Yuhuuuu~~~ I'm come back~~

Maaf karena terrrlaluuu cepat hiatusnya #ditendang. Sebenernya UN udah selesai beberapa minggu yang lalu, sih, tapi karena merasa udah bebas dan mau ngelakuin banyak hal, akhirnya malah banyak hal juga yang terbengkalai – salah satunya fic – hahaha #payah.

Terima Kasih untuk kalian yang sudah baca dan juga sudah mer-review~

Semoga tidak kecewa dichapter kedua ini yang hadirnya asap banget. Khehehehe. *ketawa setan*

Enjoy it, please. And don't forget to give me a review ^^.

Daging….

Daging….

Daging….

'Aku ingin makan daging!' Cibir Naruto dalam hati untuk kakaknya yang maniak daging itu, Kyuubi. Apa yang ada dipikirannya itu cuma daging, daging dan daging melulu! Nyebelin~~~

"Nyam, nyam, nyam." Tanpa peduli guratan kesal dari adiknya, Kyuubi tetap enjoy aja melahap daging-daging yang ada dipiring didepannya. Potongan pertama. Potongan kedua. Potongan ketiga. Dan entah untuk potongan keberapa lagi. Seolah tanpa bosan atau muak dengan seluruh daging yang sudah dilahapnya. Kyuubi terus mengunyah daging di piring yang ke… emm… biar kuhitung dulu, sepuluh? Dua puluh? Ckckck. Dasar siluman rubah yang amat maniak daging!

Naruto menepuk jidatnya sambil geleng-geleng. Jujur aja, dia merasa sedikit malu. Why? Jelas aja dia malu. Liat, tuh! Dua cowok Uchiha yang duduk didepannya sampai membelalakkan mata. Apalagi Uchiha Itachi. Hei, dia yang menawari makhluk(?) penyuka daging itu untuk makan gratis. Mana dia tau kalo selera makan tuh cowok gede banget!

Nggak cuma dua Uchiha yang mandangin Kyuubi bahkan seluruh pengunjung plus para pegawai restoran khusus daging ini pada cengo and ngiler ngeliat cara makan Kyuubi yang kayaknya nikmatiiinnn banget. "Psst…. Kyuu-nii…." Bisik Naruto sambil nyenggol siku kakak plus kekasihnya itu. Nggak merespon. Kyuubi tetep cuek makan. Naruto nyengir ragu-ragu saat matanya nggak sengaja bertubrukan dengan onyx Sasuke yang langsung memalingkan wajahnya kesamping. Pengen muntah! Bukan pengen muntah karena cengiran Naruto, lho~ Tapi karena doi mual ngeliat cara Kyuubi makan daging. Gila-gilaan banget!

Kyuubi akhirnya berhenti makan. Mata merahnya menatap sekeliling dengan pandangan nyalak. "Apaan liat-liat!" sentaknya yang langsung membuat semua orang yang ngeliatin dia, kecuali Uchiha brother, pada ngalihin pandangan sok sibuk dengan kegiatan awal. "Cih!" sungutnya dan melanjutkan makannya lagi.

"Wah, kau punya selera makan yang besar ya." Itachi akhirnya angkat suara setelah lama bengong. "Selera makan daging yang besar, mungkin lebih tepat." Ralatnya.

"Kyuu-nii memang sangat suka makan daging dan dia cuma mau makan daging saja." Jawab Naruto mewakili Kyuubi yang sepertinya tidak akan menjawab hingga potongan daging terakhir sukses ditelannya dengan cantik.

"Ah~~~ kenyang~~~" Kyuubi mengelus-elus perutnya yang anehnya tetap ramping meski sudah melahap begitu banyak daging.

"Tch! Karnivora." Ucap Sasuke sambil menyunggingkan senyum sinis nan mengejek.

"Kau bilang apa pantat ayam?" tanya Kyuubi dengan tatapan mengintimidasi. Sasuke berjengit mendengar sebutan untuknya. "Heh? Pantat ayam?" ulangnya kesal.

"Rambutmu yang mencuat itu persis dengan pantat ayam." Kyuubi melipat kedua lengannya dan kembali duduk tegak.

"Kau…."

"Sudah, sudah." Itachi menahan bahu Sasuke, mencoba menenangkan adiknya yang sentimental itu. "Apa kau sudah selesai, Kyuu-chan?" tanya Itachi.

"Geez…. Jangan memanggilku dengan embel-embel –chan! Menjijikkan!" kali ini Kyuubi menatap sengit Itachi yang hanya tersenyum. Tampak menyebalkan dimata Kyuubi. "Hm, aku sudah selesai." Jawabnya ketus.

"Nah, Sasuke. Sekarang kita bisa pergi. Aniki benar-benar muak dengan bau daging yang menyengat ini. Apalagi…." Itachi menjeda kalimatnya lalu kembali menatap Kyuubi dengan pandangan… jijik? "Melihatnya makan, aniki-mu ini benar-benar ingin muntah." Lanjutnya yang otomatis membuat dahi Kyuubi berkedut-kedut. Si onyx brengsek itu menghinanya! Dia punya harga diri selangit dan dia sekarang dihina didepan umum! WHAT THE HECK!

"APA KAU BILANG!" emosi Kyuubi langsung memuncak. "Kau tidak lupa untuk membayar ini semua, kan." Perintahnya pada Uchiha sulung.

"Membayar?" Itachi memiringkan wajahnya dengan tampang sok polos dan itu makin membuat Kyuubi geram.

"Kau bilang akan mentraktir. Jangan bilang kau lupa." Jelas Kyuubi dengan suara berat menahan emosi yang sudah meletup-letup.

"Oh!" Itachi menjentikkan jarinya pura-pura ingat. "Ya, aku memang bilang akan mentraktir tapi aku tidak bilang akan mentraktirmu dua puluh piring daging, bukan?"

"K-KAU! Mana bisa kau mempermainkan kami seperti ini?" Naruto langsung berdiri sambil menggebrak meja dihadapannya. "Kupikir Itachi-san adalah orang yang baik yang menghargai persahabatan." Ucapnya lebih pelan. Bocah blonde itu kecewa.

"Hmph! HAHAHAHA" Itachi tertawa keras lalu beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu keluar. "Kehidupan tidak senaif itu, bocah polos." Itachi menepuk kepala Naruto saat melewati bocah blonde yang menunduk itu.

Sasuke berjalan acuh meninggalkan duo Namikaze yang benar-benar telak ditipu oleh Uchiha sialan!

"Oh ya!" Itachi kembali berbalik. "Akan aku bayarkan air putih yang kau pesan itu." Dan melambaikan tangan.

"Brengsek!"

.

.

.

Naruto by Masashi Kishimoto.

This fic by CoraNovZotico.

CHAPTER 1

Pairing

KyuuNaru, SasuNaru, ItaKyuu, ItaNaru (mungkin akan ada pairing yang lain)

Rate

Untuk sementara T, mungkin #plakk!

Kayaknya nih fic bakal lari ke M #pasang tampang meragukan.

Warning:

Dichap ini ada adegan KISS dikit,

BL, Yaoi, Shonen-ai, typo(s), Alur ngalur-ngidul, dan masih banyak lagi.

So, if you don't like? Just click back.

.

.

.

PIK!

Lampu kamar serba orange itu tiba-tiba saja gelap gulita.

"Hhh…." Naruto merasakan desahan nafas seseorang disamping telinganya. Nafas yang harum dan dingin. "K-Kyuubi-nii?" tebak Naruto. Dia hapal betul dengan aroma rubah yang dicintainya dan hembusan dingin yang membuatnya merinding.

"U-hum." Kyuubi memeluk pinggang blonde yang sedang duduk ditepi ranjangnya dari belakang.

"Jangan bikin kaget, dong." Gerutu Naruto tapi membiarkan Kyuubi tetap memeluknya. Naruto memicing geli saat dirasakannya cuping telinganya basah karena ulah lidah Kyuubi. Bibir Kyuubi turun keleher jenjang Naruto, hidungnya mencecap aroma tubuh manusia Naruto yang….

"Daging." Ucap Kyuubi yang langsung membuat Naruto terbelalak. Dia bilang apa tadi? Daging? Oh Tuhan, jangan bilang kalau Kyuu-nii mau makan dagingku! Pikir Naruto sambil meneguk ludah.

"K-Kyuu-nii…." Panggil Naruto terbata.

"Heheh. Kenapa? Takut?" Naruto langsung menghembuskan nafas lega. Ternyata Kyuubi hanya menggodanya. Oh ya, tadi kan Kyuubi sudah menghabiskan dua puluh piring daging, ingat? Naruto memukul kepalanya sendiri pelan, merutuki kebodohannya yang mengira kalau Kyuubi masih lapar. Dua puluh piring gitu, loh!

Kyuubi mengangkat dagu Naruto, menghadapkan bibir ranum milik Naruto untuk dilahapnya dengan lembut. "Hmmph…. K-kyuu…." Erang Naruto saat merasakan gigi rubah itu menggores bibir bawahnya.

CKLEK!

Secepat kilat Kyuubi langsung melihat ke arah pintu kamar Naruto. Melihat siapa orang yang membuka pintu kamar itu. Terkutuklah ia kalau yang membuka Minato atau Kushina! Sudah cukup dia pernah merasakan dikutuk jadi boneka nggak mau lagi dikutuk jadi kodok yang haus ciuman sang putri.

"Kau…." Desis Kyuubi tidak suka. Orang yang membuka pintu kamar itu bukan Kushina maupun Minato tapi manusia terkutuk sialan yang mengerjainya sore tadi. "Apa yang kau lakukan dirumahku!" Kyuubi berjalan turun dari ranjang Naruto sambil membenahi piyama merah-nya yang sedikit terbuka.

Manusia terkutuk sialan alias Uchiha Itachi itu hanya mengangkat kedua bahunya singkat plus tersenyum charming. Ngapain tuh Uchiha bisa ada mansion Namikaze malam-malam begini?

"Wah~ sepertinya kamu sedikit ketakutan waktu ada yang memergoki kalian berdua sedang ci-" kalimat Itachi langsung terpotong karena Kyuubi membungkam mulutnya dengan telapak tangan kanannya cepat. Ada yang datang!

"Rubah! Apa yang kamu lakukan?" tanya Kushina yang baru muncul dibelokan yang menuju kamarnya dan kamar Naruto – kamar mereka bersebelahan. "Jangan macam-macam dengan tamu kita!" marahnya sambil menepis tangan Kyuubi yang masih membungkam mulut Uchiha sulung.

"Cih!" untung saja dia punya penciuman yang tajam, jadi bisa mengetahui kedatangan Kushina. Kalau nggak? Ingat, kan, kalau hubungan mereka belum diketahui orang tua mereka, err… orang tua Naruto? Kyuubi menatap tajam laki-laki yang lebih tinggi darinya itu seolah berkata berani-bilang-macam-macam-kubunuh-kau!

"Sepertinya mereka belum tau tentang apa saja yang kalian lakukan dikamar, ya?" bisik Itachi pelan tepat didaun telinga siluman itu, kulit Kyuubi yang sensitif jadi membuatnya merinding dengan terpaan nafas dingin Itachi.

"Tidak ada apa-apa kok, obasan*. Kami hanya sedang saling menyapa. Benar, kan, Kyuu-chan?" Itachi tersenyum penuh hingga kedua onyx-nya tertutup.

"Jangan memanggilku dengan embel-embel menjijikan begitu!" Kyuubi dan Itachi saling menatap. Wajah penuh kebencian dan wajah tersenyum. Senyum penuh tipuan. Baunya sedikit berbeda. Bau menjijikkan!

"Ya sudahlah. Itachi ayo kita turun." Ajak Kushina yang langsung dijawab anggukan oleh Itachi. "Rubah, panggil Naruto, kalian juga cepat turun. Mama akan mengenalkan kalian pada teman lama Papa, orang tua Itachi." Lanjut Kushina.

"Tch! Merepotkan."

.

.

.

"Aku baru tau kalau Naruto punya kakak." Ucap Itachi yang berjalan disamping Kushina, menyusuri lorong lantai 2 menuju ruang tamu yang berada dilantai bawah. Mansion Namikaze memang besar, desainnya mirip manor house di Inggris. Keluarga Namikaze memang bisa dibilang bangsawan yang berpengaruh terbesar kedua di Jepang. Kedua? Ya, karena bangsawan yang paling berpengaruh diatas Namikaze adalah keluarga Uchiha yang sebelumnya sempat menetap di Amerika dan kembali lagi ke Jepang. Disebut-sebut, keluarga ini punya pertahanan militer yang jauh lebih hebat bahkan mengalahkan bangsawan militer, keluarga Hyuuga dengan aliran Martial Arts-nya.

Meski keluarga Namikaze adalah salah satu keluarga bangsawan yang berpengaruh besar terhadap pemerintahan Jepang, keluarga ini tidak begitu memperhatikan tata krama bangsawan yang berbelit-belit seperti Uchiha maupun Hyuuga yang begitu kolot dengan harga diri. Diluar mereka tampak seperti orang biasa saja dan bergaul akrab dengan orang lain tanpa memandang kasta.

Soal Itachi yang tau kalau Naruto dulunya tidak punya kakak, itu wajar. Karena kedua keluarga bangsawan ini memang akrab dan sering saling mengunjungi sebelum keluarga Uchiha pindah ke Amerika. Kalau Naruto yang tidak tau soal keluarga Uchiha, itu karena saat keluarga Uchiha pindah, umurnya baru 2 tahun. Dan soal Kyuubi yang tidak tau juga sudah jelas karena dia di angkat anak jauh setelah Uchiha pindah.

"Oh, maksudmu Kyuubi? Dia memang anak angkat kami." Jawab Kushina sambil tersenyum. Sejak bertemu Kyuubi, keluarga Namikaze sudah memutuskan untuk tidak menyebar luaskan identitas aslinya yang seekor siluman rubah.

"Hm, jadi begitu. Tapi dia memang mirip dengan kalian, terutama dengan obasan." Dahi Kushina berkedut karena dirinya disamakan dengan anak angkatnya yang sering bertengkar dengannya itu. Tapi mereka memang mirip, rambut merah, kasar, dan keras kepala tapi anggun. Bagaimanapun Kyuubi tetap memiliki aura yang begitu anggun dan menarik meski dia sangat kasar dan pemarah karena di dunia siluman pun dia adalah pangeran siluman rubah yang seharusnya melanjutkan kepemimpinan ayahnya kalau saja dia tidak melanggar perjanjian antara siluman dengan manusia dan berakhir menjadi boneka.

"Kushi-can, mana Kyuubi dan Naruto?" tanya Minato saat melihat Kushina dan Itachi yang baru turun dari tangga dan bergabung dengan mereka – Minato, Fugaku, dan Mikoto.

"Sebentar lagi juga turun. Bagaimana kalau kita menunggu mereka diruang makan saja? Akanku suruh pelayan menyiapkan makanan." Tawar Kushina.

"Ah, kau tidak perlu repot begitu Kushi-chan." Jawab Mikoto dengan senyum lembut yang manis sekali. Sepertinya sifat Mikoto ini diturunkan ke putra sulungnya.

"Ck! Tidak repot, kok. Kalian, kan, baru pulang ke Jepang, bagaimana kalau sekalian saja mengadakan pesta perayaan kedatangan kalian?" usul Kushina semangat.

"Pesta? Jadi akan ada pesta ya, Ma?" seru Naruto yang baru saja turun, masih memakai piyamanya, begitu juga dengan Kyuubi. Haahh… dasar keluarga Namikaze si pecinta pesta! Kecuali Kyuubi tentunya.

"Kebetulan sekali kalian sudah turun. Ayo, kita ke ruang makan." Ajak Kushina sambil menarik lengan porselen milik nyonya besar Uchiha yang masih tampak begitu cantik meski sudah dimakan usia. Sentuhan Kushina itu membuat Mikoto tersadar dari keterbengongannya saat melihat Namikaze Kyuubi, putra sulung keluarga Namikaze. "A-ah, iya."

"Lho, Sasuke kemana?" tanya Kushina yang tiba-tiba teringat sejak kembali dari lantai dua dia tidak melihat anak bungsu Uchiha.

"Oh, dia sedang diperpustakaan, sepertinya dia tertarik dengan planetarium yang ada disana. Dia langsung ke perpustakaan begitu kuberitahu kalau kita punya planetarium." Jelas Minato sambil berjalan menyusul dua nyonya besar yang sudah berjalan duluan, beriringan dengan Fugaku.

Ariaseta

Ruang makan Namikaze terdengar lebih ramai dari biasanya, yah, meski suara yang mendominasi tetap suara dari keluarga Namikaze. Mereka tidak sedang makan malam dengan hidangan utama, tuan rumah Namikaze memang sengaja hanya menjamu tamunya dengan makanan-makanan ringan karena jam makan malam sudah lewat saat keluarga Uchiha berkunjung. Sudah pasti mereka sudah makan malam.

Kyuubi memasukkan potongan daging dipiring kemulutnya, lagi. Hidangan diatas meja memang semuanya makanan ringan, seperti cake, pudding, dan sebagainya. Tapi khusus untuk Kyuubi, sepiring steak daging sapi. Baginya makanan ringan atau bukan, sama saja, harus daging. Perutnya sama sekali tidak menerima makanan lain.

Meski sedang makan, mata merah Kyuubi tidak menatap makanannya. Onyx bertemu Ruby. Sejak tadi Fugaku terus-menerus menatap Kyuubi, hanya Kyuubi yang menyadarinya. Sesekali pandangan kepala keluarga Uchiha itu berpindah ke Minato atau Kushina yang mengajaknya ngobrol singkat.

"Oh ya, Naru-chan." Suara tadi membuat Kyuubi langsung beralih menatap Uchiha sulung yang duduk didepan Naruto, Kyuubi duduk disebelah Naruto. Naruto yang dipanggil juga menatap Itachi.

"Tunggu sebentar, ya." Ucap Itachi lalu mengambil HP-nya dan menghubungi seseorang. "Tolong bawa ke ruang makan." Perintah Itachi pada seseorang yang dihubunginya.

Tak berapa lama, sopir pribadi Uchiha yang memakai jas hitam lengkap datang ke ruang makan dengan membawa sebuah kotak putih berukuran sedang di kedua tangannya dan memberikan kotak tersebut kepada tuan mudanya. "Terima kasih." Itachi tersenyum sambil menyuruh sopir pribadi itu kembali ke posnya.

Matanya kembali beralih ke Naruto. "Aku sengaja membawakan orange cake untukmu dan Kyuu-chan sebagai permintaan maafku atas kejadian sore tadi." Naruto terkejut-senang dan menerima kotak berisi orange cake yang diulurkan Itachi.

"Ah, kejadian sore tadi tidak usah dipermasalahkan. Kalau aku tau kalau orang yang iseng di toko daging tadi sore itu Itachi-nii, aku tidak akan marah-marah seperti tadi. Eheheh." Naruto nyengir senang.

"Ada apa tadi sore, Itachi?" tanya Mikoto. Kushina dan Minato juga melihat kearah Itachi, penasaran. Sedang Fugaku hanya menyeruput black cofee-nya.

"Tidak ada apa-apa kok, obasan." Jawab Naruto sambil menggelengkan kepalanya. Itachi mengangguk, mengiyakan kalimat Naruto.

"Aku hanya mengerjainya sedikit sebagai salam. Habisnya aku sedikit kesal karena Naru-chan sama sekali tidak mengingatku yang dulu sering menggendongnya." Itachi pura-pura ngambek.

"Oh, jadi kalian sudah bertemu sebelum ini? Wah, masa' kau nggak ingat dengan Itachi-nii yang dulu selalu bermain denganmu. Kalian dulu akrab banget, lho~" kata Kushina yang langsung ditatap Naruto. "Benarkah?" Kushina mengangguk.

"Maaf, Itachi-nii…." Naruto benar-benar merasa bersalah.

"Sudahlah, wajar kalau Naruto tidak ingat denganmu. Waktu itu umurnya masih 2 tahun." Mikoto menengahi.

"Kau suka jeruk, kan?" (Itachi)

"Hu-um. Ternyata Itachi-nii masih ingat, ya. Aku bahkan sama sekali tidak ingat wajah Itachi-nii. Payah!" (Naruto)

"Waktu itu umur Itachi 7 tahun, ya? Sekarang sudah sebesar ini. Lama sekali ya nggak ketemu. Kamu kuliah dimana, Itachi?" (Minato)

"Awalnya kuliah di Harvard tapi karena pindah ke Jepang, sekarang aku masuk di Konoha University." (Itachi)

"Hn. Sebenarnya aku menyuruhnya berhenti kuliah dan langsung mengambil alih perusahaan saja." (Fugaku)

"Ya, Itachi memang jenius. Tapi sekolah dulu tidak masalah meski sudah bisa." (Minato)

"Aku jadi tersanjung dengan ucapan Ojisan." Ucap Itachi merendah dan disambung tawa renyah Minato.

BRAKK!

"K-Kyuu-nii? Kau kenapa, sih?" Naruto yang terkejut langsung menatap kakaknya yang sudah berdiri sambil menggebrak meja, tidak hanya Naruto tapi semua penghuni ruang makan itu menatap remaja berambut merah itu, heran dan terkejut. Tangan Kyuubi meraih kotak cake yang diberikan Itachi dari tangan Naruto. Dia tersenyum sinis. "Kau mau minta maaf, heh?" Kyuubi melempar kotak cake – seisinya, tentunya – sampai menabrak dinding yang hanya berjarak 2 meter dari seberang meja dan terjatuh kelantai. Cake orange yang tampak lezat itu hancur dan krimnya berserakan diatas lantai. "Sayang sekali, aku tidak suka cakenya!" Kyuubi memandang rendah keturunan bangsawan paling tinggi itu sebelum beranjak pergi dari ruang makan yang langsung menjadi hening seketika.

"KYUUBI! KAU!"

Ariaseta

Kyuubi menghenyakkan tubuhnya diatas sofa empuk didalam sebuah ruangan yang gelap, hanya ada sedikit cahaya yang menembus melalui celah pintu yang ada didalam ruangan tersebut. Mata merahnya memicing kearah saklar lampu dan detik itu juga lampu didalam ruangan tersebut menyala menampilkan deret-deret lemari penuh buku-buku yang tersusun rapi. Dia mengambil sebuah buku yang tak jauh dari jangkauannya, menatap judulnya sebentar lalu membuangnya. Cinta Masa Kecil. "Judul buku macam apa itu! Siapa juga yang mau membeli novel murahan seperti itu, dasar!" gerutu Kyuubi tanpa perasaan. Dia kesal. Benar-benar kesal. Mendengar kalau manusia pirang bodoh itu dekat dengan manusia terkutuk sialan membuatnya benar-benar naik darah. "Siapa bilang dia boleh sok dekat begitu!" geram Kyuubi yang tiba-tiba jadi overprotektif.

"Kau cemburu?" tanya sebuah suara yang membuat Kyuubi terkejut setengah mati. Uchiha Sasuke.

"K-Kau! Sejak kapan kau mengikutiku!" Kyuubi langsung berdiri sambil mengepalkan tinjunya, bersiap-siap kalau dia tidak mendengar alasan yang bagus dari Uchiha bungsu ini.

"Mengikutimu? Aku sudah disini sejak tadi." Sasuke berjalan mendekati Kyuubi. "Jangan bodoh. Aku pasti tau kalau ada manusia diruangan ini." Kyuubi terbelalak sendiri memikirkan ucapannya. "Kecuali kalau kau..."

"Bukan manusia, eh?" Sasuke mendengus. "Aku justru bertanya-tanya dengan ucapanmu yang seolah-olah manusia itu makhluk yang lain darimu. Atau memang begitu?" Sasuke duduk di sofa disebelah Kyuubi duduk tadi sambil membuka buku yang dipungutnya disalah satu lemari, buku itu bersampul hitam dengan lambang satanism yang tertera jelas dicover depan.

"Bagaimana kau bisa melenyapkan auramu?" tanya Kyuubi langsung. Tidak mungkin indera penciuman, pendengaran, bahkan instingnya melemah saat ini kecuali kalau orang didepannya mampu menghilangkan jejak dirinya sendiri.

Sasuke yang ditatap intens oleh Kyuubi hanya tersenyum tipis dan sinis. "Kau tidak pantas menatap nyalang kearah majikanmu, Rubah."

.

.

.

TBC

RnR, please~