Hari ini Kuroko resmi diterima bekerja di sebuah taman kanak-kanak sebagai guru. Pekerjaan yang sangat disukainy, karena Kuroko sangat menyukai anak-anak. Di hari pertmanya, Kuroko sudah bangun sangat pagi dan mandi kemudian berjalan ke dapur. Sepi, tak ada seorangpun disana. Perlu diketahui, Kuroko masih tinggal di rumah Aomine dan Kise.
Dengan lihainya, Kuroko menyipakan bahan-bahan yang ia perlukan untuk membuat sarapan lima orang di rumah itu. Walaupun tidak seenak masakan chef-chef yang ada di restoran, masakan Kuroko bisa dikatakan lumayan untuk seorang yang dulunya hanya di rumah saja itu.
"Okaa-chan" Haru dengan mengucek-ucek matanya yang baru bangun itu menarik-narik ujung apron yang Kuroko kenakan.
Kurokopun menoleh dan melihat Haru dengan rambut acak-acak khas bangun tidurnya tengah menguap.
"Sudah bangun rupanya" ujarnya setelah mematikan kompor dan menghidangkan masakannya di meja makan. Ya, sudah selesai.
Diraihnya tubuh mungil Haru yang masih setengah menutup matanya itu ke dalam pelukannya, kemudian berjalan ke arah kamarnya.
"Okaa-chan siapkan bajunya, Haru-chan mandi dulu ya" ujarnya sambil mengangsurkan handuk ke bocah cilik itu.
Dengan patuh, Harupun pergi ke kamar mandi yang berada di luar kamar.
"Dia sangat berbeda jika denganku" ujar Kuroko sambil tersenyum senang.
"Mirip denganmu" tambahnya lirih, merubah senyumnya menjadi sangat tipis.
.
.
.-.
.
.
"Hari ini Sei-chan sudah boleh pulang" ujar Akashi Minako.
Seorang pemuda dengan surai merahnya hanya mengangguk saja, ia masih lemas akibat acara mual paginya barusan. Walaupun bukan yang pertama kali, tetap saja Akashi Seijurou tak pernah bisa terbiasa dengan rutinitasnya itu.
Dengan lunglai, Akashi berjalan keluar dari kamar rawatnya yang sudah ia tempati lebih dari seminggu itu. Tidak terlalu cepat dan tidak sampai sebulan. Ia sengaja menolak bantuan dari ibunya untuk berjalan, ia juga tak mau memakai bantuan kursi roda. Baginya, jika hanya berjalan saja ia masih kuat.
Setelah sampai di mobil, barulah Akashi mengeluarkan suaranya, "Kenapa masih mual dan muntah. Apa aku mengidap penyakit yang serius, Okaa-san?" tanyanya dengan menatap lurus ke depan.
Minako menggeleng cepat, tidak membenarkan dugaan sang anak, "Tidak, Sei-chan baik-baik saja. Dokter sudah memeriksamu berulang kali dan hasilnya tetap sama, taka da penyakit apapun" ujarnya.
Akashi hanya mengangguk saja, toh dokter yang memeriksanya tentulah dokter yang sudah sangat berpengalaman di dunia kesehatan, jadi tak ada gunanya ia meragu. Tapi tetap saja, mual dan muntahnya tak bisa berhenti begitu saja.
"Aku ingin sup kentang" ujar Akashi tiba-tiba.
"Ha? Bukankah Sei-chan baru makan tadi, yah walaupun sudah dimuntahkan sebagian. Dan sup kentang? Bukannya kesukaan Sei-chan itu sup tofu?" ujar Minako kaget.
"Aku lapar lagi. Iya, sup kentang, ditambah dengan tomat, jeruk, dan timun" ujar Akashi dengan sedikit semangat.
Minako semakin mendelik saja mendengar permintaan anak tunggalnya itu.
"Ditambah roti isi selai cokelat" lanjutnya yang semakin membuat Minako membuka mulutnya.
.
.
.-.
.
.
Kuroko mengantarkan Haru ke sekolahnya, SD Teiko. Teiko memiliki kompleks sekolah mulai dari TK, SD, SMP, SMA, bahkan Perguruan Tinggi juga. Letaknya berjejer, mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. Ah, Teiko juga memiliki fasilitas-fasilitas penunjang seperti penitipan anak, Rumah Sakit, dan lainnya.
Aomine dan Kise tadi yang mengantar mereka bertiga. Ya, Kuroko di TK Teiko, Haru di SD Teiko, dan Hanni di penitipan anak Teiko. Sedangkan Aomine dan Kise pergi bekerja, Aomine sebagai polisi, Kise sebagai pemilik butik(maaf saya ngaco).
Di sekolah Haru…
"Haru-chan, aku merindukanmu!" ujar seorang gadis berambut pink cerah sambil berlari kearahnya, siap untuk memeluk Haru.
Sebelum kena pelukan maut seorang Hanamiya Irene(yaelah, anaknya Hanamiya), Haru terlebih dahulu menghindar dan berakhir dengan wajah Irene yang cemberut karena gagal memeluknya.
"Sudah kukatakan, jangan seenaknya memelukku" ujar Haru dingin.
Namun, Irene seakan tak tersakiti sedikitpun. Ia sudah terlalu dalam menyukai laki-laki berambut merah itu (yaelah, masih bocah juga).
"Ya sudah, kalau begitu kita duduk bersebelahan ya" ujarnya bersemangat.
Haru yang sudah terlanjur ditarik itupun hanya mengikuti saja. Kuroko pernah mengatakan untuk tidak berbuat kasar kepada siapapun, khususnya perempuan. Tapi, jika hanya berkata tidak ramah saja, Haru rasa bukan masalah besar, asalkan dia tidak berbuat kasar kan.
"Ne, ne. Tadi Mama membuatkanku bekal untuk istirahat tadi. Nanti kita makan bersama ya!" ujar Irene masih semangat.
Haru tak mengatakan apapun. Walaupun menolak sekalipun, setiap hari Irene selalu saja menempel padanya. Mengingatkannya pada Hanni yang juga suka menempeliny. Oh, pesonamu terlalu kuat Akashi Miharu.
"Papa bilang, kalau ada yang mengajak berbicara, jangan diam saja" ujar Irene dengan nada menasehati.
"Oh ya, tadi malam Papa bilang nanti akan pulang cepat dan menjemput Irene di sekolah. Haru-chan harus bertemu dengan Papa Irene!" ujar Irene semangat menceritakan Papanya.
Haru hanya memasang wajah stoic-nya saja. Baru kali ini Haru merasa begitu kesal ketika Irene menyebutkan Papanya. Sebelum-sebelumnya ia masih bisa memendamnya saja, tapi kali ini perasaan aneh itu muncul.
'Apa karena aku begitu merindukan Otou-chan, ya' batinnya.
Sensei datang menyelamatkan Haru dari curhatan Irene mengenai Papanya. Dan Haru sangat bersyukur akan hal itu. Ia tak perlu meluapkan perasaannya jika saja ia tak bisa menahannya ke Irene yang sebenarnya tidak tahu apa-apa itu.
.
.
=.=
.
.
"Kau yakin Kise?" tanya Midorima dari seberang telepon.
"Iya-ssu. Aku tadi benar-benar melihatnya, Midorima-cchi!" jawab Kise ngotot.
Midorima yang dari tempatnya itu membenarkan letak kacamatanya, "Apa kau pikir keluarganya sengaja menyembunyikannya-nanodayo?" tanya Midorima lagi.
Kisepun meneguk teh hangatnya sebelum menjawab, "Kupikir seperti itu-ssu. Tapi, pasti sebentar lagi dia akan muncul di media-ssu" jawab Kise serius.
"Menyembunyikannya, kemudian mengungkapnya sendiri, brgitu? Mereka benar-benar gila-nanodayo" pendapat Midorima.
"Tapi pasti ada yang berbeda dari Akashi-cchi"
.
.
-.-
.
.
"Ah, Atsushi. Kau sedang apa disini?"
Suara itu berhasil membuat Murasakibara berbalik dengan cepat, dan langsung saja ia membelalakkan matanya terkejut melihat sosok bersurai merah di depannya.
"A.. Akkk.. Aka-chin?" tanya Murasakibara memastikan.
"Kau seperti melihat hantu saja. Kuulangi lagi, kau sedang apa disini?" ujar Akashi ramah.
Murasakibara seketika langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Akashi.
"Aku bekerja disini, kau lupa?" tanya Murasakibara heran.
"Oh, benarkah? Maaf jika aku tak ingat" ujar Akashi sambil tersenyum maut(halah).
Murasakibara merasa jika ada yang berbeda dengan Akashi. Akashi menjadi ramah? Tidak, memang dari awal Akashi itu orangnya baik. Warna rambut? Tetap merah. Kedua matanya? Tetap merah-emas. Dan tunggu…
Murasakibara meraih telapak tangan kiri Akashi, kemudian meletakkannya lagi.
"Ada apa?" tanya Akashi bingung.
'CINCIN AKA-CHIN TIDAK ADA!'
.
.
-.-
.
.
TBCdulu….
.
.
.
p.s:anggep aja ibunya Akashi masih ada. ;)
karena gak tau namanya ayah+ibunya Akashi, jadi saya ngarang aja ya… :D maafkan.
Ditunggu RnRnya ya... :)
