
Sial. Waktu sedang mempermainkannya. Semesta sedang bercanda dengannya!
Dari mana Sehun tahu kalau perempuan yang kini berjalan ke arahnya adalah perempuan berambut panjang yang memikat hatinya dua tahun lalu?
Mudah saja. Sehun hafal cara jalan perempuan itu, bagaimana perempuan itu melompat-lompat kecil, serta mata rusanya yang khas, bahkan rambutnya tetap sepanjang dulu. Sehun hafal, dan dia harap, dia tidak salah orang karena Sehun tidak dapat melihat wajah perempuan di masa lalunya. Sehun hanya tahu bagaimana mata rusa itu mengerjap, menatap, dan aktivitas lain dari indera pengelihatan itu. Sehun hanya tahu sebatas itu, dan itu sudah lebih dari cukup untuknya.
Perempuan yang kini menarik perhatiannya itu terlihat cantik sekali. Hidungnya mancung dan kecil, pipinya tidak tembam dan juga tidak tirus, bibirnya kecil dan tipis, intinya cantik. Ia berlalu begitu saja melewati Sehun, tidak mengetahui keberadaan Sehun karena perempuan itu lantas berlari kecil dan menunjukkan senyum lebar pada seseorang di balik tubuh Sehun. Entah siapa itu, Sehun tidak tahu. Sehun lantas berbalik badan lagi, seolah ia tertarik medan magnet perempuan itu. Kini Sehun yakin benar jika perempuan tadi adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang menjadi alasan terselubungnya untuk pulang kemari. Sehun dapat melihat punggung kecil perempuan itu, dan Sehun tahu, perempuan itu memiliki vibe yang sama dengan perempuan di masa lalunya.
Perempuan itu mengangkat salah satu tangannya di udara ketika seorang perempuan keluar dari toko bunga Chrysanthemum. "Minseok!"
Mata Sehun melebar. Suara itu!
"Ya! Ya! YA! OH SEHUN!" suara Chanyeol menyadarkannya lagi. Ia tersentak kaget sampai harus melompat karena lelaki berisik itu.
"Sialan kau! Kau mendengarku, tidak?"
"Ya! Jangan berteriak padaku!" Sehun protes dengan kesal. Ia berbalik badan lagi, lalu segera menyusul Chanyeol karena ia tidak ingin telinganya sakit lagi.
Hanya saja… ia merasa tidak rela. Ketika kepalanya menoleh ke belakang, ia bisa melihat senyum perempuan itu. Ia melihatnya, dan rasanya, seluruh dunia ini sedang menghembuskan bunga sakura kepadanya.
– Chrysanthemum –
15 Juni 2018
"Kudengar kau sedang berkencan saat ini." Baekhyun berhenti sejenak untuk menelan makanannya. "Dengan siapa?"
"Seseorang." Luhan menjawab seadanya. Ia menatap Baekhyun setelah berhenti mengiris steik-nya, bertanya, "Kau tahu dari mana?"
"Minseok. Dia bahagia sekali ketika bercerita padaku."
Luhan mendesah kesal. "Ah, dasar… padahal sudah kuberitahu untuk tidak memberitahukannya dulu padamu dan teman-teman yang lain."
"Kenapa? Bukankah itu kabar baik? Akhirnya kau berpacaran juga dengan seseorang!"
"Bukan berpacaran, Baekhyun. Tapi masih berkencan." Ujar Luhan jengah. Ia mengunyah steik dan menelannya sebelum menjelaskan. "Aku juga belum begitu yakin dengannya. Aku hanya…" ia bisa melihat Baekhyun mengubah tatapan untuknya. Luhan menghela napas pelan. Ia benci tatapan iba seperti itu. Apalagi tatapan itu disebabkan oleh Luhan yang belum bisa melepaskan masa lalunya secara penuh. Luhan masih terbayang-bayang. "...lupakan saja."
"Dua minggu lagi dia menikah." Baekhyun menjelaskan tanpa Luhan minta. "Maaf memberitahumu ini. Tapi aku hanya ingin kau segera melupakan Sehun dan membangun duniamu lagi."
Luhan tersenyum mafhum. Semenjak Baekhyun tahu bahwa Sehun lah penyebab utama mengapa ia tidak bisa membuka hati selama ini, Baekhyun jadi berlaku demikian. Baekhyun sering memberitahunya tentang Sehun, dan jujur itu menyakitinya. Akan tetapi, benar kata Baekhyun. Luhan butuh kata-kata menyakitkan itu supaya keinginannya untuk melupakan Sehun jadi bertambah kuat, dan akhirnya ia bisa melupakan Sehun dengan mudah.
"Kau akan datang ke sana?" tanya Luhan kemudian.
"Tentu saja." Baekhyun mengangguk mantap. "Supaya aku bisa melapor padamu dan membuatmu bisa melupakan Sehun dengan mudah."
Itu pernyataan yang menyakitkan namun Luhan hanya bisa terkekeh. Ia tidak tahu harus menanggapi apa, jadi dia hanya menunjukkan reaksi demikian. Daripada dia menunjukkan ekspresi sedihnya, lebih baik seperti ini. Luhan tidak ingin terpuruk lagi.
"Oiya, bagaimana Chrysanthemum? Kau berhasil, kan?"
"Lancar." Luhan mengangguk-angguk. "Yah… meski aku baru memulainya beberapa tahun terakhir, bisnis Minseok yang sempat memburuk itu akhirnya membaik."
"Kau memang bertangan dingin!"
Luhan terkekeh. "Kau berlebihan, aku masih perlu belajar banyak."
Baekhyun tidak memperindah itu, justru mulutnya sibuk mengoceh, memuji kelihaian Luhan dalam berbisnis, apa saja bakat Luhan, dan sebagainya. Luhan diam saja, ia hanya mendengarkan. Terkadang, ia butuh seseorang seperti Baekhyun untuk meramaikan hidupnya.
Lalu tanpa sengaja, pandangan Luhan terfokus pada sepasang kekasih di depan restoran ini. Pasangan itu terlihat sedang tidak akur, mereka terlibat cek-cok yang membuat si perempuan menangis. Luhan tidak tahu penyebabnya, pun tidak ingin tahu. Hanya saja, kini mereka menjadi pusat perhatian. Bahkan, Baekhyun jadi berhenti mengoceh dan terfokus pada pasangan yang bertengkar di depan restoran.
"Tunggu dulu," Baekhyun berujar, tangannya terangkat di udara, seolah berkata, 'stop' di depan wajah Luhan. "Aku… sepertinya mengenal mereka," bisik Baekhyun.
Luhan melirik Baekhyun dengan kening berkerut. Kemudian Luhan beralih lagi menuju pasangan di luar sana. Lelaki berkemeja hijau army itu memunggunginya, pergerakan bahunya terlihat seolah ia sedang menjelaskan sesuatu dengan tangannya. Tapi, perempuan yang hanya terlihat separuh dari wajahnya jika dilihat dari kursi Luhan itu… Luhan tidak tahu lagi. Ah, dia menyerah melihat pertengkaran itu. Toh, Luhan tidak mengenalnya.
"Irene?" Baekhyun bergumam lagi. Luhan tidak peduli. "Irene? Kenapa… Oh Sehun?"
Nama itu disebut oleh Baekhyun dan Luhan lantas menatap Baekhyun terkejut. Sementara Baekhyun sendiri masih mengamati pertengkaran pasangan itu tanpa mau melerai, tidak menyadari bahwa Luhan terkejut karena ia menyebut nama Sehun.
"Itu Sehun, Luhan." Kata Baekhyun sambil menoleh kepada Luhan sekali. Kemudian dia kembali memperhatikan Sehun dan Irene yang entah sedang mempertengkarkan hal apa. "Itu… Kupikir mereka baik-baik saja, dan… Astaga!"
Luhan membekap bibirnya sendiri. Ia tidak menyangka apa yang ia lihat barusan, pun tidak mendengar betapa terkejutnya Baekhyun di hadapannya saat ini.
Mereka melihat Irene melepas cincin di jari manisnya, lalu melemparnya ke wajah Sehun dengan marah. Sedetik setelah itu, Irene balik badan dan pergi meninggalkan Sehun. Sementara Sehun, lelaki itu justru membeku di tempat. Luhan bisa melihat bahu Sehun yang tegang lalu melorot sebelum lelaki itu pergi dari restoran.
Sehun… Dia…
Luhan tidak tahu harus berkata apa. Ia bisa merasakan senang dan sedih secara bersamaan. Luhan merasa sesak. Ia tidak mampu menahannya sampai ia menangis. Luhan menangis untuk Sehun.
FIN!
Ini hanya file lama yang sudah menjamur di laptop. Daripada kubuat jamurnya mengakar lebih dalam, lebih baik ku-post saja sebagai jawaban dari kekepoan kalian hehehe.
Nggausah baper, aku lagi mampir bentar sebelum ngilang lagi untuk beberapa bulan ke depan.
See you soon!
