.
Hey, Rin … aku mencintaimu.
Tapi, aku tidak akan membiarkanmu mengetahuinya.
Karena bagiku—hanya bagiku
.
.
—mencintaimu adalah dosa.
.
.
Vocaloid © Yamaha Corp. and Crypton
.
Innocent Sinner
.:: Oneshoot Collection :: Random :: AU :: LenRin [Twincest] :: 3rd POV :: Romance/Angst :: PG-13 ::.
.
.
For my beloved wife: Iin cka you-nii.
Love you as always, my dearest.
.
.
=========================================================================Birthday.
.
Hari itu adalah hari istimewa. Hari di mana takdir telah memutuskan untuk menghadirkan sepasang malaikat berambut kuning. Ya, apalagi kalau bukan hari ulang tahun Kagamine bersaudara?
Biasanya orang tua Len dan Rin akan menyiapkan sebuah pesta kecil-kecilan yang melibatkan kue tart, lilin, hadiah, balon, dan—tentu saja—lap pel. Keluarga Kagamine selalu antusias setiap kali momen itu datang. Namun pada tanggal di mana Len dan Rin memasuki usia ke-15 mereka, tidak ada tanda-tanda adanya pesta di ruang keluarga.
Di hari hujan yang kelam itu, kedua orang tua Len dan Rin harus pergi ke rumah sakit tempat nenek mereka terbaring sekarat. Si kembar yang juga khawatir akan kondisi sang nenek dilarang ikut karena esok harinya mereka akan menjalani ujian kenaikan kelas. Ah, bahkan Tuan dan Nyonya Kagamine pun lebih mengingat ujian sekolah daripada ulang tahun anak-anak mereka.
Larut malam menuju pergantian hari, Len beranjak dari tempat tidurnya. Anak lelaki yang bahkan tidak melepas ikatan rambutnya saat tidur itu duduk di sofa ruang tengah. Ruangan tersebut adalah tempat di mana seharusnya ia dan saudarinya meniup lilin berbentuk angka 15.
Sambil melipat lututnya dan menyandarkan punggung, Len hanya diam di sana. Di depan televisi yang layarnya hitam, di bawah lampu kristal yang tak berpijar. Wajahnya terlihat lelah dan kusut.
Tidak lama berselang, muncul cahaya kuning yang berasal dari pintu kamar Rin. Dan yang dirasakan Len kemudian adalah kehangatan tubuh Rin di bahunya. Tanpa menoleh, Len menyapa, "Hey, Tukang Tidur …. Kupikir kau sudah tidur …."
Rin mengangkat bahunya, "Aku masih harus menghafal rumus matematika yang belum aku kuasai. Ah, menyebalkan. Lagipula … kau pikir aku bisa tidur dalam keadaan seperti ini?"
"Ya. Karena tidur adalah nama tengahmu," jawab Len. Suara kekehan kecil terdengar di akhir kalimatnya. Akibatnya, Rin memandanginya kesal. Punggung gadis itu tegak dan tangannya terlipat di dada. Tapi tidak sampai sepuluh detik kemudian, ia kembali menempelkan bahunya ke bahu Len.
Setelah interaksi singkat itu, tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibir keduanya. Suara yang menemani mereka hanyalah bunyi hujan di luar sana. Hujan itu, anak hujan yang ditemani ibu petir.
Beberapa putaran jarum jam kemudian, ketika Len sudah menutup matanya dan bersiap memasuki alam mimpi, Rin tiba-tiba kembali menegakkan punggungnya. Walaupun matanya tertutup, Len tahu kalau saudarinya itu sedang memandanginya cemas. 'Hm, sepertinya Rin kira aku sudah tidur,' pikir Len.
Saat Len masih menimbang-nimbang untuk bangun atau tetap berpura-pura tidur, anak lelaki itu merasakan tepukan lembut di lengannya. "Len," Rin bersuara, "aku tahu kau sangat menyayangi Nenek dan khawatir akan kondisinya sekarang. Tentu saja aku juga khawatir, tapi … Nenek akan baik-baik saja. Percayalah …." Dan Len pun harus berusaha keras untuk tetap menutup matanya ketika ia merasakan bibir Rin di keningnya.
Usai kecupan singkat itu, Len dapat merasakan suhu tubuh Rin meninggalkan ruang tengah yang juga merupakan ruang keluarga. Setelah mendengar suara pintu yang ditutup, Kagamine Len membuka mata kanannya. Mata kiri beriris madu pun ikut menyusul sesudah pasangannya memastikan kalau Kagamine Len sudah sendirian.
Menghela napas panjang, Len bicara dalam hati, 'Jadi kau pikir aku sedang mengkhawatirkan keadaan Nenek, eh? Yah, tentu saja aku khawatir. Tapi, seperti katamu, Nenek akan baik-baik saja. Yang membuatku kesal justru adalah kalimat yang terakhir kau ucapkan setelah menciumku tadi …'
"… Selamat ulang tahun, Len."
'Kau tahu, aku kesal karena alasan yang sama dengan beberapa tahun terakhir ini. Hal itu adalah karena kau begitu bangga karena kita terlahir kembar. Karena kita tercipta bersama. Karena kita memiliki hari ulang tahun yang sama. Maaf Rin, tapi … aku benci merayakan ulang tahunku bersamamu. Karena kau adalah saudara kembarku. Karena di tubuhmu mengalir darah yang sama dengan milikku. Karena takdir itu—
.
—perasaan tulusku padamu berubah menjadi dosa.'
.
============================================================================End.
.
A/N:
Terima kasih untuk Hikari Kamisa, Kuro 'Kumi' Mikan, Iin cka you-nii, dan Miki Yuiki Vessalius untuk reviewnya~ Makasih udah dikasih tau kesalahan-kesalahannya~ Untuk chapter ini juga mohon bantuannya ya! ^^
