"Tit….. Tiiit….. Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttt!"

Brak! Aku menghempaskan tanganku diatas weker, hingga weker malang itu berhenti berbunyi dan tergeletak tak berdaya. Aku berusaha membuka mataku yang melekat erat bagaikan di lem super kuat, dan aku gagal.

"Hmmm…." Aku menikmati dengan bahagia menggeliat di kasur yang tiba-tiba saja menjadi 100 kali lipat lebih nyaman dan empuk dari biasanya. Godaan dari kebuah kasur memang tak mudah untuk ditaklukkan, apalagi oleh seorang gadis sepertiku.

"Tiiit…. Tiiit…" lagi-lagi aku mendengar suara yang mengganggu kebahagiaanku. "Lho? Alarmnya masih bunyi?" gumamku penasaran. Dengan berat, kuangkat kepalaku ke arah alarm. Dan alarmku, masih tetap tergeletak tak berdaya. Mati.

"Oh… suara cellphone…" gumamku sambil menepuk pelan keningku. Segera kuambil ponselku, dan kutekan lambang hijau pada layar.

"Hallo?"

"Selamat pagi. Ini aku, Rivaille. Ingatlah bekerja hari ini. Hari pertama kau tak boleh sampai telat," balas seseorang di seberang telepon.

Lagi-lagi aku menepuk pelan keningku.

"Ya baiklah!" ucapku singkat, kemudian kuputuskan hubungan teleponnya. "Bos macam apa ini… kenapa dia menghantui hari-hariku…" bisikku dalam hati.

Gara-gara mendengar suara berat dan suramnya tadi, membuat telingaku menjadi terganggu dan mood tidurku jadi menghilang entah kemana. Bibirku manyun. Kulempar cellphone-ku ke bantal, dan segera kuangkat badanku dari kasur. Aku segera menuju wastafel, dan mencuci wajahku.

Setelah wajahku basah sepenuhnya oleh air yang menyegarkan, aku segera merapikan sedikit rambut vermilionku yang kusut bagaikan terkena topan. Tiba-tiba saja, tanganku berhenti mengatur helaian rambut. Aku terdiam sejenak, berusaha mengingat sesuatu.

"Nama bosku itu… siapa tadi?"

Love in Freiheit Cake

Chapter 1 : Mocca Trimis With Little Girl's Taste

(Suichi Shinozuka)

Shingeki no Kyojin belongs to Isayama Hajime

'

'

Enjoy the story!

Aku berdiri di depan sebuah bangunan kecil yang katanya toko kue. Mulutku menganga, dan mataku terbelalak seperti orang idiot. Aku terpaku hampir 5 menit disana, sampai kulihat bosku menatapku dengan tatapan keheranan dari dalam toko.

"Ka—kapan pintu ini diperbaiki?!" Pekikku. Baru saja kemarin sore kulihat pintu kaca ini sudah hancur berantakan—karena ulahku— tapi kini sudah berdiri kokoh dan mengkilat lagi? Bagaimana bisa?!

"Sudahlah, tak usah banyak bicara. Cepat bantu aku hey pelayan," ucap pria bertampang dingin, dengan baju masak yang berbau vanilla. Berambut hitam legam, dengan tatapan yang tajam, sama seperti ucapannya yang menikam. Yap, dialah bosku.

Aku membuka pintu itu dengan pelan, takut merusaknya lagi.

"Hey, cepatlah. Kau lambat sekali. Kita tak boleh membuang banyak waktu," kata lelaki itu, sambil berlalu. Aku mendengus.

"Bawel."

Tiba-tiba saja, wajah tajam itu muncul lagi dari balik pintu, dan langsung membuat jantungku hampir berhenti. Aku terkesiap. "Dia dengar tidak yang tadi?!"

"Lain kali, kau harus bersikap sopan pada bosmu di telepon," ucapnya kemudian kembali ke dapur lagi. Aku menghela nafas lega, tapi tetap saja memasang tampang kesal.

Di hari pertamaku, sambil menunggu bosku membuat kue, aku memilih untuk membersihkan seluruh isi toko. Toko ini ternyata cukup bersih. Yah, mungkin karena sepi, jadi jarang ada debu. Aku mulai menyapu langit-langit, dan mengepel lantai parquet dengan sesempurna mungkin. Setelah semuanya selesai, aku tersenyum puas ketika melihat hasil karyaku. Semuanya bersih. Tanpa debu, dan sangat harum.

Perasaan puasku seketika suram. "Kenapa kukerjakan dengan baik tugas yang ia berikan?!"

Aku berjalan terhuyung-huyung, dan kujatuhkan badanku di kursi kasir. Daguku bertopang pada meja kasir, menunjukkan rasa malasku yang luar biasa. Beberapa menit kemudian, kucium bau vanilla, coklat, dan segala bau yang harum-harum dan enak menyeruak dari dalam dapur. Aku menoleh ke belakang, dan kudapati bosku sedang memegang nampan penuh kue-kue hangat. Ia meletakkannya di etalase.

"Sepertinya enak," ucapku basa-basi.

Pria itu menatapku tajam. "Ini bukan untukmu."

Aku melengos.

Di depan pintu, kulihat dua gadis SMA sedang mendongakkan kepalanya di pintu, kemudian memasuki toko dengan penuh keraguan.

"Ah, sudah waktunya. Lihatlah caraku melayani tamu, dan pelajarilah," ucap laki-laki itu. Aku mendengus kesal. Sombong sekali, padahal pakaiannya saja masih belepotan adonan!

Bosku menyambut mereka di depan pintu. Dan salah satu dari gadis SMA itu memberanikan diri untuk bertanya.

"Maaf, apakah ini toko kue?"

Bosku menghela nafas. "Menurutmu? Sesuai pengelihatanmu ini tempat apa?" balas pria beroktaf rendah itu. Gadis itu terkesiap. Aku pun ikut terkesiap. "Jika ingin membeli kue, pergilah kesana dan pilihlah kue yang diinginkan," lanjutnya.

Dengan penuh ketakutan, mereka berdua berjalan ke arah etalase. Wajah mereka membiru. Sungguh kasihan.

Sampai di depan etalase, bukannya langsung memilih, mereka malah berdiskusi dengan lama tentang kue yang ingin mereka beli. Entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya mereka kesulitan sekali dalam memilih kue.

"Hey, jika kalian tak ingin kue, lebih baik tak usah membeli kue, bukan?!" bentak bosku dari belakang.

"Hyah!" Pekik kedua gadis itu, kemudian mereka berdua berlari meninggalkan toko dengan ketakutan.

Pria berambut hitam legam itu menghela nafas. "Lagi-lagi gagal."

"Hey, ekspresi mereka seperti terjebak masuk ke kandang macan yang kelaparan, kau tahu," ucapku. Pria itu menatapku tajam. Gahh! Itu adalah tatapan paling seram yang pernah kulihat!

"Cih, tunggu saja pelanggan berikutnya, akan kuperlihatkan cara melayani yang baik," ucapnya lagi, kemudian melangkah kembali ke dapur. Sambil menunggunya bekerja di dapur, aku melihat-lihat kue yang ia buat. Hmm… harum sekali. Bentuknya juga, sungguh pekerjaan yang rapi dan sempurna. Aku jadi sangat ingin memakannya!

"Ah tidak, aku tidak akan memujinya. Tidak akan pernah!" Desisku pelan. Aku mengambil majalah lama di meja, dan membacanya untuk mengalihkan perhatianku.

Hampir dua jam berlalu, dan sama sekali tak ada pembeli yang datang. Aku mulai merasa bosan. Akhirnya, kuputuskan untuk melihat apa yang bosku kerjakan di dapur. Aku beranjak dari kursiku, dan kudapati pria bertubuh tak begitu tinggi itu sedang membaca buku tebal. Sepertinya resep kue.

"Mocca?" ucapku.

Pria itu terkesiap. Sepertinya konsentrasinya jadi pecah gara-gara kuganggu.

"Ya. Aku suka mocca," ucapnya singkat. Tatapannya masih terpaku pada buku tebal itu.

"Hmm… mau kubuatkan Mocca Trimis?" ucapku menawarkan diri. Yah, aku merasa bosan jika hanya duduk diam saja. Lagipula aku suka membuat kue. Jadi tak ada salahnya jika berbaik hati pada bosku yang brengsek satu ini.

Ia menaikkan satu alisnya. "Kau bisa?"

Aku tersenyum sinis. "Hey hey hey, jangan remehkan aku ya. Aku ini Petra Ral, lulusan tata boga di London dengan score yang memuaskan, kau tahu? Dan aku punya lidah yang peka dan terlatih," ucapku menyombongkan diri.

Pria itu masih menaikkan satu alisnya. "Hmm.. baiklah, buatkan aku satu kue mocca. Dan aku takkan memaafkanmu jika lidahku merasa tak puas," ucapnya.

"Hahaa, oke tunggu saja," balasku, sambil mengambil peralatan memasak. Kupecahkan telur, kemudian kucampurkan dengan gula, cake emulsifier, maizena, pasta mocca, dan bahan-bahan lainnya. Semuanya kuracik dengan lincah di loyang, sampai merata dan menebar bau manis yang menggiurkan. Kemudian kulelehkan mentega, dan kucampurkan ke adonan tadi. Kukocok adonan itu dengan mixer sampai mengembang, kemudian kupanggang hampir 20 menit di oven. Sambil menunggu, kukocok putih telur untuk membuat whipped cream, kemudian kuolesi whipped cream diatas kue yang telah matang, tak lupa kutaburi permen gula diatasnya agar lebih enak dan menarik.

"Tadaa! Mocca trimisnya sudah jadi!" ucapku riang. Kubuat kue itu sesempurna dan semenggiurkan mungkin, dan akan kubuat bosku terpaku tak percaya!

Kuletakkan kue itu diatas meja. "Fufufu, silakan dinikmati," ucapku riang. Pria itu menatapku dengan sinis.

"Kau tiba-tiba ceria dan suka senyum-senyum tidak jelas. Mengerikan," gumamnya.

"Errrggh!" desisku. Mengerikan katanya? Dasar pria tak tahu diri!

Lelaki itu kemudian memotong kue tersebut, Dan melahapnya. Tatapannya datar, tak ada perubahan. Ia terus mengunyah, sedangkan aku tetap tegang menunggu reaksinya.

"Rasa gadis kecil," ujarnya.

"Hah?"

"Terlalu manis. Manisnya itu, tidak alami. Terlalu mencolok dan menyengat dilidahku. Rasa mocca-nya jadi samar, padahal aku suka mocca," ucapnya. Aku menelan ludah

"Tekstur sponge cake-nya sih oke, tapi apa-apaan permen gula ini? Sangat tidak elegan! Aku tak suka. Kau saja yang makan," lanjut pria itu sambil mendorong piringnya ke arahku. Aku tertegun. Kue yang telah kubuat dengan susah payah, dia bilang tidak enak?

"Apa-apaan kau?! Apa kau tak bisa menghargai pekerjaan orang lain?" pekikku. Pria itu menatapku kaget. "Kau selalu saja menganggap remeh orang lain, dan selalu menganggap dirimu yang paling hebat, bukan?!" ucapku lagi. Otakku rasanya kalang kabut. Kata-kata itu, rasanya seperti keluar sendiri dari mulutku!

"Hey jaga ucapanmu…"

"Kaulah yang harusnya begitu! Kau tak pernah sopan pada orang lain, makanya tak ada pelanggan yang berani mendekati toko ini, bukan?" teriakku. Lagi-lagi ucapanku tak terkontrol.

Pria itu bangkit dari kursi, dan berjalan kearahku. Seketika badanku terasa dingin, takut bosku itu akan menamparku karena ucapanku yang tak sopan.

"Jangan mendekat!" teriakku. Tapi bosku itu tak menggubriskannya dan tetap saja mendekat. "Ugh!" aku semakin takut.

Dengan reflek, aku mengambil kue yang kubuat tadi, kemudian kulempar ke arah bosku!

"Brak!"

Kulihat whipped cream dan serpihan kue meleleh jatuh ke lantai, bersama bau-bau manis yang menyerbak. Baju bosku jadi berwarna coklat penuh dengan cream. Kotornya sangat parah, terutama wajahnya. Ya, wajahnya!

Sungguh, aku benar-benar kehilangan kendaliku. Kue itu kulempar dan tepat mengenai wajahnya! Kini wajahnya sangat kotor penuh warna coklat.

Aku meringis ketakutan. Rasanya ingin kabur!

"Kau… harus bertanggung jawab…" ucap pria dingin itu.

Mendengar itu, seketika aku langsung berlari ke arah pojok ruangan, dan memeluk lutut ketakutan. Ia kemudian mengejarku, dan berdiri di depanku. Wajahku membiru. Tolong jangan bunuh aku!

Kemudian, pria itu berjongkok, dan menjebakku dengan kedua tangannya.

Kabedon.

"Kau harus bertanggung jawab," ucapnya dingin. Aku meringis, sambil mengangguk pelan. Aku ketakutan.

"Aku suruh tadi kau untuk memakan kuenya kan? Nah, sekarang, makanlah kue ini," ucapnya sambil menunjuk ke wajahnya.

Aku tertegun. "Eh? Tapi kan jorok…" ucapku lirih.

"Lakukan," ucapnya tegas, sambil menatap irisku dengan sangat tajam. Aku meringis, tak berani membantah lagi. Kucolek pelan cream di hidungnya, kemudian kuulum di mulutku.

"Ah benar, terlalu manis," ujarku dalam hati.

Pria itu terdiam. Kemudian ia berkata, "gunakan lidahmu."

Bola mataku membesar mendengarnya. "What? Kau bilang apa?!"

"Haruskah kuulangi lagi?" Gunakan lidahmu," ucapnya datar. Aku mengerutkan alisku. Benar-benar hukuman yang mengerikan!

"Kau mesuuuumm!" pekikku sambil mendorong jauh bahunya.

Ia menggenggam kedua tanganku, dan mendekatkan wajahnya. "Lakukan."

Aku meringis. "Dasar pria mesum…" ucapku. Dengan penuh keraguan, pelan-pelan aku mendekatkan wajahku padanya.

Kujilat cream mocca yang melekat di pipinya.

Seketika jantungku berdegup sangat kencang. Sungguh, tubuhku rasanya lemas dan tak bisa melawannya. Rasanya panas, seperti sedang demam. Wajahku pasti sangat merah sekarang!

Setelah pipi, aku menjilat ujung hidungnya pelan. Seketika bibirku langsung bergetar. Jantungku berdegup hebat!

"Sudah!" teriakku sambil mendorong bahunya.

"Hmp. Dasar," jawab pria itu sambil mendengus. Kemudian ia berdiri, dan meninggalkanku. Ternyata dia pergi ke toilet. Tak lama kemudian, kudengar suara air yang mengucur dari wastafel.

Aku masih terpaku di pojok ruangan sambil memeluk lutut. Dengan sedikit rasa heran, aku bergumam, "lho? Dia menurutiku?"

Sepuluh menit kemudian, ia kembali dengan wajah yang bersih tanpa kue yang melekat. Hanya bajunya saja yang masih kotor. Ia mengibaskan kepalanya, agar rambut hitamnya tidak lepek. Tetapi, tetap saja agak lepek sedikit. Aku sebenarnya tak ingin mengakuinya, tapi ia agak keren...

Matanya melirikku yang masih terpaku dengan tampang yang bodoh. Tak lama kemudian, aku menundukkan kepalaku.

"Ma—maaf yang tadi, aku benar-benar tidak sopan. Terlebih pada bosku sendiri… aku benar-benar menyesal…" ucapku. Kali ini aku mengucapkannya dengan tulus, karena semua ini karena salahku. Aku cukup menyesalinya.

Tiba-tiba aku merasakan kepalaku dielus. Lembut, sangat lembut. Seketika, aku segera mendongakkan kepalaku, dan kudapati bosku sedang menundukkan badannya, dengan tangannya yang mengacak-acak rambutku.

"Tuan…"

"Panggil aku Rivaille," ucapnya dengan ekspresi yang datar.

Aku menggelengkan leherku ke kanan. "Tuan Rivaille?"

Lelaki yang bernama Rivaille itu mendesis. "Ya terserah kau saja."

Kemudian, kami berdua terdiam. Aku kembali menundukkan kepalaku.

"Yah…" Rivaille memecahkan keheningan. "Aku tidak akan memecatmu, walaupun kau kurang ajar. Kau akan tetap bekerja disini."

Aku mendongakkan kepalaku. "Benarkah?"

Lelaki itu mengangguk. "Tetapi ada syaratnya. Kau harus membuatkanku kopi setiap pagi. Setiap hari."

Aku melongo. Aku tak salah dengar kan?

"Eh, tunggu. Apa-apaan itu?!" jeritku. Aku tak mau membuatkan kopi tiap hari untuk bos sialan ini!

"Hoo, jadi kau menolak," Rivaille menjongkokkan badannya, dan menatap iris oranye stroberiku dengan bola mata abu-abunya. "Jadi kau ingin berurusan denganku di meja hijau mengenai insiden pintu kaca itu?"

"Ugghh!" aku benar-benar dipojokkan sekarang. Aku terjebak, dan tak bisa keluar sekarang. Aku benar-benar masuk ke permainan jebakannya yang menyedihkan!

Aku meringis. Wajahku menunjukkan rasa kesalku yang besar, dan pasti terlihat sangat menyeramkan. Kulihat pria itu tersenyum sinis.

"Uurrgghh!" Aku menggeram dengan hebatnya. Rasanya kesal sekali! Benar-benar pak tua yang sangat brengsek!

To be continued