Together, We Laugh
By
Kuminosuki
Genre:
Friendship, Shounen, Shounen-ai
Rated:
T+
WARNING:
Cerita ini mengandung unsure Shounen-ai, bagi yang tidak suka harap menjauh. Kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan. Kesamaan tempat dan jalan cerita hanya kebetulan saja. Cerita ini 100% FIKSI.
.
Bacalah dari jarak 30 centimeter dari layar agar tidak merusak mata Anda.
Terinspirasi Dari:
Tight Rope (Shounen-ai)
Yamada Tarou Monogatari
Summary:
Hidup Kim Jaejoong yang biasa-biasa saja menjadi berbeda semenjak dia menolong teman sekolahnya, Jung Yunho, yang sedang terluka. Bukannya pergi dan segera enyah dari hadapan Jaejoong, Mafia muda itu malah mengklaim apartement Jaejoong sebagai markas rahasianya.
Chapter 02
.
.
.
Jaejoong menengadahkan tangannya di depan Yunho. Mata sipit itu memandangnya dengan tatapan tidak mengerti.
"Yak, kenapa dengan tanganmu? Kenapa kau menjulurkannya di depanku?" kata Yunho.
Jaejoong mengangkat sebelah alisnya, "Uang SEWA." Kata Jaejoong pelan dengan penekanan di kata 'Sewa'.
"Hah? Apa maksudmu?" Tanya Yunho semakin tidak mengerti. Ingin dia berteriak, tapi dirasa itu tidak cukup baik, selain karena bibir dan pipinya masih bengkak, Yunho pun merasa tidak enak jika harus berteriak pada pemuda yang sedang duduk bersila di atas lantai itu.
"Kau tidak mengerti?" kata Jaejoong, tangannya sudah dia tarik kembali, dan sekarang beralih terlipat menyilang di depan dadanya. "Kau seenaknya berkata bahwa kau tidak mau pulang sekarang—dengan alasan masih sakit. Lalu seenaknya pula kau berkata bahwa 'mungkin' kau akan tinggal di sini selama beberapa hari. Dan dengan seenaknya pula kau berkata bahwa apartemen ini cocok untuk menjadi tempat rehatmu." Jaejoong berhenti sejenak untuk mengambil nafas, lalu melajutkan. "Apa kau pikir apartemen ini gratis? Aku bahkan harus bekerja keras untuk membayarnya. Jadi, kalau kau ingin tinggal di sini, kau harus membayar uang sewa juga."
"Ya, ampun. Kau perhitungan sekali." Gumam Yunho.
"Tentu saja. Aku bukanlah seorang tuan muda yang selalu bisa menghambur-hamburkan uangnya untuk hal-hal tidak berguna." Balas Jaejoong.
Yunho berdecak, "Apa kau tidak mengenalku? Aku bisa saja membuatmu terusir dari ruangan sempit ini sekarang juga."
"Aku tidak peduli." Jawab Jaejoong. "Lakukan saja. Tapi sebelum kau melakukan itu, aku akan memastikan dulu kau aku tendang keluar dari apartemen ini." Kata Jaejoong tenang.
"Sebelum kau melakukan itu, aku pasti sudah memukul jatuh tubuh kecilmu." Kata Yunho.
"Oh! Benarkah? Kalau begitu ayo lakukan sekarang." Jaejoong bergerak dari duduknya dan menghampiri Yunho yang masih duduk di atas ranjang kerasnya dengan perban di mana-mana.
"Aww! Yak! Apa yang kau lakukan?" pekik Yunho saat jari-jari kurus Jaejoong menekan-nekan lukanya dengan kuat.
"Kau bilang akan memukulku, bukan? Ayo kita duel sekarang." Ucap Jaejoong masih dengan aksinya menekan-nekan luka yang bisa di raihnya dari tubuh Yunho.
Masih dengan terpekik, Yunho mencoba untuk menghalau jari-jari Jaejoong dengan tangan kanannya yang bebas.
"Aw! Ah! Hentikan! Hey! Berhenti aku bilang!" teriaknya. Tapi sama sekali tidak di dengar oleh Jaejoong. "Yak! Kau sadar jika sedang menyiksa orang sakit?"
"Oh, kau sedang sakit ya?" Jaejoong menghentikan aksinya dan menatap Yunho dengan wajah polos yang dibuat-buat. Yunho berdecak kesal.
"Kenapa kau menyebalkan sekali, sih?" kata Yunho.
"Menyebalkan? Oh! Harusnya kau mengucapkan kata itu untuk dirimu sendiri, tuan Jung yang terhormat."
Jaejoong mendengus kecil, lalu kembali duduk di lantai, menghadap meja kecil tempat buku-buku sekolahnya berserakan. Jaejoong memang sedang mengerjakan tugas sekolahnya saat Yunho terbangun dan merecoki kegiatannya dengan omongan dan tingkah yang menyebalkan. Jaejoong bahkan sama sekali tidak memandang takut pemuda yang terkenal jahat di kalangan teman-teman sekolahnya itu. Jaejoong bahkan sangsi kalau Jung Yunho itu mengenalnya.
"Hei, aku lapar. Cepat buatkan makanan." Kata Yunho dengan nada memerintah.
Jaejoong kembali mendelik, mata doenya yang terutup poni halusnya sedikit melotot.
"Apa kau tidak ingat, jika kau sudah menghabiskan soup ayam milikku? Dan sekarang kau meminta makan lagi?" ucap Jaejoong dengan kesal.
Yunho berdecak. "Aku sedang sakit, jika kau lupa."
"Oh, aku menyesal menolongmu."
"Yak!"
Jaejoong segera berdiri, "Kau tunggu disana, dan jangan macam-macam!" ucapnya sambil berjalan ke counter dapur.
Yunho mencibir, "Huh, cantik-cantik GALAK!"
"Apa kau bilang?!" sahut Jaejoong dari jauh.
"Tidak. Tidak ada apa-apa."
Sembari menunggu Jaejoong, Yunho memilih untuk menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. Dia sedikit mengeryit malas saat merasakan tempat yang ditidurinya benar-benar tidak nyaman, terlalu keras dan kecil. Ranjang ini hanya cukup untuk tubuh besarnya. Yunho tidak percaya dia bisa tidur di tempat tidur sekeras ini.
Yah, ini lebih baik daripada dia harus tergeletak pingsan di tanah keras dan lembab. Seharusnya Yunho bisa lebih bersyukur, jika saja Jaejoong tidak melihat tubuhnya yang sedang berhujan-hujanan sehabis berkelahi di taman kemarin malam, mungkin kondisinya tidak akan lebih baik dari ini.
Mata sipit Yunho beralih menatap buku-buku pelajaran yang tergeletak di atas meja lipat di lantai sana, alisnya mengeryit, dia merasa seperti pernah melihat buku yang persis seperti itu. Tas sekolah itu, ya, dia juga merasa seperti pernah melihatnya entah dimana. Dan sedetik kemudian, Yunho mengangkat kecil bahunya, tidak peduli dan lupakan sajalah.
Mungkin luka-luka di tubuhnya sedikit membuat Yunho lupa tentang dimana dia menuntut ilmu selama ini.
.
.
.
.
"Apa ini? Kenapa kau memberikanku makanan ini? Ini makanan orang sakit!" protes Yunho saat Jaejoong memberikannya sebuah nampan dengan semangkuk bubur di atasnya.
"Kau itu sakit, jika kau lupa." Ucap Jaejoong.
Yunho terdiam, di tatapnya Jaejoong dengan pandangan tidak suka, "Iya, tapi tidak begini juga. Aku bukan orang berpenyakitan yang harus makan bubur."
"Kalau kau tidak mau, tidak usah makan!" ucap Jaejoong seraya kembali membawa nampan itu ikut bersamanya ke dapur.
"Yak! Hei! Yak! Aku mengerti! Aku mengerti! Sekarang kembali kesini dan bawa bubur itu," seru Yunho. "Aku akan memakannya." Gumamnya kecil dengan bibir yang agak mengerucut ke depan. Untung Jaejoong tidak melihatnya, karena itu hanya terjadi sepersekian detik.
Setelah itu, Jaejoong berbalik kembali dan menyerahkan nampan yang dibawanya kepada Yunho. Dengan perlahan Jaejoong meletakkan kembali nampan itu di atas meja kecil yang ada di hadapn Yunho.
"Makan pelan-pelan, bubur itu masih panas." Ucap Jaejoong mengingatkan.
"Aku tahu."
Tanpa mempedulikan Yunho, Jaejoong pun kembali mengalihkan perhatiannya pada tugas-tugas sekolahnya. Yunho mengambil sendok dengn tangan kanannya yang bebas, lalu menyendok sesuap bubur. Dicicipinya sedikit.
"Umh, enak juga." Pikir Yunho sambil kembali menyuapkan kembali bubur itu, memasukkannya ke dalam mulutnya.
.
.
.
TBC dulu ya.
Sampai Jumpa Chapter Depan!
