Never sorry for loving you

.

Genre
Romance

.

Rating

T

.

Main Cast

All member of TVXQ and JYJ (Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin.)

.

Other Cast

Member of MBLAQ (Seungho. G.O, Lee Joon, Cheondoong, Mir)

.

Pairing
YunJae, Yoosu, mungkin ada yang lain, tapi menyusul.

.

Warning
Yaoi, miss typo, cerita terlalu pendek

.

Disclaimer
I own nothing except the story line

.

.

A/N: Fanfic ini terinspirasi dari film barat, judulnya Fifty First Dates yang dimainkan oleh Adam Sandler dan Drew Barrymore. Gomawo buat reader-deul yang udah ngingetin aku. ^^

Happy reading..

.

.

.

.

"A-aku amnesia? Jangan bercanda!" seru Jaejoong sambil membanting garpu yg ia gunakan. "Tadi kau bilang kau ini namjachinguku, lalu tiba-tiba sekarang kau bilang aku amnesia. Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu sih?!" bentak Jaejoong. Jaejoong pun memicingkan matanya. Ia tak habis piker, namja ini suka sekali membohonginya. Tadi dia bilang dia namjachingu-nya, lalu sekarang dia bilang dirinya amnesia. Aigoo…benar-benar namja yang mengesalkan!

"Aku tidak mengenalmu sama sekali," Jaejoong mengecilkan suaranya. "Jadi haruskah aku percaya
kata-katamu?" Yunho hanya diam, mendengarkan apa yamg Jaejoong katakan. Ia sangat maklum jika Jaejoong memakinya seperti ini.

Terbangun dari tidur lalu tiba-tiba saja ada orang asing mengaku sebagai namjachingumu lalu mengatakan kau amnesia, bukankah itu terdengar mengesalkan dan sulit diterima? "Tunggu disini sebentar," ucap Yunho akhirnya, kemudian ia segera beranjak dari tempat duduknya. 'Namja gila! Mungkin ada baiknya aku segera mengamtarnya ke Rumah Sakit Jiwa,' batinnya sambil mempoutkan bibir cherrynya. 'Amnesia? Yang benar saja!'

Jaejoong's POV

Tapi, memang ada yang aneh. Ini rumah -atau lebih tepatnya apartement- milik siapa? Apa milik namja asing itu? Tunggu..bagaimana aku bisa ada di sini!? Seingatku, kemarin aku sibuk seharian membuat kue dan membeli kado untuk Junsu. Aku tidak merasa bertemu dengannya. Apa sebaiknya aku tanya namja itu saja? Eumm...ah, tidak, jangan. Aku tanya Junsu saja. Tapi bagaimana? Aku kan tidak punya ponsel. Punya sih, tapi aku tidak melihatnya sama sekali. Hm, pinjam namja itu sajalah.. Eh, tadi siapa namanya? Yunho?

End Jaejoong POV

Jaejoong segera berjalan mencari Yunho. Ia berjalan menuju kamar, tempat dimana menurutnya, ia dapat menemukan Yunho. "Eumm.. Yunho-sshi, boleh aku pinjam ponselmu lagi?" tanya Jaejoong begitu
melihat sosok tinggi tegap memunggunginya. Tampak ia seperti sedang sibuk mencari sesuatu. "Dimana ya?" gumam Yunho mengacuhkan Jaejoong. Sepertinya ia tidak menyadari kehadiran Jaejoong.

"Yunho-sshi?" panggil Jaejoong sekali lagi. Kali ini Jaejoong berhasil mendapat perhatian dari Yunho. Yunho menoleh, kemudian tersenyum.

"Kenapa Yunho-sshi? Kan sudah kubilang untuk memanggilku Yunho saja."

"Eh, yah, rasanya aneh saja. Oh ya, Yunho-sshi, eh, maksudku Yunho. Boleh aku pinjam ponselmu lagi? Aku ingin menghubungi Junsu lagi," kata Jaejoong.

"Kau masih belum percaya padaku ya?" tanya Yunho.

Jaejoong langsung terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan Yunho. Ia hanya menunduk sambil memainkan ujung kaosnya. Kenapa ia merasa begini saat namja itu bertanya seperti itu? Sepertinya namja itu sedikit kecewa, namun ia berusaha menutupinya. Jaejoong jadi merasa...mmm…bersalah
mungkin

"Hei," tanpa Jaejoong sadari, Yunho sudah berdiri di depannya, menggenggam tangannya kemudian meremasnya lembut. "Aku tahu memang sulit. Tapi, bisakah kau percaya padaku? Kalaupun tidak, cobalah percaya pada perasaanmu. Apa yang kau rasakan sekarang?"

"A-aku tidak tahu.." jawab Jaejoong pelan. Jujur saja, dia bingung. Ia merasa wajahnya tengah memerah saat ini. Jantungnya berdegup kencang dan ada perasaan hangat dan nyaman saat namja asing itu menggenggam tangannya lembut.

Yunho kemudian membungkuk, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Jaejoong untuk menatap wajahnya. Yunho tersenyum simpul melihat rona merah menghiasi pipi putih namja manis itu. Khas orang yang sedang jatuh cinta.

"Kau manis sekali," ucap Yunho sambil mengusap lembut kepala Jaejoong, merasakan surai hitam yang lembut itu di tangannya.

"Ngomong-ngomong kau tidak berencana berangkat ke cafe-mu?" lanjut Yunho.

"Ye?" Jaejoong bingung, namun hanya sesaat. Ia segera menyadari maksud namja bernama Yunho itu. Cafe yang dimaksud adalah cafe miliknya dan Junsu, sepupunya. Mereka berdua pemilik, merangkap karyawan, ditambah seorang namja kelewat jangkung nan jahil bernama Shim Changmin. Well, yang disebut terakhir ini hanya karyawan, bukan pemilik. Namun, ia berteman akrab dengannya dan Junsu. Dan juga ada beberapa orang lainnya, G.O yang nama aslinya adalah Lee Byung Hee dan juga Bang Cheol Yong yang kerap disapa Mir serta Park Sang Hyun yang biasa dipanggil Cheondoong.

Jaejoong segera melihat ke jam dinding. "Omo! Aku terlambat! Cafeku kan buka jam setengah tujuh!" teriak namja cantik itu heboh. Ia segera lari ke kamar kemudian menutupnya dengan kasar. Yunho hanya geleng-geleng melihatnya.

"Umm..Yunho," Jaejoong tiba-tiba membuka pintu kamar itu lagi, kemudian melongokkan kepalanya keluar. "Boleh aku pinjam bajumu?"

"Untuk apa? Semua bajumu ada di sini. Periksa saja lemari pakaian," jawab Yunho.

"Eh? Jinjja?" Jaejoong segera masuk lagi ke kamar, memeriksa isi lemari pakaian. "Omo! Lihat bajuku semua disini! Bahkan sampai underwearku juga ada!"Jaejoong heboh -lagi- melihat pakaianya yang berada di dalam lemari namja itu. Lengkap!

Bagaimana bisa? Siapa namja itu? Jangan-jangan seorang pshycopath? Atau hanya orang yang sedikit tidak waras? Yah, well, atau dia namjachingu Jaejoong. Tunggu...apa jangan-jangan mereka memang tinggal bersama?

Hyaa~ wajah Jaejoong langsung memerah seketika. Kalau mereka tinggal bersama berarti hubungan mereka sudah sampai mana? Sejauh mana? Apa jangan-jangan mereka sudah...sudah...

"Andwae~!" Jaejoong berteriak kencang sambil tangannya memegangi kedua pipinya yang memanas.

"Tidak, tidak mungkin... Tapi bagaimana aku tahu? Aku kan amnesia. Eh, tunggu...jadi aku percaya kata-katanya yang menyatakan aku amnesia?" Jaejoong terlihat berpikir. "Hyaa..semakin dipikirkan semakin
membingungkan~" keluhnya sambil menarik rambutnya.

"Aissh..membingungkan sekali. Ah, sudahlah." Jaejoong segera keluar kamar begitu ia sudah selesai mengganti pakaiannya. Ia celingukan mencari Yunho. Akhirnya ia menemukan Yunho yang sedang mencuci piring di dapur.

"Umm..Yunho, aku pergi ke cafe dulu ya," pamit Jaejoong.

"Nde. Tapi sebelum berangkat..." Yunho segera membasuh tangannya kemudian bergerak mendekati Jaejoong. "...aku minta poppo dulu." Yunho tersenyum jahil.

"Mwo? Yah! Kau mesum sekali!" sungut Jaejoong sambil menoyor kepala Yunho. "Huh, menyesal aku pamitan," gerutu Jaejoong, tanpa sadar, ia mengerucutkan bibir cherry-nya. Mengundang senyum di wajah namja bermarga Jung itu.

"Yah! Nanti aku akan ke cafemu ya, buatkan aku bekal. Aku akan mengambilnya!" teriak Yunho saat Jaejoong sedang berjalan keluar dapur.

"Issh..penting banget," gumam Jaejoong.

.

.

.

.

"Hyung! Akhirnya kau datang juga..." seorang namja imut menyambut kedatangan Jaejoong di coffee shop miliknya.

"Pagi ini pengunjungnya banyak sekali, seperti biasa. Untung kau datang. Aku dan Changmin
sudah cukup kewalahan," lanjut namja imut itu sambil mengekor Jaejoong yang berjalan menuju dapur.

Jaejoong segera mengganti pakaiannya dengan seragam coffee shop-nya lalu mengenakan apron. Ia lalu memulai aktivitasnya membuat pesanan para pengunjung coffee shop-nya.

unsu bertugas membuat minuman, sementara Changmin bertugas mengantar pesanan dibantu oleh Mir dan Cheondoong. Yah, meskipun tadi Changmin juga sempat turun tangan membantu Junsu yang kerepotan memasak sendiri..

Diantara mereka bertiga, hanya Changmin yang merupakan pekerja paruh waktu.

"Mana G.O hyung? kenapa dia belum datang juga?" gerutu Mir. G.O adalah orang yang bertugas memasak membantu Jaejoong. Tapi entah kenapa namja itu belum datang juga. Mir jadi kesal sendiri. Karena tidak ada G.O, Jaejoong jadi kerepotan.

"Hyung! Kau kemana saja?" tiba-tiba Cheondoong mengeluarkan suaranya melihat G.O memasuki coffee shop itu.

"Mian aku terlambat," ucapnya kemudian dengan tergesa-gesa segera meraih apron kemudian
mengenakannya tanpa berganti seragam. Itu bisa dilakukan nanti.

"Jae-hyung, mian aku terlambat," ucapnya begitu melihat Jaejoong.

"Gwaenchana, sebaiknya sekarang kau bantu aku membuat waffle dan pancake. Sepertinya hari ini banyak sekali yang memesan dua menu itu," ujar Jaejoong.

'Kebetulan sekali. Tadi pagi aku juga membuat pancake, disini pun aku membuatnya lagi.' batin Jaejoong.

.

.

.

.

"Lelahnya~" ucap Junsu sambil meregangkan kedua tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan. Pengunjung coffee shop itu terlihat semakin sedikit berhubung jam kerja akan dimulai sebentar lagi.

"Ayo, bersih-bersih. Tempat ini harus terlihat rapi dan bersih, iya kan Jae-hyung?" kata G.O yang sudah membawa kain lap.

"Kalian bersih-bersih saja duluan. Nanti aku menyusul," sahut Jaejoong.

"Hyung sedang apa sih? Oh, sedang membuat bekal untuk Yunho-hyung ya?" Tanya Junsu.

Jaejoong langsung menghentikan aktivitasnya membuat katsudon begitu mendengar nama Yunho disebut oleh sepupunya.

"Kau mengenalnya? Dia itu sebenarya siapa sih? Dia bilang aku amnesia, apa itu benar?
Aku bingung sekali..." Jaejoong menghela napas. Kemudian ia menggoreng
katsudon itu dan mulai membuat sausnya.

"Lihat, aku bahkan membuatkannya bekal sesuai permintaannya. Aku bingung sekali. Apa benar dia namjachinguku?"

"Ne, dia memang namjachingumu, hyung," jawab Junsu. "Oh, itu dia. Dia pasti mau mengambil bekalnya. Tiap pagi kau selalu membuatkannya bekal," ucap Junsu begitu melihat Yunho masuk ke
coffee shop itu dan berjalan ke arah dapur.

"Boo, sudah membuat pesananku?" tanya Yunho pada Jaejoong.

"Eh? Boo? Boo itu siapa?" Jaejoong malah balik bertanya, karena bingung. Tanpa sdar ia memirinkan kepalanya.

"Itu panggilnmu dariku, Boojaejoongie," jawab Yunho sambil dengan gemas mencubit hidung mancung Jaejoong.

"Oh-eh, ne, sebentar lagi," Jaejoong menjawab dengan gugup. Oke, ini aneh. Kenapa gugup? Kenapa lagi-lagi jantungnya berdetak begitu kencang?

"Ini," Jaejoong menyerahkan kotak bekal itu pada Yunho.

"Gomawo. Aku pergi bekerja duluu. Nanti pulang aku akan ke sini lagi" ucap Yunho.

Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya salah tingkah. Yunho tersenyum
melihatnya. Ia kemudian meraih kepala Jaejoong dan langsung mencium
keningnya.

"Dah~" ucap Yunho sambil melambaikan tangannya.

"Y-yah!" teriak Jaejoong kesal. Tapi tak bisa dipungkiri, tindakan Yunho tadi mengundang rona merah kembali menghiasi pipi Jaejoong.

"Ciee...kalian mesra sekali sih," celetuk G.O. Junsu mengangguk setuju.

"Aku jadi iri melihtnya," ucap Junsu.

"Kalian berdua," ucap Jaejoong. "Sebaiknya kalian jelaskan padaku sejelas-jelasnya apa yang sebenarnya terjadi disini!"

G.O dan Junsu kemudian saling memandang. Sepertinya akan memakan waktu lama untuk menjelaskannya…

"Errr…hyung, kami akan menjelaskannya saat sudah sepi ya. Menurutku ini akan makan waktu," ucap G.O.

"Terserah saja, yang penting aku tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya disini," jawab Jaejoong.

"Whoaa…Changmin sudah berangkat kuliah ya?" ucap Junsu. "Hhh…jadi sepi, tidak ada yang mengangguku."

"Jadi kau suka diganggu Changmin-hyung?" tiba-tiba Mir menyahut. Cheondoong cengar-cengir mendengar pembicaraan mereka.

"Bukan begitu, tapi…aissh…sudahlah lupakan saja," dengus Junsu.

"Tapi Changmin-hyung kenapa bekerja paruh waktu ya? Padahal Yunho-hyung 'kan sudah cukup sukses, Changmin-hyung tak bekerja pun aku yakin Yunho-hyung mampu membiayai kuliah Changmin-hyung," ujar Cheondoong.

Jaejoong yang tak sengaja mendengar pembicaran mereka mengernyitkan dahinya. "Ada hubungan apa antara Yunho dan Changmin?"

"Lho, Yunho-hyung belum cerita ya? Mereka kan sepupu. Beberapa tahun lalu Appa Changmin-hyung mengalami kecelakaan, kemudian meninggal setelah sebelumnya Eomma-nya meninggal karena kanker," jawab Cheondoong.

Jaejoong tahu mengenai Eomma Changmin. Tapi mengenai Appa-nya, ia sama sekali tidak tahu.

"Maka dari itu, Yunho mulai mengurus Changmin. Tapi Changmin tidak mau terlalu merepotkan Yunho-hyung, makanya ia bekerja paruh waktu di sini," lanjut Mir.

"Kalian tidak kuliah?" Tanya Jaejoong pada Mir dan Cheondoong.

"Kami sedang cuti kuliah, hyung," jawab Mir.

Jaejoong menganggukkan kepalanya mengerti.

.

.

.

.

TBC

Balesan Review

Kim Kwangwook :: iya, ini ff-ku. Tentang Jaejoong yang amnesia setiap hari kayanya akan aku jelasin di chap depan deh.. gomawo for read and review.. XD

ucie Cassiopeia :: gomawo, iya, aku sekarang uddah bisa review kok. Kayanyadulu hapeku yang salah deh.. XD

Kwon Jia :: Hum! Emang pendek banget, ini aku udah usahain panjang, tapi kayanya kurang yah.. hehe..gomawo udah baca dan review ne.. XD

Yunieee :: ini udah lanjut, tapi mian ga bias ASAP. Gomawo udah baca dan review.. _

dindaR :: iya, ini udah lanjut. Gomawo udah baca dan review.. _

Guest :: Jae amnesia, jawabannya kayanya chap depan. Gomawo udah baca dan review.. XD

Booboopipi :: nanti chap depan dijelasin. Iya, aku lupa, itu miss typo. Ya ampun, author pabbo banget! *pukulkepala sendiri Tapi udah aku edit kok, gomawo udah koreksi ya.. XD

Trilililili :: hyaa~ aku belum nyari, chap depan aku cari deh.. gomawo udah baca dan review.. XD

Ve :: yap! Tepat sekali, aku emang terinspirasi dari film itu, judulnya Fifty First Dates yang dimainkan sama Adam Sandler dan Drew Barrymore. Ehe…gomawo udah ngingetin. Chap lalu aku lupa cantumin… _

.

.

Readers, Gomawo yang kemarin udah baca dan review juga. Kemarin aku salah kasih tanggal, tapi udah aku repost kok, dan udah aku kasih tahu juga ff ini terinsiprasi dari satu film barat. Tapi nanti bakal beda kok…ehehe… .

Oke, jadi yang mau review silahkan, enggak juga gapapa kok.. XD