2.
Cho Kyuhyun tidak pernah menyangka jika "wanita perjanjian" yang harus ia temui nampak biasa saja—maksudnya tidak seburuk yang ia bayangkan. Wanita itu menurutnya masih normal, terlihat baik-baik saja dari luar walaupun tubuh mungilnya sedikit bergetar saat berjalan terseok memunggunginya, lalu suara hentakkan sepatu kuning lemon tiga senti nya menggema di sepanjang koridor menuju ruang rapat tamu negara Cheong Wa Dae. Perempuan itu- Lee Sungmin, tidak bersuara saat Kyuhyun dengan angkuh memerintah agar ia mengikutinya, berbicara secara empat mata di sebuah ruangan yang harus Kyuhyun yakini kedap suara.
Sungguh tidak menarik, ujar Kyuhyun dengan dengusan, namun di dalam hati. Ia berharap jika wanita itu akan jatuh pingsan saat Kyuhyun berinisiatif memilihnya untuk dikawinkan, atau bahkan berteriak histeris seperti dugaan kaki tangannya yang setia. Namun, wanita itu hanya terlihat menggigil dari luar, dan menganggap seakan-akan Kyuhyun adalah gunung es yang mendatangkan badai salju menerjang tubuhnya.
Wanita itu tampak menarik, namun tidak sepadan untuknya.
Dan suara derit pintu kayu yang ditutup menyadarkan lamunan sang raja.
"Tuanku Raja," Sungmin membuka suaranya, yang sempat Kyuhyun lupakan seberapa merdu suara itu. "Sepertinya anda telah membuat kesalahan."
Lihatlah, perempuan ini bahkan dengan berani menghakiminya pada percakapan pertama, dan Kyuhyun merutuk dalam hati.
"Dengan memilih kau sebagai istriku? Apakah kau menganggap dirimu adalah sebuah kesalahan, nona Lee Sungmin?"
Sungmin yang sedari tadi memunggunginya kemudian berbalik, menatap tajam, namun sendu ke arah sang raja yang membalas tatapannya dengan raut menantang. Kyuhyun sama sekali tidak tertarik dengan Sungmin- secara hasrat. Ia memang mengakui tampang gadis itu menarik walau tak lebih cantik dari Lee Saeun. Lalu, Sungmin membuka mulutnya.
"Bukankah anda begitu diagungkan semenjak hari kelahiran anda? Anda mendapatkan semua yang terbaik, pakaian mahal, istana, uang, kekuasaan, dan gelar sebagai raja- orang paling tinggi di New Korea. Bukankah sebuah penghinaan bagi New Korea apabila anda menikahi putri Cheong Wa Dae yang tidak diakui dan tidak terpelajar? Ataukah anda salah menerima informasi bahwa saya adalah Lee Saeun?"
Wanita itu berbicara dengan menggebu-gebu. Ya Tuhan, sangat bersungguh-sungguh. Kyuhyun terbahak dalam hati. Wanita perjanjian ini sebegitu ingin terlepas dari semua ikatan yang membelenggunya, dan juga wanita pertama yang menolak seorang raja. Bahkan, Sungmin berbicara tanpa jeda. Wanita ini sungguh merupakan alat yang sangat tepat. Kyuhyun menyeringai.
"Tidak." Kyuhyun mendesis, menatap Sungmin yang berharap bahwa sang raja menyadari kesalahannya lalu menyuruh Sungmin enyah dengan damai seketika pupus. "Aku mengingini Lee Sungmin, putri pertama presiden Lee Kangin yang tidak di akui. Bukankah sudah jelas bahwa itu kau?"
"Mengapa anda menginginkan saya? Bukankah Lee Saeun lebih cocok menduduki posisi ratu New Korea?"
"Apakah kau tengah menjalin hubungan dengan pria lain sehingga menolakku?" Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya, kemudian melipat kedua tangannya. "Mengapa kau menolakku, Lee Sungmin?"
"Saya tidak tengah menjalin hubungan dengan pria manapun, dan tidak pula berniat untuk menikahi seorang raja." Sungmin membalas tatapan nyalang Kyuhyun dan berharap jika tatapannya dapat membuat Kyuhyun sedikit takut, walaupun tidak mungkin. Sang raja terlihat seperti iblis yang baru diciptakan dari kobaran api neraka, namun kemudian terbang ke surga untuk merampas tubuh seorang malaikat. Sungmin sungguh meyakini bahwa Cho Kyuhyun, bukanlah seorang raja berperingai lembut, walaupun ia bertampang seperti malaikat surga tertampan kesayangan Tuhan. "Saya berniat untuk hidup sendiri dan belajar sejarah. Menjadi ratu sama sekali tidak terbesit dalam benak saya."
"Begitukah maumu?" Kyuhyun menyunggingkan senyum tipis, nampak terlihat puas dengan jawaban Sungmin. "Keputusan yang tepat, nona Lee."
"Akankah setelah ini anda akan memanggil Lee Saeun? Akan saya panggilkan jika anda ingin."
"Tidak." Kyuhyun menggeleng, mendekat ke arah Sungmin, mencari kedua bola mata gadis itu hingga ia dapat merasakan deru napas Sungmin yang tertahan sejenak. Baru kali ini, wajah Kyuhyun dekat dengan seorang gadis tanpa mencumbunya. Wajah Lee Sungmin menjadi pucat tiba-tiba.
Bukankah pria ini tadi menyetujui perkataannya? Mengapa tiba-tiba raja brengsek ini mengatakan tidak?
"Apakah kata tidak merupakan bentuk persetujuan anda, Yang Mulia? Sebegitu anehnya kah bahasa di New Korea?"
Sungmin cukup menyadari ia mendesis sambil mengucapkannya, namun anehnya, Cho Kyuhyun terlihat makin puas saat mendengar perkataannya.
"Lee Saeun, aku tidak butuh perempuan itu." Kyuhyun meraih ujung rambut Sungmin yang dibiarkannya tergerai, lalu menggulungnya perlahan dengan telunjuk kanannya. "Kau dapat melakukan apapun yang kau mau, belajar sesukamu, berbaring sesukamu, bahkan menyumpahi ayah dan keluargamu itu. Semuanya terserah kau, setelah kau menjadi ratuku."
"Apa maksud anda?" Sungmin terhenyak, kemudian dengan cepat ia menepis jari telunjuk Kyuhyun yang semakin cepat menggulung ujung rambutnya. Kemudian, ia baru menyadari bahwa ia baru saja menepis tangan sang raja. "Saya yakin bahwa hal tersebut bukan merupakan hal yang boleh dilakukan seorang ratu, Yang Mulia."
"Memang. Bukan untuk ratu selamanya." Kyuhyun menyeringai kembali, sedikit kesal ketika Sungmin menepis jemarinya. Padahal, ia mulai menyukai rambut Sungmin yang halus di telunjuknya. Di lain waktu, rambut itu akan ia pegang sepuasnya tanpa gadis itu berani melawan. "Jadilah ratuku, kemudian balaskan dendam mu! Setelahnya, kau dapat melakukan apapun yang kau ingini, Lee Sungmin. Cheong Wa Dae akan menjadi milikmu, dan kemudian kau akan menyaksikan Lee Kangin, istrinya, dan anak perempuan kesayangannya menciumi ujung jempol kakimu meminta ampun. Setelah kau mendapatkan semuanya, kita akan bercerai."
Setelah mengucapkan semuanya, sang raja tertawa, kemudian ia mengeluarkan sebuah foto Cheong Wa Dae yang telah hancur, terbakar separuhnya dari dalam saku jasnya, kemudian melemparkannya ke arah Sungmin hingga foto itu melayang, jatuh, lunglai ke ujung kaki Sungmin.
.
.
.
Lee Saeun gemetaran. Butiran keringat dingin mengalir menggoda pada pelipis kirinya. Demi Tuhan, wanita rendahan itu, Lee Sungmin, tampak berciuman bibir dengan sang raja New Korea yang tengah naik takhta. Cukup lama, kira-kira hampir satu menit Saeun berdiri mengintip pada celah-celah jendela rahasia yang hanya ia dan ibunya yang mengetahui hal tersebut. Sebelumnya, ibunya itu telah mengajarinya cara untuk mengintip dengan rapi ke dalam ruangan rapat tamu negara, sekadar ingin tahu saja apa yang dilakukan ayahnya itu, presiden Seoul pada tamu-tamu negara lainnya, dan biasanya yang Saeun lihat hanyalah ayahnya bercengkerama ringan sambil menyeruput teh panas. Suara ayahnya tidak terdengar memang, namun cukup puas untuk membunuh rasa bosan Saeun di dalam Cheong Wa Dae dahulu, saat ia masih remaja. Toh, walaupun ia putri Cheong Wa Dae yang cukup penting, dirinya yang masih remaja ingusan tentu tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam, ikut menyaksikan ayahnya yang tengah membahas masalah negara. Sebenarnya, ibunya yang memberitahukan "tempat rahasia" untuk mengintip itu- bermaksud lain. Bukan hanya untuk sekadar hiburan bagi Saeun. Biasanya, untuk mengintip apakah tamu negara yang ayahnya bawa- atau bangsawan dari negara mana- yang masih muda dan gagah. Siapa tahu bisa Saeun dapatkan untuk dinikahi, ataupun jadi pertimbangan, apakah Saeun harus mengejar para pria itu.
Namun, jika begini keadaanya, tempat rahasia yang ditunjukkan ibunya sangat berguna untuk mengintip apa yang dilakukan kakak haramnya itu pada raja New Korea. Lagipula, berani benar Lee Sungmin! Saeun sempat mengira bahwa sang raja salah orang, mungkin saja ia terbalik membedakan yang mana putri sesungguhnya dan mana yang anak haram. Kurang ajar! Seharusnya dirinya yang tengah bercengkerama dengan Cho Kyuhyun! Tentu saja ia harus mengintip ke dalam, dan tidak sabar untuk menyaksikan bagaimana sang raja murka, kemudian menyesal karena ia salah orang!
Tetapi, bukannya kemarahan, yang ia lihat, malah wajah sang raja sangat dekat dengan Sungmin. Oh Tuhan, dia sering bercumbu! Tentu saja ia tahu bagaimana posisi pria dan wanita yang saling memagut bibir. Anak haram itu, Lee Sungmin, sebentar lagi akan mendapatkan semuanya, apa yang menjadi miliknya! Harta, kekuasaan, uang, gelar, dan pria yang sempurna! Badebah!
Anak haram tidak patut untuk hidup, mereka tidak diinginkan. Begitu yang ibunya sering katakan.
Namun sekarang, bagaimana mungkin si anak haram bisa mendapatkan seorang raja? Raja hanya untuk seorang putri, ya, begitulah kodratnya. Cho Kyuhyun harus menjadi takdirnya. Lee Sungmin selamanya harus menderita!
Dengan tergesa-gesa, Saeun berlari, tak sabar mengadukan apa yang ia lihat kepada ibunya.
.
.
.
Sungmin tidak bodoh, walaupun ia tidak mengenyam pendidikan yang berkualitas tinggi maupun mahal seperti anak orang kaya, walaupun ia berhak. Foto Cheong Wa Dae yang tebakar separuhnya bukan sekadar hanya keisengan pria itu. Sungmin sungguh mencerna dengan jelas maksud pria licik itu: menghasut Sungmin untuk membalaskan dendamnya, menghancurkan Cheong Wa Dae dengan gelar ratunya!
Cho Kyuhyun tampak tidak seperti malaikat penolong. Sungmin bersyukur ia memiliki sifat penuh curiga dan berhati-hati. Lembar foto Cheong Wa Dae yang dibakar separuh, yang dikeluarkan Kyuhyun di hadapannya bukan semata-mata untuk menolong Sungmin- si anak lemah yang tak dianggap karena kasihan. Sungmin menyadari bahwa Kyuhyun menginginkan dirinya sebagai alat untuk menghancurkan Lee Kangin, Seoul dan Cheong Wa Dae, dan semua didukung dengan rasa dendam yang ia pendam selama ini pada Lee Kangin dan keluarganya. Kyuhyun menganggap dirinya seperti sebatang korek api kayu, dan pria itu akan datang sebagai penyala korek, sehingga baru dapat menghasilkan api yang menghanguskan Lee Kangin hingga menjadi abu.
"Bukankah Lee Kangin dan keluarganya patut untuk mati, nona Lee? Bukankah nyawa harus dibayar dengan nyawa?" Kyuhyun yang sedari tadi memutuskan untuk bersandar pada kursi, membuka suaranya, sambil menjelajah seisi ruang rapat tersebut dengan matanya yang nyalang. "Tuhan mendengar doamu untuk membalaskan dendam ibumu."
"Tuhan tidak pernah menaruh dendam, dan aku bukan orang yang picik!" Sungmin membalas dengan nada tinggi, melupakan segala sopan santun yang ada. Biar saja, lelaki ini tampak tidak perlu dihormati walaupun ia menjadi raja seluruh bumi sekalipun! "Kau ingin menyebut dirimu sebagai utusan Tuhan dengan seluruh rencana jahat yang kau pikirkan, Yang Mulia?"
"Aku tidak mengakui sebagai utusan Tuhan." Wajah Kyuhyun menyiratkan sedikit mimik murka. "Barangkali saja, aku merupakan hadiah dari Tuhan untukmu. Kalau tidak melalui aku, bagaimana mungkin kau dapat membalaskan dendam mu dan ibumu?"
"Ibuku tidak pernah memintaku untuk membalaskan dendamnya, dan ibuku selalu mengajarkan aku untuk memaafkan!"
"Lalu kau diinjak-injak? Istri Lee Kangin selalu ingin membunuh ibumu, dan ayahmu mendukungnya! Masihkah kau memaafkan?"
Dada Sungmin seketika sakit. Hampir ia rasakan jantungnya ingin meloncat keluar, dan wajah ibunya yang berlinang air mata mulai terngiang-ngiang. Ibunya hampir saja gila karena perselingkuhan ayahnya itu, ibunya menangis sampai air matanya tidak bisa keluar, lalu ia ingat Lee Kangin malah mengakui ke semuanya bahwa Park Jungsoo istrinya yang sah, beserta Lee Saeun, putri kandungnya. Walaupun Sungmin lahir dari sebuah kesalahan, dan Kangin malu untuk mengakui ibunya dan ia sebagai sebuah keluarga, seharusnya Kangin dan Jungsoo tidak perlu berusaha untuk membunuh ibunya saat ada kesempatan. Kerongkongan Sungmin tiba-tiba terasa sakit saat ia menelan ludahnya, dan rasa pusing merambat di ubun-ubunnya. Apakah ibunya dendam? Apakah ibunya diam-diam berharap agar Sungmin membalas perlakuan ayahnya dan keluarga kebanggaannya itu? Sungmin tidak tahu, dan ia tidak siap untuk mengetahuinya. Ia sangat sayang pada ibunya, sungguh, dan Sungmin juga hampir gila untuk bunuh diri karena tidak kuat mengurusi ibunya yang sudah gila. Ia bahkan berniat untuk mengajak ibunya bunuh diri, lalu mereka akan mati dan tenang.
Lalu, dengan mata kepalanya sendiri, sebelum ia mengutarakan niat untuk mengajak ibunya mati bersama, ibunya telah tergantung, menjadi mayat, dihadapannya, dengan satu kali loncatan dan cekikan tali pada lehernya, dan air mata yang mengalir di pipinya.
Saat Sungmin menelepon ayahnya dengan rasa panik dan sedih yang mendera luar biasa, hingga seluruh lubang hidungnya tersumbat ingus, samar-samar dari sambungan telepon terdengar suara Jungsoo:
"Bukankah bagus? Baru saja kita berniat untuk meracuni perempuan sundal itu besok, dan perempuan itu mati. Kita tidak perlu menanggung dosa, bukan?"
Kemudian ia mendengar ayahnya tertawa kecil samar-samar.
Dari situ, Sungmin tidak ingat apapun lagi tentang kejadian hari itu. Ia telah lupa akan niatnya untuk bunuh diri, dan menganggap dirinya sebagai anak yatim piatu.
Lee Kangin secara terpaksa baru mengakuinya sebagai anak saat ia berumur dua puluh, dua tahun lalu.
Semua hanya untuk reputasi pria itu. Entah darimana, kabar ia memiliki seorang putri yang lain- dirinya tersiar. Sungmin selama ini bertahan untuk tidak membunuh pria itu untuk uang kuliahnya.
Pandangan Sungmin tiba-tiba jadi buram. Ia sadar, ia akan mulai menangis dan itu akan jadi hal yang gawat. Ia tidak boleh menangis di depan Cho Kyuhyun. Dengan cepat ia mengatur emosinya, melupakan semua bayangan menyesakkan itu dari dalam kepalanya dan fokus akan sosok di hadapannya.
"Dari mana kau tahu semua kabar itu? Kau bisa aku tuntut dengan pencemaran nama baik ayahku, walaupun kau seorang raja sekalipun!"
"Aku takut kau tidak akan berani melakukannya." Kyuhyun menatap Sungmin dengan tatapan merendahkan. "Aku ingin melihat, apa yang akan ayahmu lakukan saat kau membelanya seperti itu, menjunjung nama baiknya. Mungkin saja ia akan membela putri haramnya ketimbang seorang raja yang dapat memberi ia kekayaan lebih. Bukankah sifat manusia bisa berubah?"
Kyuhyun menyindirnya. Pria itu menginjak-nginjaknya! Sungmin menggeram dalam hati. Sungguh, pria ini lebih jahat daripada iblis sekalipun! Sungmin sadar, dirinya tidak akan pernah dibela oleh Kangin, walaupun ia berusaha menjadi anak berbakti dengan membela kesalahannya. Bodoh, naif! Sungmin mengumpat dalam hati. Cho Kyuhyun bukan pria sembarangan! Bagaimana mungkin dirinya begitu naif menantang orang itu? Bisa-bisa malah dirinya yang dijebloskan ke dalam penjara dan ia harus melupakan kuliahnya selama ini.
Pria itu tahu semuanya, tahu semua tentang cerita kehidupannya yang menyedihkan. Kyuhyun seakan tahu semua rasa dendam yang menyelimuti hatinya.
Bohong kalau Sungmin tidak menyimpan amarah. Ia sungguh ingin menghabisi Kangin dan keluarganya apabila diperbolehkan oleh Tuhan. Namun, ia selalu teringat ibunya yang mengajarkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Tetapi itu dahulu, sebelum ibunya tahu bahwa Kangin hanya mencampakkan mereka dan tidak pernah mau mengakui Sungmin dan ibunya. Tidak, walaupun ibunya memendam dendam, ia pasti tidak akan mengizinkan Sungmin untuk membalas dendam!
Sungmin berusaha berpikir jernih. Perlahan, ia mengembuskan napasnya. Berusaha berpikir positif. Bagaimanapun Kangin adalah ayah biologisnya. Pria itu masih mau membiayai kuliahnya, walaupun semua untuk reputasinya.
"Aku tidak akan membalas dendam manapun, pada siapapun dan aku tidak mau memiliki dendam walaupun aku ingin. Apakah semua sudah jelas, Yang Mulia? Aku sarankan agar kau segera mengakhiri rencana bodoh ini dan segeralah menikahi Lee Saeun. Aku ingin hidup dengan tenang!"
Kyuhyun tidak membalas perkataan Sungmin. Sepatah katapun tidak. Pria itu hanya memejamkan matanya, sembari bersender pada kursi yang menampung seluruh tubuhnya. Kira-kira selama lima menit, bahkan Sungmin sempat takut kalau tiba-tiba saja napas raja itu berhenti, lalu ia yang akan dituduh sebagai pembunuh raja! Kyuhyun tidak bergerak sedikitpun, kedua matanya masih memejam, wajahnya tidak menampilkan ekspresi apapun. Datar, terlihat damai, terlihat setampan malaikat.
Kemudian, kedua bola mata hitam pekat Kyuhyun terlihat. Saat pria itu membuka kelopak matanya, hanya ada pandangan nyalang, tajam, dan penuh amarah. Sang raja kemudian mendekat, makin mendekat ke arah tubuh Sungmin yang mungil, memojokkan gadis itu ke dinding lalu mengurung tubuh Sungmin dengan tubuhnya yang tegap. Tidak ada keberanian, tiba-tiba saja lenyap saat Sungmin ingin mendorong pria itu hingga tersungkur. Matanya begitu tajam menusuk pada bola mata Sungmin, hingga suaranya yang serak dan berat terdengar perlahan,
"Kalau kau begitu ketakutan untuk melenyapkan Lee Kangin dan keluarganya, aku akan mengatur agar kebenaran akan ibumu terungkap. Lee Kangin dan keluarganya harus mendapat balasan hukum yang setimpal, jika kau tidak ingin melihatnya meraung di bawah kakimu. Kau hanya perlu menjadi ratuku, dan kemudian membantuku untuk menguasai pemerintahan Seoul. Rakyatmu harus mengetahui kebenaran presidennya, kau mendapatkan pengakuan dan kebenaran, lalu aku mendapatkan negara ini. Bukankah semuanya baik, Lee Sungmin? Keluarga Kangin dengan penjara, kau dengan nama ibumu yang bersih, dan aku dengan kekuasaan yang baru."
"Lalu apa perbedaannya dengan balas dendam yang kau tawarkan sebelumnya, Cho Kyuhyun!" Sungmin berteriak, dengan nada tinggi, dan gilanya, sang raja malah tersenyum sumringah.
"Tentu saja berbeda, opsi kali ini lebih manusiawi, tanpa darah di telapak tangan kita berdua!" Kyuhyun melepaskan kurungan tubuhnya dari Sungmin, mundur beberapa langkah ke belakang, lalu mengeluarkan sebuah kotak hitam beludru dari saku jasnya, hingga saat kotak beludru itu terbuka, nampak cincin batu safir yang amat berkilau mengusik pandangan Sungmin.
"Ini adalah bukti serah terima persetujuan kita." Kyuhyun memulai penjelasannya, suaranya yang ini sungguh berat. "Kalau kau, Lee Sungmin, bersedia menukar negara ini dengan nama bersih ibumu, pakai cincin ini di jari manismu dan beritahu kepada seluruh dunia, bahwa kau menerima lamaran raja Cho Kyuhyun dan bersedia menjadi ratu New Korea! Apabila kau ingin semua berjalan menurut garis Tuhan yang menyedihkan, tentang ibumu yang hanya berstatus sebagai pelacur Lee Kangin, cukup beritahu kepada ayahmu bahwa kau menolak lamaran sang raja, dan pernyataan perang dari New Korea untuk Seoul akan diumumkan tiga hari lagi."
.
.
.
Catatan dari Penulis:
Terima kasih karena telah memberikan review, baik apresiasi, masukan, dan kritikan pada project cerita ini. Saya benar-benar sangat menghargainya. Mohon maaf, komentar tidak dapat saya balas satu-persatu dalam chapter ini, mungkin di beberapa kesempatan ke depan. Terima kasih atas kesediaannya membaca cerita ini, bahkan sempat terbengkalai 8 bulan karena kesibukkan saya dari sakit dan menulis tesis penelitian. Mohon maaf atas terbengkalainya cerita ini dan membuat para pembaca menunggu. Saya mengusahakan untuk rajin update chapter baru karena kesibukkan saya yang mendadak dan menyita waktu telah usai. Mohon maaf sekali lagi.
Silakan mengirim pesan berupa direct message pada akun ini apabila berkenan. Pasti akan saya balas.
Review-review dari para pembaca yang budiman akan saya balas di chapter-chapter berikutnya. Terima kasih.
