Bokutachi no Melody

Disclaimer:

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi-sensei

Bokutachi no Melody © Akashitetsuya3 a.k.a Arisu

Lagu-lagu yang terdapat di fanfic ini © komposernya, males nulis satu-satu /dirajam/

Pair: AkaKuro

Warning: Typo(s), OOCness, dan lain-lain.

A/N: Ga kerasa AkaKuro Week tinggal sehari /lap ingus/. Tanpa banyak basa-basi langsung aja

Happy reading…..


The Melody Of Us

Sudah sebulan semenjak Akashi menjadi anggota klub musik. Sudah sebulan Akashi membantu Tetsuya setiap icy blue itu kesulitan mengerjakan tugasnya. Dan itu berarti, sudah sebulan juga Akashi dan Tetsuya berangkat sekolah bersama-sama.

Awalnya, Akashi ikut klub musik hanya bermaksud iseng. Awalnya, Akashi hanya tertarik dengan permainan piano Tetsuya. Dan awalnya lagi, Akashi hanya menganggap Tetsuya sebagai teman se-klub-nya saja yang kebetulan kamarnya satu tingkat diatas kamarnya.

Entah mengapa sekarang Akashi selalu merasa lebih semangat setiap mengikuti kegiatan klub musik itu. Ia tertarik dengan permainan piano Tetsuya, surai icy blue nya, tatapan manik aquamarine nya, suaranya, bahkan senyum tipis khasnya. Ia ingin Tetsuya menganggapnya sebagai seseorang yang berharga untuknya, tidak mau terpisah darinya, dan menjadikannya sebagai sosok satu-satunya.

Dan Ia tak tahu, mengapa Ia menginginkan itu semua.

.

Aku sangat ingin berada di dekatmu…

Aku sangat ingin engkau melihatku….

Aku tersenyum saat melihatmu bahagia…

Aku menangis saat melihatmu bersedih…

Aku menyukai semua semua yang ada pada dirimu…

Karena aku mencintaimu….

.

Akashi menutup novelnya. Tidak, bukan berarti Ia tersambar petir atau terbentur bola basket atau apalah itu. Demi Tuhan, Ia lebih menyukai novel dengan genre berat semacam Misteri, Science Fiction, Fantasy atau apa saja yang lainnya. Dan genre romansa, sama sekali tidak masuk ke dalam favoritnya.

Tadi ada seorang siswi yang meletakkan begitu saja novel itu di atas meja perpustakaan sekolahnya. Akashi tertarik dengan judul yang tertera disana, dan….meminjamnya.

Akashi bersandar di kursi meja belajarnya. Ia mendecih saat mengingat kutipan-kutipan romantis yang terdapat di novel tadi. Tidak, aku tidak mungkin sedang jatuh cinta. Setahunya perasaan semacam itu tidaklah berguna. Tidak bisa dimasukkan ke dalam akal pikiran dan logika. Bahkan dari novel ringan yang pernah dipinjamnya dari Mayuzumi –teman SMP-nya– disebutkan bahwa. Cinta hanyalah sebuah kesalahan dari sirkuit saraf manusia. Semua surat cinta dan coklat yang pernah diberikan padanya saat SMP dulu, semuanya selalu berakhir di tempat sampah dekat kelasnya.

.

Akashi menekan beberapa nomor di ponselnya.

"Halo?"

"Halo Tetsuya? Apa kau besok ada acara?"

"Sepertinya tidak ada, Akashi-kun. Tetapi ada apa tiba-tiba?"

"Err sebenarnya senar biolaku putus. Aku ingin membeli yang baru. Aku ingin kau menemaniku. Besok hari libur, kan? Kita bisa keluar asrama."

"Baiklah. Aku tidak keberatan."

"Kalau begitu besok pukul 1 siang. Selamat malam, Tetsuya."

"Tentu. Selamat malam Akashi-kun".

Akashi menutup teleponnya. Ia akan memanfaatkan kesempatan libur besok untuk mencari tahu apa penyebab dibalik perasaan yang mengganggunya selama ini.

.

Hari ini Akashi dan Tetsuya menghabiskan hampir setengah hari bersama. Mereka sudah ke toko musik, membeli senar yang baru. Mereka sudah ke toko pakaian,menemani Tetsuya membeli syal baru untuk musim dingin besok. Mereka pun sempat ke toko buku dan Akashi membantunya dalam memilih novel yang akan dibelinya.

Dan kini, mereka tengah beristirahat di sebuah restoran makanan cepat saji. Mereka duduk di sebuah meja di dekat jendela. Ia memesan Tiramisu Frappucino sedangkan Tetsuya memilik Vanilla milkshake.

"Tetsuya" seru Akashi membuka pembicaraan.

"Ya, Akashi-kun?" balas lawan bicaranya.

"Bolehkah aku bertanya? Pada saat aku pertama kali ke klub musik, saat kau memainkan lagu The Air On G String itu kulihat kau memainkannya dengan ekspresi yang…terlihat bahagia tetapi juga terlihat bersedih secara bersamaan. Boleh kutahu apa alasannya?"

Tetsuya terdiam sejenak. Sepertinya Ia terlihat ragu untuk menceritakan alasannya.

"Sebenarnya….aku hanya merindukan keluargaku. Aku senang bisa masuk di sekolah ini, tetapi aku juga ingin tetap bersama mereka. Kata orang, musik bisa digunakan sebagai media untuk mencurahkan perasaan kita. Itulah sebabnya aku bermain piano" jelasnya.

Akashi terkekeh. Polos sekali anak ini, pikirnya. Ia tidak ingat Tetsuya pernah berbicara sampai sebanyak ini.

"Apa kau begitu mencintai musik?"

"Tentu saja. Dulu, orang tuaku sibuk bekerja. Aku selalu merasa kesepian. Tetapi suatu hari nenekku mengenalkan music kepadaku dan mengajariku bermain piano."

"Begitu."

"Akashi-kun sendiri bagaimana bisa menyukai musik?"

Kali ini Akashi yang terdiam. Yah, sepertinya Ia bias membalas budi atas kebaikan Tetsuya yang sudah mau terbuka kepadanya.

"Bisa dibilang mirip denganmu. Dulu aku selalu merasa terkekang dengan semua tekanan yang berada di sekelilingku. Aku harus menang di segala bidang. Karena itulah aku harus mengikuti banyak bimbingan belajar. Tetapi Ibuku sadar akan perasaanku. Ia memberiku biola miliknya dan mengajariku cara memainkannya. Entah kenapa rasa penatku ikut terhanyut bersama dengan irama yang mengalir dari biola itu. Karena itulah aku mencintai musik, karena musik selalu mengingatkanku pada Ibuku."

"Etto.. memangnya sekarang Ibu Akashi-kun kemana?"

"Ibuku…sudah tidak ada" jawab Akashi terputus.

Tetsuya terdiam seribu bahasa. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Raut kesedihat terpancar dari wajahnya.

"Ma-maaf. Aku tidak bermaksud…."

Lagi-lagi Akashi terkekeh. Ia menjulurkan tangannya hingga mendarat di puncak kepala surai bluenette itu. Dielusnya icy blue itu perlahan-lahan.

"Aku tidak marah kok, Tetsuya. Justru aku senang karena kau mengingatkanku pada Ibuku lagi atas permainanmu pada hari itu. Terima kasih.

Yang dielus menatapnya. Raut kesedihan tadi bertransformasi menjadi tatapan hangat dengan senyum tulus menghiasi wajahnya. "Sama-sama, Akashi-kun."

Dag dig dug

Checkmate.

Ia sudah menemukan jawabannya.

Debaran yang sedang dirasakannya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.

.

Tiba-tiba sebuah ide muncul dari di benak Tetsuya.

"Akashi-kun, sebentar lagi festival budaya kan?"

"Kau benar. Memangnya kenapa?"

"Bagaimana kalau kita tampil bersama atas nama klub musik?"

Akashi mempertimbangkan ajakan Tetsuya. Sebenarnya Ia bisa saja melakukannya. Ia bermain biola dan Tetsuya yang memainkan piano. Ditambah lagi Ia merupakan anggota OSIS, yang berarti bukanlah perkara sulit untuk mengaturnya.

"Aku ingin bermain satu panggung dengan Akashi-kun."

"Baiklah. Aku akan mengurusnya."

Yah, setidaknya ini bukan ide buruk.

.

Dan begitulah Akashi dan Tetsuya menutuskan untuk berpartisipasi dalam festival budaya besok. Akashi mengurus formulir pendaftarannya, sedangkan Tetsuya mengurus jadwal latihannya.

Tetsuya menjadi lebih sering berkunjung ke kamar Akashi. Mereka latihan bersama disana. Mereka juga berangkat sekolah lebih awal agar bisa latihan pagi. Masih belum cukup, setiap jam istirahat mereka selalu pergi ke ruangan klub musik untuk melakukan latihan tambahan.

Rutinitas kegiatan tersebut terus berulang setiap hari, sampai akhirnya festival budaya kini sudah di depan mata. Akashi bisa melihat semangat Tetsuya terus meningkat dari hari ke hari. Katanya, ini pertama kalinya Ia tampil di hadapan banyak orang. Akashi tersenyum simpul setiap membayangkan Tetsuya seperti anak kecil yang sedang bersemangat menjalankan misi mencari harta karun.

.

11.15 PM

Akashi menutup buku matematikanya. Ia baru saja mengerjakan tugas yang diberikan siang tadi. Suara pianika masih terdengar dari atas kamarnya sejak usai waktu makan malam tadi. Akashi segera mengambil ponselnya.

To: Kuroko Tetsuya

Subject: Tidurlah

Malam sudah larut. Tidurlah, Tetsuya. Nanti kau mengganggu penghuni kamar lain.

Tak butuh waktu lama email itu langsung dibalas.

From: Kuroko Tetsuya

Subject: Re: Tidurlah

Sebentar lagi, Akashi-kun. Aku harus menyelesaikan sesuatu.

Akashi mengetikkan pesan baru.

To: Kuroko Tetsuya

Subject: Ini perintah

Jangan melawanku, Tetsuya. Jangan memaksakan dirimu. Tidurlah.

From: Kuroko Tetsuya

Subject: Re: Ini perintah

Baik, Akashi-kun. Setelah bermain selama lima menit aku berjanji akan langsung tidur.

Akashi tidak membalasnya. Ia menunggu selama lima menit. Setelah suara pianika tadi benar-benar sudah hilang, barulah Ia menyingkap selimutnya dan segera tidur.

.

Akashi membuka pintu kamarnya. Seperti biasa kini dihadapannya terlihat Tetsuya yang sedang menunggu sambil bersandar di pohon dekat asramanya ditemani dengan –tunggu, hari ini Ia tidak menunggu sambil membaca buku. Selain itu headset yang biasa dipakainya kini tak tampak dari penglihatannya. Akashi-pun melangkah menghampirinya.

"Tumben kau tidak sambil baca novel" sapanya.

"Benarkah? Oh iya. Aku lupa membawanya".

Akashi memperhatikan si azure ini. Suaranya terdengar aneh.

"Tetsuya, hari ini kau tidak seperti biasanya."

"Mungkin hanya perasaan Akashi-kun saja. Ayo kita berangkat."

Tetsuya langsung melangkahkan kakinya. Sayangnya, langkah itu terlihat sangat gontai. Baru beberapa langkah keseimbangannya mulai memudar dan–

"Tetsuya!"

Akashi segera menangkapnya sebelum tubuh itu ambruk ke tanah.

-To Be Continued-


A/N 2 : Klise? Bodo amat /HEH/. Ngomong-ngomong saya baru slese nonton Shigatsu wa Kimi no Uso. Ternyata anime itu juga ada piano sama biolanya ya /elus jenggot/. Saya nangis loh nontonnya /terus/. Yang satu ga berani nyatain cinta gegara penyakitnya, yang satunya ga berani nyatain cinta gegara dikiri orangnya suka sama sahabatnya. Gitu aja terus sampe Nigou punya character song /UDAH NAK/ /KAMU UDAH GALAU KEMAREN SEHARIAN/

Happy AkaKuro Week Day #6 ^^

Mind to review?

Danke,

Arisu