IRIS
© Uchiha Vnie-chan
.
.
Standard Disclaimer Applied
.
.
Rated : M for Mature content, language, and Lime
Genre : Romance/Crime/Angst
Warning : Alternative Universe, OOC, Straight pairings
.
.
NOL
.
.
.
"JANGAN terlalu membungkuk, tegakkan punggungmu, lihat lurus pada targetmu, dan tarik pelatuknya."
DOR!
Suara tembakkan pertama yang masih melekat dalam ingatanku. Masih ingat bagaimana pria berambut keperakan di sampingku itu berkata memerintah—nada suaranya yang seperti bersemangat padahal ekspresi di wajahnya datar; aku tahu ia senang mengajariku menggunakan senapan layaknya seorang guru yang menjejali materi kalkulus tingkat tinggi pada bocah berumur lima tahun. Baginya, itu sangat menyenangkan—menyenangkan melihat murid-muridnya tersiksa.
Ia juga yang mengajariku bagaimana menghabisi nyawa seseorang dengan satu tarikan pelatuk, membuat tubuh hidup menjadi seonggok daging-tulang tak berarti. Ia memberi tahu betapa menyenangkannya membunuh seseorang.
"Cukup satu peluru. Biarkan bersarang tepat di jantung—tak usah membuang waktu."
Tanpa perlu mendengar jeritan permohonan memelas dari korban. Tidak berguna.
Dia mendidikku menjadi mesin pembunuh—malaikat pencabut nyawa, bahkan sejak usiaku baru menginjak sepuluh tahun. Dan aku tidak pernah merasa takut, ia memperlihatkan bagaimana caranya membunuh emosi, rasa iba, dan ketakutan diri sendiri. Sebab semua itu hanyalah bentuk lain dari pertunjukan kelemahan.
Dan aku tidak suka menjadi orang lemah.
"Apa kau tidak keterlaluan, Kakashi? Demi Tuhan, usianya baru sepuluh tahun!" wanita yang lain memperdengarkan teriakan protes.
Dan pria itu hanya tersenyum—menyebalkan, "lebih tepatnya, mesin pembunuh berusia sepuluh tahun, Shizune. Sayang 'kan, kalau bakat alami yang dimilikinya disiakan begitu saja? Menyiapkannya sedini mungkin kurasa lebih baik."
Dan wanita bernama Shizune itu mencibir, "menjadi penerusmu, begitu eh?"
"Katakan saja kalau kau masih kesal karena gagal mendapatkannya sebagai muridmu," masih dengan senyum khasnya dan matanya yang menyipit, pria itu menjawab.
Shizune hanya mendesis sebal pada pria itu. Lalu melangkah pergi, kembali pada ruang kerja kesayangannya—laboratorium busuk yang berisi mayat-mayat tanpa nama dan otak yang berceceran di mana-mana. Jangan lupakan bagian bau amis dan merah pekat yang tergenang di lantainya.
Pria dengan rambut mencuat aneh melawan gravitasi dengan warna yang tak kalah ganjilnya itu lalu tertawa senang. Baginya, kesenangan selain memburu dan membuat orang jadi gila adalah menggoda dokter muda yang kerjaannya mengobrak-ngabrik tubuh orang itu.
Aku benci pria ini. Aku benci Hatake Kakashi.
Aku benci melihat matanya yang menyipit dan senyumnya yang tersembunyi di balik masker yang menutupi dua per tiga wajahnya, aku benci mendengar tawanya saat menggodaku, aku benci mendengar suaranya yang datar namun bersemangat saat mengajariku.
Dan aku benci mendengar ia berkisah tentang masa laluku.
.
.
"JIKA kau berkhianat, aku sendiri yang akan membunuhmu."
Aku sama sekali tidak peduli dengan kata-katanya itu, kalimat yang diucapkannya saat pertama kali menemukanku. Baginya mungkin itu adalah sumpah, tapi bagiku hanya bualan untuk menakutiku saja.
.
.
KAKASHI senang sekali mengoceh tentang masa laluku. Bercerita tentang kedua orang tuaku, dan bagaimana hebatnya mereka menjadi seseorang yang berguna untuk 'pekerjaan' mereka.
Aku tidak tahu.
Aku bahkan tidak tahu bagaimana rupa kedua orang tuaku. Bagaimana rasanya memiliki kasih sayang dari orang yang telah membuatku melihat dunia yang begitu menjijikan ini.
Yang kutahu, ayah dan ibuku adalah seorang yakuza. Hanya itu.
Sebagai seorang pembunuh, aku katakan bahwa aku kagum pada mereka. Tapi sebagai seorang anak, aku tidak dapat merasakan apa-apa. Karena aku juga hanya tahu tentang mereka dari data-data organisasi masa lampau, dan juga dari cerita Kakashi.
Tidak wajah ataupun suara. Mereka adalah keberadaan yang absurd.
Atau justru keberadaanku yang absurd?
.
.
AKU benci semua orang dalam organisasi ini. Aku benci bagaimana mereka memandangku, mengatakan bahwa kelak aku akan menjadi seorang yakuza yang hebat. Benci saat mereka tertawa dan bertepuk tangan ketika untuk pertama kalinya aku mencabut nyawa seorang manusia, seolah yang sudah kuhabisi itu hanyalah kelinci percobaan dan tikus tak berguna.
Karena bagi mereka aku hanya alat; hanyalah senjata mematikan yang digunakan untuk membantu mereka mendapatkan tujuan.
.
.
"ORANG TUAMU mati kerena organisasi."
Tatapan dinginku menyapu Kakashi saat ia mengatakannya. Aku tidak tahu harus marah, sedih, menangis. Aku hanyalah anak kecil yang kesepian, yang hatinya telah mati.
Tak bisa merasakan apa-apa lagi.
.
.
AKU lantas berpikir, aku hidup hanya untuk menjalani satu takdirku.
Menyimpulkan, bahwa tujuan hidupku hanya untuk membalas dendam.
Menghancurkan mereka yang telah terlebih dahulu menghancurkan hidupku.
.
.
AKU mengeratkan selembar jas kotor yang membungkus tubuh telanjangku, merapatkannya kesekeliling tubuhku. Berharap kehangatan itu datang, tapi tidak pernah.
Seperti harapan yang juga tidak pernah datang.
Langkah-langkah satu per satu semakin mendekat.
Aku merintih kesakitan. Karena tidak bisa menangis, tidak juga bisa menjerit.
Aku tidak memiliki apa pun, dan tidak juga memiliki siapa pun. Tidak keluarga, sahabat, atau sesuatu yang peduli padaku.
Aku ini hanya manusia tanpa terikat apa pun dengan dunia ini.
Jadi jika aku mati, tidak apa, 'kan?
Saatnya menyanyikan senandung lagu kematian.
.
.
TAPI, tidak. Aku tidak boleh berakhir di sini. Aku tidak boleh mati sebelum menuntaskan satu misi terpenting dalam hidupku. Tidak sebelum aku menghabisi dan menyeret mereka untuk ikut serta bersamaku ke neraka.
.
.
ATAU memang seharusnya aku mati?
Seharusnya sejak awal aku memang tidak pernah hidup.
.
.
"AKU menemukanmu."
—Sampai saat mereka datang.
"Aku datang. Jadi, jangan menangis lagi."
Aku mendongak, menemukan wajah-wajah asing dalam ingatanku. Mengulurkan tangannya padaku, lantas menarikku keluar dari kegelapan yang selama ini menjadi habitatku hidup.
Menuju kegelapan yang lain.
Tapi setidaknya, aku merasa akan lebih nyaman dalam kegelapan itu.
.
.
TUHAN—kalau memang kau benar-benar ada, kenapa, kenapa kau membiarkan aku bertemu dengan mereka? Kenapa kau membiarkan aku mengenal laki-laki sepeti dia? Kenapa tidak kau ambil saja nyawaku saat itu? Kenapa pada saat aku sudah siap mati, kau kirimkan mereka? Kenapa dia harus memberikan harapan padaku. Kenapa? Kenapa hatiku terasa hangat saat mereka menemukanku...?
.
.
Aku manusia tanpa hati dan emosi, kan? Tapi—kenapa?
.
.
Dan hampir saja aku melupakan tujuan hidupku.
.
.
"HEI, SAKURA!"
Aku menoleh, dan mendapatkan cengiran lebar dari pemuda berambut pirang jabrik—menyebalkan.
Pandanganku teralih pada sosok lain, pemuda berambut merah yang tampak tenang dengan pistol perak kesayangannya.
Dan si raja menyebalkan, Hatake Kakashi.
Lalu pada sosok terakhir. Pemuda berambut raven hitam kebiruan dengan mata onyx-nya yang begitu tajam—lebih tajam dari samurai tapi sama tajamnya dengan mulutnya yang selalu mengeluarkan kata-kata sarkastik yang begitu sinis dan menyakitkan.
Aku mendengus.
Mereka—merekalah yang telah menemukanku.
.
.
"KITA mendapatkan misi. Kita akan ke Amerika dan melakukan pekerjaan seperti biasa. Tapi kali ini lebih menyenangkan karena kita akan menantang langsung FBI dan menari di depan markas mereka sendiri," pemuda berambut pirang itu terkekeh geli atas lelucon yang dibuatnya sendiri.
Sungguh tidak lucu.
"Kau benar, Naruto. Sekalian kita melenyapkan pengkhianat," Kakashi menimpali. Mengeluarkan sehelai tissu dari dalam saku celananya dan sebuah pematik api, "dan melenyapkannya seperti ini." Terbakar, lalu hilang tanpa sisa.
Aku hanya memutar mata bosan melihat kelakuan dua pria kurang kerjaan itu.
.
.
"MENCOBA menyerangku, eh?"
Dua pemuda berwajah kaku tanpa emosi itu saling berhadapan, saling menatap dengan tingkat ketajaman di luar batas manusia normal.
Bukan seorang psikopat. Lebih dari itu.
Tatapan seorang dewa kematian.
Saling mengacungkan senjata pada kepala lawannya. Dengan telunjuk yang siap menarik pelatuk.
Dan bisa kapan saja kedua kepala lelaki gila itu meledak.
"Refleksmu semakin baik, Sasuke. Aku kagum kepadamu," pemuda berambut merah itu sedikit mengangkat salah satu ujung bibirnya, "atau perlu kubuktikan kecepatan tangan dewamu dalam menarik pelatuk?"
Aku mendengus. Kedua pemuda itu juga sama kurang kerjaan dengan Kakashi dan si bodoh Naruto.
"Setidaknya 0,3 sekon lebih cepat darimu, Gaara. Dan 0,3 sekon itu sangatlah berarti."
Keduanya menurunkan pistol masing-masing.
Sama saja. Benar-benar kurang kerjaan.
.
.
DAN bersama mereka—tenggelam dalam kubangan dosa.
.
.
BOLEHKAH—bolehkah saat ini aku memiliki satu harapan?
Mencoba, sedikit saja, hangat yang melingkupi hatiku yang mati?
.
.
BERAPA banyak lagi yang harus kuhabisi? Berapa banyak lagi yang harus kukorbankan? Apa aku harus berjuang lebih jauh untuk hidup, atau memilih mati? Menjalani atau membuang takdirku?
.
.
Detik ini, sebuah kisah yang panjang dimulai.
.
.
Author's note
Yup, update. Cukup "kilat"? Semoga tidak terlalu mengecewakan. Ini masih berupa pengenalan karakter dan kisah masa lalu sang tokoh utama. Tapi semoga sudah sedikit membuka tabir misteri #halah
Semoga unsur crime dalam fic ini dapat saya sajikan dengan cukup baik (mengingat ini adalah karya pertama saya yang mengisahkan Yakuza). Saya harap tidak banyak melakukan kesalahan, seperti memberikan informasi menyesatkan. Hahaha
.
.
Thanks for reading.
Mind to review?
