"Yume Sakura"
Chapter 2: Dreamy Cherry Blossom ~Syaoran Side~
Author: Nacchan Sakura
Disclaimer: Tsubasa Reservoir Chronicle © CLAMP, Yume Sakura © Kagamine Len & Rin
-A/N-
Yohaaa Minna-chamaa~~ Kangen ga sama Nacchan? Ngga? Yaudah deh.. (?)
Akhirnya, Chapter 2! Chapter 2! Mwahahaha! - gila
Maaf kalau Chappie satu nya garing, yah maklum lah saya kan emang Author abal (?) hahaha X"D
Semoga Chapter 2 ini memuaskan anda, oke? Oke? Okee~ #maksa
Jaa, enjoy reading!
Jangan – lupa – review!
-Nacchan Sakura-
-Syaoran's POV-
.
.
.
Many lives have disappeared..
To the bottom of despair.
Light has just begun to appear..
But there are still wounds that have yet to heal..
"Syaoran! Syaoran!"
Aku melihat ke arah suara yang memanggilku – dan melihat lelaki berambut coklat lumayan panjang. Ia menatapku dengan tatapan kebingungan dan aku pun membalas panggilannya dengan senyuman.
"Ryuuoh. Kenapa kelihatannya panik begitu?" Tanyaku, yang disambung dengan tawa kecil yang keluar dari bibirku.
"Tentu saja aku khawatir bodoh! Kau ini mempunyai penyakit, dan aku tambah panik saja saat mendengar kotamu terkena gempa dan semua keluargamu meninggal! Aku khawatir akan sahabatku sendiri, bodoh!" Jawab Ryuuoh ceplas-ceplos. Lalu saat Ia sadar bahwa Ia telah mengingatkanku pada satu kenangan pahitku yang baru saja aku alami, ia menutup mulutnya dengan satu tangannya. "Ma-maaf, Syaoran, maksudku.."
"Tidak apa-apa." Aku tersenyum, senyuman yang memaksa. "Yang sudah terjadi sudah tidak bisa diapa-apakan."
Aku melihat ke luar jendela rumah Sakit dimana aku berbaring. Dan terlihat sebuah rumah yang cukup besar di dekat bukit. Dan dibukit itu aku lihat ada sebuah Pohon Sakura yang sedag mekar. Sungguh indah. Lalu aku melihat ke arah meja di samping tempat tidurku dan kulihat botol obat yang harus kuminum semakin bertambah.
Huh, Lucu sekali. Kenapa mereka masih berusaha untuk menyembuhkanku walau kenyataannya Aku tidak akan sembuh dan hanya akan mati?
Lebih baik aku juga cepat mati saja. Lebih baik aku pergi dari dunia ini. Dari dunia yang menurutku sama saja dengan mimpi buruk tanpa akhir.
"Syaoran, benda yang selamat dari gempa itu.. Cuma Biola ini saja?" Ryuuoh tiba-tiba bertanya kepadaku dan Aku pun tersadar dari lamunanku. Dan aku pun melihat ke arah Ryuuoh yang sedang memegang tas Biola hitam milikku.
"Iya. Setidaknya, aku masih bisa bermain Biola yang aku sayangi.."
"O-oh. Hmm.. Syaoran, Aku harus pulang sekarang, sudah jam 5. Jaa, Mata Ashita nee, Syaoran!" Ryuuoh pun tersenyum lebar dan beranjak dari kursinya. Aku membalas senyumannya dan kulihat ia pergi dari ruangan ini. Dan tinggallah aku sendiri.
Aku melihat sekali lagi keluar jendela, dan menatap lagi Pohon Sakura yang entah kenapa menarik perhatianku itu.
'Entah kenapa.. Pohon Sakura itu seperti mengajakku untuk datang ke tempatnya. Lagipula sepertinya bagus juga kalau Aku bermain Biola disana, suaranya akan terdengar jelas.' Pikirku. Lalu seorang suster datang ke ruanganku dan menyuruhku memakan obat tambahan – ya, obat baru yang harus Aku minum.
"Nee, Arashi-san." Panggilku kepada Suster berambut panjang itu
"Nanika?" Jawab Arashi singkat
"Pohon Sakura di atas bukit itu. Jaraknya.. tidak begitu jauh 'kan? kalau jalan kaki lama tidak?" Tanyaku
"Oh. Tidak juga, kalau jalan kaki mungkin 10 menit juga sampai. Memangnya kenapa?"
"Ti-tidak. Hanya bertanya saja."
Setelah menyelesaikan pertanyaanku, Arashi pun pergi dan Aku kembali sendiri. Namun entah kenapa pikiran bahwa Aku harus datang ke bukit itu selalu mengusikku. Sampai akhirnya aku menyerah dan mengikuti pikiran yang menggangguku itu. Aku mengganti Piyama rumah sakit yang berwarna putih ini dengan seragam sekolahku yang berwarna hitam. Seragam yang menjadi satu-satunya baju yang melekat pada tubuhku setelah semua barangku hancur. Lalu Aku mengambil tas Biolaku dan mengendap keluar dari ruangan Rumah Sakit ini.
Aku – dengan anehnya – sukses menyelinap keluar dari Rumah Sakit. Orang-orang tak curiga padaku dan mereka hanya mengira Aku orang habis menjenguk salah satu pasien. Aku pun keluar dari gedung Rumah Sakit dan berjalan menuju Bukit itu.
Walau hari sudah mulai mendekati malam dan bintang sudah mulai menampakan cahaya nya, Aku tetap berjalan menuju Bukit itu. Pikiran maupun langkah kakiku tidak menghentikan niatku yang ingin bermain Biola di bawah Pohon Sakura yang sedang memekarkan bunganya itu. Dan akhirnya, seperti kata Arashi – dalam 10 menit Aku sampai di Bukit itu, dan aku berdiri di depan Pohon Sakura yang sejak tadi aku lihat dari kejauhan.
"Indahnya.." Aku terkagum. Ternyata Pohon Sakura ini memang indah – dan sangat indah jika kita melihatnya dari dekat.
'Tiba-tiba Aku merasa ingin memainkan Biola. Apa aku main sekarang saja ya?'
Aku pun membuka tas Biola ku dan mengambil Biola yang sudah lama tersimpan di dalamnya. Namun saat tanganku Hendak memainkan beberapa nada dengan Biola kesayanganku ini, Aku melihat sosok seorang gadis di bawah Pohon Sakura yang letaknya tak jauh dari Pohon Sakura dimana Aku berdiri di bawahnya sekarang ini.
Aku melihat Gadis berambut pendek yang berwarna coklat terang itu menatap kosong ke arah yang tak tentu, dan kulihat mata Emerald nya.. mengeluarkan Kristal bercahaya yang berkilauan terkena sinar Bulan. Ah, Bukan.. itu.. Air mata.
'Gadis itu.. menangis? Ia memakai Yukata ala bagsawan, apa dia Gadis yang tinggal di Rumah di bawah Bukit ini ya? Aah, bukan saatnya berpikir begitu, tapi.. kenapa ia menangis?'
Kelopak Bunga Sakura mulai berjatuhan dan meninggalkan dahan tempat tinggalnya. Aku berpikir terlalu panjang sampai-sampai Aku lupa bahwa tujuan utamaku adalah memainkan Biola milikku ini. Lalu saat aku memutuskan untuk pergi saja dari tempat ini dan meninggalkan gadis itu, Aku mendengar Gadis itu bergumam dengan suaranya yang indah.
"Indahnya.. seperti.. mimpi." Gadis itu tersenyum tipis melihat bunga Sakura yang berjatuhan seperti salju. "Mungkin lebih baik jika aku.. hidup di dalam mimpi saja.."
'Gadis itu.. sepertinya Ia punya banyak masalah. Apa yag harus kulakukan ya? Entah kenapa.. Aku tidak bisa membiarkannya seperti ini..'
Lalu mata Amber ku dengan cepat melihat ke arah Biola yang sepertinya memanggilku untuk bermain dengannya. Aku pun mendapatkan ide, tersenyum dan mulai memainkan nada-nada dari Biola berwarna Hitam ini. Aku memainkan Biola dengan harapan agar Gadis itu bisa bersemangat dan senang walau hanya sedikit dan sesaat.
XxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXx
Akhirnya aku menyelesaikan satu lagu, dan entah kenapa Aku pun ikut merasa senang setelah memainkan lagu yang entah apa judulnya dari Biolaku ini. Apa perasaan senang sang Gadis itu tersampaikan juga kepadaku?
Aku menoleh sedikit dan melihat Gadis itu menatapku dari balik Pohon Sakura. Namun sepertinya Ia tidak sadar kalau Aku sedang melihat ke arahnya juga. Aku pun tersenyum tipis, ditemani dengan Kelopak Bunga Sakura yang masih turun seperti salju. Dan saat Aku melihat lagi ke arah Gadis itu, Ia sudah membalikkan badannya dan hendak meninggalkan tempat itu.
'Ke-kenapa dia pergi? Apa dia tidak suka permainan Biola ku? Tapi, wajahnya sedikit merah.. mungkin dia demam dan ingin pulang? Tapi, Tapi.. Aah! Kenapa Aku tidak ingin Gadis itu pergi?'
"Kenapa kau mau pergi begitu saja setelah mendengarkan satu lagu?"
Akhirnya itulah Kalimat yang aku ucapkan dengan singkat – untuk membuatnya berhenti dan tidak pergi meninggalkanku. Gadis itu terlihat sedikit terkejut dan menoleh ke arahku. Aku tersenyum ke arahnya dan kulihat pipi nya merona. Sungguh.. manis.
"E—ehh.. maaf, aku sudah seenaknya mendengarkan lagumu! Ma, maaf juga aku sudah mengganggu latihanmu! Aku.. aku.. etoo…" Gadis itu panik, ia salah tingkah dan itu membuatku tak bisa menahan untuk tidak tertawa melihat tingkah lucu nya.
"Kenapa? Aku tidak marah, lagipula aku senang kau mendengarkan laguku sampai selesai. Itu berarti permainan Biolaku tidak buruk." Jawabku
"A,ah! Iya! Permainan Biola mu sangat bagus! Dan lagi.. Nada-nada yang keluar dari Biola mu betul-betul membuatku berpikir.. Aku bisa menjadi apa yang aku mau, dan untuk sesaat.. aku dapat merasakan, kebahagiaan yang sesungguhnya.."
Syukurlah. Kukira permainanku buruk. Dan ternyata niatku yang ingin membuatnya sedikit senang pun ternyata tersampaikan. Aku pun tersenyum dan mengulurkan tangan kananku – untuk mengajaknya berjabat tangan.
"Namaku Syaoran Li, Siapa namamu?"
Gadis itu terlihat ragu untuk menerima jabatan tanganku. Kenapa? Apa Aku terlihat menakutkan? Atau..
Namun akhirnya Gadis itu membalas senyumanku, dan membalas jabatan tanganku dengan tangan kecilnya yang lembut.
"Sakura. Namaku Sakura"
XxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXx
"Sakura, kalau kutebak, rumahmu pasti dekat dari sini." Aku berusaha mencari topik pembicaraan baru setelah kami berbincang cukup lama. Dan aku pun menunggu jawaban dari bibir mungil milik Sakura.
"Um! Rumahku tidak begitu jauh dari sini, namun kalau jalan sampai kesana lumayan memakan waktu.. Tunggu, kenapa Syaoran bisa tahu?"
Ah, ternyata dugaanku tepat. Ia pasti anak orang kaya dari Rumah yang cukup besar itu.
"Aku selalu melihat dari jendela rumah sa.. Rumahku, ada sebuah rumah kuno yang bergaya Eropa-Jepang, dekat dari bukit ini. Lagipula kau memakai Yukata Modern seperti bangsawan, jadi pasti kau anak dari keluarga di rumah itu."
"Oh.."
Aku mengganti kata 'Rumah Sakit' menjadi 'Rumahku' karena tidak ingin Sakura yang baru mengenalku untuk beberapa menit mengetahui bahwa aku sebenarnya anak penyakitan yang tinggal di Rumah Sakit dan tidak memiliki apa-apa. Aku sendiri bingung kenapa bisa berpikir seperti itu.
"Lalu kenapa sampai jam segini kau belum pulang? Sakura, ini sudah jam 9 loh.." Aku melihat ke arah jam saku yang Aku simpan di tas Biola yang kubawa. Dan mendengar hal itu, Sakura – yang awalnya memasang ekspressi lembut dan anggun – menjadi sangat terkejut.
"TIDAK! Aku sudah telat untuk pulang ke rumah! Maaf, Syaoran, Aku harus pulang!" Sakura langsung beranjak dan berlari meninggalkanku.
'Aah, dia pergi. Kenapa aku merasa sedikit sedih ya?' pikirku. 'Tidak, aku tidak ingin semuanya berakhir.. Aku.. ingin bertemu dengannya lagi.'
Lalu Aku pun melambaikan tanganku dari kejauhan dan begitu juga Sakura. Tanpa sadar mulutku bergerak sendiri dan berkata,
"Besok, Kutunggu Kau disini, jam 4 sore!"
Dan aku pun mendengar jawaban yang penuh dengan nada kegembiraan dari mulut Sakura.
"Ung! Aku pasti datang!"
'Sudah lama aku tidak banyak berbicara seperti ini. Sudah lama juga Aku tidak merasakan 'Dunia' yang sesungguhnya. Duniaku yang selalu terlihat seperti mimpi buruk, Dunia ku yang datar.. entah kenapa jadi terlihat penuh harapan saat aku berbicara dengan Sakura..'
Sakura, gadis yang berhasil membuatku terus memikirkannya, gadis yang tersenyum dengan tulus kepadaku.
Gadis yang dengan suksesnya mengambil hatiku.
Since I met you by chance,
I have been talking a lot.
You have made me remember A world that is full of hope..
.
.
.
Aku pun kembali ke Rumah Sakit dan mengganti bajuku dengan Piyama putih pucat yang selalu Aku pakai di dalam ruangan ini. Lalu Aku mengistirahatkan tubuhku di atas kasur keras – yang menurutku tidak begitu nyaman ini. Dan mataku terbelalak kaget saat melihat botol obat yang entah sejak kapan kembali bertambah.
'Apa-apaan ini! Kenapa obat yang harus kumakan bertambah banyak?' Pikirku. Dan seiring dengan pikiranku itu, jantungku tiba-tiba berdetak kencang dan nafasku terasa sesak. Tubuhku berkeringat dingin dan aku jatuh terkapar lemas di atas Kasur keras ini.
Itu mengingatkanku pada satu hal – Aku belum memakan satupun obat hari ini. Pantas saja kondisi tubuku melemah.
'Kalau Sakura tahu.. Aku ini hanya Lelaki lemah.. yang tidak bisa melindunginya..
Ia pasti akan kecewa..
Aku tidak bisa bersamanya. Jika aku berada di dekatnya aku tidak bisa melindunginya.
Aku pasti hanya akan menyakitinya. Aku hanya akan menyakiti Sakura.
Lebih baik jika aku melepaskan tangannya dan membiarkannya pergi. Dan juga melepaskan perasaanku yang tidak bisa dimaafkan ini.
Tapi, aku tidak bisa.
Aku…'
If we are fated to hurt each other,
In this fabricated world full of lies..
I will quietly let go of your hand,
And my earnest but unforgivable feelings for you.
Aku tidak boleh membuang semuanya yang ada dalam hidupku begitu saja dan hanya hidup demi dirimu.
Besok pun pasti kau tidak akan datang. Dan aku akan tetap berdiri di bawah Pohon Sakura itu menunggumu.
Memainkan Biola ini, di Dunia yang seperti mimpi tanpa akhir.
.
.
.
I am not allowed to throw everything away And live just for your sake.
Tomorrow, I will definitely be in the same place..
Playing the violin in this endless dream world.
~ To be Continued ~
