Summary : Jangan pernah menangisi takdir. Karena sekalipun air matamu menjadi darah, takdir tidak akan pernah berubah…

Discalimer : Tite Kubo. Kalo Bleach milikku, Ulquiorra tak perlu mati

Warning : AU (tidak ada Espada atau pun Shinigami), OOC, abal, gaje, nista.. Jika terjadi kebetean tidak ditanggung.-plakk-

Rate : T

Pair : UlquiHime (so pasti), GrimmNel (slight).

A/N : Aih, silent reader mencoba jadi author. Karena masih baru, maaf kalau mengecewakan. Mohon bantuannya para senpai. Dan euh..sepertinya aku ganti genrenya. Cz setelah diperhatikan romance nya dikit bgt. Trs gara-gara format kompinya eror, jadi pasti banyak typo. Gomenne minna-san.. Beginilah orang eror. Trus, buat yang udah ripyu...Lya ucapkan arigatou gozaimasu nee...Ripyu dari minna san semua yang bikin Lya semangat buat ngelanjutin fic ini. Terakhir, selamat membaca dan semoga terhibur..


APARTEMEN PUTIH

By

Relya Schiffer

Setelah makan sore, Orihime terdiam memandang taman apartemen yang menghadap sebuah danau seluas satu hektar dari balik jendela kamarnya. Ia sadar bahwa waktu terus berjalan. Sudah banyak kisah yang terlukis atas dirinya di apartemen putih ini. Di taman yang tenang itu, dulu ia selalu menghabiskan waktu bersama para sahabatnya. Tapi sekarang, satu per satu dari mereka telah pergi. Ichigo keluar dari apartemen putih seminggu yang lalu, dan empat hari kemudian Rukia menyusul. Seolah tak ingin lama-lama berpisah dengan pemuda berambut orange itu.

Orihime masih ingat benar, sehari sebelum keberangkatan, Rukia sangat ketakutan. Gadis bermata ungu itu sempat histeris dan menangis sepanjang hari. Mungkin dia trauma karena menyaksikan Ichigo yang pergi tepat dihadapannya. Saat itu, Orihime dan Ishida tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menemani sahabatnya itu dengan sabar. Orihime bahkan menceritakan hal-hal indah yang akan mereka dapatkan setelah keluar dari apartemen. Tentang kebebasan terutama. Dan agaknya usaha itu berhasil. Rukia mulai bisa menerima kenyataan sehingga malamnya ia bisa keluar dengan tenang. Berangkat menyusul Ichigo.

Helaan nafas pelan terdengar dari bibir mungil Orihime. Ingatan itu takkan pernah terlupakan. Semua kenangan yang ia lalui bersama para sahabatnya pun takkan pernah terhapus. Dengan langkah riang ia beranjak dan memakai sandal bulu berkepala kelinci yang menghangatkan kakinya. Sandal itu kenang-kenangan terakhir dari Rukia. Orihime melangkah keluar. Gadis bermata abu-abu itu menuju kamar Ishida. Ia teringat dengan 'tiket' itu yang menandakan waktu Ishida sudah habis. Dan 'tiket' itu mengatakan bahwa pemuda berkaca mata itu harus segera keluar dari apartemen putih. Hari ini juga.


CKILK!

Pintu kamar Ishida terbuka, disusul oleh kepala orange yang menyembul dari balik daun pintu.

"Hai, Ishida-kun." sapa pemilik kepala itu riang.

Ishida yang sedang berbaring tersenyum tipis, "Hai, Inoue-san." balasnya lemah. "Kamu tetap ceria seperti biasanya,ya.."

Orihime tersenyum. Dia mendekati Ishida dan mengamati kondisi sahabatnya itu dengan seksama. Ishida seperti kesulitan bernafas. Ia menggigil dengan wajah pucat yang membiru. Keringat dingin mengucur dari seluruh pori-pori tubuhnya.

"Aku..harus pergi, Inoue-san.." ucap Ishida. Ia menarik nafas sebentar lalu melanjutkan kata-katanya lagi,"Sepertinya..aku berangka..hari ini.."

Orihime mengangguk, "Aku tahu." sahutnya. "Aku juga dapat 'tiket' itu. Nih!" lanjut gadis berambut orange itu sambil menunjukkan secarik kertas pada Ishida.

"Kapan…kamu dapat…itu?" tanya Ishida sambil menatapnya.

"Baru saja. Petugas apartemen yang memberikannya. Mereka bilang harus ku buka di kamar. Mungkin mereka takut aku histeris. Tapi aku kan bandel. Jadi ku buka aja di tengah jalan. Hehehe."jawab Orihime polos.

Ishida berusa tertawa kecil. Ia menekan dadanya untuk mengurangi rasa sakit yang sedang merejam di dalam sana.

"Sakit ya, Ishida-kun?" tegur Orihime ragu-ragu. Gadis manis itu duduk di tepi ranjang dan menatap sahabatnya khawatir. "Kalau sakit katakan saja. Atau kamu mau aku panggilkan-"

"Tidak.."Ishida menyela kata-kata Orihime. "Aku baik-baik saja." tegasnya. Sekarang ia menatap gadis berambut panjang itu dalam-dalam.

"Boleh…aku dengar..puisimu…Inoue-san?"tanyanya separuh memohon. "Yang waktu itu..kamu bacakan…menjelang kepergian…Kurosaki dan..Kuchiki-san…" lanjutnya perlahan.

Ishida tahu, Orihime takkan menolak permintaannya. Permintaan terakhirnya. Karena itulah, pemuda yang kali ini tidak memakai kacamatanya itu menutup sepasang mata birunya dengan damai, bersiap mendengarkan kisah yang menjadi bagian dari hidupnya. Sebuah kisah yang juga merupakan kisah nyata bagi seluruh penghuni apartemen putih ini.

Orihime menarik nafas. Mulut mungilnya pun terbuka saat ia bersuara pelan.

"Satu mimpi..

Mimpi akhirnya terputus

Di satu sisi lelap malam ini

Menatap lurus pada satu titik henti

Lelah mata pun terpejam

Sayup membuai lara

Berjeda tanpa cela

Menahan sesak sendiri

Meniti perjalanan kelu

Lintasi bintang..

Cahaya...

Matahari..

Lalu kembali bersendirian

Gelap hati

Mungkin untuk menagis sepi-sepi

Bersama guguran pelangi

Di awal lelap yang panjang

Tanpa akhir

Indah yang teramat sakit

Gelombang mimpi tersulam erat"


Sehari setelah Ishida keluar dari apartemen, pagi-pagi sekali Orihime menuju taman. Dilihatnya permukaan danau yang meriak tenang. Ia berbaring diatas hamparan permadani rerumputan yang menhijau. Dihirupnya wangi pagi dan ditatapnya langit luas yang selalu teduh memayungi apartemen putih yang megah, suatu kegiatan yang takkan mungkin dilakukannya lagi beberapa hari ke depan.

"Hmm...minna...kalian sedang apa ya sekarang? Aku kangen... Padahal baru kemarin Ishida-kun keluar." gumam Orihime dalam hati.

Tiba-tiba gadis berambut bagai senja itu teringat sesuatu. Segera dikeluarkannya buku catatan kecil dari saku dressnya. Jari-jari lentik gadis itu menari lincah diatas lembaran kertas putih itu. Halaman yang tersisa tinggal tiga lembar. Dan sekarang ia menggunakan salah satunya untuk menulis surat pada Ishida.


Ishida-kun yang baik...

Bagaimana perjalananmu? Jauh tidak? Sudah bertemu dengan Kurosaki-kun dan Kuchiki-san? Sedang apa mereka? Apa sudah saling menyatakan cinta? Hahaha...

Hei, sesekali datanglah dalam mimpiku. Aku ingin mendengar ceritamu, Ishida-kun. Yah, meskipun tak lama lagi aku pasti juga menyusul kalian. Oh,iya...Sampaikan salam ku pada semua penghuni apartemen yang ada disana ya. Aku rindu sekali pada semuanya. Aku juga rindu pada kalian. Karena itu, tunggu aku ya teman-teman...

^Orihime^


Usai menulis, Orihime tersenyum. Ia menatap ke langit, berusa mengingat-ingat sisa waktunya. Entah kenapa tiba-tiba saja kepalanya menoleh, seperti tertarik oleh sesuatu. Tatapannya pun langsung tertuju pada petugas Isane Kotatsu yang sedang melangkah bersama seseorang. Seorang pemuda. Dia membawa tas besar. Tubuhnya tidak pendek, juga tidak tinggi. Mungkin sekitar 169 cm. Rambutnya hitam dan terurai hingga hampir mencapai bahu. Pemuda ini memiliki mata hijau emerald yang sangat indah. Tapi...hei,kulitnya? Kenapa kulitnya sepucat itu? Dan lagi,wajahnya tak menyiratkan apapun. Datar. Tanpa ekspresi. Sepasang mata hijau itu pun menyorotkan kekosongan yang sangat jelas.

Orihime tertegun sejenak. Ia masih terus menatap petugas Isane dan pemuda itu yang menghilang di balik pilar. Sepertinya, penghuni apartemen bertambah lagi. Gadis manis itu pun segera berdiri. Ia yakin, pemuda tadi pasti masih tertekan seperti dirinya dulu, ketika menghadapi kenyataan untuk terkurung di tempat ini. Dan tugasnya sekarang adalah mencari tahu dimana kamar pemuda itu, kemudian memberinya semangat. Karena bagaimana pun juga, sesuatu yang indah sudah menanti di luar apartemen putih ini.


"Nee,Orihime-chan... Jangan bandel lagi, ya. Kamu mau segera pulang, kan?"

Nasihat petugas Isane yang baik itu tak digubris Orihime. Setelah bayangan wanita berambut perak pendek itu berlalu, Orihime segera mengendap-endap keluar dari kamarnya. Kan ada penghuni baru. Kenalan dulu ah..,pikirnya jenaka. Seluruh penghuni apartemen telah mengenal Orihime Inoue, seorang gadis yang selalu ceria dan tak pernah murung. Sekali pun ia telah mendapatkan 'tiket' itu.

Perlahan, Orihime mengendap mendekati kamar yang berseberangan dengan kamarnya. Beberapa penghuni yang sudah lanjut usia hanya tersenyum melihat tingkahnya. Ini sudah biasa bagi mereka. Justru tanpa kehadiran sosok yang selalu bersemangat itu apartemen putih akan semakin terasa seperti penjara.

Yakin bahwa tak seorang pun petugas apartemen melihatnya, Orihime langsung menyelinap masuk ke kamar berpenghuni baru, yang sesuai dugaanya, tidak dikunci itu. Tentu saja sang penghuni kamar menjadi kaget karena ada orang asing yang tiba-tiba saja menyelinap masuk tanpa ketuk pintu dulu.

"Siapa kamu?" tegur penghuni baru itu dingin. Ia sedang berbaring di tempat tidurnya. Sepasang matanya menatap tajam.

Orihime tertegun sejenak. Mata itu...jika diliihat dari dekat...benar-benar lebih indah. Tapi ia segera bersikap santai kembali. Dengan cueknya ia mendekati pemuda berwajah tampan itu sambil tersenyum tanpa dosa.

"Orihime." jawabnya singkat, menyebutkan nama. "Kamu baru,ya?" tanyanya ramah.

"Untuk apa menanyakan sesuatu yang sudah kau tahu, onna?" sahut pemuda itu, masih dengan nada dingin dalam suaranya. Mungkin dia benar-benar tidak suka kamarnya diinvasi tanpa izin.

Orihime sebenarnya agak tersinggung dipanggil 'onna'. Tapi ia mengabaikan perasaan itu dan menatap sosok pemuda yang kini sedang menatap keluar jendela itu. Dia belum bisa menerima kenyataan, benak Orihime bersuara di detik pertama ia melihat ke dalam mata pemuda itu tadi. Tak ada harapan disana. Kosong. Hampa.

"Jangan begitu,ah! Kamu tidak sopan sama penghuni lama." Orihime mencoba bercanda. "Aku mengerti apa yang kamu rasakan karena dulu aku juga sama seperti kamu. Tapi kamu harus tahu, semua penghuni apartemen ini senasib. Jadi kamu tidak bisa egois dengan memikirkan kesedihanmu sendiri. Ada banyak orang di kamar lain yang nasibnya lebih buruk darimu atau pun dari ku." jelasnya panjang lebar.

"Kau tak tau apa pun tentang penderitaan ku, onna." pemuda itu masih bersikap dingini. Tak ada nada bersahabat dalam kata-katanya. Padahal saat mendengar kata-kata Orihime, ia merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam diriya. Sesuatu yang sudah mati sejak apartemen ini menjadi vonis bagi hidupnya.

Orihime mengangkat bahu,"Aku memang tidak tau apa pun tentang kamu. Yang aku tahu cuma satu, kamu sama seperti penghuni lain disini, mengaharapkan sesuatu yang lebih baik. Tapi jika kita tidak bisa mendapatkannya, maka kita harus tetap bersyukur."

"Berisik!" selak pemuda itu singkat. Biar bagaimana pun, ia merasa takdir sangat tidak adil. Ia masih memiliki banyak mimpi indah yang tak mungkin terwujud lantaran terkurung disini. Seperti seorang pesakitan. "Keluar sekarang juga!" kali ini pemuda itu memerintah dengan tegas.

Orihime mendesah pelan. Rasanya pemuda tampan itu butuh waktu untuk sendiri.

"Baiklah. Salam kenal saja dariku. Sepertinya kamu butuh waktu untuk memahami keadaan. Tapi aku yakin, kamu masih lebih beruntung daripada aku dan taman-teman ku. Kamu masih mempunyai lebih banyak waktu daripada kami." ujar gadis itu. "Selamat datang di apartemen putih ini. Jangan kalah dari keputusasaan. Dan satu lagi...namaku Orihime!"

Usai berkata demikian, Orihime segera keluar dari kamar itu.


Pagi hari di apartemen putih. Sinar matahari yang hangat mulai merebak, mengusir sisa-sisa malam. Nyanyian burung-burung kecil seperti musik yang tak lelah mengiringi pagi hingga waktu mencapai titik akhir. Biasanya suasana pagi yang tenteram ini hanya sekejap bertahan di kota besar. Namun itu tidak berlaku disini. Suasana apartemen putih memang benar-benar terjaga dari kebisingan. Tempat itu merupakan tempat pilihan yang khusus didesain untuk menjadi tempat ternyaman bagi penghuninya. Dengan perisai danau luas yang airnya selalu memantulkan warna pelangi tiap kali hujan turun. Tak hanya itu, sepanjang jalan masuk ke apartemen juga diwarnai oleh kebun bunga yang berseling dengan rangkaian tanaman hias. Kesan teduh pun tertangkap lensa mata dengan sempurna. Sungguh berbanding terbalik dengan penghuni di dalamnya.

Di tepi danau, di atas gundukan tanah berbalut rumput yang terawat, seorang pemuda duduk sendirian. Mata emeraldnya menatap permukaan danau yang meriak tenang. Tatapannya sendu, kosong. Beberapa kali ia mendesah berat. Ia rindu semua hal yang ada di luar sana.

"Bengong sendirian itu ngga baik loh.." satu suara terdengar lancar. Pemuda beralis tebal itu menoleh.

"Kamu lagi.."ucapnya singkat, lalu berpaling setelah meliahat siapa yang datang. "Apa mau mu sebenarnya?" tanyanya tidak ramah.

Orihime tersenyum. Tanpa ragu ia duduk di samping pemuda itu. Ia manatap danau yang luas, lalu tiba-tiba berteriak keras.

"Heeeeiiiii...siapa pun yang ada di sanaaaaaa...orang ini bertanya apa mau kuuuuu...mau ku banyaaakkkkkk..."

Orihime menatap pemuda itu yang sekarang kelihatan sedikit kaget, namun wajah stoic nya tetap tak berubah. Gadis itu masih tersenyum. Hanya saja tatapannya menjadi lebih serius dan sedikit sendu.

"Mau ku banyak! Aku ingin kuliah. Aku ingin jadi dokter. Aku juga ingin merasakan lebih banyak lagi peristiwa di dunia ini." Orihime memalingkan wajah. "Tapi aku cukup bersyukur dengan hidup ku sekarang karena aku sadar bahwa menyesal tak ada gunanya. Takdir sudah tergaris, dan takkan berubah. Waktu juga terus berjalan. Jadi tak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi."

Pemuda itu terdiam. Yang dikatakan gadis ini memang benar. Tapi ia masih tidak rela. Ketika orang lain bisa melakukan apa saja, sementara dia harus terkurung disini. Menunggu kepastian yang tak jelas dengan keputusasaan. Sungguh tidak adil. BENAR-BENAR MENYEDIHKAN.

"Hei, ayolah...kita berkenalan saja. Percayalah, tak ada gunanya kamu berdiam diri seperti itu. Dunia belum berakhir seperti yang kamu kira." bujuk Orihime.

Pemuda itu menatap Orihime dengan tatapan super tajam. Tapi itu tidak ada pengaruhnya bagi gadis itu. Ketakutan terbesar Orihime bukan ini...

Pemuda itu berpaling sejenak. Ia berdiri dari duduknya. Dan sambil berlalu, ia berucap pelan.

"Nama ku...Ulquiorra Schiffer."

#TBC#


Nyahaaaa...sudah berusaha ku betulkan nieh. Masih ada typo-kah? Beritahu aku readers...

And, terima kasih sudah mampir ke fic abal ku yang pertama ini.

Review?