Karin mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya. Sembab, tentu saja, ia habis menangis soalnya. Segera ia melangkahkan kaki mungilnya dari kamar tidurnya ke kamar mandi.

Sesampainya disana, ia membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar, tak kusut lagi. Setelah selesai ia segera menyambar handuk kecil yang tak jauh dari tempatnya berada dan mengelap wajahnya.

Gadis yang identik dengan rambut pirang-kecoklatan ini menghela nafas pelan, ia harus maaf pada wanita yang sudah merawatnya sejak kecelakaan terjadi saat dulu.

Dengan niat mantap dan pasti, Karin berjalan ke luar dari kamar mandi untuk ke ruang tamu, karena disanalah tempat wanita—yang dipanggilnya bibi— itu berada.

Langkahnya terhenti ketika indera pendengarannya tanpa sengaja mendengar percakapan bibinya dengan seorang yang asing—baginya. Menghentikan langkahnya, Karin mencari tempat yang pas untuk bersembunyi dan menguping.

"Anda serius ingin menjual anak anda pada kami?"

Suara laki-laki yang terdengar asing ditelinga Karin membuat sang gadis menaikkan alis, tunggu, bukannya bibinya tak memiliki anak mengingat bibinya itu belum menikah, lalu, apa maksud bibinya itu?

"Tentu saja saya serius. Anda tak perlu repot-repot mencari nama Marga untuknya. Kebetulan sejak saya menemukannya, saya sudah memberinya nama Marga yang berbeda. Mengingat dia bukan keturunan dari kami,"

Hah?! menemukan? Berarti dirinya, bukan? Kenapa bibinya menjual dirinya pada orang lain? Apa dirinya memang tidak berharga?

Karin dapat melihat pria asing itu menghela nafas, setelah pembicaraan selesai, ini ia akan merencakan kabur yang sempurna. Peduli amat dengan kapasitas otaknya yang kecil dan dirinya yang mudah pelupa.

"Tapi nyonya, anda benar-benar tidak mau mengurus anak itu?" Si pria menghela nafas, sedangkan bibinya hanya berekspresi tidak peduli.

"Untuk apa mengurusi anak yang bisanya hanya menyusahkan orang, seperti dia!" Ungkap wanita itu dengan penekanan nada disetiap kata yang di ucapkannya.

Hati Karin mencelos mendengar penuturan bibinya. Sebegitu tak bergunakah dia? Pantas saja ia sering dimarahi.

Gadis dengan marga Hanazono—yang diberikan bibinya—itu segera melangkahkan kakinya pergi dari tempat persembunyian, sepertinya rencana kabur yang sempurna tidak akan terjadi. Akan lebih tepat jika dikatakan rencana kabur yang dadakan.

Sesampainya dikamar ia segera mengacak lemarinya ,mengambil baju-baju yang simple, dan dimasukkan kedalam tas. Tak lupa ia membawa beberapa barang yang perlu digunakan. Ingat, beberapa, karena ia tak mungkin membawa semua barang - barang miliknya.

Sebelum kaki bersepatukan boot itu melompat dijendela, mulut Karin mengucapkan sepatah kalimat, "Maaf merepotkan, Terimakasih, dan Selamat Tinggal," yang berintonasikan miris.

Dipikirannya kini eksistensinya sekarang hanyalah seperti seonggok bangkai, yang kapan saja akan dimangsa, dibuang atapun disingkirkan sampai membusuk.


.

.

Kamichama Karin (chu)

Belong to Koge Donbo

AU,OOC,Typo(s), nggak memperhatikan EYD, gaje, kurangnya pendeskripsian, alur kecepetan dan banyak yang lainnya.

.

.


Happy Reading~


Ekspresi wajah seorang pemuda dengan rambut blonde ini menjadi dingin sekaligus sedih dan tersayat bak habis ditusuk, dicincang, juga dipotong dengan seribu pedang disaat yang bersamaan. Atensinya terfokus pada sebuah batu Nisan yang dengan rapinya terukirkan nama Karin Kujyou. Hati Kazune Kujyou—nama pemuda itu—serasa sudah terbang menjauh dari tubuhnya tertiup hembusan kasar para angin. Tangan berwarna putih pucat itu mengelus lembut benda mati yang kerap disebut batu, sedangkan otaknya sudah melayang jauh dari tempatnya berada saat ini, membayangkan dirinya bersama Karin disurga sana.

"Kazune Kujyou,"

Kazune tersentak kaget tatkala mendengar namanya disebut, kembali dalam dunia yang sebenarnya, ia menoleh kebelakang, dan mendapati sosok gadis dengan rambut hitam berkuncir dua serta pita berwarna kecoklatan yang ikut menghiasi dandanannya. Cantik.

"Mau apa kau kesini, Rika Karasuma?" Dengan gigi bergemeletuk, dan juga nada bicara yang meninggi, Kazune menatap tajam ke arah gadis yang sudah kita ketahui namanya barusan, Rika Karasuma.

Rika menunjukkan senyuman manisnya—yang malah terkesan menjijikkan dimata Kazune, sebelum akhirnya ia membuka mulut dan mengeluarkan sepatah kata, "Aku ingin kita menikah Kujyou-kun."

"Jangan bercanda, tch!" Kata Kazune mendengus, "Lagipula kau lupa jika umur kita baru tujuh belas tahun heh?! Dan aku tidak akan menikah diusia muda, apa lagi dengan mu." Tambahnya dengan nada arogant yang sangat kentara.

"Padahal dia sudah mati, kenapa tetap bersikukuh dengan pendirian mu yang tak akan berujung itu? Dan, apa benar kau akan menikahi bangkai—ah bukan, mayat—kurang tepat, seorang yang sama sekali tidak ada keberadaannya."

Kazune memejamkan mata, merasakan tajamnya lidah itu membuat sayatan - sayatan dihatinya, yang akan membekas selamanya. Ia menghembuskan nafasnya pelan, mengatur sesak dadanya saat ini dan membuka matanya perlahan. "Aku tetap teguh dengan pendirianku, apa pun yang terjadi." Katanya lantang, tegas dan penuh akan nada kewibawaan, walapun kendati tak begitu tersirat ada titik kepedihan yang mendalaminya.

Rika menunjukkan senyumannya yang sering kali meremehkan seseorang atapun menyeringai bak predator yang menemukan mangsanya. Pandangannya kini benar - benar sangat datar dan dingin. "Apa perkataanku tadi kurang tajam sehingga tak dapat menembus dinding pertahananmu itu, Kujyou-kun?" Rika bertanya dengan intonasi dingin seraya membuat gestur berbalik. "Aku akan mendapatkan mu sebagai siapapun asal kau bisa disampingku!" Katanya yang terakhir sebelum pada akhirnya ia pergi dan menghilang diterpa angin bersama dedaunan.

Kazune mengambil nafas rakus - rakus dan melangkahkan kakinya menjauh dari area makam. Sudah cukup ia meluapkan kesedihannya pada makam kekasihnya, dan waktunya pulang. Lagipula ini sudah sore.

Dengan segenap luka yang masih—dan akan selalu—membekas dihatinya akan perkataan Rika Karasuma tadi, Kazune Kujyou memasang topeng datarnya dengan baik, agar semua tak—akan—khawatir pada keadaannya saat ini. Tapi sedetik setelahnya topeng datar itu berubah menyiratkan satu kekhawatiran saat manik shappirenya menangkap pemandangan tak elit; seorang gadis berambut pirang kecoklatan tengah tertidur—ralat pingsan ditengah jalan sambil memeluk tas yang lumayan besar.

Segera saja kakinya berlari mendekati sosok gadis itu, berjongkok dan memastikan apa dia baik-baik saja. Tapi niatan keduanya terurung ketika manik biru shappire itu melihat wajah sebenarnya dari orang itu—sangat mirip dengan seseorang. Kazune memejamkan matanya saat tiba - tiba hatinya terasa sedang diiris dengan berbagai senjata tajam. Membendung air mata yang siap meluncur kapan saja, Kazune mengambil ponselnya yang berada disaku, menekan beberapa tombol dan menaruh benda tersebut ditelinga.

"Kazusa?"

"Moshi-moshi. Kazune-nii, ada apa?" Diseberang sana terdengar suara sangat familiar yang tengah mengkhawatirkan keadaannya, membuat dirinya mengulaskan senyum—kepedihan.

"Kazusa, aku akan mengirimi mu lokasi keberadaan ku saat ini. Lalu suruh Michiru dan Jin kemari dengan membawa mobil, secepatnya." Tutur Kazune to-the-point, lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Peduli amat dengan adiknya yang bakalan misuh - misuh ria padanya


Kedua manik berwarna ungu milik seorang pemuda yang kini tengah duduk dipohonan itu menyiratkan rasa sakit yang mendalam kala pandangannya mengarah pada seorang gadis berambut pirang tengah digendong masuk ke dalam sebuah mobil hitam, tak luput aura - aura dendam menguar dari tubuhnya.

"Maaf, telah melakukan hal ini, Kujyou. Karena kau dulu berbahagia, diatas penderitaanku." Gumamnya pelan, memejamkan matanya sejenak sembari menikmati semilir angin yang menerpa helaian surai berwarna cokelat karame miliknyanya.


Bibir merah ranum milik Himeka Kujyou bergetar, membuat sepupu perempuannya memeluknya erat sekaligus menyalurkan sedikit kehangatan. "Kau tidak apa Himeka-chan?"

Sedangkan yang ditanya hanya merespon dengan anggukan kecil, seakan menjawab 'ya', tapi sayangnya respon itu tak dipedulikan Kazusa yang melihat kenyataan bahwa sepupunya dalam keadaan yang tidak bisa disebut baik - baik saja.

"Sudahlah Himeka-chan, itu mungkin orang lain— atau siapalah. Tidak mungkin dia Karin yang kita kenal," kata Kazusa tenang.. Setenang danau yang tidak memiliki arus. Sekalipun begitu, tetap saja hatinya saat ini khawatir, sangat khawatir.

Pemuda berambut Caramel yang akrab disapa Michiru, Michi atau Michiru Nishikiori menghela nafas sambil menatap pintu ruang dimana Karin Hanazono diperiksa dengan gusar. Sesekali ia melirik kearah pemuda berambut blonde yang bersandar disampinya—tepatnya di dinding dengan perasaan sedikit cemas. Sedangkan Kazune hanya menampangkan topeng andalannya, seakan tidak terjadi sesuatu pada dirinya.

Sedangkan disisi lain, terlihat pemuda bersuraikan hitam yang tengah menunduk sambil memegangi rambutnya, frustasi. Jin Kuga, begitulah nama lengkapnya. Ia mendongakkan kepalanya dan mengalihkan tatapannya yang sedari tadi melihat lantai ke arah Kazune. "Kujyou, dia sudah mati 'kan?" Tanyanya dengan nada miris. Sedangkan yang mendapat pertanyaan hanya berdecih pelan dan memasang ekspresi tak suka—atau benci dengan pertanyaan tadi?

"Diam kau Kuga!"

Bukan hanya Jin, semuanya terdiam. Diam dengan pikiran masing - masing. Sampai suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka.

KRIET

"Anda keluarga nona tadi?"

Pertanyaan dari sang dokter membuat mereka saling memandang satu sama lain dengan tatapan bingung, apa yang harus mereka jawab?

Ya? Berbohong.

Tidak? Mereka tak akan tau apa yang terjadi selanjutnya jika begitu.

"Ya! Saya keluarganya," Michiru angkat tangan, sementara Dokter mengambil nafas, siap - siap menjelaskan keadaan 'nona' yang dimaksudnya tadi. "Ah, nona itu hanya kelaparan dan kelelahan. Dia baik - baik saja," tutur sang Dokter membuat semua menghela nafas, lega.

"Baiklah, kalian bisa membawa pulang setelah dia tersadar." Lanjutnya kemudian berjalan melenggang pergi.

Kazune duluan yang berjalan masuk ke dalam ruang tersebut disusul dengan Kazusa, Himeka, Jin dan juga Michiru membuntuti dari belakang.

.

"Ngh-" berkedip sebentar, Karin melenguh pelan saat melihat ruangan sekelilingnya ini bukanlah jalanan. Seingatnya tadi ia berlari kabur dari rumah, lalu tanpa sengaja menginjak kaki anjing dan dikejar - kejar hewan yang identik dijadikan sebagai penjaga rumah itu—oke, lupakan. Kedua manik berwarna hijau emerald—yang sangat terlihat titik kekagetannya—itu menelusuri satu persatu orang yang ada diruangan yang ditempatnya saat ini. Ia yakin bahwa tempat ini adalah rumah sakit karena indera penciumannya mendapati bau obat.

"Kau sudah bangun?"

". . . . . . ."

"Apa dia tidak apa - apa Kazune-nii?"

". . . . . . ."

". . . . . . ."

"Sumimasen, KALIAN SIAPA?!" Karin melonjak histeris, membuat semua yang ada didalam ruangan itu terkejut dibuatnya.

". . . . . ."

". . . . . ."

Pemuda berambut pirang yang ada diruangan itu menghela nafas, dan membuka suara untuk mengisi keheningan yang terjadi. "Jangan berteriak begitu, bodoh!" Ketusnya dengan intonasi dingin.

Karin mendengus pelan, tangannya terkepal, siap - siap untuk meninju wajah coretcantikcoret milik pemuda itu.

"Ah, namamu siapa?" Pertanyaan dari salah satu gadis berambut pirang yang ada diruangan itu membuat kepalan tangan Karin mengendur dan tersenyum riang. "Karin Hanazono desu~" Katanya memperkenalkan diri.

"Kazusa, aku keluar sebentar."

"Baiklah Kazune-nii,"

"Aku juga sama Kujyou-san,"

"Silahkan Michi,"

"Aku ikut kau Kujyou,"

"Ah Kazusa-chan, aku lupa sesuatu. Aku pergi dulu ya,"

Gadis berambut blonde—Kazusa— hanya memasang ekspresi masam melihat teman sekaligus saudara-saudarinya pergi dengan berbagai alasan. Mengangguk pelan menanggapi, Kazusa mengalihkan perhatiannya pada Karin.

"Maaf 'kan mereka ya Karin. . . . . .-chan, sepertinya mereka sangat sibuk dengan banyak urusan," Kata Kazusa tersenyum miris sementara Karin hanya menatap dirinya cengo.

"E-eh? Nggak masalah kok Kazusa-chan?"

"Nama lengkapku Kazusa Kujyou, terserah ingin memanggilku apa,"

Karin bingung dengan berbagai perlakuan yang didapatkannya, entah kenapa ini semua terasa seakan deja vu. Tapi, ia juga tak tau harus melakukan apa. Setiap kali ia membuat kenangan, semua langsung hilang dengan mudahnya. Satu - satunya harapannya saat ini adalah, bisa mengingat semua kenangannya. Karena ia benci dengan penyakit langka, yang menyerang otaknya.

Gadis berambut bruenette ini tiba - tiba memegangi kepalanya, kepusingan, membuat Kazusa menatapnya dengan tatapan khawatir. "Daijoubu?"

"Daijoubu. Hanya sedikit kepusingan, bolehkah aku tidur kembali?" Tanya Karin dengan seulas senyum—lemah.

Kazusa mengangguk dan membalas senyuman Karin—miris.

"Oyasuminasai, Karin-chan,"

"Hai'."

Setelah membantu Karin menaikkan selimutnya sedada, Kazusa melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, membukanya dan keluar.

Ia menghela nafas sambil bersandar pada tembok, hatinya rasanya sakit sekali—bagai diiris oleh seribu pisau. Jadi, beginikah hati kakaknya saat Karin meninggal? Pasti lebih sakit. Padahal saat Karin dimakamkan hatinya tak seperih ini.

.

.

.

.

.

.


To Be Continued~


Ini, APA YANG KU TULIS- AAAAAAA-

Yesh, cuma 1000 world.. [Nari hula-hula]

Gomenasai minna-sama.. Saya ga bisa nulis banyak-banyak, hehe~

Untuk Azuya-chan, sepertinya saya ga bisa menuruti saran anda, terlalu merepotkan TuT /ngek

Ini balasan Reviewnya bagi yang ga saya bales diPM (terlalu pemales, oke?! /slapped) :

Yumi Tiffani :

Karin masih hidup? Eh? Sebenarnya sih-nggak yakin ya~soalnya masih ada yang belum keungkap, jangan ambil kesimpulan seperti itu dulu fufufu~ =))))

Maaf kalau ini kurang kilat m(_ _)m

Chan :

Saya ga yakin kalau karinnya masih hidup lho~~~

Ini udah dilanjut OuO gomen kalau nggak kilat..

Vii Violetta Anais :

Yeeee, makasih.. Udah dilanjut nih..

.

.

.


It's just a dream, 'right?~


"Ma, kalau seumpama dunia ini adalah sinetron, mama ingin menjadi antagonis, protagonis atau tritagonis?"

"Sayang~ kamu ini ada - ada saja,"

"Bagaimana dengan tokoh sampingan atau tritagonis?"

"Ah mama, kenapa tokoh sampingan sih? Itu kan nggak seru.. Sangat seru malah, karena tokoh sampingan itu memiliki tantangan tersendiri."

"Ah, beg-"

"KYAAAAAAA- HWA-"