Melodi Kematian
By : Ishikawa Ayica
Naruto milik Masashi Kishimoto
Pair : SasuSaku, NaruHina, NejiTen, ShikaTema, SaIno, GaaMatsu
Rated : T
Genre : Horror/Mysteri/Romance/friendship
Warning : Jika anda tidak menyukainya harap jangan melanjutkan membaca, Jika anda terlanjur membaca dan masih tak suka harap tetap diam seolah-olah anda tidak pernah membacanya.
Warning, Again : AU, OOC, Abal, jelek, dan sejenisnya.
Fict persembahan untuk Alifa Cherry Blossom dan seluruh pembaca dan Reviewers yang berkenan mampir dan membaca fict ini.
Spesial Thanks ku persembahkan untuk para pembaca dan para Reviewers sekalian yang telah mampir dan menanggapi fict ini. Terima kasih.
Pagi telah kembali menemani bumi. Uchiha Sasuke mengumpulkan kesadarannya dari bangun tidurnya, ketika ia membuka mata yang ia lihat bukan kamar pribadinya melainkan ruang kelas yang ramai dan tatapan malas dari para sahabatnya.
"Ohayou, Sasuke." Kata Naruto menatap Sasuke malas.
"Kau jadi sering tidur di kelas akhir-akhir ini." Kata Neji heran menatap Sasuke. Sasuke memang sudah sering tidur di kelas meskipun baru akhir-akhir ini dan itu membuat para sahabatnya bertanya-tanya adakah yang Sasuke lakukan di malam hari? Sehingga harus menambah waktu tidurnya di kelas. Beruntung akhir-akhir ini para staf dewan guru sedang melakukan rapat yang entah untuk apa, sehingga mereka lebih sering memiliki jam kosong.
"Kenapa aku disini?" tanya Sasuke bingung.
"Untuk sekolah." Jawab Naruto malas.
"Bukan itu maksudku bodoh! Setauku aku sedang tertidur di dalam kamarku." Kata Sasuke bingung menatap teman-temannya.
"Kau kebanyakan tidur Sasuke." Kata Gaara acuh kemudian pergi meninggalkan kelas.
"Tak ku sangka virus Shikamaru menular." Kata Sai yang datang tiba-tiba entah darimana. Sasuke masih di landa kebingungan, apakah ia sedang bermimipi? Tapi hal itu terlalu nyata baginya. Bahkan jelas terasa ketika Sasuke di guyur hujan dan memeluk gadis itu.
Sasuke memperhatikan sekelilingnya, kemudian Sasuke melihat gadis itu lewat di depan kelasnya bersama beberapa orang, mungkin sahabatnya.
"Hey." Panggil Sasuke mengejar gadis itu. Gadis itu menoleh sambil tersenyum pada Sasuke.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu sahabatnya pada Sasuke.
"Kau lupa memberitauku namamu, kemarin." Kata Sasuke menatap gadis itu berharap.
"Kau kenal dengannya?" tanya sahabat si gadis yang lain. Sasuke menatap si gadis yang terdiam kemudian tersenyum sambil menggeleng.
"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya si gadis canggung pada Sasuke.
"Kita bertemu dua kali, kau tak ingat? Aku Uchiha Sasuke." Kata Sasuke semakin bingung dan menatap Sakura dengan tatapan tak mengerti.
"Aku Haruno Sakura, maaf aku tak ingat pernah bertemu denganmu sebelumnya." Kata Sakura merasa bersalah.
"Hey, hey, jangan-jangan ini trik terbaru menggaet wanita." Kata sahabat Sakura sambil terkikik.
"Ino, kau tak sopan." Tegur Sakura pada Ino yang segera menghentikan tawanya.
"Ano, sepertinya kau yang ada di foto kemenangan tim basket tahun lalu bersama Gaara-kun, apa kalian saling kenal?" tanya salah seorang sahabat Sakura di samping Ino.
"Matsuri." Panggil seseorang dari belakang Sasuke.
"Gaara-kun, baru saja di bicarakan." Kata Matsuri berlari dan menggandeng tangan Gaara.
"Hn? Kau membicarakanku?" tanya Gaara innocent menatap Matsuri.
"Hmm.. hanya bertanya pada Uchiha-san apa mungkin kalian saling kenal?" tanya Matsuri tersenyum pada Gaara.
"Aa, kami sahabat. Aku, Sasuke, Shikamaru, Sai, Naruto dan Neji." Kata Gaara mengacak sayang rambut Matsuri.
"Akh, benar juga, kalau ttak salah ingat Sai pernah mengatakannya padaku." Kata Ino menepuk tangannya mengingat tentang percakapan Sai dan dirinya.
"Kebetulan yang aneh, pacar-pacar mereka adalah sahabat kami." Kata Matsuri lagi pada Gaara.
"Lalu apa yang kau lakukan di sini, Sasuke?" tanya Gaara menatap Sasuke yang sedari tadi tak berkedip menatap Sakura. Wajahnya memang datar, namun dari matanya Gaara dapat mengetahui Sasuke sedang bingung.
"Kau pacar Matsuri? Salam kenal, aku Haruno Sakura." Kata Sakura membungkuk pada Gaara.
"Aa, Matsuri banyak cerita tentangmu." Kata Gaara tersenyum tipis.
"Hoy Sasuke!" panggil Gaara lagi pada Sasuke yang masih tak menggubrisnya.
"Kau yakin tak mengingatku?" tanya Sasuke pada Sakura dan mengabaikan Gaara.
Gaara menatap Sasuke kesal, sementara Ino dan Matsuri terkikik geli.
"Maaf, Uchiha-san. " Kata Sakura tersenyum tak enak pada Sasuke.
"C'mon girls.. Hinata dan yang lainnya sudah terlalu lama menunggu. Kami permisi dulu." Kata Ino membungkuk kemudian pamit bersama Sakura dan Matsuri. Sakura menatap Sasuke tak enak, sedangkan Matsuri pamit setelah mengecup pipi Gaara dan melambai pada mereka.
Sakura, Ino dan Matsuri meninggalkan Gaara yang menatap Sasuke bingung, sementara Sasuke masih menatap kepergian Sakura dengan perasaan yang campur aduk.
"Apa mungkin kau mengenal Haruno?" tanya Gaara pada Sasuke. Sasuke tersadar dan segera kembali dari khayalannya. Ia hanya berjalan melewati Gaara sambil mengangguk dan menggeleng. Gaara hanya mengendikan bahu tak perduli kemudian menyusul Sasuke memasuki kelas.
Sesampainya di kelas terlihat Naruto yang sedang uring-uringan di atas meja belajarnya, Gaara mendekat dan menjitak kepala Naruto iseng.
"Gaara, aku tak sedang ingin memulai perkelahian." Kata Naruto cemberut.
"Anak ini kenapa?" tanya Gaara santai pada Neji.
"Terkena serangan rindu tingkat akut." Jawab Neji cuek kemudian melanjutkan aktivitasnya, membaca.
"Aaaah, aku rindu Hinata." Kata Naruto bertopang dagu mendamba.
"Aku dan Sasuke baru bertemu sahabat Hinata, sepertinya mereka akan ke suatu tempat." kata Gaara cuek pada Naruto.
"Heee? Aku ingin ikut." Kata Naruto mengambek.
"Ini baru spekulasiku, aku baru saja menerima pesan dari Temari, mungkin kalian menapatkan pesan yang sama." Kata Shikamaru memotong pembicaraan Gaara an Naruto kemudian melambaikan ponselnya di hadapan para sahabatnya.
"Hee? Benarkah?" tanya Naruto senang dan mengecek ponselnya.
"Aa. Aku dapat." Kata Neji membaca pesan yang baru saja masuk di ponselnya.
"Yey. Hinataku sayang, aku ikut." Kata Naruto bersemangat membaca pesan yang di kirimkan oleh kekasihnya.
"Ino mengatakan padaku untuk mengajakmu, Sasuke. Katanya Sakura juga ikut tapi tak punya pertner, kalau kau tak keberatan." kata Sai menatap Sasuke yang tetap duduk diam dengan wajah datarnya.
"Sasuke!" Tegur Gaara yang mulai kesal pada Sasuke. Pasalnya Sasuke sudah sering mengabaikan pertanyaan yang sering mereka ajukan. Entah ada apa dengan anak ini.
"Aa. Aku ikut." Jawab Sasuke kemudian menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya yang ada di atas meja. Ia mencoba kembali mengingat kejadian yang nyata di alaminya itu, namun Sakura tidak mengingatnya.
"Yappari, yume desuka?" gumam Sasuke kemudian tertidur.
"Dia, tidur lagi." Kata Neji memandang Sasuke yang kini telah tertidur pulas.
/
/
"Teman-teman, apa tidak apa-apa aku ikut?" Tanya Sakura tak enak pada Ino dan yang lainnya. Saat ini mereka sedang menunggu kehadiran kekasih mereka di sebuah cafe favorit mereka.
"Sudah ku bilang tidak apa-apa kan? Jangan terlalu banyak berpikir Sakura. Kau harus keluar sekali-sekali." Jawab Ino menceramahi Sakura sambil menatap buku menu yang tersedia di meja mereka.
"Ino benar Sakura. Jangan terlalu di pikirkan." Dukung Temari atas kata-kata Ino kemudian tersenyum pada Sakura.
"Siapa tau, Uchiha-san bisa dapat teman bicara. Di antara kami kan hanya kalian berdua yang masih single." Kata Hinata tersenyum pada Sakura.
"Aku setuju dengan Hinata. Akhirilah kesendirianmu itu." Kata Tenten merangkul Sakura sambil terkikik.
"Tapi Uchiha-san itu aneh ya?" tanya Matsuri menerawang kejadian tadi siang sambil bertopang dagu.
"Hn. Aku juga merasa begitu." Balas Sakura di sertai anggukan pertanda ia setuju dengan Matsuri.
Mereka berbincang sambil tertawa sesekali sembari menunggu para kekasih yang belum juga datang. Berselang 15 menit kemudian Naruto datang bersama Neji dan Sai. Ino melambai pada mereka untuk bergabung di meja khusus yang mereka pesan agar dapat memuat banyak orang.
Terlihat Ino sedang mengomeli Sai yang terlambat, Sai hanya tersenyum menanggapi Ino. Begitupun dengan Neji yang kena marah dari Tenten, namun Neji yang tak terima mengatakan bahwa semuanya gara-gara Naruto. Tenten dan Ino menatap Naruto dengan tatapan membunuh sementara Hinata hanya tersenyum menanggapi Naruto yang semakin mendekat padanya agar tak tersentuh oleh Tenten dan Ino yang ada di samping kiri Hinata.
Kemudian Sasuke, Gaara, dan Shikamaru datang bersamaan. Sebenarnya tidak, hanya Gaara dan Shikamaru, namun kemudian Sasuke menyusul dari belakang. Ketika semuanya lengkap mereka memangil pelayan untuk memesan makanan mereka.
Masing-masing telah mengatakan pesanannya kemudian kembali meributkan perihal keterlambatan para pemuda dari waktu yang sudah di tentukan. Sakura tertawa melihat perdebatan konyol mereka yang mulai saling menuduh, tak ada sasaran lain Naruto menyalahkan Sasuke, namun Sasuke menatap Naruto dengan tatapan paling mematikan andalannya hingga akhirnya Naruto pundung sendiri karena di salahkan semua orang, tentu saja kecuali Hinata yang sedang mencoba menghiburnya saat ini.
"Mungkin benar yang di katakan mereka, bahwa aku harus lebih sering terbuka, mungkin membuat beberapa ikatan dengan orang baru." Batin Sakura tersenyum memperhatikan teman-temannya.
"Begitukah? Dan melupakan aku? Ya, bagimu aku tak pernah ada, hanya bayangan hitam yang selalu berada di bawah kakimu.. khekhekhe.."
Sakura tertegun mendengar bisikan itu, ia mencari kesana kemari namun semua orang sedang berbicara dengan pasangannya masing-masing.
"Sakura, kenapa? Kau sakit?" tanya Tenten yang menyadari keanehan sikap Sakura. Sakura hanya menggeleng dan memaksakan senyumnya. Tenten mengangguk mengerti dan kembali berdebat dengan Neji. Sakura masih tetap tersenyum paksa, dan diam-diam berusaha menstabilkan tangannya yang bergetar ketakutan, saat ia menatap ke depan, ia tepat tertangkap mata oleh Sasuke yang sedari tadi memperhatikannya, memperhatikan tangannya yang bergetar, Sakura mengikuti arah pandang Sasuke dan setelah ia tau apa yang sedang Sasuke lihat Sakura menyembunyikan kedua tangannya di masing-masing saku dari kantong bajunya.
Sementara Sasuke memandang Sakura serius dan tajam, meskipun Sakura sudah berusaha tersenyum menanggapi tatapan dingin Sasuke.
"Aku tau ada yang aneh denganmu, Haruno Sakura. Aku tak mungkin sedang bermimpi waktu itu." Batin Sasuke pasti kemudian meminum jus tomat pesanannya tanpa melepas pandangannya dari wajah Sakura.
/
/
/
"Tadaima." Seru Sasuke begitu pulang memasuki rumahnya.
"Yo, Okaeri, otouto." Jawab Itachi yang sedang membaca komik di ruang tamu sambil tiduran di sofa. Sasuke masuk kemudian menyingkirkan kaki Itachi sehingga Itachi terjatuh dari sofa, kemudian Sasuke menduduki sofa tersebut. Itachi menatap Sasuke malas dan kesal.
"Sasuke, kau mengajak berkelahi?" tantang Itachi pada Sasuke yang hanya menyenderkan kepalanya dan di senderan sofa dan menatap langit-langit, mengabaikan Itachi yang bertambah kesal.
"Sasuke, jangan pura-pura tuli atau aku akan—
"Nii-san.." panggil Sasuke menghentikan racauan Itachi padanya.
"Eh? ada apa?" tanya Itachi serius menatap adiknya yang terlihat sedang berpikir keras.
"Organisasi apa yang sedang kau geluti, dan apa tujuan organisasi itu?" tanya Sasuke serius tanpa menatap kakaknya, ia masih menatap langit-langit ruang tamu ini.
"Aneh jika kau bertanya seperti itu. Tapi baiklah akan ku jawab. Namanya Akatsuki, dari pada di sebut organisasi sebenarnya itu lebih pantas di sebut genk. Akatsuki awalnya terbentuk untuk menjadi media penyaluran bantuan sosial untuk anak yatim, korban kecelakaan dan sebagainya, namun akhir-akhir ini kami mengambil cuti. Salah satu anggota kami mengalami kedukaan dan membuat ia terpuruk. Kami sudah menghiburnya namun dia seolah tenggelam dalam dukanya sendiri. Jadi sampai ia pulih kembali, akatsuki tak lebih dari nama genk saja." Kata Itachi panjang lebar menatap sendu lantai yang di pijakinya kala mengingat derita salah satu teman sekaligus sahabatnya.
"Aku ingin tau tentang Sasori, dia orang yang seperti apa?" tanya Sasuke masih enggan menatap Itachi, padahal Itachi tengah menatap Sasuke dengan tatapan tidak percaya dan juga bingung.
"Dari mana kau tau tentang Sasori?" tanya Itachi bingung.
"Cih. Berhenti bercanda Nii-san. Kemarin kan sudah ku ceritakan padamu aku mampir ke rumah Haruno sampai membuatku pulang telat." Kata Sasuke jengah masih enggan menatap kakaknya.
"Nanti dulu. Kemarin? Aku belum bertemu denganmu sejak kemarin. Ku fikir kau menginap di rumah Naruto atau sebagainya, bahkan kaa-san dan tou-san tidak melihatmu." Kata Itachi menatap Sasuke bingung. Sasuke memperbaiki posisi duduknya dan menatap Itachi serius.
"Nii-san, aku sedang tak ingin bercanda." Kata Sasuke penuh penekanan pada kakaknya agar kakaknya mau serius menanggapinya.
"Malah ku fikir kau sedang bercanda saat ini. Berhentilah membuatku bingung." Kata Itachi kesal dan memukul Sasuke dengan komik yang sedari tadi di bacanya.
"Ini aneh. Bukan hanya dia, tapi kakak dan keluargaku juga seolah tak mengetahui apapun tentang kemarin, kepulanganku dan semuanya, kecuali beberapa hal tak masuk akal yang ku alami. Ada apa ini sebenarnya?" batin Sasuke mengernyit bingung.
"Sasuke! Hoy SASUKE!" panggil Itachi tepat di telinga Sasuke. Sasuke menatapnya kesal dan memukul kepala aniki-nya yang sering menjahilinya tersebut.
"Kau ini kenapa?!" tanya atau gusar Itachi sambil mengusap kepalanya yang menjadi objek penjitakan yang di lakukan Sasuke.
"Jawab saja pertanyaanku." Kata Sasuke akhirnya setelah lama berdiam diri. Itachi memandangnya curiga namun kemudian Itachi menyampingkan perasaan anehnya itu dan memilih untuk menuruti Sasuke.
"Sasori itu orangnya hangat dan bersahabat. Ia bagai Api di Akatsuki. Dia akan meluas dan membakar semangat kami ketika kami hampir menyerah. Kadang dia bisa memukul sahabatnya sendiri sampai tak terkendali, layaknya api, Sasori adalah orang yang tempramen namun hangat. Bisa di bilang dia satu-satunya orang yang dapat membuat kami berjalan seiring meski banyak perbedaan di antara kami. Dia orang yang sangat penyayang, dia sangat menyayangi keluarganya. Well dia anak yang baik, namun seperti yang ku katakan tadi, dia tenggelam dalam dukanya saat ia kehilangan anggota keluarga yang berharga untuknya. Dia yang menyatukan Akatsuki dan saat dia jatuh Akatsuki juga ikut jatuh. Kami masih sering mengunjunginya namun dia hanya akan tersenyum dan berkata baik-baik saja, mencoba membohongi kami padahal kami tau, dia sedang terluka dan itu sangat parah, tidak di fisiknya melainkan di hati dan mentalnya." Kata Itachi sedih menceritakan tentang Sasori.
"Jadi yang sedang terpuruk saat ini, itu Sasori ? Anggota keluarganya? Siapa yang meninggal?" tanya Sasuke heran dengan mengernyitkan keningnya. Pasalnya yang ia tau ketika ia berkunjung Sasori memiliki keluarga yang lengkap, meskipun Sasuke juga agak bingung mengapa tatapan Sasori sangat sarat akan kepiluan dan kerinduan yang mendalam.
"Kau ini banyak tanya sekali. Ini pasti ulah Naruto yang membuatmu secerewet ini." Kata Itachi menatap Sasuke gusar karena selalu bertanya tanpa menjelaskan maksud dan tujuan dari pertanyaannya.
"Nii-san!" Tegur Sasuke dingin menekan agar kakaknya menjawab pertanyaannya segera.
"Ha'i-Ha'i. Yang membuat Sasori sampai seolah tak bernyawa meski sedang hidup itu karena adiknya meninggal. Puas?" kata Itachi pada Sasuke. Itachi cemberut, Sasuke terkejut tak percaya.
"Siapa?" tanya Sasuke lagi, masih dengan ekspresi kaget tak percaya.
"Adiknya." Jawab Itachi acuh kembali membaca komik yang ia tunda membacanya karena kedatangan Sasuke yang mengganggu dan marah-marah tak jelas padanya.
"Siapa?" tanya Sasuke lagi masih dengan ekspresi yang sama.
"Sudah ku bilang, ADIKNYA. Sasuke kau benar-benar minta di pukul?" Gusar dan kesal Itachi menatap Sasuke marah.
"Anak ini semakin kurang ajar padaku. Datang mengganggu, marah-marah tak jelas kemudian mencoba menguji kesabaranku huh?" batin Itachi kesal sendiri menatap Sasuke yang seolah terkena penyakit bodohnya Naruto.
"Nii-san, bukan itu, maksudku siapa nama adiknya?" tanya Sasuke masih tak percaya pada Itachi. Perasaannya mulai takut dan bimbang. Bukan takut karena hal mistis ini muncul di kehidupannya, namun takut bahwa ia mulai gila, dan bimbang antara percaya atau tidak.
"Aku tak tau namanya, yang ku ingat namanya indah seindah musim semi. Sepanjang yang ku tau, dia adalah satu-satunya keluarga Sasori." Kata Itachi berusaha sabar menjawab pertanyaan Sasuke yang mulai membuat Itachi terganggu. Setaunya adiknya tak pernah sekepo ini. Mencampuri urusan orang lain terlebih bukan orang yang dia kenal, sangat tidak Sasuke.
"Apa maksudmu? Bukankah Sasori masih mempunyai orang tua yang lengkap?" tanya Sasuke lagi memaksa Itachi menatapnya dan menjawab langsung pertanyaannya. Itachi saat ini benar-benar ingin memukul siapa saja yang sudah membuat adiknya berubah dan bertingkah seperti ini, namun Itachi berusaha sabar menghadapi tingkah sang adik yang berubah tiba-tiba ini.
"Sasuke. Aku hanya akan memberitaumu sekali ini. Dengarkan baik-baik dan jangan bertanya lagi Oke? Ku anggap kau setuju. Sasori hanya tinggal berdua dengan adik perempuannya. Orang tua mereka sudah meninggal dalam kecelakaan mobil 5 tahun lalu. Kemudian 2 tahun lalu adiknya meninggal karena sakit parah. Jangan tanyakan namanya karena aku tak tau sejauh itu, Sasori selalu overprotective pada adiknya untuk itu dia tidak pernah membiarkan Akatsuki yang lebih banyak anggotanya pria itu mendekati adiknya. Tapi kami pernah bertemu adiknya beberapa kali, bahkan sempat berfoto bersama saat kelulusannya. Kalau tak salah ingat itu waktu kelulusanmu saat kau masih di junior high, dan kalau aku benar kalian mungkin seumur." Kata Itachi serius menatap Sasuke kemudian kembali membaca komiknya yang selalu terganggu oleh Sasuke.
"Foto itu ada dimana?" tanya Sasuke lagi pada Itachi.
"Sudah ku bilang berhenti bertanya." Kata Itachi membentur-benturkan kepalanya pada komik yang di pegangnya saking frustrasinya.
"Tanyakan pada Konan soal itu. Lihatlah nomornya di buku telepon dan ganggulah dia dengan seribu pertanyaanmu, jangan bertanya lagi padaku. Mulai saat ini aku tak punya telinga." Kata Itachi sembari berdiri kemudian mengendap-endap dan lari ke kamarny di lantai dua, melarikan diri dari Sasuke yang terbengong.
"Tuhan, kenapa dengan anak itu?" gumam Itachi heran kemudian membuka pintu kamarnya.
"Itachi, kau lihat Sasuke?" tanya Mikoto yang baru saja keluar dari kamar mandi. Semua kamar tidur dan kamar mandi ada di lantai dua, meskipun kamar tidur dan kamar mandi untuk tamu ada di lantai sebelumnya.
"Ada di bawah." Kata Itachi yang mulai melangkah masuk ke kamarnya.
"Dia sudah makan? Kau bagaimana kau sudah makan? Oh iya, kapan Konan dan yang lainnya akan berkunjung lagi? Aku merasa sepi akhir-akhir ini. Kalau kau punya pacar ajaklah main ke rumah untuk menemaniku." Kata Mikoto tersenyum lembut pada Itachi. Itachi kemudian menatap Mikoto dengan tatapan frustrasinya.
"Ibu, mulai saat ini sampai beberapa waktu ke depan aku tak punya telinga. Jadi jangan ajukan pertanyaan untukku jika kau tak ingin aku menjadi gila." Kata Itachi kemudian menutu pintu kamarnya. Tak selang berapa lama terdengar suara bagh bigh bugh dari dalam kamar Itachi dan suara musik yang sangat kencang. Mikoto hanya tersenyum kemudian mengendikan bahu acuh dan berjalan menuju lantai bawah.
Poor Itachi..
/
/
/
Sasuke masih terdiam dan termenung mengingat kembali kata-kata Itachi padanya.
"Kalau di pikir-pikir lagi, saat aku mengenalkan diri, Sasorilah yang menjawab perkenalanku, Sasori menatapku yang ada di sebelah ayahnya seperti tepat ke arahku, seharusnya tatapannya terhalangi oleh tubuh ayahnya. Waktu Sakura menjerit ia hanya meneriakan Sasori, seharusnya ibu atau ayahnya bukan? Dan ketika aku berlari membuka pintu kamar Sasori hanya menatapku yang sedang berada di atas ranjang dan memeluk Sakura dengan tatapan sendu kemudian berlalu begitu saja, seolah tak ada apa-apa di sana. Kami-sama, ada apa ini?" gumam Sasuke frustrasi dengan kejadian yang menimpanya. Ada apa sebenarnya, siapa Sakura sebenarnya, mengapa kejadian kemarin seolah tak pernah terjadi dalam hidupnya, terlalu banyak mengapa yang tak dapat Sasuke jawab saat ini.. Sasuke hanya dapat mengerang frustrasi karena mencari jawaban yang tak bisa di cerna oleh logikanya...
Tsudzuku.
Kebayang jadi Itachi nggak? kesal setengah mampus tuh anak :D wkwkwk, saya juga pernah ada di posisi yang sama, di tanyain mulu bikin mood ancur. wkwkkw, gomen buat penggemar Itachi nggak maksud buat Itachi menderita. :D
Yosh, chapter ke dua update. Sebisa mungkin saya akan mengaupdate setiap hari perepisodenya jika sempat. Meskipun tak ada yang menunggu sih. Heheheh.. mohon maaf juga kepada reviewers dan readers sekalian yang mungkin belum bisa meresakan sensasi horornya, harap di maklumi, ini fict horor pertama saya. Terima kasih sudah menyimak.
Spesial Thanks to Dhita82, Alifa Cherry Blossom, dan juga Kihara.
Dhita82 : Salam kenal juga ^_^ siip.. pasti kok, sampai the end.. Hehehe.. Makasih ya atas dukungannya..
Alifa Cherry Blossom : Sempat deg-degan nunggu review kamu, takutnya nanti nggak suka, tapi syukurlah kamu suka.. Thanks dah review ^_^
Kihara : Sip. Saya lanjutkan. ;) mohon dukungannya yah. Terima kasih sudah mereview dan menyempatkan diri untuk membaca fict buatan Saya. ^_^.
Hontou ni Arigatou gozaimasu.
