Hi Minna!
Risa sudah berusaha untuk update kilat karena kemungkinan dalam waktu dekat ini akan ada pekerjaan menumpuk.
Di chapter ini masih menyiksa Ulquiorra dengan masakan Orihime,tapi di chapter depan bakalan full of romance mereka. Doakan saja.
Bagaimanapun Risa sudah berusaha untuk yg terbaik dan Risa masih belajar untuk bisa memuaskan Readers.
So… Enjoy,Minna!
Disclameir : punya Tite Kubo-sensei, Risa ngutang pinjem karakternya dulu :P
# # # # #
Aku berdiri didepan ruangan milik Unohana-sensei bersiap untuk melaporkan apa yg dilakukan Orihime padaku kemarin. Mungkin mengeluh lebih tepatnya. Aku teringat,pagi ini lidahku yg terasa kaku sudah dapat digerakkan dengan sempurna,beruntung kakek pulang dan memberikan salep padaku dengan bonus menertawakan keadaanku yg menyedihkan.
Greekk
"Schiffer? Sedang apa kau didepan ruanganku?" tanya Unohana-sensei
aku mengangkat kepala "ada yg ingin kubicarakan,sensei"
Seakan sudah mengetahui apa yg akan dibicarakan olehku,Unohana-sensei berusaha untuk mencari alasan agar tidak memberinya keluhan tentang makhluk pembunuh itu.
"Schiffer,sudah mau bel masuk. Sebaiknya nanti saja saat pulang sekolah atau jam istirahat"
"tidak bisa,sensei pasti akan kabur" ucapku dengan tegas
Seolah tidak mempunyai pilihan,sensei kemudian mempersilahkanku masuk dan saat aku ingin segera berbicara atau tepatnya mengeluh…
"aku tahu apa yg ingin kau bicarakan,Schiffer…"
Aku diam dan mencoba untuk mendengarkan dengan seksama apa yg akan sensei tidak bertanggung jawab ini katakan.
"apakah ia membuatmu diare? Atau…membuatmu muntah saat mencicipi kue buatannya?" tanyanya
"saya hampir kehilangan indera perasa"
sensei melotot.
Aku yakin,sebenarnya sudah bisa ditebak bagaimana Orihime membuat pencicip buatannya merasakan sakit perut atau mungkin muntah-muntah…tetapi hampir kehilangan indera perasa? Pasti sensei didepanku ini tidak pernah menyangka muridnya bisa menjadi sebuah ancaman.
"ehem…jadi,apa yg ia perbuat sampai membuatmu seperti itu?"
"ia mengoleskan sambal yg sangat banyak pada center Blackforest cake dan bukannya strawberry!" aku memberi jeda "sensei,apakah kau berencana mengorbankanku?"
"oh,tidak!tidak! apa yg membuatmu berpikir seperti itu,Schiffer?" bantah sensei dengan keringat dingin "mungkin kau harus menyalahkan dirimu sendiri karna kurang mengawasinya saat membuat"
Aku hanya bisa menghela nafas,mungkin aku akan mencobanya lagi untuk mengajari gadis yg sama sekali tidak mempunyai sense of cooking segera aku berdiri dan bermaksud untuk pergi dari ruangan tersebut.
"saya permisi" ucapku sambil menutup pintu
# # # # #
Seperti biasa aku memasuki kelas dan duduk dengan santai,tapi kali ini aku merasa ada yg memperhatikanku dengan pandangan yg tidak biasa. Mungkin sebenarnya sudah bisa ditebak siapa yg memperhatikanku itu
"ehm…Ulquiorra-kun"
Aku mengangkat kepalaku mendengar suara dengan nada bersalah tersebut
"lidahmu…baik-baik saja?" tanyanya
"sudah baikan" jawabku
Ia tersenyum,bukan senyum manis dan ceria yg biasanya ia perlihatkan. Tetapi senyum penuh penekanan akan perasaan bersalahnya padaku. Tunggu! Manis? Apakah aku menganggap gadis didepanku ini manis?
"syukurlah,Ulquiorra-kun…" ucapnya kemudian menatapku "jadi,aku akan mengulangi membuat Blackforest?" lanjutnya
Detik itu juga tiba-tiba lidahku kembali mati rasa. Aku lupa bahwa aku menyuruhnya untuk mengulangi Blackforest itu dan dia mengingatnya! Demi Las Noches,aku tidak mau kali ini nyawaku melayang…
Tunggu!
Bukankah hari ini kakek berkata paman Aizen akan datang? Ini benar-benar keberuntunganku,aku tidak perlu mengorbankan diriku untuk mencicipi kue buatan gadis ini.
"ehm… Ulquiorra-kun?"
Aku tersadar dari lamunanku, "pulang sekolah kerumahku. Masih ada sisa bahan kemarin"
Senyuman manis itu kembali diwajahnya yg entah kenapa membuat hatiku merasa lega,ia mengangguk dan segera pergi memasuki kelas. Tanpa kusadari melihatnya ceria kembali membuat ekspresiku berubah. Ya,tanpa sadar aku tersenyum.
"kau tersenyum,Ulquiorra?"
Gawat! Suara yg menyebalkan itu…
Mata birunya melotot seolah memastikan bahwa ekspresiku barusan bukanlah khayalannya.
"apa-apaan kau,Grimmjow?" tanyaku kesal
"haha aku melihatmu tersenyum,Emo… apakah berbicara dengan Onna itu membuatmu berubah?" ucapnya dengan nada mengejek
"sampah" makiku untuk kesekian kalinya
Cengiran tampak jelas diwajahnya "aku senang kau memiliki minat pada perempuan"
Aku meninggalkan Grimmjow yg masih melihatku dengan cengiran khas pada wajahnya. Benarkah aku sudah tertarik pada perempuan itu seperti kata Grimmjow? Atau memang kucing biru itu hanya mencoba untuk main-main denganku?
# # # # #
"pulang!" sorak sekelas penuh keceriaan
Aku merapihkan mejaku dan segera pulang melatih gadis yg tidak mempunyai sense of cooking itu. Mata hijauku melirik gadis yg masih saja berbicara dengan riangnya bersama teman tomboinya itu membuatku tergelitik akan suaranya yg khas.
"Schiffer!" panggil sebuah suara yg sangat kukenal
Aku terheran,untuk apa ia repot-repot datang ke kelasku?
"ada apa,sensei?"
"untunglah kau belum pulang. Sensei memutuskan,kalau mungkin saja bakat Inoue tidak di membuat kue tetapi di memasak," ucapnya bersemangat
Memasak?
Apakah sensei didepanku sudah frustasi atau dia memang ingin menyiksaku? Masalahnya,kenapa tidak dari awal dia mengatakannya sebelum lidahku mati rasa?! Aku benar-benar tidak bisa sabar menghadapi perempuan. Mereka makhluk egois. Sungguh.
"jadi… masakah apa yg harus kuajarkan padanya?" tanyaku
"Bagaimana curry rice? Sensei yakin dia bisa karna ini sudah sangat umum,"
Curry rice… cukup simple.
Aku melirik gadis berambut senja yg masih asik berbicara dengan teman tomboinya itu dan memutuskan untuk mencobanya.
"baiklah,sensei"
Sensei menepuk bahuku dengan ceria "bagus,bagus! Selamat berjuang,Schiffer!" ucapnya kemudian pergi
Aku menghela nafas,untung saja aku mempunyai bahan sederhana untuk membuat curry rice dirumah dan yg paling penting semoga saja masakan gadis itu tidak seburuk saat ia membuat kue.
"Ulquiorra-kun,kenapa sensei ke kelas kita?"
"tidak apa,hanya bilang lebih baik kau memasak curry rice saja"
Mata abu-abunya membesar,aku yakin ia mengerti maksud sensei menukar materinya dan mungkin saja kekecewaan akan terlihat pada wajahnya
"sepertinya menarik!" ucapnya dengan semangat
Atau tidak….
"baiklah,pakai saja bahan dirumahku,"
ia tersenyum melihatku yg masih membereskan tas membuatku binggung melihat gadis ini
"apa?" tanyaku
"Ulquiorra-kun kau sangat baik dan ramah,terima kasih" ucapnya tulus
Ramah? Ini adalah pertama kali ada seseorang yg mengatakan aku ramah. Biasanya orang akan mengatakan kalau aku dingin,pendiam,penyendiri bahkan kucing biru Grimmjow itu mengataiku dengan sebutan… ehem,Emo.
# # # # #
Kembali lagi kerumahku yg bergaya Spanyol karena kakekku asli Spanyol dan entah kenapa hanya aku yg dominan mengikutinya selain kulit pucatku tentunya.
"permisi" ucapnya ketika memasuki rumah
"ooh… kau membawa gadis manis pulang kerumah,Ulquiorra"
Ternyata kakek ada dirumah dan sedang duduk bersama pamanku,Aizen.
Orihime menunduk mengetahui kakekku menyambut bersama pamanku yg tersenyum kearahnya.
"maaf menggangu,saya teman sekelasnya Ulquiorra-kun…" ucapnya sopan
Kakek dan paman melihat Orihime dengan antusias membuatku merasakan firasat buruk dan aku tahu apa yg akan dikatakan mereka berdua setelahnya…
"ohohoho…. Pacar Ulquiorra yg semalam membuat lidahnya mati rasa?" kakek tertawa
"Beruntung sekali kau mempunyai pacar semanis ini,Ulquiorra" timpal paman
Aku menghela nafas dan melirik wajah Orihime yg ternyata memerah berkat ucapan mereka berdua membuatku terkejut.
"bu-bukan! Saya hanya teman sekelasnya,sungguh. Dan juga,maafkan saya sudah membuat lidah Ulquiorra-kun mati rasa " ucapnya tergesa-gesa
"ohoho… Ulquiorra aku tidak menyangka kau sudah besar" ucap kakek
"kakek,sudahlah. kau berpura-pura tidak mendengar ucapan Onna ini bukan?" jawabku datar "Onna,ayo cepat ke dapur dan segera siapkan bahan-bahan untuk memasak curry rice"
"kau mau kabur ya,Ulquiorra?" ejek paman
Sebisa mungkin aku berpura-pura tidak mendengar dan berharap paman segera memakan curry rice gagal buatan Orihime.
Bahan-bahan sudah siap untuk dipakai dan kami sudah sama-sama memakai apron yg kemarin kami pakai. Toh masih bersih,jadi tidak salahkan?
"Ulquiorra-kun… apa saja yg harus aku lakukan?" tanyanya polos
Astaga!
Kenapa gadis ini juga tidak tahu cara membuat curry rice? Bukankah dia hidup sendiri? Tunggu,sebenarnya yg menjadi pertanyaan adalah… bagaimana selama ini dia hidup?!
"Ulquiorra-kun?" tanyanya kembali
"urus sayurannnya terlebih dahulu" ucapku sambil mengambil sesuatu dari laci "ini resep yg beberapa bulan lalu aku tulis. Gunakan ini," lanjutku menyerahkan resep tersebut
Ia mengambilnya dan segera membaca resep tersebut. Aku hanya bisa berdoa agar tidak ada bahan aneh yg ia masukkan kedalamnya kali ini.
"Ulquiorra" panggil paman
Aku menoleh dan melihatnya menyuruhku untuk menemuinya diruang tamu bersama kakek. Terpaksa aku harus meninggalkan pengawasan terhadap gadis ini untuk sementara.
"aku kesana dulu. Lanjutkan seperti yg ditulis pada resep milikku dan jangan tambahkan bahan apapun itu. Usahakan cicipi setiap langkah yg kau lakukan."
"baik,Ulquiorra-kun" ucapnya kemudian fokus kembali
Sebenarnya aku sedikit khawatir,tetapi aku menyuruhnya untuk mencicipi masakan yg ia buat setiap langkah dan setidaknya membuatnya tahu apa yg kurang atau tidak beres.
2 jam kemudian….
Menyebalkan.
Aku meninggalkan gadis itu hanya untuk diinterogasi oleh kakek dan pamanku yg tidak percaya bahwa Orihime adalah pacarku! Apakah kami terlihat begitu mesra hingga mereka memandang kami pacaran? Apakah mereka tidak pernah sekolah hingga tidak tahu ada tugas dari sekolah menyuruh untuk mengajari yg lemah dalam pelajaran?
Aku melangkahkan kaki pada dapur berharap masakan gadis itu belum selesai sehingga aku mengetahui perkembangan masakannya. Tetapi setelah melihat dapurku,aku tahu itu adalah harapan terbodoh yg pernah kuminta.
Aku merasa berada di dimensi lain. Entah kenapa,pemandangan dapur yg dulu bersih dengan corak khas Spanyol hilang begitu saja dengan sebuah… entahlah,yg jelas dinding pada dapurku menjadi hitam! Dengan segera mata hijauku melirik seorang pelaku kejahatan disamping sebuah panci berukuran sedang dengan pandangan penuh penyesalan.
"Onna… " ucapku memberi jeda "apa yg kau lakukan pada dapurku?"
"U-Ulquiorra…kun,aku bisa menjelaskan. aku tidak tahu tiba-tiba saja saat menghidupkan kompor tiba-tiba saja curry dalam panci meledak dan mengotori dinding…lalu aku berpikir akan kubersihkan nanti setelah curry kedua yg kumasak ini selesai…"
Meledak? Apa maksudnya meledak? Apakah dia mengira dikomporku ada bom atau bahan mesiu sehingga saat ia menyalakannya… ah,sudahlah.
Mataku melirik panci disebelahnya "itu curry keduamu?" tanyaku
Ia mengangguk sambil memegang erat apron miliknya. Dengan segera aku mendekat melihat kedalam panci yg katanya berisi curry tersebut.
Guess what?
Dalam kuah berwarna coklat tersebut ada 'benda' mengambang berwarna kuning kecoklatan dan 'benda' cukup panjang berwarna jingga disampingnya. Ukurannya cukup besar dan aku tidak tahu apa itu.
"Onna… kemari," panggilku dan ia menurutinya "apa benda yg mengambang itu?" tanyaku dengan menunjuk kedalam panci
"kentang dan wortel," jawabnya
Kentang?! Wortel!?
Oke,memang kelihatannya seperti itu. tapi masalahnya,kenapa tidak dikupas dan dipotong kecil-kecil? Apakah gadis ini tidak pernah melihat dan memakan curry sebelumnya?!
"Onna… kau pernah makan curry rice sebelumnya?" tanyaku menahan kesabaran
Ia mengangguk "pernah"
"lalu,apakah bentuknya seperti ini?" tanyaku masih berusaha sabar
"ehm… sepertinya tidak," jawabnya innocence
"dan apakah kau mencicipinya dengan baik?" tanyaku hampir tidak bisa menahan kesabaran
"tentu,Ulquiorra-kun"
"apakah rasanya seenak curry yg kau makan?" tanyaku dengan kesabaran setipis kertas
"menurutku rasanya baik-baik saja kok," ucapnya dengan senyum
Aarrggghh!
Aku hampir gila. Gadis ini pasti psikopat dalam hal memasak,kalau tidak mana mungkin dia bisa menciptakan masakan seperti ini dengan logika manusia normal? Bagaimana mungkin rasanya baik-baik saja setelah aku melihat penampilan curry yg ia masak dan… yg telah ia perbuat pada dapurku!
"kenapa kau tidak mencicipinya saja,Ulquiorra-kun?" Orihime bertanya dengan polos
Aku meliriknya dengan frustasi,kupingku mendengarnya berkata untuk mencicipi masakan tersebut tapi otakku menterjemahkannya sebagai 'kenapa kau tidak bunuh diri saja,Ulquiorra-kun?'
Aku menarik nafas panjang dan berusaha untuk kembali tenang. Aku tidak bisa membiarkan diriku sendiri yg tersiksa,akan kubuat mereka berdua yg tertawa di ruang tamu merasakan penderitaanku!
"baiklah,sajikan dengan nasi di piring. Aku tidak mungkin makan dari panci itu" perintahku
Ekspresinya tampak secerah matahari saat aku mengatakannya dan aku hanya bisa berdoa agar dia tidak menguburku diam-diam saat akhirnya aku teracuni oleh masakan buatan gadis itu.
"oh,tolong sediakan untuk kakek dan paman juga"
Akan kugunakan gadis ini untuk membalaskan dendam pada kedua orang itu yg sudah membuatku tidak mengawasi psikopat ini tadi. Minimal biarkan mereka mengetahui seberapa berbahayanya masakan yg dibuat.
"Onna,aku akan memanggil mereka dan letakkan saja piringnya di meja makan setelah kau selesai" ucapku segera keluar dari dapur
Rasanya menyejukan melihat ruangan tamu yg bersih dan tidak seperti dapurku yg disulap gadis itu hanya dalam waktu 2 jam menjadi ruangan berwarna hitam yg siap ditinggali oleh makhluk-makhluk tak kasat mata. Mungkin setelah ini aku akan memanggil petugas kebersihan profesional untuk membersihkan semua itu.
Kembali ke ruang tamu. Aku melihat kedua kerabatku masih menonton TV sambil tertawa-tawa riang tanpa menyadari aku yg sudah ada dibelakang mereka. Aku yakin,setelah ini tawa itu akan berubah menjadi jeritan histeris dan semoga saja mereka tidak mati yg mengakibatkan Orihime harus masuk penjara.
"kalian belum makan,bukan?" tanyaku menyadarkan mereka
"oh,Ulquiorra. Apakah masakan cinta kalian sudah selesai? Benar-benar masa muda yg menyenangkan hoho," ucap kakek
"aku beruntung mempunyai keponakan yg baik dan calon istrinya yg perhatian" timpal paman
Calon istri?
Dadaku terasa hangat mendengar ucapan paman tersebut membuatku hampir saja tersenyum seperti kejadian disekolah tadi. Tunggu! Apa-apaan aku! Sadarlah Ulquiorra Schiffer…
"ayo ke ruang makan sebelum curry rice nya menjadi dingin" ucapku cepat-cepat membalikkan badan dan segera pergi dari tempat itu
"ah,Ulquiorra-kun. Aku sudah menyiapkan semuanya" ucap Orihime
Aku melihat ke meja makan dan hanya menemukan tiga piring diatasnya dan aku yakin dirumah ini sedang ada 4 orang termasuk yg membuat makanan ini.
"kau tidak makan?" tanyaku
"eh? Bukankah hanya untuk mencicipi…"
"ambil piringmu dan makanlah bersama kami. Sudah sore dan kau pasti lapar" potongku cepat
Aku hanya bisa berharap kali ini dia tahu bagaimana rasa masakannya setelah sudah jadi. Semoga saja minimal dia bisa menajdi peka.
Kakek dan paman datang dan duduk dikursi yg didepannya telah tersedia piring berisi curry yg bisa kutebak,mereka melotot melihat masakan milik psiko… ehm,maksudku Orihime.
"Ulquiorra,tadi kalau tidak salah kau mengatakan curry rice?" tanya paman memastikan
Aku mengangguk
"kau yakin ini bisa dimakan?" ia kembali memastikan
Aku kembali mengangguk
"ap…"
"ah,kakek dan paman Ulquiorra… selamat menikmati. Ini buatanku dan kuharap enak" potong Orihime yg datang tiba-tiba
Kakek dan paman hanya bisa tersenyum mendengar Orihime berkata dengan ceria seperti itu dan memutuskan untuk melihat isi di piring milik mereka masing-masing.
Orihime duduk disampingku sambil bersiap untuk makan dengan semangat. Aku melihat hal seperti ini bagaikan sebuah keluarga dengan Orihime adalah istriku…
"ada apa,Ulquiorra-kun?" tanyanya menyadarkanku
"tidak apa" ucapku datar
Aku kembali melihat piringku yg ternyata tidak jauh berbeda dengan milik kakek dan paman. seperti… entahlah silahkan kalian bayangkan saja curry rice dengan kentang dan wortel yg tidak dikupas dan dipotong kecil-kecil.
"selamat makan" ucap Orihime
Aku mengambil sendok dan berusaha untuk mengambil nasi pada piring dan apa yg terjadi? Nasinya mengeluarkan air seperti bubur!
Gadis ini…bahkan memasak nasi pun ia sampai separah ini?
"OHOK!"
Aku melihat kearah kakek yg ternyata sudah memakan curry rice buatan psikopat disampingku,ia terlihat tersiksa sambil terbatuk-batuk. Paman dengan gerakan cepat memberi kakek minum agar makanan yg mungkin tersangkut di tenggorokannya turun dengan selamat.
"kakek Ulquiorra-kun tidak apa?" tanya Orihime khawatir
"tidak, kakek hanya terburu-buru memakannya karena masakanmu sangat enak…" dusta kakek
"begitu… terima kasih,kakek Ulquiorra-kun" balasnya tersenyum
Sialan.
Apanya yg sangat enak? Terburu-buru? Lihatlah piringnya. Bahkan kakek hanya mengambil setengah sendok dari piring dan akibatnya… ah sudahlah.
Dengan wajah pucat kakek segera berdiri "sepertinya kakek perlu ke toilet,"ucapnya sambil berlalu meninggalkan kami yg hanya bisa menghela nafas
Kakek tua itu kabur. Aku yakin dia pergi ke toilet dan tidak kembali lagi sampai acara makan ini selesai. Baiklah,tinggal paman dan aku pesertanya. Tentu saja minus psiko… maksudku Orihime karna dia sendiri pasti akan mengatakan masakannya baik-baik saja.
"namamu siapa gadis manis?" tanya paman sambil tersenyum
Aku melirik paman dan aku yakin dia berusaha untuk mengalihkan perhatian karena ia sama sekali tidak menyentuh makanan di piring tersebut.
"Orihime Inoue,paman Ulquiorra… " jawab Orihime polos
Paman tersenyum " aku Sousuke Aizen. Apakah kau…"
"paman bisakah kau diam dan makan?" potongku cepat
Aku berusaha untuk membuat paman kehilangan kata-kata maupun alasan agar segera memakan masakan psiko… aarggghh! ORIHIME ini.
"kenapa kau sendiri tidak makan,Ulquiorra?" tanyanya masih dengan senyum
"akan segera kumakan," ucapku sinis
Aku kembali melihat makanan didepanku dan mengangkat sendok yg masih berisi nasi… ah maksudku bubur tersebut. Kuperhatikan dengan seksama, bagaimanapun aku tidak berharap akan selamat setelah memakan masakan ini. Aku hanya bisa pasrah dan memasukkan sendok itu ke mulutku…
"UHUK UHUK! OHOK…!"
Aku berhenti. Ya tepat sebelum kutumpahkan isi sendok pada mulutku dan kali ini paman yg tersedak sambil memasang wajah pucat. Dengan segera Orihime menghampiri dan memberi minum paman. Ah, Déjà vu…
"paman! Minnumlah!" ucap Orihime panik
Aku berdiri dan segera menghampiri keduanya. Paman terjatuh ke lantai sambil berusaha mengeluarkan sesuatu dari tenggorokkannya. Dengan sigap aku memukul punggungnya dengan tanganku yg kurus agar bisa menyiksanya membantunya untuk mengeluarkan benda apapun itu yg tersangkut pada tenggorokkannya.
"OHOK!"
Yap. Akhirnya keluar sebuah benda berwarna kuning kecoklatan yg aku tidak yakin untuk menyebutkan namanya itu.
"minumlah,paman!" ucap Orihime memberikan minum pada paman kemudian melihat benda yg dimuntahkan " paman tersangkut kentang… " lanjutnya kemudian
Paman melihat benda berwarna kuning yg Orihime bilang 'kentang' tersebut dengan putus asa. Entah kenapa ia seperti melihat sesuatu yg tak lazim keluar dari tenggorokkannya atau memang bisa dibilang begitu dalam memasak Curry rice.
"Orihime… " panggil paman
"ya,paman?" jawab Orihime polos
"apakah kau…. Pernah membuat dan memakan curry rice buatanmu?"
Aku hampir merusak poker face ku dengan tertawa mendengar paman menanyakan hal seperti itu pada Orihime. Paman tidak tahu apa pun karna jika kau menanyakan hal tersebut pada gadis ini pasti jawabannya….
"Tentu paman. Dan menurutku rasanya sangat enak. Apalagi saat dirumah aku membuatnya dengan menambahkan mayonaise," ucap Orihime polos dengan tersenyum
Dan setelah mendengar jawaban Orihime tersebut,paman pingsan.
# # # # # #
Aku mengantarkan Orihime pulang kerumahnya setelah kejadian makan malam tadi yg membuat kakek trauma dengan curry rice dan paman yg pingsan selama beberapa jam. Aku sendiri? Ya aku benar-benar beruntung tidak mendapatkan kesempatan untuk mencoba masakan psikopat ini berkat paman yg pingsan.
"Ulquiorra-kun…" Orihime memecah keheningan
"apa?" tanyaku
"apakah aku memang tidak berbakat untuk memasak?"
YA!
Seandainya aku bisa dengan tega mengatakan hal tersebut…
"ini bukan masalah bakat atau tidak," ucapku berusaha menghibur
"kemarin Ulquiorra-kun… sekarang paman Aizen… " ia memberi jeda "aku ini memang pembuat masalah,bukan?" lanjutnya dengan suara bergetar
Hatiku tiba-tiba merasakan sayatan mendengar suaranya yg menandakan ia hampir menangis. Apa yg harus kuperbuat agar dia bisa memasang wajah ceria kembali?
"Onna" panggilku
Ia tidak menjawab dan hanya mengusap air matanya tanpa bersuara
"kau tidak perlu sedih. Aku akan mengajarimu sampai kau bisa membuat sebuah masakan dengan benar,bahkan walau kau sudah menikahiku nanti"
Orihime tiba-tiba melihatku dengan mata abu-abunya yg basah oleh air mata tersebut. Wajahnya juga memerah… apa yg salah dengan perkataanku yg berusaha untuk menghiburnya?
Tunggu!
Tiba-tiba terlintas dalam otakku kembali apa yg barusan kukatakan. Menikahi?! Demi apapun itu,kenapa aku yg selalu penuh perhitungan mengatakan hal tersebut!
Aku… apakah tanpa kusadari aku telah menembak gadis yg tidak mempunyai sense of cooking ini?
# # # # # #
TBC
Uwaaahh!
Akhirnya chap 2 UlquiHime selesai!
Maaf jika ada kata-kata yg salah dan belum bisa memuaskan Readers.
See you next chapter!
RnR, please?
