"PAK POLISI! ANAK SAYA HILANG SEJAK SEMALAM!"

Niat untuk bersantai sambil meminum secangkir teh hangat batal sudah. Seorang dengan yukata berwarna hitam duduk memandang kedua wanita itu dengan tatapan heran. Pentungan yang ia sampirkan di obi-nya bergeser sedikit seiring pergerakan tubuhnya, menghadap ke arah kedua wanita itu.

"Tenang dulu, bu, pelan-pelan—"

"BAGAIMANA KAMI BISA TENANG, PAK!"

Maunya menenangkan, malah kena sembur. Polisi itu menghela napas sabar, lalu mengeluarkan selembar kertas dari dalam laci. Tangannya lantas meraih botol tinta cina dan pena bulu, lantas mulai menulis.

"Baik, bu, sekarang katakan permasalahan kalian." Pintanya.

Seorang ibu dengan rambut hitam—namun sudah banyak uban tumbuh—berkata, "Begini pak, semalam anak saya sedang menutup toko. Baru beberapa saat saya meninggalkannya, tahu-tahu ia sudah hilang, pak. Saya takut…" Katanya, nadanya gemetar. Ibu berambut orange pucat di sebelahnya mengelus punggungnya lembut.

Polisi itu lalu melempar pandangan pada wanita yang lain, "Kalau ibu?"

"Anak saya semalam pergi mencari ayahnya, tapi saat suami saya pulang, ia berkata ia tidak bersamanya. Saya takut ia diculik seseorang…" Tutur ibu itu.

"Baik, kami akan segera—"

"PAK POLISI!"

Satu lagi wanita paruh baya menerobos kantor kecil itu. Rambutnya hitam di potong pendek. Kulit wajahnya pucat, penuh peluh.

"Shiota-san?" Rupanya mereka bertiga saling kenal.

"Ada apa, bu?"

"Tolong, pak!" Shiota Hiromi berteriak ketakutan. Rautnya yang sudah tua semakin nampak tua dan warna hilang sepenuhnya dari wajahnya.

"Ya, bu, ada apa?"

"ANAK SAYA DICULIK SEEKOR NAGA!"

.

.

THE RYUU OF YOU

Genre : Romance/Fantasy

Rate : T…?

Pair : ChibaxHayami (main) , KaruNagi and MaeIso (side pair)

Setting : Edo!AU, Dragon!ChibaKaruMae, Human!HayaNagiIso

Warnings : Typo(s) , alur dan EYD berantakan, OOC, ketidaktahuan yang menyesatkan, judul ama isi ga nyambung, amburegul, emeseyu, de-el-el

.

.

#HappyReading!

.

.

Ansatsu Kyoushitsu/ Assassination Classroom © Matsui Yuusei

FanFiction © Ameru Sawada

.

Ketika Rinka membuka mata, yang pertama ia sadari adalah bahwa ini bukanlah rumahnya.

Futon-nya terlalu empuk. Rinka yakin ia akan tidur sepanjang hari kalau saja alarm tubuhnya tidak berbunyi. Ia menyibakkan selimutnya, memandang ruangan yang kini merupakan kamarnya. Di belakangnya terbentang lukisan seekor naga yang dilukis dengan tinta cina. Di sudut ruangan itu, terdapat sebuah cermin besar. Di sebelahnya, ada sebuah laci berisi pakaiannya. Laci itu terbuat dari kayu pohon beringin naga.

Sedikit demi sedikit, ingatannya tentang kejadian semalam muncul dalam pikirannya. Ia mengejar seekor naga, yang berujung ia dibawa ke Istana Klan Naga Karasuma dan menjadi calon pengantin seorang manusia setengah naga yang berponi arogan.

Rinka menghela napas. Dalam hati menyesali keingintahuannya itu. Tapi tidak ada jalan untuk kabur dari sini. Dan ia berpikir tidak ada salahnya mempelajari sedikit mengenai dunia baru ini.

Pintu kayu digeser tiba-tiba. Wujud Ryuunosuke memasuki ruangan masuk dalam penglihatan Rinka.

"Oh, kau sudah bangun." Adalah kalimat pertama yang Ryuunosuke lontarkan. Rinka mengerutkan dahinya. Apa-apaan sapaan itu.

"Ya, bisa kau lihat, " Rinka menjawab. Ryuunosuke maju selangkah, lalu berlutut dan menyerahkan secarik kertas, botol tinta dan pena bulu. Rinka menaikkan sebelah alisnya—heran.

"Bukankah kau bilang kau ingin mengabari keluargamu?" Ryuunosuke mengingat kembali permintaan Rinka semalam, ia melanjutkan, "Nanti salah satu penjagaku akan mengantarkannya pada keluargamu…"

Rinka terdiam. Matanya membulat, perlahan berani memandang Ryuunosuke. Satu—hal kecil—yang Rinka sadari. Ryuunosuke menjaga janjinya.

Tangannya lalu meraih kertas dan botol tinta tersebut. Ryuunosuke berbalik, meminta pada pelayan di sana untuk membawakan meja kecil.

"Setelah selesai, pergilah mandi. Nanti kita akan sarapan, " Pesan Ryuunosuke, sebelum melangkah meninggalkan kamar Rinka. Pintu ditutup oleh sang pelayan.

Rinka masih terdiam. Memandang pintu kayu yang sempat dilewati sosok Ryuunosuke. Dibalik wajah dinginnya, ternyata dia perduli juga.

'Tu—Tunggu! Kenapa aku mendadak lunak padanya! Dia itu putra mahkota arogan, aku harus mencamkan itu!' Batin Rinka. Ia menggelengkan kepalanya cepat.

Tanpa membuang banyak waktu, ia segera meraih pena bulu yang tercelup di dalam botol tinta itu. Mulai menulis.

.

.


Isogai terbangun dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah tidur Hiroto.

Isogai tidak ingat ia tidur bersama si naga pirang. Seingatnya ia tidur sendiri, mungkin Hiroto menerobos masuk dan—dengan seenaknya—tidur di sebelahnya Isogai.

Diam-diam Isogai mengulum senyum. Harus ia akui pangeran Klan Naga Karasuma yang satu ini memang tampan. Rambut pirang pendeknya berkilau seperti sutera. Rahangnya tegas, dan alisnya—adalah favorit Isogai.

Tangannya terulur, mengelus helaian pirang itu. Memang indah, halus, benar-benar terawat. Lalu tangannya turun ke rahang Hiroto, mengelusnya pelan. Benar-benar rupa seorang pangeran yang rupawan.

"Hng…" Sebuah erangan datang dari mulut Hiroto. Isogai sedikit terkesiap, tangannya menjauhi rahang Hiroto, namun sebuah tangan bercakar menahannya.

"E—Eh, Hiroto-san—"

"Ohayou, Yuuma-kun…" Hiroto mengecup punggung tangan itu. Punggung tangan Isogai sedikit kasar, namun tidak sepenuhnya. Masih menunjukkan kehalusannya. Hiroto melihat pipi Isogai merona, membuat senyum Hiroto mengembang.

"Ke—Kenapa Hiroto-san… bisa ada di kamarku?" Tanya Isogai, gugup. Setelah mengetahui Hiroto adalah putra mahkota dari klan naga paling dikenal seantero Jepang, membuatnya tidak bisa berbicara seakrab saat ia mengenal Hiroto di depan toko buah.

"Memangnya aku tidak boleh tidur bersama pengantinku?" Tanya Hiroto polos, kedua alisnya naik. Isogai semakin merona mendengarnya, dan senyuman Hiroto berubah menjadi seringai kecil, "Duh, kau manis sekali…" Lanjutnya, dan dengan cepat mencuri ciuman di pipi Isogai yang sudah panas dan merah.

"Hi—Hiroto-san…"

'Aih, dia manis sekali! Aku memang hebat!' Batin Hiroto girang. Tangannya terulur mengelus rambut hitam Isogai, sesekali memainkan sepasang 'antena' di atasnya. Lucu sekali, dan rambut itu, lembut sekali. Hiroto ragu bisa menemukan rambut sehalus ini di dunia manapun.

Tiba-tiba pintu kayu diketuk, sebuah siluet muncul dan berkata, "Hiroto-sama, Yuuma-sama, waktunya bangun…"

"Ugh…" Hiroto merengut—kesal. Acaranya bermesraan dengan pujaan hatinya pupus sudah. Isogai yang melihatnya tertawa singkat.

"Ayo, Hiroto-san!" Pinta Isogai, perlahan bangkit. Namun lengannya keburu ditahan tangan Hiroto.

"Mandi bareng, yuk."

.

.


"Na~gi~sa-kun~" Nagisa merasakan tusukan pelan dan sedikit sakit di pipinya. Ia berusaha menghiraukannya, namun tusukan itu semakin gencar dilancarkan.

"Nagisa-kun~" Kembali, pipinya ditusuk oleh sesuatu. Nagisa—menyerah—membuka matanya, memerlihatkan aquamarine-nya yang masih berkabut oleh kantuk.

Pemandangan di depannya adalah wajah Karma yang tersenyum cerah. Yukata merah darah yang dikenakannya sedikit terlipat. Nagisa memaksakan senyumnya.

"Ohayou, Karma-san…"

"Kau tidak usah seformal itu, Nagisa-kun…, " Karma berucap, diiringi tawa pelan. Tangannya masih menumpu sebelah pipinya, "Lagipula, kau 'kan pengantin-ku…" Lanjutnya, dengan seulas seringai licik.

Mengingat kejadian itu, pipi Nagisa memanas sedikit, tapi masih dapat memertahankan raut datarnya, "Karma-san…"

Karma terdiam. Pemandangan di depannya terlalu bersinar. Terlalu manis. Nagisa, dengan raut masih mengantuk, dan pipi yang memerah karena malu… Karma ingin menerkamnya sekarang. Tidak, tunggu, Karma, masih belum. Tunggulah waktu yang tepat.

Setelah sadar dari khayalan kotornya, Karma berucap, "Waktunya bangun, Nagisa-kun. Sarapan sudah siap. Kami akan menunggu di ruang makan…" Seraya bangkit, membenarkan posisi yukata-nya.

"Uhm…" Karma lalu meninggalkan Nagisa di kamar. Nagisa—dalam posisi terduduk—menunduk, memandang futon yang tadi ditempati Karma.

.

.


Bagi Rinka, menemukan kamar mandi di istana sebesar ini adalah masalah. Beberapa kali ia tersasar, salah masuk belokan, bahkan hingga sampai ke kamar para pelayan. Rinka memutuskan ia harus membuat peta ruangan-ruangan penting di istana ini.

Ketika ia berhasil menemukan kamar mandi dan membuka pintunya, sebuah bak mandi yang luas menyambut pandangan Rinka. Bak mandi itu terbuat dari keramik hitam obsidian, dengan pancuran berbentuk kepala naga. Dari mulut naga itu, air hangat mengucur keluar. Di keempat sisi bak mandi itu juga terdapat empat patung naga kecil. Kepala keempat naga itu menengadah ke atas dengan gaya angkuh, namun elegan. Sesaat, Rinka melihat rupa Ryuunosuke dalam pahatan patung itu.

Setelah menanggalkan kimono-nya, kaki Rinka perlahan menjejakkan kakinya di dalam bak mandi. Kehangatan air menyambutnya. Perlahan tubuhnya mulai dimasukkan ke dalam bak, hingga sebatas lehernya. Rinka tidak pernah merasakan mandi dengan air hangat. Ia harus berbagi air dengan Kousuke dan orang tuanya. Berbicara tentang mereka, apa yang mereka lakukan sekarang?

'Ayah, ibu, dan Kousuke… mungkin sedang mengkhawatirkanku…' Batin Rinka.

"Rinka-sama."

"HUWAH!" Rinka terlonjak, air sedikit keluar dari bak. Rinka memandang horror sosok pelayan wanita berbalut yukata putih yang berdiri tak jauh dari bak mandinya. Dari mana ia muncul?

"Y—Ya?"

"Ini sabunnya, " Pelayan itu menyodorkan sebuah sabun yang diletakkan dalam tatakan persegi batu obsidian hitam.

Rinka meraih sabun berwarna pink itu, "A—Arigatou." Pelayan itu membungkuk sesaat, sebelum tiba-tiba menghilang. Rinka harus mencatat dalam benaknya bahwa kaum naga mempunyai kemampuan menghilang seperti ninja.

Sabun dalam genggamannya menguarkan bau seperti bunga sakura.

.

.


"Uwaah!"

Isogai berdecak kagum melihat betapa luasnya kamar mandi yang ia datangi. Hiroto tersenyum di belakang punggungnya. Isogai melihat beberapa pelayan pria yang berdiri di dinding kamar mandi itu meninggalkan kamar mandi itu.

"Hiroto-san?"

"Pelayan-pelayan itu mengganggu, " Hiroto mengusap tengkuknya, bibirnya mengerucut. Aku tidak mau mereka melihat tubuhmu—tambahnya dalam hati.

Setelah mereka melepas yukata mereka, keduanya merendamkan diri mereka dalam bak besar itu. Hiroto—yang berada di belakang Isogai—melingkarkan lengannya pada pinggang Isogai. Membuat si wajah ikemen terkejut.

"Hiroto-san—"

Hiroto menulikan telinganya, kemudian mengistirahatkan kepalanya pada pundak Isogai. Aroma khas Isogai menguar dalam hidungnya, dan Hiroto akan memastikan otaknya mengingat bau itu. Ujung hidungnya digesekkan pada kulit pundak Isogai. Isogai menahan napasnya, menahan sensasi geli yang diakibatkan oleh si pangeran pirang.

"Hh… Yuuma-kun… aku mencintaimu… sangat…" Racau Hiroto, masih merebahkan kepalanya pada pundak pujaannya. Isogai membeku ditempat.

"Tapi Hiroto-san, ini 'kan hanya—"

"Tidak, aku tidak memilihmu karena terpaksa, " Bantah Hiroto, pegangannya pada pinggang Isogai menguat, "Aku benar-benar memilihmu… karena aku mencintaimu…"

Isogai tidak bisa menahan ronanya. Beruntung ia memunggungi Hiroto.

"…"

"Tidak apa kau belum mencintaiku sekarang, " Kepala Hiroto terangkat, dan Isogai sesaat kehilangan kehangatannya, "Aku bisa menunggu… hingga kau dapat menyadarinya…" Isogai menelengkan kepalanya dan disambut senyum tulus Hiroto.

Tangan Hiroto meraih sabun yang diletakkan di ujung bak mandi, mulai menggosok punggung Isogai dengan sabun. Tidak ada yang bicara di antara mereka. Memang hening, tapi bukanlah hening yang canggung. Hening yang nyaman, menenangkan. Isogai menutup matanya, merasakan lembutnya sabun yang digosokkan Hiroto ke punggungnya.

'Ya… akan kucoba…' Batin Isogai.

.

.


Ternyata menemukan ruang makan lebih sulit daripada kamar mandi. Seperti sebelumnya, Rinka tersasar, salah masuk belokan. Ia terperangkap di antara lorong-lorong dengan lukisan naga dan pegunungan dari tinta cina. Tetapi setelah menemukan sebuah belokan tunggal, Rinka berhasil menemukan ruang makan. Di meja makan, Karma tengah duduk, berbicara singkat pada Tadaomi.

Rinka membungkuk sesaat kepada keduanya, "Ohayou, Tadaomi-sama, Karma-san…"

"Ohayou, Rinka, duduklah, " Ujar Tadaomi, layaknya seorang ayah pada anaknya. Rinka menurut dan duduk di seberang Karma.

Beberapa saat duduk, namun Rinka merasa ada sepasang mata mengawasinya. Ia mendongak dan menemukan Karmalah orang yang memandanginya sejak tadi.

"Ada masalah, Karma-san?" Tanya Rinka—sedikit berbisik.

Karma mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, sehingga matanya hanya berjarak beberapa senti dari Rinka, "Oh, Rinka-san, apakah kau masih bertengkar dengan kakakku?" Tanyanya, berbisik pula.

"Tidak terlalu, lagipula aku tidak mau mencari masalah…" Balas sang gadis.

"Benarkah? Apa itu berarti hatimu mulai terbuka pada Ryuu-nii-sama?" Tanya Karma lagi. Alis Rinka berkedut mendengar nama yang cukup menyebalkan itu.

"Tidak. Sama sekali." Imbuhnya, dengan penekanan. Karma tergelak.

"Kau menarik, Rinka-nee-sama, tapi aku yakin waktu akan mengubahmu…" Karma lalu menjauh dari Rinka, masih memasang seringai menyebalkan itu. Rinka kembali mencatat bahwa ia harus menjaga jarak dari pangeran termuda ini.

Tak lama, semua anggota keluarga telah mendatangi meja makan. Setelah beramah tamah sejenak, hidangan pun disajikan. Seperti biasa, Rinka dan Ryuunosuke kembali membuat jarak. Kali ini mereka tidak berebut makanan seperti semalam, mereka telah belajar dari kesalahan. Hiroto diam-diam melemparkan tatapan cemas pada kakaknya itu, sesekali mengerling sang ayah, berharap ayahnya itu mengetahui ada yang salah pada mereka berdua. Nyatanya tidak.

Setelah sesi sarapan, Tadaomi berdehem, "Seperti biasa, hari ini sehabis sarapan kalian ada latihan pedang, " Ujarnya, menatap ketiga puteranya bergantian, "Dan untuk kalian bertiga, " Kemudian ia beralih pada Isogai, Nagisa dan Rinka, "kalian bisa melihat-lihat istana ini. Bila Yuuma-kun dan Nagisa-kun tertarik belajar pedang, kalian bisa ikut dengan puteraku…" Tambahnya.

.

.


"Oh, senang bisa melihatmu ada di sini, Rinka-san…" Ujar Ryuunosuke, dengan senyuman tipis di wajahnya. Rinka hanya bisa memasang wajah datar.

"Aku bosan, dan aku akan tersesat di istana sebesar ini. Lebih baik menonton kalian berlatih pedang…" Dalihnya, setengah benar dan salah. Alasan kecil lainnya adalah karena Rinka ingin—walaupun sedikit—mengenal lebih jauh mengenai Ryuunosuke.

Kini mereka berenam berada di halaman belakang istana yang penuh dengan pepohonan rindang. Rinka duduk di teras, ditemani pelayan ketiga pangeran, Hinata, Manami, dan Yuu. Isogai dan Nagisa memutuskan untuk ikut belajar bermain pedang. Mereka ditemani Hiroto dan Karma di sudut halaman, sementara Ryuunosuke memutuskan menantang ayahnya.

Sedikit penasaran, Rinka bertanya pada Yuu yang duduk di sebelahnya, "Apakah Ryuunosuke-sama pandai bermain pedang?"

Yuu membalasnya dengan senyuman kecil di antara kerutan di pipinya, "Itulah keharusan seorang pewaris tahta, Rinka-sama. Tapi memang benar, ia pandai bermain pedang. Keahliannya adalah menangkis serangan dan serangan dari arah samping…" Tutur pelayan pribadi Ryuunosuke itu. Rinka mengangguk paham, matanya kembali fokus pada sosok Ryuunosuke yang berdiri berhadapan dengan Tadaomi.

"Kau bisa mulai, Ryuunosuke."

Ryuunosuke mulai berlari, menghindari ke samping kiri ketika pedang Tadaomi melesat mengincar sisi lehernya. Kemudian ia berlari dan segera menghunuskan pedangnya, mengincar lengan kanan Tadaomi, namun gagal karena dengan gesit Tadaomi berhasil menghindarinya. Pedangnya terhunus, beradu sengit dengan belahan besi lainnya.

"Kecepatanmu harus ditambah, Ryuunosuke, " Tadaomi menilai, sembari mundur sesaat ke belakang dan kembali menghunuskan pedangnya tepat ke wajah Ryuunosuke. Dengan cepat Ryuunosuke menghadang ujung pedang itu dengan sisi pedangnya.

Terdengar bunyi dentingan dari kedua pedang itu. Ryuunosuke dan Tadaomi telah membuat jarak kira-kira setengah meter, sebelum kembali mengadu pedang mereka. Melesat ke kanan, Ryuunosuke berlari ke sisi belakang Tadaomi, berniat mengincar punggungnya. Namun kalah cepat, pedangnya terhalang kembali. Pedang Tadaomi menghalangi pedang Ryuunosuke, menimbulkan bunyi derik besi yang memilukan telinga.

"Wah…" Rinka tercengang di tempatnya. Melihat permainan pedang ayah dan anak tadi membuatnya bisu beberapa lama. Seakan-akan waktu berhenti di sekitarnya. Pergerakan Ryuunosuke sangat cepat, Rinka hanya bisa melihat gerakan Tadaomi serta pedang mereka yang beradu. Sial, ternyata pangeran arogan itu punya keahlian seperti ini.

"Kau mulai terkesan rupanya, " Sebuah suara baritone yang Rinka kenal membuatnya kembali ke alam nyata. Ryuunosuke sudah berdiri di hadapannya. Pedangnya sudah ia masukkan ke dalam sarung pedang.

"A—Aku tidak terkesan padamu! Permainanmu yang bagus!" Dalih Rinka cepat, sembari membuang wajahnya. Ia berharap rona pink di wajahnya tidak terlihat. Ia bisa mendengar Ryuunosuke mendengus. Ia lalu duduk di antara Rinka dan Yuu.

"Yuu, tolong kembalikan ini ke tempatnya, " Pinta Ryuunosuke sembari memberikan pedangnya pada sang pelayan. Yuu membungkuk dan segera berjalan, meninggalkan keduanya. Hinata dan Manami asyik bercengkerama—tidak ada niat mengganggu pasangan itu.

Rinka dan Ryuunosuke kini memfokuskan pandangan mereka pada dua pangeran yang sibuk mengajari pengantinnya bermain pedang. Isogai yang pada dasarnya punya karakter cepat mengerti, dalam waktu singkat dapat menguasai dasar-dasar permainan pedang. Nagisa sendiri masih berusaha membuat ayunan pedangnya lebih mantap.

"Aku ingin mencoba…" Celetuk Rinka. Suaranya sangat pelan, dengan tujuan agar telinga naga di sampingnya tidak mendengar. Sayangnya telinga hewan sepuluh kali lebih peka dari manusia.

"Kau mau coba?" Ryuunosuke menawari, alhasil membuat Rinka menolehkan kepalanya. pangeran itu tersenyum simpul, dan Rinka berusaha menemukan udang yang bersembunyi.

"Kau tidak sedang mempermainkanku, kan?"

"Tentu saja tidak, aku orang baik, " Balas Ryuunosuke, sedikit membusungkan dadanya. Kemudian ia memanggil seorang pelayan lain dan berkata, "Tolong ambilkan baju dan celana selutut untuk Rinka-san, " Dan pelayan itu segera pergi.

"Kau… tidak usah repot-repot…" Gumam Rinka. Ryuunosuke menatapnya dengan tatapan datar.

"Tidak apa. Ayo, kita ke ruang latihan…" Kemudian mereka berjalan meninggalkan halaman belakang.

.

.


Dan di sinilah mereka. Di sebuah ruangan berukuran 10 kali 12 meter. Ruangan itu terbilang cukup luas karena tidak ada benda-benda lain di ruangan itu, selain lukisan pohon beringin naga tergantung di dinding.

Rinka sekarang mengenakan baju dan celana selutut berwarna hitam. Ryuunosuke bilang ini pakaian khusus latihan untuk para prajurit istana. Ia duduk bersimpuh, sebilah pedang kayu terpampang di depannya. Ryuunosuke juga mengenakan pakaian yang sama, namun tidak mengenakan celana. Ekornya yang berbulu hitam legam berayun-ayun pelan.

"Aku akan mengajarkan hal yang paling dasar dalam ilmu pedang, yaitu ayunan, " Ryuunosuke memulai, mengambil sebilah pedang kayu dari tangan Yuu, "Kalau ayunanmu tidak mantap, kau akan berakhir seperti permainan pedang Nagisa tadi…" Rinka mengingatnya. Nagisa mengayun pedang dengan tidak mantap, sehingga ayunannya terkesan lemah.

"Mungkin akan terdengar sedikit sadis, tetapi untuk mendapatkan ayunan yang mantap, kau harus membayangkan dirimu sedang membunuh musuhmu, " Ryuunosuke berjalan mengitari tempat, "Sayat mereka dengan ayunan pedangmu. Kalau kau membayangkan dengan baik, maka ayunanmu akan mantap…" Rinka mengangguk pelan.

Ryuunosuke menambahkan, "Ya, melihat karaktermu yang begitu, aku yakin kau akan cepat belajar…" Yang dimaksudkannya di sini adalah 'tempramen Rinka' .

"Sialan kau…" Desis Rinka. Ryuunosuke memasang tampang deadpan, lalu mundur beberapa langkah.

Ryuunosuke memegang pedangnya dengan kedua tangan, lalu dengan gerakan cepat, mengayunkan pedangnya ke arah kanan. Saking cepatnya, Rinka dapat merasakan udara berhembus di depannya, akibat dari gesekan pedang kayu itu dengan udara. Suara 'wuut' yang cukup kencang terdengar.

"Kurang lebih seperti itu, " Ryuunosuke menunjuk pedang kayu di hadapan Rinka, "Ambillah, dan kita lihat apa kau bisa melakukannya…"

Rinka menggenggam pedangnya, mencengkeramnya kuat. Ia menutup matanya dan mulai membayangkan. Ia harus membayangkan musuh. Banyak. Berdarah dingin. Tapi yang muncul malah bayangan Ryuunosuke, dengan cengirannya yang terkesan merendah, dan mulutnya mengeluarkan kata-kata 'Siapa juga yang mau menikah dengan wanita bermulut kasar dan tempramen sepertimu…'

CTAK

'Dasar pangeran arogan!' Membuka matanya, Rinka mengayunkan pedangnya ke sisi kiri. Namun yang membuatnya terkejut adalah Ryuunosuke yang berdiri terlalu dekat dengannya. Pedangnya sempat mengenai Ryuunosuke, untungnya pemuda itu berhasil menghindar. Namun sayang beberapa helai rambutnya berjatuhan ke lantai.

"Ma—Maaf!" Sekasar apapun Rinka, jika ia melakukan sesuatu yang berlebihan, ia pasti akan meminta maaf. Namun Ryuunosuke menggeleng, bibirnya membentuk senyuman kecil.

"Lumayan, " Komentarnya, "Mungkin kalau aku lengah sedikit, hidungku akan patah…" Tambahnya.

Rinka menatapnya tidak percaya, "Apa ayunanku sekuat itu…?" Dalam hati ia berdoa agar hidung mancung sang pangeran tidak bengkok ke kanan.

Ryuunosuke tertawa kecil, "Cukup kuat. Kau bisa lihat rambutku rontok akibat bergesekan dengan pedangmu…" Katanya sambil menunjuk beberapa helaian hitam di atas tatami.

'Menarik, ' Batin Ryuunosuke, 'Dia bukan tipe wanita yang lemah ataupun apa. Permainan pedangnya kuat. Gawat, dia jadi mengingatkanku pada okaa-sama…' Ia tersenyum kecut dalam hati.

"Walaupun begitu, " Ujar Ryuunosuke lagi, "Aku tidak bisa melatihmu bermain pedang kalau kau sendiri—"

"Tidak, aku mau, " Potong Rinka, matanya masih terfokus pada pedang kayu di genggamannya, "Lagipula, lebih baik begini daripada duduk diam dan menonton saja…" Mata zamrud bertemu pandang dengan barisan poni. Bibir tipis Rinka membentuk seringai menantang.

Ryuunosuke meneguk ludahnya perlahan. Ia memilih wanita yang tidak biasa.

.

.


"Ryuu-nii-sama! Rinka-nee-sama!" Hiroto-lah yang menyambut kedatangan Ryuunosuke dan Rinka di ruang santai sehabis berlatih pedang. Kedua adiknya itu sedang duduk beralaskan tatami. Hiroto mengelap peluhnya dengan handuk putih, di sampingnya Isogai duduk sambil sesekali mengatur napas. Karma dan Nagisa sama-sama meneguk teh dari cangkir mereka.

"Kalian nampaknya berlatih keras…" Komentar Rinka, setelah melihat betapa banyaknya peluh di tubuh Nagisa dan Isogai.

"Begitulah, Yuuma-kun belajar dengan cepat, " Balas Hiroto, sembari mengalungkan lengannya pada leher Isogai. Isogai mengangguk tanda setuju.

Karma sendiri mengendikkan bahunya, "Nagisa sendiri sudah bisa memantapkan ayunannya…" Ujarnya singkat.

Rinka dan Ryuunosuke ikut mendudukkan diri di atas tatami. Manami datang beberapa saat setelahnya dengan dua cangkir teh hangat di atas nampan. Rinka mengambilnya, mengucapkan terima kasih, lalu menyeruputnya. Merasakan hangatnya teh yang mengalir di kerongkongannya.

"Ngomong-ngomong, kalian berdua habis dari mana?" Celetuk Karma, yang berhasil mengundang cengiran Ryuunosuke.

"Oh, Rinka-san tertarik ingin berlatih pedang, jadi aku dengan senang hati mengajarinya…" Balasnya, dengan nada sedikit menyombongkan diri. Rinka mendengus kesal mendengarnya.

Hiroto—dengan mata madu berbinar melihat kakak dan calon kakak iparnya mulai akrab—bertanya, "Lalu, bagaimana?"

Rinka menjawab, "Aku hampir mematahkan hidungnya…" Sontak Hiroto dan Karma memandangnya horror. Begitu pula dengan Isogai dan Nagisa.

"RYUU-NII-SAMA! RYUU-NII-SAMA TIDAK APA, KAN?" Yang heboh sendiri adalah Hiroto, takut kakak tercintanya tidak akan tampan lagi dengan hidungnya yang mancung. Karma menahan tawanya dibalik telapak tangannya. Bahunya bergetar.

"Urusai, Hiroto, hidungku baik, " Ujar Ryuunosuke, mendelik kesal pada pengantin di sebelahnya yang kini tersenyum penuh kemenangan, "Sepertinya dia berniat betul ingin membunuhku…"

Senyuman di wajah Rinka makin melebar, "Tentu… suatu saat aku akan membunuhmu…" Rinka berdeklarasi.

"Kalau kau bisa, hime-sama…"

"Kenapa tidak?"

"Wah, Ryuu-nii-sama dan Rinka-nee-sama sudah akrab rupanya!" Satu kalimat polos dari Hiroto dan Karma sontak membungkam pertengkaran mereka berdua. Mereka menoleh pada mereka berdua, lantas melempar glare dan berkata kompak,

"Kami tidak akrab."

"Hahahaha, terserah…" Balas Hiroto ringan.

Karma meletakkan tangannya di belakang kepalanya, bersiul, "Nanti juga bakalan cinta…"

"Rinka-san tidak boleh membodohi diri sendiri…" Nagisa dengan kalemnya menyeruput tehnya.

"Siapa yang bodoh?!"

"Ahahaha, kalian mesra sekali…" Komentar nggak nyambung keluar dari mulut Isogai.

"Siapa yang mesra, hah?!"

"Pfft, tsundere."

"KARMA-SAN!"

Mereka kembali tergelak, menikmati sore yang melayang pelan melintasi langit para naga.

Mereka tidak menyadari, sejak tadi ada sepasang mata mengawasi mereka dari kejauhan.

.

.


"Tuan, kami menemukan para pengantin pangeran Klan Naga Karasuma…"

"Bagus, yang mana pengantin pewaris tahta?"

"Seorang wanita, berambut orange dan bermata hijau zamrud…"

"Hahahaha… bagus, dengan ini rencana bisa dijalankan…"

"Rencana Anda pasti akan sukses, Tuan…"

"Tentu saja… aku menginginkan kepala pewaris tahta itu di mejaku."

"Ha'i."

"Pergilah, Rio, Ryoma."


==TBC==


Fandom AssClass! /lambain tangan/ bertemu lagi! The Ryuu of You updated! Ohya, makasih juga buat temen Ameru yang sama gesreknya(?) ama Ameru, Ribkech-cchi yang udah bikin fanart ChibaHaya! (yang menjadi cover baru The Ryuu of You) ampe2 teriak2 sendiri ngeliatinnya XDD

Ada yang udah baca chapter terbaru AssClass? Tiba2 jadi ngeship Nakamura ama Terasaka nih=w=)a hehehe…

Betewe, makasih banyak yang udah baca fic ini, ngereview, serta fav dan follownya, wordsnya agak berkurang nih gara2 Ameru males dan sekarang lagi ada masalah ama telinga… berharap aja apdetannya lebih cepat^^;

Ohya, kalau ada koreksi mengenai fic ini, jangan ragu untuk komentar! Karena Ameru hanya tahu sedikit2 tentang dunia Jepang jaman Edo, Ameru butuh masukan dari reader-sama semua. Mungkin referensi?

Okeh, sampai jumpa di chapter berikutnya!