Hutan Kengerian.

Adalah salah satu hutan berkabut di Kerajaan Roxie, tepatnya di perbatasan Desa Halin dan Desa Dermina. Hutan ini dihuni oleh para makhluk magis dan sihir yang disebut makhluk immortal. Keberadaan mereka dilindungi oleh kabut hutan, hasil dari sihir Para Guardian. Kabut itu beracun bagi makhluk mortal yang terdiri dari manusia biasa dan penyihir dengan sihir terkuat sekalipun. Karena kabut itu tercipta tak hanya untuk melindungi, tapi juga untuk mencegah kembalinya peperangan antara makhluk immortal dengan makhluk mortal.

Salah satu makhluk immortal penghuni Hutan Kengerian adalah kaum Vandesca.

Salah satu contoh Kaum Vandesca adalah pemuda imut ini.

Sebentar lagi dua antena kupu-kupu di atas kepalanya akan melengkung ke arah berlawanan. Dua antena itu adalah tanda kekuatan makhluk Vandesca, sekaligus sebagai penanda akhir hidup sang makhluk.

Kecuali, apabila pemuda manis ini memiliki pasangan hidup yang sudah digariskan Sang Penguasa. Setiap Vandesca memiliki antena yang akan muncul satu bulan setelahmereka keluar dari kepompongnya.

Pasangan hidupnya akan memotong antenanya yang semakin membuatnya terlihat imut. Antena tersebut tumbuh kembali setahun kemudian, dan hanya bisa dipotong menggunakan senjata milik sang pasangan.

Sepasang makhluk Vandesca bereproduksi sama seperti manusia pada umumnya. Hanya berbeda dari cara mereka menikah. Prosesinya hanya melakukan hubungan persetubuhan di hadapan bunga mawar raksasa, yang merupakan jantung Hutan Kengerian. Cara Vandesca betina melahirkan, serta rupa bayi mereka, juga sama seperti manusia umumnya.

Namun ada sedikit perbedaan.

Bayi Vandesca nantinya dibungkus dalam kepompong rajutan kedua orang tua mereka. Kepompong tersebut berbahan kulit kering dari tubuh kedua orang tua yang sudah mengelupas, atau kulit mati saat proses ganti kulit. Proses ganti kulit sendiri hanya dialami Makhluk Vandesca yang sudah menikah.

Setelah kepompong membungkus tubuh si bayi, maka bayi itu dimasukkan ke dalam mawar merah muda raksasa. Seminggu kemudian mawar itu mekar, dan keluarlah seorang remaja. Fisik mereka berubah dari fisik bayi baru lahir, menjadi fisik manusia biasa berusia 16 tahun.

Dan saat itulah, kedua orang tua bayi tersebut meninggal dunia.

Makhluk Vandesca adalah makhluk terindah berparas cantik dan tampan. Namun kisah mereka hanya dipenuhi kesepian, dan tak jarang meninggal satu bulan kemudian. Nasib tragis itu terjadi hanya jika, sang Vandesca tidak menemukan jodohnya.

~•~•~

HUNHAN

(Hanya 2 chapter awal, full Chanbaek tanpa HUNHAN)

YAOI

WARNING : terlalu banyak narasi, akankah membosankan?

.

.

.

.

.

Part 01 : Pesona tak Berujung

"Okdjomu faaamah lau."

—Chanyeol Roxie—

.

.

.

.

Namanya Baekhyun.

Terakhir yang dia ingat, lima hari lalu, dia keluar dari mahkota bunga mawar. Dia temui tubuhnya begitu basah dan lengket oleh madu bunga.

Jadi mari, kita kembali kelima hari yang lalu, dimana dia benar-benar 'terlahir' ke dunia.

Setelah berhasil menapaki tanah, Baekhyun melihat dua tubuh tergeletak di atas tanah. Keduanya cantik dan tampan. Tertidur sambil tersenyum, saling memeluk selimut warna hijau zamrud. Baekhyun mengambil selimut itu untuk membungkus tubuhnya yang telanjang bulat. Tak sengaja, dia temui sebuah surat di antara dua tubuh tersebut. Surat itu ditulis dalam bahasa manusia. Sayangnya tulisan itu tak dimengerti Baekhyun.

"Qaa pii?" dua kata yang baru pertama kali dia lontarkan. Matanya berbinar penasaran pada kertas penuh noda tanah lembab di genggamannya.

Bahkan tertulis namanya di sana, ''Baekhyun". Waktu itu Baekhyun belum menyadari namanya demikian.

Entah kenapa Baekhyun tersenyum saat membaca satu kata tersebut.

Namun sedetik kemudian, Baekhyun tiba-tiba menangis selayaknya bayi. Dia tidak tahu mendapat dorongan darimana untuk melakukan itu, dan terus menangis sampai akhirnya bersimpuh memeluk kedua tubuh itu.

Baekhyun menguburkan mayat keduanya dengan tergesa-gesa. Dia tak peduli tubuh telanjangnya dijahili angin malam. Terus saja menggali menggunakan batu, memasukkan kedua tubuh itu ke dalam lubang yang dia buat, lalu menimbunnya dengan tanah. Merengut karena gundukan tanah terlihat begitu hampa, membuat Baekhyun tergopoh-gopoh memetik bunga-bunga di sekitarnya, untuk kemudian menaburinya di gundukan tanah itu.

Baekhyun tersenyum simpul kala gundukan tanah itu tampak cantik.

Kembali bergelung selimut hijau zamrud, Baekhyun bersimpuh sembari mengaitkan kedua tangan. Matanya terpejam cantik, menggumamkan kalimat yang baik-baik untuk dua tubuh tersebut. Padahal Baekhyun tak tahu bahwa yang dia kubur dan dia doai adalah kedua orang tuanya sendiri.

Lalu Baekhyun berjalan menjauh. Langkahnya terseok-seok karena belum terbiasa menggunakan kedua kakinya. Kesendiriannya kini ditemani cahaya keperakan rembulan, angin malam menusuk tulang, gemerisik dedaunan mengusik telinga, dan pergerakan hewan-hewan kecil. Hingga akhirnya dia bertemu seekor angsa yang terluka di depan kedua kakinya.

"Alu evrumka?" tanya Baekhyun lagi saat memangku tubuh si angsa. Ada luka di sayapnya.

KRATAKK !

Terdengar suara ranting patah. Bergegas Baekhyun sembunyi di balik semak-semak. Diapun waspada, dan fokus mengolesi madu bunga mawar di sayap si angsa. Madu itu adalah madu dari bunga mawar yang menyelimuti tubuh telanjangnya. Takjub akan pemulihan cepat, si angsa mengepak-ngepakkan sayap dengan bahagia hingga suara kepakan terdengar.

"Berikan angsa itu padaku!"

Baekhyun terkesiap.

"Eng?"

Mata Baekhyun mengerjap-ngerjap bingung, sementara si angsa terbang rendah di hadapan Baekhyun. Angin topan kecil melingkupi si angsa. Hewan itu masih mengepak-ngepakkan sayap di titik yang sama, hingga terlihatlah perubahan ukuran, lalu menjadi sosok gadis cantik bergaun bulu angsa. Gadis itu berambut perak dengan tiara menghiasi rambutnya yang disanggul.

Gadis tersebut menatap tajam pria itu. Tapi tatapannya berubah hangat saat pria bermantel tebal berwarna coklat gelap, kini terpana pada sosok Vandesca bernama Baekhyun. Pria itu bersetelan layaknya pemburu. Seperti memakai sepatu boot senada dengan mantel, tas anak panah di balik punggung, dan busur di genggaman.

"Pemburu. Aku mohon pergilah atau yang lain akan tahu, dan Perang Roxie terjadi lagi seperti beberapa abad lalu." ucap kalem gadis bergaun angsa tersebut.

"Tunggu, apa?"

Pria itu nampak syok. Matanya seakan keluar dari rongganya. Inginnya hanya membawa hati angsa untuk sang nenek tercinta. Tapi ternyata dia masuk ke Hutan Kengerian tanpa disadari. Lalu bertemu seekor angsa yang menjelma menjadi seorang gadis.

Lalu ekspresinya dipenuhi rasa bersalah dan kikuk. Dia usap tengkuknya sebagai pelampiasan rasa gugup.

"Kau tahu... Aku tidak bermaksud membahayakan siapapun di hutan ini, ehm..." matanya memandang gadis itu penuh penilaian, "apa kau... peri angsa?"

Gadis itu mengangguk. Pria tersebut tersenyum tipis dan membuat si gadis apalagi Baekhyun terpana. Si gadis berdeham kecil lalu menatap Baekhyun. Pemuda manis itu masih duduk di atas tanah penuh dedaunan kering. Dia tengah menikmati wajah si pemburu sambil tersenyum lebar.

Imut sekali.

"Apa kau makhluk Vandesca yang baru lahir?" tanya si Peri Angsa.

"Ehm..." angguk Baekhyun polos saat mendengar kata 'Vandesca' dilontarkan Peri Angsa tersebut. Kemudian dia menunduk malu saat si pemburu melingkupi tubuhnya dengan mantel coklat. Tubuh telanjangnya menjadi lebih hangat.

"Evrnia alshi," ucap Baekhyun malu-malu.

Si Pemburu hanya garuk-garuk kepala tak paham maksudnya.

"Kau hanya bisa mengucapkan bahasa Vandesca ya?" Tanya peri itu lagi.

Dan Baekhyun mengangguk saja.

"Amalau Taeyeon Ries. Lau faaalh Spei Magsa," kata Si gadis. Baekhyun mengangguk paham, tapi tidak dengan si Pemburu.

Namanya Taeyeon Ries. Makhluk setengah Peri Angsa yang akan berubah wujud menjadi angsa sesukanya. Berbeda dengan peri angsa lain. Mereka hanya berubah menjadi manusia di saat matahari tenggelam. Apalagi, Taeyeon dikaruniai takdir sebagai peramal handal dari Hutan Kengerian.

Dan Taeyeon melihat keadaan Baekhyun dalam bahaya.

Baekhyun, si makhluk Vandesca, memiliki pesona yang tak bisa diacuhkan siapapun. Surai kecoklatan, bola mata berbinar indah berwarna hazel, kulit seputih salju, dan bibir merah muda nan ranum. Baekhyun tak bisa didefinisikan dalam sejuta kata.

Dia istimewa.

"Aku akan pergi. Maaf... Ehm... Taeyeon karena aku hampir membunuhmu," kata Si Pemburu tak enak hati.

Taeyeon tersenyum tipis ke arahnya, "tak apa." Lalu gadis itu menatap dalam mata hitam kelam si pemburu. Kemudian tertuju pada makhluk manis yang masih meringkuk bersama wajah memerah malu.

"Kalian pergilah sejauh mungkin dari sini. Lakukan demi kebaikan kalian," kata Taeyeon tanpa menoleh ke si pemburu.

"Kenapa?" tanya si pemburu. Sementara Baekhyun bergantian menatap si pemburu dan Taeyeon. Raut mukanya khawatir dan bingung.

"Qaa azng evrakdi?" tanya Baekhyun. Namun Taeyeon hanya diam, ragu tuk menjawab.

Si Pemburu tahu bahwa dia harus pergi, untuk itulah dia diusir dari tempat ini. Tapi kenapa gadis itu mengusir Baekhyun pula? Begitu pikirnya kira-kira.

Surat lusuh yang ternyata menempel di kulit dada telanjang Baekhyun, Taeyeon ambil. Lalu dibacanya cepat dan ekspresinya bukan main cemasnya.

Taeyeon membelalakkan matanya. Dia menatap miris pada Baekhyun.

Baekhyun adalah anak kami yang sepenuhnya terlahir sebagai makhluk Vandesca. Dia adalah hasil dari kesalahan kami tanpa ikatan restu alam dibawah sumpah Sang Penguasa dan seluruh makhluk Hutan Kengerian. Hal ini menjadikannya dikutuk oleh Kutukan Vandesca. Dimana suatu saat dia melahirkan bayi kembar yang tak bisa dipisahkan. Bukan kedua tubuh mereka melekat dan menyatu, tapi siksaan kedua bayi kembarnya dan malapetaka menaungi.

Siapapun yang bertemu Baekhyun, bunuh anak ini apabila kalian bersedia. Tapi kami lebih menginginkannya tetap hidup karena kami yakin, dia akan menjadi pemuda penuh pesona. Pesona yang dimilikinya mungkin akan menjadi sumber malapetaka, tapi apabila kalian merawatnya dengan baik, suatu saat kami akan membalasnya...

6 Taurus 526

Tertanda,

Pangeran Junmyeon Roxie dan Irene Vandescarion dari Kerajaan Roxie.

"Tidak...BAWA BAEKHYUN PERGI, CHANYEOL!!"

Kening Chanyeol mengernyit, "darimana kau tau namaku?"

Taeyeon memberikan kertas lusuh itu ke Chanyeol. Pria itu menerimanya, membacanya cepat, kemudian matanya melotot horor.

"CHANYEOL! KAU TIDAK MENDENGARKU?!" seru Taeyeon kesal.

"Apa... APA MAKSUDNYA SURAT INI?!"

"Itu tidak penting! lebih baik kau berhasil keluar dari sini dan aku yang akan mencegah para makhluk Vandesca mendekati Baekhyun!!"

Suara kepakan sayap yang lembut dan lemah memenuhi telinga Taeyeon, Baekhyun, dan pria bertelinga lebar bernama Chanyeol.

Itu suara kepakan sayap para Kaum Vandesca.

Chanyeol bersiul, hingga akhirnya datanglah seekor kuda hitam. Kuda itu gagah dan fisik kuatnya tak diragukan. Sesaat Baekhyun terpana, lalu dia semakin menciut nyalinya sampai-sampai nafasnya sangat sesak saat dia duduk di depan Chanyeol. Pria itu mendekap tubuhnya. Begitu hangat.

Lalu Chanyeol beserta kudanya dan Baekhyun, meninggalkan Taeyeon sendirian tanpa basa-basi. Taeyeon hanya melihat mereka sambil tersenyum tipis.

Tapak kuda hitam itu terdengar gagah, melewati bermacam pepohonan yang diam tak bergerak seperti biasanya apabila dimasuki makhluk asing. Chanyeol terus melawan udara dingin yang menjahili tubuh tegapnya. Padahal tubuhnya hanya dibalut baju kain katun tipis berwarna biru langit, dan celana panjang warna hitam. Sementara didekapannya, Baekhyun, memeluk diri sendiri lebih erat sambil menghirup aroma maskulin si pemburu.

Baekhyun mendongak melihat bagaimana tatapan tajam pria itu pada jalanan di sekitarnya. Dia semakin terpesona saat bola mata hitam pekat itu mengerling tajam ke arah kanan. Chanyeol bergerak mengeluarkan pedangnya dan...

Bunyi sabetan pedang membuat Baekhyun terkesiap.

Serangga-serangga pemakan daging, dan tikus-tikus mata merah, berhasil Chanyeol bunuh tanpa harus turun dari kudanya. Bahkan Chanyeol sangat memperhatikan kudanya agar tak dihisap darahnya oleh kelelawar vampir.

"Kau manusia?! Bagaimana bisa kau berada di dalam Hutan Kengerian melewati kabut beracun?!" seru kelelawar vampir. Dia kini berubah menjadi manusia sepucat mayat. Terbang mengikuti langkah kuda. Hingga mata merahnya bergulir ke arah Baekhyun.

Chanyeol terus mencambuk kudanya agar lebih cepat berlari keluar hutan. Si kuda akhirnya mempercepat langkahnya. Perut Baekhyun semakin bergejolak, saat Chanyeol melingkarkan lengan kirinya di pinggang si mungil sembari menggenggam tali kekang.

"Kaum Vandesca? Perasaanku saja atau dia memang berbeda...?"

Tubuh Baekhyun gemetar kala vampir masih mengikutinya dan Chanyeol. Vampir itu menatapnya penuh nafsu dan tertarik. Si pemburu langsung menebas kepala vampir itu tanpa ekspresi berarti. Hingga tubuh tanpa kepala itu melesat jatuh menabrak batang pohon. Tapi Chanyeol sendiri yakin vampir tidak akan mati hanya karena kepalanya terpenggal. Setidaknya makhluk immortal itu berhenti menganggu bocah di pelukannya.

Pedang salip indah itu dikibaskannya, untuk melepaskan darah hijau menjijikkan vampir tadi dari bilahnya. Kemudian Chanyeol memasukkan pedang itu kembali ke sarung pedang yang terlilit di pinggangnya. Lengan kekarnya kembali menggenggam tali kekang, memecut kudanya untuk terus berlari.

Baekhyun takjub saat mencapai pinggir hutan. Ada terowongan dari susunan pepohonan, sulur-sulur raksasa terajut oleh alam, dedaunan warna-warni sebagai penghias, dan cahaya keperakan bulan di sela rajutan. Baekhyun memejamkan mata saat dia dan Chanyeol berhasil menembus kabut.

Setelah Chanyeol berhasil membawa Baekhyun, dia berpikir akan membawa bocah itu pada neneknya yang baik hati. Neneknya tinggal di Desa Halin. Jaraknya cukup dekat dengan hutan ini. Mungkin satu hari satu malam perjalanan dengan kuda.

Selama hampir setengah hari, bahkan melewati matahari terbit, si kuda dan penunggangnya tak pernah berhenti hanya untuk istirahat. Untunglah Chanyeol berhasil menemukan pasar dan berhenti di sana.

"Jaga Arex. Maksudku kuda ini, mengerti?"

Baekhyun tidak paham bahasa manusia. Tapi dia mengangguk saja dengan raut tak paham.

Chanyeol tidak percaya, jadi dia membayar jasa penjaga kuda lalu menarik Baekhyun--yang masih telanjang bulat dibalik mantelnya--pergi ke toko baju.

"Pakailah, tapi kita butuh tempat sepi untuk itu. Aku tidak akan mengintip."

Baekhyun mengerutkan dahi, bingung harus menjawab apa. Dipandanginya baju-baju di tangannya sambil memiringkan kepala. Chanyeol mengerang kesal, sampai akhirnya dia membayar tunai baju-baju itu, lalu menuntun Baekhyun ke pohon besar di belakang toko.

Setelah Baekhyun memakai baju sederhana dari kain katun, syal rajutan warna hijau, dan celana berbahan sama, segera keduanya pergi. Chanyeol tidak mengonsumsi apapun selama perjalanan, berbeda dengan Baekhyun yang lahap memakan pie anggur.

Hingga malam tiba, akhirnya Chanyeol sampai di rumah neneknya. Nenek dari pihak sang ibu.

Oh Ambergris.

"Yeol cucuku, dari mana saja kau nak?" Sambut sang nenek.

"Maaf nek, aku baru pulang," Chanyeol mencium pipi neneknya. Lalu memeluknya erat.

Baekhyun tersenyum melihat wanita tua itu memeluk si pemburu. Kemudian si wanita tua, menatap Baekhyun penuh selidik.

Sedetik kemudian...

Lagi-lagi Baekhyun membuat siapapun terpesona.

•••

.

.

.

.

.

Pertemuan pertama Nenek Amber dengan Baekhyun benar-benar menarik. Yeol--panggilan akrab si pemburu--hanya menggaruk tengkuknya. Bukan karena gatal, tapi Chanyeol bingung memahami bahasa Vandesca untuk komunikasi kedua orang itu.

Saat ini, terhitung lima hari Baekhyun tinggal di rumah nenek Amber. Si mungil mulai terbiasa dengan kehidupan desa Halin. Bahkan Baekhyun sedikit demi sedikit berhasil menguasai bahasa manusia yang umum digunakan semua makhluk di Kerajaan Roxie.

Antena kupu-kupu milik Makhluk Vandesca, muncul lalu mengkeriting satu bulan setelah keluar dari kepompong. Maka terlihatlah dua antena pendek yang ada di atas kepala Baekhyun. Jadilah pemuda berusia baru lima hari namun fisik 16 tahun itu, terlihat menggemaskan.

Di sisi lain, Chanyeol tengah berusaha mencari keberadaan Peri Angsa bernama Taeyeon di Hutan Kengerian. Dia menjanjikan kabar baik untuk Baekhyun mengenai jodohnya kelak. Jodohnya itu akan bertugas menjaga pertumbuhan antena, selalu bersama Baekhyun seumur hidup, dan rela mati bersama saat anak mereka keluar dari kepompong. Karena itulah pernikahan beda kaum sangat terlarang.

Darimana Chanyeol mengetahui hal-hal tentang Peri Angsa dan Kaum Vandesca?

Tentu saja dari Nenek Amber.

Dua hari kemudian, tepat seminggu lamanya Baekhyun tinggal di rumah Nenek Amber dan dua hari lamanya Chanyeol pergi, Baekhyun merasa kesepian. Dia hanya mengenal beberapa tetangga, keluar rumah sebentar sambil memakai jubah bertudung warna hijau cerah, dan membantu nenek Amber memasak. Sampai akhirnya, nenek Amber merasakan kejenuhan Baekhyun.

"Merindukan Yeolli?"

Baekhyun mengangguk. Walau dia belum bisa bicara bahasa manusia, tapi dia mulai mengerti apa yang dikatakan para manusia di Desa. Hanya saja, responnya berujung pada anggukan atau gelengan yang membuat beberapa orang merasa, Baekhyun itu bisu.

"Alpan Yeolli uqlpag?" cicit Baekhyun sambil terus menunduk sedih melihat potongan wortel di atas telenan. Dia lalu memasukkan potongan wortel itu ke dalam panci di atas tungku panas. Tak lupa memasukkan beberapa rempah yang sudah dihaluskan. Nenek Amber hanya menatap sup buatan Baekhyun dengan sedih. Sup wortel itu adalah sup kesukaan Chanyeol. Sepeninggal Chanyeol, Baekhyun selalu memasak sup wortel di pagi hari dengan alasan karena merindukan Yeolli-nya.

Ya, Yeolli-nya. Beberapa hari mereka tinggal bersama, membuat Baekhyun mengklaim diri Chanyeol sebagai miliknya. Begitu juga sebaliknya.

"Kak Baekhyun! Nenek! Kak Chanyeol pulang!!"

Seruan anak kecil berusia 10 tahun yang cukup akrab dengan Baekhyun, terdengar dari luar pintu dapur. Maklum saja, rumah mereka dengan dapur dan kamar mandi dibangun terpisah. Beberapa rumah di desa-desa didesain seperti itu.

Baekhyun tersenyum imut seperti anak kecil. Dia menatap neneknya antusias lalu nenek Amber tersenyum manis. Baru dua hari ditinggal Yeol, Baekhyun sudah seperti ini. Bagaimana kalau ditinggal dua Minggu, dua bulan, apalagi dua tahun? pikir nenek Amber.

Nenek Amber mengambil alih sendok sayur dari kayu yang digenggam Baekhyun sedari tadi. Lalu berkata, "pergilah, Baekki. Sambut Yeolli dengan senyum manismu, oke?"

Baekhyun mengangguk lugu sambil tersipu malu. Kemudian berlari menyusul anak kecil bernama Deon itu.

"Di...di..mann..na ?" Baekhyun cukup kesulitan menggunakan bahasa yang menurutnya masih asing di lidah dan telinga.

Deon, bocah 10 tahun berambut coklat dengan model mangkuk, menunjuk sesuatu seusai berbalik ke belakang. Baekhyun mengikuti arah yang ditunjuk Deon. Si mungil melihat pria bersetelan khas pemburu berdiri di depan kuda. Tali kekangnya diikat pada kayu besar yang tertancap dalam di tanah. Pria itu tersenyum manis pada Baekhyun. Sementara Baekhyun menangis bahagia sampai-sampai pipi gembulnya bersemburat merah.

Chanyeol merentangkan tangan lebar-lebar.

Baekhyun berlari mendekati Chanyeol dan melompat ke arahnya.

Chanyeol menangkap tubuh Baekhyun dalam dekapan terhangat.

Dan Baekhyun, menerimanya sambil menangis.

Keduanya menikmati pelukan itu cukup lama, sembari Chanyeol terus menahan degup jantungnya setelah mengetahui ramalan Taeyeon.

Setelah Baekhyun memeluk Chanyeol begitu posesifnya, sampai menangis dan meremas-remas mantel di bagian punggungnya, Chanyeol segera berkata dengan senyum cerah. Dia mengelus punggung sempit Baekhyun.

"Aku sudah menemukan jodohmu. Taeyeon sudah memberitahuku."

"Baek..baek... Baekki... Tidak... Peduli. Bersama... hkkss... Bersama...Yeol..Yeolli... hkks... emmhhh... Baekki tidak..."

Chanyeol berusaha mengerti apa yang dikatakan Baekhyun, meski bocah imut itu menangis sesenggukan. Dia juga berusaha memahami bahasa yang dipakai Baekhyun.

Karena untuk itulah, dia berkata...

"Okdjomu faaamah lau."

Baekhyun mematung, nafasnya menderu kasar, serta jantungnya berdegup kencang mendengar kalimat itu. Bukan karena Chanyeol ternyata bisa bahasanya, tapi karena apa arti dari kalimat itu.

"YEOLLI...!!" cicit Baekhyun, menangis lebih deras, lalu tersenyum disela tangisan itu. Dia semakin tenggelam nyaman di dekapan hangat pria besar macam Chanyeol.

Chanyeol terus mencium pucuk kepala Baekhyun. Merasa beruntung dengan takdir yang memihaknya.

Dan beruntung memiliki pemuda sejuta pesona di rengkuhannya ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jodohmu adalah aku," ucap Chanyeol dalam bahasa manusia.

.

.

.

.

.

.

Sudah beberapa minggu usia pernikahan mereka. Sepasang kekasih beda makhluk itu kini disatukan dengan takdir. Meski begitu, keduanya masih ingat isi surat yang ditulis Junmyeon Roxie. Nama itu milik ayah kandung Baekhyun. Paras tampan pria itu hanya Baekhyun lihat sebentar, sebelum jasad kedua orang tuanya dikuburkan.

Lalu disinilah sekarang.

Baekhyun masih bergelung dalam selimut, di atas kasur empuknya yang bertema putih polos. Tubuh polosnya dipenuhi tanda kepemilikan, membuat si pemilik kulit terlihat semakin menakjubkan. Tubuh telanjangnya diterpa sinar mentari pagi dari jendela rumah mereka, hingga tampaklah kulit berkilauan.

Chanyeol sudah membersihkan tubuhnya sehabis aktivitas malamnya dengan istrinya. Sekarang dia hanya memakai kimono mandi sederhana. Rambut hitamnya masih basah, tubuhnya pun masih dihiasi bulir air hingga membuat siapapun terpana.

Saat ini, Chanyeol terus menggumamkan namaJunmyeon Roxie di benaknya. Nama yang membuatnya merasakan sakit karena...

...Nama itu, adalah nama milik kakak kandungnya.

Junmyeon Roxie berusia 26 tahun saat berhubungan dengan ibu Baekhyun. Wanita itu tak lain adalah kaum Vandesca. Sementara jarak usianya dengan si adik--Chanyeol Roxie--hanya dua tahun. Jadi umur Chanyeol sekarang 24 tahun.

Junmyeon dan Chanyeol lahir dari bunda kesayangan mereka. Wanita cantik dari kalangan biasa, dan merupakan selir ayah kandung mereka sendiri--Raja Yunho Roxie. Chanyeol sebenarnya punya seorang ibu angkat. Ibunya itu juga melahirkan anak raja dengan jarak satu tahun lebih tua dari Chanyeol. Namanya adalah Kris Roxie. Yang membuat Chanyeol dan Junmyeon tidak seberuntung Kris adalah, karena Kris lahir dari seorang raja dan permaisuri. Hal itu yang membuat Kris dinobatkan menjadi raja.

Chanyeol menarik nafas dalam lalu dihembuskan dengan nada frustasi yang kentara. Bisa dikatakan, Baekhyun Roxie, yang kini dikenal dengan nama Oh Baekhyun, adalah keponakannya sendiri.

Karena itulah, awalnya Nenek Amber tak menyetujui pernikahan mereka. Tapi karena sudah kehendak Sang Penguasa, maka wanita tua itu tak membantah lagi.

"Jika benar kau bisa melahirkan sepasang bayi kembar, apakah kau akan bersedih? Anak kita... akan dipenuhi kesedihan di dalamnya. Taeyeon sudah mengatakan mengenai kutukan itu, Baek... dan... aku tidak bisa melihat mereka menderita karena ketidakmampuanku."

Chanyeol hanya dikenal sebagai pria dewasa bermarga 'oh'. Chanyeol tak mempermasalahkan Kris yang akan menjadi pewaris tahta berikutnya. Tapi yang membuatnya kesal adalah,

Kris menunjukkan ketertarikannya pada Baekhyun.

Obsesi lebih tepatnya.

Maka Chanyeol saat ini hanya bisa menatap wajah cantik dan tampan istrinya. Bocah mungil itu masih terlelap damai.

"Aku harus membawamu pergi dari kerajaan ini."

Tekadnya sambil tersenyum miris.

•~•~•~•

.

.

.

.

.

Catatan Kaki (yang ditulis menggunakan tangan) ((:

Selamat datang di Dunia Fantasior! Dunia imajinasi milik Sang Pengarang. Dunia Fantasior bisa dikatakan dimensi lain Dunia Realita yang penuh kerumitan (lihat dulu siapa Presiden Dunia-nya).

Sejauh ini, Dunia Fantasior memiliki lima kerajaan besar dan ratusan kerajaan kecil. Yang wilayah terluas adalah Kerajaan Asteria, dan disusul dengan Kerajaan Eastia, lalu Kerajaan Roxie. Namun peringkat kemakmuran dipegang oleh Kerajaan Asteria, disusul Kerajaan Roxie.

'Vandesca' adalah nama untuk anak perempuan, dari bahasa Yunani yang artinya kupu-kupu. Siklus hidup Kaum Vandesca tergolong singkat, sama seperti hewan aslinya, kupu-kupu. Dianggap Makhluk Immortal bukan karena 'tidak bisa mati', melainkan reinkarnasi yang membuatnya dianggap 'tidak bisa mati'. Sementara Makhluk Mortal (manusia fana), mengalami kematian namun tidak bisa bereinkarnasi.

Sistem penanggalan Dunia Fantasior bukan melalui siklus bulan mengelilingi bumi, melainkan perbintangan. Karena itulah, penyebutannya seperti ini:

Hari ke-12, bintang Aries, 527

Ditulis 12 Aries 527

Ada 12 bintang untuk satu tahun. Bintang pertama adalah Aquarius, dan diakhiri dengan bintang Capricorn. Untuk mengetahui pergantian bintang, bisa dilihat pada langit tengah malam. Di mana rasi bintang akan terlihat sesuai simbol perbintangan. Contohnya, selama periode bintang Aries, langit malam selalu membentuk rasi bintang berupa domba jantan. Rasi itu terlihat hanya satu jam.

Oke, terima kasih banyak sudah membaca catatan kaki ini. Omong-omong, tadi itu tanggal lahir Daddyku versi Dunia Fantasior, hehehe...

Ditulis oleh,

Xiao Lu dari Kota Daqr/Dunia Realita. (Tokoh FF sebelah yang paling manly!)

•••

.

.

(TBC)

.

.

AUTHOR NOTE :

Selamat menikmati ya...!!

Maaf kalau alurnya lambat, akan kumaksimalkan lagi di alurnya supaya lebih enak dibaca dan dipahami. Aku cuma menghindari kekacauan di sana-sini dan kesan maksain, makanya alurnya agak siput.

So, terima kasih karena ngasih aku bunga Krisan warna apapun. (Newbie butuh belajar dari bunga-bunga Krisan para reader :)).

Btw, kalo pada baca FF You are My Lord, pasti tahu siapa 'Xiao Lu'. (dia cuma bantu aku menulis catatan kaki doang, gak lebih :))

Semoga suka ya sama ni Chap!

Ingat! HUNHAN main pair di sini.

Salam hangat,

Surabaya, 13 Januari 2019