Disclaimer: I do not own Skip Beat!
The Days of Lovers 2: First Date
Ren tersenyum mengingat saat ia menyatakan cintanya pada Kyoko tiga bulan yang lalu. Dia merasa bingung mendengar gadis itu menjawab dengan biasa saja dan ragu kalau gadis itu mengerti apa yang dia katakan atau tidak tapi tidak berani menanyakannya. Saat mengantar Kyoko pulang mereka sama-sama diam selama perjalanan. Benar-benar suasana tegang yang membingungkan.
Sesampainya di depan Darumaya, Kyoko tidak langsung turun seperti biasanya. Dia menunduk dengan tatapan kosong sampai Ren sempat mengira dia tidur dengan mata terbuka. "Kyoko?" dengan ragu-ragu Ren menepuk bahu gadis itu pelan namun Kyoko tersentak keras seolah habis tersetrum listrik. "O...oh? Sudah sampai?" gumamnya sambil menoleh kearah restoran. "Ada apa?" tanya Ren khawatir tapi Kyoko menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa." jawabnya sambil keluar dari mobil dan mundur satu langkah, mengingatkan Ren pada reaksinya setelah tes akting Katsuki di Dark Moon dulu tapi kali ini Ren tidak bertanya. Mungkin dia masih bingung, pikir lelaki itu sambil mulai menyalakan mesin kembali.
"Ah, tunggu!"
Kyoko menghampiri jendela mobil Ren dan mengetuknya keras-keras. Bingung, Ren membuka kaca mobilnya dan saat dia hendak bertanya ada apa apa, tanpa terduga Kyoko mengecup bibirnya sekilas dan wajah mereka berdua sama-sama memerah.
"Sampai jumpa besok…Ren."
Lalu secepat kilat Kyoko masuk restoran tanpa menoleh lagi pada pemuda yang ditinggalkannya terbengong-bengong. Setelah sadar dari trancenya, Ren menutup kembali jendela mobilnya dan kembali menyalakan mesin namun tidak langsung pergi. Dia tersenyum sendiri sambil mengelus bibirnya.
Dan saat ini Ren sedang bingung memilih baju yang akan dipakainya hari ini. Hari ini adalah kencan pertama mereka setelah jadian. Setelah pernyataan cinta itu mereka sama-sama disibukkan oleh pekerjaan masing-masing jadi walaupun bertemu hampir tiap hari di lokasi syuting drama terbaru mereka, drama kedua mereka bersama, mereka sama sekali tidak sempat kencan. Baru hari ini, berbulan-bulan setelahnya, mereka punya waktu untuk kencan.
Setelah bingung sejenak, dia memutuskan untuk memakai kaus hitam yang dipakainya saat menyatakan perasaan pada Kyoko dulu dengan jas putih Armandy, celana panjang hitam, dan sepatu hitam. Setelah bingung ingin pergi kemana (taman bermain dicoret dari pilihan karena takut di tempat yang banyak orang itu ada yang mampu mengenali penyamaran Ren, restoran juga dicoret karena takut mengundang kehebohan), mereka memutuskan untuk window shopping di Shibuya, tempat dimana orang tidak akan menoleh dua kali kearah orang yang mereka lewati. Kyoko bilang ada benda yang sangat ingin dibelinya di sana dan Ren merasa, mengingat bahwa jarang sekali Kyoko benar-benar menginginkan benda tertentu, penasaran benda apa yang ingin dibeli gadis itu. Sambil menebak-nebak benda apa yang ingin dibeli Kyoko nanti, Ren berjalan keluar kamar mansionnya menuju tempat parkir di basement untuk mengambil mobilnya dan langsung menuju Darumaya.
Di lain pihak Kyoko sedang sibuk mengacak-acak bajunya diatas tempat tidur. Tidak banyak pilihan, batinnya sambil melihat pakaian yang dimilikinya. Kyoko memang tidak terlalu sering membeli pakaian dan sebagian besar pakaiannya yang cocok untuk pergi keluar didapatnya dari okami-san dan hadiah dari rekan kerjanya di lokasi syuting. Dan pakaian-pakaian itu tidak bervariasi, sebagian besar warnanya putih, hitam, biru …..akhh! Dengan putus asa Kyoko menyambar blus baby doll putihnya dan legging hitam. Ini saja, putusnya sambil mulai mengganti pakaian. Aku tidak punya waktu untuk memusingkan pakaian, sebentar lagi Ren akan datang. Dan, dia berpikir sambil menatap wajahnya di cermin, aku belum dandan sama sekali. Dalam hati Kyoko menyesali keterlambatannya bangun pagi ini. Semalam dia nyaris tidak bisa tidur memikirkan kencan pertamanya hari ini. Dia terlalu gugup dan bersemangat sehingga akhirnya baru tidur jam 2 pagi. Sambil menangis dalam hati dia memakai bedak dan coloured lip balm di depan cermin. Ini jelas bukan dandanan yang ia ingin tampilkan di kencan pertamanya.
"Tiiiin…tiiiiin…!"
Kyoko nyaris terlonjak saat mendengar suara klakson yang amat dikenalnya itu. "Dia sudah datang! Aduh…bagaimana ini ?" gerutunya sambil bolak-balik dengan gugup di dapur. Dia masih merasa belum siap mental menghadapi Ren apalagi dengan penampilannya yang biasa seperti sekarang. Bagaimana kalau dia mengira aku tidak niat? Atau bagaimana kalau dia tidak puas dengan penampilanku? Pikiran-pikiran jelek seperti itu terus-menerus muncul dalam otaknya sementara dia berjalan bolak-balik menuju pintu dapur dan kembali dapur, ragu harus keluar menghadapinya atau pura-pura tidak ada di rumah. Toh Okami-san dan Taisho-san sedang pergi liburan ke onsen, tidak bakal ada yang bisa memberitahunya kalau aku ada di rumah…
"Ting tong!"
Kali ini Kyoko benar-benar terlonjak kaget. Dengan pasrah dia memutuskan untuk menghadapinya saja. Dengan sangat perlahan dia berjalan menuju pintu depan dan membukanya.
"Hai."
Ren tersenyum lembut di hadapannya, membuat napas Kyoko tercekat. Sampai kapanpun dia merasa tidak akan pernah terbiasa dengan kesempurnaan cowok ini. Bahkan sejak sebelum aku menyadari perasaanku padanya, aku sudah menyadari pesonanya ini…siapa yang tidak…
Di lain pihak Ren tersenyum melihat penampilan Kyoko. Walaupun tampak rapi seperti biasa tapi gadis itu terlihat agak kacau, seperti kurang tidur. Memang kedengarannya jahat tapi dalam hati Ren merasa senang kalau Kyoko kurang tidur karena memikirkan dirinya.
"Hai." balas Kyoko yang sudah lupa sama sekali soal kegelisahannya sebelumnya. Matanya menatap Ren dengan tatapan orang yang seolah sedang kena sihir. "Jadi…kita berangkat sekarang?" Ren bertanya. Kyoko langsung tersadar dari trance-nya dan mengangguk kaku. Setelah mengunci pintu dia mengikuti Ren ke mobil dan berangkatlah mereka.
Shibuya ramai seperti biasanya dan seperti dugaan mereka sebelumnya, tidak ada orang yang menoleh dua kali untuk melihat mereka. Ren dan Kyoko berjalan menyusuri kota dengan canggung, tidak tahu harus berbuat apa di saat seperti ini. Kyoko belum pernah pacaran seumur hidupnya (terima kasih banyak pada Shoutaro atas hal itu), karena itu dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat kencan seperti ini. Boleh tidak ya aku menggandeng tangannnya? pikir Kyoko. Bagaimana kalau dia malah marah dan menganggapku tidak sopan? Iya, kemungkinan besar dia akan berpikir begitu. Sepertinya Ren bukan tipe orang yang nyaman dengan pendekatan yang tiba-tiba…bukannya aku pernah mencobanya sih…
Sementara itu Ren juga mengalami kebingungan yang hampir sama dengan Kyoko tapi lebih dikarenakan bingung memilih untuk bersikap bagaimana. Di masa lalu dia sudah berpengalaman berkencan dengan berbagai tipe wanita, mulai dari yang bertipe murni sampai yang bertipe egois. Untuk yang bertipe murni, mereka menyukai perhatian yang tidak berlebihan. Mereka menyukai kejutan-kejutan kecil yang biasanya tidak mencolok seperti genggaman tangan. Kalau yang bertipe egois, tipe yang banyak di jaman sekarang, menyukai barang-barang mahal. Cukup ajak mereka ke restoran mahal atau belikan mereka tas merek terkenal untuk membuat mereka senang. Tapi Kyoko berbeda dari mereka. Sudah jelas dia masuk tipe murni tapi Ren tidak yakin dia akan senang dengan kejutan kecil seperti genggaman tangan. Dengan ciuman pipi (Ren menganggap itu kejutan 'kecil') saat hari valentine waktu itu saja dia sudah bersikap aneh, tapi, Ren berpikir, genggaman tangan tidak seekstrim ciuman pipi kan'?
Sambil mengerahkan seluruh keberaniannya Ren mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Kyoko tapi tepat sebelum dia berhasil melakukannya, Kyoko menjerit sambil menunjuk ke arah sebuah etalase. "Kyaa! Putri Odette!" dan menempelkan dahi ke kaca etalase tersebut. Sambil berusaha menyembunyikan rasa kecewanya Ren menoleh ke arah 'sesuatu' yang sedang dipandangi Kyoko dengan mata berbinar-binar. Sebuah parfum dengan botol kaca berbentuk angsa yang memakai mahkota dengan label Royal Snow. Mulanya dia merasa bingung tapi akhirnya tersenyum saat memahami kenapa Kyoko menyebut parfum itu 'Odette'. Swan Princess ya? Benar-benar pikiran khas dia.
"Itu benda yang kau inginkan?" Ren bertanya. Kyoko menganggukkan kepalanya penuh semangat. "Iya! Lihatlah dia, Tsuruga-san! Cantik, mungil, dan rapuh…benar-benar seperti putri sejati…" Kyoko menatap botol kaca itu dengan tatapan penuh khayal. Ren tertawa kecil melihatnya. "Kau mau aku membelikan itu untukmu?" tanya Ren. Kyoko langsung menoleh ke arahnya dengan tampang shock dan menggelengkan kepala kuat-kuat. "Tidak usah, Tsuruga- san! Aku mengajakmu menemaniku bukan untuk membelikanku itu!"
"Tapi benda yang ingin kau beli parfum itu kan'?"
"Memang iya sih, tapi aku mau membelinya dengan uangku sendiri. Aku sudah menyisihkan honorku selama ini sedikit demi sedikit untuk dia, lho!" Kyoko menjelaskan dengan nada bangga. "Begitukah? Kalau begitu sayang sekali." gumam Ren pelan tapi Kyoko bisa mendengarnya. " Apanya yang sayang?" tanya Kyoko bingung. Ren tersenyum menatapnya dan dengan gaya kasual dia mengaitkan jemarinya pada jemari Kyoko. "Padahal aku ingin membelikanmu sesuatu hari ini." jawabnya santai sementara wajah gadis yang digandengnya bersemu merah.
"Oh iya, Kyoko."
Kyoko tersentak mendengar Ren memanggilnya seperti itu. Dia belum terbiasa dipanggil dengan nama depannya saja oleh pria yang diinginkan nomor satu di Jepang yang sekarang sudah menjadi pacarnya itu.
" Y…ya?"
Tiba-tiba saja wajah Ren berada tepat di hadapannya, membuatnya kembali tersentak kaget. "Panggil aku 'Ren'." Ujar pria itu dengan nada hampir seperti memerintah
"Eh?"
"Tadi kau dua kali memanggilku 'Tsuruga-san'. Bukankah kita sepasang kekasih sekarang? Jangan terlalu formal begitu."
"O…oh! Maafkan aku!" ujar Kyoko sambil bersiap berlutut untuk melakukan dogeza tapi Ren sudah menariknya berdiri. "Aku tidak menyuruhmu untuk minta maaf kok."
"Tapi…"
"Kyoko, kau mau membantahku?"
"Tidak…"
"Kalau begitu, ayo kita masuk."
"Baiklah. Sekali lagi maafkan aku."
"Kyoko…"
"Iya, maaf."
…..
Setelah rentetan permintaan maaf dan sanggahan itu selesai, mereka pergi ke taman terdekat. Kyoko menunggu di bangku taman sementara Ren membelikan mereka waffle dan kopi. "Terima kasih banyak." ujar Kyoko saat Ren kembali dan menyodorkan bagiannya padanya. "Sama-sama. Cepat dimakan wafflenya, nanti keburu dingin." Ren menyarankan. Kyoko langsung menggigit wafflenya dengan terburu-buru dan menyesap kopinya yang hampir dingin. Mereka makan dalam diam.
Saat wafflenya hampir habis, tanpa sengaja Kyoko melihat ada sesuatu yang berkilau di dalam kertas pembungkusnya. "Apa ini?" gumamnya sambil merogoh bagian dalam kertas pembungkus itu. Matanya melebar kaget saat berhasil mengeluarkan benda itu dari dalam pembungkus.
"Hadiah untukmu." ujar Ren sambil mengambil kalung pink berhiaskan manik-manik putih tersebut dari tangan Kyoko dan memakaikannya pada gadis yang sedang membatu itu. Setelah kalung itu melingkar sempurna di leher Kyoko, Ren melingkarkan kedua lengannya di leher gadis itu dan mengecup bibirnya sekilas. Akhirnya dia memutuskan untuk bersikap alami saja tapi tanpa melakukan hal berlebihan. Melihat wajah kyoko yang bersemu merah karena tindakannya, bukannya memucat dan lari membuatnya merasa keputusannya untuk bersikap sudah tepat.
"Sebagai peringatan kencan pertama kita."
Bagian kedua selesai! Kira-kira bagian ketiga cocoknya judulnya apa ya? Tolong review dan kasih saran ya!
