Huwaa, maafkan saya atas keterlambatan saya meng-update fict ini. Udah berapa lama ya? #meriksa kalender tahun lalu. PLAK!
Gomenasai, gomenasai minna-sama
Dozo…
Disclaimer: Masashi Kishimoto mangaka Naruto. Aiko Fusui author fict ini.
Warning: drabble. Dalam part ini semuanya AU, OOC, typo(s) maafkan saya. Gaje. Romance. Tiap drabble bisa berdiri sendiri dan bisa juga disambung-sambungin.
Okeh, dengan salam penuh kamseupay, fui present…
This is my story, enjoy
Part II, ShikaTema (for Anwong)
Idealisme
Shikamaru hanya ingin hidup seperti awan. Bebas dan tenang. Ketika dia tua nanti, dia punya seorang istri dan 2 anak. Satu laki-laki dan satu perempuan, lalu dia meninggal duluan dan pergi dengan damai. Sayangnya semuanya tidak semudah itu.
Apalagi ketika 'dia' datang dengan temperamen khas-nya. Mirip seperti seorang ibu yang sangat galak dan cerewet.
Shikamaru tak tahu kenapa selalu gadis itu yang ada di sampingnya. Baik menjadi musuh maupun kawannya. Tapi, Shikamaru yang mudah bosan terhadap sesuatu itu, juga tak mengerti, kenapa ia tak bisa bosan dengan 'kehadirannya'.
Namanya Temari. Bermata tajam, galak, dan cerewet, tapi, Shikamaru pernah melihatnya tersenyum, dan saat itu ia baru tahu betapa memesonanya dia.
Shikamaru rasa, hidupnya tak begitu merepotkan.
Strategi Angin
Genap seminggu salju turun di musim ini. Mendadak semua terlihat putih dan licin. Langit yang beberapa waktu lalu masih tampak membiru, kini tampak pucat. Temperatur udara juga kurang bersahabat.
Rasanya ini bukan hari yang baik untuk keluar rumah.
Tapi, Shikamaru lebih memilih mencicipi dinginnya udara luar daripada diomeli terus-terusan oleh sang ibu karena hal sepele, tidak mau mencuci piringnya sendiri. Pemuda 16 tahun itu tak tahan jika harus mendengar celotehan beliau yang 'sangat merepotkan' itu.
Sambil memakai mantel coklatnya, dia berjalan menyusuri trotoar yang mulai tertutup salju. Sesekali ia melirik jam tangan hitam yang memeluk pergelangan tangannya.
Pukul 07.00, lima belas menit lagi gerbang sekolah akan ditutup.
"Hh, mendokusei." Keluhnya.
Raut mukanya terlihat tidak senang. Apalagi angin salju hari ini sangat dingin. Cepat-cepat ia menyingkir, berlindung di bawah lindungan kanopi sebuah halte bus yang kosong.
Segera pemuda itu duduk, menunggu. Sambil berharap ke langit akan ada beberapa sabitan kecil awan menggulung yang bersih. Awan yang bisa membawanya berangan dan sekedar membuat strategi hidup.
WUSH…
Bukan awan yang datang, melainkan sebuah terpaan angin kencang yang membawakannya sebuah syal tipis biru.
"He? Punya siapa ini?" gumamnya. Ditolehkannya kepala ke kanan dan ke kiri berulang-ulang. Mencari sesosok manusia yang mungkin saja kebingungan berlari-lari mencari benda miliknya.
WUSH…
Sekali lagi, angin bermain. Membawa seorang gadis yang berlari-lari terengah-engah menuju Shikamaru. Gadis itu mengenakan sepatu boot coklat dengan jaket tebal yang sewarna dengan iris matanya. Rambutnya yang lebat, dikuncir empat. Di mata Shikamaru, itu terlihat aneh, tapi menarik.
"Maaf, hosh, a-apa kau, hosh, melihat syalku, Tuan?" kata gadis itu sembari mengatur nafasnya yang masih kacau. Embun tipis yang keluar dari mulutnya sedikit mengena di wajah Shikamaru yang langsung buang mukanya yang memerah.
Tanpa berkata apapun, Shikamaru menyerahkan syal yang sedari tadi ia genggam. Pasti miliknya, pikir pemuda Nara itu. Benar saja, gadis itu menerimanya dengan senang. Mukanya yang tadi kelelahan sehabis berlari, seolah terhapus dengan kehadiran senyuman manisnya.
"Arigato, Tuan."
"Hm, Doita."
WUSH…
Untuk kesekian kalinya dalam hari ini, angin kembali berulah. Kali ini bukan hanya satu hempasan kencang, tapi berturut-turut. Seolah badai yang memerangkap keduanya di halte kecil itu. Seolah tidak membiarkan mereka pergi di jalan yang berbeda.
Ternyata, angin punya strateginya sendiri.
Rok pendek.
Rata-rata, cowok suka melihat cewek yang mengenakan rok pendek. Entah itu berbahan latex, kapas, sutera, atau apapun pokoknya rok pendek.
Dan terkadang para lelaki itu tak segan menyuiti atau memandang daerah rok pendek itu dengan serius. Berfantasi dengan hal–hal yang abstrak dibentuk benang serabut DNA mereka.
Perhatian, salah satu alasan yang sering kali manjur untuk menutupi niat mereka sebenarnya. Ada cewek yang suka, ada yang tidak. Salah satu cewek yang tidak suka di 'perhatikan' itu adalah Temari. Baginya itu sebuah pelecehan. Tapi sialnya semua sekolah di jepang seolah telah bersepakat bahwa semua siswi harus pakai rok pendek.
Saking tak sukanya, ia bisa mendamprat cowok kurang ajar itu sampai tak bersisa. Seperti hari ini, dirinya marah akibat merasa 'diperhatikan' oleh seorang cowok di daerah rok pendeknya. Temari berdiri tepat di depan cowok yang sekarang berusaha bangkit dari jatuhnya yang kelima kali.
"BUAGH!"
"Ugh"
Satu pukulan keras Temari mendarat mulus di pipi pemuda yang terlihat tenang itu. Lagi.
"WOA HAJAR! WUU…" sorak sorai membahana, mengelilingi keduanya yang terlihat tak seimbang itu. Beberapa anak memanas-manasi. Malah ada yang ambil taruhan.
Cowok yang bernama Shikamaru itu bangkit lagi. Ditepisnya sejumput darah di sudut bibirnya yang perih. Matanya yang sipit namun tajam melihat ke arah Temari. Memberi tekanan yang berhasil membuat Temari tersulut api lagi.
"Kau!" gadis itu siap-siap melayangkan tinjunya lagi di hidung si cowok, tapi terhenti dengan tangan Shikamaru yang seolah bilang 'Stop!'
Keduanya pun berhenti. Saling pandang dengan tajam.
Supporter pertarungan di sana terdiam, menanti adegan selanjutnya dari perkelahian seru ini. Mereka was-was, menahan nafas dengan tetap fokus pada si kedua petarung di tengah arena.
Kemudian, dengan nada yang sangat bijak dan terdengar menggurui, Shikamaru bilang, "Gue nggak niat mau merhatiin elo, tapi gue bingung mau bilang ke elo kalo resleting rok elo masih kebuka, mendokusei."
Spontan, semua anak di situ melihat ke satu arah. Resleting rok pendek Temari. Gadis itu tentu saja reflek memegangi bagian tersebut. Sepersekian detik kemudian, resleting itu tertutup. Beberapa anak cowok terlihat kecewa tidak bisa melihat resleting itu sedikit lebih lama.
Tapi, kekecewaan itu berganti dengan keterkejutan. Bagaimana nggak kaget, bila ada cewek yang bisa memukul seorang cowok sampai dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang hingga mengakibatkan si korban tak sadarkan diri?
BUAGH!
Hadiah terakhir untuk Shikamaru. Temari melangkah pergi dengan sebal. Raut mukanya merah, menahan malu dan rasa kesal yang menyerang secara bersamaan.
Shikamaru? Persis seperti yang di tuturkan di atas. Dia PINGSAN! Ey, tapi coba lihat, di wajah pemuda itu, ada satu senyum jahil, yang seolah mengejek si pemukulnya.
Sepertinya dia sudah mengalahkan Temari hanya dengan satu pukulan lewat kalimat sederhana. Jenius.
Antara tidur dan kencan.
Apasih kencan itu?
Pergi berdua? Nonton berdua? Main berdua? Makan bareng? Pulang bareng? Terus lanjut ke pacaran. Benarkah itu?
Temari tak tahu, lebih tepatnya tak peduli dengan arti kencan itu sendiri. Tapi, semenjak ia pacaran dengan Shikamaru, teman-temannya selalu bertanya apa yang sudah mereka lakukan. Bagaimana jalannya kencan mereka, atau pertanyaan lain yang semakin lama. Semakin membuat Temari gatal mendengarnya.
Kalau diingat-ingat lagi, dia jadian dengan Shikamaru tanpa prosesi awal kencan. Semuanya terjadi begitu saja. Serba kebetulan deh pokoknya.
"Bwahahha…." Teman-temannya tertawa dan itu semakin membuat Temari tak tahan. Jadi ia bertekad akan mengadakan kencan pertama luar biasa yang bisa membuat teman-temannya kagum.
Jadi, hari sabtu ini, ia nekat berdiri di depan pintu rumah pacarnya itu. Temari mengetuk pintu hingga seorang ibu keluar dengan wajah heran. Ibu Nara itu bertanya siapa dia, dan dia bilang bahwa dia pacar Shikamaru. Note, temari tak suka berbohong.
PLOK!
Ibu itu bertepuk tangan girang, wajahnya mendadak sumringah. Cepat-cepat beliau mendorong gadis itu ke atas. Ke kamar anak semata wayangnya. Beliau bilang kalau Shikamaru tidur dan Temari harus berjuang membangunkannya.
"Ganbatte, calon mantu." Kata ibu Nara, kemudian turun menuju dapur.
Temari perlahan masuk, melihat sekeliling kamar pacar pertamanya itu. Kalau dipikir-pikir, ini kali pertamanya ia masuk kamar cowok. Kamar Gaara dan Kankurou tak dihitung.
Di tengah ruangan, di ranjang kecil, terdapat segumpal selimut yang menggunung. Temari yakin itu Shika, hati-hati sekali, ia berjinjit mendekat. Berniat membangunkan si raja tidur itu.
"Shika…." Panggilannya pelan disamping ranjang.
"Hm?"
"Bangun." Perintah Temari lembut.
SLRAT
Cepat gumpalan selimut itu bangkit. Saking cepatnya hingga hampir membuat Temari terjengkang kaget.
'Eh? Kok gampang begini bangunin dia? Biasanya kan susah?' pikir Temari. Matanya membesar tak mampu menyembunyikan keheranannya itu. Shikamaru yang melihatnya mendecak.
"Aku sudah bangun dari tadi. Kau mau mengajakku kencan kan?"
Temari kembali terhenyak. Kok dia tahu?
"Tuh pakaianmu." Bilang Shikamaru lagi sambil menunjuk pakaian yang dikenakan Temari. Terlihat manis dengan renda-renda dan modelnya yang lolly. Persis sama dengan gadis-gadis yang akan pergi berkencan dengan pacarnya. Gadis itu tertunduk malu, menyembunykan rona kemerahan yang menyebar di pipinya.
Sekali lagi Shika mendesah. Dia turun dari ranjang, membuka jendela besar yang juga sebagai pintu balkon kecil kamarnya. Lalu dia mengambil dua kursi dengan sandaran busa yang empuk. Mengambil dua bantal, lalu ia tata kedua kursi itu. Tak lebih dari lima menit, Shika selesai dengan kegiatannya itu.
Temari hanya bisa terdiam melihat semuanya. Ada rasa penasaran yang besar terhadap apa yang telah dilakukan Shika pagi itu. Tapi, belum sempat ia mengutarakan rasa penasarannya, tangan kanannya di gamit Shika, menuntunnya menuju dua kursi di balkon kamarnya itu.
"Nah, kita kencan disini saja."
"Hah? Disini?" Temari kecewa, Shikamaru tahu itu dari nada perkataannya barusan. "Kau bahkan tidak mandi." Lanjut gadis itu berpaling muka.
"Huh, mendokusei, jujur yah, aku nggak suka kencan yang pergi-pergi gitu. Nonton lah, bioskop lah, dinner-lah, apalah, pokoknya aku nggak suka." jelas Shikamaru. Kalimatnya terhenti ketika melihat pundak pacarnya meluruh lemas. Kecewa kuadrat.
"Tapi, aku lebih suka tidur. Jadi, mari kita satukan. Kencan tidur. Kita akan berdua disini. Duduk dikursi yang nyaman sampai kita tertidur. Lagi pula arti kencan itu hanya berdua saja kan?"
Masih tak ada reaksi, tapi Shikamaru tak menyerah.
"Ayolah, kita bukan plagiat. Aku mencoba membuat kencan yang berkesan denganmu." Kata Shikamaru. Sepertinya dia sudah lelah merayu.
Kali ini berhasil, Temari berpaling padanya lagi. Dia tak mengangguk, tidak juga menggeleng. Tapi pandangan matanya penuh harap. Jadi Shikamaru tidak menyia-nyiakan harapan itu. Kembali ia menuntun pacarnya itu untuk duduk nyaman di kursi kanan. Lalu dia sendiri segera mengisi kursi kosong di sisinya.
Keduanya terdiam, menatap langit di depan mereka. Kemudian perlahan tangan Shikamaru merambat, menggenggam jemari Temari yang membuat gadis itu menoleh padanya. Tapi pemuda itu terpejam sambil tersenyum seraya mengeratkan genggamannya itu.
Mau tak mau Temari tersenyum juga. Perlahan ia menikmati ide ini.
Kencan tidur. Kencan diam.
Terkadang mungkin kencan tak perlu banyak gerak dan bicara. Cukup dengan saling menggenggam tangan dan terpejam di kedua kursi yang terpisah seperti ini, suatu kencan tak mudah dilupakan. Sepertinya Temari akan punya cerita kencan miliknya yang bisa membuat teman-temannya iri.
Jaa matta ashita
Dulu, pernah kedua orang itu berjanji di depan altar. Mereka akan terus bersama dalam keadaan apapun. Bahagia maupun sedih, susah maupun senang, sakit maupun sehat, mati maupun hidup.
Tapi kenyataan hidup tak ada yang dapat menerka. Itu semua rahasia Tuhan yang tertutup dalam kitab alam yang tak dapat dijabarkan. Bahkan oleh Shikamaru yang jenius sekalipun.
Temari di usianya yang sampai 73 tahun, wanita tersayangnya itu menutup nafas selamanya. Dalam ketenangan yang melenakan, wanita tua itu terbaring di ranjang besar milik mereka.
Di suatu pagi, ketika matahari saja belum menampakkan warna megahnya, Shikamaru bangun tak seperti biasanya. Dia meraba tangan isterinya yang telah berkeriput disampingnya.
Dingin. Diam.
Keganjilan itu membuat Shikamaru bangkit sempurna. Butuh waktu sekitar setengah jam bagi si jenius Shikamaru untuk menyadari kenyataan yang mengambil nafas isterinya.
Terputar lagi serpih memori semalam. Ketika keduanya bersiap berangkat tidur, mereka-seperti-biasa-berbincang. Membicarakan semua memori masa lalu dengan gaya khas lansia bahagia.
Ketika itu, untuk mengakhiri pembicaraan, Temari mengelus pipinya, membisikkan kata sayang seperti biasa. Hanya saja malam itu terasa lebih dalam.
"Jaa matta ashita…" Bisik wanita yang masih tampak kecantikkannya itu.
Shikamaru berjengit, tak biasanya wanita-nya ini mengucapkan kata seperti itu. Di malam yang sebelumnya, dan sebelum sebelumnya, Temari SELALU membisikkan 'Aishiteru' atau 'mimpi indah'. Tapi kenapa malam ini terasa lain?
Sayang, lelaki, 74 tahun terlalu lelah hingga hanya bisa menyerah terhadap rasa kantuk yang teramat berat. Ia tertidur di samping Temari yang membelakanginya.
Baru pagi ini tepat pukul lima pagi, Shikamaru mengerti kalimat Temari semalam.
Pukul 09.00 pagi waktu setempat….
Ini terakhir kalinya shikamaru bisa melihat wajah almahrum isterinya sabelum di kremasi. 2 anak 4 cucunya datang, memberi salam terakhir pada ibu dan juga nenek mereka.
…
"Shika, bagaimana kalau kita bertanding. Tentang siapa diantara kita yang paling tulus mencintai. Gimana?"
…
Itu 52 tahun lalu. Sekarang, sepertinya mereka tahu siapa pemenangnya.
'Aku masih bisa menyembahyangimu dengan cinta, Temari aku pemenangnya.' Batin lelaki tua itu.
Dia melangkah menjauh. Keluar dari ruang kremasi. Mata hitamnya menatap langit dengan awan-awan kecebong yang berarak pelan.
"Temari, disana kau juga harus mencintaiku. Jaa matta my hime…" bisikknya sendu.
Owari –
Terimakasih untuk "Anwong" yang sudah request ShikaTema. Semoga kamu dan teman-teman reader dan reviewer lainnya suka.
Part III, pair masih menuruti request dari teman-teman semuanya. Jadi yang mau dibuatin#pede, boleh request lewat review. Request paling banyak yang saya buat duluan. Hihihi. Oya, don't forget untuk ninggalin salam dan kesan kalian disini dalam bentuk REVIEW.
Sankyuu
Salam
Aiko Fusui
