Senang rasanya mendapat dukungan dari para readers sekalian. Dhitta ingin melanjutkan sidestory yang tertunda ini.

Oh ya...seharusnya ini dijelaskan saat pertama-tama, tapi dhitta lupa ngejelasin masalah ini *digebuk*. Soal Karin, jika readers pada inget adegan pas The Shinobi Gank liburan naik kapal pesiar, disana ada adegan Sakura mencekik seorang pelayan yang bernama Karin. Awalnya dhitta ga mau masukin Karin dalam sidestory ini, tapi entah kenapa dhitta terinspirasi sama joy perawat di pokemon itu kan kembarnya banyak dan hampir semuanya mirip, jadi dhitta mau buat si Karin juga begitu *ditinju Karin*.

Terus dhitta sengaja memisahkan sidestory Kiba ini dari The Shinobi Gank series dan memindahkannya ke sidestory The Shinobi Gank. Soalnya panjang banget dan takutnya nanti malah jadi bercapter-chapter yang the seriesnya *kedok belaka* jadi dipisah deh. Tapi sidestory Sai ga dipindah ko cuma yang Kiba aja.

Semoga readers mengerti. Langsung aja deh...enjoy it...

Summary :"Aku tak akan menyakitimu selama kau mempercayaiku Sasame. Tolong jangan kecewakan aku jika memang kau mencintaiku..."

Disclaimer : Masashi Kishimoto

The Shinobi Gank

Sidestory : Unpredictable Kiba

"Fuma Sasame..." Gumam seorang wanita cantik berambut cokelat digerai. Sesekali ia melirik wajah pria dihadapannya yang sedang memasang tampang khawatirnya. Wanita itu tersenyum manis sambil mengelus kepala seekor anjing...err ralat tiga ekor anjing yang menggeliat di kakinya.

"Ya kak..." Jawab si pria. Wanita bertato taring sama seperti pria dihadapannya hanya bisa tertawa kecil melihat ekspresi sang adik yang menurutnya sangat lucu itu.

"Oh ayolah Kiba sayang! Ini tak seperti dirimu..." Ucapnya manja. Kuku-kuku jarinya yang berhias cutex berwarna merah rose itu mengetuk-ngetuk kertas yang ada diatas meja kerja adiknya Inuzuka Kiba. Mata kecokelatan milik putri sulung Inuzuka itu melirik kertas yang diketuknya. Sebuah kertas biodata karyawan lengkap dengan foto karyawan itu sendiri.

"Dia lajang?" Tanya Hana. Kiba semakin gusar dibuatnya.

"Ten...tentu saja...:" Jawab Kiba gugup. Hana menyeringai.

"Akamaru, sepertinya majikanmu ini sedang gugup ya?" Goda Hana lagi. Akamaru hanya diam saja. Anjing langka ini hanya menggeram ketakutan. Ia bersembunyi dibalik kursi kerja milik Kiba. Kenapa anjing besar ini takut? Sudah pasti karena ada tiga ekor anjing garang milik kakak majikannya. Siapa lagi kalau bukan Haimaru bersaudara.

"Menerima seorang pegawai yang sama sekali tak memiliki talent, berkas-berkas, dan pengalamam kerja. Ini sama sekali tak seperti dirimu adikku..." Kiba hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan kakaknya.

"Aku hanya kasihan padanya kak..."

"Hm...? Apa kakak tak salah dengar? Kau yang cuek begini sejak kapan jadi merasa kasihan begini?" Tanya Hana sedikit menekankan kata-katanya. Hampir semua yang bekerja di Inuzuka Boutique bukanlah orang yang sembarangan. Untuk masuk dan bekerja disini, mereka harus melalui persyaratan yang banyak. Kiba sendiri yang menetapkan peraturan ini agar tak sembarang orang bisa bekerja disini. Tapi Kiba sediri pula yang melanggar semua aturan yang telah ditetapkan dengan menerima Sasame sebagai pegawai barunya.

"Tak sepertimu yang selalu berdiskusi denganku sebelum mengambil keputusan. Apa ia orang penting bagimu?" Tanya Hana kembali. Kiba semakin terpojok.

"Ti...ti...dak kak. Aku hanya ingin menolongnya."

"Menolongnya dari apa?"

"Hah.." Kiba menghela napas panjang. Ia memang tak pandai berkelit, apalagi jika berhadapan dengan kakaknya yang selalu tenang ini.

"Ia sedang bermasalah dengan keluarganya. Ia memiliki kakak, dan kebutuhan ekonomi memaksa kakaknya untuk melakukan perbuatan nekat yaitu menjualnya sendiri ke luar negeri..." Jelas Kiba sedikit canggung. Hana menaikan sebelah alisnya.

"Dijual sebagai pekerja seks? Dan itu berarti ia akan menjadi seorang pelacur?"

"BUKAN!" Pekik Kiba keras. Tak sopan memang membentak kakakmu sendiri, tapi jujur entah kenapa Kiba tersinggung dengan perkataan kakaknya. Ia sendiri tak sadar akan perasaan itu. Ia langsung mengontrol emosinya dan menggumamkan kata maaf pada Hana yang kelihatannya sedikit kaget tadi.

"Maaf kak...maksudku.."

"Tak apa..." Hana tersenyum. Membuat Kiba semakin tak enak dan merasa bersalah. Hana adalah satu-satunya kakak yang ia miliki.

"Jelaskan apa alasanmu?"

"Aku hanya merasa wajib untuk melakukan ini kak. Aku yakin Sasame bisa bekerja dengan baik meskipun usianya terlalu muda dan tak memiliki sama sekali pengalaman bekerja. Tapi percayalah, dia baik dan aku yakin ia takkan berbuat yang macam-macam."

"Disaat kita berkumpul dengan keluarga, bergelimang kekayaan dan bersenang-senang. Ia harus menanggung semua masalah ini kak. Kedua orang tuanya telah meninggal dan kini ia hanya memiliki seorang kakak...dan seperti yang kuceritakan tadi. Aku merasa hidupku akan semakin lengkap jika aku mampu menolong orang lain dengan kemampuanku sendiri." Jelas Kiba. Ia menatap yakin mata sang kakak. Tanpa ada keraguan sedikitpun.

"Kau telah dewasa adikku. Kakak mengerti perasaanmu..." Hana tersenyum. Ia bangga telah memiliki adik seperti Kiba. Selama ini ia selalu berfikir kalau adiknya ini tak lebih dari anak manja yang tak bisa diandalkan dan hanya memaksakan kehendak.

"I...itu berarti kakak mengizinkan Sasame bekerja disini?"

"Butik ini adalah milikmu. Inuzuka Group akan dikelola dan dimiliki olehmu sepenuhnya. Jadi kenapa kau harus meminta izin padaku, Tuan direktur?" Hana tertawa sumringah. Kiba langsung bangkit dari kursinya dan menghambur kepelukan sang kakak. Sudah lama ia tak begini, tapi tak apa. Sesekali ia ingin merasakan pelukan dari kakak perempuannya itu.

"Hanya kakak yang mengertiku selain ibu. Terima kasih kak..." Gumam Kiba.

"Hm...sudah lepaskan, pelukanmu ini bisa membuat suamiku cemburu..." Ucap Hana. Ia tersenyum seraya mengusap kepala adiknya lembut. Sekitar dua tahun yang lalu, Hana menikah dengan seorang seniman muda asal Amerika bernama Hayden. Sampai sekarang pasangan beda keturunan ini belum memiliki seorang anak. Beberapa bulan yang lalu Hana sempat dinyatakan hamil sebulan namun beberapa minggu kemudian tinggal di Washington bersama Hayden. Kehidupan sebagai seorang istri seniman dimulainya dari nol. Sampai akhirnya ia dan suaminya yang bule itu telah memiliki sebuah sanggar lukis yang cukup terkenal di Washington DC.

"Tapi ingat, jangan terlalu mengistimewakan dia. Kakak tidak mau ada keributan hanya karena para pegawai lainnya iri. Dan satu lagi, kau tak perlu mencurigainya tapi tetap harus waspada. Banyak orang sepertinya yang memanfaatkan orang seperti kita. Tapi tak menutup kemungkinan pula ia seperti itu." Nasihat Hana. Kiba mengangguk mengerti.

"Baiklah kakak pergi dulu. Aku ingin menemui ibu..."

"Eh...ada apa kak? Apa ibu sedang ada masalah..." Tanya Kiba penasaran. Hana menggeleng.

"Kau ini lupa, aku kan baru kembali dari Washington. Aku sudah rindu pada ibu!" Hana segera mengangkat tasnya dan mulai mengisyaratkan ketiga anjingnya untuk pergi.

"Kak..."

"Hm...?"

"Terima kasih! Dan jangan lupa ajak Hayden untuk datang ke acara pembukaan musim gugur butik ini!" Hana mengangguk dan sedikit tersenyum saat menatap wajah adiknya.

"Pasti! Dan kenalkan juga sosok pegawai barumu itu secara resmi padaku dan Hayden ya!"Sebelum sempat mendengar sanggahan dari adiknya, Hana telah terlebih dulu pergi. Kiba hanya memandang punggung kakaknya sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu ruang kerjanya.

Pria berambut cokelat gelap ini langsung menghempaskan tubuhnya dikursi managernya yang empuk. Ia tersenyum sendiri. Bukan karena ia gila, melainkan karena ia sedang senang. Senang karena Hana telah memberi sinyal baik untuknya dan gadis berambut orange itu.

00000000000000000

Musim gugur telah datang. Inuzuka Boutique sendiri telah membenahi diri untuk menyambut musim yang penuh dengan daun berguguran ini. Semua dekorasi butik berkelas ini dirubah sesuai dengan tema yang telah ditentukan khusus untuk menyambut musim gugur. Tak hanya itu berbagai koleksi pakaian baru alias new arrival telah tertata rapi. Para pegawai juga telah bersiap dengan seragam baru mereka yang khusus disiapkan menyambut musim gugur.

Selain sebagai pertanda baik karena akan datang banyak pengunjung seperti tahun lalu, musim gugur juga sebagai pertanda tepat satu bulan gadis berambut orange ini bekerja di Inuzuka Boutique.

Keramahan dan senyumnya yang manis membuat ia banyak disukai oleh para pelanggan yang telah merasakan pelayanan dari Sasame. Banyak pegawai lain menerima dengan baik kehadiran Sasame selain Karin dan Shizune. Mereka menerima dengan baik Sasame karena memang Sasame anak yang baik dan tak macam-macam.

Tapi tak jarang kepolosannya dan sifatnya yang penurut dijadikan alat oleh para pegawai lain untuk menyuruh-nyuruh Sasame untuk mengerjakan ini itu. Tapi sampai saat ini belum ada reaksi apapun dari sang manager Kiba. Karena memang belum ada perilaku berlebihan dan Sasame masih menerima saja diperlakukan seperti itu.

"Sasame-chan..." Tegur Karin. Ia langsung membantu Sasame melipat beberapa potong pakaian yang berantakan.

"Karin-chan tak perlu repot-repot, biar aku saja yang bereskan.." Sasame mencegah Karin untuk membantunya.

"Che...ini kan pekerjaanku juga!" Karin tersenyum menenangkan. Sasame merasa beruntung dapat memiliki teman-teman seperti Karin dan Shizune. Dan yang lebih penting, ia merasa sangat bersyukur dapat diterima dengan baik bekerja disini.

Mata kecokelatan gadis berambut orange ini menangkap ada seorang wanita cantik rupawan yang berjalan anggun menuruni tangga. Sepertinya ia bukan orang sembarangan terlihat dari penampilannya. Wanita itu tersenyum ramah pada semua pegawai yang menyapanya sopan. Sasame yang belum pernah melihat dan mengetahui siapa gerangan wanita itu hanya bisa mengikuti Karin yang menyapa wanita itu.

"Dia itu cantik sekali ya Sasame-chan!" Bisik Karin.

"Maaf memang dia itu siapa?" Tanya Sasame tablo. Karin hanya terkikik geli.

"Dia itu calon kakak iparmu tahu!" Ledek Karin dan langsung membuat wajah Sasame semakin bingung.

"Dia adalah kakak perempuan dari Tuan Muda Kiba!" Bisik Karin. Sasame merasa pipinya memanas saat ini juga karena mendengar nama atasannya itu disebut. Semenjak kejadian romantis saat dirinya pingsan dulu, sikap Kiba semakin baik saja. Ia selalu tersenyum ramah pada Sasame. Tapi bukan berarti Kiba memperlakukannya istimewa, ia memperlakukannya sama seperti pegawai lainnya.

Tapi tetap saja semua pegawai sering menganggap Sasame adalah pegawai istimewa karena dapat diterima dengan baik padahal tak memiliki keahlian apa-apa.

"Dia itu adalah Inuzuka Hana. Wanita berusia dua puluh enam tahun! Ia cantik sekali, ia tinggal di Amerika bersama suaminya yang astaga tampannya selangit!" Bisik Karin heboh. Sasame hanya bisa tersenyum kecil menanggapi ocehan rekan kerjanya. Matanya tak lepas dari sosok sempurna milik Hana. Memperhatikan detail tubuhnya yang terbalut sebuah mantel bulu lembut berwarna dark blue. Rambut cokelat panjangnya digerai menggoda. Kakinya yang jenjang dibalut celana pas warna cokelat dan sepatu boots berhak tinggi berwarna hitam.

"Kalau tidak salah nama suaminya Hayden! Ya Tuan Hayden! Orangnya putih sekali, rambutnya agak cokelat! Huwaaaaa! Tampan sekali!" Bisikan Karin semakin menjadi. Tak henti-hentinya ia mengeluarkan pujian untuk Hayden terutama dan Hana. Tapi itu sama sekali tak direspon oleh Sasame. Kasihan...

"Hm...Karin-chan apa semua keluarga Inuzuka memiliki tatto taring dipipinya?" Tanya Sasame sedikit melenceng atau mungkin sangat melenceng dari perkataan Karin.

"Sepertinya ya! Soalnya Nyonya besar juga memiliki tatto taring merah dipipinya sama seperti Nona Hana dan Tuan Kiba!" Memang sedikit bingung saat pertama kali melihat wajah tampan atasannya itu dihias oleh dua buah tatto berbentuk taring berwarna merah di kedua belah pipinya. Tapi setelah melihat Hana yang juga memiliki tatto yang sama sepertinya itu bukanlah hanya sebuah hiasan. Mungkin sebuah lambang.

"Nyonya besar?"

"Nyonya besar adalah pemilik dari Inuzuka Group alias ibu dari Tuan Kiba dan Nona Hana. Namanya Inuzuka Tsume. Nyonya Tsume orangnya baik, ramah sekali! Setiap minggu beliau suka kesini!" Jelas Karin. Pengalamannya yang bekerja di Inuzuka Boutique selama tiga tahun rasanya cukup untuk mengetahui seluk beluk keluarga Inuzuka.

"Hm...lalu apa taring itu seperti sebuah tanda?"

"Ya mungkin, itu adalah tanda klan. Mungkin semuanya berasal dari kegemaran keluarga Inuzuka memelihara anjing, jadi lambangnya taring mungkin." Jelas Karin lagi. Sasame hanya mengangguk-angguk. Wanita yang ternyata adalah kakak Kiba itu memang terlihat membawa tiga ekor anjing, jadi mungkin dugaan Karin ada benarnya.

Kring...

Bel yang sengaja dipasang dipintu butik berbunyi, melambangkan ada seorang yang datang . Sedikit membuat kedua pramuniaga ini sedikit terkejut. Tapi tak beberapa lama mereka segera merubah ekspresi terkejut itu menjadi ekspresi ramah lengkap dengan senyum yang selalu mereka keluarkan saat menerima pelanggan. Point pertama dari syarat menjadi pegawai Inuzuka Boutique yang baik adalah selalu tersenyum dan ramah dihadapan pelanggan yang baru datang.

Seorang wanita berambut pirang ikal lembut panjangnya sepunggung memasuki area butik. Ia memakai sebuah jaket kulit berwarna senada dengan rambutnya dan kemeja cantik berwarna pink tua dengan aksen renda senada dibagian kancing kemejanya. Sebagai bawahan ia kenakan celana blue jeans dengan stiletto berwarna pink tua yang tinggi haknya mencapai empat belas centi mungkin.

Matanya yang beriris sewarna dengan permata amethyst ini menatap remeh semua orang yang ada didalam butik itu ketika kacamata hitam berbingkai pink miliknya terbuka. Seketika senyum pegawai Inuzuka Boutique seperti luntur tersapu ombak manakala menyadari yang datang ternyata adalah sosok wanita muda menyebalkan. Kenapa menyebalkan? Lihat saja kelakuannya nanti.

"Huh...nenek sihir datang!" Umpat Karin pelan. Dan ia telah melanggar point pertama yaitu tersenyum ramah kepada pelanggan. Tapi tak akan jadi pelanggaran toh yang datang bukan pelanggan melainkan pengganggu. Kira-kira itulah isi pikiran Karin.

Entah kenapa cibiran yang seharusnya tak terdengar itu malah terdengar jelas ditelinga wanita berambut pirang ini. Dan tanpa segan-segan wanita ini langsung mendelik kearah Karin dan Sasame tentunya.

"Apa kau bilang merah?" Tanya wanita itu sinis. Wajahnya yang dipenuhi make up itu nampak sedikit terganggu dengan sebutan nenek sihir yang ditujukan Karin padanya. Sasame yang tak mengenal wanita ini hanya bisa memposisikan dirinya yang memang lebih mungil ini dipunggung Karin.

"Nenek sihir datang.." Jawab Karin enteng. Membuat si wanita semakin mendelik.

"Jaga mulutmu ya, setan kecil!" Ucap wanita itu sambil menjentikan jari telunjuknya yang berhias cutex dark pink itu didepan wajah Karin. Tapi tak membuat Karin yang notabene umurnya lebih tua dibanding wanita ini gentar malah semakin menatap remeh wanita dihadapannya.

"Hah...kau.."

"Maaf, Nona Shion jikaanda ingin menemui Tuan Muda beliau ada diruangannya.." Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja muncul Shizune yang langsung meredakan pertengkaran kecil ini. Ia yang merupakan salah satu pegawai senior memang selalu bisa menahan amarah dan kejengkelan para pegawai dalam menghadapi setan cantik ini. Wanita yang dipanggil Shion itu hanya menyeringai ringan.

"Hm...kalian ini masih saja berani menantangku ya?" Tanyanya. Rasanya semua pegawai akan langsung muak melihat tampangnya ini. Shion adalah salah satu dari rekan keluarga Inuzuka. Kakaknya adalah seorang designer yang karyanya termasuk dalam jajaran koleksi pakaian di Inuzuka Boutique dan perusahaan keluarganya baru saja sukses. Jadi wajar kalau ia merasa dirinya paling hebat. Ia selalu menganggap dirinya adalah tunangan dari Kiba. Padahal sama sekali tidak. Ia beranggapan seperti itu karena keluarganya dan dirinya tentunya mengenal baik ibu Kiba.

"Kalian tahu tidak, aku ini adalah tunangan dari bos kalian!" Ucapnya sambil mengedarkan pandangannya kesemua arah. Membuat semua pegawai dan pelanggan lain (karena memang kondisi butik sedang ramai) mengarahkan pandangan mereka kearah wanita bermata ungu berkilau ini.

"Memecat kalian bukanlah hal sulit bagiku! Kalian mengerti hah?" Ucapnya bak ratu sejagad yang sedang berhadapan dengan budak-budaknya.

"Dan kau! Siapa kau?" Tanya Shion kembali sambil menjentikan jarinya kearah Sasame. Sasame hanya bisa menelan ludah dan menggumamkan kata 'pegawai baru' dengan kaki gemetar.

"Dengar ya, aku paling tak suka jika ada pegawai baru perempuan disini! Dan kau tahu, aku adalah tunangan Kiba jadi coba-coba untuk dekat-dekat dengannya! Karena ia milikku tahu!" Sasame kembali menelan ludahnya takut wajahnya pucat pasi saat mendengar ancaman Shion.

"Kau mengerti tidak? Dasar gembel!"

"Bisakah kau tak datang mengganggu pegawaiku Shion!" Semua pegawai seperti melihat malaikat bersayap yang tiba-tiba hadir dihadapan nenek sihir. Kiba datang dengan tatapan datar.

"Kiba-kun!" Pekik Shion tak tahu malu dan langsung menggelayut manja dilengan Kiba. Membuat pegawai lain kalau boleh langsung ingin muntah melihat pemandangan merusak ini. Sedangkan pelanggan lain hanya bisa menghela napas dan menggumamkan kata 'dasar wanita ganjen'.

Sasame hanya menundukan wajahnya karena memang ia tak mengetahui apa-apa. Tapi entah kenapa hatinya sedikit berdecit sakit ketika Shion mengaku bahwa dirinya adalah tunangan Kiba. Mengetahui bahwa orang yang kalian kagumi dan sayangi telah dimiliki akan terasa sakit kan? Apalagi ditambah dengan sikap Kiba yang sepertinya santai saja saat Shion menggelayuti tangannya manja.

"Hanya orang bodoh yang mau mempercayai bahwa kau adalah tunanganku kan?" Kekeh Kiba. Sasame sontak langsung menatap Kiba begitu pula sebaliknya. Kedua orang ini saling bertatapan singkat seolah sedang membaca isi hati lawannya masing-masing.

Shion menyadari ada tatapan tak biasa yang ditujukan Kiba pada Sasame. Ia menduga seperti ada perasaan saling menyukai diantara keduanya. Ia langsung mendelik kearah Sasame. Ini jelas membuat gadis muda berambut orange ini menunduk takut.

"Kiba-kun! Tunggu aku!" Pekik Shion saat menyadari Kiba telah pergi dari hadapannya.

"Sasame-chan kau baik-baik saja?" Tanya Shizune khawatir melihat juniornya yang tiba-tiba mendadak lemas.

"Tak usah dipikirkan tentang nenek lampir itu! Kau jauh lebih cocok dengan Tuan Muda Kiba, Sasame-chan!" Hibur Karin. Tapi tetap tak mengurangi perasaan khawatir dari Sasame. Gadis berambut orange itu merasa akan terjadi sesuatu yang buruk menimpanya.

000000000000000000

"Berhentilah terus mengejarku Shion! Apa kau tak malu?" Tanya Kiba enteng. Ia menghempaskan tubuhnya diatas kursi kerjanya yang empuk dan nyaman itu. Sedang dihadapannya berdiri Shion yang terengah-engah seperti baru berlari puluhan kilometer. Shion memang terus saja berjalan mengikuti langkah panjang Kiba. Kiba sendiri hanya berjalan santai saja, tapi tak tahu kenapa sulit bagi Shion untuk mensejajarkan jalannya dengan Kiba tadi. Sampai akhirnya dua manusia ini sampai diruangan Kiba.

"Aku takkan berhenti sampai kau mau mengakui bahwa aku adalah tunanganmu!" Kiba langsung tertawa lebar saat mendengar ungkapan percaya diri Shion.

"Hahah..dengar ya! Kau bukan kekasihku, kau juga bukan siapa-siapa bagiku! Bahkan namamu saja sama sekali tak tercantum dalam daftar nama-nama mantanku!" Jelas Kiba.

"Apa? Kenapa kau selalu malu untuk mengetahui hubungan kita hah?" Rengek Shion menjadi. Ia hentakan sepatu haknya dilantai marmer yang dingin itu.

Kiba hanya tersenyum manis dan mengangkat sepuluh jari tangannya kearah Shion. Apalagi kalau bukan ingin menunjukan bahwa tak ada cincin berlian pertunangan yang melingkar dijarinya yang kokoh itu.

"Tap...tapi aku mengenal baik orang tuamu. Dan sepertinya Tante Tsume juga menyetujuiku untuk berhubungan denganmu!" Pekik Shion sedikit kesal. Wajahnya memerah karena malu.

"Ibuku selalu memberiku dan kakakku kebebasan dalam memilih pasangan. Aku rasa kau tahu itu. Kau cantik, kau kaya dan kau memiliki segalanya jadi apa alasan ibuku untuk tidak menyetujuimu untuk berhubungan denganku? Tapi aku dengan sadar menolakmu. Kurasa kau bisa mengerti." Tutur Kiba pelan, santai tapi menusuk dihati Shion tentunya. Sehingga membuat wanita cantik ini tak kuasa menahan tangisnya.

"Kau jahat! Kau menyakitiku Kiba! Apa semua itu karena perempuan gembel pegawai barumu itu hah?" Pekik Shion. Kiba sangat bisa menangkap maksud Shion. Dan ia mengetahui dengan jelas siapa yang dimaksud gembel oleh Shion.

"Kau terlihat menyukai perempuan gembel itu. Seleramu rendah!"

"Pintu keluar masih berada ditempatnya dan kurasa kau tahu itu." Desis Kiba.

BRAK

Merasa dirinya diusir oleh Kiba, Shion hanya bisa meluapkan amarah dan perasaan kecewanya dengan menendang meja Kiba dengan ujung sepatunya. Dan pergi berlalu meninggalkan ruangan Kiba dengan linangan air mata tentunya.

"Kau akan menyesal Inuzuka!"

000000000000000000

Besok adalah tepat hari dimana lauching beberapa gaun rancangan baru sekaligus hari dimana acara pembukaan musim gugur Inuzuka Boutique. Semua pegwai nampak sibuk menyiapkan semua keperluan untuk acara yang rutin dilaksanakan setiap pergantian musim. Tak terkecuali dengan pegawai baru berambut orange ini. Sasame tetap menjalankan aktivitasnya membantu persiapan untuk besok hari. Akhir-akhir ini bayangan akan pengakuan Shion sekitar seminggu yang lalu sering mengganggu pikirannya. Ia jadi terlihat sering melamun. Namun dengan begitu tetap saja ia harus bersifat proposional dan inilah buktinya ia tak absen meski pikirannya sedang kacau.

Bagian tengah lantai dasar butik ditata sedemikian rupa cantiknya dengan sebuah panggung catwalk memanjang dengan dekorasi serba cokelat dan orange. Tak lupa ada beberapa pohon-pohon maple buatan dengan daun-daunnya yang berguguran semakin menyemarakan acara pembukaan.

Beberapa, err ralat banyak pekerja dan pegawai berlalu lalang untuk mempersiapkan acara yang akan dimulai pukul tujuh malam atau kira-kira sekitar empat jam dari sekarang. Sebagian designer nampak berkumpul di sebuah tempat lengkap dengan model-model yang akan memperagakan pakaian-pakaian rancangan mereka. Bangku – bangku disusun sedemikian rupa menghadap kearah catwalk sengaja disediakan untuk seratus undangan yang akan hadir dalam acara pembukaan ini.

Aura kesibukan sangat terasa kental disini. Semua orang berteriak-teriak. Ada yang berteriak ingin minta dibantu, ada yang berteriak untuk mengatur ini itu, dan masih banyak lagi. Tapi disudut paling sudut tercium aura bosan yang cukup kental berasal dari sosok yang ada disana. Seorang pria tampan sedang duduk sambil sesekali menyesap kopi yang disuguhkan khusus untuknya.

Matanya yang menunjukan ekspresi malas itu melirik sedikit kearah kanan. Dilihatnya sahabatnya yang tampan memakai t-shirt v-neck yang dipadu padankan dengan sebuah jas berwarna cokelat susu sedang mengatur-ngatur beberapa pegawainya.

Setelah puas menatap sahabatnya yang sedang sibuk sama seperti yang lainnya, ia mengalihkan pandangannya kearah tepat didepannya. Terlihat dua orang sahabatnya juga. Yang satu berambut pirang jabrik mencuat berjenis kelamin laki-laki dan yang satu lagi berambut indigo dikepang kelabang berjenis kelamin perempuan sedang lari-larian, ralat bukan lari-larian tapi kejar-kejaran seperti adegan di film India.

Ia menghela napas panjang, melihat tingkah abnormal sahabat kuningnya yang mengejar gadis indigo itu. Tak sadarkah jika mereka berdua sebentar lagi akan menikah, tapi tingkah masih seperti anak sekolahan. Itulah kira-kira isi pikirannya.

Berharap dapat menemukan pemandangan lebih menyegarkan, ia pun mengarahkan pandangannya kearah kiri. Sedikit dapat penyegaran karena dapat melihat paras cantik kekasihnya yang sedang...Ya...lagi-lagi ia harus menghela napas panjang saat melihat kekasihnya yang masih betah dengan model rambut kuncir empatnya itu sedang berbinar-binar memandangi para model yang sedang latihan.

"Shikamaru!" Seru kekasihnya sambil melambaikan tangannya. Shikamaru hanya bisa menepuk jidatnya saat melihat kelakuan Temari, kekasihnya yang melambai-lambaikan tangannya seolah Shikamaru berada jauh dari dirinya, padahal hanya terpaut sekitar satu setengah meter jarak antara tempatnya sekarang duduk dan Temari berdiri.

"Shikamaru, kenapa hanya duduk saja! Ayo kesini!" Lanjut Temari. Shikamaru hanya menggeleng malas dan menutupi wajahnya dengan mantel biru langit milik Temari yang dititipkan padanya. Menghirup aroma harum khas parfum kekasihnya adalah kesenangan tersendiri yang selalu menghipnotisnya untuk masuk kealam mimpi.

Shikamaru dapat mendengar umpatan dari kekasihnya karena ia tak menuruti keinginannya.

"Shika! Aku mengajakmu kesini bukan untuk tidur bodoh!" Kali ini apalagi yang mengganggunya. Terkadang padang rumput yang sepi tenang dan damai bisa diterjang badai juga. Dan badai kali ini berupa sosok berambut kuning yang dengan tampang tanpa dosanya itu menganggunya yang hampir terlelap.

"Naruto, kau tahu kan seharusnya kita datang saat acara pembukaannya mulai saja! Buat apa datang disaat-saat membosankan begini!" Omel Shikamaru. Naruto hanya menggembungkan pipinya.

"Che! Kau ini sama saja dengan si Teme itu! Marah-marah terus! Tak ada salahnya kan kalau kita kesini untuk membantu Kiba!"

"Betul sekali untuk membantuku!" Tiba-tiba saja Kiba datang sambil menepuk dua bahu sahabatnya itu. Shikamaru merasa bahwa Kiba itu benar-benar horror karena tiba-tiba muncul dihadapan mereka tanpa ada tanda-tanda(?).

"Hah...semuanya merepotkan! Kenapa keluargamu itu gemar sekali melakukan pembukaan sih! Perasaan baru terakhir aku datang ke acara pembukaan musim panas dibutik ini!" Dengus Shikamaru bosan.

"Hehehe...itu karena keluargaku senang buka-bukaan...huahahaha..." Canda Kiba garing kayak kerupuk dan tak sama sekali membuat Shikamaru ataupun Naruto tertawa.

"O..ya Sasuke belum datang?"

"Belum, kupikir ia datang besok!" Jelas Kiba seksama sambil menatap beberapa pegawainya yang sedang berkerja. Mata kecokelatan miliknya itu menangkap bayangan seorang gadis mungil berambut orange yang sedang mengangkat beberapa pakaian dan mengantar minuman untuk para pekerja.

"Hm...sepertinya masalah dengan Gaara sedikit membuatnya kalut ya?"

"Mana kutahu, yang jelas mereka berdua itu sangat merepotkan!" Dengus Shikamaru lagi. Baru saja Naruto ingin menanggapi perkataan Shikamaru, mata sebiru permata sapphire itu menangkap gelagat aneh dari orang disebelahnya. Terlihat olehnya Kiba sedang memfokuskan pandangannya kearah lain dan bukan kearahnya maupun kearah Shikamaru. Dan tingkah Kiba yang senyum-senyum sendiri itu semakin membuat Naruto penasaran, ia pun mengarahkan pandangannya mengikuti arah mata Kiba.

"Hah...kau ini yang menyuruhku untuk datang kesini tapi kau sendiri malah mencuekanku dan lebih memilih memandangi gadis berambut orange aneh itu!" Shikamaru langsung menginterupsi. Sontak Kiba langsung mendelik kearah Shikamaru karena samar ia mendengar kata 'gadis berambut orange aneh'.

"Eh...kupikir hanya aku yang menyadarinya! Ternyata kau juga Shikamaru!" Kekeh Naruto sambil menepuk pundak Shikamaru dan melempar cengiran super lebar miliknya yang pastinya memperlihatkan deretan gigi-gigi indah, rata dan putih bersinar itu. Mentang-mentang ia pernah membintangi iklan pasta gigi.

"Heh..aku jauh lebih dulu menyadarinya dibandingkan dirimu." Ucap Shikamaru malas-malasan dan langsung dibalas dengan ekspresi bete dari Naruto.

"Siapa dia?" Tanya Shikamaru.

"Hm? Kau bertanya padaku?" Kiba mengalihkan pembicaraan. Ia sedikit canggung jika harus menceritakan perihal Sasame pada orang lain termasuk pada teman sesama anggota SG. Walaupun sebenarnya beberapa hari yang lalu ia sempat mengatakan bahwa ada orang spesial yang ia temui. Tapi ia belum menceritakan hal apapun tentang siapa orang yang spesial itu.

"Huwaaaa! Ia cantik ya! Sepertinya masih mulus dan polos!" Gumam Naruto dengan wajah mesumnya itu.

"Heh! Jangan seenaknya ya! Kau sudah punya Hinata dan jangan macam-macam dengannya!" Setelah mengucapkan kalimat yang sedikit bernada ancaman itu, Kiba langsung menutup mulutnya seperti orang kelepasan bicara. Dan ini jelas membuat Naruto menyeringai licik.

"Ho...jadi aku tak boleh macam-macam dengannya ya Kiba-kun~" Goda Naruto dan langsung mendapat death glare andalan dari Kiba tentunya.

"Berhenti mengeluarkan suara seperti itu Naruto! Menjijikan!" Omel Kiba salah tingkah karena sedari tadi Naruto tak henti-hentinya meledek dan menggodanya dengan sebutan-sebutan Kiba-kun.

"Sejak kapan seleramu berubah?" Tanya Shikamaru ikut-ikutan. Menyukai seorang gadis kalangan bawah yang berstatus sebagai pegawai sendiri adalah suatu hal yang tak pernah dilakukan oleh Kiba.

"She's different!" Jelas Kiba kembali santai meski dalam hati deg degan dan ada sedikit perasaan gengsi sih.

"Yeah! Because she's your official!" Ledek Naruto dan kali ini bukan death glare lagi yang ia terima dari Kiba melainkan sebuah timpukan serbet dari Kiba.

"Dia berbeda meskipun memang ia adalah pegawaiku. Lagipula apa salah jika pria kalangan atas sepertiku menyukai wanita kalangan bawah!" Ucap Kiba ngotot. Sedangkan Shikamaru dan Naruto hanya saling berpandangan.

"Aku merasa de javu dengan kata-kata itu!" Ungkap Naruto.

"Hah...kalimat yang kau ucapkan itu sama dengan ucapan Sasuke saat ia bilang cinta pada Sakura!" Shikamaru mengingatkan. Masih jelas dipikirannya perkataan Sasuke yang mengatakan kalimat 'apa salah jika pria kalangan atas sepertiku menyukai wanita kalangan bawah!'. Dan kalimat itu kembali ia dengar dari sahabatnya yang satu lagi. Tapi semoga saja tak berakhir seperti Sasuke juga yang sepertinya hubungannya dengan Sakura belum sembuh.

"Hm! Kau ini sama saja dengan Teme!"

"Hey jangan bilang begitu! Setidaknya ibuku tak seperti Tante Mikoto!" Protes Kiba.

"Kau menyukainya?" Tanya Shikamaru to the point tanpa bertele-tele. Kiba tampak sedikit canggung menjawabnya sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.

"Apa kau tak takut yang terjadi pada Teme terulang padamu Kiba? Walaupun sifat ibumu dan Tante Mikoto itu berbeda 1800 tapi apa ibumu bisa menerima gadis itu?" Tanya Naruto ikut-ikutan menginterogasi Kiba sama halnya dengan Shikamaru. Ketakutan itu memang sudah hinggap dipikiran Kiba sesaat setelah menyadari rasa sukanya pada gadis berambut orange itu. Tapi otaknya yang encer itu dengan cepat mengambil kesimpulan dan ia juga telah memikirkan hal ini lebih jauh.

"Jadi kau hanya mau mempermainkannya?" Entah kenapa setelah mendengar pertanyaan spontan dari Naruto, hati Kiba merasa sedikit sakit. Kenapa begitu? Mungkin itu adalah salah satu bentuk luapan rasa bersalah. Ia bukannya ingin menyakiti hati Sasame dengan mempermainkan hati gadis muda itu sama seperti wanita-wanita yang pernah disakitinya.

"Tidak! Aku tak sanggup melakukan itu. Sudah banyak penderitaan yang ia jalani dan aku tak mau menambah luka dihatinya..."

"Hey! Sejak kapan kau jadi pengertian seperti itu hah?"

"Sepertinya Kiba yang sekarang jauh lebih memikirkan perasaan wanita..." Timpal Shikamaru dan kedua pria tampan ini malah tertawa lebar, menghiraukan perasaan Kiba yang campur aduk saat ini.

"Jika kalian mendengar latar belakang kehidupannya kalian pasti mengerti! Aku yang sudah banyak menyakiti hati wanita ini patut berubah. Aku sudah capek mendengar sumpah serapah wanita yang kutinggalkan. Pipiku juga sudah panas mendapat tamparan dari wanita-wanita yang kecewa padaku. Selama aku masih menyukai wanita berarti aku normal. Kecuali aku menyukai pria barulah kalian merasa aneh!" Shikamaru langsung menepuk-nepuk pundak Naruto pertanda pria berambut kuning itu harus menghentikan acara tertawanya dan memperhatikan Kiba yang saat ini sedang sulit ditebak dan dideskripsikan ekspresi wajahnya.

"Baiklah kami mengerti! Ceritakan pada kami latar belakang kehidupannya dan alasan mengapa kau menyukainya?" Tanya Shikamaru. Pria yang diikat rambutnya ini menatap serius wajah Kiba sedangkan Naruto hanya mengeluarkan tatapan konyolnya yang biasa ia keluarkan saat menunggu film diputar dibioskop.

"Namanya Fuma Sasame. Usianya baru sembilan belas tahun. Kedua orang tuanya telah meninggal, dan ia tinggal bersama kakak laki-lakinya. Himpitan ekonomi memaksa kakaknya melakukan perbuatan bodoh..."

"Yaitu..." Jika bisa digambarkan bagaimana ekspresi Naruto dan Shikamaru saat ini mungkin semua manusia bergenre wanita, baik itu usia muda dan tua atau bahkan nenek-nenek sekalipun akan langsung jatuh pingsan dan diopname seminggu karena kehabisan darah. Bagaimana tidak ekspresi serius bercampur penasaran yang mereka berdua keluarkan saat menunggu ucapan Kiba sangat...Hah kalian bayangkan saja sendiri.

"Menjual..."

"KIBA-KUN...~~~" Percayakah kalian akan adanya badai yang tiba-tiba menerjang sebuah padang rumput yang damai-damai saja awalnya? Ya mulai sekarang kalian harus percaya karena badai baru telah datang. Badai yang terdahsyat dari semua badai yang ada (bacanya:lebay). Badai yang berwujud seorang wanita cantik berambut pirang ikal yang dengan seenak jidatnya menerjang Kiba dan langsung memeluk manja leher Kiba lengkap dengan pipinya yang berhias blush on tebal itu menempel dipipi bertatto Kiba.

Sekilas tas bermerek terkenal yang diimport langsung dari Prancis milik wanita itu menerjang jidat Naruto karena aksi brutal wanita ini.

"Lepaskan!" Ucap Kiba sambil melepaskan tangan wanita itu kasar.

"Ugh kau ini! Masih saja malu-malu begitu!" Protes si wanita sambil menggembungkan pipinya dan berkacak pinggang.

"Kau tahu Shion kau sangat horror!" Ucap Naruto sambil sibuk mengusap-ngusap jidat indahnya yang sedikit memerah.

"Apa katamu Naruto? Aku yang cantik ini kau bilang horror?" Tanya Shion pura-pura marah dengan tampak sok ngambeknya. Menjijikan. Itulah yang ada dipikiran Kiba.

"Ya dan kau horror dengan bulu mata buatan itu!" Ucap Kiba kesal sambil menunjuk bulu mata palsu Shion yang sudah lentik sangat itu ditambah dengan maskara tebal yang bertujuan untuk membuat kelopak mata lebih besar atau mungkin ditujukan untuk membuat kesan gothic malah membuatnya jadi sama seperti yang Kiba ucapkan. Horror!

"KYAAAAAAAA! Jangan seenaknya ya! Kalian ini jahat sekali!" Rengek Shion berlebihan.

"Bisakah kau berhenti berbicara keras-keras begitu! Membuatku pusing saja dan cepat katakan apa urusanmu!" Dengus Shikamaru tak nyaman. Shion langsung tersenyum licik dan menatap wajah ketiga pria tampan yang sedang ada dihadapannya.

"Aku akan berhenti berteriak dan berkata keras jika salah satu dari kalian berkata bahwa aku cantik hari ini!" Ucapnya sambil mengedip-ngedipkan matanya gaje. Mungkin tujuannya agar terlihat imut tapi apa daya malah terlihat seperti orang cacingan.

Naruto hanya bisa bertelepati dengan Kiba dan menyuruh pria bertatto itu untuk mengabulkan permintaan setan wanita yang ada dihadapan mereka. Sedangkan Kiba malah menggelengkan kepalanya dan mendelik kearah Naruto.

Merasakan akan ada tanda-tanda penolakan dari ketiga sosok dihadapannya. Wanita yang hari ini memakai sebuah dress selutut berwarna hitam ini langsung mengambil napas panjang untuk bersiap berteriak.

"Kau cantik! Dan simpan teriakanmu itu!" Ucap Shikamaru tiba-tiba dan ini langsung membuat Naruto dan Kiba memberikan tatapan terima kasih padanya. Shion sendiri langsung kegirangan.

"Uhhh...memang Shika yang paling baik! Gemesssssss aku!" Shion dengan seenak jidatnya langsung mencubit pipi Shikamaru dan percayalah kuku panjang bak drakula bercutex hitam pekat miliknya tak sengaja menggores pipi mulus nan halus Shikamaru. Langsung saja yang bersangkutan memberikan death glare.

Alasan Shikamaru itu bukan karena memang hari ini Shion cantik tapi terlebih karena ia tak mau repot-repot harus pergi ke dokter THT untuk cek apakah gendang telinganya masih utuh atau tidak. Terakhir saat Shion berteriak dikampus dulu (karena memang Shion juga kuliah di Tokyo University) Shikamaru harus pergi ke THT karena mendadak langsung mengalami gangguan pendengaran.

Tapi ia pula juga harus harap-harap cemas jika kekasihnya itu melihatnya dicubit pipinya oleh wanita lain. Mungkin akan langsung terjadi badai hujan angin topan(?).

00000000000000000000

Suasana kamar yang terletak diujung koridor lantai dua hari ini nampak sangat berantakan. Banyak baju-baju kotor bergelimpangan dimana-mana. Biasanya ada seorang gadis cantik yang merapikan kamar ini. Tapi sepertinya hari ini lain, gadis itu lebih memilih menenggelamkan wajahnya diatas bantal kasurnya.

"Sasame-chan! Astaga kau kenapa?" Pekik seseorang dari arah belakang. Gadis yang dipanggil Sasame itu mengangkat kepalanya dan mendapati sosok seorang wanita yang sepertinya baru selesai mandi. Terlihat dari rambut hitamnya yang basah dan selembar handuk kecil berwarna cokelat yang tersampir di bahunya.

"Aku hanya sedikit lelah Shizune-neesan.." Jawab Sasame lemah. Memang jelas ia terlihat lelah. Bawah matanya sedikit hitam dan berkantung. Wajahnya kusut. Sekusut pikirannya yang terbang bak layang-layang yang akhirnya mendarat dipangkuan atasannya. Inuzuka Kiba. Ya...saat ini yang ada dipikirannya hanya ada sosok pria tampan bertatto itu dan sedikit gambaran tentang kedekatan yang terjalin antara Kiba dan wanita cantik berambut pirang yang mengaku sebagai tunangan Kiba. Siapa lagi kalau bukan Shion.

Setelah kejadian tadi siang saat ia melihat Shion datang dan langsung menghambur kepelukan bosnya itu membuat hatinya entah kenapa jadi merasa tak enak dan sedikit sakit. Apa ini masih berkaitan dengan pengakuan Shion yang mengaku tunangan Kiba. 'Pasti mereka sudah benar-benar tunangan' Pikir Sasame dalam hati.

"Karin kan belum pulang dari membeli makanan. Lebih baik kau mandi dulu. Biar segar!" Usul Shizune. Sasame hanya mengangguk sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

Tak lama, tak sampai sepuluh menit Sasame keluar dengan rambut basah. Tubuh mungilnya telah terbalut piyama berwarna cokelat motif bunga. Sama persis dengan yang Shizune pakai hanya saja berbeda warna dengan piyama Shizune yang berwarna biru muda. Karin juga memiliki piyama yang sama berwarna merah. Alasannya karena mereka membelinya bersama di departemen store di Tokyo beberapa hari yang lalu.

"Sini kubantu kau mengeringkan rambut..." Ucap Shizune lembut seraya memberi ruang untuk Sasame duduk diatas kasurnya. Dengan telaten Shizune mengeringkan setiap helai rambut orange Sasame yang panjangnya sudah mencapai punggungnya.

"Rambutmu bagus Sasame-chan..." Puji wanita yang sampai saat ini belum menikah itu sambil tersenyum. Diambilnya sisir dan mulailah ia menyisir rambut rekan kerjanya yang sedikit basah.

"Terima kasih..." Ucap Sasame setelah Shizune selesai mengeringkan dan menyisir rambutnya.

Cklek...pintu kamar Sasame dan Shizune terbuka dan terlihatlah sosok Karin dengan rambut merahnya yang entah kenapa kusut dan kacamata bingkainya yang miring.

"Teman-teman maafkan aku..." Gumam Karin sambil menunduk. Wajahnya tertekuk alias cemberut.

"Karin-chan kenapa?" Tanya Sasame khawatir melihat perubahan sahabatnya yang biasanya cerewet ini. Shizune bangkit dari posisinya dan mengambil plastik yang dibawa Karin.

"Apa ini?"

"Hanya itu yang aku dapat dari sekitar rumah. Semua toko makanan telah tutup dan kalaupun buka pasti makanannya sudah habis karena kemalaman..." Jelas Karin sambil menunjuk plastik itu.

"Roti beras?"

"Ya...hanya ini yang dapat kubeli disupermarket 24 jam. Awalnya aku ingin membeli ramen, sayang sudah habis!" Jelas Karin lagi. Padahal mereka bertiga sudah membayangkan memakan ramen yang hangat tapi apa daya yang ada hanya roti beras.

"Tak apalah hari ini kita makan roti beras saja ya! Ayo makan! Sayang kan kalo sudah dibeli tak dimakan!" Ucap Shizune sambil tersenyum dan mulai mengeluarkan beberapa bungkus roti beras dari dalam plastik. Sebenarnya mungkin makan roti beras saja tak akan kenyang. Tapi mau bagaimana lagi.

"Hm...aku beli sembilan buah, tiga untukku, tiga untuk Shizune-chan dan tiga lagi untuk Sasame-chan. Kalau tak habis jangan dibuang! Kita simpan saja untuk sarapan besok!"

"Kalian simpan saja roti beras itu untuk besok!" Sebuah suara gaib tiba-tiba muncul. Sontak membuat tiga wanita cantik ini menoleh kearah pintu.

"Tu...tu...tua...Tuan Muda!" Pekik Shizune dan Karin bersamaan. Roti beras yang semula ada ditangan mereka jatuh bergelimpangan dilantai. Tuan muda alias Kiba, sang tersangka hanya tersenyum jenaka saat melihat tampang cengo Karin dan Shizune. Sasame? Malah sibuk menatap Kiba dengan wajah memerah. Ga nahan.

"Maaf tadi kulihat hanya pintu kalian yang terbuka, aku hanya memastikan kalian baik-baik saja!" Jelas Kiba canggung. Ini pertama kalinya bagi mereka melihat wajah atasan mereka yang biasanya cool itu tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya. Astaga, tampannya membuat semua wanita pasti akan pingsan duluan.

"Maaf Tuan Muda, Karin ini memang ceroboh dan lupa menutup pintu. Untung saja Tuan Muda yang masuk bukan maling! Maafkan kami!" Shizune membungkukan badannya hormat diikuti tundukan tak ikhlas dari Karin. Sasame? Hanya diam menundukan kepalanya.

"Tak apa! Aku hanya mau mengantarkan ini!" Ucap Kiba sambil mengangkat bungkusan plastik yang dibawanya.

"Astaga, Tuan tak perlu repot-repot!" Karin dengan belagaknya berkata seperti itu. Padahal endingnya ia tetap mengambil bungkusan berwarna cokelat yang dibawa Kiba. Mata beriris semerah permata ruby itu langsung berbinar saat menyadari isi dari bungkusan itu adalah tiga paket ayam fillet panggang lengkap dengan saus lemon dan madu, coke float dan pudding sebagai penutupnya. Hah...bosnya ini benar-benar pengertian.

"Sepertinya kalian lelah sehabis mempersiapkan untuk acara besok. Maaf telah merepotkan kalian!" Ucap Kiba sambil tersenyum. Jam sudah menunjukan pukul setengah satu pagi. Mereka memang sengaja menyelesaikan semua persiapan malam ini. Karena bertujuan agar besok bisa tinggal gladi bersih.

"Tak apa Tuan Muda! Itu sudah menjadi kewajiban kami!" Jelas Shizune.

Entah kenapa karena gugup atau apa, Sasame jadi kesulitan membuka kardus-kardus berisi ayam itu. Dan dengan inisiatif sendiri Kiba membantu Sasame membukanya.

"Tak perlu Tuan biar saya saja yang buka..." Ucap Sasame. Tak sengaja tangan mungil Sasame yang berniat mencegah tangan Kiba untuk membantunya malah saling bertaut satu sama lain. Pandangan mereka bertemu saat sensasi aneh akibat bagian tubuh mereka bersentuhan. Bagaikan sengatan listrik bagi Sasame. Hatinya begitu berbunga saat dapat kembali merasakan halus dan lembutnya tangan pria yang ia sayanginya ini. Begitu pula dengan Kiba.

Semburat merah muncul dipipi mereka. Yang menjadi perbedaan hanya pipi Sasame jauh lebih merona dibandingkan Kiba.

"Huwaaaaaaaa! Ada Taiyaki juga! Sudah lama aku tak makan ini!" Seru Karin girang. Sontak ini langsung membuat Sasame menarik tangannya dan bergerak menjauh. Kiba sendiri hanya menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal untuk menutupi groginya.

Shizune yang sudah sangat menanti adanya adegan romantis antara Sasame dengan atasannya itu langsung memberi death glare pada Karin sang pengganggu. Tapi death glarenya malah disambut dengan tatapan berbinar dari Karin. Hah...Karin ini benar-benar norak.

"Hm. Kebetulan aku sangat menyukai Taiyaki. Jadi aku membelikannya untuk kalian, lagipula Taiyaki mengingatkanku pada seseorang..." Ucap Kiba sambil tertawa kecil. Betapa setiap kali membeli Taiyaki, pikiran Kiba selalu melayang kesosok mungil berambut orange berjas hujan kuning yang begitu ringkih dan lemah. Sosok yang ia temui dijalan sedang mencuri apel.

"Wah...beruntung sekali orang itu bisa diingat Tuan!" Shizune berpandapat sedangkan Kiba hanya tersenyum canggung mendengarnya karena memang orang yang dimaksudnya ada dihadapannya sekarang.

"Ya bisa dikatakan begitu!" Warna merah langsung menyabotase kedua belah pipi Sasame saat mendengar ucapan Kiba. Tapi sekilas pula bayangan wajah Shion kembali muncul dibenaknya. Tak hanya itu, pengakuan Shion pun kembali terngiang diwajahnya. Begitu pula sikap manjanya pada Kiba.

"Kalian tak perlu sungkan denganku, sebisa mungkin aku akan menciptakan suasana yang nyaman untuk para pegawaiku!" Shizune dan Karin tersenyum mendengar perkataan Kiba. Betapa beruntungnya bagi kalian yang bisa masuk dan bekerja di Inuzuka Boutique karena dapat memiliki atasan yang begitu perhatian terhadap pegawai-pegawainya.

"Kami ucapkan terima kasih Tuan Muda!" Shizune berkata ramah.

"Ya...aku sangat senang bisa akrab dengan pegawai-pegawaiku, bukan begitu Sasame?"

"Ah...ya Tuan.." Jawab Sasame gugup. Mata tajam Kiba yang begitu mempesona kini tengah menatapnya lembut. Sudah ketiga kalinya Sasame mendapat tatapan lembut dari Kiba. Tapi entah kenapa rasanya ia tak pernah puas dan bosan.

"Maaf Tuan Muda, kebetulan air minum dirumah kami sudah habis, tadi siang Karin lupa mengambilnya. Jadi kalau diizinkan kami berdua, aku dan Karin minta izin untuk keluar sebentar untuk mengambil air di bawah." Izin Shizune. Kiba terlihat sedikit berfikir sebelum akhirnya mengizinkan keduanya untuk pergi mengambil air. Segera saja wanita berambut hitam pendek ini menarik tangan Karin. Terdengar sedikit protes dari Sasame karena kalau kedua sahabatnya pergi maka sudah dapat dipastikan ia akan berdua saja dengan atasannya yang tampan ini.

Tapi memang itulah yang diharapkan oleh Shizune. Membuat perasaan Sasame tenang dengan bicara empat mata dengan bosnya itu. Karena ia sudah dapat menyadari bahwa sedari tadi pasti Shizune memikirkan hubungan antara Kiba dan Shion. Semoga saja Kiba dapat menjelaskan pada Sasame hubungan sebenarnya dengan Shion. Kira-kira itulah isi pikiran dari Shizune saat ini.

"Shizune-chan kenapa mengajakku? Aku kan sedang makan!" Protes Karin saat mereka berdua sudah berada diluar kamar. Shizune hanya menatap bosan rekan kerjanya yang terkadang telmi dan tak peka ini.

"Kau ingat tidak kejadian antara Nona Shion dan Tuan Muda sedikit membuat Sasame berfikiran macam-macam tentang hubungan apa yang terjalin diantara mereka. Aku hanya ingin mereka saling bicara sebentar untuk membuat Sasame sedikit tenang! Mengerti?"

"Eh! Maksudmu Sasame-chan menduga bahwa Nona Shion si nenek lampir itu benar tunangan Tuan Muda Kiba?" Bisik Karin pelan tapi tetap tak mengurangi ekspresi keterkejutannya yang begitu kental diwajahnya.

"Hm. Sepertinya begitulah! Kau tahu kan Sasame pegawai baru dan sebelumnya ia belum pernah bertemu dengan Nona Shion karena Nona Shion baru kembali dari luar negeri.." Jelas Shizune.

"Ho...jadi begitu! Hah...memang dasar menyebalkan sekali sih si nenek lampir pirang itu!" Umpat Karin pada Shion. Mungkin jauh diluar sana Shion sedang bersin-bersin karena diomongin kedua wanita ini.

"Nah, dengan berdua saja semua masalah akan jelas! Aku berharap semoga saja Tuan Muda dapat menjelaskan masalah tadi siang dengan Sasame!" Doa Shizune harap-harap cemas.

"Kalau begitu supaya mereka lebih leluasa kita jalannya santai saja! Kalau perlu kita jalan-jalan dulu! Bagaimana?" Tawar Karin ga jelas. Padahal tadi ia sempat protes karena acara makan malamnya sedikit terganggu dengan rencana dadakan Shizune. Shizune sendiri hanya pasrah saat wanita berambut merah menyala berkacamata ini menarik tangannya untuk pergi menjauh dari kamar mereka meninggalkan Sasame dan Kiba didalam.

Didalam suasana canggung sangat terasa memenuhi atmosfer kamar berukuran 3x4 ini. Kiba sendiri hanya sibuk memandangi Sasame. Ia sendiri menyadari ada yang salah dengan gadis dihadapannya. Sasame bukanlah orang yang bawel dan cerewet layaknya Karin ataupun bijak seperti Shizune. Ia lebih cenderung pendiam. Tapi tak biasanya gadis belum genap dua puluh tahun ini murung dan acak-acakan begini. Dan kemungkinan terbesar perubahan dari Sasame ini berasal dari kedatangan Shion tadi.

"Ayam itu kupesan lewat handphone dan langsung diantar keruanganku tadi. Jadi tak kau sentuh pun tak masalah..." Gumam Kiba. Ia pandangi kotak berisi ayam goreng crispy yang belum disentuh Sasame sama sekali.

"Bukan begitu Tuan Muda! Aku hanya sedang berdoa sebelum makan..." Jawab Sasame sedikit tak masuk akal. Jika memang ia berdoa seharusnya ia tadahkan kedua tangannya itu atau memejamkan mata dan bukan malah melamun sambil memandangi kakinya.

"Tuan Muda? Aku lebih suka panggilanmu yang dulu..." Ucap Kiba sambil turun dari posisi duduknya yang semula duduk diatas kursi kini duduk dilantai sama seperti Sasame.

"Ah...lebih baik anda duduk dikursi saja Tuan." Seru Sasame sedikit panik saat tubuh Kiba sedikit demi sedikit semakin condong kearahnya.

Perlahan tapi pasti wajah mereka semakin dekat. Sasame yang ketakutan hanya bisa menutup matanya. Ia sangat takut. Tak mungkin malaikatnya berbuat yang macam-macam padanya kan? Tapi kenapa harus begini. Sasame terus memejamkan matanya sampai ada sesuatu yang lembut, basah, manis dan lengket menyentuh bibirnya.

Sasame membuka matanya dan mendapati sepotong ayam tengah disundul-sundulkan kebibirnya. Segera saja ia membuka mulutnya dan menerima potongan ayam itu. Ya...yang dilakukan Kiba adalah menyuapinya dengan sumpit.

"Kiba. Panggil aku dengan nama itu saat kau hanya berhadapan denganku Sasame..." Bisik Kiba lembut ditelinga Sasame sesaat setelah ia memasukan kembali potongan ayam kedua kemulut mungil Sasame dengan bantuan sumpitnya. Sudah tak dapat diukur lagi seberapa meronanya wajah Sasame sekarang. Wajah sempurna Kiba kini hanya berjarak beberapa centi darinya.

"Kiba..." Gumam Sasame pelan. Kiba tersenyum lembut sebelum akhirnya ia mengelus kepala Sasame sayang.

"Ayo makan lagi! Buka mulutmu..." Sasame menurut dan membuka mulutnya dan mulailah terasa potongan ayam lembut dan rasa manis dari madu serta asamnya lemon meleleh menjadi satu dimulutnya. Terus begitu setiap kali Sasame ingin bicara, sepotong ayam ataupun nasi selalu disodorkan oleh Kiba. Hal ini seolah menunjukan bahwa Kiba tak mengizinkan ia untuk berbicara.

Grep...

Dengan kecepatan kilat Sasame menghentikan suapan itu dengan menggenggam pergelangan tangan atasannya. Ia kumpulkan sekuat tenaganya untuk tetap tenang, namun apa daya tangannya malah bergetar saat itu.

"Biar saja saya makan sendiri Tuan..." Gumam Sasame. Bukannya ia tak ingin disuapi oleh orang setampan dan sebaik Kiba tapi jika setiap kali suap jantungnya berdetak puluhan kali lebih cepat mungkin ia akan langsung mati ditempat sebelum akhirnya makanan itu habis. Tapi rasa gugupnya itu membuatnya jadi salah dan kembali memanggil Kiba dengan sebutan Tuan.

"Maaf...bi..biar aku saja...yang makan sendiri..Ki..ba.." Ucap Sasame terbata-bata dan tak berani menatap mata Kiba. Perlahan tangan yang mencegah Kiba jatuh kepangkuannya.

"Kau masih kecil! Masih belum mengerti dunia. Jadi harus kusuapi. Aku akan tetap begini sampai kau bicara. Buka mulutmu..." Sasame tak bergeming mendengar perintah Kiba. Ia masih menutup mulutnya meski potongan ayam itu telah Kiba sundul-sundulkan kebibirnya.

"Kau tak mau menurutiku...?" Pertanyaan itu dijawab dengan gelengan dari Sasame. Kiba menghela napas panjang dan menyodorkan segelas coke float ke Sasame dan kembali menyudul-nyundulkan ujung sedotan itu kebibir mungil Sasame.

Sekilas Sasame dapat melihat jari jemari Kiba. Tak ada cincin yang melingkar dijari kokoh itu karena memang dibanding Sasuke, Naruto bahkan Shikamaru sedikitpun hanya dirinya yang tak terlalu suka dengan acsesories terutama cincin. Kalau kalung atau anting masih suka tapi sedikit.

"Kenapa tak kau pakai cincinnya?" Tanya Sasame takut.

"Cincin apa? Aku tak suka pakai cincin!"

"Tak boleh begitu! Seharusnya...Kiba-kun memakai cincin pertunangan itu.." Gumam Sasame sambil menundukan kepalanya. Tapi selang beberapa detik bukan penjelasan yang ia dengar dari Kiba tapi malah suara tawa.

"Aku serius Kiba-kun..." Entah dari mana itu tapi Sasame malah menambahkan sufiks –kun pada panggilannya. Mungkin karena spontan.

Kenyataan bahwa memang ia mengharapkan Kiba. Kenyataan bahwa ia sangat berharap untuk bisa menjadi yang spesial bagi Kiba adalah sebuah kebenaran. Rasa sayang dan kagum yang ia pendam untuk malaikat penolongnya telah bertransformasi menjadi perasaan cinta dan ingin memiliki.

"Jadi kau percaya dengan ucapan Shion?" Tanya Kiba sambil tertawa. Perasaan Sasame berkata bahwa semua itu benar, benar bahwa memang Kiba adalah tunangan Shion sehingga ia juga tak menyalahkan siapapun jika ternyata malaikatnya telah dimiliki oleh wanita lain. Padahal sebenarnya perasaan itu hanyalah kesalah pahaman belaka.

"Astaga Sasame itu semua tak benar!" Sasame melongo seketika mendengar itu sebelum akhirnya tampang cengo dan tablo yang ia keluarkan itu kini tergantikan dengan pipi yang merona merah saat Kiba mengelus kepalanya lembut. Kenyataan perasaannya pada Sasame yang semula hanya perasaan sayang layaknya seorang kakak pada adiknya kini juga tengah bertransformasi menjadi perasaan cinta sama seperti perasaan Sasame.

"Dengar ya Sasame gadis kecil berusia sembilan belas tahun yang kutemui saat sedang mencuri apel..." Canda Kiba kembali. Betapa malunya Sasame saat mendengar kata-kata itu. Benar, dulu ia hanya gadis malang yang ingin dijual sang kakak, tapi seketika Tuhan menurunkan orang berhati malaikat dan orang tersebut ada dihadapannya sekarang.

"Aku tak memiliki ataupun dimiliki oleh siapapun. Kau tak perlu khawatir..."

"Kalaupun benar juga tak apa...!" Ketus Sasame. Ia kerucutkan bibirnya yang mungil itu dan sedikit ia gembungkan pula pipinya itu seolah ekspresi itu mewakili perasaan tak percayanya. Kiba sendiri hanya terkekeh melihatnya, inilah jadinya jika gadisnya ini disatukan dengan orang sebawel dan seekspresif Karin. Wajah gadis ini begitu menggemaskan dimata Kiba.

"Kau tak percaya? Baik...akan kubuktikan..." Keputusan Sasame untuk menunjukan ekspresi ketidak percayaannya itu mungkin adalah kesalahan besar karena telah memancing Kiba yang notabene jahil ini.

Perlahan Kiba melepaskan jas cokelatnya melemparnya kesegala arah sehingga tinggal kaus v-neck ketat yang menempel ditubuhnya. Lekuk-lekuk perut dan dada bidang berotot Kiba tercetak jelas di kausnya terutama dadanya karena memang kerah kausnya rendah. Ini terpaksa membuat Sasame terpaksa menelan ludah.

Dan semakin banyak ludah yang ditelan Sasame seiring dengan semakin mendekatnya tubuh Kiba. Ia menutup matanya saat ia rasakan hembusan nafas Kiba menerpa wajahnya

"A...ap...apa..apa..ya..ya..ng..yang.." Sasame memejamkan matanya erat. Jika tadi saja ia dicium sekarang apa? Ia baru tahu kalau atasannya ini mesum juga.

Cup.

Kecupan manis mendarat mulus di kening Sasame. Kiba yang melakukannya. Sasame segera membuka matanya dan balas menatap mata Kiba.

"Aku tak akan menyakitimu selama kau mempercayaiku Sasame. Tolong jangan kecewakan aku jika memang kau mencintaiku..." Gumam Kiba menyentuh membuat Sasame langsung lemas mendengarnya.

"Aku mencintaimu..." Balas Sasame dengan wajah merah sangat.

"Aku pun begitu..." Jawab Kiba tenang. Sasame tersenyum manis. Ia sangat senang karena cintanya terbalas. Perlahan jemari kurus Sasame bergerak untuk mengambil sumpit dan mencapit sepotong ayam lalu menyudul-nyundulkannya dibibir Kiba.

"Kau tahu aku belum makan?"

"Hm..." Sasame kembali mencapit sepotong ayam lalu mulai menyuapi Kiba seperti seorang ibu dan anaknya. Dengan senang hati Kiba menerima perlakuan gadisnya itu karena memang ia sedang lapar karena belum makan sejak tadi siang.

"Sasame, keluarga Shion adalah kerabat keluargaku. Dan kebetulan pula kakak Shion adalah seorang designer yang pernah satu sekolah denganku waktu sekolah dasar. Shion juga satu fakultas denganku dikampus. Itulah yang menyebabkan aku kenal dengannya. Dan ibuku memang kenal dekat Shion begitu pula sebaliknya aku mengenal baik ibu Shion. Hanya sekedar itu.." Jelas Kiba tanpa diminta. Sasame hanya melanjutkan aktivitasnya menyuapi Kiba sambil mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena telah berfikir macam-macam tentang Shion dan Kiba.

"Laporkan padaku jika ia berani macam-macam denganmu! Janji...?" Kiba mengacungkan jari kelingkingnya. Dan dengan senang hati Sasame mengaitkan jari kelingkingnya di jari Kiba setelah menggumamkan kata 'janji'.

"Aku tak bisa terlalu lama. Dan lagipula sepertinya waktu hampir satu jam sangat lama bagi Karin dan Shizune untuk mengambil air minum dibawah..." Kekeh Kiba saat menyadari telah berjalan waktu empat puluh lima menit lebih dua orang pegawainya itu tak kembali. Keduanya pasti telah merencanakan hal ini dan sengaja meninggalkannya berdua saja dengan Sasame. Tapi Kiba bersyukur juga karena dengan begini ia dapat semakin mempererat hubungannya dengan Sasame. Mungkin setelah ini ia akan memberikan award pada Karin dan Shizune.

"Aku pergi, baik-baiklah disini dan sampai bertemu nanti di acara pembukaan dua hari lagi..."

"Tapi makananmu kan belum habis..." Ucap Sasame seolah tak rela ditinggal malaikatnya barang sekali saja.

"Itu makan malammu kan? Habiskan! Aku sudah kenyang..." Perintah Kiba sambil berdiri dari posisi duduknya dan bersiap untuk pergi.

"Kita mungkin besok bertemu saat acara pembukaan karena aku ada urusan di kantor pusat." Jelas Kiba. Sasame hanya menggumamkan kata baiklah tanpa semangat sedikitpun.

"Oh ayolah! Aku kan bukan pergi ke kutub utara!" Hibur Kiba sambil memeluk tubuh mungil Sasame. Sasame yang terkejut langsung buru-buru melepaskan pelukan Kiba dengan wajah merona malu.

"Su..sudah malam..cepatlah pulang Kiba-kun." Ujar Sasame gugup.

"Ho...jadi kau mengusirku? Baik..."

"Eh...eh bukan begitu Kiba-kun...maaf!" Ucap Sasame buru-buru dan ini membuat Kiba mengeluarkan binar jenaka diwajahnya. Langsung saja Sasame meninju ringan bahu Kiba karena sedikit kesal karena sudah menjahilinya.

"Aku pergi ya!" Seru Kiba sambil melambaikan tangannya. Tapi beberapa saat kemudian saat hampir mencapai pintu, pria tampan berambut cokelat ini membalikan tubuhnya dan menatap Sasame yang berdiri dibelakangnya.

"Kiba-kun! Aku suka panggilan itu! Jaa!" Seketika pipi Sasame langsung memerah lagi. Ia tak sadar sedari tadi memanggil Kiba dengan sebutan Kiba-kun. Sekarang ia hanya bisa memandang punggung malaikatnya yang semakin menjauh.

Saat pintu tertutup. Ia melihat sebuah jas berwarna cokelat susu tergeletak tak jauh dari kardus-kardus ayam. Sasame teringat bahwa itu adalah jas Kiba yang tadi dilepas oleh orang yang bersangkutan. Ia tersenyum manis dan meraih jas pria kesayangannya itu yang tertinggal. Ia hirup aroma maskulin yang menguar dari balik jas itu.

"Kiba-kun..."

Tanpa mereka berdua ketahui, ada sepasang mata tajam beriris sewarna dengan permata amethyst menatap tak suka kearah kedekatan Kiba dan Sasame. Kaki jenjangnya yang hari ini terbalut sebuah stiletto itu dihentakannya keras ke lantai. Malang benar nasib lantai marmer itu terkena sasaran empuk kekesalannya.

"Tamat riwayatmu gembel sialan!"

The Shinobi Gank Sidestory: Unpredictable KibaTo be continued

Jiah...belum tamat juga! Maaf readers dhitta bingung kok jadi banyak begini sih! Mana gaje lagi. Tapi kalau ga begini konfliknya akan makin gaje menurut dhitta. *readers: yang sekarang juga udah gaje!*

Panjang banget lagi! Sampe 33 halaman!Yakin semuanya pada jereng kali ni bacanya! Maaf ya! Maaf banget! Dhitta sendiri awalnya ingin menghilangkan bagian romance diakhir cerita karena terlalu melenceng. Tapi dhitta malah ga nemu adegan penggantinya! Jadi begitu deh!

Maaf! Dhitta mohon maaf jika para readers langsung sakit perut atau sakit yang lainnya(?) setelah membaca sidestory ini karena memang alurnya sinetron sekali...!*nangis gerung-gerungan didepan laptop*

Maaf juga bagi readers yang menunggu *cih siapa juga yang nunggu* lanjutan fic ini. Entah kenapa otak dhitta buntu sekali. Dan dhitta amat sangat membutuhkan bantuan dukungan. Kalau memang kurang berkenan, dhitta akan menghapus sidestory ini... Sudah dhitta pisahkan dari Shinobi Gank the series. Semoga saja readers mengerti alasan dhitta.

Terima kasih atas review para readers. Dhitta tak bisa balas satu-satu...maaf sekali

Terima kasih : Haruchi Nigiyama, Naru-mania, Imuri Ridan Chara, Li Qiu Lollipop, Chido Rokuro, Miss Uchiwa, 4ant4 ch4n, MagnaEvil, aya'na rifa'i, Ran Uchiha, Reika Kaname Ototsuki, Luna-chan, Green Yupi Candy-chan, Katsuya Fujiwara, Yumicho Kanukawa, Sesshomaru hyuuga uchiharuno, Putri Hinata Uzumaki.

Dhitta tunggu reviewnya...