LOVE FROM PLAYER

Pairing : NINJA COUPLE a.k.a ONKEY/JINBOON/JINKIBUM

Cast : Lee Taeyeon (fem! Taem)

Choi Minho

Kim Jonghyun

And many Others

Rate : T

Genre : Romace, selebihnya gak tau =.=

Disclaimer : semua cast yang ada di sini bukan milik saya, melainkan milik TUHAN YME. Saya hanya minjem nama doang. Tapi cerita ini murni hasil pemikiran saya dan milik saya.

Warning : GS for Uke, OOC, Gaje, Abal, miss typo(s), membosankan -_- aneh, alur maksa dll.

DON'T LIKE DONT READ

-:-

-:-

HAPPY READING ~~^^

"Eoh?" yeojaitu-Taeyeon- langsung melepaskan pelukannya.

"Mi-mianhae sunbae, ak-aku tak bermaksud unt-"

"Gwenchana." Potong Minho cepat.

"Taeyeon-ah, kau sudah sarapan? Mau ikut sarapan bersama kami?" tawar Gwiboon.

"Ani, aku akan menunggumu saja." Tolaknya halus.

"Baiklah, kalau begitu aku akan siap-siap dan membawa bekal saja. Minho, aku berangkat bersama Taeyeon,ne?"

Minho mengangguk. Gwiboon berlari menuju kamarnya, ia tak ingin membuat Taeyeon menunggu.

"Duduklah."

"Go-gomawo sunbae."

Sekitar sepuluh menit kemudian, yang ditunggu telah keluar kamar.

"Kajja Tae, Minho aku berangkat dulu." Pamit Gwiboon.

"Annyeong, sunbae."

*JinBoon*

"Minho!" seseorang memanggil Minho yang sedang asik membaca di taman.

"Hmm.. dimana Jinki?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang ia baca.

"Dia ada tugas sebagai ketua dewan mahasiswa," jawab namja berotot itu kemudian duduk di samping Minho.

"Tugas apa Jjong?"

"Mengantar mahasiswa baru, kau tau? Dia berasal dari Paris!" seru namja yang dipanggil Jjong atau Jonghyun.

"Siapa namanya?" tanya Minho pura-pura tak tahu. Jelas ia tahu siapa yang dimaksud Jonghyun itu.

"Kim Gwiboon. Namanya mengingatkanku pada seseorang di masa lalu," jawab Jonghyun.

"Benarkah? Kau sudah melihat wajahnya?"

"Belum. Mahasiswa lain sedang ramai membicarakannya."

Minho tak menjawab, ia bangkit dari duduknya. Menepuk-nepuk jeans-nya yang agak kotor akibat duduk di tanah. "Kau mau kemana?" tanya Jonghyun.

"Ke kelas."

"YA! Tunggu aku."

:::

"Ini adalah lapangan basket indoor, kau bisa bla bla bla..," Jinki menjelaskan sebuah ruangan yang diketahui sebagai lapangan basket indoor dengan rinci. Gwiboon mengangguk-ngangguk paham. Sebenarnya ia sudah tahu seluk beluk kampus ini, karena kampus ini adalah bagian dari Kim Corp.

"Baiklah, aku akan menunjukkan yang lainnya."

Sepanjang perjalanan, Jinki dan Gwiboon tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Gwiboon yang memang mudah bergaul ditambah lagi jabatan Jinki sebagai ketua dewan mahasiswa mengharuskannya menjadi orang yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja tanpa terkecuali.

"Annyeong, oppa~" selalu seperti itu. Setiap yeoja yang melewati mereka, yeoja-yeoja itu selalu menyapa Jinki yang hanya dibalas senyuman manis oleh yang disapa.

"Apa kau tak lelah tersenyum seperti itu?" tanya Gwiboon sarkatis. Ia tahu Jinki adalah seorang playboy, fakta itu ia dapatkan dari Taeyeon yang juga menjadi korban Jinki. Tapi, ia tak habis pikir, kenapa yeoja-yeoja itu masih mengejar Jinki. Mungkin satu hal yang tak diketahui oleh Gwiboon. Selama ini Jinki tak pernah mempublikasikan hubungannya dengan korbannya di kampus.

"Tidak. Karena dengan tersenyum membuat harimu menjadi lebih indah," jawab Jinki masih dengan senyuman bodohnya-menurut Gwiboon-.

"Walaupun kau tak tersenyum dari hati?"

Jinki bungkam, ia tak tahu harus menjawab apa.

"Hey Jinki!" sapa seseorang. Jinki yang sedang bingung mencari jawaban untuk Gwiboon pun merasa terselamatkan.

"Oh, hai Jjong, Minho. Gwe, mereka berdua ini sahabatku."

"Gwe. ." lirih Jonghyun.

"Annyeong. Kim Gwiboon imnida."

Minho menatap Gwiboon. 'apa-aku-harus-memperkenalkan-diri-juga?' begitulah tatapan Minho pada Gwiboon yang dibalas senyuman dan tatapan mata yang seakan berkata 'turuti-saja-itu-adalah-perjanjian-kita'

"Annyeong. Choi Minho imnida."

Minho menyikut lengan Jonghyun. "A-annyeong. Kim Jonghyun imnida."

"Kami harus ke kelas dulu. Annyeong Jinki, Gwiboon-ssi." pamit Minho pada keduanya. Minho merasa aneh karena harus memanggil Gwiboon dengan embel-embel '-ssi'.

"Bisa kita lanjutkan tour keliling kampus ini?"

"Ne."

:::

"Hai Gwe, bagaimana hari pertamamu?" tanya Taeyeon saat mereka duduk di cafetaria.

"Lumayan."

"Kau sudah bertemu Jinki?" tanyanya lagi. Gwiboon mengangguk karena mulutnya sedang penuh dengan snack milik Taeyeon. -_-

"Seperti janjimu, kau akan membantuku 'kan?"

"Ne, tapi aku belum memikirkan taktiknya. Aku juga harus meminta bantuan kepada Minho oppa."

"Huh? Kau memanggil Minho sunbae dengan sebutan oppa? Tak biasanya kau mau memanggilnya seperti itu."

"Itu karena aku dan oppa membuat perjanjian." Gwiboon meminum jus kalengan yang ia beli.

"Oh ya. Apa isi perjanjian itu?" tanya Taeyeon penasaran.

"Aku meminta agar kami pura-pura tak saling mengenal saat di kampus. Ia menyetujuinya, sebagai gantinya ia menyuruhku memanggilnya oppa terhitung mulai hari ini sampai seterusnya..."

"... dan aku juga meminta bantuannya untuk memeriksa berkas-berkas yang diberikan sekertaris Park kepadaku."

"Kalian akan bertemu dimana?"

"Di perpustakaan. Kata oppa disana lebih aman dan orang yang berkunjung hanya sedikit."

Taeyeon tertawa, "Apa ada yang lucu?"

"Kau tau? Kalian seperti pacaran saja. Karena Minho sunbae banyak fansnya, kalian harus bertemu di tempat yang sepi dan aman. Seperti di perpustakaan."

Gwiboon mempoutkan bibirnya, "Aku berani menjamin kalau kau yang akan seperti itu!" serunya kesal.

"Yeon-ah, siapa yeoja itu?" Gwiboon menunjuk yeoja yang tengah berjalan mendekati meja Jinki dan sahabatnya. Lalu, yeoja itu bergelayut manja di lengan kekar Minho. Minho tampak acuh dengan kegiatan sang yeoja.

"Oh, itu Kwon Yuri. Yeoja itu memang tak tau malu, Gwe. Beribu kali ia mengajak oppamu berkencan, beribu kali juga oppamu menolak. Dan lihatlah, sekarang ia malah bergelayut manja pada oppamu. Apa kau rela oppamu itu menjalin hubungan dengan yeoja macam Yuri sunbae itu?"

Gwiboon mengernyit heran, Taeyeon menjelaskannya seperti sedang dibakar api cemburu. Tatapannya pada Yuri juga terlihat sinis. Karena otaknya masih belum connect, ia belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Dasar.

:::

"Yuri-ssi, bisa kau lepaskan tanganku? Kau membuatku tak nyaman." Ucap Minho dingin.

"Oppa~ Jebal~ sekali saja, kita berkencan ne?" pinta Yuri dengan jurus puppy eyes gagal.

"Aku tak ada waktu untuk berkencan." Lagi. Minho menjawabnya dengan dingin. Tapi memang dasar Yuri seorang yang keras kepala, ia terus mencoba-merengek-.

"Oppa~~" rengeknya lagi.

"Hey Yuri, Minho sudah menolak. Bisakah kau berhenti menanyakan itu? Terhitung sudah 2312 kau memintanya semenjak kita masih menjadi mahasiswa baru. Dan sebanyak itu juga dia menolak. Kau tak mau 'kan dipandang rendah oleh mahasiswa lain?" Jinki mencoba menjelaskan pada yeoja keras kepala itu. Yuri mempoutkan bibirnya kesal. Kesal karena selalu diceramahi oleh Jinki. Yuri pun meninggalkan meja mereka.

"Annyeong, oppa~" sapa seorang yeoja dengan ceria.

"Ck! Masalah datang silih berganti," gumam Jinki.

"Aku pergi." Minho meninggalkan meja dan berjalan keluar cafetaria, memberi isyarat kepada Gwiboon untuk bertemu di tempat yang dijanjikan.

:::

"Kau lama sekali."

"Yah, oppa. Mianhae."

"Ya sudah, Keluarkan berkas-berkas yang ada."

"Neeee~"

Gwiboon mengeluarkan berkas-berkas yang diterimanya pagi tadi, Minho melirik sebentar lalu menutup buku yang sedang dibacanya. Mereka bekerja dengan serius, Gwiboon agak kewalahan dengan banyaknya berkas yang ada. Mengeluh pun ia rasa percuma.

Tak terasa satu jam berlalu, sekarang mereka telah selesai. Minho berdiri merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat terlalu lama duduk.

"Kita makan malam dimana?" tanya Minho mengawali percakapan.

"Jae ahjumma tadi meneleponku, kita disuruh datang ke mansion Jung."

"Jinjja? Woah! Aku tak sabar ingin ke sana. Aku sangat rindu dengan Yoogeun dan juga Changmin hyung!" seru Minho dengan mata berbinar.

"Ne, Yoogeun, pasti sudah besar ya? Terakhir kumelihatnya ia masih berumur 2 tahun, sesaat sebelum keberangkatanku ke Paris." Gwiboon bermonolog ria.

"Cepat bereskan bukumu, kau tak ada kelas lagi 'kan?"

Gwiboon menggeleng, "Kajja."

Mereka keluar perpustakaan sama ketika mereka masuk. Salah satunya keluar terlebih dahulu dan berjalan ke parkiran. Ck~ benar kata Taeyeon, mereka seperti orang pacaran.

:::

TING TONG

Pintu terbuka sesaat setelah mereka memencet bel, menampilkan sesosok namja jangkung bak tiang listrik dengan tangan memegang sebungkus keripik kentang.

"Aigoooo~~~! BabyGwe~!"

"Aiish.. Min oppa, aku sudah besar! Umurku sudah 20 tahun!" seru Gwiboon kesal karena Changmin masih memanggilnya 'babyGwe'. Panggilan masa kecilnya.

"Ahaha.. Jja masuk. Wah keroro, kau tambah tinggi yah? Walaupun tak setinggi aku dan kau semakin tampan, tapi tetap saja akulah yang paling tampan. Bla bla bla.." Changmin berceloteh dengan lancarnya tanpa ada jeda ataupun memberikan waktu bagi Minho untuk menjawab. -_-

Gwiboon terkekeh, Changmin masih seperti dulu. Cerewet.

"OMO Boonnie~! Keponakanku yang cantik! Kyaaaa Gwe kulitmu sangat halus, pasti kau juga rajin merawat kulit seperti jumma ne? Kau juga mewarnai rambutmu! Aigoo Gwe, itu tak baik untuk kesehatan rambutmu, bla bla bla.." tak hanya anaknya yang cerewet dan narsis, ummanya pun juga begitu. =.=

"Boo~ hentikan celotehanmu itu. Min, kau juga."

"Ahjussi, apa itu Yoogeun?"

"Ne," jawab Yunho ahjussi, "Dia semakin tampan, sama sepertiku. Tetapi dia mempunyai mata yang bulat dan jernih sama seperti boojae. Dan bibir sexy yang mirip denganku, tentu lebih sexy punyaku, ya kan boo?" Jae ahjumma mengangguk malu-malu jiji. Gwiboon dan Minho sweatdrop, umma appa dan anaknya sama-sama narsis, Minho dan Gwiboon berdo'a agar Yoogeun kelak tak mengikuti jejak kenarsisan keluarganya.

"Yoogeunnie~~, main sama noona ne?" Gwiboon merentangkan tangannya, siap menggendong Yoogeun.

"Nugu?" tanyanya polos.

"Chagi, dia Gwiboon noona. Main sama noona,ne?"

"Shiloh! (Shireo!)" tolaknya

"heeeeh? Waeeeee?"

"kalau mau main sama Yoogeun noona halus (harus) belikan Yoogeun powel lengels (power rangers)," pinta-paksa- Yoogeun.

"Arrasseo~"

"Appa, tulunkan Yoogeun."

Yunho menurunkan Yoogeun, anak itu kemudian berlari menuju Gwiboon yang sudah merentangkan tangannya.

HAP

"Hmm, kita main apa Yoogeunnie?"

"Kita ke kamal Yoogeun noona. Di sana banyaaaaak mainan." Celoteh Yoogeun riang dan merentangkan tangan mungilnya sebagai bentuk antusiasme-nya.

"Jinjja? Jja kita ke kamar Yoogeun!" seru Gwiboon tak kalah antusias.

"Boleh hyung ikut?" tanya Minho penuh harap

"Tentu saja."

Mereka berjalan menuju kamar Yoogeun, Yoogeun begitu terbuka kepada Gwiboon dan Minho, ia selalu bercerita tentang pengalamannya. Tak sampai sejam mereka sudah dekat.

. . .

"Gwiboon~! Minho~! Yoogeun~! Makan malam sudah siap! Ppali!" teriak Jae ahjumma.

"Ne~!" koor mereka dari kamar Yoogeun.

meja makan

"Minho, Boonnie, ahjumma dan ahjussi ada urusan ke Jepang besok lusa. Bisa titip Yoogeun sementara?"

"Changmin hyung ikut?"

"Ne, karena ia akan menjadi direktur untuk cabang perusahaan kita di Jepang. Ahjumma akan menemani ahjussi dan Changmin."

"Berapa lama?"

"Sekitar sepuluh hari."

Minho dan Gwiboon saling bertatapan, sepuluh hari untuk pengangkatan direktur yang baru. Apa tak terlalu lama?

"Itu.. em, sebenarnya sekaligus untuk honeymoon kami yang kesekian kalinya." Jelas Yunho ahjussi.

'Dasar pasangan pervert..' umpat keduanya dalam hati.

"Baiklah." Jawab Gwiboon akhirnya.

YunJae tersenyum sumringah. Changmin? Jangan ditanya, dia sudah pasti makan dan tak mau ikut pembicaraan yang menurutnya tak penting itu.

.

.

.

.

TBC . . .

Aneh bin gaje banget yah? Emang, yang nulis gaje n aneh juga sih '-'

Noh, yg minta Jinkinya dikeluarin, udah aku keluarin.

Mian updatenya lama, huhuhu T.T .. idenya mendadak ilang, ini juga dapet idenya waktu sharing sama temen yg sesama author =.= ngetik ngebut nih, no edit lagi .. jadi dimaklumi kalo typonya gak ketulungan..

Semoga chap ini tak mengecewakan, Gomawo yang udah baca dan review di chap 1..

Akhir kata . . .

Mind to Review ? :3