Scent
Yoongi x Jimin
Enjoy
.
"Hyung…please…"
"Kakiku pegal, Jimin. Tidak bisakah rasa penasaranmu itu kau tahan sampai minggu depan?"
"Minggu depan? Aku bisa gila."
"Tap–"
"Kumohon…yang kau lakukan hanya duduk dan menungguku, tidak perlu ikut berkeliling mencari, OK? Lagipula sudah lama aku tidak mengobrak-abrik tempat itu, ayolah lain kali aku akan pergi sendiri, ah atau kau pulang dulu–"
"Hm. Tidak. Tidak.Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendirian lagi, berhentilah merengek." Yoongi geram setengah frustasi.
"Jadi?" Jimin meraih tangannya ceria, menatap wajah kesal Yoongi dengan mata berbinar dan senyum kekanak-kanakan.
"Hanya satu jam, ingat, satu jam. Selebihnya kuseret kau pulang."
"Asiiiiik…aku ciiiiiinta padamu."
"Hm. Dasar!"
.
Tiga tahun tentunya bukan waktu yang sebentar untuk Min Yoongi mendalami karakter seorang Park Jimin, beserta baik buruknya pemuda itu. Jimin mencintai seni tari, dan anak itu menjadikan dunia itu sebagai hidupnya, Yoongi terima-terima saja karena ia sendiripun berkecimpung di seni musik.
Tetapi ada satu lagi kegemaran Jimin yang terkadang membuat Yoongi jengah, juga cemburu. Akan sangat mudah jika musuhnya adalah Jung Hoseok, teman satu akademinya yang Yoongi tahu benar bahwa pemuda itu memiliki rasa yang lebih terhadap kekasihnya, karena hanya dengan satu dua kali ancaman pemuda itu langsung membatalkan misinya untuk mendekati Jimin.
Dan Yoongi telah lama menyerah untuk urusan yang satu ini, karena demi apapun, Park Jimin hanyalah anak muda kelebihan energi yang sangat mencintai buku.
Jimin dan kecintaanya akan membaca sering membuatnya lupa waktu, lupa tidur, lupa makan dan terkadang lupa Yoongi.
Jika konsekuensi meninju muka Hoseok adalah didiamkan selama seminggu, maka ancaman ditinggalkan selamanya adalah hal yang ia dapatkan jika Yoongi berani melenyapkan koleksi buku-bukunya.
Meskipun Yoongi tahu benar bahwa Jimin akan sulit tidur jika ia tidak memeluknya, demi Tuhan.
.
"Hmm…aromanya seperti surga."
Bola mata Yoongi berputar dengan sendirinya, bocah ini terlalu berlebihan. "Jimin, jangan norak."
"Aku sudah ketergantungan dengan aroma buku baru, menenangkan sekali." Jimin sudah sibuk mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah, meraup sebanyak-banyak aroma buku yang menguar menyenangkan.
"Ish. Kau senang, aku mual." Jika Jimin bukan separuh hidupnya, Yoongi tidak segan angkat kaki dan meninggalkan pemuda itu sendirian.
"Kau, buku seperti apa lagi yang kau cari?"
"Entahlah, akhir-akhir ini aku ingin membaca filsafat, novel detektif-detektifan karya Rowling juga bagus, oh–" Ucapnya takjub saat bola matanya jatuh pada rak bertuliskan photography. "Mungkin aku juga akan membeli panduan fotografi karena Seokjin-Hyung berjanji untuk mengajariku memotret."
Oh, Jimin dan kebimbangannya adalah hal buruk.
"Jimin aku mual, sumpah!" Yoongi memutar otak, berusaha menghindari kebosanan setengah mati yang akan menderanya jika nekat memaksakan diri menemani Jimin mencari bacaan yang benar-benar dia inginkan.
Yang lebih muda menoleh, memandang kekasihnya sebal, lalu ia melepaskan tautan tangan mereka.
"Sudah sana pergi, hush! Tunggu aku di mobil saja, aku tidak mau kesenanganku di sini rusak karena kau selalu saja mengomel!"
APA! Bocah ini benar-benar!
"Sudah pergi sana." Ucap Jimin seraya mendorong-dorong tubuh Yoongi menjauh dari pintu masuk bookstore langganannya.
"OK. Mobil."
Yoongi pergi sambil menggerutu, antara sebal dan gemas.
Peluk dan tidur saja dengan buku-buku sialanmu itu, anak bantet!
.
Mereka tiba di rumah tepat pukul sembilan malam, Jimin menguap lebar setelah memasuki rumah dan meletakkan belanjaan berharganya itu di atas mini bar. Dengan tidak sabaran ia segera membongkar kantong plastik besar itu dan mengeluarkan isinya, membuka tiap segel dengan mata berbinar seakan melupakan kantuk yang menderanya selama perjalanan pulang.
Yoongi, yang begitu datang langsung menuju lemari pendingin dan menenggak air es langsung dari botolnya itu hanya tersenyum. Bagaimanapun juga dan entah bagaimana, kebahagiaan Jimin baginya seperti penyakit menular, dan rasa kesal itupun perlahan terkikis, lalu menguap entah kemana.
"Besok saja membacanya, kau mengantuk." Yoongi menyerahkan segelas air dingin dan Jimin langsung meminumnya sekali teguk dengan suka hati.
"Yep."
"Wow, apa ini? Jostein Gaarder?"
"Uhum. Sudah kubilang, kan? Aku ingin membaca filsafat."
"Dan Brown? Ini buku atau apa, dipakai untuk bantal tidur pun tidak enak." Tangan Yoongi sibuk membolak-balik buku sangat tebal yang baru saja dibeli Jimin.
"Sekali-sekali kau harus baca buku, Hyung. Jangan terus-menerus mengasingkan diri di studio musik saja, hidupmu monoton."
"Terlalu banyak membaca fantasi juga tidak bagus, bocah tengik. Lama-lama kau akan disorientasi dan sulit membedakan yang mana nyata dan khayalan, atau tiba-tiba saja kau menganggap aku Zeus dan dirimu sendiri Aphrodite."
"Definisi fantasi dan gila itu sangat berbeda, Min Yoongi, dan Aphrodite itu wanita, ngomong-ngomong." Jimin jadi kesal sendiri.
"Uhuh. Sekarang bersihkan dirimu dan pergi tidur, Park Jimin. Aku tidak mau besok saat bangun pagi kau bertransformasi menjadi seekor panda, hey, apakah ada cerita fiksi tentang itu? Seorang penggila baca yang lama-lama berubah menjadi panda kurang tidur?"
"Aish! Mati sana!"
Yoongi terbirit-birit saat Jimin hendak melemparkan buku tebal ke arahnya.
.
"Hyung."
"Hm?"
"Aku selalu suka aroma tubuhmu." Jimin semakin melesakkan wajahnya pada leher Yoongi, tangannya meraih punggung pemuda yang lebih tinggi dan membelainya pelan.
"Kau mengigau, Jimin-ah." Yoongi berucap dengan malas, karena demi apapun dia ingin segera tertidur, kedua matanya sudah tak tahan melawan rasa kantuk yang amat sangat. Saat Jimin mulai berbicara yang menurutnya ngawur, maka tangannya akan bergerak refleks membelai belakang kepala pemuda itu.
"Tidak, nyawaku masih penuh."
"Kalau begitu cepatlah tidur, kau bilang besok ada kelas pagi."
"Kau masih ingat, kan? Saat aku bicara bahwa bau buku itu seperti bau surga?"
"Hm."
"Aku bahkan tidak tahu lagi harus menyebut aromamu ini seperti apa, aku tidak bisa tidur jika belum menghirup banyak-banyak aroma tubuhmu yang seperti campuran rempah ini, aku tidak bisa mendeskripsikannya secara pasti, aku seperti kecanduan, menurutmu apa ada penyakit seperti itu?"
"…."
"Kau tahu, bahkan koleksi parfum mahalmu tidak akan sebanding dengan aroma alami tubuhmu, aih, aku bisa gila."
"…."
Jimin tahu Yoongi telah jatuh tertidur, tetapi malah ia terkikik sendirian. Ingatan dimana ia mengancam akan meninggalkan Yoongi jika menyentuh koleksi buku-bukunya secara tiba-tiba terlintas begitu saja, dan menurutnya itu lucu.
Karena meskipun kekasihnya itu membakar habis semua koleksinya sampai tak bersisa satu halamanpun, mana bisa ia hidup tanpa Min Yoongi?
"Aku cinta padamu, Zeus-ku, jjalja." Ucapnya setelah mengecup ringan bibir tipis milik pemuda yang saat ini tengah merengkuhnya.
END
#PS: Merujuk pada kisah saya tadi sore, dan kecintaan saya sama Min Yoongi(?)
