"Ahh...mm...Sei...nggh!"

"Bertahanlah, Yuna. Kau masih harus melakukan hal lain loh,"

"Tapi...aku...khhh...ah!"

"Tidak akan kubiarkan kau berhenti sebelum aku klimaks, sayang"

Kuroko no Basuke

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi

How to Respect Your Shy Wife

Disclaimer: Kisa The Author

Warning: for Adult only, typo(s), I don't take any advantage by this fanfiction

AkaYuna

Malam telah larut, Yuna duduk termenung di meja kerja dengan laptop kecil yang masih menyala. Layar yang mendominasi warna putih dengan serangkaian kata-kata kecil terpampang di depannya. Kepalanya cukup pening setelah seharian bekerja dan mengetik naskah novel terbarunya. Dengan udara dingin dari pendingin ruangan cukup membuat bulu kuduknya merinding dan ia mendekapkan dirinya untuk menghangatkan dirinya sendiri.

Musim panas baru saja mulai, namun keadaan ruangan sungguh dingin dengan pendingin ruangan yang disetting suhunya 24 derajat celcius. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar ruangannya. Dilihat pemandangan luar taman bunga yang bertepatan di belakang mansion mewah yang saat ini ditinggalinya bersama seseorang. Sudah hampir setahun lebih ia hidup disini setelah pernikahannya bersama seorang anak pengusaha dari perusahaan Akashi. Setelah mengenal marga itu, pastilah yang dimaksud adalah Akashi Seijuuro. Pemuda kaya dan absolut itu adalah pasangan hidup Yuna sekarang.

Berawal dari ketika ia masih di bangku sekolah menengah ke atas, Yuna bertemu dengannya. Melihat sebuah pameran yang memajang lukisannya dan mendapat penghargaan. Lalu, pengalaman dibully oleh para fansnya hingga akhirnya kekasihnya menyelamatkannya. Semua dilalui dengan indah meski pahit harus ia telan. Ketika kelulusan Akashi melamarnya dan bertunangan dengannya hari itu juga. Setelahnya mereka menjalani pendidikan universitas selama lima hingga tujuh tahun lamanya. Meski harus bertaruh waktu dan jarak yang jauh, Akashi mampu mengatur semua urusannya antara harus mengerjaan tugasnya dan menelpon Yuna selama dua kali seminggu.

Berat memang yang harus ditanggung keduanya. Namun, kata cinta itu selalu dilantunkan dan membuat Yuna cukup bersemangat meski harus meninggalkan rona merah di wajahnya. Akashi tak peduli, yang penting ia akan bersama gadisnya pada bulan Juli dimana Yuna lulus kuliah dan Akashi menjemputnya, saat itu juga mereka langsung lari menuju gereja terdekat dan mengucapkan ikrar suci pernikahan keduanya. Air mata tak terbendung dan Yuna langsung terisak di depan Akashi ketika cincin pernikahan sudah tersemat di jari manis kirinya. Tergesa-gesa dan agak tidak jelas kedengarannya, tapi itulah kenyataannya.

Dan sampailah disini di kediaman Akashi yang tenang.

Belakang rumah yang bertepatan dengan tempat Yuna berada sekarang sedang mekar bunga-bunga musim hujan di bulan Juli. Yuna mengadah ke langit malam yang sudah begitu gelap melelapkan para manusia yang tidur di atas ranjang mereka. Sedangkan ia sendiri masih berkutat pada laptop yang berderet kata-kata puitis dalam naskahnya.

Ia menghela nafas panjang, ia menoleh ke arah jam dinding kayu yang bergaya klasik berbahankan kayu cemara. Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam dan Akashi masih belum pulang sampai sekarang. Ia meraih ponselnya yang berwarna merah dan melihat pesan terakhir yang masuk di dalam kotak masuknya.

From: Sei

Subject: telat

Maaf, aku akan lembur hari ini. Jadi mungkin aku akan pulang telat. Jaga rumah ya sayang. Aku mencintaimu

"Lembur lagi huh? Apa badannya tidak remuk selama hampir 24 jam penuh?"desahnya sedkit kecewa.

Ia kembali pada sebuah foto yang berframe cokelat dimana ia dan Akashi berfoto bersama ketika pernikahan mereka yang dimana ia dan Akashi baru memakai pakaian pengantin. Karena yang pertama mereka baru mengucapkan ikrar suci dan yang kedua mereka baru mengundang kerabat dan keluarga besar yang lain ke acara pernikahan mereka.

Terbesit di ingatan Yuna waktu itu ia juga pernah digendong bridal style oleh Akashi di depan semuanya. Tentunya membuat Yuna malu bukan main hingga ia menyembunyikan wajahnya di balik bahu kekar suaminya.

Seketika itu juga Yuna merona wajahnya.

Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka di ruangannya. Dan, oh ternyata yang dibicarakan muncul sekarang.

"Aku pulang,"

"Selamat datang, Sei,"jawab Yuna tersenyum simpul.

Akashi dengan wajah yang agak berantakan berjalan tergesa-gesa menuju dirinya dan memeluk erat Yuna. "Maafkan aku, aku jadi sering meninggalkanmu sendirian di rumah,"bisiknya dengan suara lirih karena kelelahan.

"Tak apa, aku mengerti kok,"sahut Yuna sambi membalas pelukan suaminya itu.

Akashi mengecup keningnya lembut dan mengusap-usap kepalanya gemas. Lalu ia melirik ke arah laptopnya yang masih menyala di meja kerja. "Kamu juga masih bangun karena laptop itu?"tanya Akashi.

Yuna mengernyit, "Pertanyaan apa itu? Aku sedang mengerjakan naskah novelku untuk bulan depan. Dan deadlinenya itu Sabtu depan. Wajar kan kalau aku lembur?"balas Yuna.

"Tapi rasanya tak sebanding dengan pekerjaanmu yang hanya mengerik di laptop saja. Kan bisa saja kamu santai seharian di rumah,"ujar Akashi.

"Hhh...Sei, aku bosan kalau hanya bersantai tanpa melakukan apapun. Lagipula aku tak mau ideku menguap dikala aku sedang bersantai. Ibaratnya kalau sedang masuk 'zone' maka kamu akan melupakan segalanya dan fokus dengan apa yang ada di depanmu,"tutur Yuna panjang lebar.

"Bisa saja kamu. Kamu kan bukan pemain basket sepertiku dulu tahu,"

"Yee! Pikirmu yang bisa masuk 'zone' cuma kamu kah? Aku pun juga bisa,"cibirnya sambil memanyunkan bibirnya manja.

Akashi terkekeh pelan dan mencubit pipinya gemas. "Kamu ini ada-ada saja,"ucapnya masih terkekeh.

"Hum! Peduli kah? Nah, daripada lama-lama lebih baik mandilah dulu, lalu tidur. Besok masih ada kerjaan bukan?"ujar Yuna sambil melepas dasi Akashi dari lehernya.

"Tidak juga, besok kan libur nasional,"

"Hah?"

"Besok hari Minggu, Yun. Ingat tanggal tidak sih?"

Yuna memberi tatapan bingung, lalu ia berjalan menuju meja kerjanya yang terdapat kalender di sana. Setelahnya ia pun menepuk jidatnya, "Astaga! Bagaimana aku bisa lpa kalau besok itu Minggu?!"

"Keseringan masuk 'zone' sih, makanya lupa hari. Itulah Yuna,"ejek Akashi sambil melenggang menuju kamar mandi.

"Seeeiii!"gerutu Yuna kesal.

Sedangkan yang diteriaki hanya bisa tertawa sambil mandi. Dasar tukang kompor Akashi Seijuuro.

.

.

.

"mmmh...Sei...ah...mm..."

Suara desahan lembut Yuna melantun di telinga Akashi kala ia berciuman panas dengannya. Entah sejak kapan pakaiannya sudah dilucuti oleh suaminya sejak ia selesai mandi. Bergelut di balik selimut merah marun dengan tubuh sang lelaki menindihnya untuk tidak membiarkannya lari kemana pun.

Akashi melepaskan ciuman bibirnya dan membiarkan Yuna bernafas, sedangkan dirinya turun mencium dagu dan perpotongan lehernya. Harum tubuh Yuna yang seperti susu dan stroberi membuatnya mabuk dan terus menyesap rasa kulit kekasihnya itu. Berulang-ulang naik dan turun di leher dan bahunya. Ya, bagian ini adalah bagian yang paling ia sukai karena ia bisa meninggalkan tanda cintanya dengan jelas di sana. Dan juga bisa mendengar suara desahan wanitanya yang merdu dan memabukkan nafsu dan pikirannya.

"Sei...hhh...geli..."

"Hm? Baru segini sudah terangsang? Ada apa denganmu, Yuna?"godanya.

"Ti-tidak tahu...rasanya kita juga baru melakukannya beberapa minggu yang lalu,"ujarnya.

"Sebenarnya bukan 'beberapa minggu' lagi,"balas Akashi lalu menghentikan aktifitasnya sebentar.

"Maksud?"

"Kita terakhir melakukannya bulan lalu malah,"ucapnya dengan nada datar. Dan itu cukup menyadarkan Yuna.

"Oh...iya...aku baru ingat. Maaf..."

"Lagipula aku ingin tahu selama aku tidak ada apa kamu sering menyentuh dirimu?"tanya Akashi seduktif.

"H-hah?! Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba-?"

"Aku hanya ingin tahu apa benar kau kesepian karena tidak kusentuh. Karena melihat reaksimu yang sensitif ini rasanya kau tidak pernah melakukan masturbasi,"

"Ja-jangan mengatakannya terlalu jelas, Sei!"ucapnya dengan wajah merona merah.

Akashi kembali terkekeh dan meletakkan kepalanya diantara payudara Yuna. Yuna refleks mengalungkan kedua lengannya di leher Akashi seperti sedang menidurkan anaknya di dadanya. Dan jangan lupakan rona merah yang masih bertengker di wajahnya.

"Jadi bagaimana? Apa kamu selalu melakukan masturbasi sambil memikirkanku atau bahkan membeli sex toys untuk kamu jadikan penghiburmu?"tanya Akashi lagi. Kali ini sambil mengelus payudara kanan Yuna yang halus.

Yuna bergidik sambil mencoba untuk tidak mendesah ketika ia sedang disentuh seperti itu. "A-aku tidak pernah menyentuh diriku maupun membeli barang seperti yang Sei bilang tadi. Aku tidak mengerti cara masturbasi yang benar,"ujar Yuna sambil menahan sensai sentuhan yang diberikan Akashi dipayudaranya maupun putingnya yang kini sudah mengeras.

"Benarkah? Bagaimana kalau aku lanjutkan aktifitasku tadi dan kita buktikan kejujuranmu?"godanya sambil menyeringai.

"Eh? Ah! Sei! Apa yang-"

Akashi meremas payudaranya dan menghisap putingnya dengan gemas. Sedangkan tangan kanannya yang bebas menuju kewanitaan istrinya. Yuna refleks langsung melipat kaki kanannya ke atas dan memberikan akses bagi Akashi untuk memasukkan jarinya ke dalam liang Yuna.

"Ahh...Sei...ah...jangan...nggh...menyentuhnya...bersamaan...ah! Ahh!"desah Yuna makin keras.

Tak dipedulikan penolakan dari Yuna karena meski ia menolak, tapi tubuhnya lebih jujur terhadap dirinya. Maka dari itu ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Terasa olehnya jari-jarinya dihimpit oleh liang yang sudah pernah ia masuki beberapa kali tersebut. Ia gerakkan jari-jarinya seperti menggunting dan masuk menyentuh titik sensitifnya. Semakin Yuna mendesah semakin cepat gerakan tangannya di dalam liangnya.

"Ah, ah,ah! Sei! Aku...aku...ah!"

"Keluarlah, sayang."

"Aaaaahhh!"

Tubuh Yuna menggelinjang hebat setelah mendapatnya klimaks pertamanya. Cairan bening dan lengket keluar bersamaan dengan jari-jari Akashi. Dijilatnya jari-jari itu dan menyeringai puas.

"Kau manis sekali, sayang. Tapi permainan belum berakhir,"seringainya.

Ia menarik kasar kaki Yuna untuk melingkar di pinggangnya. Dan dengan cepat ia masukkan kejantanannya ke dalam liang Yuna hingga jauh ke dalam.

"Ahhh! Se-Sei! Ah!"jerit Yuna.

Ia meremas bantal di belakangnya sambil menahan guncangan hebat dari Akashi yang mengeluar-masukkan kejantanannya ke dalam liangnya. Akashi mendesis kenikmatan ketika miliknya dijepit oleh liang milik Yuna. Liang tersebut terasa masih sempit meski ia sudah melakukannya bulan lalu. Ia terus menggenjot ke dalam dan ke luar tubuh Yuna.

"Ahh...mm...Sei...nggh!"

"Bertahanlah, Yuna. Kau masih harus melakukan hal lain loh,"

"Tapi...aku...khhh...ah!"

"Tidak akan kubiarkan kau berhenti sebelum aku klimaks, sayang"

Akashi kembali menarik Yuna ke dalam pelukannya, lalu memposisikan agar ia bisa duduk dan menahan kedua tangan Yuna dibelakang punggungnya.

"Tunggu! Apa yang-"

"Teruskan, sayang. Kau yang bergerak,"perintah Akashi.

Mau tidak mau Yuna harus bergerak naik dan turun di atas Akashi, namun ia masih mendapat bantuan Akashi dengan sebelah tangannya menahan pinggulnya. Tubuhnya bergetar hebat merasakan sensasi seks yang luar biasa. Ia memang pernah melakukan posisi 'woman on top' seperti ini, namun karena frekuensi seks mereka cukup jarang membuat Yuna sedikit kewalahan karenanya. Keringat membanjiri tubuhnya yang juga bergesekan dengan tubuh telanjang Akashi, ditambah lagi ia juga harus membuang rasa malunya untuk terus bergerak seperti ini.

"Haahh...haaa...ah! Aaah! Sei! Sei!"

"Keluar...bersa...ma..."

"AH!"

Keduanya menggelinjang hebat. Akashi mengeluarkan spermanya di dalam rahim Yuna dan Yuna kembali mengeluarkan cairan pasca klimaks yang meleleh membasahi kejantanan Akashi. Akashi kembali memeluknya dan kali ini ia juga membaringkan Yuna sekaligus mengeluarkan dirinya dari liang istrinya. Keduanya terengah-engah kehabisan tenaga, namun sisa-sisa klimaks masih terasa nikmat di bawah tubuh mereka.

Akashi menarik selimut merah marun yang sudah tak berbentuk lagi dan menutupi tubuh mereka berdua. Ia jadikan lengan kanannya jadi bantal untuk kepala Yuna yang sudah tak sadarkan diri lagi.

'Ah, memang. Yuna tidak tahan bila lawan mainnya itu aku,'batinnya sambil tersenyum puas menatap wajah polos Yuna yang sudah tertidur pulas.

'Kuharap kali ini aku berhasil membuat anak untuknya,'

Ia mengecup lembut pucuk kepala Yuna dan akhirnya ikut terbuai dalam mimpi indah.

To be continued

A/n: bagaimana? Kurang greget yah? Yahh, aku nulis sekitaran kegiatan malam masing-masing karakter aja sih sebenarnya bagi mereka yang kurang asupan. Heheheh XD. Selanjutnya aku bakal masukin Kagami dan Sarah untuk chapter selanjutnya. Jadi, jangan sampai bosen ya!