Hi! Nice to meet you all again! Ouh! This is the best day ever! I'll continue my story today. But, yeah ... I'm not sure with my principles. Hehe ... Gomen, gomen!

Because this is my first story, I hope you all join it. Thank you. Arigatoo gozaimasu! And don't forget to review.


~New girl and a tragedy~


Pagi ini tidak begitu cerah seperti biasanya. Awan gelap memenuhi langit, menutupi matahari yang berusaha untuk tetap menyinari bumi. Aku mengadahkan kepalaku ke atas dan melihat tetes-tetes air hujan membasahi wajahku. Buru-buru, kuambil payung lipat yang terletak di dalam tas dan membukanya, lalu memayungi diriku agar tidak terkena tetesan air hujan.

Dingin. Mana hujan belum reda, lagi. Pasti nanti basah kuyup di sekolah, batinku kebingungan. Kupegang erat payungku, berjalan dengan cepat menembus hujan, dan akhirnya sampai di sekolah tepat waktu. Untung bel masuk belum berbunyi. Kalau sudah berbunyi, bisa gawat nanti! Pak satpam pasti tak segan-segannya menyuruhku berlari keliling lapangan 5 kali. Aduyai ...

Aku berjalan ke kelas ambil melihat ke sekeliling. Semua berjalan normal, seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada hal aneh terjadi di sekolah tercintaku ini.

Di kelas juga sama. Aku melihat Fang yang duduk di bangkunya sambil melihat ke jendela dengan wajah cueknya, Yaya dan Ying yang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa, dan Gopal yang sibuk mengerjakan tugas sekolah. Ada pula beberapa teman sekelasku yang sedang berkumpul, mengerjakan tugas piket, bercanda, dan bahkan diam. Tidak ada yang berubah.

"Selamat pagi, teman-teman," sapaku ramah.

"Pagi, Boboiboy!" semua teman sekelasku, kecuali Fang dan Gopal, menjawab sapaanku.

Mendengar seruan teman-temanku, Gopal terkejut dan berdiri tergesa-gesa. Tanpa sengaja, pria bertubuh gemuk itu berseru, "Selamat pagi, Cikgu! Kebenaran!" Hal itu membuat kami semua tertawa terbahak-bahak. Aku menepuk pundak Gopal dan memujinya dengan satu kata yang menjadi ciri khasku, "Terbaik!" Sahabat sejatiku ini malah terkekeh.

Aku duduk di bangkuku dan melirik Fang yang tetap diam tak bergerak memandang ke arah jendela. Seperti anak laki-laki yang lagi patah hati saja. Hahaha ...

"Hai, Fang!" seruku. "Kok diam? Galau, yaaa ...?"

"Ish? Apaan, sih? Risi, tau!"

"Hei, kan aku cuma tanya! Oya, rumah yang kemarin gimana? Sori, aku tidak mau masuk waktu itu."

"Hmm, enggak terawat, sich. Tapi tak apa, nanti kita bersihkan rumah itu sepulang sekolah. Aku malah jadi semakin kangen dengan rumah itu."

Sepertinya Fang tidak ingin rumah kosong yang pernah kami masuki itu kotor atau tidak terawat. Kalau dipikir-pikir, sudah sewajarnya rumah itu memang kotor, karena sudah bertahun-tahun lamanya Fang tidak pernah membersihkannya. Tapi ... lebih baik aku ikut atau tidak, ya? Ah! Bingung!

"Cikgu datang! Cikgu datang!" Teman-temanku berteriak sambil berlari menuju bangku mereka. Di balik daun pintu kelas, Cikgu Papa datang dengan wajah ceria seperti biasa. Pasti pelajaran nanti akan ada ulangan harian dadakan lagi.

"Selamat pagi, Cikgu! Kebenaran!" ucap Yaya, selaku ketua kelas 5 Jujur.

"Selamat pagi, Cikgu! Kebenaran!" kami mengikutinya.

"Selamat pagi, murid-muridku! Ha! Hari ini kelas kita kedatangan anak baru. Akinah! Ayo masuk!" Cikgu Papa berseru senang, dan sepertinya memanggil seseorang.

"Ya, Cikgu." Suara kecil di luar kelas membuat kami, siswa-siswi kelas 5 Jujur, penasaran dengan anak baru itu. Sekiranya dia itu baik atau tidak? Suaranya pun anak perempuan.

Seorang gadis bertubuh tinggi masuk ke dalam kelas sambil menyebarkan senyum manisnya. Gadis berambut cokelat dikucir dua, dengan headphone di lehernya, dan seragam yang rapi, membuat gadis itu seperti anak yang kelihatan tomboy tapi manis. Dia pun berdiri di depan papan tulis dan melihat kami dengan mata sipitnya. Sepertinya dia China, atau apalah.

Cikgu Papa menepuk pundak gadis itu dan memintanya berkenalan di depan kami semua. Gadis itu terkekeh senang.

"Hai, semua. Nama saya Akinah. Saya berasal dari Kuala Lumpur, pindah ke sini karena Ayah saya dipindahtugaskan ke sini. Karena ini hari pertama saya belajar di sini, mohon bantuannya, ya!" kata gadis yang bernama Akinah tersebut sambil membungkukkan badannya.

"Akinah, kamu duduk di sana. Ha! Di belakang Iwan! Itu, tuh!"

"Baik, Cikgu Papa."

Aku melirik Akinah yang berjalan di sampingku menuju bangkunya yang berada di belakang Iwan, atau tepatnya di samping Fang. Kelihatannya gadis itu ramah dan baik. Aku ingin berkenalan dan dekat dengannya.

Tapi ketika aku melirik wajah Fang, dia tetap sama meskipun sedikit melirik ke arah Akinah.


Sepulang sekolah, aku dan Fang sudah janjian akan membersihkan rumah kosong yang kemarin kami datangi. Kami berjalan selangkah demi selangkah hingga tanpa sadar sebuah suara memanggil kami berdua.

"Boboiboy! Fang! Kalian mau ke mana?!" Ternyata Yaya, Ying, dan Gopal yang berteriak.

Aku dan Fang menoleh ke belakang, dan mendapati mereka bertiga kelihatan ngos-ngosan di depan kami berdua. "Kenapa kalian ngos-ngosan gitu?" tanya Fang.

"Kalian berdua saja mau ke mana?" Yaya balik bertanya.

"Kami mau ke rumah kosong yang ada di tengah hutan. Mau ikut?" jawabku.

"Mau! Lebih baik daripada membiarkan kalian hilang!" seru Gopal.

Kami berlima bersama-sama pergi ke rumah kosong tersebut. Meskipun langit masih mendung, tapi kami tetap melanjutkan perjalanan kami.


"Nah! Ini rumah yang Boboiboy katakan tadi." Fang menunjuk ke arah rumah tersebut dan menoleh ke arah kami berempat. "Bagaimana? Nanti aku dan Boboiboy akan membersihkan rumah ini. Kalau kalian ikut, boleh juga. Biar pekerjaan kami cepat selesai."

Gopal tengah berpikir keras, Ying memasang wajah bingung, sedangkan Yaya mengangguk-angguk ingin ikut. Mereka masih saja sibuk sendiri, dan tiba-tiba ...

"BAAAA!"

"AAAAA!"

Seseorang mengejutkan kami. Aku, Yaya, Ying, Gopal, dan Fang menoleh ke belakang. Huft ... ternyata Akinah, si gadis baru di kelas kami. Dia berdiri di belakang Ying, terlihat sekali karena tubuhnya tinggi.

Aku menghela napas. Kukira siapa yang datang, ternyata Akinah. Apakah kebiasaannya suka mengagetkan orang? Jantungku hampir berdetak kencang karena terkejut. Beruntung si Akinah tadi langsung meminta maaf atas kelakuannya itu.

"Kenapa kalian ke sini?" tanya Akinah kepada kami.

"Haiya! Kau sendiri ngapain ke sini? Mau membuntuti kita?" Ying kesal dengan kelakuan Akinah tadi.

"Jalan menuju rumahku kan lewat sini. Ei! Aku tanya, kenapa kalian ke sini?"

"Kami ke sini karena ingin membersihkan rumah ini." Aku menyerah, menjawab pertanyaan Akinah karena yang lain tidak ingin menjawabnya.

"Ooo ... Boleh aku ikut?" Akinah memohon pada kami.

"Maaf, tapi tugas ini hanya untuk kami berlima saja. Kau mana boleh?" sahut Gopal.

Ctassss!

Sebuah rotan yang dibawa Akinah mendarat tepat di depan Gopal. Pria bertubuh gemuk itu berlari dan bersembunyi di belakangku dengan wajah ketakutan. "Woi! Akinah! Jangan pukul aku pakai rotan itu! Bengkak lagi badanku nanti!" pintanya.

"Kau sendiri sudah bengkak! Badan sudah gemuk, makan pun cuma manis-manisan doang!"

"Ampun! Cikgu Akinah! Jangan pukul aku lagi!"

"Cikgu Akinah?! Iiihhh! Dasar bocah!"

Sebelum Akinah memukul Gopal dengan rotan lagi, Yaya langsung mencegah Akinah dan mengancam gadis tersebut masuk ke buku pelanggaran siswa miliknya. Akinah mundur satu langkah karena ketakutan. Ying tersenyum jahil. "Rasakan, tuh!" Akinah hanya mendengus kesal.

Fang akhirnya mengajak kami berlima masuk ke rumah kosong di depan kami, dan tentu saja Akinah juga ikut. Pintu rumah tersebut berdecit pelan, menambah suasana horor di sekitar kami. Di depan mata kami, terlihat sebuah ruangan yang amat besar dan kotor serta berantakan. Jaring laba-laba tergantung di sekitar ruangan, semua barang-barang tertutupi kain putih, lantai rumah berdebu, dan beberapa lampu padam, gelap tanpa ada penerangan. Aku memberanikan diri masuk duluan untuk melihat-lihat ruangan tersebut lebih jelas, namun ruangan ini malah kelihatan lebih gelap. Susah untuk melihat keadaan.

Ctek! Suara sakelar lampu ditekan oleh Fang. Pria berkacamata itu berjalan ke lantai atas melewati tangga, sedangkan aku, Yaya, Ying, Gopal, dan Akinah mengikutinya. Di lantai atas, ternyata tidak kalah berantakannya dengan ruangan lantai bawah. Di sini ternyata seperti gudang tak terpakai. Barang-barang bekas berjatuhan, dan bahkan lemari pun jatuh menimpa sebuah meja. Yaya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya dengan keadaan rumah ini.

"Kotornya! Kita harus bersihkan rumah ini sampai bersih, baru kita bisa bermain di sini," komentar Yaya.

"Iya, lah! Kalau tidak dibersihkan nanti semakin kotor dan rumah ini akan mudah rubuh karena jamur-jamur dan bakteri sekitar yang menggerogoti rumah ini. Boboiboy, kau bagi tugas." Fang menunjuk ke arahku yang terkejut mendengar kata-katanya.

"Hei, kenapa aku?"

"Kau kan pandai bagi tugas untuk kita semua, jadi dalam keadaan begini kau saja yang bagi tugas bersih-bersih ini."

"Hmm, baiklah! Ying dan Yaya bersihkan kamar-kamar di lantai bawah, aku dan Fang akan bersihkan ruang tamu dan dapur, Gopal dan Akinah bersihkan gudang ini."

Wajah Gopal berubah masam, "Boboiboy! Janganlah seperti itu! Aku tidak mau membersihkan gudang bersama Akinah!"

"Kalau begitu kau bersihkan saja halaman depan sendirian. Biar Akinah yang bersihkan gudang," aku membalas ucapan Gopal. Anak itu akhirnya menyerah dan menerima tugas sebelumnya.

Kami berenam sepakat dengan tugas yang aku berikan. Aku, Yaya, Ying, dan Fang turun ke lantai bawah, Gopal dan Akinah tetap di lantai atas. Kami mengambil peralatan bersih-bersih dan mulai membersihkan beberapa ruangan di rumah tersebut.


"Boboiboy, aku bersihkan dapur dulu, ya. Kau bersihkan ruang tamu." Fang meninggalkanku sendirian di ruang tamu. Aku mengangguk pelan.

Di ruang tamu, aku memulai perkerjaan dengan menata barang, menyapu, membersihkan debu, dan kembali menata barang. Tanpa terasa sudah 1 jam lebih 15 menit aku membersihkan ruangan ini. Bersih cemerlang! Aku sudah terbiasa membersihkan ruangan, jadi aku dapat membersihkan ruangan yang lebih kotor dalam 1 jam.

Ruang tamu ini berisi tiga sofa, sebuah meja, lemari pajangan, dan beberapa bingkai foto. Aku melongo ke ruangan lain, sudah bersih dan rapi ... Pasti Yaya dan Ying yang bersihkan. Cepat sekali.

Namun aku melihat dapur yang masih kotor. Eh! Membersihkan dapur 'kan tugasnya Fang. Kenapa dia belum membersihkannya?

"Fang, kau ada di mana?"

"Boboiboy!" Ying berteriak di balik sebuah kamar. Aku menghampirinya. "Kau dengar suara teriakan tadi?"

"Teriakan apa? Aku tidak tahu."

"Sepertinya tadi ada suara teriakan Fang di dapur, tapi aku tidak terlalu peduli. Mungkin ada sesuatu yang muncul. Tapi suara itu kelihatan histeris. Jangan-jangan ..."

"KYAAAAA!" Aku dan Ying menoleh ke arah dapur. Yaya berdiri sambil menutup matanya ketakutan. Aku dan Ying berusaha mendekati Yaya yang menangis ketakutan di depan dapur.

"Yaya? Ada apa?" tanya Ying.

"I ... itu ...," Yaya menunjuk ke arah dapur, tepat ketika Gopal dan Akinah turun ke bawah.

Aku masuk ke dalam dapur, dan mendapati jasad Fang yang terkapar di lantai. Mengenaskan! Fang ... terluka? Darah di dada kiri dan perutnya mengotori seragam. Apa yang terjadi?

"Fang?" aku memanggilnya sambil menggoyangkan sedikit tubuhnya. Dia tidak bangun.

Aku meletakkan jariku di lehernya. Fang ... mati? Tidak! Ini tidak mungkin! Tuhan, kenapa Fang harus mati? Apa salahnya? Siapa yang melakukan ini? Tuhan, tolonglah! Jangan biarkan Fang pergi!

"Fang? Fang? Fang, bangun! Jangan tinggalkan aku! Tolong kembalilah! FANG! KUMOHON, KEMBALILAH! FAAANNNGGGGG!" Air mataku tak dapat dibendung lagi. Fang benar-benar telah pergi untuk selamanya. Aku hanya bisa memeluk jasadnya saja. Seandainya tidak begini, pasti dia akan tetap menemaniku.

"Ternyata benar."

Kutoleh kepalaku ke arah Akinah yang tadi mengatakan sesuatu. "Cerita itu benar. Aku ... aku bisa melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!" Gadis itu kelihatan panik. Akinah, sebenarnya ada apa?

"Akinah, sebenarnya ada apa?"

"Cerita itu benar-benar nyata!"


-Next Chapter-

Akinah kelihatan sangat panik setelah pemakaman Fang kemarin. Aku berusaha menanyakan sesuatu padanya, apa yang sebenarnya terjadi? Dan gadis itu akhirnya menceritakan sebuah kisah dibalik rumah kosong tersebut.

"Dia tidak ingin kita masuk ke dalam rumah itu, atau kita semua akan dibunuh olehnya."


Finally finished!

The story of the beginning of this story, I made it even so dizzy! It's okay. Now I want to rest a little.

Oh! To review, sorry if Fang had to die. Otherwise later the story was not funny and boring. So, I apologize profusely!

Thank you for all! Don't forget to review this story. Arigatoo gozaimasu!