Naruto selalu punya Masashi Kishimoto. Sedangkan aku hanya meminjam karakternyaa~

.

.

.

"Anak-anak kalian kedatangan murid baru. Haruno-san silahkan masuk!" aku memasuki kelas baruku, bisa di lihat perbedaan antara aku dan mereka. Mereka menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan. Tetapi dua orang gadis tampaknya sedikit terkejut karena kedatangan aku terdengar dari pekikan mereka berdua.

"KARIN!"/"SHION!" Ucap mereka berbarengan. "KAU?!" Tambah mereka lagi. Aku yang melihat merekapun sedikit terkejut, karena aku tak percaya akan satu kelas dengan mereka.

"Jangan berisik Karin! Shion! Ini di dalam kelas bukan di dalam bar!" guru yang kuketahui bernama Anko itu menunjuk Karin dan Shion yang duduk bersampingan. Mereka berduapun kembali duduk dengan raut tidak suka.

Oke aku mulai khawatir dengan mereka berdua, apalagi mereka berdua melihat kearahku dengan tampang yang tidak bersahabat. "Haruno silahkan perkenalkan dirimu."

Tarik nafas.

Buang.

Tarik nafas

Buang.

Fyuuh~ aku pasti bisa!

"Hajimemashite. Watashi wa Haruno Sakura desu. Saya pindahan dari SMP Konoha. Yoroshiku!" aku berojigi lumayan lama setelah itu aku tegak kembali. Setelah dipersilahkan duduk oleh Anko-sensei akupun mencari tempat duduk kosong.

Ternyata ada dua bangku kosong dipojok belakang. Aku berjalan menuju dua bangku kosong itu. Baru menaruh tas di bangku pertama aku sudah diancam oleh seorang laki-laki berambut spike.

"Hei jangan duduk disitu. Itu tempat Teme! Carilah tempat duduk lain!" Sabar Sakura~ sabar~

Aku tak mau mencari masalah, ya sudah aku lebih baik mengalah. "Gomenasai~"

.

.

.

"Itu yang namanya Haruno Sakura?"

"Iya! Iya! Dia kemarin ingin duduk ditempat Sasuke-kun tetapi langsung diusir oleh Naruto."

"Serius?"

"Beneran!"

"Ish! Gatel banget sih jadi cewek. Udah anak beasiswa, main duduk ditempat duduk Sasuke-kun. Dan kemarin yang gue denger katanya waktu dia pertama kali masuk, dia matahin kukunya Karin!"

"Masa?"

"Iya! Tanya sama Karin kalo kamu enggak percaya!"

Sabar Sakura~

Ingat ibu dan ayah Sakura. Kau harus kuat menjalani ini! Ya seperti inilah hari keduaku saat di SMA Konoha. Andai aku lupa dengan harapan ayah dan ibu, aku lebih memilih sekolah di SMA yang biasa-biasa saja. Dari pada harus sekolah di tempat yang elit seperti ini tetapi harus di bully.

Hey. Aku juga manusia yang mempunyai batas kesabaran. Baru dua hari aku bersekolah di sini bagaimana setahun kedepan. Dan lagi gadis-gadis itu yang menggosipkan aku dengan yang namanya siapa itu sakey? Saskey atau apalah itu aku lupa!

Melihat wujud nyatanya saja aku belum pernah, kenapa aku di gosipkan dengan dia? Memangnya dia setampan apa sih? Apakah tampanan dia dari pada Justin Bieber? Apakah manisan dia dari pada buah-buahan yang kusukai? Apakah lucuan dia dari pada boneka teddy bear yang kupunya di kasur kamarku?

Ayolah apakah dia sebegitunya sampai di puja dan di puji oleh hampir atau bahkan seluruh SMA Konoha ini? Biarkanlah itu semua terjadi. Aku tak mau membuat masalah, lagian juga aku sudah berjanji dengan ibu untuk lulus tanpa membuat satupun masalah.

Aku berjalan tertunduk, mengabaikan tatapan-tatapan sinis ataupun tidak suka itu padaku. Aku menuju kelasku 3-1 yang berada di lantai tiga. Rasanya capek juga kalau harus naik turun tangga hanya untuk kekantin.

Ngomong-ngomong, aku dari SMP sudah mendapatkan beasiswa itu dikarenakan salah satu guruku yang bernama Kurenai-sensei. Dia sangat cantik dan juga baik. Dia menawarkan beasiswa padaku dan akhirnya aku hanya menempuh jarak SMP hanya dua tahun setelah itu aku lulus dengan nilai yang lumayan membanggakan.

Saat mau memasuki tahun ajaran baru, aku masuk di SMA yang biasa-biasa saja. Tetapi karena biaya untuk sekolah dan kehidupan antara aku, ayah, dan ibu tidak tercukupi kami harus terlilit hutang. Untuk membantu orang tuaku, aku berhenti dari sekolah.

Aku bekerja full time. Dan itu tanpa sepengetahuan mereka. Satu tahun aku jalani kehidupanku ini. Namun bangkai yang di sembunyikan baunya pasti akan tercium juga. Aku ketahuan oleh ayah dan ibuku saat aku sedang bekerja.

Karena mereka curiga karena setiap aku pulang sekolah selalu saja kecapean. Ayah dan ibu kala itu terlihat marah besar kepadaku. Karena aku tak menjalankan kewajibanku sebagai anak dengan baik. Tetapikan niatku hanya membantu mereka.

Uang gajiku yang selama ini aku simpan akhirnya aku berikan pada mereka. Memang jumlahnya tak terlalu banyak tetapi setidaknya lumayan untuk membayar hutang keluargaku.

"Ehh! Stop disana anak baru." Aku melihat Karin dan Shion dihadapanku. Haduh kalian maunya apa sih? Jangan mentang-mentang kalian kaya, lalu dengan seenaknya kalian menyuruh orang. Mereka berdua mendekati aku. Sial kenapa jantungku berdebar.

Bukan berarti aku menyukai mereka berdua yaa!

Oke aku akui mereka lebih atau sangat lebih cantik dari pada aku, oke ini sudah mulai bahaya. Mereka berdua mulai melihat-lihatku dari atas dari bawah. Aku mau diapakan oleh mereka Tuhan? Bantu aku!

.

.

.

"Haruno Sakura?" aku menangguk kaku, aku dibawa oleh Karin dan Shion ruangan UKS. Entah apa maksud mereka ke sini.

"Oke, kita enggak bermaksud macem-macem sama kamu. Tapi—" Tapi? Tapi apa? Aku merasakan firasat buruk dengan kalimat selanjutnya.

"Karena kamu udah matahin kuku aku, jadi kamu harus gantiin." Tuhkan! "Dengan uang!" tambahnya. Sial! Aku tak punya uang nona berkacamata. Untuk makan saja aku pas-pasan. Apalagi untuk mengganti perawatan kukumu.

"Karin sayang~ kau lupa dia kan murid beasiswa mana mungkin dia punya uang."

"Ups, aku lupa kamukan orang miskin yaa? jadi enggak bisa gantiin pakai uang?" sial mereka mengejekku, hey nona-nona cantik. Aku tau kalian orang ber-uang tapi bisakah kalian tidak merendahkan orang sepertiku. Begini-begini aku mempunyai harga diri.

"Uh~ jangan melototiku seperti itu dong, aku takut jadinya~" jangan sok bergaya sok penakut seperti itu nona, andai aku bukan murid beasiswa aku akan mecakar kulit mulusmu itu dengan kukuku. Gadis yang kuketahui bernama Karin itu mendekati aku dan mencengkram mulutku. Sial sakit tau!

"Heh anak baru~ dengar ini baik-baik mulai sekarang, kamu harus jadi pembantu kita berdua. Baik itu jam pelajaran, jam istirahat ataupun jam pulang sekolah mengerti?" aku mencoba melawan Karin tetapi tanganku di pegang erat oleh gadis pirang yang bernama Shion itu.

"Kau berani melawanku? Oke kalau kau berani melawanku." Karin melepaskan cengkramannya pada wajahku, ia juga mengisyaratkan Shion untuk melepaskan pengangan tangannya pada lenganku. Aku mengusap pergelangan lenganku, sial kenapa sakit sekali?

Mereka berdua bersidekap dada di hadapanku, mau bergaya menjadi model nona-nona? Ayolah ini di ruangan UKS bukan ruang pentas untuk model.

"Aku hanya mengingatkan saja, kau itukan murid beasiswa~ jadi jangan pernah membuat masalah, sekali kena masalah, maka yang di pertaruhkan adalah beasiswamu itu. Aku bisa saja membuat sesuatu masalah denganmu secara aku ini—"

"Oke aku mau jadi pembantumu asalkan jangan libatkan aku dalam masalahmu dan ini hanya berlaku saat sekolah saja." Sial, aku jadi harus megikuti kata-katanya. Mau bagaimana lagi? Aku sudah berjanji dengan ibu untuk tidak membuat masalah dan lulus dengan nilai bagus. Uh~ rasanya aku menyesal karena bersekolah di sini.

Karin tersenyum mendengar pengungkapanku, "nah~ anak yang baik. Ya sudah sekarang ayo kita kekelas!"

Mau tak mau aku mengikutinya dari belakang, tabahkanlah hatiku Tuhan! Kenapa kehidupan SMA ku seperti ini?

.

.

.

"Sakura belikan aku takoyaki!"

"Sakura tolong belikan aku tempura yaa!"

"Sakura bersihkan mejaku!"

"Sakura gantikan piketku hari ini!"

"Sakura kerjakan pekerjaan rumahku!'

"Sakura!"

"Sakura!"

"Sakura!"

"Sakura!" Hah? Aku terbangun dari tidurku, sial aku ketiduran di dalam kelas. Hari sudah petang lagi. Aku harus segera pulang. Seharian ini aku merasa lumayan capek, aku terus-terusan di suruh ini itu oleh Karin dan Shion.

Aku membereskan bukuku yang berserakan di meja, aku memasukkannya ke dalam kusangka aku tertidur di kelas hampir kurang lebih satu jam. Semoga saja ayah tak memarahiku karena aku pulang agak malam.

Aku keluar dari kelas dan berjalan menuju keluar gerbang. Ketika aku ingin menutup gerbang, Karin dan Shion berada disana. Eh? Kenapa mereka belum pulang? Apa mereka akan menyuruhku lagi? Hey! Kan perjanjiannya hanya saat jam sekolah. Dan ini sudah di luar jam sekolah.

"Cepat masuk! Kami sudah lama menunggu kamu tau!" Shion meneriakiku dari dalam mobil, apa dia bilang? Suruh masuk? Memangnya aku mau di bawa kemana? Dan dia bilang mereka menungguku? Ada apa?

"Cepat masuk Sakura!" Aku segera tersadar dan segera masuk kedalam mobil di bangku penumpang tepatnya. "Kalian menungguku?" aku bertanya pada mereka berdua, tetapi hanya di jawab dengan gumaman semata. Nona-nona cantik aku membutuhkan jawaban iya atau tidak bukan gumaman tidak jelas seperti itu.

"Untuk apa kalian menungguku?" tanyaku sekali lagi,

"Tentu untuk mengantarkanmu pulang Sakura~" Jawab Shion, ha? Aku tak salah dengarkan? Barusan beberapa jam yang lalu kalian menyuruhku ini itu dengan seenak jidat kalian. Sekarang kalian ingin mengantarku pulang? Kalian kerasukan malaikat mana?

"Eh? Mengantarkanku pulang?" aku melihat Karin dan Shion menganggukkan kepalanya. Aku masih bingung deh.

"Kamu pasti bingung kenapa kita menjadi baikkan?" tanya Karin lalu aku mengangguk cepat, lebih tepatnya mengapa kalian berubah menjadi sangat baik padaku?

"Aku tidak sejahat yang kau kira Sakura, ini hanya sebagai balasan kau bolak-balik dari kelas ke kantin hanya untuk membelikan kami makanan. Yah~ hitung-hitung amal dengan murid beasiswa sepertimu." Ck! Bilang saja kau tak tega padaku, jangan berlagak sok dermawan nona cantik. Hah~ tapi beruntung juga sih, jadi aku tak usah membayar bus untuk pulang.

"Oh ya dimana rumahmu?" tanyanya,

"Rumahku kearah sana," aku menunjuk arah yang berlawanan dari yang kami lewati. Tiba-tiba mobil yang aku tumpangin berhenti mendadak. Sial aku jadi terjungkal kedepan, "Kalian kenapa sih berhenti mendadak seperti it— eh?"

"Kenapa kau tak bilang dari tadi kalau rumahmu berlawanan dengan arah rumah kami?!" Karin dan Shion menatapku horor. Sial, meneguk ludahku sendiripun sulit rasanya, mengapa jadi mencekam ya suasananya?

"Kalian tidak bertanya padaku~"

.

.

.

"Ya sudah sana pergi, hush~ hush~" Karin pergi tanpa melihat ke arahku, sedangkan Shion melambaikan tangannya. Aku hanya menatap mereka sampai mereka dengan mobilnya itu pergi, aku segera masuk ke rumah sederhanaku. Fyuh~ rasanya capek sekali, padahal ini baru hari kedua apalagi hari selanjutnya?

Aku melepas sepatu sekolahku, dan kutaruh dirak sepatu. "Tadaima~"

"Okeri~" Aku melihat ibu tengah memasak di dapur, tumben ibu pulang cepat. "Bu kok tumben pulang cepat?"

Aku sekarang berada disampingnya, harum aroma masakan tercium kehidungku. Aku sedikit mencicipinya dengan sendok yang barusan ku ambil. Enak~

"Memangnya salah kalau ibu pulang cepat? Oh ya Sakura tolong bangunkan ayahmu, sudah mau malam. Dia harus bekerja, dari tadi pagi tidur saja kerjaannya." Aku melengos pergi meninggalkan ibu di dapur dan memanggil ayah yang sedang tertidur di kamarnya.

Aku berjalan menuju kamar ayah, kadang aku rindu sekali dengan ayah dan ibu, mereka selalu seperti ini. Ayah, berangkat malam pulang pagi. Sedangkan ibu, berangkat pagi pulang malam. Kami bertatap muka bahkan mengobrolpun jarang.

"Ayah~ ayo makan malam!"

".." Tak ada jawaban, huft~ ayah mulai lagi deh. Aku membuka pintu kamar orang tuaku. Kulihat ayahku sedang tidur di kasur yang tak begitu empuk itu. Aku tersenyum.

"Ayaah~ jangan pura-pura tertidur deh, nanti ibu marah loh~" Aku lihat ayah sedikit menggeliat, tuhkan benar dugaanku ayah pasti pura-pura. Ayah~ ayah~ aktingmu payah sekali.

"Ayo ayah~ nanti ibu marah~" aku menarik tangan ayah yang masih berpura-pura tertidur itu. Ayolah ayah aku sudah tau kelakuanmu kalau ibu pulang cepat. Ya ayah selalu seperti ini kalau ibu pulang cepat, bermanja-manja dengannya. Dan itu sedikit membuatku kesal karena kalau ayah bermanja-manja pasti ibu akan mengomelinya, dan itu membuatku pusing.

"Ha'i ha'i kau memang selalu tau kalau ayahmu ini sudah bangun Sakura~" ayah duduk ditempat tidur, aku melihatnya, lihatkan sekarang. Ayah sebenarnya sudah mandi dan bersiap untuk bekerja. Lihat saja dia sudah memakai seragam kerjanya.

"Ya sudah ayo~ aku sudah lapar, masakan ibu terlalu menggoda perutku."

"Ya iya~ tapi kenapa kau baru pulang Saku?"

"Oh emm— tadi ada pelajaran tambahan yah jadi Saku pulang telat."

"Oh," Maaf ya yah~ aku berbohong. Habis kalau aku tak berbohong pasti ayah akan terus bertanya dan bertanya, dan lama kelamaan aku tak akan makan malam. Aku menggandeng ayah ke ruang makan. Sial perutku sudah keroncongan.

"Ayo makan, ibu sudah siapkan semuanya."

"Haa'i!" ujar aku dan ayah bersamaan. Aku dan ayah duduk di kursi sedangkan ibu masih harus mempersiapkan nasi kami berdua. Hah~ rasanya aku tak mau melewatkan jam makan malam kalau seperti ini terus. Biasanya akulah yang berada diposisi ibu.

Kalau makan malam aku hanya berdua dengan ayah, makan pagi hanya berdua dengan ibu. Jadi bisa di bilang jatah waktu berkumpul bersama sangat jarang.

"Sakura setelah kamu mandi, antarkan ibu keluar yaa~"

"Eh? Memangnya ibu mau kemana?"

"Ibu mau belanja bulanan. Belanjaan kita sudah habis~"

"Oh oke!" aku menghabiskan makananku dan segera berlari menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi aku mendengar suara motor ayah yang hendak berangkat. Hah~ hati-hati di jalan ya ayah~

.

.

.

"Sakura biar belanja kita cepat. Ibu kebagian sayuran, kamu kebagian sabun yaa~"

"Oke bu!" sekarang aku dan ibu tengah berada di salah satu supermarket. Aku berjalan menuju bagian sabun. Aku mendorong kereta dorongku, berkeliling mencari apa saja yang dibutuhkan. Sabun mandi, pengharum ruangan, pasta gigi, sikat gigi, pembersih lantai lalu apa lagi yaa?

Ah! Aku lupa sabun cuci!

Aku mendorong kereta belanjaanku, ah! Ternyata tempat sabun cucinya disana. Aku segera menuju tempat sabun cuci. Itu dia! Aku mengambil satu sabun cuci itu dan segera menuju kasir, tetapi setelah memastikan semua barang yang dibutuhkan sudah ada di kereta belanjaku.

"Ibu!"

"Oh, Sakura sudah beli barang yang di perlukan?"

"Sudah bu ini," aku menunjukkan kereta dorongku. Dan kulihat ibu mengangguk, "Ibu juga sudah selesai. Ayo kita kekasir."

"Yosh!"

.

.

.

"Semuanya jadi ¥9000." Aku melihat tukang kasir itu memberi belanjaan pada ibu. Ibu segera mengambil uang yang berada di dompetnya. Aku melihat sekeliling, banyak juga ya yang belanja malam-malam begini. Aku mengeratkan jaket yang kupakai di tubuh kecilku.

"Tidak bisa bu, anda harus membayar lunas." Aku melihat ibuku, nah itu ibu kenapa?

"Tapi—"

"Ada apa bu?"

"Sakura ibu cuma bawa 8000, kita kekurangan 1000. Kau bawa uang tidak?" Aku menggelengkan kepala, huft~ tau begini aku akan bawa uang cadanganku tadi.

"Ya sudah bu, ibu disini saja dulu. Aku akan pulang dan mengambil uang oke?'

"Memangnya diperbolehkan?"

"Boleh kok bu, asalkan jangan terlalu lama." Ujar mbak-mbak kasir itu Aku tersenyum pada ibu, aku mengelus-ngelus pundaknya. Namun ketika aku hendak pergi—

"Semuanya jadi 1000 tuan."

"Sisanya untuk mereka—" Pemuda berjaket hitam itu segera pergi dari supermarket itu. Ya dia membayarkan belanjaan ibuku. Ibuku berteriak berterima kasih pada pemuda itu, dan pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh dan segera pergi dengan mobilnya.

Jarang sekali orang baik seperti dia.

"Ayo Sakura kita pulang," ajak Ibuku, aku mengangguk dan ditengah perjalanan aku bertanya pada ibuku.

"Ibu kenal dengan pemuda tadi?"

"Tidak,"

"Lalu kenapa ibu menerima bantuannya?"

"Yaah~ mau bagaimana lagi, bantuan tidak boleh ditolak Sakura."

"Tapi bagaimana ibu mengembalikan uang miliknya, jika ibu saja tak tahu siapa pemuda itu?"

"Oh ya! Ibu lupa menanyakan namanya!"

"Tuhkan, bagaimana kalau itu uang hasil rampokan? Atau hasil curian?"

"Perampokan dengan pencurian sama saja Sakura~"

"Ya pokoknya gitu deh~ tapi bagaimana buu?"

"Ya sudahlah tak usah dipikirkan, nanti kalau kita bertemu lagi atau ibu bertemu dengannya ibu akan mengembalikan uangnya."

"Memang ibu ingat dengan wajah pemuda itu?"

"Tidak,"

"Lalu?"

"Yahh~ ibu memang tidak ingat dengan wajahnya tetapi ibu liat jaket yang ia pakai. Dibelakangnya ada tulisan U.S tidak terlalu besar sih, tapi ibu masih bisa melihatnya dengan jelas."

"US? United Stateskah?"

"Hush~ itu nama negara Sakura! Sepertinya sih kalau ibu tebak itu singkatan namana pemuda itu~"

"Heleh~ ibu sok jadi peramal ni~"

"Biarin,"

.

.

.

To be Continue

A/N

Fuwaahhh~ akhirnya selesaiii~

Tadinya mau publish yang just you know sihh tapi belum selesai ^^ Saatnya bales review! Yang login cek PM yaa!

Sasshiko : Ikut OSN yaa? Pernah sih dulu waktu aku SMP, dan itu OSN Biologi -_- padahal aku paling anti sama hafal-hafalan tapi sama guru aku suruh biologi. Iya ini Dilema chapter 2 update! ^^

cherryl : Yaa Dilema chapter 2 update ^^

Mind to Review?

Uchiha Dita Fullbuster