POTRAIT
Hypnosis Mic Fanfiction
Hypnosis Microphone milik KING RECORDS, IDEA FACTORY, dan Otomate
Cerita ditulis oleh tsukitsukiii
Samatoki x Ichiro
Warning! BL, typo, dan lain-lain
Happy reading!
.
.
.
Samatoki terbangun dengan peluh membasahi tubuhnya. Napasnya tersenggal. Tenggorokannya terasa amat kering sehingga tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Dia segera mengedarkan pandangan untuk melihat keadaan sekitar.
Tak ada yang aneh. Ia berada di kamarnya. Kamar sepi nan gelap tanpa penerangan.
Ia mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. Di ingatannya tergambar tempat redup dengan seseorang berdiri di tengah ruangan. Hanya berdiri. Diam. Tanpa suara.
Namun kemudian sosok itu mengangkat kepala. Menatap Samatoki dengan satu matanya, lalu tiba-tiba bergerak cepat. Berlari membabi buta ke arah Samatoki yang mematung tanpa perlindungan.
Samatoki panik saat sosok itu semakin dekat. Lebih dekat. Dan dekat. Sampai tersisa beberapa centi di depannya. Ia bertatapan langsung dengan mata sosok itu. Satu mata yang menyiratkan kemarahan. Merah darah yang menggambarkan pengkhianatan.
Ketika sang sosok mengulurkan tangannya untuk meraih wajah Samatoki, saat itulah semua kembali gelap.
Detik selanjutnya, Samatoki membuka mata. Maniknya terbelalak seakan sosok itu nyata berada di sana. Tetapi kemudian ia menyadari bahwa itu hanyalah mimpi.
Menyibak selimut yang sudah tak beraturan, Samatoki berdiri untuk mencari saklar lampu. Ia segera menyalakan lampu guna meyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar berada di kamar.
Dahinya mengernyit kala sosok dalam mimpi kembali tergambar dalam benaknya.
Wajah itu hancur. Hancur sehingga tak dapat dikenali. Namun tersisa satu mata yang dapat dilihat dengan jelas. Bahkan Samatoki sempat bertatapan dengan mata itu dari jarak yang cukup dekat.
Samatoki mendudukkan diri di sisi tempat tidur. Ia tak bisa memikirkan apapun kecuali sosok dalam mimpinya barusan. Sosok yang hampir menyentuh raganya.
Diliriknya jam di atas meja, ingin tahu pukul berapa saat ini.
01.16 AM.
Alisnya terangkat.
Tampaknya ada yang janggal.
.
.
.
Paginya, Jyuto datang ke rumah Samatoki untuk mengabari bahwa lukisan sudah dalam perjalanan ke sana. Samatoki memutuskan untuk tidak menceritakan mimpi yang ia alami semalam. Tidak sebelum dugaannya dapat dibuktikan.
"Kau sudah hubungi penjualnya?" Tanya Samatoki pada Jyuto yang sedang berkutat dengan ponsel. Jyuto hanya menjawab dengan acungan jempol, tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai lukisan itu tiba?" Samatoki bertanya lagi.
Kali ini Jyuto tak menjawab. Jarinya lincah mengetik di layar ponsel, kelihatan tak bisa diganggu. Tetapi Samatoki ingin Jyuto segera menjawabnya. Ia tak sabar untuk melihat lukisan yang baru dibelinya. Lukisan berisi sosok yang konon dikatakan akan hidup pada tengah malam.
"Apa kau tuli?" tanya Samatoki ketus.
"Apa kau buta?" Jyuto menyahut. "Kau tidak lihat apa yang sedang aku lakukan?"
"Kau hanya mengirim pesan pada Riou, bukan? Apa pentingnya itu," nada Samatoki terdengar merendahkan.
"Aku sedang berkirim pesan dengan penjual lukisan itu, bodoh."
"Oh?" Samatoki membenarkan posisi duduknya. "Apa katanya?"
Jyuto yang sedari tadi berdiri dekat pintu, mengambil duduk di hadapan Samatoki dan meletakkan ponselnya di meja. "Tak lama lagi lukisan itu sampai," jawabnya. "Ngomong-ngomong, ada yang ingin kutanyakan. Apa kau yakin ingin menyimpannya di sini?"
"Memang kau pikir siapa lagi yang bersedia menyimpan lukisan itu?" Samatoki balik bertanya.
"Riou?"
"Kau pikir aku akan membiarkan Riou menyentuhnya?"
Jyuto mengusap wajah. "Tapi kau tahu itu bukan lukisan biasa," katanya. Ia tidak main-main tentang ini. "Riou cukup berpengalaman dengan hal mistis. Aku yakin kau tahu soal itu."
"Apa dengan terbiasa menghadapi setan membuatnya punya hak untuk menyimpan barang orang lain?"
"Kau tidak menangkap maksudku," Jyuto menggaruk kepalanya kasar. Mengapa Samatoki jadi keras kepala seperti ini? Padahal sebelumnya ia sangat sulit dibujuk untuk membeli lukisan itu.
Jyuto mendadak khawatir kalau-kalau Samatoki mengurungkan niatnya untuk menjual kembali lukisan yang mereka dapatkan. Kesempatannya akan terbuang sia-sia. Memang Jyuto tidak rugi sepeserpun, namun tetap saja ia batal mendapat sejumlah uang.
Mencondongkan sedikit badannya, Jyuto berkata dengan nada pelan. "Dengar. Aku tidak bercanda soal ini. Bahkan pelukisnya sendiri berkata bahwa ia pernah diganggu oleh sosok itu."
"Diganggu bagaimana?" Alis Samatoki terangkat sebelah.
Mengangkat bahu, Jyuto menjawab, "Aku tidak tahu. Tapi kau akan merasakannya jika lukisan itu sudah ada padamu."
Selanjutnya Samatoki merespon dengan tawa. Tawa yang… kedengaran aneh?
Namun tawa itu tidak terdengar dipaksakan. "Aku akan menunggunya," katanya kemudian.
Baru saja Jyuto ingin mempertanyakan kewarasan pria bertampang preman tersebut, tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk. Ia segera berdiri dan berjalan ke luar. Tak perlu ditebak pun, Samatoki tahu kalau lukisan itu sudah sampai di sini.
Masih jelas diingatnya tatapan sosok di dalam lukisan. Mata yang sayu namun menawan, warna yang begitu penuh estetika, serta perpaduan semua aspek yang menimbulkan kesan misterius.
Walau Samatoki hanya melihat sekilas, namun semua terekam jelas di otaknya. Tersimpan dalam ingatan jangka panjang yang akan menguat ketika ia mampu melihatnya secara langsung. Dapat menyentuhnya secara nyata.
Samatoki mengarahkan pandangan pada Jyuto yang kembali dengan seorang kurir. Kurir tersebut membawa benda berukuran besar. Walau tertutup kain secara keseluruhan, ia tahu bahwa itu adalah lukisan yang ia beli.
Sejujurnya Samatoki takjub mengetahui ukuran lukisan yang sebenarnya. Mungkin 120 x 90 cm? Atau lebih? Kini ia mulai memikirkan tempat untuk menyimpan lukisan tersebut.
Sang kurir meletakkan lukisan itu di lantai dengan hati-hati, lalu sedikit memberi penjelasan. "Orang yang mengirim ini memberi kami amanat untuk memperlakukannya dengan baik. Jangan kasar. Jangan dibanting," ia terdiam sejenak. "Aku kurang yakin apakah ini sungguhan, namun perlu diingat bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk jika di antara kalian berani macam-macam pada benda ini."
Kurir tersebut berlalu setelah Jyuto membalas informasi yang ia berikan dengan anggukan mengerti.
"Jadi?"
"Aku tetap menyimpannya di sini," kata Samatoki mutlak. Jyuto menghela napas.
"Baik, terserahmu saja. Sekalian membuktikan kabar burung yang beredar," Jyuto bersiap untuk merokok. "Ingat, kita hanya menyimpan ini sampai 3 hari ke depan. Kurasa itu cukup untuk membuatmu takut."
"Jangan remehkan aku," terselip kesombongan pada nada Samatoki. "Kau bisa menambahnya jadi 5 hari jika masih meragukanku."
Jyuto tertawa dibuat-buat. "Tidak perlu. Aku butuh uang, jadi lukisan ini harus segera terjual."
"Sebenarnya kau ini pengacara atau bukan? Kau bukan pengacara, kau tentu penjilat dan pengemis."
"Aku tekankan di sini bahwa aku bukan pengemis, namun tidak keberatan jika harus menjadi penjilat demi menghidupi diriku sendiri."
"Dasar sampah."
"Terima kasih."
Ingin meludahi Jyuto saja rasanya. Samatoki tak habis pikir bisa kenal dengan orang semacam dia. Hanya uang dan selalu uang yang ada di pikirannya, sampai Samtoki muak.
"Oh ya, kau tak ingin membuka kain itu?" Tanya Jyuto sambil memperhatikan lukisan yang masih tertutup kain putih. Dinyalakannya pematik dan mulai merokok di sana. "Aku merasa auranya lebih kuat di sini dibanding tempat asalnya."
Samatoki berpikir ulang. Memang rasa penasarannya begitu tinggi dan jujur saja ia sendiri tidak sabar untuk melihat isi lukisan secara langsung. Namun ada hal yang seakan menahannya untuk segera melihat apa yang ada di balik kain.
"Akan kubuka nanti."
Alis Jyuto mengernyit. "Kemana rasa penasaran dan tidak sabar yang kau tunjukkan tadi?" ia bertanya heran.
"Bukan urusanmu. Sekarang kau bisa pulang," Samatoki berkata sambil mengarahkan tangannya ke pintu, mempersilahkan Jyuto pulang.
"Apa ini? Mengusirku? Sombong sekali."
"Dan kau munafik sekali."
Jyuto berdecak sebelum melangkahkan kakinya keluar. "Ingat, kita akan menjual itu. Aku tak mau mendengarmu berubah pikiran."
"Aku yang membelinya. Aku memiliki hak penuh atas lukisan ini, jadi tutup mulutmu," balas Samatoki dengan nada dingin. Tadinya Jyuto ingin memberi pembelaan bahwa ialah yang menemukan dan melakukan penawaran atas lukisan itu. Namun mendapati ekspresi Samatoki yang terlihat begitu serius, ada baiknya ia tutup mulut dulu untuk saat ini.
Selepas kepergian Jyuto, Samatoki berjalan mendekati lukisan itu dan menyentuhnya perlahan. Ia melakukannya selembut yang ia bisa, kemudian memutuskan untuk memindahkan lukisan tersebut ke sofa.
Samatoki mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan tempat yang pantas dijadikan penyimpanan lukisan. Yang pertama, pikirannya tertuju pada gudang. Tetapi kelihatannya tidak mungkin meletakkan lukisan bernilai tinggi di gudang, bukan?
Selanjutnya Samatoki mencoba melihat-lihat ruangan di dalam rumahnya. Mencari ruang mana yang dapat dijadikan penyimpanan sementara. Ia melupakan sejenak rasa penasarannya pada sosok dalam lukisan karena terlalu fokus mencari tempat terbaik untuk menyimpannya.
Sampailah ia pada tangga. Tangganya berada di pojok, dan dinding yang mengarah ke kamarnya di lantai atas kelihatan pas untuk dijadikan tempat memajang lukisan itu.
Ah. Seharusnya lukisan itu tidak dipajang. Lukisan itu akan dijual, jadi alangkah baiknya jika disimpan saja di tempat tertutup.
Samatoki teringat pada sosok yang seakan memikatnya dari dimensi lain. Sebenarnya ia ingin terus menatapnya sebelum memutuskan untuk menjual lukisan tersebut. Pikirannya dipenuhi pilihan antara memajang, atau menyimpannya saja di tempat lain.
Tiba-tiba ucapan Jyuto berputar kembali. Jyuto yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang hidup di dalam lukisan membuat Samatoki sedikit tertarik untuk memajangnya. Ia juga perlu membuktikan apa lukisan itu ada sangkut pautnya dengan mimpi buruk Samatoki semalam.
Samatoki kembali melangkahkan kakinya ke ruang tengah, tempat lukisan diletakkan tadi. Mungkin saja ia bisa segera menentukan setelah membuka kain penutup lukisannya. Sebelum itu, ia mengambil minum dari kulkas karena tenggorokannya masih terasa kurang nyaman setelah kejadian semalam.
Ia berjalan santai sambil membawa segelas air. Pikirannya melayang, menduga-duga siapakah sosok indah dalam lukisan yang membuatnya terpikat. Sungguh disayangkan jika sosok itu telah mati secara tragis. Kini keindahannya hanya dapat dinikmati lewat sebuah media dua dimensi.
Jika benar sosok itu dapat hidup tengah malam nanti, apakah sosok tersebut benar-benar berisi roh yang raganya tertuang dalam goresan cat di atas kanvas? Ataukah hanya berisi hantu jahil yang senang mengganggu manusia untuk alasan kesenangan semata?
Gelas Samatoki melesat jatuh ketika mendapati kondisi lukisannya yang kini sudah terbebas dari kain putih. Pandangannya langsung tertuju ke sekeliling, mencari keberadaan orang lain di sana. Bisa saja Jyuto sebenarnya tidak pulang dan membuka kain yang melindungi lukisan.
Namun jika benar pelakunya adalah Jyuto, maka seharusnya Samatoki mendengar suara pintu terbuka karena pintu depannya selalu berdecit ketika dibuka atau ditutup. Di sana pun tidak ada sedikitpun tanda Jyuto yang kembali untuk menjahilinya. Tidak ada suara pintu ditutup saat Jyuto melarikan diri.
Samatoki membiarkan pecahan gelasnya berserakan di lantai. Ia berjalan cepat mendekati lukisan yang kini telah bersih tanpa tertutup apapun. Kini tak ada lagi yang menghalangi sosok dalam lukisan untuk dilihat oleh Samatoki.
Sosok itu kembali membuatnya mabuk. Kali ini berkali lipat lebih mabuk dibanding yang sebelumnya hanya dilihat dari layar ponsel Jyuto. Sekarang Samatoki bahkan bisa meraba lukisannya. Menekuni tiap inchi goresan di atas kanvas, hingga akhirnya sampai pada mata itu.
Mata hijau dan merah yang terlihat penuh akan arti yang mendalam. Warna hijaunya terlihat teduh, seperti ekspresinya yang tenang. Berkebalikan dengan merah gelap yang sirat akan emosi yang tertutup kesedihan.
Sosok yang hanya tergambar sampai dada itu sedikit menunduk dan memiringkan kepala, namun tatapannya lurus ke depan. Matanya sayu namun tetap terlihat memikat. Terdapat sebuah tahi lalat di bawah mata kirinya yang berwarna merah. Dan warna merahnya terlihat lebih kusam dibanding warna di keseluruhan kanvas.
Latar di belakang sosok itu tertuang dengan abstrak. Hanya coretan warna yang didominasi oleh merah marun. Mungkin sang pelukis bermaksud menggambarkan sosok sebagai pribadi yang tidak bisa ditebak. Yang pikirannya bercabang ke segala arah sampai tak ada orang yang mampu membacanya.
Samatoki mengerjapkan mata ketika menyadari kejanggalan. Ia masih belum tahu siapa yang telah membuka kain pembukus lukisan. Ia bahkan baru sadar bahwa kain itu tak terlihat dimanapun. Hilang begitu saja bagai ditelan bumi.
Memang ada yang tidak beres disini.
"Jadi itu benar," gumam Samatoki, menyunggingkan seringainya. Akhirnya ia membulatkan keputusan untuk memajang lukisan di area tangga, tepatnya digantungkan pada dinding yang langsung menghadap kamarnya di atas.
Ya. Terkesan menantang. Memang ini yang Samatoki inginkan.
"Mari tunggu tengah malam nanti."
Samatoki memunggungi lukisan untuk membersihkan pecahan gelas. Ia tak ingin melukai kakinya sendiri.
Dia tidak tahu, bahwa sosok dalam lukisan itu, sedang melirik ke arahnya. Menatap punggungnya. Mata merahnya semakin kelam, mata hijaunya pun tampak sirna akan kehidupan.
.
.
.
Lolongan anjing liar menjadi satu-satunya pengisi keheningan malam. Samatoki sendiri sedang terbaring di kasur dan membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar. Ia menoleh pada jam yang angkanya berganti tiap menit. Ia sungguh menantikan saat itu tiba.
Masih ada 47 menit sampai jam menunjukkan pukul 01.00 pagi. Waktu terasa bergulir sangat lambat. Samatoki menguap sesekali, lelah menunggu seharian hanya untuk momen penting yang berlangsung tepat pada pukul 1.
Diliriknya lagi jam yang ada di sisi tempat tidurnya. Semenit yang berlalu terasa seperti satu tahun baginya. Ia sampai menghitungi detik guna mempercepat waktu, namun hal itu tentu takkan mengubah apapun. Waktu akan terus berjalan dengan semestinya.
Ketika waktu semakin dekat pada jam 1, Samatoki justru terlelap tanpa sadar. Dirinya tertidur dengan membiarkan pintu terbuka.
Dan akhirnya, waktu yang ditunggu pun tiba. Pukul 01.00 pagi, dimana seharusnya, sosok dalam lukisan hidup dan memulai sesuatu.
.
.
.
Sebuah jeritan menerobos pendengaran Samatoki sampai-sampai ia terlonjak dan jatuh dari tempat tidur. Jeritan itu kian melengking tanpa henti sehingga Samatoki harus menutup telinga guna menghindari kerusakan pada gendang telinganya. Ia lalu mencoba berdiri dan mencari asal suara.
Tepat ketika dirinya menginjakkan kaki di luar kamar, tiba-tiba suasana kembali senyap. Jeritan itu menghilang begitu saja. Tak ada lagi yang didengarnya kecuali kesunyian malam.
Samatoki melepas tangan yang menutupi telinganya tadi. Ia melangkah ke arah tangga untuk mencari tahu apa yang terjadi barusan. Sampai akhirnya ia menemukan sesuatu yang ia tunggu sedari tadi. Yang ia tunggu namun tertinggal tidur.
Di sana, sosok dalam lukisan tengah mengarahkan mata ke arahnya. Menatapnya dalam. Kemudian mengukir senyum.
Ya, ia tersenyum pada Samatoki.
To Be Continue
