Hai Minna…!

Sebelum masuk cerita ni, Ryu mau bilang makasih banyak buat :

Inoue Tsukatsa, .1, FaffaHany, kirei-neko, Deshe Lusi, Moyahime, Matsushinna, Guest, Zian, Ayzhar, sulli8989, kimayuki, seta citara, dan lightning chrome.

Guest : Makasih ya buat reviewnya. Hinata belum punya pacar, maaf mengecewakan. Tapi sebenernya sih udah kepikiran peran buat Sasuke di fic ini, ya walaupun dikit tapi dia berpengaruh besar buat ngudak-aduk hati Gaara ntarnya. Ni udah update, cepet kan? Ehm soal sequel Sometimes, maaf ya Ryu mang agak keras kepala, jadi ga bikin sequelnya n tapi Ryu juga udah puas ama endingnya. Tapi Ryu seneng sih, berarti fic Sometimes diterima dan disenangi.

Zian : Ryu juga suka ama tema pernikahan *tos ya* makasih udah nunggu kelanjutannya. Ni udah lanjut. Makasih buat reviewnya.

Ayzhar : Yap Ryu mang sengaja buat Mamah Karura kelihatan kejam sih. Makasih udah review.

sulli8989 : Yap kasian Hinata, soalnya dia bakal bingung n repot karena semua ini. Karena Gaara anak bungsu, pasti setiap orangtua selalu gatel pengen manjain anak bungsunya itu. Buat seterusnya, ini chapter 2 udah lanjut. Makasih reviewnya.

Kimayuki : Ehm ada bagian yang mirip fic ini sama fic itu. Tapi tenang, ini ceritanya beda ko. Makasih ya buat review dan semangatnya.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC Maybe, Typo Maybe, Irrasional Maybe

.

.

.

UNEXPECTED LIES

Chapter 2

Envy

~Semoga Suka dan Selamat Membaca~

.

.

.

Bagi pasangan pengantin lain, ini adalah malam pertama bagi mereka tapi tidak untuk Hinata dan Gaara. Bukannya Hinata mengharapkan malam pertamanya ataupun kecewa akan tidak terlaksananya malam pertamanya dengan Gaara tapi ini memang aneh dan tidak normal.

Memang Hinata pernah menonton drama Korea yang pasangan pengantinnya tidak tidur dalam satu kamar dan tidak melaksanakan malam pertamanya sampai saat itu tiba karena mereka masih sangat muda.

Tapi berbeda dengan Hinata dan Gaara yang usianya sudah cukup dan orangtua Gaara tidak akan menyediakan kesempatan bagi Hinata maupun Gaara unuk melakukan malam pertama mereka.

Hanya situasinya yang mungkin sama dengan drama itu, Hinata yang tidur terpisah dengan Gaara. Kamar yang diperuntukkan untuk Hinata berada di lantai dua rumah ini.

Kasur yang berukuran sedang tapi sudah membuat Hinata cukup merasa senang dan menurut Hinata kamar untuknya begitu nyaman.

Kamar Hinata berada di paling ujung, sebelah kamar Hinata ada kamar Temari, kemudian di samping kamar Temari ada kamar Kankuro. Kamar Gaara setelah kedua Kakaknya itu. Yang berarti, kamar Hinata dan Gaara terhalang dua kamar, cukup jauh.

Pagi hari pertama mereka sebagai suami istri, bukan dilalui seperti pasangan suami istri pada umumnya, yang pada saat bangun dan membuka matanya maka akan menatap seseorang yang tidur di sampingnya di tempat tidur yang sama atau yang mencari-cari sosok pasangan tidurnya di sebelahnya.

Hidup Gaara dan Hinata seperti pasangan yang belum menikah saja dan Hinata seperti tidak melepas marga Hyuuga yang disandangnya dan digantikan dengan marga Sabaku. Hanya bedanya rumah Sabaku bertambah satu penghuni lagi yaitu Hinata. Oh, dikurangi Sabaku Kayato untuk saat ini yang berada di luar negeri.

Pagi hari di rumah ini, sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh pelayan di rumah ini hanya roti tawar dan selai juga susu sebagai minumannya. Hinata yang biasanya menyiapkan sarapan sendiri di rumahnya saat ini tidak melakukan itu di rumah ini karena sudah ditangani oleh pelayan.

Hinata seperti orang asing di sini, di antara semua anggota keluarga Sabaku yang sedang menikmati sarapannya di meja makan. Sarapan dalam diam, Hinata duduk di samping Temari karena dipersilakan oleh Karura untuk duduk di situ.

Gaara duduk berhadapan dengan Hinata dan Kankuro duduk di samping Gaara. Rei duduk di kursi yang berhadapan dengan istrinya. Kursi utama yang biasanya ditempati Kayato dibiarkan kosong. Sepertinya mereka lebih nyaman dengan posisi masing-masing. Posisi seperti ini seperti yang sedang melakukan kontak jodoh, padahal mereka adalah keluarga.

Hinata merasa canggung dalam situasi seperti ini, tapi mungkin akan menjadi kebiasaan untuk 3 bulan ke depan. Hinata mengambil selai dengan pisau paling belakangan, walaupun tersedia banyak botol selai dengan rasa yang berbeda yaitu kacang, nanas, coklat dan strawberry. Hinata menyadari posisinya di sini.

Hinata mencoba melirik Gaara tapi kemudian mengalihkan pandangannya lagi, Hinata merasa seram sendiri dengan mata Gaara yang ada lingkaran hitamnya. Terlihat sekali, Gaara adalah pekerja keras dan itu membuat Hinata berpikir kalau Gaara memang tidak main-main untuk meraih impiannya menjadi direktur utama.

Berangkat kerja pun seperti biasa, Hinata bahkan tidak ditawari untuk pergi bersama dengan Gaara dengan mobilnya. Tempat kerja mereka, arahnya tidak berlawanan. Hanya saja Gaara maupun Hinata ingat kalau mereka berdua dilarang dekat-dekat oleh Karura, agar rencana ini berjalan lancar.

Hinata naik bus ke tempat kerjanya seperti biasanya, yah dengan begini benar-benar seperti tidak menikah, hanya pindah ke rumah yang baru saja.

.

.

.

.

Hinata memasuki dapur rumah Sabaku, ini tengah malam. Tapi Hinata memang terbangun dan lapar. Makanya sekarang dia menyalakan lampu dapur dan membuka lemari es untuk mengambil sepotong kue lemon pemberian teman kantornya yang sedang berulang tahun.

Hinata sengaja menitipkannya di lemari es karena memang ingin memakannya nanti saja. Ya saat ini mungkin waktunya.

"Ehm!" Hinata terkejut karena mendengar suara deheman seseorang. Hinata membalikkan badannya setelah melihat kue lemon yang baru saja akan dia ambil. Tapi belum jadi karena suara deheman itu.

Hinata terkejut melihat seseorang di dapur ini dengan jarak kurang dari satu meter darinya. Orang itu berambut merah dan memakai kaos hitam berlengan pendek dan celana cream santainya. Itu Gaara.

"Kau ingin mencuri makanan?" ucap Gaara kepada Hinata. Sungguh itu perkataan yang sangat menusuk dan menyakitkan.

Hinata segera menjawabnya "Ti-tidak, aku hanya ingin me-mengambil kue lemon yang kutitipkan di sini." Hinata tentu tidak mau disebut pencuri, lagipula kenapa orang ini pelit sekali pikir Hinata?

"Oh" hanya itu respon Gaara.

Gaara berjalan menuju dispenser dan mengambil gelas kemudian menekan tombol dispender berwarna biru untuk menuang air putih yang tidak panas ke gelasnya. Setelah itu Gaara meminum air itu.

Hinata melihat Gaara meminum airnya. Gaara menyimpan gelas yang isinya telah diminum habis oleh Gaara. Gaara menghampiri Hinata.

"Katanya kau ingin mengambi kue." ucap Gaara kepada Hinata. Hinata terkejut, tentu saja karena kenapa dia jadi terpaku seperti itu. Mungkin karena masih sedikit canggung setelah dikatakan pencuri tadi.

"Ah i-iya." Hinata buru-buru membuka lemari es dan mengambil sepotong kue lemonnya.

Gaara memerhatikan tangan Hinata yang sedang memegang piring kue. Hinata yang ditatap seperti itu, walaupun hanya tangannya yang ditatap, Hinata merasa tidak nyaman.

"Lepaskan itu!" perintah Gaara.

Tentu Hinata tidak mengerti maksud Gaara, melepaskan apa? Kuenya?

Gaara mempertegas maksudnya "Cincin itu." Hinata melihat cincin pernikahannya dengan Gaara yang meilngkar di jari manisnya.

"Cincin?" ucap Hinata.

"Ya" ucap Gaara. Gaara berpikir apa Hinata tidak mendengarnya?

Hinata melihat tangan Gaara, tidak ada cincin lagi di sana. Yang berarti Gaara sudah melepaskan cincinnya. "Cincin itu harus dilepas, orang akan curiga."

Hinata menggigit bibir bawahnya, di satu sisi benar yang diucapkan Gaara. Ya lengkap sudah hal yang menandai pernikahan menjadi bukan pernikahan.

Hinata berjalan ke meja dapur dan meletakkan kuenya. Kemudian perlahan Hinata melepas cincin indah tersebut.

Setelah melihat itu, Gaara pergi meninggalkan Hinata. Padahal kalau seorang perempuan memakai cincin, itu wajar, baik dia sudah menikah atau belum. Hanya saja cincin itu mungkin sangat terlihat seperti cincin pernikahan dan memang benar kalau itu adalah cincin pernikahan.

.

.

.

.

Hinata tahu semua orang di rumah Sabaku sedang pergi, kecuali pelayan. Sabaku Rei, Karura, Kankuro dan Temari sedang pergi ke Sora no Kuni untuk menghadiri pesta pernikahan anaknya Yashamaru-saudara kembar Karura.

Sora no Kuni begitu jauh dari Suna, makanya mereka semua berangkat pagi-pagi dan sampai malam ini belum pulang. Kemungkinan mereka pulang besok pagi.

Hinata tentu tidak diajak, sedangkan Gaara lembur dan mungkin akan tidur di kantor karena akan meluncurkan produk baru dan jabatannya yang sebagai direktur pemasaran jadi membuatnya sibuk.

Gaara menolak untuk pergi ke acara pernikahan sepupunya itu, bukan hanya karena sibuk tapi juga karena malas pergi ke sana karena pasti nanti akan ada banyak gadis yang tiba-tiba menjadi fansgirlnya.

Hinata tadi makan malam di dapur, dia tidak enak menggunakan meja makan keluarga itu kalau tidak ada pemiliknya.

Akhir-akhir ini Hinata sering terbangun saat tengah malam karena lapar. Maka dari itu sekarang Hinata turun dari tangga untuk menuju dapur.

Hinata mendengar bunyi bel rumah. Apa mereka sudah pulang? Pikir Hinata.

Hinata tentu tidak mau repot-repot memanggil pembantu untuk membuka pintu itu. Untung kunci pintu tergantung di lubang kunci pintu itu dan Hinata membuka kunci, kemudian membuka pintu berwarna putih itu.

"Ga-Gaara-kun?"

Hinata tentu terkejut karena orang yang di depannya itu adalah Gaara, suaminya. Bukankah yang Hinata tahu kalau malam ini Gaara akan lembur dan akan menginap di kantornya, kenapa sudah pulang?

Hinata menyadari ada yang berbeda dengan Gaara, wajah Gaara yang putih terlihat pucat dan dahinya juga berkeringat.

Hinata memberikan jalan untuk Gaara masuk dan Hinata menutup pintu itu lalu menguncinya. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Gaara.

"Gaara-kun" pekik Hinata saat melihat Gaara hampir terjatuh.

Hinata segera berlari dan memegang tangan Gaara agar Gaara tidak jadi jatuh. Panas, tangan Gaara begitu panas. Gaara demam. sekarang Hinata tahu alasan kenapa Gaara pulang cepat, karena Gaara sakit.

Hinata tahu setelah tiga bulan, pernikahannya dengan Gaara akan seperti angin lalu. Tapi Hinata juga manusia yang punya hati nurani, yang ingin membantu sesama. Hinata tidak tega melihat Gaara yang seperti ini.

Maka dari itu Hinata mencoba memapah Gaara ke kamarnya walaupun pada awalnya Gaara berkata "Aku bisa sendiri" tapi Hinata juga bersikeras ingin membantu Gaara.

Kondisi fisik Gaara yang saat ini lemah membuatnya kalah dari keras kepala Hinata untuk membantunya.

Hinata membawa Gaara ke kamar Gaara dan membaringkannya di tempat tidur. Tubuh Gaara berat, apalagi tinggi Hinata hanya sebatas pertengahan leher Gaara saja. Tapi Hinata tetap mampu membawa Gaara sampai ke tempat tidurnya.

Hinata melepas sepatu Gaara, jas dan dasi Gaara yang sudah longgar. Kemudian menyelimuti Gaara. Malam-malam begini pasti sangat mengganggu kalau menghubungi dokter dan memanggilnya kemari. Juga Hinata tidak mau mengganggu pelayan yang sudah tidur.

Maka dari itu Hinata melakukan tindakan sebisanya, dengan mengambil air es untuk mengompres kening Gaara dan juga mencari-cari obat di kotak obat miliknya.

Hinata mengompres Gaara dengan air es dan sebelum itu Hinata memberikan obat kepada Gaara dan Gaara meminumnya.

Gaara tidak menolak kebaikan Hinata, Gaara terlelap dengan Hinata yang mengompres keningnya sampai panasnya reda.

Hinata meninggalkan Gaara pada pukul 4 pagi saat panas Gaara sudah mereda.

.

.

.

.

Gaara membuka matanya dan merasakan seseorang mengusap keningnya. Gaara masih samar-samar melihat orang yang sedang mengusap keningnya dan sekarang sedang mengelus rambutnya.

Apa itu Hinata? Pikir Gaara, karena walaupun Gaara saat itu kondisinya lemah tapi Gaara ingat kalau Hinata yang merawatnya semalam.

"Kaa-san" Gaara sudah jelas melihat siapa yang sedang berada di depannya.

Keluarga Sabaku pulang pukul 6 pagi dan Karura melihat mobil Gaara yang terparkir di depan rumah. Berarti Gaara sudah pulang.

Karura membuka pintu kamar Gaara dan benar Gaara sedang tidur di kamarnya. Untung Hinata sudah mengambil baskom dan handuk yang mengompres kening Gaara sebelum dia meninggalkan Gaara dini hari tadi.

"Kau terlihat pucat, kau sakit?" tanya Karura pada Gaara.

"Hanya sedikit tidak enak badan, nanti siang aku pergi lagi ke kantor." ucap Gaara.

"Tidak, kau istirahat saja! Besok baru pergi."

Gaara merasa lebih baik setelah meminum obat dari Hinata dan dikompres oleh Hinata. "Hm" Tapi Gaara tidak mau mendengar omelan Ibunya di saat seperti ini.

.

.

.

.

"Kau manis sekali, Matsuri." ucap laki-laki itu pada gadis di depannya.

Matsuri tersenyum dan pria itu menatap intens Matsuri, memegang tangannya kemudian memiringkan kepalanya dan Matsuri menutup matanya saat bibir pria itu semakin dekat kepadanya.

Bibir mereka saling menempel, pria itu memberikan kecupan dan melumat bibir gadis berambut coklat itu dan begitu pula dibalas oleh Matsuri.

Gaara keluar dari rumahnya dan melihat pemandangan itu. Pemandangan di depannya saat ini menurut Gaara adalah hal yang menjijikkan. Pemandangan Kankuro sedang berciuman dengan Matsuri pagi-pagi begini di depan rumah Sabaku.

Matsuri pagi-pagi sengaja datang ke rumah Sabaku untuk berpamitan dengan Kankuro karena dia akan pergi ke Paris untuk fashion shownya selama seminggu, Matsuri kan seorang model.

Tanpa memedulikan mereka, Gaara segera memasuki Nissan Extreme Crossovernya. Gaara baru saja akan melajukan mobilnya saat tiba-tiba ada ketukan di jendelanya.

Gaara membuka kaca mobilnya dan terlihat Kankuro "Aku malas membawa mobil hari ini. Aku ikut denganmu ya?" dan Gaara menjawab dengan "Hm" saja. Tadi Matsuri sudah pergi karena takut ketinggalan pesawat.

Kankuro masuk ke dalam mobil Gaara dan memakai sabuk pengamann "Apa kau tidak malu melakukan itu di tempat terbuka?" ucap Gaara dingin.

"Melakukan apa?" kadang Kankuro tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Gaara.

"Dengan Matsuri pagi-pagi begini." Gaara sebenarnya malas melanjutkan kata-katanya.

"Kau iri padaku ya?" ucap Kankuro pada Gaara.

Gaara tidak mengerti kenapa Kakaknya itu mengatakan hal itu. Apa Kankuro berpikir kalau Gaara menyukai Matsuri. Tidak, Gaara tidak menyukai Matsuri. Hanya menurutnya adegan yang dilihatnya barusan itu menjijikkan. Mereka berciuman di tempat terbuka walau bukan tempat umum.

"Apa maksudmu?" tanya Gaara.

"Bukankah ini lucu? Memiliki tapi tidak bisa kausentuh." ucap Kankuro.

Ah sekarang Gaara mengerti maksud Kakaknya itu, jadi yang dimaksudnya adalah tentang dirinya dengan Hinata.

Gaara hanya diam saat Kankuro tersenyum mengejeknya "Setahuku di usia 24 tahun itu di saat laki-laki sulit mengendalikan nafsunya, tapi kau…" Kankuro melirik adiknya dan melanjutkan kalimatnya "kukira kau benar-benar homo." Kankuro tertawa terbahak-bahak.

Gaara kesal setengah mati mendengar itu, Gaara menancap gas dan melajukan mobilnya dengan cepat.

"Kau sudah gila, Gaara!" ucap Kankuro.

Siapa suruh memancing kekesalan adiknya itu?

.

.

.

.

Ini sudah pukul setengah 6 sore, seperti biasa Hinata sedang berdiri di halte bus untuk pulang setelah bekerja.

Gaara melajukan Nissan Extreme Crossovernya, hari ini Gaara pulang tepat waktu. Tidak lembur, karena dia harus menghadiri pesta pembukaan sebuah hotel, Gaara berinvestasi untuk hotel tersebut.

Gaara menangkap siluet seorang gadis berambut indigo dan bermata lavender di halte bus, itu istrinya Hinata.

Gaara tadinya akan melewati saja Hinata, tapi Gaara memikirkan sesuatu sehingga membuat mobilnya berhenti tepat di depan Hinata.

Gaara keluar dari mobil dan membuat Hinata terkejut dengan kehadirannya.

"Ga-Gaara-kun!"

"Bisa minta bantuanmu?" ucap Gaara pada Hinata.

"Ba-bantuan?" apa yang bisa Hinata bantu untuknya?

.

.

.

.

Hinata tidak tahu kenapa dia mau membantu Gaara. Entah karena tatapan mata Gaara yang teduh dan terlihat tulus di balik wajah datar dan seramnya atau karena ucapan Gaara yang terdengar seperti perintah walau dibubuhi dengan kata "bisa" yang berarti dia meminta izin dahulu.

Hinata begitu canggung, dia merasa sangat berbeda dengan penampilannya saat ini. Memakai gaun berwarna merah selutut dan ada tali yang melingkar di kedua bahu Hinata, seperti tanktop. Memakai high heels berwarna merah juga. Semuanya berwarna merah sampai tasnya pun berwana merah, itu warna kesukaan Gaara. Rambut Hinata diurai.

Sebelumnya Hinata sudah ke salon tanpa pulang dahulu. Gaara pun membeli pakaian untuk Gaara pakai ke pesta dan tidak perlu repot-repot pulang. Saat Gaara melihat penampilan Hinata dengan gaun merah itu, Gaara berpikir Hinata cantik.

Hinata memegang siku Gaara, lebih tepatnya menggandengnya. Mereka layaknya pasangan, tapi mereka memang pasangan.

Gaara meminta bantuan Hinata untuk menjadi pasangannya untuk hadir di pesta pembukaan Maimura Hotel, tempat Gaara berinvestasi.

Gaara berkata kalau dirinya selama ini hadir ke pesta selalu sendiri, orang akan menganggapnya homo. Gaara tidak akan mengatakan Hinata sebagai istrinya kepada semua orang yang hadir. Hanya mengatakan kalau Hinata itu pasangan pestanya.

Gaara membuktikan perkataannya itu di pesta ini, semua orang menyapa Gaara dan pemilik hotel sangat berterima kasih kepada Gaara karena telah menjadi salah satu investor hotelnya.

"Tuan Sabaku, kami menyediakan kamar VIP untuk para investor menginap malam ini gratis sebagai bentuk terima kasih kami." ucap pemilik hotel itu.

"Tidak usah, terima kasih." Gaara menolaknya.

"Tuan, ayolah! Tidak usah malu. Saya tahu Anda pasti ingin menghabiskan malam dengan Nona ini."

Hinata terkejut mendengar pemilik hotel mengatakan hal seperti itu walau dengan nada pelan.

Gaara rasanya ingin menonjok wajah pemilik hotel dan juga menarik investasinya itu karena mengatakan hal seperti itu. Selain itu seperti menghina dirinya tapi juga menghina Hinata. Tapi mungkin memang pemilik hotel punya niat baik bukan menghina.

Tapi Gaara tahu, kalau Gaara melakukan itu Gaara akan merusak imagenya sendiri dan hal tersebut akan membuat masalah apalagi melibatkan Hinata.

"Tenang saja Tuan, saya tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapa pun. Atau menurut Tuan, hotel kami ini tidak bagus dan tidak nyaman." ucap pemilik hotel.

"Baiklah, jangan beritahu terutama keluargaku!" ucap Gaara sedangkan Hinata terkejut Gaara menyetujui untuk menginap di salah satu kamar hotel.

"Tentu Tuan, kami jamin itu."

.

.

.

.

Sekarang Hinata dan Gaara sedang duduk di sofa kamar hotel, dari jendela kamar hotel itu dapat terlihat keindahan kota Suna di malam hari.

Mereka berdua terlihat canggung, Hinata tidak membayangkan bisa berada dalam situasi seperti ini. Hinata berpikir kalau selama 3 bulan ini, dia tidak akan pernah tidur satu kamar dengan Gaara. Gaara diam, Hinata juga diam untuk saat ini.

"A-aku tidur di sofa saja. Kau di ranjang saja!" Hinata mengusulkan.

"Jangan sok baik!" ucap Gaara.

Hinata tersentak karena Gaara mengatakan itu kepadanya. Hinata bukan bermaksud seperti itu, hanya saja Hinata berpikir mungkin Gaara tidak akan nyaman tidur di sofa, lagipula pekerjaan Gaara yang membuatnya harus berlama-lama duduk akan tidak nyaman tidur di tempat seperti sofa. Walaupun mungkin Gaara sudah terbiasa tidur di sofa kantor saat menginap di kantor.

"Di sini tidak ada Kaa-san." ucap Gaara. "Menurutku tidak masalah kalau tidur satu ranjang, kita sama-sama bekerja dan itu rasanya melelahkan."

Hinata tahu maksudnya, mereka sama-sama membutuhkan ranjang untuk tidur.

Hinata menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang. Ternyata mereka sudah melanggar ucapan Karura untuk tidak tidur satu kamar, dan itu karena situasi juga karena Gaara yang membiarkan situasi ini terjadi.

Gaara dan Hinata berbaring di tempat tidur yang sama. Selimutnya berwarna merah. Untuk pertama kalinya Hinata seperti ini bersama seorang laki-laki. Kakaknya Neji yang brother complex itu membuatnya belum pernah mempunyai pacar sebelumnya.

"Arigatou." ucap Gaara lirih tapi Hinata dapat mendengarnya. Hinata tidak mengerti untuk apa Gaara mengucapkan terima kasih, apa untuk bantuannya malam ini?

"Untuk bantuanmu malam ini dan saat aku demam." Gaara tulus mengatakannya.

"Sama-sama" ucap Hinata sambil tersenyum. Hinata kira Gaara sudah lupa dengan kejadian waktu itu, ternyata tidak.

.

.

.

.

Untuk pertama kalinya, Hinata mengalami hal seperti pasangan pengantin lainnya.

Hinata bangun tidur dan melihat pasangannya-suaminya, di sampingnya saat membuka matanya. Tapi jarak mereka begitu dekat. Wajah mereka sangat dekat. Hinata terkejut dan menjauhkan wajahnya.

Mereka memang tidak melakukan malam pertama mereka, tapi setidaknya semuanya seperti deskripsi anak SMP serba pertama kali kalau diputar ulang dari Gaara sakit.

Untuk pertama kalinya Hinata masuk ke kamar Gaara, untuk pertama kalinya Hinata naik mobil berdua dengan Gaara dan untuk pertama kalinya Hinata tidur satu ranjang dengan Gaara.

Gaara membuka matanya dan melihat Hinata yang sedang duduk. "Bersiaplah, ayo kita pulang!"

Hinata tahu, Hinata ingin naik bus saja dan tidak pulang bersama Gaara. Karena akan menjadi masalah nantinya apabila diketahui oleh keluarga Sabaku.

Tapi Gaara bersikeras untuk pulang bersama Hinata. Hinata jadi pulang bersama Gaara dan apa yang ditakutkan Hinata terjadi.

Keluarga Sabaku yang baru akan duduk di meja makan untuk sarapan melihat Gaara dan Hinata berjalan bersama dengan pakaian kantor mereka yang kemarin. Tentu mereka tidak memakai pakaian mereka yang semalam.

Gaara dan Hinata masuk ke dalam rumah, Hinata menunduk sedangkan Gaara dengan santainya berjalan seolah tidak terjadi apapun.

Karura segera menghampiri Gaara dan Hinata. "Hinata, apa yang terjadi? Kenapa kalian pulang bersama?"

Karura tentu bertanya, karena Gaara tidak bisa dihubungi semalam. Karura tidak menghubungi Hinata.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

A/N : Mumpung Ryu masih libur jadi bisa cepet update dan pikirannya belum bercabang ke kuliah.

Di chapter pertama kemarin, Ryu lupa banget ngucapin minal aidin walfa idzin, mohon maaf lahir dan batin ya Minna. Ryu tahu telat banget sih, tapi mumpung masih bulan Syawal dan masih bulan Agustus, Ryu anggap ga telat-telat banget.

Mobil Gaara sama dengan merek mobil Gaara yang di fic Smile Soul, Ryu suka mobil itu dan males nyari merek mobil lain tapi sekalian promosi fic, hehe…

Gimana dengan chapter ini? semoga suka ya

Review ya Minna…..

Terima kasih banyak