"Kemarin Chanyeol membeli sabun mandi merek X, es krim rasa pisang merek A, dan sebuah lolipop rasa pisang merek G di supermarket O. Dia terlihat kesulitan memilih sabun mandi yang akan ia beli. Kau tidak akan percaya betapa manisnya wajah bingungnya saat ia sedang menimbang-nimbang antara sabun mandi dengan wangi lavender atau green tea. Astaga, aku ingin mencubit pipinya, kemudian akan kucium bibir tebal nan seksi itu, mengecupnya, menghisapnya, menjilatnya, me–"
"Baek." Sehun memotong ucapan sahabatnya tiba-tiba, membuat laki-laki pendek itu menoleh. "Berhentilah melaporkan kegiatan menguntitmu. Orang-orang mulai memerhatikanmu aneh –lagi."
Baekhyun melihat sekelilingnya dengan saksama dan ternyata memang benar. Beberapa teman sekelasnya memerhatikannya dengan alis bertautan, beberapanya bahkan ada yang berbisik-bisik. Laki-laki pendek itu berdehem, kemudian bersikap setenang mungkin. Sedangkan Sehun yang duduk di hadapannya hanya bisa memutar bola matanya bosan.
"Kemarin kau menguntit Park Chanyeol sampai rumahnya lagi?" tanya Sehun dengan wajah poker-face-nya.
Baekhyun mengangguk mantap menjawabnya –jangan lupakan senyuman lebarnya saat mendengar nama 'Park Chanyeol'. Sehun hanya bisa menghela napas panjang karena kelakukan aneh sahabatnya ini. Well, sebenarnya ini sudah tidak aneh bagi siapapun yang mengenal Baekhyun. Ini sudah satu tahun lebih semenjak Baekhyun jatuh cinta pada sosok tinggi bak tiang listrik itu dan Sehun tahu benar saat Baekhyun jatuh cinta, ia –secara tidak langsung– resmi menjadi penguntit –atau 'penggemar' menurut Baekhyun– Park Chanyeol.
"Sampai kapan kau akan menjadi penguntit–"
"Penggemar!" Baekhyun meralat kata Sehun cepat, membuat laki-laki albino itu memutar bola matanya kembali.
"Arasseo, jadi kapan kau akan berhenti jadi 'penggemar'nya Chanyeol? Kau tidak mau menyatakan perasaanmu?"
"Sehun, sudah kubilang menyatakan perasaan itu tidak seperti membeli bubble tea! Kau harus siapkan mentalmu sebelum melakukannya, belum lagi persiapan kalau-kalau kemungkinan terburuk terjadi." tutur Baekhyun dengan mimik serius.
"Menyatakan perasaan itu seperti membeli bubble tea, Baek. Kau harus persiapkan mentalmu kalau-kalau bubble tea yang kau inginkan sudah habis. Belum lagi kalau kau tidak punya uang dan kau benar-benar menginginkan bubble tea, kau harus menahan hasratmu untuk sementara." tutur Sehun dengan mimik tak kalah serius dan dibalas dengan tatapan datar dari Baekhyun.
.
.
.
###
THE REASON
Chapter 1 – Why did you ask me to be your boyfriend?
Main Casts : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun
Genre : Romance, Drama, School Life
Rate : M
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
Note: Yeay~ chapter satu publish! Saya bersemangat banget ngerjain FF ini dan benar-benar menantikan pendapat kalian akan FF ini. Setiap judul chapternya adalah pertanyaan Baekhyun untuk Chanyeol. Well, it's totally new and melancholic *victim of drama*. Chapter satu ini menjelaskan awal mula dari prolog yang saya publish kemaren, yah semacam flashback. Sebenarnya inti plot FF ini hampir sama dengan salah satu FF di blog saya, tapi mungkin ini lebih kejam aja *readers: WHAAAAAAAT?!* #lebe #abaikan. Tapi untuk chapter 1 sampe 3 blom keliatan kejamnya, masih fluff-tralala-trilili. Oke, gak usah lama-lama, kalian langsung baca aja. Enjoy~
###
.
.
.
"Kalau begitu, berlatihlah menyatakan perasaanmu. Itu pasti akan mengurangi sedikit rasa gugupmu kelak." Sehun menasihati.
Baekhyun menatap Sehun jengkel. "Kau pikir siapa orang yang berniat membantuku berlatih menyatakan perasaanku, tapi berujung dengan membuatku down, hah?" sindir Baekhyun pada laki-laki albino di hadapannya.
"Hey, aku hanya mendalami peranku, oke? Salahkan saja si Park itu karena telah menjadi orang super dingin di sekolah." Sehun membela diri seraya menyesap bubble tea coklatnya. "Dan lagi, caramu menyatakan perasaanmu itu aneh sekali, Baek."
"Lancang sekali kau!" Baekhyun memekik berlebihan. Sehun menatapnya datar. Ada jeda sejenak sebelum laki-laki pendek itu bertanya kembali, "Dan apa maksudnya itu?!"
"Maksudku, orang mana yang menyatakan perasaannya dengan mengatakan 'Aku mencintaimu, Park Chanyeol. Aku selalu memimpikanmu dalam setiap mimpiku dan bercinta denganmu. Kau selalu mengatakan bahwa lubangku sempit dan nikmat. Karena itu, jadilah kekasihku?'." cibir Sehun memperagakan ucapan Baekhyun saat berlatih menyatakan perasaan bersamanya seminggu yang lalu.
Baekhyun memutar bola matanya jengah. "Aku hanya bersikap jujur, oke? Kejujuran itu dasar dari sebuah hubungan."
"Kalian tidak punya hubungan!" Sehun menggeram frustasi.
"Ya, oke, kami memang tidak punya hubungan apapun. Belum, setidaknya. Tapi memangnya ada yang salah dengan bersikap jujur?"
Sehun menaikkan sebelah alisnya. "Uh..kalau yang kau sebut 'bersikap jujur' itu adalah 'menakutinya dengan pernyataan cintamu', kurasa dia akan lari terbirit-birit karenanya."
"Kau itu benar-benar Drama Queen." cibir Baekhyun.
"Dan kau seorang penguntit." balas Sehun dengan seringaian andalannya.
Sekakmat.
Baekhyun bungkam karena ledekan Sehun.
Laki-laki pendek itu hanya bisa cemberut seraya membuang mukanya. Well, meski Baekhyun selalu menyebut dirinya 'penggemar Park Chanyeol', tapi dalam hatinya, ia memang merasa ia cenderung seperti 'penguntit Park Chanyeol'. Tapi karena kata 'penguntit' itu adalah kata yang besar maknanya, maka ia haluskan menjadi 'penggemar'. Miris. *disambit baek*
.
.
Sehun baru saja keluar dari kolam renang setelah ia selesai latihan. Well, Sehun memang anggota klub renang dan dia merupakan atlet kebanggaan sekolah. Setiap sepulang sekolah, dia pasti akan latihan di gelanggang renang indoor sekolahnya sampai sore. Saat tubuh Sehun sepenuhnya keluar dari kolam renang yang cukup besar itu, itu memperlihatkan tubuh topless-nya yang putih dengan perut yang agak kotak-kotak –berkat latihannya selama ini. Rambutnya yang basah ia usap kasar dengan tangannya. Pemandangan itu pastinya membuat beberapa siswi –yang datang menonton acara latihan Sehun– memekik tertahan. Well, itu sudah biasa bagi Sehun dan anggota klub renang lainnya, jadi laki-laki albino itu hanya bersikap acuh menanggapinya.
"Oh Sehun!" Suara cempreng Baekhyun di tempat duduk penonton terdengar jelas. Sehun menoleh pada laki-laki yang lebih pendek darinya –yang kini sedang melambaikan tangannya penuh semangat. Sehun menatapnya datar saat menemukan Baekhyun sedang bersiap-siap dengan kameranya untuk memotretnya yang sedang topless.
"Apa yang sedang kau lakukan, hah?" tanya Sehun –agak terganggu.
"Memotretmu tentu saja. Ayo, buat ekspresi dingin lagi! Bagus, ya, begitu! Kau terlihat keren, Oh Sehun!" seru Baekhyun sambil tak henti-hentinya menekan tombol kamera. Sedangkan Sehun sendiri? Dia hanya bisa menatap datar sahabatnya yang kelewat antusias –dan sangat memalukan– itu. Ini memang sudah menjadi rutinitas Baekhyun setiap minggu –memotret Sehun yang sedang topless demi dijual pada siswa-siswi penggemar Sehun. Sehun ingat dia pernah berusaha menghentikan kegiatan gila Baekhyun, tapi sepertinya laki-laki pendek itu tidak pernah jera. Jadi, Sehun putuskan untuk membiarkannya saja. Sehun memang tidak suka difoto, apalagi untuk dijual pada penggemarnya. Tapi jika itu Baekhyun, Sehun tidak akan protes (karena mau protes juga percuma).
"Kukira kau akan menguntit si Park itu." celetuk Sehun seraya mengusap kepalanya dengan handuk kecil saat mendekati Baekhyun yang sedang melihat-lihat hasil jepretannya.
"Ini waktunya bisnis, sayang. Tenang saja, aku tidak akan melupakan sahabatku sendiri. Aku pasti menyempatkan waktuku untuk melihatmu latihan."
Sehun menatap datar Baekhyun. "Ya, untuk mendapatkan fotoku dan dijual pada orang lain'kan?" tanya Sehun sarkastis. Baekhyun hanya nyengir kuda menanggapinya.
Baekhyun adalah anggota klub fotografi dan dia sering diminta memotret Sehun oleh para penggemarnya. Tapi karena permintaan yang meledak, Baekhyun menjadikan ini sebagai bisnisnya. Untung saja Sehun adalah sahabatnya, jadi Baekhyun tidak perlu khawatir kameranya akan dibanting saat ia ketahuan sedang memotretnya.
"Tidak perlu khawatir, Sehun-ah. Lihat ini, kau terlihat tampan disini!" ujar Baekhyun seraya menunjukkan salah satu foto Sehun yang ia ambil tadi.
Sehun memutar bola matanya bosan. "Aku tidak percaya mereka mau membayar mahal untuk ini." Sehun mencibir.
"Eyy~ tidak perlu merendah seperti itu, Sehun-ah! Kau itu memang tampan kok, jadi wajar saja kau punya banyak penggemar."
Baekhyun tidak sadar akan perubahan pipi Sehun yang kini agak memerah karena ucapannya barusan. Tapi dengan cepat, laki-laki albino itu berdehem. "Kau akan menjual itu semua?"
"Ya, kecuali yang ini."
Sehun melirik foto yang sedang Baekhyun lihat. Itu adalah fotonya yang Baekhyun sebut tampan tadi. Well, dia memang sangat tampan disana. Apalagi dengan adanya efek cahaya dari arah sudut kanan atas serta bulir-bulir di sekitar tubuh dan rambutnya, menjadikan foto itu terlihat hebat bahkan tanpa editan.
"Aku akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Astaga, aku tidak percaya ini adalah laki-laki yang tidurnya suka ngiler!"
PLETAK! –Sehun menjitak kepala Baekhyun cepat, membuat laki-laki pendek itu meringis.
"Enak saja. Aku tidak pernah ngiler, tahu!" protes Sehun.
"Aku saksinya, bodoh!" Baekhyun menampar belakang kepala Sehun sebagai balasannya.
"Ck, lagipula kenapa kau mau menyimpan fotoku, hah? Jangan bilang kau mau mengguna-gunaku setelah kau ditolak oleh Park Chanyeol." Sehun memicing curiga.
"Pikiranmu itu dangkal sekali, Tuan Oh. Tenang saja, aku tidak akan menggunakan fotomu untuk hal-hal aneh."
"Lalu?" Sehun jadi bingung.
"Aku benar-benar suka foto ini. Ekspresi dan angle-nya sangat bagus, jadi akan kusimpan ini sebagai kenang-kenangan."
Wow.
Itu membuat Sehun agak terenyuh.
Selama ini, Baekhyun hanya menyimpan foto-foto memalukan Sehun, seperti fotonya yang sedang ngiler dan foto dengan ekspresi aneh lainnya. Katanya dia akan menggunakannya untuk saat-saat kritis –entah apa maksudnya. Tapi sekarang dia malah ingin menyimpan foto Sehun yang terlihat tampan di foto itu? Sehun sempat menganga dibuatnya.
"Ini asetku kalau tabunganku sudah habis." tambah Baekhyun kemudian.
Oke, Sehun tarik kembali ucapannya. Baekhyun memang menyebalkan.
Tapi..
"Kemarilah. Akan kukeringkan rambutmu sebagai ucapan terima kasih." ujar Baekhyun seraya mengambil handuk kecil di tangan Sehun dan mengusapnya di rambut Sehun yang masih basah.
..meskipun begitu, Sehun tetap menyukainya.
Bukan sebagai sahabat, tapi sebagai laki-laki.
.
.
.
Flashback
Sehun sedang membaca buku saat telinganya menangkap suara jepretan kamera tak jauh dari tempatnya duduk. Dialihkan matanya pada sumber suara itu. Detik berikutnya, alisnya bertautan sempurna karena ternyata kamera itu sedang memotretnya, tepatnya seorang laki-laki pendek sedang mengambil foto dirinya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sehun agak kesal.
Laki-laki pendek itu terkejut untuk sesaat, tapi kemudian dia malah tertawa kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang Sehun yakini tidak gatal sama sekali. "Hehe~ maaf. Habis kau tampan sekali, aku jadi ingin memotretmu. Aku suka sekali memotret objek yang indah. Lihat ini, fotomu yang sedang membaca buku terlihat hebat'kan?" seru laki-laki pendek itu seraya menunjukkan salah satu jepretannya.
Sehun menaikkan sebelah alisnya. "Kau tahu itu tidak sopan mengambil foto orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu."
Laki-laki pendek itu mengerucutkan bibirnya. "Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa untuk tidak mengambil objek indah."
Sehun mengerjap sekali. "Siapa namamu?"
"Byun Baekhyun. Kalau kau?"
"Apa kau tersesat?" Sehun tidak mengindahkan pertanyaan laki-laki pendek bernama Baekhyun itu.
Baekhyun mengernyit. "Tidak."
"Benarkah? Bahaya lho anak SD berkeliaran disini sendirian."
"Apa? Yak! Aku bukan anak SD! Sebentar lagi aku akan lulus SMP!" Baekhyun protes.
"Lihat? Kau juga kesal kalau orang lain mengataimu seenaknya'kan? Itu sama denganku. Aku tidak suka dipotret, jadi cepat hapus fotoku."
Mulut Baekhyun terbuka membentuk huruf O –baru paham maksud Sehun, tapi kemudian laki-laki bermata sipit itu berpikir sejenak. "Baiklah, akan kuhapus. Tapi maukah kau melihat hasil jepretanku sebelum aku menghapusnya?" pinta Baekhyun.
Sehun menghela napas kasar. "Baiklah. Mana?"
Senyuman Baekhyun terkembang lebar karenanya. Dengan hati gembira, laki-laki pendek itu duduk di sebelah Sehun seraya menunjukkan foto Sehun yang ia ambil tadi oleh kameranya. Saat Sehun melihat hasil jepretan Baekhyun, matanya sontak terbelalak. "Ini kau yang ambil?"
Baekhyun mengangguk pasti. "Bagaimana? Bagus'kan?"
Sehun tidak bisa berkata-kata lagi. Entah karena ia tidak begitu mengerti fotografi atau apa, tapi harus Sehun akui bahwa foto yang diambil Baekhyun benar-benar bagus. Padahal selama ini Sehun selalu benci difoto, tapi entah kenapa, dia suka sekali hasil jepretan Baekhyun. Fotonya yang sedang membaca buku di bawah pohon rindang terlihat begitu elok jika diambil dari sudut itu. Pencahayaan dan proporsinya begitu pas, padahal Baekhyun tidak mengeditnya sama sekali.
"Sekarang, kau mengerti'kan bahwa setiap objek indah itu harus diabadikan kamera? Seperti fotomu ini, kau benar-benar terlihat tampan disini~" Baekhyun tersenyum manis, membuat Sehun –entah kenapa– berdebar. "Jadi, aku boleh menyimpannya'kan? Aku janji tidak akan memberikannya pada siapapun."
Sehun berpikir kenapa Baekhyun menganggap dirinya sebagai objek indah, tapi dilihat dari mata sipitnya yang memelas itu, Sehun tidak berpikir bahwa Baekhyun berbohong padanya. Jadi, Sehun hembuskan napasnya, kemudian tersenyum simpul. "Baiklah. Kau boleh menyimpannya."
"Sungguh?!" tanya Baekhyun. Sehun mengangguk pelan. "Woah~ terima kasih ya! Um..maaf, siapa namamu?"
"Sehun," Sehun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, "Oh Sehun. Aku juga sebentar lagi lulus SMP."
"Hey, ternyata kita seumuran ya? Kupikir kau lebih tua." Baekhyun meledek.
"Yak!" Sehun tidak terima.
Baekhyun tertawa. "Senang bertemu denganmu, Sehun-ah~"
.
.
.
Sehun menyukai Baekhyun, tapi laki-laki pendek itu terlalu bodoh untuk peka pada perasaannya.
"Selesai!" seru Baekhyun –membangunkan Sehun dari lamunannya. "Kau sudah selesai latihan'kan? Ayo, kita pulang!"
Sehun tersenyum, kemudian mengangguk pelan.
.
.
Baekhyun dan Sehun sedang berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Hari sudah sore, jadi tidak terlalu banyak siswa ataupun siswi yang terlihat.
"Kau tidak mau coba cat rambutmu jadi warna hitam?" tanya Baekhyun iseng.
"Hitam itu warna yang membosankan, aku tidak suka." sahut Sehun acuh.
"Justru hitam itu warna yang elegan!"
"Kalau memang elegan, kenapa kau tidak cat rambutmu jadi hitam saja?" Sehun balik bertanya.
"Aku masih suka warna rambutku yang sekarang, lagipula aku tidak pernah melihat rambutmu berwarna hitam sebelum kita bertemu. Apalagi kulitmu lebih putih dariku, jadi warna hitam pasti lebih cocok untukmu." ucap Baekhyun dengan senyuman di bibirnya.
Sial.
Lagi-lagi pipi Sehun memerah karena senyuman manis milik sahabatnya. Tapi dia harus bersikap biasa saja. Dengan cepat, Sehun berdehem untuk menetralkan detak jantungnya.
"Kau mendaftar untuk kompetisi memotret, bukan? Kalau kau menang dalam kompetisi itu, aku akan cat rambutku jadi hitam."
"Sungguh?!" seru Baekhyun dengan mata berbinar-binar. "Janji?" tanyanya sambil mengulurkan kelingkingnya di depan Sehun.
Sehun tertegun untuk sesaat, tapi kemudian senyuman terkembang di bibirnya. Sehun menyahutnya dengan melingkarkan kelingkingnya di kelingking Baekhyun –membuat janji. "Janji."
"Assa! Aku jadi tambah semangat untuk kompetisi itu. Kau harus pegang kata-katamu ya!" seru Baekhyun heboh. Sehun hanya bisa terkekeh karenanya. Well, sifat Baekhyun yang seperti inilah yang membuatnya menyukainya. Baekhyun yang selalu bersemangat jika menyangkut hal-hal berbau fotografi dan selalu blak-blakan akan perasaannya terhadap sesuatu –meskipun terkadang selalu berlebihan– adalah hal yang Sehun sukai mengenai Baekhyun.
Sehun berharap semuanya akan terus seperti ini. Atau mungkin bisa lebih baik lagi.
"Baekhyun-ssi?" Suara bass di belakang mereka berhasil menghentikan langkah dua sahabat itu. Jantung Baekhyun sontak berdegup kencang karena kaget, begitupun dengan Sehun. Mereka berdua tahu betul siapa pemilik suara bass itu. Perlahan, dua sahabat itu membalikkan badannya. Mereka menangkap sosok Park Chanyeol tengah berdiri di hadapan mereka dengan ekspresi dinginnya.
"Y–ya?" sahut Baekhyun tergagap.
"Kau punya waktu? Aku ingin bicara sebentar."
Baekhyun tidak tahu kenapa jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada biasanya. Ini yang kedua kalinya Chanyeol bicara dengannya dan itu membuatnya gugup setengah mati. Di lain sisi, Sehun yang berdiri di samping Baekhyun hanya bisa menatap tajam Chanyeol. Namun yang ditatap tajam terus memakukan matanya pada mata sipit Baekhyun, membuat Sehun jengkel.
"T–tentu saja," Baekhyun menoleh pada Sehun sebentar dan berbisik, "Tunggu aku ya?"
Setelah Sehun mengangguk, Baekhyun-pun segera berlari menghampiri Chanyeol yang mulai berjalan mendahuluinya. Perasaan Sehun tidak enak. Firasatnya mengatakan akan ada hal besar yang terjadi saat Chanyeol mengajak Baekhyun bicara. Tapi Sehun tidak tahu apa itu. Dia hanya bisa berharap itu bukanlah hal buruk.
Di lain tempat, Baekhyun tengah menunggu dengan sabar kata-kata yang akan keluar dari mulut Chanyeol. Dia benar-benar gugup saat ini. Degup jantungnya mungkin hampir copot dari tempatnya karena terlalu cepat berdetak. Apalagi tatapan tajam Chanyeol memperburuk keadaannya yang sedang gugup setengah mati itu. Baekhyun hanya bisa memainkan jemarinya sambil menunggu Chanyeol bicara.
Sebenarnya apa yang ingin Chanyeol bicarakan denganku? Mimiknya serius sekali. Astaga, kalau dipikir-pikir, Chanyeol semakin tampan saja bila dilihat sedekat ini! Ya Tuhan, tenangkanlah jantungku! Jangan sampai aku terlihat konyol di hadapannya! –batin Baekhyun.
"Um..mungkin aku harus memperkenalkan diri dulu. Namaku Park Chanyeol, aku kelas 2B."
Ugh, ayolah! Itu benar-benar informasi basi! Baekhyun bahkan tahu apa yang biasa Chanyeol makan untuk makan siang dan kegiatannya setelah pulang sekolah. Hal seperti nama dan kelas itu sudah pasti Baekhyun tahu sejak dulu. Baekhyun bahkan sering mondar-mandir di depan kelas Chanyeol –yang letaknya agak jauh dari kelas Baekhyun di kelas 2F– demi melihat laki-laki bertelinga lebar itu. Tapi walaubagaimanapun, Baekhyun harus menahan diri untuk saat ini agar ia tidak terlihat seperti penguntit.
"Well, ini mungkin membuatmu bingung. Tapi..," Chanyeol menggantung kalimatnya, membuat Baekhyun semakin gugup, "..maukah kau menjadi kekasihku?"
TBC
Sekian untuk chapter 1. Pendek? Memang. Sengaja kali *digampar readers rame-rame*
Guys, saya masih bingung dengan endingnya nanti. Saya suka banget karakter Sehun disini, tapi saya juga masih suka Chanyeol. Jadi, saya minta pendapat kalian tentang endingnya, apakah harus HunBaek atau ChanBaek? Pendapat kalian akan menjadi pertimbangan saya dalam menentukan ending FF ini. Saya hargai jika kalian memberikan pendapat kalian #bow
Anyway, makasih banget karena udah review dan klik fav/follow FF ini. Saya nggak nyangka bakal banyak yang menantikan FF ini, makanya saya terharu banget. Ohya bagian nyeseknya masih agak lama munculnya. Saya ingin kalian menebak-nebak dulu alasan Chanyeol ngajak Baek pacaran.
Okay, mind to review?
